
Setelah dua minggu dirawat di rumah sakit, Sekar dan baby Aric diperbolehkan pulang. Rahma meminta sang anak untuk tinggal di kediamannya. Selain kondisi Sekar yang belum Sepenuhnya pulih pasca operasi caesar, dia juga ingin mengajari anaknya cara merawat dan mengurus bayi.
Acara syukuran kelahiran Aric diadakan di dua tempat dengan selisih waktu sehari. Syukuran di kediaman Cakra, diurus oleh Nadia juga Rayi. Sedang di kediaman Hikmat. Rahma dan Nina yang mengurusnya.
Kini usia Aric genap satu bulan, Sekar serta Cakra masih tinggal bersama dengan Rahma. Rencananya besok mereka akan kembali ke rumah. Sebenarnya Rahma ingin anaknya tinggal tak jauh darinya, masih di kompleks yang sama. Namun dia juga menghargai keputusan menantunya yang ingin tinggal di rumah warisan orang tuanya.
Seperti biasa di hari Minggu, semua keluarga selalu berkumpul untuk sarapan bersama. Selama Sekar tinggal bersama Rahma, acara sarapan bersama selalu diadakan di kediamannya. Halaman belakang selalu dijadikan pilihan untuk mereka menikmati sarapan sambil menghirup udara pagi.
Usai sarapan, mereka masih bertahan di halaman belakang. Hanya saja sekarang telah berpindah tempat ke gazebo. Aric nampak anteng dalam gendongan Nadia. Wanita itu terus berdoa dalam hatinya agar cepat diberi kepercayaan kembali untuk memiliki momongan. Dia dan Juna juga terus berkonsultasi pada dokter kandungan. Dokter menyatakan kondisi pasutri itu sehat, hanya saja harus tetap bersabar.
Berbeda dengan Nadia, Rayi masih ingin menikmati waktu berduanya bersama Anfa. Pasangan itu tidak menunda kehamilan tapi juga tidak terlalu ngoyo ingin cepat memiliki momongan. Semua dijalani dengan santai. Mereka yakin Tuhan akan memberikan mereka anak di waktu yang tepat nantinya.
Saat sedang asik bercengkerama, mereka kedatangan tamu yang sudah dikenal baik. Gurit, sahabat baik Sekar datang berkunjung. Maksud kedatangannya adalah bertemu dengan Teddy. Semua keluarga Hikmat menyambut baik kedatangan Gurit. Pemuda itu ikut bergabung di gazebo.
“Tumben ke sini pagi-pagi. Miss seuhah kemana? Biasanya berdua mulu kaya truk gandeng.”
Mendengar Sekar menanyakan Syakira, raut wajah Gurit sedikit berubah. Maksud kedatangannya ke rumah ini juga berhubungan dengan kekasihnya itu. Sekar bingung melihat Gurit yang terlihat pendiam pagi ini.
“Rit.. lo kenapa?”
“Ada hal penting yang mau kamu sampaikan?” tanya Teddy.
“Iya om. Saya cuma mau kasih kabar kalau lusa, saya akan menikah dengan Syakira.”
“APA???!!!” semua yang ada di sana kompak bertanya bersamaan.
Gurit hanya menghela nafas melihat reaksi yang sudah diperkirakannya. Kedatangannya ke sini bukan untuk menagih janji Teddy yang akan membiayai pernikahannya, namun karena Teddy memang telah mewanti-wanti harus memberitahunya kalau hari pernikahannya tiba.
“Kok mendadak banget sih?” tanya Sekar.
“Si Syakira tekdung duluan ya?” selidik Abi.
“Ngga kak, suer,” Gurit mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.
“Terus kenapa lo cepet-cepet nikah?”
“Karena salah paham,” jawab Gurit lesu.
“Salah paham gimana?” Sekar semakin penasaran.
Kembali Gurit menarik nafas panjang. Ditatapnya satu per satu orang yang ada di gazebo. Pandangan mereka menyiratkan rasa penasaran. Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Gurit mulai menceritakan hal ihwal rencana pernikahannya yang terkesan mendadak.
Flashback On
Pukul delapan malam, motor Gurit memasuki gang tempat Syakira mengontrak. Dia dan Syakira baru saja pulang setelah seharian berjalan-jalan menghabiskan waktu bersama untuk merayakan pemuda itu telah diterima bekerja di J&J Entertainment. Bersama dengan Radix, dua sahabat itu nantinya akan membantu Jojo mengurus perusahaan.
Syakira meletakkan cangkir berisi teh manis hangat di atas meja. Kemudian dia mendudukkan diri di kursi tamu, bersebelahan dengan sang kekasih. Langit di luar sudah semakin gelap, sesekali terlihat kilatan putih di atas sana.
Gurit buru-buru menghabiskan teh manisnya. Dia harus segera pulang sebelum hujan membasahi bumi. Syakira berdiri untuk mengantarkan kekasihnya pulang. Gurit memakai helm full vest-nya. Baru saja dirinya hendak menaiki motor, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya.
“Diptaaahhh.. jangaannhh pulaanghh duluuhh. Ayoohh masyuukkhh lagiihh.”
Gurit menuruti perkataan kekasihnya. Memang hujan turun cukup deras. Keduanya kembali masuk ke dalam rumah. Gurit kembali duduk di tempatnya semula. Suasana hening sesaat, tak tahu apa yang harus mereka lakukan. Terlebih Gurit tak pernah tinggal lama jika mengantar Syakira pulang.
Untuk memecah kecanggungan yang meliputi mereka berdua, Syakira meminta Gurit berlatih dialog adegan bersamanya. Wanita itu baru saja mendapat tawaran bermain FTV di stasiun televisi ikan terbang. Dirinya akan berperan sebagai wanita yang mencoba merebut suami dari istri pertamanya.
Keduanya terus berlatih dialog. Terkadang Gurit berperan sebagai suaminya, terkadang sebagai istri pertama. Kemampuan akting Syakira semakin lama sudah semakin baik. Berkat perannya sebagai pedagang jamu keliling di film horor yang juga dibintangi Gurit, wanita itu cukup banyak mendapat tawaran syuting.
Sedang asik berlatih dialog, tiba-tiba lampu rumah padam. Baik Gurit maupun Syakira cukup terkejut ketika suasana berubah gelap gulita. Syakira menyalakan senter di ponselnya, kemudian dia berjalan menuju dapur untuk mencari lilin. Sedang Gurit memilih tetap di tempatnya. Tiba-tiba saja,
GEDUBRAG
“Aduuhhh!!!”
Gurit terkejut mendengar teriakan kekasihnya. Dengan cepat dia menghampiri. Dengan bantuan cahaya dari senternya, dia mencari keberadaan sang kekasih. Di dapur terlihat Syakira terduduk sambil meringis memegangi pergelangan kakinya. Sepertinya wanita itu terpeleset saat sedang berjalan. Genangan air yang berasal dari genteng yang bocor membuatnya celaka.
“Kamu ngga apa-apa?”
“Syakiitthh Diptaahh.”
Gurit membantu Syakira berdiri. Dia mengalungkan tangan kekasihnya itu ke lehernya kemudian memapahnya kembali ke ruang tamu. Setelah mendudukkan sang kekasih di kursi, Gurit bergegas kembali ke dapur. Dengan cepat dia meletakkan ember juga panci untuk menampung kucuran air. Ternyata di atap dapur Syakira terdapat kebocoran di beberapa titik.
Setelah menampung kucuran air, Gurit berinisiatif mengepel lantai dapur yang basah. Tanpa pemuda itu sadari, kaos yang dikenakannya juga basah terkena cipratan air. Beres dengan urusan dapur, Gurit kembali menghampiri Syakira. Wanita itu mengurut pergelangan kakinya yang keselo.
__ADS_1
“Keseleo ya?”
“Iyaahh.”
“Ada balsem atau minyak urut ngga? Biar aku urut, supaya ngga bengkak.”
“Adaahh, diihh lemariihh bajuuhh.”
Syakira menunjuk ke arah kamarnya. Awalnya Gurit ragu, namun demi mengurangi rasa sakit sang kekasih, Gurit memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar. Perlahan dibukanya lemari pakaian Syakira. Dia menemukan balsem di sela-sela tumpukan pakaian dalam Syakira. Bergegas pemuda itu keluar dari kamar.
Berbekal balsem di tangannya, Gurit duduk di samping Syakira. Dia lalu mengangkat kaki wanita itu dan mengoleskan balsem di pergelangan kakinya. Baru saja dia akan memijat, Syakira mengingatkan pemuda itu kalau kaos yang dikenakannya basah.
“Diptaahh, bajuuhh kamuuhh basyaaahh.”
“Iya tadi pas ngurusin yang bocor.”
“Bukaahh bajuuhhnyaahh nantiihh masyuukhh anginnhh.”
Awalnya Gurit menolak karena tak membawa pakaian ganti. Tapi karena Syakira terus mendesaknya, dan juga kaos yang dikenakannya lumayan basah, akhirnya Gurit membuka kaosnya. Dia menjemur kaos di sandaran kursi.
“Kamu punya kaos ngga?”
“Nggaahh adaahh. Akuuhh cumaaahh punyaahh bloushhh, dresshh samaahh dashterrhh.”
“Ya kali gue pake daster. Udah deh, nunggu kering bentar. Ayo aku pijetin kaki kamu.”
Gurit mengangkat kaki Syakira lalu meletakkan di atas pahanya. Perlahan dia mulai memijat pergelangan kaki kekasihnya yang terkilir saat terjatuh tadi. Terdengar teriakan dan desisan Syakira menahan rasa sakit saat Gurit memijatnya.
“Aduuhh syakiitthh Diptaahhh.”
“Tahan ya bentar.”
Sementara itu, di luar hujan sudah mulai reda. Beberapa orang pria yang merupakan warga sekitar, tengah berjalan. Mereka baru saja pulang dari masjid setelah menghadiri acara pengajian. Saat melewati rumah yang ditempati Syakira, terdengar suara-suara yang memicu rasa penasaran mereka.
“Aduuhh syakitthh..”
“Tahan sayang.”
“Pelaanhh-pelannhh Diptaahhh.”
“Aaauuuhhhh syakitthh.. kerasshh bangeetthh siihhh. Udaahhh aaahhh.”
“Tanggung sayang. Dikit lagi ya, nanti udah ngga sakit lagi kok.”
Para lelaki yang berjumlah empat orang itu saling berpandangan. Otak mereka langsung berpikir kalau tengah terjadi tindakan asusila di rumah tersebut. Apalagi suara Syakira terdengar men**sah. Mereka berunding sejenak, lalu seorang berlari menuju rumah pak RT. Sedang tiga yang lain bersiap untuk mendobrak pintu rumah Syakira.
Gurit yang telah selesai memijat Syakira, membantu wanita itu untuk berdiri. Dia bermaksud mengantar ke kamar. Sambil mengalungkan tangannya di leher Gurit, Syakira berjalan perlahan menuju kamarnya. Baru saja keduanya masuk ke dalam kamar, tiba-tiba
BRAK!!
Ketiga pria yang berada di depan rumah Syakira mendobrak pintu dengan kencang. Dalam satu kali percobaan, pintu langsung terbuka. Bunyi kencang saat pintu terbuka mengejutkan Gurit. Kaki pria itu tersandung kaki ranjang hingga tubuhnya terhuyung. Syakira yang berada dalam rangkulannya juga tak bisa menahan tubuhnya. Alhasil keduanya jatuh ke atas kasur dengan posisi Gurit berada di atas Syakira. Dan di saat yang bersamaan, listrik menyala.
Para pria yang telah berhasil mendobrak pintu, segera menerobos masuk. Mereka langsung menuju kamar tidur Syakira. Ketiganya terkejut melihat sepasang kekasih itu tengah berbaring di atas kasur dengan posisi Gurit menindih tubuh Syakira. Dengan kesal salah satu pria itu menarik Gurit.
“Wah lo berdua pasangan mesum ya! Lo mau zina, iya??!!”
“Eh ngga kang.. salah paham ini.”
“Salah paham dari mana? Udah jelas masih ngeles aja.”
“Tau tuh.. dari tadi juga udah kedengeran suara-suara mencurigakan.”
“Wah beneran salah paham kang. Gue tadi mijetin kakinya yang keseleo.”
“Mana ada mijet pake buka baju segala. Pijet plus-plus kali!”
Gurit kehilangan kata-kata, dia bingung bagaimana harus menjelaskan situasi yang sebenarnya. Suasana bertambah kacau ketika warga yang lain beserta pak RT datang bergabung. Bukan hanya para pria yang datang, tapi para wanita yang kebanyakan berstatus emak-emak juga ikut datang.
Gurit dan Syakira semakin terpojok, tuduhan demi tuduhan terus dilancarkan pada mereka. Para wanita yang belakangan ini resah karena kehadiran Syakira, memanfaatkan keadaan untuk mengusir wanita yang baru saja pindah dua bulan lalu.
“Beneran pak, sumpah kita ngga ngapa-ngapain,” Gurit terus berusaha meyakinkan.
“Jangan percaya pak. Kita saksinya gimana tuh dua orang mau berbuat mesum.”
__ADS_1
“Ngga kang, beneran ini mah salah paham doang.”
“Udah bawa aja ke kantor polisi!”
“Jangan dong pak. Saya ngga salah apa-apa.”
“Udah nikahin aja. Mereka udah zina.”
Tuduhan dan desakan para warga semakin menyudutkan Gurit. Pemuda itu disuruh memilih, dilaporkan ke polisi atau menikahi Syakira. Terdesak dengan keadaan, Gurit akhirnya memilih untuk menikahi Syakira saja dari pada dilaporkan ke kantor polisi karena berbuat asusila. Bagaimana reputasi Syakira yang baru saja merintis karir menjadi artis kalau sampai berita ini terdengar infotainment.
Pak RT akhirnya memutuskan untuk mengantar Gurit dan Syakira ke kediaman orang tuanya masing-masing dan mengatakan apa yang telah terjadi. Beberapa warga yang tidak sibuk diminta ikut mengantar dan mengawal pasangan tersebut. Jika mereka tak jadi menikah, maka mereka akan melaporkan sepasang kekasih itu ke pihak berwajib.
Flashback Off
Gurit mengakhiri ceritanya. Untuk sesaat suasana hening sejenak, tapi kemudian terdengar gelak tawa Abi, Juna, Cakra dan Anfa. Keempat pria itu tak bisa menahan tawanya mendengar kisah tragis pasangan kekasih yang harus menikah karena gerebekan warga yang salah alamat.
“Lo oonnya kebangetan. Kenapa ngga telpon gue atau Anfa. Kita kan bisa nolongin.”
“Ya gue kan panik, Se. Mana kepikiran nelpon elo atau Anfa. Emang apes nasib gue.”
“Apes membawa nikmat namanya PEA. Bentar lagi kan lo bisa ngenyot pepaya gantung si Syakira huahahaha,” celetuk Cakra.
“Bisa belah duren uhuuuyy,” sahut Anfa.
“Sambil men**sah berjamaah,” sambung Juna.
“Mayan kan udah ngga main sama tante Lux atau Citra lagi,” lanjut Abi.
Gelak tawa kembali terdengar. Teddy dan Rahma hanya menggelengkan kepalanya saja mendengar komentar anak-anaknya. Gurit menepuk keningnya, bisa-bisanya keempat pria itu menertawakan musibah yang menimpanya.
“Orang tua kamu gimana Rit?” tanya Teddy.
“Marah om, disangkanya saya beneran uh ah ama Syakira.”
“Hahahaha...”
Tawa semua yang ada di sana kembali membahana begitu mendengar kata-kata Gurit. Kenzie dan Aric yang tengah tertidur sampai terbangun mendengar tawa kencang di sekitarnya. Tangis keduanya menghentikan tawa mereka. Sekar dan Nina segera membawa anak-anaknya untuk disusui. Sedangkan pembicaraan di halaman belakang terus berlanjut.
“Tapi orang tua kamu setuju kan kalian nikah?”
“Ya mau gimana lagi om. Dari pada anaknya dilaporin ke polisi.”
“Ya udah nikah aja. Siapa tahu ini memang jalan yang diberikan Allah supaya kalian cepat menikah. Rayi yang akan mengurus semuanya dan biayanya om yang tanggung. Kamu siap kan Ray?”
“Siap pa.”
“Aduh saya jadi ngga enak nih om. Saya ke sini cuma mau ngabarin aja, bukannya minta dibiayain nikah.”
“Iya, om tahu. Tapi om emang udah janji. Jadi, kamu ngga usah pikirin biaya. Ngobrol aja sama Rayi, kamu mau pernikahan seperti apa.”
“Makasih banyak om. Saya sih yang penting sah aja sama syukuran buat keluarga dan tetangga dekat aja. Syakira juga udah setuju. Lagian dia malu udah nikah tiga kali, ini pernikahan keempatnya.”
“Haaahh???”
Lagi-lagi semua yang ada di sana dibuat terkejut. Mereka pikir Syakira masih berstatus gadis walau mungkin sudah tidak ting-ting lagi. Tapi ternyata wanita itu sudah tiga kali menikah dan semua berakhir dengan perceraian.
“Punya anak ngga Syakira?” tanya Nadia.
“Punya kak, satu anak cowok. Umurnya empat tahun. Itu anak dari pernikahannya yang kedua.”
“Kok bisa sih dia nikah sampai tiga kali?” Nadia kembali bertanya.
“Yang pertama dijodohin kak. Tapi karena ngga saling cinta, mereka sepakat cerai setelah enam bulan menikah. Nah sama yang kedua, Syakira tuh cinta sampai mereka punya anak. Tapi ternyata suaminya selingkuh sama penyanyi dangdut spesialis hajatan. Nah yang terakhir cuma bertahan dua bulan, ternyata suaminya udah punya tiga istri. Syakira langsung minta cerai begitu tahu.”
Semua hanya manggut-manggut mendengar cerita Gurit. Tak menyangka kalau calon istri sahabat dari Sekar itu adalah janda beranak satu. Tapi dalam hati mereka memuji kebesaran hati Gurit yang mau menerima keadaan Syakira apa adanya, beserta anaknya.
☘️☘️☘️
**Yeeaaayyy hajatan lagi💃💃💃
Siap² ya buat hadir di pernikahannya Gurit & Syakira. Jangan lupa bawa kantong plastik buat bungkus makanan🤣🤣🤣
Oh iya lupa belum kasih lihat foto baby Aric. Nih dia jagoannya mama Sekar sama papa Cakra**.
__ADS_1