KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Hompimpah


__ADS_3

Kelopak mata Naya bergerak-gerak, dan tak lama kemudian matanya terbuka. Dia terkejut saat melihat sebuah tangan melingkari perutnya. Perlahan gadis itu membalikkan tubuhnya. Mata mengerjap beberapa kali untuk memastikan orang yang di hadapannya adalah Aric.


“Abang..” panggil Naya dengan suara lirih.


Aric membuka matanya. Segurat senyum tercetak di wajah tampannya. Naya terpaku menatap Aric. Otaknya masih berpikir apakah yang dilihatnya nyata atau hanya khayalan saja.


“Kenapa bengong?”


“Ini beneran abang? Aku ngga lagi mimpi kan?”


CUP


Aric mengecup bibir Naya, membuat gadis itu terjengit. Namun sedetik kemudian dia menelusupkan kepala ke dada Aric. Tangan Aric memeluk punggung kekasihnya seraya memberi usapan pelan.


“Abang udah ngga marah lagi sama aku?” Naya mendongakkan kepala, melihat pada Aric.


“Abang ngga pernah marah sama kamu.”


“Bukannya abang marah waktu dengar rekaman suara dari Ve.”


“Awalnya abang kesel. Tapi abang percaya, kalau pacar abang yang cantik ini, cinta mati sama abang.”


“Pede banget. Tapi bener hehehe..”


Naya memeluk pinggang Aric. Rasa sakit yang dirasakannya tadi seolah menghilang mendengar ucapan Aric. Ternyata Aric percaya padanya. Senyum bahagia tersungging di bibirnya.


“Tapi kenapa abang bilang mau batalin pernikahan.”


“Abang sengaja. Pelaku utama belum ketangkep, abang terpaksa lakuin itu biar kamu ngga jadi incaran lagi. Setelah Nara menikah dengan Ken, sasaran utamanya adalah kamu. Soal rencana bunuh diri kamu, abang juga yang usulin ke papa Abi. Melihat kamu hancur, mereka ngga ngusik kamu lagi dan mengalihkan sasaran ke Frey. Tapi papa Abi udah bisa ngatasin soal itu. Maaf abang ngga ke rumah sakit, karena anak buah om Vito masih terus ngawasin.”


“Aku pikir abang udah ngga peduli sama aku.”


“Mana mungkin aku ngga peduli. Aku kangen banget sama kamu.”


Aric mengangkat dagu Naya dengan jarinya lalu mencium bibir kekasihnya itu. Naya melingkarkan tangannya ke leher Aric. Gadis itu membalas setiap sesapan sang kekasih di bibirnya. Dirinya pun merasakan kerinduan yang begitu besar pada Aric.


“Kita jadi nikah bang?” tanya Naya setelah ciuman mereka berakhir.


“Jadi dong.”


“Kapan?”


“Kamu maunya kapan?”


“Aku terserah abang aja. Tapi kasihan bang Barra, masa dilangkahin dua kali.”


“Ck.. biarin aja. Kalau nungguin dia nikah, keburu bulukan kita.”


“Ish abang jahat banget.”


Aric hanya tergelak saat Naya memukul lengannya pelan. Nasib percintaan sahabat sekaligus calon kakak iparnya itu tidak bisa diprediksi. Kedatangan Tozaki membuat jalan menuju Hanna semakin menanjak dan berliku.


“Gimana kalau nikahnya barengan aja sama Frey sama Azra.”


“Ngga mau, kesannya kaya nikah masal.”


“Hahaha..”


“Gimana kalau nikahnya tiga hari berturut-turut aja. Jumat, Sabtu, Minggu. Biar yang kondangan pusing hihihi..”


“Kalau begitu, siapa yang duluan nikah? Kita dulu kali ya, kan aku yang paling tua dibanding Fathan sama Ravin.”


“Beda sebulan doang sama bang Ravin. Itu juga katanya abang nikung lahir duluan, harusnya kan bang Ravin duluan yang keluar kalau sesuai jadwal.”


“Hahaha.. bisa aja tuh curut.”


“Jadi gimana bang?”


“Kita panggil aja mereka ke sini. Tanya mereka setuju ngga sama ide kamu.”


“Boleh bang.”


Aric menangkup wajah Naya kemudian membenamkan bibirnya lagi. Sekali lagi pertautan bibir keduanya terjadi. Aric melepaskan semua kerinduannya dengan memberikan ciuman mesra nan lembut pada kekasihnya.


☘️☘️☘️


Sore harinya dua pasang pengantin datang ke kediaman Jojo atas permintaan Aric. Mereka berkumpul bersama di selasar yang ada di lantai dua. Aric membicarakan usulan pernikahan tiga hari berturut-turut, ide dari Naya. Tanpa disangka mereka langsung setuju, menurut mereka lebih hemat waktu juga.


“Gue sih setuju aja. Kan sekalian tuh capenya,” celetuk Ravin.


“Iya, tiga hari resepsi, tiap harinya beda pengantin sama pendamping pengantin,” Freya terkikik geli.


“Gue setuju,” seru Azra.


“Ngikut aja dah,” sahut Fathan.


Pembicaraan terhenti sebentar saat Nara dan Dilara yang baru saja pulang, ikut bergabung. Mereka terpaksa harus mengulang obrolan supaya Nara dan Dilara tak banyak bertanya lagi. Kedua orang itu pun setuju saja dengan usulan tersebut, lagi pula bukan mereka yang menikah.


Topik selanjutnya adalah konsep pernikahan. Sebagai yang sudah berpengalaman, Nara memberikan sedikit masukan tentangnya. Freya dan Azra memutuskan menggunakan konsep pernikahan tradisonal, dengan adat Sunda. Sedang Naya memilih konsep pernikahan internasional atau modern party.


“Terus waktunya kapan? Biar persiapannya ngga mendadak.” celetuk Azra.


“Kalau gue sih tetap seperti kata papa Kevin, tiga bulan setelah bang Ken nikah. Mereka kan baru jalan dua minggu nikahnya, nah berarti masih ada sisa waktu kurang lebih 10 minggu lagi.”


Azra mengeluarkan ponselnya kemudian membuka aplikasi kalender. Dia meminta Freya juga Naya mendekat. Setelah berdiskusi sebentar, akhirnya mereka sepakat memilih tanggal pernikahan dimulai dari tanggal 9 sampai 11.


“Tempat fix, konsep fix, tanggal fix. Sekarang tinggal atur siapa yang ambil tanggal 9, 10, 11,” seru Azra.


“Berhubung gue sama Naya yang lamaran and tunangan duluan, berarti kita yang duluan nikah. Kita ambil tanggal Sembilan,” ujar Aric.


“Ngga bisa! Lo kan nikahnya dipending sampai waktu yang ngga ditentukan. Nah abis Ken itu harusnya gue," sembur Ravin.


“Mending gini, tanggal 9 gue, tanggal 10 Aric, terakhir elo, Vin. Kan om Abi udah mejeng pas Ken. Jadi mending lo terakhir aja,” usul Fathan.


“Ngga.. ngga bisa,” jawab Ravin.


“Udah deh, gue aja yang duluan. Secara di antara kita bertiga, gue yang paling tua,” sahut Aric.


“Eh ngga usah bawa-bawa umur, ya. Lagian lo cuma beda sebulan sama gue. Itu juga dengan catetan, karena lo nikung gue, lahir sebelum waktunya. Pokoknya gue duluan, terus Fathan, terakhir, elo,” Ravin tak mau kalah.


“Eh kenapa gue jadi terakhir?”


“Kan elo yang paling telat rujuknya.”

__ADS_1


“Ngga.. ngga.. tetep gue yang pertama.”


Naya dan yang lainnya hanya saling berpandangan saja melihat perdebatan tiga lelaki di depan mereka. Masing-masing tidak ada yang mau mengalah. Ketiganya sibuk mempertahankan argumen masing-masing. Nara sampai menepuk keningnya melihat tingkah kekanakan mereka.


“Kalian tuh sebenernya ngeributin apaan sih? Beda tanggal nikahnya cuma sehari, bukan sebulan apalagi setahun. Kenapa ngga ada yang mau ngalah. Herman deh,” sewot Nara.


Tanpa mempedulikan protesan Nara, ketiga pria itu terus saja berdebat. Kenzie dan Barra yang baru saja datang, penasaran dengan suara ribut-ribut yang berasal dari selasar. Keduanya segera menuju ke sana.


“Buset rame banget, udah kaya orang jualan obat,” seru Barra.


“Nah mumpung ada Barra ama Ken. Coba deh kalian kasih pencerahan sama tiga orang lebay ini. Dari tadi ribut mulu,” ucap Azra.


“Ngeributin apa sih?” tanya Barra.


Naya akhirnya memilih jadi juru bicara, karena usulan menikah estafet berasal darinya. Kenzie dan Barra saling berpandangan, usulan Naya yang nyeleneh justru menimbulkan perdebatan di antara para lelaki yang sudah seperti anak kecil rebutan permen.


“Ya elah gue kirain apaan. Ribet amat sih, lo pada. Beda nikahnya timbang sehari doang. Udah pada ngebet belah duren, lo, sampe ribut segitunya,” celetuk Barra.


“Nah iya bang. Aku juga bilang gitu tadi ke mereka, tapi tetep aja ribut. Dasar lebay,” sahut Nara.


“Mending kalian gambreng aja daripada ngga ada yang mau ngalah,” usul Kenzie.


“Nah bener, biar fair. Ayo buruan hompimpah alaium gambreng,” timpal Barra.


Ketiga pria yang sedari tadi meributkan tanggal pernikahan , saling melihat satu sama lain. Tapi akhirnya mereka setuju dengan usulan Kenzie. Barra langsung bersiap sebagai wasitnya. Naya, Azra dan Freya memegangi kepala mereka melihat tingkah calon suami yang semakin absurd saja. Diam-diam Dilara merekam apa yang terjadi. Sudah pasti dia akan menyebarkan video tersebut pada para tetua. Biar mereka melihat kelakuan somplak anak-anaknya.


Aric, Fathan dan Ravin berdiri dengan posisi melingkar. Barra juga ada di dekat mereka untuk mengawasi jalannya hompimpah. Sedang Kenzie, sang pemberi usulan, berdiri di dekat istrinya seraya melipat kedua tangannya di depan dada.


“Ayo mulai,” seru Barra.


“Eh bentar.. lo ngga mau ikutan, Bar?” celetuk Fathan.


“Ck.. kaga usah diajakin dia mah. Lagian kalau ikutan terus dapet giliran pertama repot juga, dia mau nikah ama siapa? Calon juga kaga ada,” jawab Aric.


“Kan ada Hanna,” seru Fathan.


“Masih tentatif. Apalagi sekarang ada mantan terindah. Kalau pun si Barra bisa ngalahin si Toza, paling nikahnya 10 tahun lagi,” jawab Aric sekenanya yang langsung dibalas dengan toyoran di kepala.


“Ngga adek ipar, ngga calon adek ipar pada ngga sopan ama gue. Harusnya kalian tuh berterima kasih, gue ngga minta apa-apa dilangkahin sama kalian,” sewot Barra.


“Nungguin elo laku, kelamaan PEA,” balas Aric.


“Kampret!”


“Hahaha..”


“Udah buruan. Mau gambreng ngga nih?”


Akhirnya semua kembali fokus. Aric, Fathan dan Aric merentangkan tangan ke depan. Wajah mereka nampak serius menunggu aba-aba dari Barra. Dalam hati berharap semoga tangan mereka membawa hoki dan berhasil mendapatkan tanggal pertama pernikahan. Barra memperhatikan wajah para sahabatnya yang nampak serius.


“Nungguin ya, hahahaha,” ujarnya tanpa dosa.


“Bangk*!” Aric.


“Kampret!” Ravin.


“Monyong emang nih orang,” Fathan.


Berturut-turut toyoran dan keplakan mendarat di kepala Barra. Pria itu hanya terkekeh geli melihat kekesalan tiga sahabatnya. Namun tawanya hilang begitu melihat tatapan horror para calon pengantin wanita.


Dengan bodohnya ketiga calon pengantin pria itu menggerak-gerakkan tangannya mengikuti kata-kata Barra. Mereka berhenti bergerak ketika Barra menyebut kata gambreng. Percobaan pertama gagal karena semuanya memperlihatkan punggung tangan. Acara hompimpah diulang.


“Hompimpah alaium gambreng!”


Masih belum ada pemenang di percobaan kedua. Kali ini ketiganya menunjukkan telapak tangan. Mereka pun bersiap dengan percobaan ketiga. Agar tidak terjadi kesamaan pilihan lagi, ketiganya memilih mengepalkan tangan mereka. Barra kembali memberi aba-aba.


“Hompipah alaium gambreng!”


Percobaan ketiga sukses. Ravin bersorak senang karena dirinya berhasil menjadi pemenang. Dia menunjukkan telapak tangan, sementara Aric dan Fathan menunjukkan punggung tangan. Aric hanya mendengus kesal melihat Ravin yang berjoged-joged seperti orang gila.


“Sekarang tinggal lo ama Fathan. Suit aja dah,” usul Barra.


“Suit pake jari apa, batu, gunting kertas?” tanya Fathan.


“Batu, gunting kertas aja,” jawab Aric.


Kenzie menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah konyol sepupu dan asistennya. Nara sedari tadi tak berhenti tertawa. Baru kali ini dia melihat calon pengantin menetapkan tanggal pernikahan dengan hompimpah dan suit.


Aric dan Fathan berdiri berhadapan. Kedua mata mereka saling menatap tanpa berkedip. Gaya keduanya sudah seperti atlit tinju yang akan berduel. Barra berdiri di samping keduanya, mengambil posisi di tengah.


“Ok mulai. Batu, gunting, kertas!”


Aric memperlihatkan bentuk batu, Fathan kertas. Satu nol untuk Fathan. Barra kembali memberikan aba-aba.


“Batu, gunting kertas!”


Aric memperlihatkan bentuk gunting, Fathan bentuk kertas. Posisi imbang menjadi satu sama. Keadaan bertambah tegang. Fathan dan Aric bersiap untuk suit yang terakhir, yang akan menentukan sang pemenang.


“Batu, gunting, kertas!”


Aric memperlihatkan bentuk batu, Fathan bentuk gunting. Teriakan kencang Aric terdengar begitu tahu kalau dirinya yang menjadi pemenang. Fathan mendengus kesal, sepertinya kali ini dirinya sedang tidak beruntung.


“Ok, fix ya. Tanggal 9, Frey sama Ravin yang nikah. Tanggal 10, Aric ama Naya. Tanggal 11, Azra ama Fathan. Dah jangan pada ribut lagi lo!” Barra melihat ke arah sahabatnya satu per satu yang dijawab dengan acungan jempol ketiganya.


Seiring dengan itu, berakhir sudah pengundian jadwal pernikahan estafet. Dilara juga sudah selesai dengan rekamannya. Dia langsung mengirimkan video tersebut pada Jojo, Abi, Juna, Kevin, Cakra dan Agung. Tak lupa dia memberi judul video ‘penentuan jadwal pernikahan estafet ala calon pengantin gabut’.


“Kamu beli apa aja tadi, sayang?” tanya Kenzie yang masih bertahan bersama para sahabatnya.


“Semua kebutuhan buat rumah kita. Tapi sofanya harus pesan dulu, dua minggu lagi baru selesai.”


“Ngga apa-apa sayang. Terserah kamu aja. Lagi pula kita ngga langsung pindah, mau bulan madu dulu.”


“Iya mas,” Kenzie mencium kening Nara.


“Woi!! Dilarang mesra-mesraan di sini! Sana balik ke kamar!” seru Barra.


“Berisik banget, lo. Ngiri mulu,” kelutus Kenzie.


“Jangan kontaminasi otak para calon pengantin ini,” dalih Barra.


“Calon pengantin apa elo?”


Kenzie malah sengaja memanasi Barra. Ditangkupnya wajah Nara lalu mengecup bibir istrinya. Mata Barra membulat melihat pemandangan yang membuat jiwa jomblonya menangis. Tanpa mempedulikan Barra, Kenzie menarik tangan Nara masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


“Dasar adek ipar durhakim!!”


☘️☘️☘️


CIIIITTT


Kenan menghentikan mobil yang dikendarainya di depan pintu masuk IGD. Dengan cepat dia keluar dari mobil kemudian membuka pintu sebelah. Dibantunya seorang temannya yang tengah mengerang kesakitan turun dari mobil kemudian masuk ke dalam IGD. Dia segera menghampiri seorang suster yang ternyata adalah Zahra.


“Sus.. tolongin teman saya.”


Zahra terkejut melihat Kenan datang sambil memapah temannya. Dia segera mengarahkan pemuda itu ke salah satu bilik yang kosong. Kenan membantu temannya naik ke atas blankar.


“Sebentar saya panggilkan dokter dulu.”


“Eh ngga usah sus. Dokternya kan lagi pada sibuk, tolong suster dulu aja yang periksa.”


“Dia kenapa?”


“Perutnya sakit dok, gara-gara ngga bisa kentut.”


“Sudah berapa lama ngga bisa buang angin?”


“Hmm.. kira-kira dua apa tiga ya,” Kenan nampak berpikir.


“Hari?”


“Jam, sus.”


Zahra memandang Kenan kesal. Sudah dipastikan ini hanya akal-akalannya saja untuk mengganggu dirinya. Sudah seminggu ini Kenan bolak balik ke IGD, ada saja yang dikeluhkannya. Kelingking teriris pisau, jempol kaki keseleo, hidung mampet, alergi makan seblak dan selalu saja minta diperiksa olehnya.


Tanpa banyak bicara Zahra keluar dari bilik pemeriksaan. Dia terus berjalan keluar rumah sakit, lalu menuju salah satu kios yang ada di dekat rumah sakit. Tak lama dia kembali dengan membawa bungkusan di tangannya. Kemudian memberikan bungkusan tersebut pada Kenan.


“Apa ini sus?”


“Itu obat buat teman kamu.”


Kenan membuka bungkusan yang diberikan Zahra padanya. Isinya tiga buah ubi cilembu yang sudah matang. Pemuda itu hanya melongo melihat pemberian Zahra. Teman Kenan menyambar bungkusan yang diberikan Zahra. Langsung saja dimakan ubi cilembu tersebut yang masih terasa hangat.


“Nanti kalau sudah makan ubinya dan sudah bisa buang angin, silahkan pulang.”


Tanpa memberikan Kenan kesempatan untuk berbicara, Zahra segera meninggalkan bilik pemeriksaan. Dia meneruskan pekerjaan yang sempat terhenti gara-gara kedatangan Kenan. Tahu usahanya gagal total, Kenan tidak mau menyerah. Dia segera mendekati Zahra yang tengah berada di dekat meja perawat.


“Sus..”


“Hmm..” jawab Zahra tanpa melihat ke arah Kenan.


“Makan siang bareng, yuk.”


“Maaf, saya lagi puasa.”


“Bohong.itu Di gigi ada sisa cabe.”


Sontak Zahra meraba giginya dengan lidah, mencari keberadaan cabe di sela-sela giginya. Kenan mengulum senyum, jebakannya berhasil.


“Nah kan ketahuan bohongnya. Ayo dong, makan siang bareng aku.”


“Aku banyak kerjaan.”


“Mana? IGD sepi gini.”


“Kita ngga tahu kapan pasien akan datang ke sini.”


“Emang suster di IGD kamu doang. Kan bisa aplusan sama yang lain makan siangnya.”


“Nanti kalau tiba-tiba banyak pasien yang datang gimana?”


“Wah jahat nih suster, nyumpahin banyak orang sakit. Biar rumah sakitnya laku, ya.”


Zahra menghembuskan nafas kesal. Kenan selalu saja bisa membalas kata-katanya. Dibereskannya catatan yang tengah dibuatnya kemudian pergi meninggalkan Kenan begitu saja. Tapi pemuda itu tak putus asa, dia kembali mengejar Zahra.


“Sus.. ayolah. Sekali aja, ok.”


“Ngga bisa.”


“Ya udah. Jangan salahin aku kalau aku buat kegaduhan di sini.”


“Maksud kamu ap…”


“OOHH SUSTER ZAHRA!!”


Belum usai ucapan Zahra, tiba-tiba dia dikejutkan dengan teriakan Kenan. Suara kencang pemuda itu sukses menarik perhatian semua orang yang ada di IGD. Tapi dengan santainya Kenan meneruskan aksi lebaynya itu.


“SALAHKAH AKU JIKA MENGAGUMIMU??”


Teman Kenan yang tengah asik menikmati ubi cilembu, keluar dari bilik pemeriksaan begitu mendengar suara temannya yang volumenya mengalahkan toa masjid. Zahra menarik kaos yang digunakan Kenan, bermaksud membawa pemuda itu keluar IGD. Namun Kenan bergeming.


“KARENA KAMU BEGITU CANTIK..”


“Cantik memang cantik.. hanya kamu.. kamu yang buatku tertarik..” Kenan menyambung puisinya dengan nyanyian.


Wajah Zahra memerah karena kini semua mata tertuju kepadanya. Seorang dokter jaga yang ada di sana tak bisa menahan tawanya melihat aksi konyol Kenan. Begitu juga rekan kerja Zahra yang lain. IGD yang biasanya dipenuhi suara rintihan pasien kini berganti dengan suara Kenan.


Security yang berjaga di depan IGD juga ikut melihat pertunjukkan Kenan. Bukannya membawa pemuda itu keluar dari IGD, dia malah terpingkal saking terhiburnya melihat salah satu penggemar Zahra. Sudah menjadi rahasia umum, sejak Zahra dipindahkan ke IGD, banyak yang datang berpura-pura sakit hanya demi melihat Zahra. Suster magang yang masih menyelesaikan studi keperawatannya.


“MENGAPA DIRIMU SELALU MENGECEWAKANKU. MENGAPA KA..”


BRUK


Tiba-tiba tubuh Kenan ambruk begitu saja.


☘️☘️☘️


**Cara baru ya nentuin tanggal nikahan. Ngga hitung tanggal lahir tapi hompimpah ama suit🤣🤣🤣


BTW si Nan kenapa ya?🤔


Buat yang minta up 3x sehari. Mamake up 3x sehari kok.


1x KPA


1x Nick


1x My Hot guys

__ADS_1


🤭🤣🤣🏃🏃🏃**


__ADS_2