KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Cemas


__ADS_3

Setelah menurunkan Dilara di hotel Arjuna, Nara melanjutkan perjalanannya pulang. Belum ada sepuluh menit berjalan, tiba-tiba saja mobil yang dikemudikannya berhenti. Beberapa kali gadis itu mencoba menstarter ulang namun mesin mobil tak mau menyala. Nara mengambil ponselnya lalu menghubungi bengkel langganannya.


Setelah bengkel langganannya berjanji akan mengirimkan montir padanya, gadis itu keluar dari mobil. Sambil menunggu sang montir, dia ingin membasahi kerongkongannya dengan minuman dingin. Nara berjalan menghampiri tukang es goyobod yang mangkal di dekat pohon rindang.


“Mang es goyobodnya satu.”


“Satu neng?”


“Iya.”


“Siyaaapp. Minum di sini apa dibawa pulang?”


“Minum di sini.”


“Minum di sini?”


“Iya.”


“Siyaaapp.”


Kening Nara berkerut melihat gaya sang penjual yang selalu menanyakan kembali apa yang dikatakannya. Dia tertawa kecil karena mengingat sang penjual mirip seperti tokoh di salah satu drama series yang pernah ditontonnya di salah satu stasiun televisi.


Gadis itu mendudukkan diri di kursi yang disediakan. Tak lama es goyobod pesanannya siap. Nara langsung menikmati minuman dingin yang sekarang ini semakin sulit ditemukan.


Saat sedang menghabiskan es goyobodnya, sebuah motor sport berwarna merah berhenti di dekat gerobak es. Dari plat nomornya, Nara tahu siapa pemilik motor tersebut. Kenan turun dari kuda besinya. Setelah melepaskan helm dan menaruhnya di atas motor, dia menuju penjual es.


“Mang, es goyobodnya satu.”


“Satu a?”


“Iya.”


“Siyaaapp. Diminum di sini apa dibungkus?”


“Diminum di sini.”


“Diminum di sini?”


“Iya.”


“Siyaaapp.”


Kenan mengikuti penjual itu mengucapkan kata siap. Nara terkikik melihatnya. Pemuda itu kemudian menghampiri Nara dan mendudukkan diri di samping calon kakak iparnya.


“Ngga kerja kak?”


“Ngga, disuruh libur sama bang Ken. Aku habis belanja hantaran pernikahan dianter Dila.”


“Dilanya mana?” tangan Kenan terulur mengambil es goyobodnya.


“Aku anter ke hotel. Katanya mau kencan sama kak Ezra.”


“Sengaja beli es dulu?”


“Ngga. Mobil aku mogok. Ini lagi nunggu montir yang mau ke sini meriksa mobil.”


Baru saja Nara selesai bicara. Sebuah mobil derek berhenti di dekat mobilnya. Seorang pria mengenakan wearpack mendekati dirinya. Dari tampilannya, Nara tahu kalau pria itu adalah montir yang sedang ditunggunya.


“Mba Nara?”


“Iya.”


“Saya periksa dulu ya mba, mobilnya.”


Nara hanya mengangguk saja. Pria itu kemudian berjalan menuju mobilnya. Dibukanya kap mobil tersebut kemudian mulai memeriksanya. Tak berapa lama dia menutup kap mobil lalu menghampiri Nara kembali.


“Mba.. mobilnya harus dibawa ke bengkel.”


“Oh ya udah, bawa aja.”


Nara berdiri kemudian menuju mobilnya. Setelah mengambil tas, dia menyerahkan kunci mobil pada sang montir. Pria itu memerintahkan pada temannya yang sedari tadi menunggu di mobil untuk menderek kendaraan Nara. Setelah pengait terpasang dengan benar, mereka menderek pergi mobil Nara.


“Kakak biar aku anter, ayo.”


Kenan yang sudah menghabiskan minuman dan membayarnya mengajak Nara pulang. Dia mengambilkan helm cadangan yang ditaruh di jok belakang lalu memberikannya pada Nara. Setelah memakai helm, Nara naik ke atas motor. Kendaraan roda dua itu meluncur pergi.


Motor yang ditunggangi Kenan berbelok ke kanan. Dia sengaja mengambil jalan pintas agar lebih cepat sampai ke rumah Nara. Di sebuah jalanan yang sepi, tiba-tiba muncul dua buah motor mengapit motor Kenan.


Sadar akan bahaya yang mengancam, Kenan memacu kendaraannya lebih cepat. Dua motor itu terus mengejarnya. Kemudian salah satu pengemudi menendang motor Kenan. Pria itu sedikit kehilangan keseimbangannya. Dengan cepat Kenan mengerem motor agar tidak terjatuh. Hal tersebut langsung dimanfaatkan dua motor tadi untuk mencegatnya.


Kenan beserta Nara turun dari motor. Pemuda itu melepas helmnya kemudian menaruhnya di atas motor. Dengan gerakan tangan, dia menyuruh Nara sedikit menjauh. Tiga orang pria turun dari motor kemudian menghampiri Kenan.


“Ada masalah apa lo halangin jalan gue?” tanya Kenan.


“Ngga ada aoa-apa. Gue cuma mau motor lo doang,” pria itu menunjuk ke arah motor Kenan.


Sadar kalau ketiga pria yang menghadang adalah begal, Nara buru-buru mengambil ponsel kemudian mengirimkan sinyal darurat. Dia sudah diajarkan oleh Barra bagaimana cara mengirimkan sinyal darurat ketika dirinya berada dalam bahaya. Sinyal itu secara otomatis akan mengirim lokasi kebedaraannya pada tim keamanan keluarga Hikmat.


“Lo pasti orang kaya, jadi ngga masalah kan kalau kita minta satu,” ucap yang satunya lagi.


“Sama sekalian kita pinjem cewek lo. Nanti kalau kita udah puas nyicipin, gue balikin lagi,” timpal lelaki ketiga.


BRUGH!


Baru saja lelaki ketiga itu menyelesaikan ucapannya, sebuah tendangan Kenan mendarat di perutnya, membuat pria itu terhuyung ke belakang dan membentur motor di belakangnya hingga terjatuh.


“Coba aja kalau berani. Maju lo semua!”


Melihat temannya terjatuh, dua yang lain langsung merangsek maju untuk menyerang Kenan. Dengan cepat pemuda itu mengelak, bahkan dia menghadiahkan pukulan dan tendangan pada keduanya hingga terjatuh. Nara terus memperhatikan Kenan yang tengah berjibaku dengan perasaan was-was.


Tahu Kenan bukan lawan yang mudah, ketiganya maju bersama-sama untuk mengeroyok Kenan. Tapi pemuda itu dapat berkelit dengan mudah dan balas memukul ketiganya. Kesal tak kunjung bisa mengalahkan Kenan, salah seorang begal mengambil sebilah kayu yang ada di dekat pohon. Dengan mengendap-endap dia mendekati Kenan yang masih berkelahi dengan kedua temannya.


Pria itu terus mendekati Kenan yang membelakanginya. Sadar akan bahaya yang mengincar calon adik iparnya, Nara berteriak kencang seraya berlari ke arah Kenan.

__ADS_1


“NAN.. awas!!”


BUGH


“Aaagghhh..”


Kenan terkejut melihat tubuh Nara terjatuh di dekatnya. Gadis itu mengerang seraya memegangi perutnya yang terkena pukulan kayu. Tadi gadis itu mencoba membantu Kenan namun dirinya justru terkena pukulan.


“Kak!”


“Nan.. awas..”


Nara menunjuk ke arah belakang Kenan. Pria yang tadi memukulnya berusaha memukul Kenan dengan kayu di tangannya. Dengan cepat Kenan berbalik kemudian menendang pria itu dengan keras.


Melihat Nara yang terluka karena dirinya, amarah Kenan meledak. Dia merangsek maju, didekatinya satu per satu para begal itu lalu melayangkan pukulan dan tendangan bertubi. Kalau tadi dia hanya mengeluarkan setengah kemampuannya, tidak sekarang. Kenan mengamuk, pukulan dan tendangan bertubi diberikan pada ketiga begal itu hingga mereka jatuh tersungkur dan tak berdaya.


Sebuah SUV berhenti, dari dalamnya keluar empat orang berpakaian hitam. Duta segera berlari menghentikan Kenan yang hendak menghantamkan kayu ke kepala salah satu begal yang melukai Nara tadi.


“Mas Nan.. sudah.. biar kami yang ambil alih.”


Kenan melemparkan kayu di tangannya kemudian bergegas menghampiri Nara. Dia berjongkok kemudian membopong tubuh Nara.


“Anter gue ke rumah sakit. Bang, lo urus mereka, bawa ke markas. Sekalian bawa motor gue.”


Duta hanya menganggukkan kepalanya. Dengan cepat Kenan memasukkan Nara ke jok belakang, dia lalu menyusul masuk. Salah seorang anak buah Duta segera menjalankan kendaraan menuju rumah sakit.


☘️☘️☘️


Mendengar kabar dari Kenan, Kenzie yang tengah bertemu dengan klien penting membatalkan meeting dan bergegas menuju rumah sakit. Berjuta pertanyaan berseliweran di kepalanya. Bagaimana Nara bisa terluka di saat ada Kenan bersamanya.


Sambil berlari Kenzie memasuki IGD, matanya menyapu seluruh ruangan. Ketika berhasil menangkap keberadaan Kenan, pria itu bergegas menghampiri. Fathan yang baru saja sampai segera mengikuti sahabat sekaligus atasannya itu.


“Nan!”


“Bang..”


“Nara mana?”


“Lagi diperiksa bang.”


“Kenapa Nara sampai terluka?”


“Tadi kita kena begal.”


“Berapa orang begalnya?”


“Tiga bang.”


“Lo ngga bisa lawan tiga orang sampai Nara terluka hah?!!” Fathan menepuk punggung sahabatnya yang terlihat emosi.


“Maaf bang. Gue lengah tadi, kak Nara mau bantuin gue dan kena pukulan.”


Kenzie bertambah geram mendengar jawaban sang adik. Namun dia menahan kekesalannya begitu melihat dokter yang memeriksa Nara keluar dari bilik pemeriksaan. Bergegas dia menghampiri sang dokter.


“Tidak apa-apa hanya sedikit shock. Beruntung tidak ada luka dalam, tapi dia harus beristirahat untuk memulihkan kondisi lambungnya yang terkena hantaman benda tumpul.”


“Apa harus dirawat?”


“Tidak perlu. Saya sudah menyuntikkan obat pereda nyeri. Pasien sedang beristirahat, nanti kalau sudah bangun boleh dibawa pulang. Tapi ingat, dia harus istirahat setidaknya dua hari. Jangan banyak bergerak dulu.”


“Baik dok.”


Dokter jaga tersebut menganggukkan kepalanya lalu berlalu meninggalkan Kenzie dan yang lain. Kenzie berjalan menuju blankar Nara. Nampak calon istrinya itu tengah tertidur. Dia mendekat lalu mendaratkan ciuman di kening Nara.


“Di mana mereka?” tanya Kenzie pada Kenan.


“Dibawa ke markas bang.”


“Than, lo tungguin Nara dulu. Nan, ikut gue.”


Tanpa banyak bertanya, Kenan bergegas mengikuti langkah sang kakak. Pemuda itu tahu pasti Kenzie hendak menemui para begal tersebut. Dirinya tak berani membayangkan apa yang akan dilakukan pria dingin itu. Selama perjalanan, Kenan tak berani membuka mulutnya. Aura Kenzie terasa begitu menyeramkan.


Setelah memarkirkan kendaraannya, Kenzie turun dari mobil. Kenan ikut turun kemudian berjalan di belakang sang kakak. Duta menyambut kedatangan Kenzie, dia langsung memandu anak atasannya itu ke ruangan tempat mereka menyekap begal yang menyerang Kenan.


Kenzie memandangi satu per satu pria di depannya. Wajah ketiga begal itu sudah babak belur. Pria itu yakin kalau Kenan yang sudah melakukannya. Namun dia masih belum puas. Salah seorang dari mereka harus menerima hukuman darinya karena sudah berani melukai Nara.


“Yang mana yang mukul Nara?” tanya Kenzie pada Kenan.


Kenan menunjuk pada pria yang mengenakan kaos berwarna merah. Kenzie berjalan mendekat ke arah pria itu. Ditariknya kaos begal tersebut sampai berdiri tegak di hadapannya.


“Buka.”


Salah seorang anak buah Duta maju kemudian membuka tali yang mengikat kedua tangan pria di hadapan Kenzie. Kemudian dia kembali ke tempatnya semula, tak mau ikut campur apa yang akan dilakukan oleh Kenzie.


“Siapa namamu?”


“Andi.”


“Aku kasih kamu kesempatan untuk melawanku. Kalau kamu menang, kamu boleh pergi.”


Andi melihat ke arah Kenzie, lalu melihat ke arah Kenan, Duta dan dua orang lainnya. Perasaannya mulai tak enak. Pria di hadapannya ini berani membuat penawaran dengannya namun dia yakin kalau kemampuan Kenzie pasti sama dengan Kenan. Tapi Andi tak punya pilihan. Dia menerima atau menolak sepertinya Kenzie akan tetap menghajarnya.


Andi mundur sedikit kemudian dia mulai memasang kuda-kuda, kedua tangannya terkepal, siap untuk berkelahi. Kenzie menggerakkan tangannya meminta pria itu menyerangnya lebih dulu. Andi maju seraya melayangkan pukulan. Dengan cepat Kenzie mengelak kemudian menarik tangan Andi yang satunya, dengan kekuatan bahunya, Kenzie membanting tubuh Andi ke lantai.


Terdengar erangan Andi begitu punggungnya membentur lantai. Kenzie kembali memberinya tanda untuk maju. Baru saja dia bangun, sebuah tendangan mengenai wajahnya. Lagi-lagi pria itu jatuh tersungkur. Luka lebam kembali bertambah di wajahnya. Kenzie mendekat lalu menghajar Andi sebanyak tiga kali membuat koleksi lebam bertambah banyak.


Semua yang ada di dalam ruangan menahan nafas melihat apa yang dilakukan Kenzie. Walau wajah pria itu tetap tenang, namun mereka tahu kalau Kenzie tengah melepaskan amarahnya. Dua pria, partner in crime-nya Andi bergidik melihat kekejaman Kenzie pada temannya.


Andi jatuh terkulai dengan lutut sebagai tumpuannya. Kedua sudut bibirnya sudah mengeluarkan darah. Kenzie mendekat lalu menarik tangan Andi dengan kasar. Wajah Andi nampak pucat saat bertatapan dengan mata elang Kenzie.


“Ini tangan yang tadi sudah melukai Nara?”


“Bang..”

__ADS_1


Kenan berusaha mencegah Kenzie namun terlambat. Dengan gerakan cepat Kenzie memutar tangan Andi hingga terdengar bunyi gemerutuk tulang. Teriakan Andi langsung terdengar ke seantero ruangan ketika tanpa ampun Kenzie memutar tangannya hingga patah. Kedua temannya langsung menundukkan kepalanya. Tubuh mereka bergetar, takut akan mengalami hal yang sama.


“Bawa dia ke rumah sakit. Setelah lukanya diobati, kirim mereka ke kantor polisi,” titah Kenzie pada Duta.


“Baik pak.”


“Dan kalian.. selamat, kalian menjadi orang pertama yang akan menikmati penjara yang sudah kusiapkan untuk begal seperti kalian.”


Setelah itu Kenzie keluar dari ruangan. dia bermaksud kembali ke rumah sakit untuk menjemput Nara. Kenan memilih pulang dengan motornya. Dia tak ingin berada satu mobil dengan sang kakak yang masih dalam mode kejam. Bisa-bisa dirinya terkena hukuman karena membiarkan Nara terluka.


☘️☘️☘️


Saat Kenzie tiba di rumah sakit, Nara sudah bangun. Fathan langsung mengurus administrasi untuk kepulangan Nara. Kenzie menghampiri Nara yang duduk di sisi blankar. Ditariknya Nara ke dalam pelukannya. Tangan Nara melingkari pinggang Kenzie.


“Udah baikan?”


“Iya bang. Kenan mana?”


“Udah pulang.”


Kenzie mengurai pelukannya ketika suster datang. Wanita berseragam putih itu memberikan obat yang harus yang diminum Nara. Dia juga mengingatkan Nara agak jangan banyak bergerak dulu. Perawat tersebut menyarankan Nara lebih banyak berbaring selama dua hari. Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya saja.


Fathan datang dan mengatakan kalau urusan administrasi selesai dan Nara sudah boleh dibawa pulang. Kenzie membopong Nara kemudian membawanya keluar menuju mobilnya. Fathan bantu membawakan tas Nara lalu mengikuti langkah mereka dari belakang.


Baru saja Fathan membukakan pintu. Terlihat mobil Azra melewati pintu masuk rumah sakit. Pria itu sengaja menghubungi Azra untuk menjemputnya. Dia yakin kalau Kenzie tidak akan mengajaknya pulang bersama. Kalau toh pria itu berbaik hati mau memberikan tumpangan, dirinya hanya akan menjadi obat nyamuk tak berasap saja.


Kenzie mendudukkan Nara di kursi penumpang bagian depan. Dia juga memasangkan sabuk pengaman ke tubuh calon istrinya itu. Fathan menutup pintu begitu Nara sudah duduk di dalam mobil. Kenzie membuka pintu di bagian kemudi. Sebelum masuk dia melihat ke arah Fathan.


“Lo minta Azra jemput?”


“Iya. Gue yakin lo ngga akan ngajak gue pulang bareng kan?”


“Emang ngga.”


Kenzie masuk ke dalam mobil kemudian menutup pintu. Tak berapa lama, pria itu melajukan kendaraannya. Fathan bergegas menuju mobil Azra begitu kendaraan Kenzie melaju.


“Thanks Az, udah mau jemput.”


“Nara gimana?”


“Ngga apa-apa. Cuma harus bed rest dua hari.”


“Syukur deh.”


Fathan masuk ke dalam mobil disusul oleh Azra. Pria itu menyalakan mesin kemudian menjalankan kendaraan menuju pintu keluar. Sebelum kembali ke kantor, dia harus mengantarkan Azra dulu ke butiknya.


☘️☘️☘️


Kenzie menjalankan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Dia tak mau membuat guncangan yang akan membuat perut Nara kembali sakit. Jalanan yang dilaluinya memang sudah tak mulus lagi. Banyak terdapat lubang kecil di sana sini.


“Lain kali kamu ngga boleh bertindak gegabah kaya tadi.” Kenzie membuka suaranya.


“Maaf bang. Aku cuma mau nolong Kenan.”


“Kenan itu laki-laki. Tubuhnya lebih kuat darimu. Mendapat pukulan di punggungnya tidak akan membuatnya sekarat. Ngerti?!”


“Iya bang.”


Nara menundukkan kepalanya. Tak ada keberanian menatap wajah Kenzie yang sepertinya tengah kesal padanya. Kedua tangannya saling menaut. Beberapa kali dia memainkan jarinya untuk menghilangkan kegugupan dan ketakutannya. Nara terjengit ketika Kenzie meraih tangannya. Pria itu menautkan jarinya ke jemari Nara.


“Aku ngga marah, cuma cemas sama keadaan kamu.”


Nara mengangkat kepalanya lalu melihat ke arah Kenzie yang tetap melihat ke depan dengan sebelah tangan mengendalikan setir mobil. Kemudian pandangan gadis itu terarah pada jari Kenzie yang menggenggam erat tangannya. Ada perasaan aman dan nyaman dirasakan gadis itu. Diam-diam Nara mengulum senyum, merasakan kebahagian yang merasuki hatinya.


Mobil yang dikendarai Kenzie berhenti di depan kediaman Jojo. Kenzie melepaskan tautan tangannya, dilepaskan seat belt di tubuhnya juga tubuh Nara kemudian turun dari mobil. Pria itu membukakan pintu untuk Nara. Pelan-pelan Nara keluar dari mobil. Perutnya masih terasa sedikit nyeri jika bergerak.


Kenzie menutup pintu mobil lalu membopong Nara. Refleks Nara memeluk leher Kenzie. Mata mereka beradu dan secara bersamaan jantung keduanya berdetak semakin cepat. Dengan langkah pelan Kenzie masuk ke dalam rumah. Tentu saja pria itu ingin menikmati momen Nara dalam gendongannya lebih lama.


Perlahan Kenzie membaring Nara di atas kasur. Dia juga melepaskan sepatu yang dikenakan Nara. Wajah Nara tak berhenti merona mendapatkan perlakuan manis dari Kenzie. Pria itu lalu mendudukkan diri di sisi ranjang. Tangannya kembali menggenggam tangan Nara dengan erat.


“Mau makan?”


“Ngga. Masih kenyang. Abang udah makan?”


“Udah. Kamu jangan bergerak, apalagi turun naik tangga, ngerti?”


“Iya. Hmm.. aku boleh minta sesuatu ngga?”


“Apa?”


Nara terdiam sejenak. Dia masih ragu untuk mengatakan keinginannya. Tapi tak ada salahnya mencoba usulan Dilara tadi padanya. Sambil menahan malu, Nara mengatakan apa keinginannya.


“Sekarang abang kan udah jadi calon suamiku. Boleh ngga kalau aku ganti manggilnya jadi mas?”


Suara Nara mengecil ketika mengucapkan kata mas. Dia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain karena malu. Kenzie memandangi Nara tanpa berkedip. Hatinya bersorak mendengar gadis itu ingin memanggilnya dengan sebutan lain. Sebutan yang sang mama ucapkan saat memanggil papanya.


“Boleh.”


Nara melihat ke arah Kenzie. Dia memberanikan diri bersitatap dengan calon suaminya itu walau yakin kini pipinya sudah seperti udang rebus. Ibu jari Kenzie bergerak mengusap pipi Nara yang kemerahan. Dia mendekatkan wajahnya lalu mencium kening Nara.


“Kamu istirahat. Ingat jangan banyak bergerak. Aku ke kantor dulu, masih banyak kerjaan.”


“Iya... mas..”


Kenzie berdiri kemudian menarik selimut dan menutupi tubuh Nara hingga ke batas dada. Sebelum keluar kamar, dia kembali mencium kening Nara. Setelah pintu tertutup, Nara menarik selimut hingga menutupi wajahnya. Dia berteriak senang mendapatkan perlakuan yang menurutnya romantis untuk ukuran naga kutub. Kenzie meng*lum senyum mendengar teriakan Nara.


☘️☘️☘️


**Baper ngga????


Untuk ukuran naga kutub segitu mah udah romantis ya🤣🤣🤣


Oh ya yang nanya The Nick udah lama ngga up date, tolong dicek lagi ya. Kali aja akunnya error jd ngga dapet notif dari NT. Selama bulan puasa The Nick tetap up sampai sekarang. Setiap up KPA, mamake juga up The Nick cuma waktu nongolnya aja yang beda². Karena The Nick up nya via MT, jd proses reviewnya lebih lambat. So daripada nebak² The Nick ngga up lagi, coba cek langsung ke novelnya, ok👌**

__ADS_1


__ADS_2