
“Pak, ada tamu.”
Kevin mengangkat kepalanya lalu melihat Rindu yang tersenyum padanya sambil mengangkat tas bekal di tangannya. tak ada senyum balasan dari pria itu. Seperti biasa, dia hanya melihat dengan wajah datarnya.
“Tunggu di sana.”
Ucapan Kevin membuat Rindu urung menghampirinya. Gadis itu menaruh tas bekal di meja lalu duduk di sofa. Vita tersenyum mengejek ke arah Rindu. Senang sekali melihat Kevin memperlakukan mantan sahabatnya begitu dingin. Vita bergegas kembali ke mejanya. Sebentar lagi jam makan siang, dia sudah memesan makanan pada OB dan akan memakannya di ruangan bersama Kevin.
Rindu memandangi suaminya yang meneruskan pekerjaannya. Hatinya miris mendapat perlakuan dingin dari Kevin, terlebih di hadapan Vita. Tiba-tiba saja Rindu merasa cemas kalau Vita berusaha merebut Kevin darinya, seperti dulu merebut Hendra darinya.
Vita berdiri saat waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Sang OB juga sudah mengirimkan pesan kalau makanan untuknya sudah ada. Dia menghampiri Kevin yang masih khusyu dengan laptopnya.
“Pak Kevin, sudah waktunya istirahat.”
“Hmm..”
“Saya keluar dulu sebentar pak.”
“Hmm..”
Vita melangkah keluar ruangan. Matanya melirik ke arah Rindu yang masih duduk di sofa. Dalam hatinya tersenyum melihat Rindu yang hanya dianggap angin lalu oleh Kevin. Sekeluarnya Vita, Kevin berdiri lalu berjalan ke arah pintu. Dikuncinya pintu kemudian menghampiri Rindu di sofa.
“Bawa apa?”
“Ini mama suruh aku bawain makan siang buat bang Ke.”
Rindu menjawab pertanyaan Kevin tanpa memandang ke arahnya. Kevin memperhatikan wajah istrinya yang terlihat sendu. Diusapnya puncak kepala Rindu, membuat gadis itu menoleh ke arahnya.
“Maaf ya, tadi kerjaanku belum beres. Kamu udah makan?”
“Belum. Ngga laper juga.”
“Masa? Tumben.”
Rindu mendelik ke arah Kevin. Tapi suaminya cuek saja. Dia langsung membuka kotak bekal yang dibawa sang istri. Rupanya sang mama sudah menyiapkan dua porsi makan siang untuknya juga Rindu.
“Ayo makan bareng. Mama siapin dua porsi nih. Tapi kayanya kamu ngga akan kenyang deh dengan porsi segini.”
Rindu melotot lalu mencubit pinggang suaminya. Kevin meringis mendapat cubitan kecil dari sang istri.
“Udah ayo makan.”
Rindu mengambil satu kotak bekal lalu mulai memakannya. Tak butuh waktu lama untuknya menghabiskan makanan. Benar saja yang suaminya katakan. Porsi yang diberikan mama mertua memang tidak bisa membuat perutnya kenyang.
“Kuliah jam berapa?”
“Jam satu.”
“Sebentar lagi dong.”
“Iya.”
“Mau aku antar?”
“Ngga usah, bang Ke pasti lagi banyak kerjaan. Aku naik ojol aja.”
“Pulang jam berapa?”
“Jam empat.”
“Hmm.. langsung pulang ya, jangan mampir kemana-mana.”
“Iya bang.”
“Mungkin aku pulang agak telat nanti. Kalau kamu ngantuk, tidur aja duluan.”
“Iya bang.”
Rindu membereskan kotak bekal. Kevin meminta Rindu meninggalkan kotak bekal, nanti dirinya yang akan membawanya pulang. Rindu berdiri, merapihkan kemejanya yang sedikit lecek lalu mencium punggung tangan suaminya. Kevin mencium kening Rindu lalu memeluknya erat.
“Belajar yang rajin ya,” tangannya mengusap punggung Rindu.
“Abang jangan lirik-lirik Vita ya.”
“Kamu cemburu?”
“Trauma lebih tepatnya.”
Kevin memandang netra Rindu dalam-dalam lalu memegang pipi dengan sebelah tangannya. Rindu menundukkan kepalanya karena malu bersitatap lama dengan sang suami.
“Jangan mikir macem-macem, belajar aja yang bener. Aku dan Vita di sini hanya bekerja. Kalau pun kami berbicara atau pergi bersama itu hanya urusan pekerjaan.”
Rindu mengangguk pelan. Kevin membukakan kunci. Sebelum dirinya membuka pintu, Rindu berjinjit dengan tangan memegang bahu Kevin lalu mengecup pipi suaminya. Setelah itu Rindu langsung keluar ruangan. Kevin tersenyum seraya meraba pipi yang tadi terkena ciuman kilat.
Rindu senyum-senyum sendiri saat menunggu lift. Tapi senyumnya pudar ketika melihat Vita keluar dari lift. Gadis itu terpaksa makan di EDR karena tak bisa masuk ke dalam ruangan setelah Kevin menguncinya dari dalam. Dia menatap Rindu dengan kesal.
“Udah beres kasih service sama daddy lo?”
“Udah dong.”
“Lo boleh tersenyum sekarang. Tapi lihat aja, gue bakal bikin senyum lo hilang dari wajah lo yang pas-pasan itu. Karena gue akan ngerebut pak Kevin dari lo.”
“Coba aja kalau bisa.”
“Apa yang ngga bisa gue lakuin? Vita gitu loh. Siap-siap aja lo didepak sama pak Kevin.”
“Good luck deh, semoga bukan elo yang didepak sama dia.”
Rindu melenggang masuk ke dalam lift. Sebelum pintu lift tertutup, dia melambaikan tangan ke arah Vita. Terdengar helaan nafas Rindu setelah pintu lift menutup sempurna. Sejujurnya dia takut kalau Vita akan mengambil Kevin darinya. Secara fisik, dirinya kalah jauh dari mantan sahabatnya itu.
Bang Ke.. abang ngga akan tergoda kan sama Vita. Aku takut dia akan merebut abang dariku.
Rindu mengusap sudut matanya yang basah. Tak bisa dipungkiri kalau sudah tumbuh perasaan lain untuk suaminya itu. Dan kini ketakutan tengah melandanya. Di saat hubungannya dengan Kevin baru terjalin, di saat hati mereka belum benar-benar terikat, sudah datang badai yang bisa menghancurkan kebersamaan mereka.
☘️☘️☘️
Jam sepuluh malam Kevin baru sampai di rumah. Pekerjaannya hari ini benar-benar banyak hingga harus lembur di kantor. Saat membuka pintu kamar, matanya langsung tertuju pada ranjang yang kosong. Tak ada sang istri di sana. Dia melangkahkan kakinya masuk, lalu menangkap sosok Rindu tengah berdiri di balkon kamar. Kevin menaruh tas kerjanya di meja lalu menghampiri Rindu.
“Belum tidur?”
“Belum ngantuk.”
__ADS_1
“Jangan lama-lama di luar, ayo masuk,” Kevin membalikkan tubuhnya lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Rindu masih terus berdiri di balkon kamar dengan kedua tangan terlipat di atas dada. Pikirannya melayang-layang pada sosok suaminya juga Vita. Dirinya sengaja menunggu Kevin agar tahu jam berapa suaminya itu pulang. Tak disangka selarut ini Kevin baru sampai di rumah.
Bang Ke sama Vita ngapain aja tadi di kantor? Mereka paling cuma kerja aja Rin. Emang banyak banget ya kerjaannya sampai pulang semalem ini. Atau jangan-jangan Vita udah mulai godain bang Ke? Inget Rin.. suami kamu itu kulkas dua pintu, dia ngga akan mudah tergoda sama perempuan lain. Tapi bisa aja kan? Apalagi ini Vita. Percaya aja sama suamimu Rindu..
Rindu terus bermonolog, prasangka baik dan buruknya saling bersahutan. Gadis itu terus tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sampai tak menyadari kalau Kevin sudah berada di sampingnya lagi. Diliriknya Rindu yang masih asik melamun.
“Ayo tidur.”
Rindu terjengit mendengar suara di sebelahnya. Akhirnya dia masuk ke dalam. Kevin menutup pintu yang menghubungkan kamar dengan balkon. Rindu menyambar ponselnya di atas nakas begitu melihat ponselnya berkedip, tanda ada pesan yang masuk. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk.
From Unknown Number :
Malam ini pak Kevin nemuin elo ngga? Sorry ya, gue baru aja menghabiskan malam yang menyenangkan sama dia. Siap-siap nangis bombay lagi ya say..
Rindu menarik nafas panjang, ingin rasanya dia menghubungi Vita lalu memaki-maki sepuasnya gadis itu. Rindu meletakkan ponsel ke atas lalu masuk ke kamar mandi. Kevin yang merasa curiga dengan sikap Rindu, mengambil ponsel istrinya itu. setelah membuka kunci, dibukanya aplikasi whatsapp. Keningnya berkerut melihat pesan yang masuk. Lalu jarinya mulai mengetik balasan pesan.
To Unknown Number :
Ngga usah keganjenan jadi cewek. Kerja yang bener!!!
Kevin langsung memblokir nomor tersebut setelah pesannya terkirim. Diletakkannya kembali ponsel ke atas nakas lalu berbaring di kasur.
Rindu keluar dari kamar mandi. Dilihatnya Kevin sudah berbaring dengan posisi membelakangi. Rindu naik ke atas kasur lalu berbaring. Hatinya sakit melihat sikap Kevin yang dingin dan cuek padanya. Tak terasa airmatanya mengalir.
Jangan nangis Rin.. lo harus kuat. Gue bilang juga apa, jangan baper. Gini nih jadinya. Siap-siap aja lo patah hati lagi.
Rindu mengusap airmata di pipinya. Berulang kali dia menarik nafas panjang untuk menenangkan hati dan meredakan tangisnya. Rindu tersentak ketika merasakan pelukan Kevin dari belakang.
“Ada apa?”
“Ngga ada apa-apa,” suara Rindu terdengar serak.
“Kalau ngga ada apa-apa kenapa nangis?”
“Siapa yang nangis?”
Kevin melepaskan pelukannya lalu membalikkan tubuh Rindu hingga menghadap ke arahnya. Istrinya itu langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. Tapi lagi-lagi Kevin mengarahkan wajah Rindu melihat kepadanya.
“Ini airmata kan? Bukan ingus?” Kevin mengusap buliran bening di pipi Rindu.
“Kenapa hmm?” lanjutnya.
“Bang Ke kenapa pulangnya malem banget.”
“Banyak kerjaan.”
“Kerjanya sama Vita?”
“Iyalah, kan dia sekretarisku. Kenapa?”
“Cuma kerja aja kan? Ngga ngerjain yang lain-lain?”
“Lain-lain gimana maksudnya?”
Sebenarnya Kevin tahu kemana arah pembicaraan sang istri. Tapi sengaja berpura-pura tak peka. Dia ingin Rindu mengatakan langsung kalau cemburu melihat dirinya bekerja dengan Vita.
“Ya kali aja gitu. Tangan sama bibirnya bang Ke ikut kerja juga.”
"Ish pura-pura polos."
"Maksud kamu kerja kaya gini?”
Kevin menelusupkan tangannya ke belakang leher Rindu, mengangkat sedikit kepala istrinya itu lalu mencium bibirnya dengan lembut. Mata Rindu membelalak, lagi-lagi dirinya terkena serangan dadakan dari sang suami. Kevin me**mat bibir atas dan bawah istrinya bergantian.
Rindu menutup matanya, jantungnya berdebar merasakan sensasi baru dalam hidupnya. Dia masih belum membalas ciuman Kevin. Bukan tidak mau, tapi dia bingung bagaimana cara membalas yang baik dan benar. Kevin masih memagut bibir Rindu dengan gerakan pelan dan lembut. Ini adalah ciuman pertamanya, tapi sebagai lelaki tentu saja secara insting dia bisa langsung melakukannya.
Kevin mengakhiri ciumannya setelah beberapa saat. Ditatapnya Rindu yang masih terpejam. Senyumnya mengembang melihat pipi sang istri yang merona. Perlahan Rindu membuka matanya. Wajah Kevin begitu dengan dengannya, hingga hembusan nafas suaminya dapat terasa di permukaan wajahnya.
“Kenapa ngga balas ciumanku?”
“Ngga bisa.”
Rindu menutup mulut dengan tangannya saat dirinya keceplosan menjawab pertanyaan sang suami. Kevin terkekeh mendengar jawaban polos Rindu. Semakin lama dia semakin dibuat gemas oleh sang istri.
“Belajar bales ya. Tiap hari aku bakal kasih kamu les.”
“Modus itu mah.”
“Emang kamu ngga mau?”
“Mau!!”
Rindu lagi-lagi menutup mulutnya. Kevin tertawa melihatnya. Rindu memandang lekat-lekat suaminya yang tengah tertawa. Sungguh sebuah pemandangan langka. Kevin membelai rambut Rindu dengan lembut.
“Aku sama Vita ngga ada apa-apa. Kita cuma rekan kerja. Kamu percaya kan?” Rindu hanya mengangguk.
“Terus kenapa kamu nangis?”
“Aku cuma takut bang Ke kegoda sama Vita. Dia kan cantik, tinggi ngga kaya aku yang cuma satu setengah meter, anggun ngga bawel kaya aku, makannya juga ngga porsi kuli kaya aku.”
“Emang kenapa kalau kamu pendek, bawel dan makannya banyak kaya kuli?”
“Kan bang Ke ngga suka.”
“Kata siapa? Aku suka semua yang ada di diri kamu. Kalau ngga, ngga mungkin aku kuat bertahan sama kamu selama tiga bulan. Aku bisa dapetin sekretaris lain tapi aku ngga mau karena aku udah nyaman sama kamu. Seandainya kamu udah beres kuliah, aku mau kamu yang jadi sekretarisku. Tapi kalau sekarang aku ngga mau kamu jadi sekretarisku.”
“Kenapa? Karena udah ada Vita?”
“Bukan. Karena sekarang kamu istriku.”
BLUSH
Wajah Rindu memerah mendengarnya. Ada perasaan bahagia membuncah dalam hatinya. Ternyata dugaannya salah, Kevin memang dingin padanya jika di depan orang lain tapi begitu hangat jika sedang berdua seperti ini.
“Tapi bang Ke tadi cuek banget sama aku pas di kantor. Kan Vita jadi punya peluang buat nyinyirin aku. Mana dia nyangkanya aku sugar baby-nya abang.”
“Kamu harus lebih galaklah sama dia. Tunjukin kalau kamu bukan perempuan lemah yang bisa ditindas sama dia. Tunjukin kalau aku itu milikmu.”
“Ya kalau bang Ke cuek kaya tadi aku kan malu bang. Nanti akunya udah mesra-mesra, abangnya malah lempeng aja. Kan auto diketawain aku sama dia.”
__ADS_1
“Kang.. aku ngga mau kita kelihatan mesra cuma karena ingin menyenangkan atau memanasi orang. Aku mau kita mesra karena dorongan dari hati masing-masing. Kaya tadi kamu cium pipiku, itu manis banget karena dari hati kan?”
Wajah Rindu kembali merona. Dia menyusupkan kepalanya ke dada sang suami. Kevin tersenyum melihat tingkah malu-malu kucing Rindu. Didekapnya tubuh Rindu dengan erat.
“Kang.. kamu tuh istimewa. Karena cuma kamu yang bisa buat aku ngomong panjang dan banyak.”
“Berarti aku spesial ya bang,” Rindu mendongakkan wajahnya.
“Iya spesial pake telor. Telornya telor bebek sepuluh krat.”
“Ish kaya martabak aja.”
Kevin menyambar bibir Rindu, sepertinya pria itu sudah mulai ketagihan dengan bibir istrinya. Kali ini Rindu mencoba membalas ciuman suaminya. Dia mulai berani me**mat bibir Kevin walau masih terasa kaku. Ciuman Kevin semakin dalam, dia sudah memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulut Rindu. Awalnya Rindu terkejut, namun sebagai murid yang baik, dia mencoba membalas dan mengikuti apa yang dilakukan suaminya. Kevin mengakhiri ciumannya saat merasakan pasokan oksigen mereka mulai berkurang.
“Sekarang tidur ya, besok aku ada rapat pagi.”
Rindu mengangguk. Kevin menarik sang istri ke dalam pelukannya. Rindu tersenyum lebar dalam pelukan Kevin. Kini dia tak akan takut lagi tentang Vita. Dirinya yakin kalau Kevin mencintainya, walau belum ada kata cinta keluar dari mulut si kulkas dua pintu itu.
☘️☘️☘️
Semua anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan, hanya tinggal pengantin baru yang belum bergabung. Tak lama Kevin dan Rindu datang lalu langsung bergabung bersama mereka. Kevin bingung melihat semua orang sudah berpakaian rapih.
“Tumben udah pada rapih.”
“Aku kan ada jadwal nguji pagi ini,” ujar Anya.
“Kita kan sekolah om,” jawab anak-anak Anya.
“Sekarang jadwal Kumala periksa kandungan,” sahut Ivan.
“Mama sama papa juga mau ke rumah Devan, kasihan mba mu sendirian. Devan ada seminar di luar kota.”
“Yaaahh.. aku sendiri dong ma. Mana hari ini libur kuliah.”
“Kamu belajar masak aja sama bi Ipah,” seru Kevin.
“Iya deh.”
Delia menyelesaikan sarapannya kemudian menuju dapur. Tak lama dia kembali membawa beberapa gelas jamu. Delia memang bisa membuat jamu sendiri, itu keterampilan turun temurun di keluarganya. Suami dan anak-anaknya secara rutin meminum jamu buatannya. Delia menaruh gelas berisi jamu di depan semua orang yang ada di meja makan.
“Rindu suka minum jamu kan?”
“Suka ma.”
“Apa sih yang dia ngga suka,” celetuk Kevin, Rindu hanya menyebikkan bibirnya.
“Nah, ini jamu khusus wanita. Selain bisa bikin badan kamu bagus, juga bisa bikin badan kamu wangi. Mba Anya, mba Kumala sama mba Vega rutin minum jamu buatan mama. Coba lihat mba Anya, biar udah punya anak dua, bodinya masih oke kan.”
“Kangen lebih oke ma, biar makan sebakul badannya segini-segini aja.”
“Kamu tuh manggil istri ngga ada mesra-mesranya. Namanya Rindu bukan Kangen.”
“Biarin aja ma, itu panggilan kesayangan Kevin buat Rindu,” celetuk Ivan.
Kevin hanya berdehem saja mendengar ledekan sang kakak. Mama memberi kode pada semua untuk menghabiskan jamunya masing-masing. Jika kanjeng mami sudah bertitah maka tidak ada yang bisa menolak. Semuanya meminum jamu yang telah disiapkan sampai habis, tak terkecuali Rindu.
“Ayo pa, kita berangkat.”
“Ayo anak-anak, nanti kalian terlambat ke sekolah.”
“Yuk mas, biar dapet antrian awal.”
Semua yang ada di meja makan segera beranjak dari tempatnya masing-masing, meninggalkan Kevin dan Rindu. Bi Ipah datang membereskan peralatan makan bekas sarapan, Rindu pun berinisiatif untuk membantu. Kevin meneguk segelas air putih sebelum beranjak dari duduknya.
“Kang.. tolong ambilin tasku dong.”
“Iya bang.”
Rindu bergegas ke kamar untuk mengambil tas suaminya. Kevin berdiri di dekat meja makan sambil melihat-lihat ponselnya. Tanpa sengaja bi Ipah menabraknya, hingga gelas yang berisi air putih tumpah di kemeja Kevin.
“Aduh, maaf den Kevin, bibi ngga sengaja.”
“Iya ngga apa-apa bi.”
Kevin bergegas menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Dia membuka pintu bertepatan dengan Rindu yang akan keluar. Tubuh mereka bertabrakan, Rindu terdorong ke belakang, refleks Kevin mengulurkan tangannya untuk menangkap sang istri. Kevin memeluk pinggang Rindu lalu menariknya. Tiba-tiba hidungnya mencium aroma lain dari tubuh sang istri. Aroma yang membangkitkan hasratnya. Hidung Kevin mengendus di sekitar leher Rindu.
“Kamu pake parfum apa?”
“Ngga pake parfum apa-apa, kenapa bang?”
“Hmm.. kamu wangi.”
“Abang ini kenapa bajunya basah?”
“Tadi bi Ipah numpahin minuman.”
“Ganti dulu bang.”
Rindu bergegas menuju lemari, tangannya menarik sebuah kemeja lalu memberikannya pada sang suami. Tangan Kevin bergerak membuka kancing kemejanya. Entah mengapa Rindu jadi ingin membantu suaminya. Dia mendekat lalu membantu Kevin membuka kancing kemejanya.
Rindu menggigit bibirnya melihat tubuh bagian atas Kevin. Ingin rasanya dia mengelus dada bidang dengan sedikit bulu di sana. Rindu mengalihkan pandangannya ke arah lain, tapi seperti ada magnet, matanya terus melihat ke arah Kevin.
Melihat Rindu yang terus menggigit bibirnya, Kevin mulai tak karuan. Dia mengambil nafas panjang untuk menghalau hasrat yang tiba-tiba saja muncul hanya dengan mencium aroma tubuh Rindu dan melihat bibirnya. Dia buru-buru mengenakan pakaiannya lalu keluar dari kamar tanpa berpamitan.
Kevin menuruni tangga dengan cepat lalu menuju mobilnya. Pria itu mulai melajukan kendaraannya. Kevin menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba menghalau wajah Rindu yang terus terbayang, apalagi ketika gadis itu menggigit bibirnya. Tiba-tiba dia mengerem mobilnya. Diambilnya ponsel dari saku celananya lalu menghubungi Juna.
“Halo.”
“Halo Jun, sorry gue ngga bisa ikut rapat pagi ini. Tolong Darian aja yang gantiin gue.”
“Ok.”
Kevin langsung memutus panggilan setelah mendapat jawaban dari Juna. Dia langsung memutar balik mobilnya kembali ke rumah. Kevin memarkir asal mobil di depan rumah lalu bergegas masuk ke dalam. Dengan berlari dia menaiki tangga dan langsung membuka pintu kamar, mengagetkan Rindu yang tengah mondar-mandir di dalam kamar.
“Abang kok pulang lagi?”
Pertanyaan yang keluar dari mulut Rindu bertentangan dengan hatinya yang bersorak melihat suaminya kembali ke rumah. Tanpa menjawab pertanyaan Rindu, Kevin mendekat padanya.
“Kang..”
☘️☘️☘️
__ADS_1
**Hiyyaaaa udah 2700 kata😱 tar lagi lanjutnya aaaahhhh..🏃🏃🏃🏃🏃
Buat yang jawab pilihan B & C, congrats, kalian paham benar bang Ke. Yang jawab A mohon maaf. Perlu dipahami kalo bang Ke kulkas dua pintu yg belum pernah pacaran, dia juga ngga ngeh kalo Vita suka sama dia. Jadi ya ekspresinya datar, sedatar jalan tol Cipali. Tapi yang penting kalau berdua sama Kang Pur dia berubah jadi kucing anggora yang ada manis²nya😉**