
Dengan wajah tertekuk Sandi keluar dari kediamannya seraya menggeret koper. Hari ini dia akan berangkat menuju pulau Rinca. Surat keputusan pengangkatan dirinya sudah keluar dan kantor di sana harus sudah mulai beroperasi. Sejak dipecatnya Risma dan dirinya dipindah tugas, keduanya kerap bertengkar. Kekesalan Sandi pada sang istri semakin bertambah ketika Risma menolak ikut dengannya ke pulau Rinca dengan alasan anak-anak.
Dila dan Sisil mencium punggung tangan sang ayah, ketika Sandi baru saja memasukkan kopernya ke bagasi taksi online yang akan mengantarnya ke Bandara. Risma hanya memperhatikan dari arah teras saja. Tak ada keinginan untuk mengantar suaminya sampai ke depan mobil.
Gerakan Sandi saat akan menaiki mobil terhenti ketika sebuah mobil berhenti di dekat taksi online pesanannya. Dari dalamnya turun Silva, gadis belia itu berlari kemudian memeluk tubuh ayahnya. Sandi tertegun mendapatkan perlakuan anak gadisnya. Hatinya bergetar, anak yang kerap tak dipedulikan olehnya, ternyata masih mau bersikap baik padanya.
“Papa, hati-hati di jalan, ya. Sehat-sehat di sana, jangan lupa makan juga. Silva akan terus mendoakan papa.”
Mata Sandi berkaca-kaca begitu mendengar kata-kata Silva. Perasaan bersalah dan menyesal menyeruak dalam hatinya. Tangannya kemudian memeluk erat punggung anaknya itu.
“Maafkan papa, Silva. Maaf kalau selama ini papa sudah sangat jahat padamu dan tidak bersikap adil. Terima kasih, kamu masih mau menerima papa.”
“Kata mama, biar bagaimana pun juga, papa itu ayahnya Silva. Silva harus tetap sayang dan hormat sama papa. Sekarang Silva punya dua orang papa, Silva sayang papa dan juga papa Darma.”
Sandi mengusap airmata yang menggenang di sudut matanya. Diciumnya puncak kepala Silva berkali-kali kemudian mengurai pelukannya. Sandi melihat pada sang anak lekat-lekat, ternyata Silva juga tengah menangis.
“Papa janji, mulai sekarang papa akan menjadi papa yang baik untukmu.”
“Iya, pa.”
“Papa pergi dulu, ya.”
“Aku boleh antar papa ke bandara?”
“Boleh sayang.”
Senyum terbit di wajah Silva. Gadis belia itu segera berlari menuju mobil yang tadi ditumpanginya. Dia meminta ijin pada Mentari untuk ikut ke bandara bersama dengan Sandi. Mentari mengiyakan permintaan adik tirinya itu. Silva kembali kepada Sandi, kemudian keduanya menaiki taksi online yang sudah menunggu sedari tadi. Tak lama mobil milik Mentari menyusul dari belakang.
☘️☘️☘️
Tiga bulan kemudian
Masa magang berakhir sudah. Semua peserta magang sudah menyelesaikan kuliah kerja nyatanya, termasuk Anya. Dia baru saja menyelesaikan laporan magangnya dan mendapatkan nilai baik saat seminar. Dan kini wanita itu tengah menyelesaikan kuliahnya di semester tujuh, bersama dengan Kenan, Alisha dan Kenan.
Anya nampak tak bersemangat mengikuti perkuliahan hari ini. Sudah seminggu ini tubuhnya terasa lemas, dan hanya ingin tiduran saja. Namun sayang, dosen di semester tujuh ini terkenal killer semua, hingga wanita itu tak punya nyali untuk membolos. Beberapa kali Anya hampir saja tertidur, mendengar suara sang dosen yang terdengar seperti tengah menyanyikan lagu nina bobo.
Siksaan Anya berakhir ketika dosen tersebut mengakhiri perkuliahannya. Wanita itu langsung merebahkan kepalanya di meja dengan kedua tangan sebagai tumpuan. Kenan membereskan buku-bukunya kemudian menghampiri sepupunya itu. Dia menarik kursi ke dekat Anya.
“Nya.. lo kenapa?”
“Ngantuk, Nan.”
“Kurang tidur lo? Apa ngga bisa tidur gara-gara digangguin?”
“Gue udah ngga digangguin sama jin tomang lagi.”
“Tapi kan sekarang diganggu ama laki lo, hahaha..”
“Kampret!”
Kenan tergelak seraya menghindar saat Anya berusaha untuk memukulnya. Tak berhasil menggapai Kenan, Anya kembali merebahkan kepalanya. Kenan merogoh saku celananya saat ponselnya bergetar. Senyum terbit di wajahnya saat membaca pesan yang dikirimkan oleh Zahra.
“Gue cabut dulu, ya. Zahra ngajakin makan siang bareng. Lo mau ikut ngga?”
“Ngga ah, males banget jadi obat nyamuk. Eh gue nitip ya.”
“Nitip apaan?”
“Rujak beubek.”
“Susah amat pesenan lo. Tar kalo nemu gue beliin.”
“Yang pedes, Nan!”
Hanya jari telunjuk dan ibu jari Kenan membentuk huruf O untuk membalas ucapan Anya. Pemuda itu segera keluar dari kelas. Melihat Kenan sudah pergi, Anya bangun dari duduknya. Dia bermaksud menuju perpustakaan, bukan untuk membaca, tapi menumpang tidur.
Hanya tinggal beberapa meter lagi Anya berhasil sampai ke perpustakaan. Namun tiba-tiba dia merasa perutnya seperti diaduk-aduk ketika mencium aroma parfum mahasiswa yang melintas di dekatnya. Bergegas wanita itu berlari menuju toilet yang ada di dekat perpustakaan.
HOEK
HOEK
HOEK
Anya terus mengeluarkan cairan bening sesampainya di depan kloset. Kepalanya terasa pusing, akibat aroma yang begitu menusuk tadi. Ditambah sejak pagi dia belum makan apa-apa. Selain lemas dan lesu disertai kantuk, dia juga kehilangan nafsu makannya akhir-akhir ini. Pelan-pelan Anya berdiri kemudian keluar dari bilik toilet. Dia terkejut melihat Jihan sudah ada di sana.
“Kamu sakit, Nya?” tegur Jihan yang melihat wajah Anya sedikit pucat.
“Ngga tau, Ji. Tiba-tiba aja aku mual gara-gara nyium parfum orang. Astaga dia pake minyak nyongyong kali ya, ngga enak banget baunya.”
Jihan tertawa kecil mendengar ucapan Anya. Diliriknya Anya yang berdiri di sebelahnya, mata temannya itu nampak sayu. Jihan mencuci tangan kemudian mengeringkannya. Diperhatikan lagi wajah Anya dengan seksama.
“Udah makan belum? Makan yuk,” ajak Jihan.
“Lagi ngga nafsu makan. Udah seminggu ini tuh aku ngga nafsu makan, bawaan lemas terus, pengennya tidur mulu.”
“Eh jangan-jangan hamidun.”
“Hah??”
Cukup terkejut juga Anya mendengar tebakan temannya itu. Sejenak dia terdiam, mencoba mengingat waktu datang bulannya. Saking sibuknya dengan kuliah, dia sampai lupa kalau jadwal tamu bulanannya memang sudah lewat.
“Test pack atau sekalian aja ke dokter kandungan,” usulan Jihan membangunkan Anya dari lamunannya.
__ADS_1
“Iya deh nanti.”
“Sekarang mending makan dulu, yuk. Muka kamu pucat gitu.”
Tanpa menunggu jawaban Anya, Jihan segera menarik tangan Anya keluar dari toilet. Hubungan keduanya memang sudah membaik setelah Jihan mengucapkan permintaan maaf langsung pada Anya. Bahkan kini mereka lebih akrab dari sebelumnya.
Sekeluarnya dua wanita itu, seseorang keluar dari bilik toilet. Tanpa sengaja dia tadi mendengarkan percakapan Anya dan Jihan. Seringai licik terlihat di wajah gadis itu. Dia merasa punya bahan gunjingan baru untuk disebarkan. Apalagi kali ini objek gossip adalah Anya. Sosok idola yang punya banyak pengagum pria namun tak pernah tersentuh siapa pun.
Hanya dalam hitungan menit, gossip tentang Anya yang tengah hamil langsung menyebar, karena mahasiswi tadi langsung menyebarkannya ke grup whatsapp. Dan temannya yang lain juga menyebarkan ke grup lain. Hingga berita tersebut sudah menyebar dengan cepat.
Anya mengernyitkan keningnya saat beberapa pasang mata nampak memperhatikan dirinya disertai dengan kasak-kusuk. Entah apa yang mereka bicarakan karena tak tertangkap oleh telinganya. Anya berusaha mengabaikan semua itu dan tetap meneruskan langkahnya menuju meja yang dipilih Jihan.
“Kamu mau makan apa?” tanya Jihan.
“Ngga tau, ngga laper juga.”
“Paksain, Nya. Yang seger-seger aja gimana? Bakso mau?”
“Baksonya aja tapi. Yang pedes sama kasih cuka dikit.”
“Beres. Tunggu sini, biar aku yang pesenin.”
Jihan beranjak dari duduknya kemudian menuju stand yang menyediakan menu makanan yang banyak diminati para mahasiswa di kampus ini. Dia memesan satu mangkok bakso untuk Anya dan mie ayam untuk dirinya. Saat akan kembali ke mejanya, tak sengaja gadis itu mendengar dua orang mahasiswi tengah membicarakan Anya.
“Ngga nyangka ya si Anya bisa hamil. Kelihatannya aja kaya cewek baik-baik, taunya liar.”
“Hooh.. kira-kira siapa yang udah bikin dia hamidun?”
“Kenan kali.”
“Bisa jadi ngga jelas bapaknya, gara-gara salome hahaha…”
Kedua gadis itu langsung terbahak. Jihan yang geram mendengarnya, segera menghampiri meja mereka. Dengan gerakan kencang dia menggebrak meja tersebut, mengagetkan kedua gadis yang masih tertawa.
BRAK!!!
“Heh! Kalau ngga tau kebenarannya jangan asal nyap-nyap. Awas aja lo, kalau sampe gue denger lo berdua ngomong yang ngga bener soal Anya, gue abisin lo!”
“Mau apa lo? Mau ngunciin kita di gudang gitu? Kaya yang lo lakuin ke Anya.”
“Cih.. sok suci lo.”
“Gue emang bukan orang suci. Gue juga bukan orang baik, makanya gue ingetin sama lo berdua. Jangan ganggu Anya! Spesial buat lo berdua, gue bakal masukin nama kalian sebagai relawan buat nyikatin gigi komodo di pulau Rinca! Awas lo!!”
Setelah melemparkan ancamannya, Jihan bergegas kembali ke mejanya. Terlihat Anya tengah merebahkan kepala di atas meja dengan kedua tangan sebagai tumpuannya. Jihan menarik kursi di depan Anya, kemudian mengambil ponselnya. Sengaja gadis itu tak mengganggu Anya yang sepertinya benar-benar mengantuk.
☘️☘️☘️
Dia terus berjalan menyusuri koridor kelas. Tak dipedulikannya tatapan beberapa mahasiswa yang dilintasinya. Anya sudah mendengar gossip tentang dirinya di grup whatsapp, namun tak dipedulikannya. Bahkan dia sama sekali tidak mengklarifikasinya. Yang diinginkannya saat ini hanyalah pulang dan tidur.
Anya terus berjalan menuju parkiran. Tadi Irvin sudah menghubunginya dan mengatakan akan menjemputnya. Wanita itu memilih menunggu sang suami di dekat pos security yang dekat dengan pelataran parkir. Langkahnya terhenti ketika tiba-tiba saja saat Prabu menghalanginya.
“Nya..”
“Hmm..”
“Soal gossip kamu hamil ngga bener kan?”
“Bener atau ngga, bukan urusan kakak,” jawab Anya malas.
“Lihat reaksi kamu kaya gini, sepertinya benar. Ck.. aku ngga nyangka kalau kamu seperti itu. Ternyata kamu ngga sepolos yang aku kira. Siapa yang udah hamilin kamu? Apa dia mau tanggung jawab? Dasar murahan.”
BUGH!!!
Sebuah bogeman mendarat di wajah Prabu begitu pemuda itu menyelesaikan kalimatnya. Anya terkejut saat melihat seniornya itu jatuh tersungkur. Irvin yang sudah datang tak terima mendengar Prabu menghina istrinya. Anya langsung menahan Irvin begitu pria itu hendak menghajar Prabu kembali.
“Aa.. udah.”
“Beraninya dia bilang kamu murahan. Biar aa rontokin semua giginya!” geram Irvin.
“Biarin aja, a. Udah..”
Prabu bangun seraya mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. Pukulan Irvin memang cukup keras, beberapa kali dia mengusap pipinya yang terasa nyeri. Matanya menatap nyalang pada Irvin.
“Apa masalah lo sama gue?!” berang Prabu.
“Jaga tuh mulut lo! Beraninya lo ngehina Anya.”
“Emang dia perempuan murahan. Dia hamil di luar nikah. Apalagi namanya kalo bukan murahan!” sengit Prabu.
“Brengsek!!”
BUGH
BUGH
Dua buah pukulan beruntun kembali Irvin layangkan pada Prabu. Anya sudah tidak bisa menahan lagi kemarahan suaminya. Seorang security yang melihat keributan segera menghampiri. Beberapa mahasiswa yang ada di sana juga ikut mendekat.
“Eeee… eee… ada apa ini? Jangan ribut di lingkungan kampus!” ujar sang security.
Salah seorang teman Prabu yang ada di sana segera membantu pemuda itu untuk berdiri. Anya memeluk suaminya dari belakang, mencoba menahan pria itu yang masih ingin menghajar senior yang telah menghinanya.
“Cari mati lo sama gue!” teriak Prabu yang kadung malu mendapat tiga pukulan dari Irvin.
__ADS_1
“Lo yang cari mati! Sekali lagi gue denger lo ngehina istri gue, tamat hidup lo!!”
Prabu langsung terbungkam mendengar ucapan Irvin, begitu pula dengan beberapa mahasiswa yang ada di sana. Termasuk sang pelaku penyebaran yang kebetulan berada di sana. Irvin sudah mendengar dari Jihan kalau ada yang menyebarkan gossip kalau Anya hamil di luar nikah. Dan tentu saja hal tersebut membuat pria itu geram.
“Dengar baik-baik! Gue bakal cari tahu siapa orang yang pertama kali sebarin gossip ngga benar soal Anya. Dan tunggu pembalasan dari gue. Kalau gossip ini masih beredar dan berkembang, gue pastiin semua yang terlibat bakal nanggung akibatnya. Anya udah nikah, dan gue suaminya. Inget itu!!”
Irvin melihat pada Prabu dengan wajah sangarnya. Pemuda itu hanya mampu terdiam saja, begitu juga yang lain. Sang penyebar gossip buru-buru pergi dari sana. Dia takut Irvin mengetahui kalau dirinya sumber gossip tersebut berasal.
“Ayo sayang.”
Irvin meraih tangan Anya kemudian membawanya pergi dari sana. Terdengar kasak-kusuk sepeninggal pasangan itu. Dengan kesal Prabu menendang kerikil yang ada di dekatnya. Jika memang benar Anya sudah menikah, maka dia tak punya kesempatan untuk menjatuhkan wanita itu. Prabu masih kesal pada Anya yang berulang kali menolak cintanya.
Tangan Irvin bergerak menarik tali sabuk pengaman untuk melindungi tubuh istrinya. Setelahnya dia masih bertahan di posisinya. Netranya menatap wajah sang istri yang memang sedikit pucat. Dirapihkannya anak rambut Anya yang sedikit berantakan.
“Kamu ngga apa-apa, sayang?”
“Iya, aa.”
“Untung aja Jihan ngabarin aa. Kenapa kamu ngga bilang hmm..?”
“Ngga penting juga, a. Biarin aja, gossip udah terlanjur berkembang juga, kan. Mau aku konfirmasi atau ngebantah tetap aja mereka ngga akan percaya.”
“Ya sudahlah. Tapi awas aja kalau kejadian seperti tadi terulang. Aa ngga akan tinggal diam.”
“Iya suamiku sayang.”
Anya menangkup wajah Irvin dengan kedua tangannya kemudian mengecup bibir pria itu. Irvin segera menarik tengkuk Anya lalu ******* bibir istrinya itu. Dengan senang hati Anya membalas ciuman sang suami.
“Apa benar kamu lagi isi?” tanya Irvin setelah mengakhiri ciumannya.
“Belum tau juga. Tapi emang aku udah telat datang bulan.”
“Gimana kalau sekarang kita periksa ke dokter?”
“Iya, a.”
Senyum terbit di wajah Irvin. Pria itu menunduk kemudian mencium perut Anya yang masih rata. Lalu dia kembali ke posisinya semula dan menjalankan kendaraannya. Sepanjang jalan pria itu terus menggenggam tangan sang istri. Tak sabar rasanya ingin cepat sampai ke rumah sakit untuk mengetahui kebenaran akan kehamilan sang istri.
☘️☘️☘️
Cakra dan Sekar merasa bahagia dikunjungi oleh Aric dan juga Naya. Untuk menjamu anak dan menantunya, Sekar menyediakan beraneka makanan. Makan malam hari ini terasa lebih ramai dengan kehadiran mereka.
Anya nampak tak berselera untuk makan, namun Irvin terus saja membujuknya. Bahkan pria itu berinisiatif menyuapi istrinya itu. Tak ayal ledekan terus keluar dari mulut Aric melihat perhatian Irvin pada adiknya. Namun Irvin hanya menanggapinya dengan senyuman karena hatinya tengah berbunga-bunga.
Usai makan malam, acar dilanjutkan dengan mengobrol bersama di ruang tengah. Irvin berniat menyampaikan kabar bahagia akan kehamilan Anya. Kebetulan sekali Aric juga datang berkunjung.
“Pi.. Mi.. sebenarnya ada yang aku sampaikan. Makanya sengaja malam ini aku sama Naya ke sini dadakan,” ujar Aric membuka percakapan.
“Ada apa?” tanya Sekar penasaran.
“Naya hamil, mi,” jawab Aric seraya menyunggingkan senyuman.
“Alhamdulillah..” ujar Sekar dan Cakra bersamaan.
Sekar segera memeluk menantunya ini. Tentu saja ini adalah kabar yang menggembirakan. Dia memang sudah berharap bisa menimang cucu secepatnya dan ternyata harapannya terkabul. Cakra juga ikut memeluk Naya, tak sabar rasanya mendengar ada yang memanggilnya kakek.
“Sudah periksa ke dokter?”
“Sudah, mi. Sekarang kandungan Naya jalan dua bulan.”
“Selamat ya, kak Naya,” ujar Anya.
“Makasih, Nya.”
Anya tersenyum kemudian melihat ke arah suaminya. Melalui tatapan mata, wanita itu meminta sang suami juga mengabarkan kabar bahagia tentang mereka pada kedua orang tuanya. Seakan mengerti apa yang diinginkan istrinya, Irvin memberitahukan kabar mengejutkan lainnya untuk sang mertua.
“Kita juga punya kabar lain buat mami dan papi,” ujar Irvin.
“Oh ya apa itu?” tanya Sekar.
“Tadi kami habis dari dokter kandungan. Anya juga positif hamil.”
Semua yang ada di sana terkejut sekaligus bahagia mendengarnya. Sekar segera menghampiri anak bungsunya itu kemudian memeluknya, disusul oleh Cakra. Beberapa kali pria itu mendaratkan ciuman di puncak kepala putrinya.
“Selamat ya sayang. Alhamdulillah, mami bakalan punya dua cucu sekaligus,” Sekar nampak begitu bahagia.
“Berapa usia kehamilannya?”
“Sebulan pi,” jawab Irvin.
“Berarti beda sebulan sama Naya. Berasa punya cucu kembar,” Cakra terkekeh.
“Selamat ya, dek.”
Aric menghampiri Anya lalu memeluknya. Hati pria itu gembira akan memiliki anak dan keponakan sekaligus. Sekar langsung saja menghubungi saudara dan sahabatnya untuk mengatakan kabar gembira ini. Di antara pengantin estafet, anaknya yang lebih dulu akan mempunyai momongan.
☘️☘️☘️
**Habis pernikahan estafet, lanjut hamil estafet🏃🏃🏃
Ngga kerasa ya udah weekend lagi, selamat menikmati hari libur bersama dengan keluarga. Besok mamake ngga janji bisa up karena deadline kerjaan di RL makin mepet. Andai mamake ngga up berarti lagi beresin deadline atau kesehatan agak terganggu, jadi jangan kesel dulu ya. Ngga ada niat mengabaikan kalian sama sekali. Terima kasih untuk semua dukungannya dan yang masih setia menunggu. Kalau kalian penasaran mamake up atau ngga, silahkan aja PC atau chat di IG, sebisa mungkin mamake akan balas pesan kalian😊
Happy weekend🤗😘**
__ADS_1