
Setelah menginap selama dua hari di rumah Abi, akhirnya Freya kembali ke kediaman mertuanya. Kevin menepati janjinya pada sang menantu, kini pria dingin itu selalu rajin tersenyum. Dan sebagai tanda syukur, dia mengadakan pengajian dengan mengundang majlis taklim di kompleks perumahannya.
Siang harinya Kevin mengundang para sahabat beserta sahabat anaknya untuk datang menikmati hidangan makan siang. Kediamannya sejak pagi tak sepi dari kedatangan orang-orang yang diundangnya menghadiri acara syukuran.
Di halaman belakang, para ibu hamil tengah berkumpul sambil menikmati rujak buatan Freya. Sudah sejak pagi, calon ibu itu sangat ingin menikmati makanan yang banyak digemari ibu-ibu hamil. Bersama dengan Azra, Anya dan Naya, dia terus memakan rujak yang level pedasnya bukan kaleng-kaleng. Nara yang juga berada di sana, ingin sekali mencicipi rujak tersebut. Namun sebisa mungkin dia menahan diri karena tengah menyusui si kembar.
“Nay.. makan rujaknya jangan banyak-banyak. Nanti mulesnya ketuker antara kontraksi apa sakit perut,” Nara mengingatkan Naya yang terus saja menyuapkan manga muda yang dicocol sambal rujak ke dalam mulutnya.
“Aduh aku ngga bisa berhenti, Ra. Sumpah ini enak banget.”
Tanpa mempedulikan peringatan saudara kembarnya, Naya terus memakan rujak tersebut. Zahra yang juga berada di sana, tak bisa menahan diri untuk tidak mencicipi makanan tersebut. Dia menikmati rujak seperti halnya para ibu hamil. Kenan yang baru saja bergabung langsung duduk di samping kekasihnya.
“Yang.. enak banget kayanya tuh rujak.”
“Ssshhh… enak, Nan. Pedes banget.”
“Ck.. perasaan aku belum nyuntik kamu, tapi kenapa kamu udah ngidam ya.”
Sebuah cubitan mendarat di lengan Kenan, membuat pria itu meringis kesakitan. Tak lama Viren dan Alisha datang bergabung. Tangan Alisha bergerak mengambil sepotong manga lalu mencocolnya ke dalam bumbu sebelum masuk ke mulutnya. Alisha yang tidak kuat pedas langsung menyambar minuman yang ada di dekatnya.
“Ya ampun pedes banget sih rujaknya.”
“Protes sono ama bumil. Dia yang bikin,” Azra menunjuk ke arah Freya yang hanya dibalas cengiran oleh istri Ravin tersebut.
“Vir.. katanya mau bulan madu kedua?” tanya Kenan pada Viren.
“Hmm..”
“Bulan madu kemana?”
“Kepo.”
“Dih.. sumpah ya, abis nikah lo tuh tambah nyebelin,” gerutu Kenan.
“Kaga usah kepo sama urusan gue. Pikirin aja masalah lo sendiri. Buruan lulus biar cepet kawin sama Zahra.”
“Nikah oiii…”
“Ya kan tetap ujung-ujungnya kawin juga abis nikah,” jawab Viren tak mau kalah.
“Beuh yang udah punya gandengan, kaga ada empatinya sama yang jomblo,” sela Haikal.
“Rugi empati sama elo,” timpal Viren.
“Sono cari gebetan. Ngaku doang ganteng. Kalo belum punya gandengan, fix hoax gantengnya.”
“Buseettt si kompor mledug kalo ngomong kaga pernah enak didenger,” sungut Haikal yang hanya disambut kekehan dari yang lain.
“Kaga usah ikutan ketawa! Sendirinya juga jomblo,” kesal Haikal ada Revan.
“Lah gue mah udah ada calon. Emangnya elo masih Jones hahahaha…” balas Revan.
“Heleh calon masih piyik aja bangga. Keburu bangkotan lo nunggui Tiara.”
“Ntar gue karbit biar cepet gede.”
Haikal hanya mencibirkan bibirnya mendengar jawaban absurd Revan. Di antara personil The Myth memang hanya dirinya yang belum mendapatkan gadis incaran, apalagi tambatan hati. Berbeda dengan Revan yang sudah mulai melakukan pendekatan pada Tiara, anak dari Dendi dan Lilis.
Tak jauh dari area merujak, para pria calon ayah juga tengah berkumpul, termasuk Kenzie yang mengobrol sambil memangku Zar, salah satu anak kembarnya. Seperti biasa, mereka berbincang membicarakan tingkah polah para istri yang tengah mengidam.
“Azra gimana ngidamnya? Ada yang aneh-aneh ngga?” tanya Ezra.
“Ngga ada sih. Anteng aja dia mah, cuma gue ngga boleh pulang telat apalagi lembur. Lo tau sendiri, bos gua kan mandor Romusha,” Fathan melirik pada Kenzie, namun sahabat sekaligus atasannya itu nampak tak acuh.
“Elo, Ric?” Ezra bertanya pada Aric.
“Kan gue udah pernah bilang. Gue harus nyanyi full satu album menjelang tidur.”
“Emang masih sampe sekarang?”
“Masih lah. Lo tau sendiri, suara emas gue ngalahin Josh Groban gitu loh.”
“Preeetttt!!” ujar Kenzie, Ravin, Fathan dan Ezra bersamaan.
“Lo sendiri gimana Vin?” tanya Kenzie pada Ravin.
Semua mata langsung tertuju pada suami dari Freya. Wajah Ravin sontak cemberut mendengar pertanyaan sang kakak ipar.
“Napa anyep banget muka lo? Si Frey ngidam yang aneh-aneh ya,” tebak Aric.
“Bukan, gue ngerasa ngga guna aja jadi suami siaga,” keluh Ravin.
“Kok bisa?”
“Lah apa-apa Frey minta sama bokap. Minta disuapin makan, minta dianter ke mini market, minta dibeliin makanan atau minta ditemenin nonton drakor. Yang lebih anehnya bokap tiap hari senyum mulu, terus dia apal nama-nama artis Korea,” Ravin menepuk keningnya.
Keluhan Ravin sontak memancing gelak tawa para sahabatnya. Fathan menepuk-nepuk pundak pria itu sambil terus tertawa. Zar yang melihat orang-orang di sekitarnya tertawa, juga ikut tertawa memperlihatkan senyum manisnya.
“Weh manisnya Zar kalo lagi senyum. Ngga kaya bapaknya, anyep,” ledek Ezra.
“Ngga usah senyum aja udah ganteng,” jumawa Kenzie yang hanya dibalas cibiran lainnya.
“Jadi ceritanya lo cemburu sama bokap?” Fathan kembali membawa fokus pembicaraan pada Ravin.
“Ya iyalah. Sebenernya suaminya Frey itu gue apa bokap. Kenapa kalau mau apa-apa mintanya sama bokap. Masih untung tidur ngga minta kelonin bokap.”
“Huahahaha…”
Tawa nyaring langsung terdengar. Aric mendaratkan toyoran di kepala Ravin yang asal berbicara. Fathan memegangi perutnya karena tak berhenti tertawa. Dan Zar lagi-lagi ikut tertawa, walau tak mengerti apa yang tengah dibicarakan para pria dewasa tersebut.
“Buset Vin.. Vin.. cemburu ama bokap sendiri,” seru Aric.
“Lah elo harusnya bersyukur, tugas lo udah diambil alih bokap,” sambung Fathan.
“Hooh… lo kebagian enaknya doang, PEA,” celetuk Kenzie.
__ADS_1
“Apaan?” tanya Ravin.
“Kerjaan lo cuma nengokin anak lo doang sambil semprot-semprot.”
Gelak tawa kembali terdengar menyambut ucapan Kenzie. Saat yang bersamaan, Barra datang bergabung. Wajahnya nampak berseri-seri, dan tanpa malu dia menciumi pipi para sahabatnya satu per satu.
“Najis!! Kudu cuci muka 100 kali nih gue,” ujar Aric seraya mengusap pipinya yang terkena ciuman Barra.
“Alamat nyari pasir gue,” Ravin.
“Buseet bau jigong,” Fathan.
“Lo kaga gosok gigi berapa tahun sih?” Ezra.
“Mesti oplas gue abis kena bibir beracun,” Kenzie.
“Lebay lo semua. Harusnya pada bersyukur, selain Hanna, lo semua juga dapet ciuman dari gue.”
“Najis!!!” kompak yang lain dan Barra hanya terkekeh saja.
Pria itu tak mempedulikan umpatan dan ledekan dari para sahabatnya. Hatinya sedang diliputi kebahagiaan karena Hanna baru saja memberikan kabar menggembirakan. Menangkap wajah Barra yang seperti baru memenangkan lotre, karuan mengusik keingintahuan para sahabatnya.
“Napa lo senyum-senyum ngga jelas kaya gitu?” tanya Aric.
“Kepo.”
“Heleh paling dia abis nyelup kilat. Kan tadi ngilang bentar,” sambung Fathan.
“Kaga weh. Penasaran ngga?”
“Kaga. Kaga penting juga kabar dari elo,” jawab Ravin yang langsung dibalas toyoran dari Barra.
“Tanya dong ama gue,” ujar Barra dengan nada merajuk.
“Dih… ngarep banget ditanya,” Kenzie.
“Biasanya orang kepo, ini informannya yang maksa minta ditanya,” Ezra.
“Lo ngomong nyinyir lagi, kaga bakal gue restuin ama Dila,” ancam Barra.
“Bomat. Gue cuma butuh restu dari om Jo. Lagian lo juga udah keluar dari KK.”
Barra hendak menyangkal apa yang dikatakan Ezra, namun apa yang dikatakan sahabatnya itu memang benar. Setelah menikah, dirinya sudah terpisah dan memiliki KK sendiri. Ezra terkekeh melihat Barra yang tak bisa membalas ucapannya.
“Aah bodo, lo mau denger apa ngga, gue mau kasih tau. Hanna…. Hamil YES.. YES.. YES…”
Barra berteriak kencang, hingga membuat kumpulan di sebelahnya menengokkan kepala pada pria itu. Namun di luar dari prediksi, para sahabatnya itu tak bereaksi apapun atas kabar gembira yang baru saja disampaikannya.
“Kalian pada ngga mau ngasih gue ucapan selamat gitu?” kesal Barra. Pria itu bertambah kesal karena tak ada yang menyahuti ucapannya.
“Dasar sahabat durjana!” rutuk Barra.
Tak selang lama setelah melontarkan kalimat tersebut, tiba-tiba saja Fathan dan yang lain langsung menghambur ke arah Barra, membuat pria itu terjengkang dan posisinya tertindih paling bawah di antara yang lain.
“Woiii… uhuk… woii… berat kampret..”
“Akhirnya sobat gue jadi calon bapak juga,” Ravin mencubit kedua pipi Barra.
“Tokcer juga cebong lo!” Fathan mengguncang-guncang bahu Barra.
“Jadi bapak yang baik, ya,” Ezra memegang rahang Barra lalu menekannya.
Kenzie hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol para sahabatnya. Pria itu perlahan bangkit kemudian mendekati Barra yang masih terkapar. Dia menyodorkan Zar dalam pangkuannya ke wajah Barra.
“Selamat uncle, aku bakalan punya teman main baru,” ujar Kenzie dengan nada datar.
PRETTT
Bertepatan dengan itu, suara alam yang berasal dari bokong Zar terdengar. Sialnya bokong Zar tepat menghadap ke wajah Barra. Semua yang ada di sana langsung bubar setelah mendengar tembakan dari keponakan mereka yang usianya belum genap setahun.
“HOEK… buset, kaga bapak, kaga anaknya, durhakim semua,” rutuk Barra seraya menegakkan dirinya sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
“Ponakan elo, ini Nyong,” ujar Kenzie seraya berlalu.
“Untung gue lagi bahagia. Sue lo pada!”
Barra berdiri kemudian menyusul yang lainnya bergabung dengan para istri. Revan dan Haikal yang penasaran akan kegaduhan yang terjadi barusan langsung mencecar para seniornya yang baru saja bergabung.
“Ada apaan sih?” tanya Haikal.
“Anak kecil kaga usah kepo,” Aric mengusap wajah Haikal.
“Buset tangan bekas garuk ******, bau oii!!” Haikal menjauhkah tangan Aric dari wajahnya.
“Nih gue kasih tau. Kakak ipar lo yang tamvan ini, bakalan jadi calon bapak. Biar kata gue nikahnya ditikung mulu, tapi soal bikin perut melendung, gue lebih jago. Sorry Vir, gue salip di tikungan hahaha…”
Viren sama sekali tak menanggapi ucapan Barra. Dia melirik pada sang istri, takut kalau perkataan Barra kembali membuat Alisha bersedih. Pria itu menarik nafas lega melihat Alisha yang bersikap biasa saja.
“Selamat ya, bang. Aku sama bang Vir sengaja ngalah, kasihan aja kalau sampe ketikung lagi soal anak. Lagian kita mah masih muda, ngga kaya bang Barra yang udah hihihi…”
Alisha tak meneruskan ucapannya, wanita itu malah terkikik geli. Viren mengulum senyum mendengar perkataan istrinya. Barra sontak membelalakkan matanya saat tahu kemana arah pembicaraan Alisha.
“Maksudnya tua gitu?”
“Bukan aku yang bilang, sueerrr. Abang sendiri yang bilang hahaha..”
Barra hanya mendengus kesal. Hanna yang sudah ada di sana segera menarik tangan suaminya untuk duduk di dekatnya.
“Kak… nanti ngidamnya yang susah ya. Suruh bang Barra manjat pohon kelapa gitu,” celetuk Kenan.
“Diem lo, dasar kompor mledug!”
“Atau suruh belanja sayur bareng emak-emak di si Mince huahahaha…”
Kenan tergelak sendiri mengingat tukang sayur yang disebutkan. Penjual sayur di kompleks perumahan Barra yang gayanya gemulai. Bedak dan lipgloss tak lepas dari wajahnya yang sedikit sangar. Sedang Barra hanya bergidik ngeri.
__ADS_1
“Adduuuhhhh…”
Semua yang ada di sana langsung mengalihkan perhatiannya ketika mendengar suara rintihan Naya. Wajah wanita itu meringis seperti tengah menahan rasa sakit seraya memegangi perutnya. Aric bergegas mendekati sang istri.
“Yang… kamu kenapa?”
“Sakit, bang… ssshhh… aaaahhh… pe..rutku…”
“Wah jangan-jangan Naya kontraksi. Cepet bawa ke rumah sakit,” ujar Nara.
“Nan!! Siapin mobil!” teriak Aric.
Dengan cepat Kenan berlari keluar dari halaman belakang. Para tetua yang tengah berkumpul di teras terkejut melihat Kenan yang tergopoh-gopoh keluar rumah.
“Nan.. mau kemana?” tanya Nina.
“Siapin mobil, ma. Kayanya kak Naya mau ngelahirin!”
Jawab Kenan sambil terus berlari menuju mobil. Sekar dan Cakra juga Jojo dan Adinda karuan terkejut mendengarnya. Mereka bergegas menuju halaman belakang. Langkah keempatnya terhenti ketika melihat Aric tengah membopog sang istri. Tangan Naya memeluk era leher sang suami sambil menahan sakit. Dengan cepat Aric memasukkan Naya ke dalam mobil kemudian ikut masuk ke dalamnya. Kenan pun langsung tancap gas menuju rumah sakit.
☘️☘️☘️
Terdengar ucapan hamdallah dari semua orang yang menunggui persalinan Naya ketika mendengar suara tangis bayi yang berasal dari ruangan bersalin. Cakra dan Sekar nampak bahagia, menantunya telah melahirkan dengan selamat. Begitu pula Jojo dan Adinda menyambut penuh sukacita kelahiran cucu kedua mereka.
Pintu ruangan bersalin terbuka setengah jam setelah Naya melahirkan anak pertamanya. Aric keluar seraya membawa bayi mungil dalam gendongannya. Di depannya Naya duduk di kursi roda dengan seorang suster membantu mendorong dari belakang. Semua yang ada langsung menghambur ke arah mereka.
Sekar mengambil bayi mungil dari gendongan Aric. Senyumnya mengembang memandangi wajah tampan cucu pertamanya. Di sampingnya, Cakra, Jojo dan Adinda ikut melihat malaikat kecil yang baru saja lahir ke dunia.
“Gantengnya cucuku.. emang keturunan kakek ngga kaleng-kaleng,” puji Cakra.
“Ada gen opa ya, makanya ganteng,” lanjut Jojo.
“Mana ada… aki mah cuma nyumbang gen di jempol doang,” jawab Cakra asal yang langsung dibalas pelototan Jojo.
“Aki…” Juna terkekeh geli mendengar sebutan untuk Jojo.
Sambil tetap menggendong cucunya, Sekar mengikuti langkah Aric yang mengambil alih kursi roda Naya lalu membawanya ke ruang perawatan. Suasana ruangan VVIP langsung heboh begitu gerombolan para sahabat Aric datang. Bergantian mereka melihat bayi mungil yang masih belum disebutkan siapa namanya.
“Widih ganteng gini ponakan gue,” celetuk Kenan.
“Wajar sih, bapaknya kan bibit unggul,” sambung Aric.
“Narsis,” desis Barra.
“Namanya siapa?” tanya Ravin.
“Namanya…”
Aric tak meneruskan kalimatnya. Dia sengaja menggantung nama sang anak. Pria itu malah memperhatikan satu per satu wajah yang ada di sana. Mereka nampak tengah menunggu nama apa yang diberikan olehnya untuk sang anak.
“Nungguin ya…” ujar Aric yang langsung mendapat toyoran dan tepakan di kepalanya.
“Buru PEA, namanya siapa? Gue kebelet nih mau pepito,” seru Barra.
"Apaan pepito?" tanya Revan seraya menggaruk kepalanya.
"Pengen pipis t*lol," jawab Barra seraya menoyor kepala Revan.
“Sono ke kamar mandi. Jangan ngompol di mari,” Fathan mendorong tubuh Barra namun pria itu bergeming.
“Namanya Arya Julian Dunia, bagus kan?” Aric menaikturunkan alisnya.
“Biasa aja. Gue kirain namanya kampreto,” Barra langsung ngacir ke kamar mandi begitu melontarkan kalimat tersebut.
“Nan!! Kunci kamar mandi, biar dia semaput di sana,” ujar Aric yang langsung mengundang gelak tawa.
Sementara itu, Ravin menarik tangan Freya keluar dari ruang perawatan. Dia terus membawa sang istri menuju lantai teratas rumah sakit, tepatnya ke taman yang berada di rooftop. Semilir angin berhasil menghalau rasa panas yang berasal dari sinar matahari yang masih memancarkan sinarnya walau sudah mulai bergeser ke arah barat.
“Frey… malam ini kita kencan yuk.”
“Kencan ke mana bang?”
“Nonton bioskop gimana? Ada film baru tuh.”
“Ajak papa ya.”
“Ngapain ajak papa?”
“Ya biar seru aja. Kita double date gitu. Aku sama abang, papa sama mama.”
“Harus ya Frey?”
“Abang kenapa sih? Kaya cemburu gitu?”
“Iya aku cemburu. Kamu tuh kaya ngga butuh aku. Suami kamu tuh aku, bukan papa. Harusnya aku yang kamu minta tolong untuk keperluan anak kita, bukan papa.”
Ravin menghempaskan tubuhnya ke kursi yang ada di sana. Freya ikut duduk di samping sang suami kemudian menyandarkan kepala di dada sang suami. Jemarinya bergerak menelusuri dada bidang itu.
“Abang jangan cemburu. Ini kan bawaan si utun. Dia emang seneng banget deket sama opanya. Kalau aku kan tetap cintanya sama abang. Masa abang cemburu sama papa?”
“Ya bukan gitu. Aku ngerasa ngga berguna aja jadi suami kamu. Semua harus sama papa.”
“Tapi kan tetap abang, papanya. Abang juga yang sering nengokin anak kita. Masa cemburu sih. Kayanya anak kita perempuan, bang. Papa kan pengen punya anak perempuan, siapa tahu anak kita perempuan dan mau dimanja sama opanya.”
“Hmm.. iya juga kali.”
“Abang jangan ngambek dong. Jelek tau dilihatnya. Senyum manisnya mana?”
Freya menoel dagu sang suami. Ravin melihat ke arah sang istri lalu menangkup wajahnya. Perlahan dia mendekatkan wajah lalu mencium bibir ranum Freya. Suasana rooftop yang sepi dimanfaatkan Ravin untuk terus melanjutkan ciumannya. Dengan gerakan lembut dia mel*mat bibir Freya secara intens.
☘️☘️☘️
**Alhamdulillah bisa up juga. Terima kasih ya buat semua dukungan kalian dan kesabaran kalian menunggu lanjutan cerita ini🙏
Oh iya, mamake mau promo novel baru nih. Novel salah satu teman baik mamake. Kisah tentang gadis sederhana yang cintanya terhalang dinding restu dan kasta. Berlatar belakang tahun 1960-an, cerita dikemas apik dengan pemilihan kata yang mudah dimengerti. Kalau tertarik, langsung aja ketik judul novelnya SUNDIRAH di kolom pencarian. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian, like, komen dan rate bintang 5😘😘😘**
__ADS_1