
“Mas jalan-jalan yuk,” ajak Nina ketika jam kantor telah usai.
Abi tak menjawab, dia masih saja membereskan berkas-berkas di atas meja. Nina berdiri kemudian menghampiri Abi. Dipeluknya lengan Abi, membuat lelaki itu menghentikan gerakannya saat akan mematikan laptop.
“Mas.. ayo jalan-jalan,” pinta Nina dengan nada manja.
Abi memandang ke arah Nina. Dia cukup bingung dengan sikap Nina yang tiba-tiba manja padanya. Refleks Abi melepaskan tangan Nina lalu bergerak mundur. Kini giliran Nina yang terkejut.
“Mas..”
“Siapa kamu?”
“Mas.. ini aku.. Nina.”
“Bukan.. kamu bukan Nina.. kamu pasti penunggu pohon yang ada di depan gedung ini.”
PLAK
Nina memukul lengan Abi, pria itu terbahak melihat ekspresi kesal Nina. Diacaknya rambut gadis itu, membuat Nina semakin kesal.
“Mas Abi nyebelin!”
“Hahaha...” Abi menarik bahu Nina hingga tubuh keduanya menempel.
“Kamu mau jalan-jalan ke mana?”
“Ngga tau. Mas dong mikir.”
“Males. Aku udah cape mikirin perusahaan, sekarang disuruh mikir destinasi jalan-jalan. Kamu aja yang mikir, ini otak kenapa ngga dipake.”
PLETAK
Abi menyentil pelan kening Nina. Tangan Nina bergerak mengusap keningnya seraya memajukan bibirnya. Gemas melihatnya, Abi mengecup bibir yang tengah maju beberapa senti. Nina kembali memukul lengan Abi.
“Kita ke cafe temanku aja, makan sambil menikmati pemandangan kota Bandung.”
“Hmm.. boleh mas.”
“Ayo.”
Abi merangkul mesra pinggang Nina. Keduanya berjalan keluar dari ruangan. Mereka langsung menuju basement. Semenjak bisa berjalan lagi, Abi sudah tidak menggunakan supir untuk pergi ke kantor.
Saat sedang menuju mobil, mereka melihat Ruby tengah berjongkok di depan mobilnya. Gadis itu memandangi ban mobilnya yang kempes. Nina menarik Abi untuk menghampirinya. Walau enggan, Abi ikut saja.
“Kenapa mobilnya?” tanya Nina.
“Ini bannya kempes.”
“Ada ban serepnya ngga?”
“Ada.”
“Panggil security, minta mereka membantumu. Ayo sayang.”
Abi segera menarik Nina menuju mobilnya. Ruby menatap kesal ke arah Abi. Pria itu tak pernah bersikap manis sekali pun padanya. Ruby seperti menemui jalan buntu untuk mendekati lelaki itu. Abi membangun tembok pertahanan yang begitu tinggi dan tebal. Bukan Abi yang berhasil digodanya, tapi kini justru Ruby yang mulai menaruh hati padanya. Sikap dingin Abi menjadi daya tarik tersendiri bagi gadis itu.
☘️☘️☘️
Abi menghentikan kendaraannya di sebuah cafe yang berada di dataran atas daerah Dago. Tertera nama The Cliff Cafe yang terukir di salah satu batu besar yang berada di dekat pintu masuk cafe. Nina memandang takjub pada bangunan cafe yang terletak di sisi tebing. Mungkin ini alasannya cafe tersebut dinamakan The Cliff.
“Ini cafe temannya mas Abi?”
“Hmm..”
“Posisinya pas banget di pinggir tebing. Ngga takut kalau ada longsor apa?”
“Sejauh ini sih aman-aman aja. Arsitekturnya juga sudah memperhitungkan semuanya.”
“Tapi kalau hujan besar agak ngeri juga.”
Abi hanya mengendikkan bahunya. Dia menghela pinggang Nina lalu membawa gadis itu masuk ke dalam cafe. Walau bukan hari week end, namun cafe milik temannya ini cukup ramai juga. Selain rasa makanan, sepertinya letak dan artistik bangunan cafe juga menjadi salah satu daya tarik cafe ini.
Kedatangan Abi disambut oleh langsung yang sang empu cafe. Seorang pria seumuran Abi dengan tubuh sedikit gempal menghampirinya. Dengan wajah sumringah dia menjabat tangan Abi. Mereka berpelukan ala laki-laki untuk melepaskan rasa rindu. Pria itu mengajak Abi ke salah satu meja.
“Sumpah Bi, gue senang banget lihat lo udah pulih. Kenapa ngga ngabarin sih? Kalau bukan Nadia yang kasih tahu, gue ngga tahu lo udah pulih,” cerocos pria itu. Abi hanya terkekeh. Temannya ini memang mempunyai mulut yang kadar cerewetnya cukup tinggi.
“Kenalin ini Nina, calon istri gue.”
“What?” pria itu segera menyalami Nina seraya menyebutkan namanya.
“Desta.”
“Vincent-nya mana?” celetuk Nina. Desta mengerutkan kening sebentar tapi kemudian dia terbahak.
“Vincent lagi jaga lilin, nih gue nya lagi keliling dulu cari duit di sini hahaha..”
__ADS_1
Nina ikut tertawa, teman Abi ini ternyata kadar somplaknya hampir sama dengan Cakra. Desta segera mempersilahkan kedua tamu istimewanya untuk duduk.
“Gue seneng lo udah bisa move on, Bi. Dan gue acungin jempol buat elo, calon istri lo cantik badai,” Desta memandangi Nina penuh kekaguman.
“Biasa aja tuh mata, tar gue colok nih.”
“Wow... sejak kapan lo posesif kaya gitu bro.”
Desta menepuk bahu Abi cukup kencang. hampir setahun dirinya tidak bertemu dengan temannya itu, tapi ternyata pria itu cukup berubah. Abi memang terkenal dingin dan cuek, tapi dia bukanlah tipe pria posesif. Terbukti dulu Fahira dibiarkan bergaul dekat dengan siapapun, termasuk dirinya.
“Kenal Abi di mana Nin?”
“Dia yang ngerawat gue dan bantu gue sampai bisa jalan lagi,” sambar Abi.
“Dih gue nanya Nina kenapa lo yang jawab.”
“Suka-suka gue lah. Gimana kabarnya Feby?”
“Alhamdulillah baik. Sekarang dia lagi hamil 5 bulan.”
“Wah tokcer juga, nikah 3 bulan langsung isi. BTW sorry ya waktu itu gue ngga bisa dateng ke nikahan elo.”
“Santai ae bro.. yang penting angpau lo nyampe hahaha..”
“Dasar mata duitan. Nin.. aku ke toilet dulu. Eh awas lo jangan gangguin pacar gue.”
“Udeh sono, tar keburu pipis di sini lo.”
Abi menoyor kepala temannya ini kemudian bergegas menuju toilet. Melihat Abi sudah masuk ke dalam toilet, Desta menggeser duduknya lebih dekat dengan Nina. Dia cukup penasaran dengan sosok Nina yang bisa menaklukkan beruang kutub model Abi.
“Nin.. kalian udah lama pacarannya?” Desta memulai interogasinya.
“Sebenernya kita ngga pacaran bang. Dia langsung lamar aku jadi istrinya. Eh ngga apa-apa kan aku panggil abang, soalnya aku ngga boleh manggil mas ke orang lain selain mas Abi.”
“Bhuahahaha... sejak kapan tuh orang jadi posesif gitu. Emang siapa yang kamu panggil mas selain dia?”
“Waktu itu aku manggil bang Cakra pake sebutan mas, eh dia langsung sewot.”
“Set.. beneran posesif dia. Padahal dia ngga pernah cemburu sebelumnya sama Cakra. Wow you are so amazing Nin,” Desta bertepuk tangan.
Nina cukup terkejut juga mendengar penuturan Desta, namun tak ayal dia tersenyum ternyata Abi bersikap posesif hanya pada dirinya. Hatinya bertambah yakin kalau Abi benar-benar mencintainya.
“Aku ngga tau apa yang udah kamu lakuin dan bagaimana proses kalian sampai bisa sampai pada tahap ini, tapi yang pasti aku berterima kasih sama kamu Nin. Kamu sudah mengembalikan Abi seperti dulu. Dia temanku, walau hubunganku dengannya tidak sedekat Cakra atau Jojo, tapi aku menyayanginya sebagai teman. Dia salah satu teman terbaik yang kupunya. Aku cukup terkejut dengan apa yang terjadi padanya dulu. Yaaa.. walau pun aku tahu Fahira bukan perempuan baik-baik, tapi aku ngga nyangka aja dia tega khianatin Abi dengan sepupunya sendiri setelah apa yang Abi lakukan untuknya.”
“Aku juga dengar hal yang sama soal Fahira dari Sekar. Tapi kalau memang dia bukan perempuan baik, kenapa mas Abi bisa segitunya cinta sama Fahira?”
Desta benar-benar bahagia, setelah lama tak bertemu dengan Abi, temannya itu datang dengan membawa kabar bahagia. Dan kondisinya juga jauh lebih baik dari terakhir mereka bertemu. Desta menepuk pelan pundak Nina.
“Eh.. siapa suruh lo pegang-pegang Nina!”
Desta juga Nina terjengit mendengar suara Abi. Dengan langkah panjang, Abi mendekat ke arah meja. Matanya menatap horor pada Desta. Bukannya takut, pria itu malah cengar-cengir membalas tatapan Abi.
“Biasa aja tuh mata, udah mau loncat aja. Gue cuma mengakrabkan diri sama calon istri teman gue.”
“Ngga usah pake pegang-pegang juga kan.”
“Astaga ini beneran elo Bi,” Desta menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Lo tuh sebagai pemilik cafe keterlaluan ya. Gue ke sini mau makan, tapi jangankan makanan, minuman juga ngga disodorin.”
“Hahaha.. sorry.. sorry.. saking senengnya ketemu elo, gue sampai lupa. Lo pesen makanan seperti biasa kan? Kalo Nina mau apa?”
“Samain aja, dia kan pemakan segala.”
Nina dengan kesal memukul lengan Abi. Desta kembali terbahak, temannya ini berubah seratus delapan puluh derajat saat bersama Nina. Selain posesif, Abi juga lebih banyak bicara sekarang.
“Gimana kalau kalian makannya di atas. Tempatnya lebih cozy, kalian bisa makan sambil menikmati pemandangan.”
Desta berdiri lalu memandu temannya itu menuju lantai atas. Ketiganya menaiki tangga yang terbuat dari bebatuan. Nina berdecak kagum sesampainya di atas. Ada tiga buah bangunan semi permanen, di sana terdapat sofa besar yang bentuknya mirip kasur, sebuah meja dan rak yang terdapat selimut.
Tiga bangunan tersebut sengaja dibuat saling membelakangi dengan tampilan depan langsung menghadap pemandangan alam. Desta mengajak Abi dan Nina ke salah satu bangunan yang memiliki pemandangan paling bagus.
“Gue tinggal dulu ya. Bentar lagi makanan datang. BTW kalau mau DP malam pertama juga boleh kok,” goda Desta.
Wajah Nina merona mendengar ucapan absurd Desta. Pria itu bergegas turun begitu melihat tatapan horor Abi sambil tak henti terpingkal.
Nina memilih keluar lalu berdiri di pinggi tebing, menikmati pemandangan dan semilir angin. Abi mendekat lalu memeluknya dari belakang. Tubuh Nina terasa lebih hangat ketika tubuh kekar itu mendekapnya.
“Kamu suka?”
“Hmm.. suka mas.. pemandangannya bagus.”
Abi mengeratkan pelukannya seraya menaruh dagunya di ceruk leher Nina. Keduanya asik menikmati pemandangan, sampai pelayan datang mengantarkan hidangan. Abi menggandeng tangan Nina menuju tempat mereka.
Selesai makan, Abi pamit pada Nina untuk bertemu dengan Desta. Temannya itu ingin membicarakan perihal perkembangan cafe. Abi memang mengucurkan sejumlah modal pada temannya itu. Namun dia tak pernah meminta keuntungan, laba yang diperolehnya digunakan untuk pengembangan cafe.
__ADS_1
Tak banyak waktu yang dihabiskan Abi untuk berbincang. Dia tak ingin meninggalkan Nina terlalu lama. Saat dirinya akan kembali ke atas, telinganya mendengar seseorang memanggil namanya.
“Kak Abi."
Abi menoleh, dilihatnya Rayi berdiri di belakangnya dengan seorang pemuda. Perhatian Abi langsung tertuju pada pemuda di samping Rayi. Sekilas, wajah pemuda itu mirip Nina. Abi tercenung menatap pemuda itu.
Wajahnya mirip dengan Nina, apa dia Anfa? Tapi Gean juga sedikit mirip dengan Anfa, hanya bentuk dan warna rambut mereka berbeda. Anfa berambut lurus dan hitam. Kalau Gean, sedikit ikal dan kecoklatan.
Abi mengamati dengan seksama pemuda di depannya ini. Wajahnya tampan, rambutnya sedikit ikal dengan warna kecoklatan. Rayi yang merasa diabaikan melambaikan tangan ke depan wajah Abi, membuat pria itu tersentak.
“Kak Abi malah bengong.”
“Ngapain kamu di sini?”
“Ya makanlah, masa mau macul. Eh iya kenalin ini Gean, pacarku.”
Gean mengulurkan tangannya ke arah Abi seraya menyebutkan namanya. Abi membalas uluran tangan Gean. Sikap pemuda itu begitu sopan padanya.
“Kak Abi, di kantornya buka lowongan ngga? Kebetulan Gean lagi cari kerjaan. Dia itu fresh graduated, lulusan terbaik di fakultasnya.”
Gean menyenggol lengan Rayi. Dia tak enak hati, Rayi langsung berkata seperti itu. Tapi kekasihnya cuek saja. Sejak menangani pernikahan Abi, Rayi sudah cukup mengenal pria itu. Dibalik sikap dinginnya, Abi adalah pria yang baik. Hal itulah yang membuat Rayi berani menanyakan perihal pekerjaan.
“Hmm.. jurusan apa?”
“Manajemen pak.”
“Kak.. jangan panggil pak, berasa tua katanya,” bisik Rayi namun masih bisa terdengar oleh Abi.
“Rayi pacar kamu?”
“Iya pak eh kak.”
“Kok mau sih pacaran sama dia? Ngga rugi kamu pacaran sama dia?”
Gean hampir tertawa mendengarnya, berbeda dengan Rayi yang telah memasang wajah perang. Abi mengambil dompetnya, diambilnya kartu nama dari dalamnya kemudian memberikannya pada Gean.
“Kebetulan di kantor sedang ada posisi kosong, tapi kami tidak membuka lowongan secara terbuka. Kirim saja CV kamu ke e-mail.”
“Terima kasih kak,” Gean terlihat sumringah.
“Makasih ya kak,” ucap Rayi senang.
“Jangan geer kamu. Saya nawarin dia kerjaan biar dia punya banyak pilihan. Di kantor saya banyak perempuan cantik dan pintar. Kasihan kalau dia terjebak sama kamu.”
Abi meninggalkan Rayi dengan santainya, tanpa mempedulikan geraman kesal gadis itu. Gean tak bisa menahan tawanya, dia menarik Rayi keluar dari cafe diiringi cerocosan kekasihnya itu.
“Asli ngeselin banget tuh orang,” sungut Rayi.
“Dia cuma becanda Ray.”
“Becanda dari mana? Mukanya serius gitu. Kamu beneran mau ngelamar ke sana?”
“Iyalah. Peluang ini Ray, Metro East tuh perusahaan besar. Aku bisa nabung buat kita nikah nanti.”
Mendengar kata pernikahan, kekesalan Rayi lenyap sudah. Kini wajahnya mulai menampakkan senyum manis. Gean memberikan helm padanya, tak lama keduanya sudah berada di atas Yamaha Vixion dan meluncur pergi.
Sementara itu Abi juga mengajak Nina pulang. Keduanya menuruni anak tangga yang disambut oleh Desta. Setelah berbincang sebentar, keduanya pamit pulang.
“Mas.. besok mau ikut belanja hantaran ngga?”
“Ngga bisa, aku banyak kerjaan. Kak Juna kan lagi cuti bulan madu, jadi aku harus bantu Kevin. Mereka lagi banyak proyek.”
“Tapi kalau fitting baju bisa kan?”
“Kapan?”
“Lusa, di butik Madam Lee.”
“Ok.”
Abi mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Telinganya terus mendengarkan Nina yang menceritakan persiapan pernikahan mereka dan menanggapi seperlunya. Abi sengaja tidak mengatakan perihal Gean pada Nina. Dia ingin menyelidiki lebih dulu soal pemuda itu.
☘️☘️☘️
**Abi kayanya punya dendam pribadi ya sama Rayi😂
Kira² Gean itu Anfa bukan?
Nih mamake kasih visualnya.
Rayi, objek penderita setiap ketemu Abi**
Gean, yang disangka Anda
__ADS_1