
Tak butuh waktu lama untuk sampai di kediaman Teddy. Nina keluar dari mobil bersamaan dengan Abi. Suasana rumah masih sepi karena baru mereka yang kembali ke rumah. Para pekerja di rumah sudah masuk ke kamar masing-masing. Nina bergegas masuk kamarnya untuk berganti pakaian dan membersihkan wajahnya dari make up.
Setengah jam kemudian Nina selesai membersihkan diri. Diambilnya tuxedo milik Abi lalu membawa ke kamarnya. Nina mengetuk pintu kamar yang tertutup rapat. Tak lama terdengar suara Abi, Nina masuk ke dalamnya. Tampak Abi baru selesai berganti pakaian. Tubuhnya terbalut celana joger dan kaos oblong hitam.
Nina berjalan menuju walk in closet lalu menggantungkan tuxedo yang dipakainya tadi kemudian kembali menemui Abi.
“Mas, mau makan ngga? Aku laper.”
“Boleh, aku juga laper.”
Abi merangkul Nina kemudian berjalan menuju dapur. Nina membuka kulkas, mencari sesuatu yang bisa diolahnya menjadi makanan.
“Mas, mau steak ngga?”
“Boleh.”
Nina mengeluarkan dua potong daging steak dan french fries dari dalam freezer lalu diletakkan di atas meja. Nina menyiapkan peralatan untuk memanggang steak dan menggoreng kentang.
“Mas yang goreng kentang ya. Aku grill dagingnya, biar cepet.”
Abi mengangguk lalu berjalan mendekat ke kompor. Sebenarnya dia belum pernah sekali pun memegang wajan, sutil dan lainnya. Namun demi Nina, dia melakukannya untuk pertama kali. Terdengar suara protes Nina ketika Abi memasukkan kentang ke dalam minyak yang belum panas.
“Mas.. tunggu minyaknya panas dulu.”
“Ya mana aku tahu.”
“Ish.. udah mas nge grill aja deh.”
Nina mengambil alih menggoreng kentang dan menyerahkan tugas memanggang pada Abi. Sebelumnya dia mengatur api kompor terlebih dulu. Sambil menggoreng sesekali Nina mengecek pekerjaan Abi. Mulut dan tangannya tak berhenti bekerja.
Empat puluh menit berlalu, akhirnya acara masak yang penuh drama pun selesai. Perabotan yang tadi dipakai untuk memasak sudah kembali bersih dan tertata di tempatnya semula. Abi mengagumi Nina yang cekatan.
“Mas belum pernah ke dapur ya.”
“Ngapain juga aku ke dapur.”
“Belajar dong mas.”
“Buat apa?”
“Nanti kalau aku hamil terus minta makanan yang dimasakin kamu gimana?”
Abi menghentikan makannya begitu mendengar ucapan Nina. Dia menatap gadis itu cukup lama. Sadar diperhatikan, Nina menoleh ke arah Abi.
“Kenapa mas?”
“Kamu mau hamil anak aku?”
“Ya ampun mas, pertanyaannya aneh. Salah satu tujuan kita menikah tuh untuk mendapatkan keturunan. Aku kan pengen punya anak ganteng kaya mas, tapi ngga pake nyebelinnya ya.”
Nina tertawa mendengar ucapannya sendiri. Abi tertegun menatap Nina. Sejenak ingatannya kembali pada sosok Fahira, istrinya terdahulu. Sejak awal menikah Fahira telah mengatakan kalau ingin menunda mempunyai momongan sampai dirinya siap mengandung. Bahkan Fahira membatasi aktivitas ranjang mereka dengan alasan tidak ingin kebobolan.
“Mas..” Nina melambaikan tangannya di depan wajah Abi, membuat pria itu sadar dari lamunannya.
“Ngelamunin apa? Ngelamun jorok ya.”
PLETAK
Sebuah sentilan mendarat di kening Nina. Gadis itu mengusap-usap keningnya dengan mulut tak berhenti mengomel. Abi tersenyum melihat Nina yang tetap menggemaskan walau tengah ngomel.
__ADS_1
Terdengar suara mobil memasuki pekarangan. Tak lama Teddy, Rahma dan Sekar masuk ke dalam rumah. Karena lelah, Sekar langsung naik ke lantai atas, begitu pula dengan Teddy. Sedang Rahma memilih menghampiri Abi dan Nina di meja makan. Dia menarik kursi di samping Nina.
“Kenapa pulang ngga bilang-bilang?”
“Maaf ma,” jawab Nina.
“Kamu ada masalah apa sama anaknya om Tirta, Bi?”
“Dia udah kasar sama Nina, ma.”
“Kamu diapain Nin? Ada yang luka?”
Rahma memperhatikan Nina dari atas sampai bawah. Gadis itu hanya nyengir, tak enak hati karena dia yang memulai kekacauan.
“Aku ngga apa-apa ma. Semua salahku, aku kesel sama dia, jadi aku kerjain deh. Aku siram celananya pake orange juice.”
“Emang dia ngapain?”
“Dia ngeledek mas Abi. Aku kan ngga terima.”
“Ngeledek aku? Emang dia bilang apa?”
“Itu hmm... itu...”
Nina bingung bagaimana mengatakannya. Dia hanya memainkan kedua jari telunjuknya saja. Rahma menyentuh tangan Nina dengan lembut.
“Dia ngomong apa?”
Nina mendekat pada Rahma membisikkan pada calon ibu mertuanya itu apa yang dikatakan anak Tirta di pesta tadi. Bukannya marah, Rahma malah menggoda Nina.
“Kamu percaya apa yang dia bilang?”
“Nanti pas malam pertama, buktikan aja sendiri.”
Wajah Nina bertambah merah. Buru-buru dia pergi menjauh dari meja makan. Ternyata anak dan ibu sama saja kejahilannya. Nina segera masuk ke kamar tanpa berpamitan. Abi dibuat bingung oleh tingkahnya. Dia melihat pada Rahma untuk meminta penjelasan. Tapi Rahma hanya mengangkat bahunya saja lalu beranjak menuju kamarnya.
Abi membereskan piring kotor bekas mereka makan lalu menaruhnya di tempat cuci piring. Dia kemudian melangkah menuju taman belakang. Didudukkan bokongnya di salah satu kursi yang ada di taman. Sambil menyenderkan punggungnya dia memejamkan mata. Di telinganya terus terngiang ucapan Nina tentang memiliki momongan. Ingatannya pun kembali pada awal pernikahannya dulu dengan Fahira.
Flashback on
Abi menutup tubuh polos dirinya juga Fahira setelah sesi percintaan mereka. Fahira membalikkan tubuhnya membelakangi Abi. Tangan kekar milik Abi memeluk istrinya dari belakang. Pernikahan mereka sudah genap jalan dua bulan. Tapi Abi merasa Fahira masih menjaga jarak darinya. Bahkan untuk melakukan hubungan suami istri, Abi masih harus memintanya berkali-kali padanya.
“Ra.. kamu mau punya anak berapa?”
“Kita baru dua bulan nikah Bi. Aku belum kepikiran punya anak.”
“Maksudku kamu mau punya anak berapa? Jangan kelamaan nunda.”
“Kita aja masih tinggal di rumah orang tua kamu. Terus kalau anak kita lahir, mereka mau tidur di mana?”
“Aku baru beli kavling di dekat sini. Sabar ya, kita bangun dulu rumahnya.”
Fahira membalikkan tubuhnya. Ditatapnya lekat-lekat lelaki yang telah dikenalnya sejak masih duduk di bangku kuliah dan kini berstatus sebagai suaminya.
“Bi, kita pindah ke apartemen aja ya.”
“Mama ngga ngijinin Ra. Kita tinggal dulu di sini 3 atau 6 bulan baru pindah ke apartemen. Senengin mama dulu ya.”
“Ok.. kita tinggal di sini 3 sampai 6 bulan tapi selama itu juga ngga ada bercinta saat masa subur karena aku ngga mau kebobolan. Lagi pula aku habis tanda tangan kontrak kerja, aku dilarang punya anak selama dua tahun.”
__ADS_1
“Kamu kok ngga bilang tanda tangan kontrak kerja? Aku suami kamu Ra. Setiap yang kamu lakukan harus seijinku. Tanpa kamu bekerja, aku sanggup menghidupimu!” suara Abi mulai meninggi.
“Ya udahlah Bi, udah terlanjur juga kan. Ngga usah marah kaya gitu.”
Abi menyibakkan selimut, diambilnya bokser juga kaos oblong yang tergeletak di lantai. Setelah berpakaian, dia keluar dari kamar seraya membanting pintu. Abi memilih menenangkan diri di taman belakang. Pernikahannya baru berjalan dua bulan tapi hubungannya dengan Fahira mulai diwarnai pertengkaran. Entah mengapa wanita itu berubah setelah berstatus sebagai istrinya. Tak ada lagi Fahira yang manis, kini sikapnya berubah dingin.
Flashback off
“Mikirin apa Bi?”
Abi terjengit ketika tangan Rahma menyentuh bahunya. Seketika lamunannya buyar. Dia beringsut memberikan tempat untuk sang mama duduk.
Sementara itu, Nina yang merasa haus keluar dari kamarnya. Sebelum ke dapur disempatkannya melihat Abi di kamarnya, namun tak ada lelaki itu di kamarnya. Nina melanjutkan langkahnya ke dapur. Tak sengaja sudut matanya menangkap Abi tengah duduk di taman belakang. Saat akan menghampiri pria itu, Nina mengurungkan niatnya begitu tahu Abi tak sendiri.
“Ada yang mengganggu pikiranmu?”
Rahma kembali bertanya karena anaknya tak kunjung menjawab. Bukan maksud untuk menguping, tapi Nina penasaran juga dengan apa yang dibicarakan ibu dan anak itu. Dia memang menangkap perubahan sikap Abi setelah makan malam mereka.
“Nina.. tadi dia bilang mau punya anak dariku.”
“Bagus dong kalau begitu. Kehadiran anak dalam rumah tangga kalian akan menyempurnakan hidup kalian. Ada yang salah dengan itu? Apa kamu tidak mau punya anak darinya?”
“Mama ngomong apa sih. Aku mau banget punya anak darinya. Cuma aku masih belum percaya aja. Jujur ma, sebenarnya aku masih takut menghadapi pernikahanku. Aku takut Nina akan berubah setelah menikah nanti, seperti Fahira dulu. Aku takut sikapnya tak semanis sekarang, aku takut dia meninggalkanku.”
Rahma meraih kepala Abi kemudian merebahkannya di bahunya. Tangannya mengusap lembut puncak kepala anaknya itu. Abi memang tidak pernah bercerita, namun Rahma tahu ada trauma yang ditinggalkan Fahira untuk anaknya itu.
“Tidak semua wanita seperti Fahira, salah satunya adalah Nina. Mama percaya kalau dia mencintaimu dengan tulus. Percayalah padanya nak, dia tidak seperti Fahira yang menikahimu karena ingin memanfaatkanmu saja. Kamu tahu kenapa hatimu cepat sekali tergerak pada Nina? Karena perasaan yang dia miliki tulus padamu. Ketulusannya yang menuntunmu padanya.”
“Apa benar seperti itu ma? Apa benar Nina tidak akan berubah nantinya?”
“Nikahi dia, maka kamu akan segera tahu jawabannya.”
Nina menyandarkan punggungnya di tembok. Hatinya terenyuh mendengarkan pembicaraan mereka. Dibalik sikap Abi yang keras, ternyata ada luka yang belum sepenuhnya sembuh. Sepertinya Fahira sukses menorehkan luka yang begitu dalam. Jantung Nina hampir copot ketika sebuah tangan menepuk bahunya.
“Mama..”
“Sedang apa kamu di sini?”
“Maaf ma.. aku.. aku..”
“Sudah.. temani Abi. Dia membutuhkanmu saat ini.”
Rahma tersenyum pada Nina kemudian beranjak meninggalkannya. Nina melongokkan kepalanya, terlihat Abi masih di tempatnya. Duduk dengan kepala tertunduk. Perlahan Nina berjalan mendekatinya. Gadis itu berdiri tepat di depan Abi.
“Mas..”
Abi mengangkat kepalanya. Mata mereka bertemu dan saling mengunci. Abi menarik Nina lebih dekat kepadanya lalu memeluk pinggangnya. Kepalanya dibenamkan ke perut kekasihnya itu. Matanya terpejam menikmati usapan lembut Nina di kepalanya.
“Belum tidur mas? Sudah malam.”
“Sebentar lagi.. aku ingin seperti ini sebentar lagi.”
Nina menundukkan kepalanya lalu mengecup puncak kepala Abi beberapa kali. Baru kali ini dia melihat sisi rapuh pria yang sudah mencuri hatinya.
Aku janji mas, ngga akan membuatmu terluka lagi. Aku akan mengobati lukamu seperti dirimu yang telah menyembuhkan lukaku.
☘️☘️☘️
Tenyata lelaki sesempurna Abi bisa juga merasakan trauma ya..😥
__ADS_1