KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : The Way of Love


__ADS_3

“Papa..”


Anya memanggil Radix seraya mengalungkan tangannya ke lengan pria itu. Radix terkejut mendengar Anya memanggilnya dengan sebutan papa. Gadis itu membawa Radix ke depan Maya.


“Om,” sapa Maya seraya mencium punggung tangan Radix.


“Papa.. masa dia ngga percaya kalau aku sama mas Irvin udah nikah,” suara Anya terdengar seperti tengah merajuk.


“Ehem..”


Radix hanya berdehem saja. Irvin memang sudah mengatakan tak akan meneruskan hubungannya dengan Maya. Namun dia tak menyangka sang anak akan melibatkan Anya, gadis somplak anak dari sahabat baiknya untuk menyingkirkan Maya.


“Beneran om, Irvin udah nikah sama dia?”


“Bukannya kalian sudah tidak ada hubungan lagi? Jadi sah aja kan kalau Irvin mau menikah dengan siapapun,” jawab Radix. Anya tersenyum senang, ternyata sahabat mamanya ini bisa juga diajak kerjasama.


“Oh iya pa. Aku belum kasih tahu sama papa kalau papa mau punya cucu.”


Uhuk.. uhuk..


Radix terbatuk mendengarnya. Dia melirik ke arah Irvin yang hanya tersenyum saja. Maya semakin kesal mendengarnya. Merasa tak ada yang mendukungnya lagi, gadis itu memilih untuk pergi. Tawa Anya langsung lepas begitu melihat Maya pergi dengan wajah masam.


“Om.. traktir makan dong, aku laper. Anak om jahara, masa aku ngga dikasih makan,” ujar Anya seraya melepaskan pelukan di lengan Radix. Irvin melotot mendengar ucapan gadis itu.


“Kenapa manggilnya jadi om lagi? Terusin aja panggil papa.”


“Ish om mah..”


“Vin, kenapa menantu papa ngga dikasih makan? Kasihan kan calon cucu papa kalau kelaperan,” Radix terus saja menggoda Anya yang pipinya sudah semerah tomat sekarang.


“Dia pengen kue ape, pa. Di sini ngga ada yang jual. Menantu papa ngidamnya aneh-aneh,” Irvin malah ikutan menggoda, membuat Anya semakin mati kutu.


“Papa pulang duluan, ya. Inget istri kamu dikasih makan, hahaha..”


Sambil terus tertawa Radix meninggalkan Anya dan Irvin. Wajah Anya semakin dibuat memerah mendengar celotehan Radix. Dia lupa kalau semua sahabat mamanya juga memiliki otak geser. Irvin mendekati Anya.


“Ayo Yang, kita makan dulu. Kasihan calon anak kita,” goda Irvin.


“Abang nyebelin."


Irvin tergelak melihat wajah Anya yang semakin bersemu merah. Tak tahan terus digoda oleh Irvin, Anya memilih untuk pergi meninggalkannya. Dengan cepat pria itu menyusul langkah Anya.


“Nya..”


“Apa?”


“Emang aku sehebat itu ya sampe cebongku cepet berbuah?”


“Abang…”


Anya menutup wajah dengan kedua tangannya kemudian berlari menuju ke tempat Irvin memarkirkan mobilnya. Irvin tambah tergelak melihat sikap menggemaskan Anya. Hatinya terus berdoa, semoga saja apa yang dilakukan Anya tadi menjadi kenyataan.


☘️☘️☘️


“Aduh perutku penuh banget rasanya.”


Ujar Anya selesai menyantap makan siang di salah satu restoran Sunda. Satu porsi nasi, udang bakar, ayam goreng, tumis kangkung, tempe goreng, sambal dan lalap sukses masuk ke perutnya. Jangan lupakan orange juice yang hampir habis diseruput olehnya. Irvin terkejut melihat selera makan Anya yang cukup besar. Tapi dia senang, gadis itu tak perlu jaim di depannya. Seperti yang dilakukan Maya atau gadis lain yang pernah mencoba mendekatinya.


“Masih mau pesan yang lain?” tawar Irvin.


“Abang mau bikin perutku pecah?”


“Ya kali aja kamu belum kenyang. Kan kamu makan buat dua orang.”


Mata Anya melotot. Irvin masih saja membahas soal kehamilan yang tadi dikatakan di depan Maya. Pria itu malah terpingkal, sepertinya Anya salah menjalankan strategi. Jurus itu justru berbalik menyerangnya. Disambarnya kembali minuman yang masih tersisa lalu menyeruputnya.


“Nanti malem, aku mau ke rumah kamu, Nya.”


“Ngapain?”


“Mau ngelamar kamu. Aku kan harus tanggung jawab udah bikin kamu hamil.”


“Pppffftthhhrr.”


Minuman di mulut Anya langsung menyembur begitu saja mendengar ucapan Irvin. Buru-buru pria itu memberikan tisu pada Anya. Dirinya tak bisa berhenti terpingkal melihat reaksi Anya. Bukan hanya mati kutu, namun wajah Anya sudah memerah layaknya tomat yang kematengan.


“Ayo pulang bang,” ajak Anya sambil berdiri dari duduknya.


Irvin ikut bangun dari duduknya. Keduanya lalu meninggalkan saung tempat mereka makan tadi. Anya menunggu Irvin membuka kunci mobil baru kemudian naik ke dalamnya.


“Sekarang mau langsung pulang?” tanya Irvin seraya memasang sabuk pengamannya.


“Abang harus kasih bayaran dulu ke aku. Kan aku udah nemein abang tadi.”


“Kamu mau bayaran apa?”


“Ajakin aku ke makam tante Nabil.”


Irvin langsung menolehkan kepalanya ke arah Anya. Untuk sesaat pria itu hanya diam memandangi Anya. Selama dua tahun berpacaran dengan Maya, gadis itu tak pernah mengajaknya berkunjung ke makam Nabila, walau Irvin sudah menceritakan tentang mama kandungnya.


“Kenapa bang? Ngga boleh ya? Ngga apa-apa deh, kita pulang aja.”


“Eh ngga, boleh kok. Aku cuma kaget aja kamu minta bayarannya itu.”


“Emang abang pikir aku minta bayaran apa?”


“Kali aja kamu minta dibawa ke KUA gitu.”


“Idiihh.. ngarep.”


“Iyalah ngarep banget. Biar aku bisa membuktikan keperkasaanku diranjang dan buat cebongku berbuah hahaha..”


“Abaaaaang!!”


Sambil terus tertawa, Irvin menjalankan kendaraannya. Anya memalingkan wajahnya ke jendela samping. Dia tak berani bersitatap dengan Irvin, apalagi pria itu selalu menggodanya. Anya memutar otaknya bagaimana caranya agar Irvin berhenti meledeknya.


☘️☘️☘️


Mobil milik Irvin berhenti di depan pemakaman umum. Sebelum masuk ke dalam makam, Anya menyempatkan membeli bunga lebih dulu. Keduanya berjalan menyusuri deretan makam. Kemudian Irvin berhenti di depan makam yang terawat rapih. Anya membaca tulisan di nisan, Nabila Permata Putri binti Syarif Hidayatullah. Gadis itu meletakkan bunga di atas makam.


“Assalamu’alaikum ahlad-diyaar minal mu’miniina wal muslimin. Tante, kenalin aku Anya. Tante pasti belum kenal aku, karena waktu tante pergi aku belum brojol, mami sama papi malah belum bikin adonan aku. Aku anaknya mami Sekar sama papi Cakra, tante pasti kenal mamiku. Kalau kata tante Rindu, mami, om Radix, tante Rindu sama om Gurit tuh tidak terpisahkan, udah kaya kentut sama baunya. Mami sama tante Rindu yang kentut, om Radix sama om Gurit baunya hehehe..”

__ADS_1


Irvin hanya melongo saja mendengar ocehan Anya. Tidak di mana-mana otak somplak gadis itu selalu saja on fire. Kalau saja sang mama benar bisa mendengar apa yang dikatakan gadis itu, mungkin sudah ngakak guling-guling.


“Tante, aku minta maaf ya. Gara-gara aku, pas hari ulang tahun, bang Irvin ngga sempet ke sini. Tadinya aku tuh mau bikin surprise buat bang Irvin, eh malah akunya kena semprot. Bang Irvin galak banget, kue buatanku juga dibuang gitu aja, huhuhu… jahara ya tante. Bisa ngga tante suruh penunggu nih kuburan datengin bang Irvin.”


Ingin rasanya Irvin menjitak kepala Anya. Kalimat-kalimat yang keluar dari bibir gadis itu bisa membuatnya naik darah, naik tensi dan turun bero. Namun seolah tak mempedulikan keberadaan Irvin, Anya terus saja bercerita.


“Tante.. bang Irvin tuh payah banget cari cewek. Masa satu tahun pacaran udah diselingkuhin sama pacarnya. Udah gitu bukannya langsung diputusin malah didiemin, ya si mak lampir pasti kesenengan, berasa jadi pancawati punya cowok lebih dari satu. Tapi tante tenang aja, berkat bantuan Anya yang cantik, pintar dan tidak sombong ini, akhirnya bang Irvin bisa lepas dari tuh mak lampir. Udah dulu ya tante salam perkenalannya, takutnya tante bosen dengerin suaraku yang merdu ini.”


Anya lalu mengangkat kedua tangannya. Bibirnya komat-kamit membacakan doa untuk sang ahli kubur. Tak lama kemudian dia mengusap wajah dengan kedua tangannya. Gadis itu lalu menoleh ke arah Irvin yang sedari tadi hanya diam saja.


“Udah ngocehnya?” tanya Irvin.


“Salam perkenalan, bang.”


“Ma.. udah denger kan tadi salam perkenalan Anya. Ngeselin ya ma? Dia itu emang cewek somplak bin gesrek. Tapi ma, anehnya aku suka sama dia. Aku serius mau ngelamar dia, tapi dianya masih jual mahal. Tapi ma, emang bener dia tadi bantuin aku lepas dari Maya. Dan aku ngga nyangka dia mengungkapkan mimpinya jadi istri aku loh.”


“Mana ada!” sewot Anya.


“Bener ma. Dia tadi ngaku jadi istriku, malah dia bilang lagi hamil anakku. Dia malah bilang aku perkasa di ranjang. Itu berarti impian dia kan ma?”


“Ngga tante..”


“Bener, ma.”


“Ngga tante.”


“Bener ma.”


“Ngga betul, ma.”


“Cieee.. ikutan manggil mama.”


Wajah Anya langsung memerah, lagi dan lagi Irvin sukses memunculkan semburat merah di pipinya. Gadis itu menutup wajah dengan kedua tangannya sebentar. Saat membuka kembali matanya, Anya terkesiap melihat penampakan yang ada di bawah pohon kamboja. Refleks dia memeluk lengan Irvin.


“Kenapa Nya?”


“Bang.. pulang yuk.”


“Ada apa?”


“Ada yang melototin aku, bang. Dia marah kali ngga diajak ngegosip sama aku. Ma.. eh tante.. aku pulang dulu, ya. Tolong bilangin sama neng kunti yang di deket pohon sana, jangan ikutin aku ya.”


Anya membenamkan wajahnya di lengan Irvin. Tak ingin membuat gadis itu ketakutan, Irvin membawa Anya keluar dari area pemakaman. Waktu memang sudah senja, matahari pun sudah bergeser menuju tempat peraduannya. Irvin merangkul bahu Anya, sambil memeluk gadis itu, dia berjalan menuju mobil.


“Nya.. kamu sejak kapan bisa lihat makhluk astral,” tanya Irvin saat pria itu sudah menjalankan kendaraannya.


“Dari kecil bang. Tapi cuma selintas-selintas aja. Pas umur dua belas tahun, baru tuh aku bisa lihat jelas penampakan. Semakin ke sini aku semakin sering lihat mereka. Kata pak ustadz aku tuh punya aura yang disukai sama makhluk halus. Semakin bertambah umur, semakin banyak yang coba deketin aku.”


“Serem juga ya.”


“Iya bang.”


“Ngga bisa diobatin gitu? Ditutup mata batin kamu?”


“Pernah bang, tapi cuma sebentar terus bisa lihat lagi. Katanya sih nanti kalau aku udah nikah baru kemampuan itu bisa hilang. Kaya papi, sekarang udah ngga bisa lihat makhluk astral lagi.”


“Oh gitu. Ya udah nanti aku secepatnya deh dateng ke rumah buat ngelamar kamu.”


Irvin tergelak, tangannya bergerak mengusak puncak kepala Anya. Rasa sukanya benar-benar telah berganti dengan rasa sayang dan cinta. Secepatnya dia ingin memiliki gadis itu. Namun sepertinya Anya masih belum memiliki perasaan untuknya.


Mobil yang membawa mereka akhirnya memasuki kompleks perumahan di mana Anya tinggal. Setelah melewati pos penjagaan, Irvin berhenti di depan rumah bercat hijau. Pria itu segera melepaskan sabuk pengamannya dan langsung membantu Anya membuka tautan seat belt. Dia masih bertahan dengan posisinya yang berada dekat dengan Anya.


“Nya.. makasih ya buat hari ini.”


“I.. iya, bang,” Anya gugup sendiri karena posisi Irvin yang begitu dekat dengannya.


“Jangan kapok ya jalan bareng aku.”


“Ngga bang.”


“Kamu bener kan mau kasih aku kesempatan?”


“Iya.”


“Makasih. Aku mau kasih hadiah biar kamu ngga lupa sama aku.”


“Apa?”


CUP


Mata Anya membelalak ketika Irvin mencium pipinya. Pria itu mengulum senyum melihat rona merah di pipi Anya. Untuk sesaat gadis itu masih tergugu sebelum akhirnya sadar dan buru-buru turun dari mobil. Tanpa menoleh ke arah mobil lagi, Anya bergegas masuk ke dalam rumah. Irvin meraba dadanya yang berdegup kencang saat mencium Anya. Bukan hanya Anya yang tidak akan melupakan ciuman itu, tapi juga dirinya. Sambil tersenyum, Irvin menjalankan kendaraannya lagi.


☘️☘️☘️


Dengan tenang Viren memasuki gedung perkantoran Blue Sky. Sudah sejak dua hari lalu, dirinya bekerja di kantor tersebut, mengganti sekretaris papanya yang pensiun. Bukan hal mudah bekerja di bawah bimbingan Kevin. Viren dituntut bekerja cepat, tepat, efisien dan perfect. Beberapa kali dia menerima teguran di hari pertamanya bekerja.


Akhirnya Viren mengalami bagaimana rasanya menjadi Kenzie yang bekerja di bawah didikan keras ayahnya. Mungkin dirinya sedikit beruntung karena menurut rumor yang didengar, kekejaman Kevin masih kalah dibanding dengan Abimanyu. Pria itu bisa membuat seorang pegawai mengundurkan diri di hari pertamanya bekerja. Viren tak bisa membayangkan bagaimana jika dia yang ada di posisi Kenzie.


“Bahan untuk meeting nanti siang sudah siap?” tanya Kenzie yang sudah tiba lebih dulu.


“Sudah pa.”


“Ini kantor, bukan rumah!”


“Maaf, sudah pak.”


“Ini.. susun berkas ini lalu berikan pada pak Juna.”


Kevin meletakkan beberapa berkas di meja Viren kemudian kembali ke mejanya. Viren bergegas mengerjakan apa yang diperintahkan atasannya, kalau tidak sudah pasti omelan pedas akan masuk ke gendang telinganya. Mungkin ini alasan sebenarnya sang kakak tidak mau bekerja satu kantor dengan papanya.


Setelah berkutat selama sembilan puluh menit, akhirnya Viren dapat menyelesaikan pekerjaannya. Sesuai intsruksi, dia membawa berkas tersebut ke ruang Juna. Tora sekretaris Juna hanya menganggukkan kepalanya saja pada Viren. Sejak lima tahun lalu Tora menjabat sebagai sekretaris Juna, karena Darian sudah ditarik Anfa untuk membantunya mengelola Ocean Company.


TOK


TOK


TOK


“Masuk!”


Viren segera masuk ke dalam begitu mendengar suara Juna. Pria itu berjalan mendekati meja kerja Juna lalu meletakkan berkas di atasnya. Dengan gerakan tangan Juna mempersilahkan Viren untuk duduk. Diaihnya berkas yang dibawa Viren lalu membacanya dengan seksama.

__ADS_1


“Bagus.. saya puas dengan pekerjaanmu. Tapi kamu harus banyak belajar dari pak Kevin.”


“Iya, pak.”


“Apa kamu bisa membuat proposal penawaran untuk tender yang akan diadakan pemerintah bulan depan?”


“Bisa pak.”


“Bagus. Minta pak Kevin untuk membimbingmu.”


“Iya pak.”


Juna berdiri dari duduknya lalu mengajak Viren berpindah ke sofa. Pembawaan Juna yang santai, membuat ketegangan Viren sedikit mereda. Ini pertama kalinya dia berhadapan dengan Juna di kantor. Pria itu lalu mendudukkan bokongnya di sofa yang berhadapan dengan Juna.


“Bagaimana rasanya bekerja satu kantor dengan papamu?”


“Jujur om? Mengerikan.”


Terdengar tawa Juna mendengar jawaban Viren. Tak disangka pria yang biasanya terlihat dingin dan kaku ternyata bisa merasakan takut juga bekerja di bawah bimbingan ayahnya. Ketegasan dan sikap profesional Kevin memang tidak diragukan lagi.


“Om mau tanya soal Lisda. Apa rencanamu?”


“Sore nanti aku janji bertemu dengannya om. Om tenang saja, aku akan membuat Lisda menjauh selamanya dari Alisha.”


“Lalu Reymond?”


“Rencana untuk Reymond nanti aku pikirkan setelah bertemu dengan Lisda. Aku harus mencari tahu dulu tujuan dan rencananya.”


“Ok, om percayakan semuanya sama kamu. Tapi kalau kamu butuh bantuan, katakan saja.”


“Iya, om. Masih ada yang mau dibicarakan?”


“Ngga ada. Nanti tolong panggilkan saja papamu ke sini.”


“Baik, om. Aku permisi.”


Viren bangun dari duduknya lalu keluar dari ruangan Juna. Belum juga dia sampai di ruangan, Kevin sudah lebih dulu menuju ruangan Juna. Viren hanya menundukkan kepalanya saja pada atasannya ini lalu masuk ke dalam ruang kerjanya.


☘️☘️☘️


Seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Lisda memasuki restoran bintang lima. Pelayan wanita yang bertugas menyambutnya kemudian membawa wanita itu menuju private room yang ada di lantai atas. Begitu pintu terbuka, nampak Viren sudah duduk menunggunya. Lisda memasuki ruangan kemudian mendudukkan diri di depan Viren.


Suasana private room begitu sunyi, masih belum ada pembicaraan antara kedua orang tersebut. Lisda hanya memandangi Viren yang masih sibuk dengan ponselnya. Dilihat dariwajahnya, Lisda menebak pria yang mengajaknya bertemu adalah anak dari Kevin. Sejak dulu sampai sekarang pertahanan keluarga Hikmat memang tidak bisa ditembus. Dia bersyukur Juna tidak mmemberinya hukuman berat atas permintaan Alisha. Namun faktor ekonomi yang menghimpit membuat dia harus berani berhadapan kembali dengan keluarga Hikmat.


Setelah membalas semua e-mail yang masuk, Viren memasukkan kembali ponsel ke dalam saku jasnya dan mulai fokus pada Lisda. Mata tajam Viren memindai Lisda dari atas sampai bawah, membuat wanita itu bergidik.


“Apa maksudmu mendekati Alisha lagi?” akhirnya terdengar juga suara Viren.


“Aku hanya ingin meminta maaf.”


“Jangan membohongiku, atau hukumanmu akan bertambah berat.”


“Aku membutuhkan uang untuk membayar hutangku dan Reymond berjanji akan membantu melunasi hutang asalkan aku mau membantunya,” akhirnya Lisda memilih untuk jujur.


“Apa yang diinginkan Reymond?”


“Membuat Alisha jatuh cinta.”


“Dengan cara apa?”


“Aku harus datang mengganggunya lagi dan dia akan menjad pangeran berkuda putih yang menyelamatkannya dariku. Itu hanya langkah untuk membuka jalan menuju Alisha. Selanjutnya dia akan berusaha membuat Alisha jatuh cinta padanya. Dengan begitu dia bisa menikahi Alisha dan membantu ayanya mendapatkan posisi CEO di perusahaan keluarganya.”


“Kenapa dia begitu yakin bisa membuat Alisha jatuh cinta.”


“Selain tampan, Reymond juga pandai menarik hati perempuan, mulut manis, perhatian, lemah lembut. Semua kriteria yang diinginkan perempuan ada dalam dirinya.”


Viren berdehem, perkataan Lisda tentang Reymond seakan menyindirnya. Semua kriteria yang disebutkan wanita itu bertolak belakang dengan dirinya.


“Bagaimana jika dia tidak berhasil membuat Al jatuh cinta?”


“Dia akan menempuh cara lain, mungkin saja memikat Al dengan pelet.”


Terdengar tawa Viren menyambut ucapan Lisda barusan. Dia teringat jargon dahulu yang begitu populer, cinta ditolak, dukun bertindak. Tapi sebagai orang yang berpikir rasional, tentu saja Viren tidak bisa begitu saja mempercayai hal pelet memelet.


“Reymond itu orang yang cerdas. Dia tidak mungkin melakukan hal seperti itu.”


“Mungkin dia tidak akan pergi ke dukun. Tapi dia bisa saja meminta seseorang untuk menghipnotis Al. Aku sempat dengar dia mencari beberapa psikiater atau psikolog yang memiliki kemampuan hynotherapy. Bukan tidak mungkin dia meminta orang itu mensugesti Al untuk mencintainya.”


Dalam hati Viren membenarkan ucapan Lisda. Reymond bisa saja menggunakan trauma Alisha pada Lisda untuk membawanya ke psikolog untuk berkonsultasi dan memanfaatkan hal tersebut untuk memberikan sugesti lain pada gadis itu.


“Reymond akan menjadi urusanku. Aku minta kamu tidak mengganggu Alisha lagi. Berapa hutang yang harus kamu bayar?”


“70 juta.”


“Hanya demi uang 70 juta kamu ingin membahayakan hidup Alisha lagi?”


“Mungkin bagimu uang sebesar itu tidak ada artinya. Tapi tidak bagiku!”


“Lalu.. apa itu kesalahan Al, kamu punya hutang sebesar itu?”


Lisda tak menjawab pertanyaan Viren. Wanita itu hanya menundukkan kepalanya. Viren membuka tas kerjanya lalu mengeluarkan selembar kertas dan amplop berwarna coklat. Dia menyodorkan amplop coklat tersebut pada Lisda.


“Itu uang seratus juta. Gunakan untuk melunasi hutang-hutangmu, tapi sebelumnya tanda tangani kertas ini.”


Lisda mengambil selembar kertas yang terdapat materai di atasnya. Itu adalah surat pernyataan yang dibuat Viren. Dengan seksama wanita itu membaca baris demi baris yang tertera di sana.


Saya yang bertanda tangan di bawah ini, berjanji tidak akan menampakkan diri atau mendekati Alisha lagi. Jika di kemudian hari saya melanggar janji saya, maka saya bersedia menerima sanksi berupa :


1. Di penjara selama 15 tahun.


2. Dibuang ke pulau A dan tinggal di sana seumur hidup.


3, Menjadi relawan di panti jomblo seumur hidup tanpa digaji.


“Kalau kamu melanggar perjanjian, kamu akan terkena sanksi, kalau kamu mencoba kabur, kami pasti akan menemukanmu. Tapi tidak usah khawatir, kamu hanya memilih salah satu hukuman, tidak harus menjalani semuanya.”


Lisda menelan ludahnya kelat, tidak ada satu pun opsi yang bisa dipilihnya. Semua hukuman sama beratnya. Wanita itu mengambil pulpen yang sudah disediakan kemudian menandatangi surat perjanjian tersebut. Uang yang diberikan Viren sudah cukup untuk membayar hutang, sisanya akan digunakan untuk pindah ke kampung halaman dan memulai usaha di sana. Setelah urusannya dengan Viren selesai, Lisda pun bergegas pergi.


Viren memasukkan surat perjanjian yang sudah ditanda tangani oleh Lisda ke dalam map. Satu masalah sudah selesai, kini tinggal mengurus masalah Reymond. Viren mengambil ponselnya lalu melihat sisa saldo tabungannya. Uang yang diberikan pada Lisda adalah uang pribadinya yang dikumpulkan dari sisa uang saku yang diberikan orang tuanya dan hasil ngamen bersama The Myth. Sepertinya dia harus mulai menabung lagi dari sekarang karena sisa tabungannya hanya tinggal sedikit.


☘️☘️☘️

__ADS_1


Viren.. demi Al, nguras tabungan🤭


__ADS_2