
Dua hari sudah enin berpulang ke rahmatullah. Selama dua hari ini bu Teni terus mendampingi Adinda. Membantu gadis itu menyiapkan kebutuhan untuk tahlilan. Pak haji Soleh menanggung semua biaya pemakaman enin. Sedang untuk acara tahlilan didapat dari kas RT.
Malam ini sehabis tahlilan, bu Teni terus membujuk Adinda untuk makan. Sedari pagi anak itu belum memakan apapun. Kerjanya hanya duduk dengan pandangan kosong. Bahkan Adinda tidak menyentuh ponselnya sama sekali.
Bu Teni datang dengan membawa piring nasi beserta ponsel yang diambilnya dari kamar. Sedari tadi ponsel tersebut terus berdering. Diberikannya ponsel kepada Adinda. Gadis itu melirik ponselnya yang tengah berdering, panggilan dari kang Doni. Pria yang memberinya pekerjaan berjualan bunga.
Sampai deringan berhenti, Adinda tak jua mengangkatnya. Dia lalu membuka beberapa pesan whatsapp yang masuk. Hanya ada pesan dari Radix yang menanyakan keadaannya serta beberapa pesan spam. Adinda mendesah pelan ketika tak ada satu pun pesan dari Jojo. Mungkin saja pria itu sedang sibuk atau bisa jadi telah melupakannya.
“Din.. hayu makan dulu. Dari pagi kamu belum makan apa-apa.”
“Dinda ngga laper bu.”
“Dipaksain makan ya. Nanti kamu sakit. Kalau enin tahu kamu begini, pasti enin sedih lihat kamu begini,” bujuk bu Teni.
Adinda meraih sendok lalu mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Bu Teni tersenyum, bujukannya berhasil. Baru saja tiga suap makanan masuk ke dalam mulut Adinda. Tiba-tiba saja datang seorang wanita mengejutkan mereka.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawan Adinda dan bu Teni bersamaan.
Adinda yang mengenal wanita yang baru datang itu segera menghampirinya. Wanita itu adalah Endang, pemilik rumah yang ditinggalinya.
“Bu Endang, ada apa malam-malam ke sini?”
“Saya mau nagih uang kontrakan.”
“Uang kontrakan? Maaf bu, saya sudah bayar. Seperti biasa saya titipkan ke pak Jajang.”
“Saya tidak menerima uang dari kamu. Sudah enam bulan kamu nunggak kontrakan.”
“Astagfirullah bu. Saya ngga pernah nunggak, saya selalu bayar tepat waktu. Silahkan tanya ke pak Jajangnya.”
Jajang adalah adik ipar dari Endang. Dia yang ditugaskan wanita itu untuk menagih uang kontrakan pada Adinda. Gadis itu selalu membayar tepat waktu setiap tanggal 5. Mendengar ucapan Endang, tentu saja Adinda terkejut. Teni yang juga mengetahui hal tersebut mencoba membela anak tersebut.
“Maaf bu Endang, apa yang dikatakan Dinda benar. Dia selalu bayar tepat waktu pada Jajang.”
“Tapi saya ngga menerima uang itu!”
“Ya itu urusan ibu sama Jajang, jangan nagih lagi ke Dinda. Dia kan sudah melaksanakan kewajibannya membayar kontrakan,” ibu Teni ikutan emosi.
“Bukankah waktu terakhir saya ke sini saya sudah bilang untuk langsung menyetorkan uang kontrakan pada saya bukan melalui Jajang lagi. Apa enin kamu lupa kasih tahu kamu?”
“Maaf bu, mungkin enin lupa. Tapi saya benar sudah membayar.”
“Saya ngga mau tahu. Kamu harus bayar lagi pada saya. Uang kontrakan selama enam bulan, total 4,5 juta, sekarang!”
“Astaghfirullahaladzim, teunteuing pisan jelema teh! (keterlaluan sekali nih orang). Ibu jangan nagih uang kontrakan lagi sama Dinda, dia udah bayar! Lagi pula apa ibu ngga lihat ada bendera kuning di depan rumah? Enin baru aja meninggal!”
“Saya ngga mau tahu! Pokoknya saya mau kamu bayar kontrakan selama enam bulan dan keluar dari rumah ini malam ini juga!”
Bu Teni yang kesal mendengar ucapan Endang merangsek maju. Dijambaknya rambut wanita sombong itu sampai menjerit kesakitan. Tak mau kalah Endang juga balas menjambak rambut Teni. Adegan jambak menjambak pun segera terjadi. Adinda berusaha melerai namun tubuh kecilnya tak mampu memisahkan kedua wanita yang sudah dikuasai emosi. Adinda berlari keluar rumah untuk mencari bantuan.
Adinda kembali dengan pak RT dan beberapa warga lainnya. Mereka segera memisahkan Teni dan Endang yang masih berkelahi. Pak RT memegangi Teni yang terus memberontak ingin menghajar Endang.
“Tenang bu Teni, tenang. Ada apa ini?”
“Tuh perempuan sialan! Seenaknya dia nagih uang kontrakan yang sudah dibayar Dinda terus ngusir Dinda dari rumah ini!”
“Apa benar bu? Saya mohon jangan seperti ini. Dinda tengah berduka, enin baru saja meninggal dunia.”
“Saya ngga peduli! Ini rumah saya, saya mau dia keluar malam ini. KELUAR!!!”
Suara Endang terdengar menggelegar. Teni bertambah emosi, dia kembali merangsek maju namun segera ditahan oleh pak RT. Adinda masuk ke dalam kamar. Dia membereskan semua pakaian miliknya juga milik enin. Kemudian memasukkan beberapa barang lain yang menjadi miliknya. Tak lama dia keluar dengan membawa dua buah tas besar.
“Saya mohon jangan ada keributan lagi. Saya akan keluar dari rumah ini sekarang.”
Semua terkejut mendengar keputusan Adinda. Gadis itu tak punya pilihan lain kecuali mengikuti keinginan Endang. Dia tak ingin menjadi penyebab keributan. Endang tersenyum penuh kemenangan. Usahanya mengusir Adinda dari rumah kontrakan miliknya berhasil.
“Terus bayaran uang kontrakan yang enam bulan gimana?”
“Maaf bu, saya sudah membayarnya lewat pak Jajang. Tapi kalau ibu bersikeras, tolong kasih saya waktu untuk membayarnya. Saya tidak pegang uang saat ini.”
“Bu Endang, mohon jangan seperti ini. Dinda sudah membayar uang kontrakan pada Jajang. Kalau ibu tidak percaya, coba tanya saja pada Jajang.”
__ADS_1
“Jajang ngga ada, dia udah pindah ngga tahu kemana. Makanya saya minta kamu bayar ke saya sekarang. Saya juga lagi butuh uang.”
“Tapi sekarang saya ngga pegang uang sebanyak itu bu. Saya cuma punya segini.”
Adinda mengeluarkan semua uang di dompetnya, pemberian dari Jojo yang hanya tinggal tersisa tujuh ratus ribu rupiah. Dengan cepat Endang menyambar uang tersebut, lalu pandangannya tertuju pada ponsel Adinda. Secepat kilat diambilnya ponsel tersebut.
“Ini hp mahal kan? Cih punya uang buat beli hp mahal tapi ngga bisa bayar kontrakan. Saya ambil hp ini buat bayar sisanya.”
“Jangan bu. Itu hp pemberian bos saya.”
Endang menjauhkan tangannya saat Adinda hendak mengambil kembali ponsel miliknya. Wanita itu langsung memasukkan ponsel ke dalam tasnya kemudian memeluk tasnya erat.
“Tinggalkan rumah saya sekarang juga. Saya ngga sudi menyewakan rumah saya buat perempuan simpanan kaya kamu. Asal bapak-bapak dan ibu-ibu tahu. Anak yang wajahnya polos ini ternyata kerjanya jadi simpanan om-om. Jangan sampai kalian tertipu dengan wajah lugunya.”
Endang mendorong tubuh Adinda keluar rumah. Dia juga menghalau semua orang yang ada di dalam untuk keluar. Ditutupnya pintu kemudian menguncinya. Dengan santainya dia melenggang pergi dengan membawa kunci rumah.
“Sudah Dinda biarkan saja. Ayo, tidur di rumah ibu saja.”
Teni menghela bahu Adinda kemudian membawanya menuju ke rumahnya. Semua orang yang berada di sana langsung membubarkan diri. Mia menyambut Adinda ketika sampai di rumah. Diajaknya gadis itu masuk ke kamarnya.
Sementara itu Endang terus berjalan keluar dari gang. Kemudian dia menghampiri sebuah mobil sedan yang terparkir tak jauh dari pintu masuk gang. Diketuknya kaca mobil. Perlahan kaca jendela terbuka, nampak wajah seorang wanita muda dari baliknya.
“Udah beres mba Luna. Dia sudah saya usir dan saya sudah bilang ke orang-orang kalau dia itu perempuan simpanan. Saya juga udah ambil hpnya.”
“Bagus. Terima kasih untuk bantuannya.”
Luna mengeluarkan sebuah amplop berisi sejumlah uang lalu memberikannya pada Endang. Kaca jendela kembali menutup. Tak lama kereta besi itu melaju meninggalkan Endang yang tengah tersenyum senang.
Luna mengendarai mobilnya dengan senyum tercetak di wajahnya. Akhirnya usahanya menyingkirkan Adinda berhasil juga. Kematian enin memudahkan dirinya melancarkan rencana busuknya itu.
Itu balasan buat kamu karena sudah berani merebut Jojo dariku. Tapi jangan bernafas lega dulu. Masih ada kejutan berikutnya untukmu, gadis sialan. Akan kupastikan kamu tidak akan bertemu Jojo lagi.
☘️☘️☘️
PLAK!!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Adinda begitu pintu rumah Teni terbuka. Gadis itu terhenyak mendapat tamparan tiba-tiba dari Daus, adik dari ayah Adinda. Pria itu memandang penuh amarah pada Adinda. Teni yang tengah berada di dapur bergegas keluar.
“Aya naon ieu teh? (ada apa ini?).”
“Maaf om.”
“Dasar anak pembawa sial!!”
“Astaghfirullah, nyebut Daus! Tega-teganya kamu menyebut ponakan kamu anak sial.”
“Lalu apa kalau bukan anak sial namanya? Gara-gara dia kakak saya meninggal. Dan sekarang ibu saya juga meninggal!”
“Enin meninggal karena sakit. Kemana saja kamu selama ibumu sakit? Apa kamu pernah menengoknya sekali saja? Apa kamu tahu bagaimana perjuangan Dinda mengobati ibumu? Pikir pakai otak kalau bicara!”
“Ibu, sudah bu..”
“Awas ya, saya ngga mau melihat muka kamu lagi. Jangan pernah datang ke rumahku!”
Daus segera pergi setelah mengucapkan kalimat terakhirnya. Tubuh Adinda merosot ke bawah ketika pamannya itu berlalu pergi. Teni segera memapah Adinda ke dalam rumah. Didudukkannya gadis itu di kursi. Tangis Adinda pecah. Dia tak habis pikir kenapa kejadian tak mengenakkan terus menimpanya secara beruntun.
“Sudah Dinda, jangan dipikirkan kata-kata om gilamu itu. Kamu tidak salah apa-apa. Dia saja yang terlalu berpikiran picik.”
“Terima kasih bu. Terima kasih selalu mendukungku. Maaf kalau aku selalu merepotkan.”
“Kamu ngomong apa sih? Udah sekarang istirahat aja di kamar.”
Teni membawa Adinda masuk ke kamar Mia. Gadis itu merebahkan dirinya di kasur. Teni mengusap puncak kepala Adinda kemudian keluar dari kamar. Adinda kembali menangis mengingat semua yang dialaminya. Dia juga tidak berani keluar rumah karena para tetangga sepertinya termakan hasutan Endang yang mengatakan kalau dirinya peliharaan om-om.
“Enin... hiks.. kenapa enin pergi ninggalin Dinda. Om Jo.. hiks.. tolongin Dinda om, hiks..”
☘️☘️☘️
Selepas shalat ashar Adinda keluar dari kamar dengan membawa tas pakaiannya. Teni yang tengah menonton televisi bingung dibuatnya. Adinda menghampiri Teni kemudian duduk di sampingnya.
“Dinda, kamu mau kemana?”
“Maaf bu. Dinda pamit mau pergi. Dinda titip pakaian enin. Kalau ada yang membutuhkan, ibu boleh memberikannya.”
__ADS_1
“Kamu mau pergi kemana?”
“Dinda mau tinggal di rumah teman bu. Sebentar lagi juga bos Dinda pulang dari luar negeri.”
“Kenapa harus ke rumah teman kamu? Tinggal saja di sini sama ibu dan Mia.”
Adinda menundukkan kepalanya. Dia tak sanggup tinggal lebih lama di sini. Tadi siang dia sempat mendengar ibu-ibu yang tengah menggosipkan dirinya. Rumor tentang Adinda yang merupakan perempuan simpanan sudah menyebar.
“Kalau soal gosip ibu-ibu di sini ngga usah didengerin. Nanti kalau udah bosen juga hilang sendiri.”
“Maaf bu, Dinda ngga sanggup hiks.. hiks..”
Adinda kembali menangis, Teni merengkuh tubuh itu ke dalam pelukannya. Wanita itu pun tak kuasa menahan airmatanya. Di usia semuda ini begitu banyak hal menyedihkan yang menimpanya.
“Ya udah kalau kamu mau ke tempat teman kamu, ngga apa-apa. Kalau kamu sudah tenang, kamu kembali ke sini ya.”
Adinda mengangguk seraya menghapus airmatanya. Diraihnya tangan Teni kemudian mencium punggung tangannya. Wanita itu mengantar Adinda sampai ke teras rumahnya. Sambil menjinjing tas pakaiannya, Adinda meninggalkan kawasan padat penduduk yang selama ini ditinggalinya.
Tujuan Adinda saat ini adalah apartemen Jojo. Dia sudah memutuskan untuk tinggal sementara di sana sambil menunggu Jojo kembali. Seperti pesan enin, dia harus memanfaatkan peluang yang ada. Hanya Jojo kini tempatnya bergantung, maka dengan menyingkirkan semua rasa malunya, Adinda ingin meminta pertolongan pada pria itu.
Langkah Adinda terhenti ketika seorang wanita paruh baya menghadang langkahnya. Adinda mengangkat kepalanya. Di depannya berdiri Rika, istri dari Daus. Refleks Adinda beringsut mundur. Dia tak mau terkena tamparan lagi.
“Dinda..”
“A.. ada apa tante ke sini?”
“Saya mau jemput kamu Din. Tolong maafkan om kamu. Dia kemarin sedih karena kehilangan enin. Tapi sekarang dia menyesal sudah membentak dan menamparmu. Kamu adalah keponakannya, anak dari kakak kandungnya. Om mau kamu tinggal bersamanya.”
“Ng.. ngga usah tan. Dinda sudah punya tempat tinggal sekarang.”
“Kamu masih marah sama om kamu?”
“Dinda ngga marah. Dinda juga sudah memaafkan. Tapi maaf, Dinda ngga bisa ikut tante.”
Wajah Rika yang awalnya lembut berubah menjadi tak bersahabat. Dia memandang tajam pada Adinda sambil melipat tangan di dada. Perasaan Adinda mulai tidak enak melihat perubahan sikap sang tante.
“Kamu emang ngga bisa dibaikin ya.”
Tiba-tiba muncul dua orang laki-laki bertubuh kekar menyergap Adinda. Dengan paksa mereka menyeret Adinda, membawanya masuk ke dalam mobil van. Rika berjalan santai menuju mobil kemudian ikut naik ke dalamnya.
☘️☘️☘️
Sambil berlari Jojo keluar dari bandara Husein Sastranegara. Perasaannya tak enak saat mengetahui ponsel Adinda tidak dapat dihubungi. Pria itu segara mengambil penerbangan pulang ke Bandung dan meminta Abi untuk mencari tahu keberadaan gadis itu.
Baru saja dia mendapat kabar dari anak buah Abi kalau enin telah meninggal dua hari yang lalu. Dan kini Adinda pergi entah kemana. Sebelumnya gadis itu tinggal di rumah Teni. Pikirannya kalut memikirkan Adinda yang tiba-tiba menghilang. Dia merutuki dirinya sendiri yang lupa mengecek keberadaan Adinda karena sibuk mengurusi Richard yang tengah menjalani operasi cangkok jantung.
“Jalan pak!”
“Kita kemana pak?”
“Kantor Abi.. maksud saya kantor kak Juna.”
Pria itu mengangguk kemudian segera menjalankan kendaraannya. Jojo kembali menghubungi Adinda, berharap kali ini panggilannya terjawab. Namun lagi-lagi hanya kotak suara yang menjawab panggilannya.
☘️☘️☘️
**Olahraga jantung dulu bentar ya gaaeess..
Mohon maaf bang Jojo telat pulang. Dia habis jualan seblak dulu buat beli tiket pesawat🏃🏃🏃
Curhatan Jojo :
Kalian readers memang TERLALU!!!
Sekarang aja pada teriak om Jo cepet pulang.. Om Jo kasihan Dinda, ayo pulang.
Ngga inget apa kemarin kalian manas²in mamake. Buat Jojo cemburu dulu Thor. Biar Dinda terima Radix supaya om Jo berjuang lebih keras. Jangan buat Dinda terima om Jo dengan mudah😤
Nih sekarang gue udah balik. Awas aja ya manas²in othor lagi. Gue bilang nanti sama mamake up novelnya pake bahasa Syakira biar kalian pada sesak nafas bacanya😏
Mamake, gue bukan jualan seblak, gue jualan cilor sama cilung di sana😤
Udah Jo curhatnya? MINGGIR!!!
__ADS_1
Berhubung mamake up 2x hari ini, komen yang banyak ya😘😘😘**