
Nara mematut dirinya di depan cermin. Blouse warna biru langit dengan lengan tiga perempat dipadu celana capri berwarna biru dongker melekat di tubuhnya. Rambutnya dibiarkan tergerai dan wajahnya dipoles make up tipis. Tangan Nara bergerak mengambil lipstik lalu mengulas ke bibirnya. Lipstik berwarna merah muda itu semakin membuat wajah Nara terlihat segar.
Tak ada lagi kacamata bertengger di wajahnya. Seperti permintaan sang calon suami, mulai hari ini Nara pergi ke kantor menjadi dirinya sendiri. Dia tak perlu menyembunyikan jati dirinya lagi dibalik penampilan culunnya. Mulai saat ini, gadis itu harus bisa menjaga penampilannya. Bagaimana pun juga, dia adalah calon istri wakil CEO Metro East. Walau Kenzie tak pernah mempermasalahkan dandanannya, namun dia harus menjaga harga diri pria itu lewat penampilannya.
Setelah menyemprotkan parfum beraroma lembut, Nara menyambar tas bermerknya kemudian keluar dari kamar. Dilara terkejut melihat penampilan Nara yang terlihat begitu cantik. Begitu pula dengan Barra. Pria itu yakin kalau sahabatnya pasti tidak akan membiarkan Nara bepergian sendirian tanpa dirinya dengan dandanan seperti itu.
Nara memasukkan sarapan yang tadi dibuatnya ke dalam kotak bekal. Hari ini, dia dan Kenzie berencana sarapan bersama di kantor. Salad sayur dan juga empat potong sandwich sudah tertata rapih di dalam kotak bekal. Tak lupa dia juga membawa jus mangga buatannya sendiri.
Setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya, Nara bergegas keluar rumah. Sebentar lagi Kenzie akan sampai. Benar saja, baru kakinya keluar melewati pagar, mobil sport Kenzie terlihat mendekat lalu berhenti di depannya. Gadis itu langsung masuk ke dalam. Kenzie mengambil kotak bekal dari tangan Nara lalu meletakkannya di jok belakang. Sejenak dia tertegun melihat penampilan calon istrinya.
“Kenapa mas? Ada yang salah dengan penampilanku?”
“Ngga.. kamu.. cantik. Awas aja ya kalau kamu tebar pesona sama cowok-cowok di kantor.”
“Ya ngga lah mas. Aku kan dandan kaya gini buat mas.”
“Makasih, sayang.”
CUP
Kenzie mendaratkan kecupan di pipi Nara. Sontak saja pipi gadis itu kemerahan dibuatnya. Sepagi ini dia sudah dibuat senam jantung mendapat perlakuan manis combo dari calon suaminya. Panggilan sayang plus kecupan di pipi. Kenzie menekan pedal gas, kendaraan miliknya kembali melaju.
Suasana sunyi yang biasanya meliputi keduanya jika bepergian bersama, kini tak ada lagi. Perjalanan kali ini diselingi pembicaraan dan gelak tawa keduanya. Sepertinya Kenzie serius dengan ucapannya, mulai memperbaiki hubungan kaku di antara mereka. Beberapa kali pria itu meraih tangan Nara dan mencium punggung tangannya. Kenzie sudah tak sungkan lagi menunjukkan rasa cintanya.
Tak jauh berbeda dengan Kenzie. Nara pun sekarang sudah berani mengekspresikan rasa cintanya pada Kenzie. Gadis itu sudah tak takut lagi kalau cintanya tak berbalas dan menunjukkan perasaan yang sebenarnya.
Tiga puluh menit berlalu, akhirnya mereka tiba di gedung Metro East. Kali ini Kenzie langsung memarkirkan kendaraannya di basement dan langsung menaiki lift dari sana. Dia tak mau membawa Nara melewati lobi kantor, khawatir akan banyak pria yang akan menikmati kecantikan wajah wanitanya.
Tangan keduanya bergandengan dengan saling menautkan jari jemari. Siapapun yang melihatnya pasti akan tahu kalau kedua sejoli ini tengah diserang virus cinta. Kemesraan keduanya tertangkap oleh Fathan begitu mereka tiba di lantai 18.
“Ehem!! Yang lagi kena virus bucin, dunia serasa milik berdua, yang lain cuma numpang,” sindir Fathan.”
“Iri bilang, nyuk,” balas Kenzie.
“Baru tahu gue naga kutub bisa bucin juga.”
“Ngomong sekali lagi, gue potong gaji lo 70%.”
“Mulut lo, bos. Pahit kaya brotowali,” kesal Fathan. Pria itu segera masuk ke ruangannya sebelum tensi darahnya naik.
Nara terkikik geli mendengar perdebatan unfaedah atasan dan asisten. Setelah menaruh tas ke mejanya, gadis itu mengikuti langkah Kenzie memasuki ruangan orang nomor dua di kantor ini. Dia segera membuka dan menata kotak bekal yang dibawanya. Tak lupa dengan jus mangga segarnya.
Sambil membicarakan beberapa masalah pekerjaan, mereka menikmati sarapan yang dibuatkan Nara. Ibu jari Kenzie mengusap sudut bibir Nara yang terkena saos lalu menjilatnya. Hati Nara seperti dikerubuti ribuan kupu-kupu melihat sikap Kenzie yang begitu manis padanya.
Fathan masuk ke dalam ruangan untuk mengingatkan Kenzie akan meeting yang akan dilaksanakan sebentar lagi. Pria itu memutar bola matanya melihat pasangan bucin di depannya. Dia jadi bergidik sendiri melihat sahabatnya yang wajahnya selalu terlihat kaku seperti kanebo kering, kini lebih banyak tersenyum.
“Gue acungin jempol buat lo, Ra.”
“Kenapa bang?”
“Lo udah bisa bikin si naga kutub berubah jadi es goyobod huahahaha..”
Nara terkikik geli mendengarnya, sedang Kenzie nampak tak peduli. Dia bangun dari duduknya lalu mengambil jas yang tergantung di kapstok. Setelah memasukkan ponsel ke saku jas, pria itu menghampiri Nara yang masih merapihkan kotak bekal bekas sarapan.
“Aku meeting dulu. Nanti kita makan siang bareng.”
“Iya mas.”
“Sana keluar, tar lo pengen lagi,” seru Kenzie pada Fathan.
“Ck.. ngga usah kebanyakan gaya. Buruan!!”
Melihat Fathan yang masih bertahan di tempatnya, timbul keisengan Kenzie. Pria itu mencium kening Nara yang dilanjut dengan mengecup bibirnya. Mata Nara membulat saat Kenzie melakukannya di hadapan Fathan. Sambil berkomat-kamit tak jelas, Fathan keluar lebih dulu dari ruangan. Kenzie terkekeh, senang rasanya membuat asisten sekaligus sahabatnya ini gondok bin mangkel karena Fathan belum bisa melakukan itu pada Azra.
☘️☘️☘️
Meeting berakhir tepat saat jam makan siang dimulai. Kenzie bergegas kembali ke ruangannya, karena calon istrinya sudah menunggu. Dia melepaskan jas yang membalut tubuhnya kemudian menaruhnya di kapstok. Pria itu lalu keluar dari ruangannya. Nara sendiri sudah bersiap di dekat meja kerjanya.
“Mau makan siang di mana mas?”
“EDR.”
“EDR?”
“Hmm.. ayo.”
EDR sudah hampir penuh dengan karyawan yang hendak makan siang. Kenzie selalu menyempatkan diri makan siang di EDR, minimal sebulan sekali, untuk menjalin keakraban dengan para karyawannya. Jika bulan lalu, dia mengajak Nara makan di EDR sebagai sekretarisnya. Tidak sekarang, hari ini dia mengajak Nara sebagai calon istrinya.
Tanpa malu Kenzie menggandeng tangan Nara memasuki EDR. Suasana langsung ricuh begitu para karyawan melihat wakil CEO mereka masuk sambil menggandeng tangan seorang wanita. Sebuah pemandangan yang baru pertama kali dilihat. Beberapa dari mereka mulai berbisik-bisik membicarakan wanita yang bersama Kenzie.
“Itu yang sama pak Ken, siapa?” tanya salah satu karyawan yang kerap bergosip dan memojokkan Nara.
“Itu Nara, calonnya pak Ken.”
“Bukannya itu sekretarisnya pak Ken? Cuma dandanannya aja yang beda,” sahut yang satunya lagi.
“Itu Nara sekaligus sekretarisnya pak Ken,” jawab Sari, resepsionis yang bertugas di lantai 19, tempat di mana ruangan Abi berada.
Jawaban Sari sontak saja mengejutkan mereka. Ternyata orang yang kerap mereka gosipkan adalah sekretaris wakil CEO yang sering makan siang bersama mereka.
“Kenapa kaget? Ngga nyangka ya kalau orang yang lo omongin tuh ternyata aslinya cantik banget. Dan kalian itu ngga ada seujung kukunya. Makanya tuh mulut dijaga, ngga usah nyinyir. Kalau pak Ken tahu kalian suka ngejelek-jelekkin calon istrinya, kelar hidup kalian.”
Sontak wajah sekumpulan karyawan wanita itu memucat. Sari tersenyum sinis ke arah mereka, puas rasanya membuat mereka ketar-ketir. Sari sebenarnya sudah cukup jengah mendengar obrolan rekan kerjanya yang selalu saja menyudutkan Nara. Ingin rasanya melabrak mereka semua, namun kekasihnya, Duta melarangnya. Duta memintanya tutup mulut dan melaporkan apa saja yang mereka katakan.
Kenzie bukan tak tahu apa yang terjadi pada Nara di EDR, karena Duta kerap melaporkan apa yang dikatakan Sari padanya. Namun dia sengaja membiarkan Nara mengatasinya sendiri selama gadis itu bisa. Tapi kini sudah saatnya dia turun tangan karena sikap mereka sudah membuat calon istrinya terluka. Kenzie sengaja mengajak makan siang di EDR untuk memberikan shock therapy pada karyawan nyinyirnya.
Pria itu terus berjalan menyusuri EDR untuk mencari meja yang kosong. Sebelah tangannya memegang nampan makanan dan sebelah lagi menggandeng tangan Nara. Kenzie memilih duduk di dekat meja yang Sari dan para karyawan nyinyir tempati. Setelah meletakkan nampan di atas meja, dia menarik kursi untuk Nara.
Nara sebenarnya kikuk juga harus makan bersama Kenzie di hadapan para karyawan. Apalagi Kenzie tak segan menunjukkan sikap mesranya. Tapi gadis itu mencoba santai dan menikmati ini semua. Walau tak mengatakannya secara gamblang, namun Nara tahu Kenzie tengah memberikan pelajaran pada karyawan yang kerap berbicara buruk tentangnya.
“Gimana rasa masakan di sini, enak ngga? Kalau ngga enak, nanti aku ganti cateringnya.”
“Enak kok mas, jangan diganti.”
Kenzie tersenyum seraya mengambil baby kailan dari nampan Nara. Pria itu tahu kalau Nara tidak menyukai sayuran tersebut. Tentu saja informasi tersebut didapat dari Azra dan tidak gratis pula. Sepupunya itu meminta bayaran dengan memberikan cuti satu hari untuk Fahtan, agar mereka bisa kencan seharian penuh. Demi kekasih hati, Kenzie rela memenuhi persyaratan itu.
“Mas tahu dari mana aku ngga suka baby kailan?”
“Dari Azra, tapi bayarannya mahal.”
Nara tertawa pelan, matanya terlihat sedikit menyipit. Sejenak Kenzie terpaku melihat lesung pipi Nara ketika gadis itu tertawa. Kalau dirinya tidak sedang berada di tempat umum, ingin rasanya mencium gadis di sampingnya ini.
__ADS_1
“Ra.. selama bekerja, apa ada karyawan di sini yang membuatmu kesal atau marah?”
“Hmm.. sebenarnya ada sih mas.”
“Siapa?”
Para karyawan yang ada di dekat meja Nara dan Kenzie langsung menegang. Mereka takut kalau Nara menunjukkan jari ke arah mereka. Nara sebenarnya tak tega melihat wajah pucat para pembully-nya itu. Tapi sekali-kali mereka harus merasakan efek jera. Tak salah bukan menggunakan statusnya sebagai calon istri Kenzie untuk menunjukkan esksitensinya. Supaya mereka tak seenak jidatnya mengatakan hal buruk tentangnya.
“Ada deh mas.”
“Bilang aja.”
“Ngga usahlah. Aku mau lihat mereka masih jelek-jelekin aku atau ngga. Kalau ternyata masih, nanti aku kasih tahu orangnya.”
Nara melirik ke arah sekumpulan karyawan yang ada di dekatnya. Sari diam-diam tertawa melihat rekan kerjanya sudah seperti pencuri yang takut tertangkap warga. Kalau dirinya menjadi Nara, tanpa pikir panjang dia akan menunjuk wajah para pelaku.
“Emang kalau aku kasih tahu, mas mau kasih hukuman apa? Jangan dipecat, kasihan. Lagian itu kan ngga ada hubungannya dengan urusan pekerjaan.”
“Ngga dipecat, cuma dimutasi aja.”
“Mutasi kemana mas?”
“Ke pulau Rinca, suruh ngangon komodo.”
Uhuk.. uhuk..
Salah satu pelaku langsung terbatuk mendengarnya. Buru-buru dia menghabiskan makanan kemudian meninggalkan EDR. Tak lama, temannya yang lain ikut menyusul. Tawa Sari langsung pecah melihatnya, begitu pula Nara. Sedang Kenzie seperti biasa, hanya menampilkan wajah datarnya saja.
Usai makan siang, Kenzie mengajak Nara ke ruangannya. Mereka duduk santai di sofa. Kenzie meminta ponsel Nara lalu membuka akun sosial medianya. Pria itu nampak kesal melihat begitu banyaknya komentar julid dari para haters Nara. Kalau bisa dilihat, ada kepulan asap di atas kepalanya. Sambil merangkul Nara, Kenzie mulai membalas beberapa komen yang masuk.
Komentar : Biar apa lo bergaya kaya gitu? Sok
cantik banget.
Balasan : Iri bilang bos!!
Komentar : Lo tuh ngga cocok jadi calonnya
Kenzie, kaya bumi sama langit.
Balasan : Situ pikir lebih oke? Muka kaya
kembaran pantat wajan aja belagu!
Komentar : Mending Kenzie ama gue dari pada
sama elo.
Balasan : Dianya yang ngga mau sama bubuk
rangginang kaya elo!
Komentar : Kok bisa ya Kenzie mau sama elo?
Balasan : Pasti maulah, gue kan cantik,
pinter, baik hati dan tidak sombong.
ketek, bau jigong, kulit burik,
panuan, rorombeheun juga.
Mata Nara melotot membaca balasan Kenzie untuk para hatersnya. Namun tak ayal gadis itu tertawa. Bukan hanya mulut, tapi jempol Kemzie pun tajam seperti silet. Kenzie terus menscroll layar ponsel dengan jarinya. Kemudian dia menemukan sebuah komen yang membuat darahnya mendidih.
Komentar : Kok bisa ya lo tuh beda banget
sama Naya. Jangan-jangan lo
kembaran palsu, boleh mungut di
tong sampah!
Balasan : Tunggu tuntutan dari gue! Siap-siap
lo pindah tidur ke hotel prodeo!
Kenzie meng-capture komentar tersebut lalu mengirimkan ke ponselnya. Selanjutnya dia menghubungi Jacob. Seperti biasa, tak butuh waktu lama bagi pemuda itu untuk melakukan panggilan.
“Halo bosqu..”
“Nanti gue kirim SS akun sosmed Nara. Cari tahu akun yang gue buletin merah. Nama dan alamat lengkapnya terus kirim ke Duta. Gue minta hari ini lo udah dapet infonya.”
“Siap bos.”
Kenzie mengakhiri panggilannya. Nara menatap calon suaminya itu tak berkedip. Dia terkejut sekaligus terharu akan apa yang dilakukan pria itu. Gadis itu memeluk pinggang Kenzie lalu menyandarkan kepala ke dada bidangnya.
“Makasih mas.”
“Aku udah bilang. Aku akan melindungimu. Aku tidak akan melepaskan orang-orang yang menyakitimu.”
Kenzie mendaratkan ciuman di puncak kepala Nara. Gadis itu semakin mengeratkan pelukannya. Berada di dekat Kenzie, membuatnya nyaman dan merasa terlindungi. Dalam hatinya bersyukur, sang papa menjodohkan dirinya dengan pria dingin yang sikapnya begitu hangat padanya. Hampir saja Kenzie mencium bibir Nara ketika deringan ponselnya terdengar. Sambil berdecak sebal, dia mengambil ponselnya.
Dengan malas Kenzie menjawab panggilan dari Duta. Namun dia berubah menjadi serius ketika pengawalnya itu mengatakan kalau Chika tengah melakukan sesuatu yang mencurigakan. Gadis itu menuju suatu tempat untuk bertemu dengan beberapa preman. Duta memang telah menyadap telepon milik Chika, sesuai perintah. Kenzie meminta Duta mengirimkan lokasi keberadaan Chika. Dia sendiri yang akan memberikan pelajaran pada gadis itu.
“Ra, aku pergi dulu ya.”
“Kemana mas?”
“Ada perlu sebentar. Aku ngga lama kok.”
Kenzie mencium kening Nara kemudian bergegas pergi. Nara pun memilih kembali ke mejanya, meneruskan pekerjaan yang belum selesai.
☘️☘️☘️
Tak butuh waktu lama bagi Kenzie untuk sampai di lokasi yang dikirimkan Duta. Sebelum turun, dia mengganti kemejanya dulu dengan T-Shirt berwarna hitam. Setelah memakai topi, pria itu turun dari mobil. Matanya langsung menangkap Chika tengah berbincang dengan empat preman di sebuah kedai es kelapa muda.
Dengan cepat Kenzie melangkahkan kakinya. Sesampainya di kedai, dia mengambil tempat duduk di dekat meja Chika dengan posisi membelakangi. Pria itu ingin mendengar apa yang direncanakan oleh gadis licik itu. Sepertinya peringatannya tempo hari hanya dianggap angin lalu saja.
“Ok, karena harga udah deal. Jadi tugas kita apa nih?” terdengar suara salah satu preman yang bersama dengan Chika.
“Aku mau kalian singkirin cewek ini.”
__ADS_1
Chika memberikan selembar foto pada preman tersebut. Kenzie menolehkan kepalanya sedikit untuk melihat yang terjadi di belakangnya. Dia terkejut melihat Chika memberikan foto Nara. Seketika darahnya mendidih, namun dia masih menahan diri. Kenzie ingin mendengar lebih lanjut rencana busuk gadis itu.
“Maksudnya singkirin?”
“Terserah gimana caranya. Pokoknya tuh cewek jangan ada di kota ini lagi. Mau kalian culik terus dijual boleh, atau tabrak aja sampe mati. Tapi kalian jangan sampai tertangkap.”
“Tapi nih cewek cantik. Kalau kita cicipin dulu, boleh ngga?”
“Terserah.”
Kenzie sudah tak bisa menahan emosinya lagi. Pria itu berdiri kemudian menendang kursi yang di dudukinya hingga mengenai preman yang ada di belakangnya. Karuan hal tersebut mengejutkan keempat pria bertampang beringas dan memancing emosinya.
“Woi!! Cari mati lo!!”
Kenzie berbalik dengan cepat kemudian melepaskan topi dari kepalanya. Sontak Chika terkejut melihatnya. Seketika wajahnya menjadi pucat. Baru saja dia hendak kabur, namun dengan cepat Duta menahannya seraya menodongkan pisau kecil ke tubuh gadis itu.
“Coba aja kalau berani kabur.”
Tubuh Chika menegang melihat Duta mengarahkan benda tajam itu ke pinggangnya. Gadis itu hanya mampu terdiam. Sementara itu, Kenzie masih berhadapan dengan empat preman bayaran Chika.
Tanpa banyak bicara keempat pria itu langsung menyerang Kenzie secara bersamaan. Dengan gerakan cepat Kenzie berkelit kemudian melayangkan pukulan dan tendangan balasan. Suasana langsung ricuh. Beberapa orang yang ada di sana hanya bisa melihat tanpa ada yang berani melerai.
Dengan kemampuan bela dirinya, Kenzie mampu melumpuhkan keempat preman tersebut dengan cepat. Tubuh mereka terkapar tak berdaya di tanah. Kenzie menarik kaos salah seorang preman yang diyakini adalah pemimpinnya hingga pria itu berlutut di hadapannya.
“Berapa kalian dibayar perempuan itu?”
“Se.. seratus juta.”
“Ck.. murah banget lo ngehargain nyawa calon istri gue!”
Kenzie melihat geram ke arah Chika. Gadis itu langsung menundukkan pandangannya. Preman yang berlutut di hadapan Kenzie juga terkejut mendengar ucapan pria itu.
“Gue bakal bayar kalian sepuluh kali lipat dari bayarannya. Kalian mau?”
“Ki.. kita harus ngapain bos?”
“Ganti target kalian jadi dia!!”
Kepala Chika langsung menggeleng dengan kuat ketika Kenzie menunjuk ke arahnya. Preman itu melihat ke arah Chika dan Kenzie bergantian. Melihat wajah Kenzie yang serius, preman itu percaya kalau pria tersebut tak main-main dengan penawarannya tadi.
“Ken.. aku minta maaf. Aku cuma main-main aja tadi. Tolong Ken..”
Chika menangkupkan kedua tangannya dengan wajah bersimbah airmata. Wanita itu sungguh takut kalau preman tersebut menerima penawaran Kenzie. Dia sampai berlutut memohon maaf pada Kenzie.
“Gue udah peringatin elo, Chik. Tapi lo kayanya cuma anggap itu angin lalu. Jangan pikir karena lo anak om Damar, gue ngga bisa bersikap kejam.”
“Gue minta maaf Ken. Gue janji ngga akan ganggu Nara lagi. Tolong lepasin gue,” Chika terus memohon pada Kenzie.
“Ok.. demi Nara dan bokap lo, gue lepasin lo kali ini. Tapi next time lo bikin ulah lagi. Ngga ada ampun buat lo.”
Berkali-kali Chika mengucapkan terima kasih pada Kenzie. Namun Duta masih belum melepaskan gadis itu sebelum ada perintah dari atasannya. Kenzie kemudian mengalihkan pada preman yang masih berdiri dengan kedua lututnya.
“Kalian, saya punya tugas untuk kalian.”
“A.. apa bos?”
“Antarkan perempuan itu pulang ke rumahnya. Pastikan dia sampai di rumahnya. Mana kunci mobil lo?”
Kenzie mengarahkan tangannya pada Chika. Dengan cepat Chika membuka tasnya lalu mengambil kunci mobil dari dalamnya dan memberikan pada Kenzie.
“Kalian bawa kendaraan?”
“Bawa bos. Bawa motor.”
“Siapa yang bisa nyetir?”
“Saya bos.”
Kenzie memberikan kunci mobil di tangannya pada pria di hadapannya. Duta masih menebak-nebak apa yang direncanakan oleh atasannya itu.
“Antarkan perempuan itu ke rumah. Tapi pastikan dia pulang ke rumahnya jalan kaki. Ingat, JALAN KAKI. Jangan biarkan dia naik ke mobil atau motor, tidak peduli dia nangis atau ngga. Kalau dia pingsan, siram pakai air sampai dia bangun lalu suruh melanjutkan perjalanan. Ngerti?”
“Ngerti bos.”
“Kalau kalian bisa menjalankan tugas dengan baik, gue bayar kalian 50 juta, deal?”
“Deal bos.”
“Duta! Kamu awasi mereka apa melakukan tugasnya dengan benar. Kalau tugas sudah selesai, beri mereka bayaran yang saya janjikan.”
“Siap bos.”
Setelah tak ada yang perlu disampaikan lagi, Kenzie pun segera pergi. Tinggalah Chika yang harus menanggung resiko kekejaman Kenzie. Gadis itu pasrah saja saat harus berjalan kaki sampai ke rumah. Kalau kemarin, dia masih bisa menggunakan angkot untuk pulang ke rumah. Tidak sekarang, dengan para preman plus Duta yang mengawasinya, gadis itu tak bisa berkelit dari takdirnya, pulang ke rumah dengan berjalan kaki.
Duta memberi tanda pada gadis itu untuk segera berjalan. Sebelum pergi, Chika menuju kios yang ada di sana untuk membeli sendal jepit. Tak mungkin dirinya harus berjalan kaki berkilo-kilo meter menggunakan high heels.
☘️☘️☘️
**Chiki balls... sokooooorrrrr
Lebih sadis mana hukuman Ken apa Nan?
Kayanya betis si chiki balls bakalan ngejendol kaya kang becak🤣🤣🤣
Yang minta visual anak² bang Jo, nih mamake kasih...
Barra**
Naya
Nara
Dilara
__ADS_1