
Adinda memeriksa pintu dan jendela. Setelah yakin telah tertutup dan terkunci, barulah gadis itu masuk ke dalam kamar. Dia naik ke atas kasur lalu berbaring di samping enin. Hari ini dia tidak kemana-mana karena Jojo sudah berangkat ke Singapura. Seharian Adinda hanya di rumah belajar masakan dari enin.
“Besok kamu kerja ngga, Din?”
“Belum enin. Om Jojo masih di Singapura, omnya kena serangan jantung katanya.”
“Innalillahi.. mudah-mudahan tidak ada-apa ya.”
“Aamiin..”
Adinda merubah posisi tidurnya menjadi menyamping. Tangannya memeluk Enin yang masih berbaring dengan posisi telentang. Pikirannya melayang pada ucapan Radix saat menyatakan perasaan. Kemudian Adinda teringat saat Jojo memeluk dan mencium keningnya. Wajahnya kembali memanas mengingat hal tersebut.
“Din.. apa kamu suka sama Jojo?” suara Enin sukses membuyarkan lamunan Adinda.
“Hmm.. awalnya Dinda takut, enin. Waktu itu om Jojo pernah marah sama Dinda. Dia bilang Dinda cuma perempuan munafik yang coba narik simpati dengan kehidupan susahnya. Tapi sekarang om Jojo udah baik sama aku. Dia juga beliin hp, terus kemarin sebelum pergi, om Jojo kasih uang buat aku.”
“Tak kenal maka tak sayang. Dia bersikap seperti itu karena belum mengenalmu. Dan sekarang setelah mengenalmu, dia tahu kalau kamu gadis yang baik.”
“Enin.. om Jojo nyuruh aku kuliah. Katanya dia yang akan biayain kuliah aku. Menurut enin, aku ambil ngga tawarannya?”
“Kalau menurut enin, ambil aja. Kamu harus pandai memanfaatkan peluang. Kapan lagi kamu bertemu dengan orang yang baik dan peduli sama kamu seperti Jojo.”
“Tapi nanti kalau om Jojo minta imbalan gimana?”
“Paling sebagai imbalannya kamu dibawa ke penghulu.”
“Iih enin.”
Enin terkekeh, tanpa melihat pun dia sudah bisa menebak kalau pipi cucunya ini tengah merona mendengar godaannya. Enin menarik nafas panjang. Selama ini dia bertahan di tengah penyakit yang menderanya karena masih mengkhawatirkan keadaan sang cucu. Tapi sekarang hatinya sedikit tenang mengetahui ada orang yang begitu memperhatikan Adinda.
“Enin.. kemarin kang Radix bilang cinta sama aku.”
“Terus kamu jawab apa?”
“Belum jawab apa-apa sih enin. Aku ngga tahu gimana perasaanku sama kang Radix.. Kang Radix itu orangnya baik, humoris juga. Tapi kok aku ngga deg-degan ya enin kalau deket dia. Katanya kalau kita suka seseorang jantung kita suka deg-degan.”
Enin kembali terkekeh mendengar ucapan polos cucunya. Selama sekolah Adinda memang tidak pernah dekat dengan lawan jenis. Teman perempuannya pun bisa dihitung dengan jari. Sejak duduk di sekolah menengah atas, Adinda sudah bekerja sambilan untuk memenuhi kehidupan mereka karena enin sudah sakit-sakitan.
“Enin, masa kemarin sebelum pergi, om Jojo peluk sama cium kening aku.”
Enin merubah posisi tidurnya menjadi menyamping. Kini mereka berbaring sambil berhadapan. Dia mengusap rambut panjang Adinda yang hitam legam. Senyum mengembang di wajahnya melihat cucu kesayangannya sudah tumbuh menjadi gadis cantik. Pantas saja banyak kaum adam yang menyukainya.
“Terus gimana perasaan kamu?”
“Hmm.. di sini deg-degan, enin,” Adinda menunjuk ke dadanya.
“Terus kenapa hari ini Dinda kangen banget ya sama om Jojo. Biasanya dia kirim pesan udah kaya minum obat. Minta inilah, nyuruh itulah, harus beginilah, harus begitulah. Pokoknya cerewet banget. Tapi sekarang sepi,” sambungnya.
“Itu tandanya kamu suka sama dia,” enin menjawil hidung sang cucu.
“Masa sih? Huaaa berarti aku suka sama om-om dong enin.”
“Ish kamu tuh. Jojo itu belum tua. Waktu itu dia pernah bilang umurnya baru mau 29 tahun. Berarti cuma beda 10 tahun, masih wajar kok.”
“Tapi om Jojo juga lagi deket sama kak Luna. Dancer yang lagi naik daun itu. Kalau Dinda ngga ada apa-apanya dibanding kak Luna. Udah cantik, berpendidikan, karir bagus. Coba bandingin sama Dinda, kalah jauh enin. Dinda cuma tamatan SMA, ngga ada juga yang bisa dibanggain dari Dinda. Lagian om Jojo baik cuma karena kasihan aja.”
Enin mengusap lembut puncak kepala Adinda. Hatinya miris mendengar ucapan sang cucu. Andai dia memiliki banyak uang, mungkin dirinya bisa menyekolahkan cucunya itu sampai ke perguruan tinggi. Namun apa daya, di masa tuanya enin tak memiliki harta berharga.
Adinda mulai menguap, enin menepuk pelan punggung cucunya. Tak lama Adinda menutup matanya. Enin kembali mengusap puncak kepala gadis itu. Dalam hatinya terus berdoa semoga sang cucu diberikan kebahagiaan dan dapat menikmati hidup yang lebih baik lagi.
☘️☘️☘️
Keesokan harinya Radix datang berkunjung ke kediaman Adinda. Selain didorong oleh rasa rindu, pemuda itu juga ingin mendengar jawaban atas pernyataan cintanya tempo hari. Dengan mengenakan jeans belel dan kaos berwarna putih yang dibalut kemeja lengan pendek motif kotak-kotak, Radix terlihat tampan.
Setelah menarik nafas panjang, dia mengetuk pintu seraya mengucapkan salam. Tak lama pintu terbuka, dari dalamnya keluar Adinda mengenakan celana jeans selutut dan kaos longgar. Gadis itu mempersilahkan Radix untuk masuk.
“Tumben ke sini, ada apa kang?”
“Kangen aja sama kamu.”
“Ish si akang ngegombal mulu.”
“Kali-kali jadi anak buahnya Deni Cagur ngga apa-apa kan?” Radix mengusap tengkuk untuk menghilangkan grogi yang tiba-tiba melanda.
“Hmm.. Din, jalan-jalan yuk, kita makan bakso atau kemana gitu.”
“Aduh gimana ya kang. Dari pagi enin kurang sehat, aku ngga bisa ninggalin enin.”
“Oh gitu yah. Atau kita beli baksonya di tempat yang deket aja. Makannya juga di rumah biar bisa tetap jagain enin.”
“Hmm.. boleh deh. Aku ijin ke enin dulu ya.”
Adinda masuk ke dalam kamar. Tak berapa lama dia keluar. Bersama dengan Radix, keduanya meninggalkan rumah. Radix memacu kendaraan roda duanya menuju penjual bakso yang mangkal di dekat rumah sakit. Konon rasa baksonya enak.
__ADS_1
Setelah mengantri dan menunggu pesanan jadi, akhirnya dua bungkus bakso berhasil dibawa pulang. Keduanya memilih duduk di lantai menikmati bakso yang terlihat kepulan asapnya. Sambil makan, Radix menyusun kata-kata untuk menanyakan jawaban Adinda.
“Hmm.. Din, kayanya untuk beberapa minggu ke depan aku bakalan sibuk deh.”
“Kuliah kang?”
“Kuliah sama syuting. Rencananya besok kita udah mulai syuting. Doain ya.”
“Iya kang. Dinda doain syutingnya lancar terus nanti filmnya laris dan kang Radix bisa jadi artis terkenal, aamiin.”
“Aamiin.. Sayang ya, kamu ngga jadi lawan main aku.”
Sutradara mengatakan padanya kalau scene dia dan Gurit bertemu pasangan akan tetap ada, hanya saja pemerannya yang diganti. Tanpa sutradara itu mengatakan, pemuda itu tahu kalau Jojo adalah orang yang menggagalkan dirinya menjadi kekasih Adinda di layar lebar. Pria itu memang rival yang sulit dikalahkan.
“Din... soal yang waktu itu gimana?”
“Soal apa kang?”
“Kamu mau jadi pacar aku?”
Adinda terdiam sejenak. Gadis itu tak menyangka kalau Radix akan meminta jawaban secepat ini. Tapi mau tak mau dia harus segera memberikan jawaban supaya Radix tak terus berharap padanya. Setelah mengambil nafas panjang, Adinda melihat ke arah Radix. Nampak sekali kalau pemuda itu tengah harap-harap cemas menanti jawabannya.
“Maaf ya kang, kita berteman aja.”
Radix tersenyum kecut mendengarnya. Impiannya mengakhiri masa jomblonya dalam waktu dekat musnah sudah. Tapi dia tetap berpikir positif, sekarang berteman, siapa tahun ke depannya mereka benar-benar bisa berjodoh.
“Iya Din, ngga apa-apa kok.”
“Maaf ya kang.”
Adinda menundukkan kepalanya, tergambar jelas bagaimana gadis itu merasa tak enak hati dengan penolakan yang baru saja dilakukannya. Radix jadi tak enak hati. Dia yang ditolak kenapa dia yang merasa bersalah.
“Din.. kamu tahu ngga air-air apa yang bisa terbang?”
“Airkopter.”
“Bukan.”
“Air terbang.”
“Hahaha... bukan.”
“Terus apa?”
Senyum Adinda terbit mendengar tebakan garing Radix. Dia pun ikutan memberikan tebakan pada pemuda di hadapannya.
“Truk.. truk apa yang bisa terbang?”
“Helikoptruk.”
“Ish...” Radix tertawa melihat kekesalan Adinda karena tebakannya benar. Kini gantian dia yang memberikan tebakan.
“Kecil putih bisa terbang, apa hayo?”
Adinda berpikir sejenak, kemudian mulai menyebutkan jawaban yang semuanya dianggap salah oleh Radix. Gadis itu terdiam, keningnya nampak berkerut memikirkan tebakan absurd Radix.
“Taluk? (nyerah?).”
“Iya deh. Apa jawabannya?”
“Nasi nempel di pesawat huahahaha...”
“Ish gaje kang Radix mah.”
“Nih terakhir. Jus.. jus apa yang rasanya pahit terus bikin pengen nangis guling-guling?”
“Jus paria.”
“Salah.”
“Jus paria campur brotowali terus dikasih kopi.”
“Huahaha.. apaan sih jawaban keroyokan gitu.”
“Terus apa?”
“Jus a friend.”
Adinda langsung terdiam. Secara tidak langsung Radix seperti tengah menyindirnya. Sadar kalau tebakannya telah menyinggung perasaan Adinda. Pemuda itu langsung mengusak puncak kepala gadis itu.
“Ngga usah baper, cuma tebakan doang.”
Radix terus mengusak kepala Adinda namun gerakannya semakin cepat. Kini tangan Radix malah mengacak-acak rambut Adinda hingga berantakan tak tentu arah. Karuan Adinda kesal dibuatnya. Dia segera mendaratkan cubitan maut di pinggang pemuda itu.
__ADS_1
“Aduh.. aduh sakit Din.. ampun.”
“Rasain.”
Kedua tertawa bersamaan. Tebak-tebakan ngga jelas pun terus berlanjut. Sesekali terdengar rutukan Adinda karena Radix terus saja memberikan jawaban nyeleneh atas tebakan yang dilontarkannya. Dalam hati Radix merasa bahagia, kendati ditolak namun tetap bisa berbincang bersama sambil melihat senyum manisnya sudah cukup baginya.
☘️☘️☘️
Selesai shalat isya, seperti biasa Adinda memeriksa pintu dan jendela. Kemudian dia masuk ke dalam kamar. Sudah dua malam ini, dia selalu tidur lebih awal karena tak ada kerjaan. Adinda meraih ponsel yang ada di atas nakas. Terlihat raut kecewa di wajahnya saat melihat tak ada pesan masuk di ponselnya.
Adinda kemudian memerika akun IG-nya. Hanya ada postingan Radix saja. Tak ada story atau postingan apapun dari IG Jojo. Ingin rasanya Adinda mengubungi Jojo lebih dulu, menanyakan kabarnya dan juga keadaan omnya. Namun gadis itu takut mengganggu. Dia meletakkan kembali ponsel ke atas nakas baru kemudian naik ke atas kasur.
Nampak enin sudah lebih dulu tertidur. Sedari pagi, kondisi enin tidak baik-baik saja. Wanita tua itu juga tidak turun dari kasurnya. Adinda memandangi eninnya yang tengah terpejam dengan damainya. Lama gadis itu memandangi sang nenek. Dia merasa sedikit aneh. Tak ada pergerakan apapun dari wanita itu.
Adinda mendekat lalu memperhatikan dengan lebih seksama. Dia melihat ke arah dada enin. Tak ada pergerakan naik turun seperti orang yang tengah bernafas. Adinda mulai panik, didekatkan jari telunjuk ke hidung enin. Lagi-lagi dia tak merasakan hembusan udara dari lubang hidung.
Adinda meletakkan kepalanya di dada enin. Telinganya mencoba menangkap suara detak jantung neneknya. Namun ternyata dia tak bisa mendengar apapun. Adinda meraih tangan enin lalu memegang pergelangannya. Gadis itu semakin panik saat tak merasakan apapun.
Dengan tangan bergetar, Adinda menyingkap selimut yang menutupi kaki sang nenek. Dirabanya kaki yang telah dipenuhi keriput itu. Kulit kaki enin terasa dingin. Adinda mulai panik. Diguncang-guncangkan tubuh enin seraya memanggilnya.
“Enin.. enin.. bangun enin.”
Wanita tua itu bergeming. Adinda bertambah panik. Dia kembali mengguncang tubuh enin, suaranya pun bertambah keras memanggilnya. Namun semua sia-sia belaka, tak ada respon apapun.
Adinda bergegas keluar dari kamar. Dengan terburu-buru dibukanya pintu rumah kemudian melesat menuju rumah bu Teni yang letaknya hanya berselang dua rumah saja. Diketuknya pintu rumah bercat hijau itu.
“Assalamu’alaikum.. bu.. bu Teni.. assalamu’alaikum.”
TOK
TOK
TOK
“Waalaikumsalam,” terdengar jawaban dari dalam rumah.
Pintu rumah terbuka, bu Teni muncul dari baliknya. Wanita paruh baya itu terkejut melihat Adinda berdiri di depan rumahnya dengan bersimbah airmata.
“Dinda kamu kenapa?”
“Bu.. tolong enin bu.. enin..”
“Enin kenapa?”
“Enin.. udah ngga ada nafasnya bu..”
“Astaghfirullah.”
Bu Teni bergegas menuju ke kediaman enin disusul oleh Adinda. Anaknya yang mendengar keributan di luar rumah bergegas menyusul. Bu Teni segera memeriksa keadaan enin. Adinda berdiri di dekat ranjang sambil tak henti menangis.
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Enin kamu sudah berpulang ke rahmatullah.”
Tangis Adinda pecah mendengarnya. Dia langsung menghambur ke arah sang nenek sambil memeluknya erat. Bu Teni meminta, Mia anaknya untuk memberitahukan pak RT mengenai enin. Gadis itu bergegas keluar melaksanakan perintah ibunya.
“Enin... jangan tinggalin Dinda... Dinda udah ngga punya siapa-siapa selain enin. Jangan tinggalin Dinda, enin...”
Adinda terus menangis sambil terus memeluk enin. Bu Teni menghampiri kemudian menarik tubuh gadis itu menjauh dari enin. Dipeluknya gadis yang telah dianggap seperti anaknya sendiri.
“Kenapa enin tinggalin Dinda bu... sekarang Dinda ngga punya siapa-siapa lagi.”
“Sabar Dinda, ini sudah menjadi kehendak Allah. Kamu masih punya ibu. Kamu ngga sendirian.”
Bu Teni mengurai pelukannya ketika terdengar suara beberapa orang yang masuk ke dalam rumah. Pak RT dan beberapa tetangga lainnya masuk ke dalam kamar untuk memeriksa keadaan enin. Setelah memastikan kalau enin memang telah meninggal dunia, pak RT langsung memberikan instruksinya.
“Asep, kamu ke masjid, umumkan ke warga tentang enin. Jana, kamu ke rumah haji Soleh minta kain kafan dan perlengkapan untuk mayit. Bu Teni tolong bantu-bantu Dinda di sini ya. Nanti biar istri saya yang koordinir ibu-ibu yang lain.”
“Iya pak.”
Semua orang mulai sibuk membantu Adinda mempersiapkan untuk pemakaman enin. Berhubung waktu sudah malam, pak RT memutuskan untuk memandikan enin besok pagi saja. Dia juga langsung mendatangi rumah penjaga kuburan yang ada di dekat kediaman mereka.
Di tengah kesibukan orang-orang, Adinda hanya duduk bersimpuh di samping jasad sang nenek yang masih berada di atas kasur. Airmata tak henti bergulir membasahi pipinya. Mulutnya terus bergumam memanggil sang nenek yang sudah tidak bisa mendengar suaranya lagi.
Adinda tak percaya kalau sang nenek telah pergi meninggalkannya. Padahal tadi sehabis shalat isya berjamaah, dia masih berbincang sebentar dengan enin. Tiba-tiba saja Adinda teringat pada Jojo. Di saat seperti ini, gadis itu berharap Jojo ada di sisinya, memberi kekuatan dan perlindungan untuknya.
“Om Jo.. hiks.. enin udah ngga ada. Om Jo... cepet pulang.”
☘️☘️☘️
**Mamake ngga mau komen ah. Kalian aja yang komen.
Mamake cuma mau promo aja. Mampir dong ke karya baru mamake. Genrenya memang sedikit berbeda dari KPA. Tapi ceritanya ngga kalah seru kok. Kisah perjuangan Nick untuk hijrah dan mendapatkan cinta dari gadis pujaannya. Udah sampe 15 episode loh**.
__ADS_1