KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Terjebak Perangkap


__ADS_3

Kendaraan yang ditumpangi Abi berhenti di depan rumahnya. Untuk sesaat pria itu masih berada di dalam mobilnya. Matanya terus memperhatikan kendaraan yang baru saja meninggalkan kediamannya. Dia tahu betul siapa pemilik mobil tersebut. Abi turun dari mobil lalu bergegas masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamarnya.


“Sayang,” panggil Abi seraya membuka pintu.


Nina menyambut kedatangan suaminya dengan mencium punggung tangannya. Abi terkejut melihat mata Nina yang memerah seperti habis menangis. Dibawanya sang istri ke ranjang lalu mendudukkan diri di sisi ranjang.


“Kamu kenapa sayang?”


“Ngga apa-apa mas.”


“Jangan bohong. Itu mata kamu merah gitu. Apa Keysha menyakitimu?”


Mobil yang tadi dilihat Abi memang milik Keysha. Perasaannya mulai was-was, setelah sekian lama, wanita itu kembali menemui istrinya dan dilakukan saat dirinya tak ada di rumah.


“Aku ngga apa-apa mas. Tadi aku cuma ngobrol aja sama Keysha.”


“Kenapa dia ke sini? Dia ngga pernah akrab sama kamu dan tiba-tiba datang terus kamu bilang cuma ngobrol. Kamu pikir mas percaya?”


“Benar mas, kita cuma ngobrol aja. Mana berani dia menyakitiku di rumahku sendiri. Lagi pula ada Nan di rumah. Kalau dia menyakitiku, pasti Nan sudah mencegahnya lebih dulu.”


Abi terdiam sejenak, sepertinya tak mungkin juga Keysha berbuat macam-macam di kediamannya. Tapi kedatangannya yang tiba-tiba tentu saja membuatnya curiga. Nina mengusap punggung suaminya, membuat perhatian lelaki itu tertuju padanya.


“Percayalah mas. Kami benar-benar hanya berbicara aja. Dia meminta maaf atas sikapnya di masa lalu. Dia juga sudah ikhlas melepasmu untukku. Hanya itu mas, ngga ada hal lain. Terkadang kami, para wanita sering terbawa suasana sampai tak sadar ikut menangis. Percayalah tangisku ini bukan karena dia menyakitiku, lebih kepada perasaan haru saja. Setelah sekian lama, akhirnya dia mengakui juga kalau aku adalah istrimu. Jangan terus berburuk sangka padanya. Bagaimana pun juga, dia masih saudaramu. Anak dari sepupu mama.”


“Entahlah Nin. Sampai sekarang, aku masih belum bisa percaya sepenuhnya pada keluarga om Setia juga om Aswan.”


“Dari pada mencemaskanku, lebih baik mas menjaga diri dengan baik. Aku takut kalau orang yang hendak menyakiti Jojo berniat menyakitimu juga. Aku dan anak-anak tak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu.”


“In Syaa Allah, mas akan baik-baik saja.”


Abi merengkuh Nina masuk ke dalam dekapannya. Bibirnya menciumi puncak kepala sang istri. Akhir-akhir ini Nina selalu merasa cemas menyangkut keselamatan dirinya. Apalagi dalam waktu dekat dia dan yang lainnya akan segera menangkap orang yang sudah mengganggu ketentraman keluarga Jojo.


“Mas mandi dulu, ya,” Abi mengurai pelukannya.


“Mau aku bantu gosokkan punggungnya mas?”


“Boleh.. sekalian pijat juga ya.”


“Pijat apa mas?”


“Adikku minta dipijat.”


“Dasar modus.”


Tangan Abi meraih tengkuk Nina, kemudian membenamkan bibirnya di bibir sang istri. Abi mel*mat bibir Nina dengan dalam namun penuh kelembutan. Tangannya bergerak menurunkan resleting dress yang dikenakan sang istri. Setelah melepaskan tautannya, mereka beranjak menuju kamar mandi. Nina bersiap memandikan bayi besarnya.


☘️☘️☘️


Dua orang perawat segera mendorong blankar yang membawa tubuh Naya masuk ke dalam ruang tindakan IGD. Nampak seorang dokter jaga segera masuk ke ruang tindakan tersebut. Mereka menyiapkan alat untuk memompa perut Naya, mengeluarkan obat tidur yang tadi ditelannya.


Jojo terduduk lemas di ruang tunggu IGD. Adinda yang datang bersamanya tak berhenti menangis. Tak menyangka kalau putri tersayangnya nekad ingin mengakhiri hidupnya dengan meminum obat tidur hampir satu botol penuh.


Tak berapa lama kemudian, Barra, Dilara dan Nara yang ditemani Kenzie datang. Tentu saja mereka terkejut mendengar apa yang dilakukan Naya. Nara tak berhenti menangis dalam dekapan Kenzie. Baru dua hari lalu mereka berbicara. Saat itu Naya Nampak bersemangat untuk kembali pada Aric. Namun kenapa sekarang menjadi kacau seperti ini.


Dokter yang menangani Naya keluar dari ruang tindakan. Dia segera menghampiri keluarga pasien. Jojo segera berdiri kemudian menghampiri sang dokter dengan tidak sabar diikuti yang lainnya.


“Bagaimana anak saya dok?”


“Kami sudah berhasil mengeluarkan obat tidur yang tadi dikonsumsinya. Namun anak bapak masih harus mendapatkan perawatan. Seperti beberapa obat sudah berhasil dicerna oleh lambungnya. Kami akan memantau terus keadaannya. Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang rawat inap.”


“Alhamdulillah, terima kasih dok.”


Dokter itu menganggukkan kepalanya lalu berpamitan. Dia masih harus memeriksa pasien lain yang datang bersamaan dengan Naya. Dari ruang tindakan, terlihat dua orang perawat mendorong bed dengan Naya di atasnya. Jojo bergegas menyusul kedua perawat tersebut. Barra merangkul bahu sang mama kemudian mengikuti langkah Jojo. Demikian juga dengan Kenzie, Nara dan Dilara.


☘️☘️☘️


Mendengar apa yang terjadi dengan Naya, Abi, Juna, Kevin, Anfa dan Cakra bergegas ke rumah sakit. Cakra langsung menghubungi Aric begitu mendapat kabar soal Naya, namun anaknya itu tak menjawab panggilannya. Kania mengatakan kalau Aric tengah bertemu dengan klien penting.


Jojo keluar dari kamar rawat inap begitu melihat para sahabatnya tiba. Pria itu meninggalkan Adinda, Nara dan Dilara yang menunggui Naya. Naya sendiri masih belum sadarkan diri. Abi langsung menghampiri Jojo. Wajah sahabatnya itu nampak kusut.


“Gimana Naya?”


“Dia masih bisa diselamatkan. Ayah macam apa aku, Bi? Bisa-bisanya aku lengah.”


Abi menepuk pelan pundak sahabatnya ini. Cakra kembali mencoba menghubungi anaknya, namun lagi-lagi Kania yang menjawab panggilannya. Pria ini benar-benar kesal dengan anak sulungnya itu. Padahal klien yang ditemuinya tak lebih penting dari Naya. Jojo melihat Cakra yang nampak sibuk sendiri.


“Aric mana?”


“Dia lagi ada meeting. Aku sudah tinggalkan pesan pada Kania.”


“Ada meeting atau sengaja tidak mau menemui Naya?”


“Jo.. bukan begitu..”


“Kamu pikir aku tidak tahu kalau akhir-akhir ini Naya sedih karena Aric memutuskan pertunangan secara sepihak?”


Abi, Juna, Kevin dan Anfa terkejut mendengarnya. Cakra hanya menundukkan kepalanya. Aric memang telah mengatakan padanya perihal pembatalan pernikahan. Dia pun tak bisa berbuat apa-apa, karena keputusan menikah sepenuh berada di tangan Arc. Cakra tak ingn terlalu mencampuri urusan pribadi anaknya.


“Naya seperti ini karena Aric!” teriak Jojo, membuat yang lain terkejut.

__ADS_1


“Maaf Jo..”


“Maaf? Apa kamu pikir hanya dengan maaf semua masalah bisa selesai?! Anakku hampir mati dan semua karena anakmu!!”


“Harusnya kamu berkaca Jo, kenapa semua masalah ini bisa terjadi. Semua terjadi karenamu!! Dan sekarang kamu melemparkannya pada Aric?!!”


Emosi Cakra mulai terpancing, pria itu juga mulai meninggikan suaranya. Suasana seketika berubah menjadi tegang. Barra hanya terpaku di tempatnya, baru kali ini dia melihat papanya dan Cakra bertengkar. Kedua pria matang itu tak mempedulikan sekitarnya, mereka berdiri berhadapan dengan saling melemparkan tatapan tajam.


“Anakmu penyebab semua ini. Kamu harus bertanggung jawab!!” Jojo mendorong tubuh Cakra.


“Brengsek lo, Jo!! Aric ngga ada hubungannya dengan semua ini!!” Cakra mencengkeram kerah kemeja Jojo.


“Cukup!! Ada apa dengan kalian berdua?!”


Cakra melepaskan cengkeraman tangannya dengan kasar begitu mendengar ucapan Abi. Sebagai yang tertua dan paling tenang di antara yang lain, Juna mencoba mendamaikan sahabat dan adik iparnya. Dibawanya Jojo dan Cakra ke kamar kosong yang ada di sana. Seorang suster baru saja akan melarangnya namun tatapan tajam Abi menghentikannya.


Juna membuka pintu kamar, lalu mendorong masuk kedua pria yang tadi bersitegang. Pria itu juga ikut masuk ke dalam, namun sebelum pintu tertutup, Kevin sudah lebih dulu masuk. Setelah menutup pintu, keempat orang pria itu saling bertatapan. Tak lama senyum mereka tersungging.


“Akting gue udah bagus belum?” tanya Cakra.


“Mayan lah buat figuran,” celetuk Kevin.


“Akting sih akting tapi jangan ludah lo nyembur juga. Nih muka gue kena hujan lokal, lo,” sungut Jojo.


“Mulut lo juga bau bangk*,” balas Cakra.


"Cak, Aric beneran batalin pernikahan? Mereka ada masalah apa sih?"


"Mana gue tau. Ya udahlah, mungkin mereka ngga jodoh."


"Yah.. gue ngga jadi besanan ama elo."


"Maruk amat sih, lo. Kan udah besanan ama Abi. Noh besanan ama Kevin aja."


"Ogah," sahut Kevin.


“Nih bapak-bapak ngga inget umur kenapa ribut mulu. Habis ini apa rencananya?” tanya Juna.


“Tanya si bon cabe aja,” jawab Jojo.


Juna membuka pintu lalu melambaikan tangannya ke arah Abi. Adiknya itu segera masuk ke kamar rawat itu bersama dengan Anfa. Belum sempat Juna menanyakan rencana selanjutnya, ponsel Abi berdering. Melihat panggilan dari Nina, pria itu segera menjawabnya. Usai berbicara dengan Nina, panggilan lain masuk ke ponselnya, sebuah panggilan dari nomor tak dikenal. Abi kembali menjawab panggilannya.


Semua yang ada di sana menunggu dengan sabar sampai Abi menyelesaikan panggilan. Terlihat perubahan mimik wajah Abi, pria itu nampak gusar yang kemudian disusul dengan makiannya. Semua yang ada di sana saling berpandangan, mereka bertanya-tanya siapa yang menghubungi pria itu. Setelah mengakhiri panggilannya, Abi melihat pada semua yang ada di dalam kamar.


“Ada apa, Bi?”


“Frey.”


“Dia diculik Prima.”


“Apa? Brengsek tuh orang beraninya dia nyulik calon mantu gue!!” geram Kevin.


“Gue mau ke tempat Prima sekarang. Kalian terusin rencana berikutnya, tanya sama Anfa. Gue cabut.”


“Gue ikut!” seru Jojo.


“Gue juga,” sambung Kevin.


Abi tak melarang keinginan Kevin untuk ikut bersamanya. Mendengar Freya diculik, tentu saja membuat Kevin was-was. Jika sesuatu terjadi pada Freya, mungkin Ravin bisa gila. Mereka segera menaiki mobil yang terparkir di depan lobi. Dendi segera menjalankan kendaraannya begitu ketiganya masuk ke dalam mobil.


Dalam waktu tak lebih dari lima belas menit, kendaraan yang ditumpangi Abi sudah sampai di lokasi yang diberikan oleh Prima. Pria itu mengarahkan Abi ke sebuah bangunan mangkrak yang dulu digunakan untuk bertemu dengan Lucky dan Veruca. Dengan langkah panjang Abi, Jojo juga Kevin segera naik ke lantai teratas gedung tersebut.


Di lantai paling atas, nampak Prima tengah berdiri menunggu kedatangannya. Lima orang pria yang merupakan pengawalnya berdiri di dekat pria itu. Abi, Jojo dan Kevin segera menghampiri, namun seorang pengawal menghalangi. Dia memberi batas di mana keduanya harus berhenti.


“Halo Jo..” sapa Prima palsu.


“Di mana anakku?” tanya Abi tanpa basa-basi.


“Wow tidak sabaran sekali. Kamu tidak mau berkenalan dulu denganku?”


“Tidak perlu. Mana anakku?”


“Kamu benar tidak mau berkenalan denganku? Setidaknya kamu harus tahu siapa musuh yang kamu hadapi.”


“Ariyanto Wibisono. Anak pertama dari istri sah Pramudi Wibisono. Tapi sayang tidak mendapat kepercayaan dari sang ayah. Ayahmu lebih mempercayai Prima Wibisono, anak dari penikahan sirri ayahmu.”


Prima palsu atau Ariyanto, nama sebenarnya, mengetatkan rahangnya mendengar penuturan Abi. Sepertinya dia terlalu meremehkan pria itu. Ternyata Abi tahu siapa dirinya. Benar apa kata rekan kejahatannya, Abi bukanlah lawan yang mudah. Pria itu lalu menepukkan tangannya. Tak lama seorang pria mengenakan jas rapih dengan wajah tertutup masker datang sambil menarik tangan seorang gadis dengan kepala tertutup kain hitam yang diyakini adalah Freya.


“Frey.. kamu ngga apa-apa nak?” tanya Kevin cemas. Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya, terdengar eraman dari mulutnya. Sekuat apapun dia mencoba berbicara namun tak ada kata-kata yang keluar karena mulutnya disumpal kain oleh anak buah Ariyanto.


“Apa maumu?” tanya Abi pada pria bermasker. Dia hanya menunjuk kepada Jojo.


“Lepas saja maskermu, Vito. Mari kita berhadapan secara gentleman.”


Pria bermasker itu nampak terkejut. Namun kemudian dia melepaskan maskernya. Senyum tipis tersungging di bibir Abi. Sudah sejak lama dia mencurigai pria itu yang menjadi dalang dibalik aksi Lucky dan Verucca. Ariyanto hanyalah perpanjangan tangan dirinya untuk menutupi jejak.


Keterkejutan Vito bertambah saat secara berturut-turut, Juna, Cakra, Anfa, Kenzie, Barra juga Nara datang. Pria itu sadar sudah masuk dalam perangkap Abi. Dengan kasar ditariknya tangan Freya lebih dekat padanya. Hanya dia satu-satunya tameng yang dimiliki.


“Apa masalahmu denganku?” tanya Jojo geram.

__ADS_1


“Kamu masih bertanya apa salahmu? Karenamu adikku mati!!”


“Itu bukan kesalahan Jojo. Itu adalah kecelakaan,” jawab Abi.


“Kecelakaan? Ayahnya yang sengaja mencelakai adikku!!”


Emosi Vito naik ketika mengingat adiknya Vicko, harus menjadi korban kejahatan Ronald, papa tiri Jojo. Jika dulu dia sangat membenci Abi yang dianggap sebagai penyebab adiknya meninggal. Namun setelah kebenaran terungkap, rasa bencinya teralihkan pada Jojo. Aswan tidak berani mengusik Jojo karena ada Abi yang terang-terangan mengibarkan bendera perang kalau pria itu berani mengusik sahabatnya.


Setelah ayahnya meninggal, dendam Vito tak pernah usai bahkan bertambah dalam. Dia menyusun rencana serapih mungkin untuk merusak keluarga Jojo dari dalam. Rencananya hampir berhasil kalau saudara sepupunya itu tak ikut campur. Kebencian dirinya pada Abi yang sempat surut kini kembali berkobar.


“Kalau saja adikmu tidak berselingkuh dengan Fahira, dia tidak akan menjadi korban. Tapi adikmu sudah berani bermain api, dan itu adalah resiko yang harus dia tanggung,” seru Juna.


“Kamu bisa mengatakan itu karena bukan adikmu yang mati!!”


“Fahira adalah wanita beristri. Suami Fahira itu adalah Abi, kalau kamu lupa. Dia adikku!! Dia juga menderita karena ulah adikmu. Setidaknya bercerminlah dahulu sebelum kamu menuding orang lain!”


“Kak..”


Cakra segera menenangkan Juna yang sudah tersulut emosi. Juna selalu sensitif jika menyangkut masa lalu Abi. Suasana di rooftop gedung semakin tegang. Kedua belah pihak sudah tersulut emosi.


“Sudah cukup basa-basinya. Serahkan Jojo atau anakmu mati!”


Vito mengambil senjata api yang disembunyikan dibalik punggungnya lalu menodongkan ke kepala Freya. Jojo seperti terlempar ke masa lalu. Dulu dia pun pernah berada di posisi Vito, mengancam Abi dengan Rayi sebagai sanderanya.


“Turunkan senjatamu!” geram Abi.


“Aku bukan orang yang murah hati. Pilih anakmu atau Jojo!”


Keadaan bertambah pelik. Ariyanto menahan nafasnya melihat ketegangan di depannya. Tak menyangka kalau Vito akan senekad ini. Membunuh Freya sama sekali tidak termasuk rencananya. Biar bagaimana pun juga dia tak ingin berurusan dengan hukum. Abi terdiam sambil terus memandang anaknya.


“Frey.. maafkan papa, nak. Tapi papa tidak bisa menyerahkan om Jo. Bagaimana dengan Nara kalau sesuatu terjadi padanya.”


Nara menutup mulut dengan kedua tangannya. Airmatanya bergulir mendengar penuturan Abi. Ayah mertuanya itu lebih memilih keselamatan papanya dibanding Freya. Vito tertawa sumbang mendengar jawaban Abi.


“Luar biasa kasih sayangmu pada Jojo. Kamu rela mengorbankan anakmu demi menyelamatkannya. Apa kamu lupa apa yang sudah dilakukannya? Kalau bukan karena perintahnya, Fahira tidak akan menikah denganmu. Dia menyuruh Fahira menikah dengamu untuk menyiksamu, membuatmu menderita. Dia juga berselingkuh dengan Fahira setelah wanita itu menjadi istrimu. Bahkan dia berusaha membunuhmu, memintamu menyayat urat nadimu dengan adik iparmu sebagai sanderanya. Bukan begitu, Jo?”


Jojo tak mampu berkata-kata. Pria itu memejamkan matanya mengingat perbuatan buruknya di masa lalu. Barra, Nara bahkan Kenzie terkejut mendengarnya. Ketiganya menatap Jojo tanpa berkedip.


“Sekali lagi aku tanya, Jojo atau anakmu?”


“Jawabanku tetap sama. Freya pasti mengerti pilihanku.”


“Baik. Lihat baik-baik wajah anakmu saat aku meledakkan kepalanya.”


Vito menarik kain yang menutupi wajah Freya. Seketika wajah gadis itu tersingkap. Ariyanto membelalakkan matanya melihat bukan Freya yang menjadi tawanan Vito, melainkan Dania, anaknya.


“Nia!!”


Vito juga terkejut mengetahui gadis yang bersamanya ternyata anak dari temannya. Bergegas Ariyanto mendekat, dilepaskannya ikatan di tangan dan kain yang menyumpal mulutnya. Pria itu menarik sang anak dalam pelukannya. Dania menangis histeris dalam dekapan ayahnya.


Dendi telah menukar Freya dengan Dania tanpa sepengetahuan Ariyanto juga Vito. Rencana mereka telah diketahui karena Dendi berhasil menyusupkan anak buahnya ke dalam lingkaran Ariyanto. Bersama Abi, pria itu menyusun perangkap untuk Vito.


Kesal rencananya berantakan, Vito langsung menodongkan pistolnya ke arah Jojo. Dengan cepat Abi bergerak menghalangi. Pria itu berdiri tepat di depan Jojo. Vito tetap mengarahkan senjata kepada Jojo yang sekarang telah berganti menjadi Abi.


“Jangan kamu pikir aku tidak berani menembakkan senjataku ini padamu, Bi. Menyingkirlah!”


“Hentikan semua dendammu itu. Bukan Jojo yang mencelakai Vicko, kamu tahu itu.”


“Ya, tapi ayah tirinya yang melakukannya. Berhubung si keparat itu sudah mati. Maka Jojo yang harus menggantikannya.”


“Lalu kepada siapa aku harus membalaskan sakit hatiku karena pengkhianatan Vicko. Kepada anakmu?”


“ABI!!!” geram Vito.


“Menyingkirlah! Atau aku akan benar-benar menembakmu!” lanjut Vito seraya menarik kokang senjatanya.


“Mas…”


Abi terkejut mendengar suara Nina. Istrinya itu datang bersama anak bungsunya. Kenan yang tak tahu menahu soal kejadian ini bermakud menghampiri Vito yang tengah menodongkan senjata ke arah papanya. Namun Cakra segera menahannya.


“Turunkan senjatamu, Vicko!!” teriak Juna.


“Suruh adikmu menyingkir!”


“Tidak akan!!” seru Abi.


“Brengsek!! Mati kamu, Bi!!”


DOR!!


“MAS!!”


“PAPA!!!”


“ABI!!!”


Tubuh Abi ambruk seiring dengan peluru tajam yang menerjangnya. Matanya memandangi tangannya yang berlumuran darah. Semua terkesiap melihat peristiwa yang berlangsung begitu cepat. Refleks mereka berlari menghampiri Abi.


☘️☘️☘️

__ADS_1


🏃🏃🏃🚴🚴🚴


__ADS_2