KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Skak Mat


__ADS_3

"Maaf pak Mano, saya permisi ke toilet sebentar.”


Mano mengangguk pelan, matanya mengawasi Nina yang berjalan menjauh kemudian berbelok ke area toilet. Nina menyembunyikan dirinya dibalik dinding pembatas menuju area toilet. Dari balik dinding dia mengintip Mano yang tengah memasukkan sesuatu ke dalam minumannya.


Dasar kadal buluk, gue udah curiga kenapa maksa ajak gue ngobrol. Huh.. untung gue punya insting detektive yang hebat. Mau main-main sama gue ternyata si Manohara, tidak semudah itu Bulgoso.


Nina mengambil ponselnya kemudian segera menghubungi Made. Hanya butuh satu deringan, pengawal itu langsung menjawab panggilan Nina.


“Halo mba..”


“Kamu tahu mobil Mano kan?”


“Tahu mba.”


“Buat alarm mobilnya nyala. Terus stand by di pintu belakang cafe.”


“Siap mba.”


Nina terus mengawasi pergerakan Mano. Sementara itu Made mulai beraksi, dia berjalan sambil pura-pura berbicara dengan ponselnya. Sebisa mungkin dia bersikap natural agar tak memancing kecurigaan anak buah Mano yang tengah duduk di teras cafe. Ditendangnya ban mobil Mano dengan cukup kencang hingga membuat alarm mobil pabrikan ternama itu berbunyi kencang.


Setengah berjongkok Made menjauh dari mobil Mano. Dia terus berjalan mengendap menuju mobilnya. Kemudian menjalankan kendaraan menuju arah belakang cafe. Anak buah Mano yang melihat mobil tuannya berkedip dan berbunyi segera menghubungi Mano.


Nina bergegas menuju mejanya ketika melihat Mano keluar dari cafe lalu menukar gelas minuman miliknya dengan milik Mano kemudian kembali ke tempatnya. Tak butuh waktu lama bagi Mano untuk mematikan alarm mobilnya. Kini dia sudah kembali ke tempat duduknya. Melihat Mano sudah kembali, Nina segera kembali ke mejanya.


“Maaf ya lama pak Mano.”


“Ngga apa-apa.”


Nina memandang gelas yang telah berhasil ditukarnya tadi. Saat tangannya akan meraih gelas, ponselnya berbunyi tanda sebuah pesan masuk. Nina membuka pesan yang ternyata dari suaminya. Abi meminta Nina datang ke kantor. Setelah membalas pesan, Nina memasukkan kembali ponsel ke dalam tas.


Nina mengambil gelas di depannya lalu meneguknya sampai habis setengah. Sekilas dia melihat senyum tipis di wajah Mano. Nina meletakkan gelas ke atas meja, kini saatnya dia berakting. Nina berpura-pura gelisah, membuat Mano semakin senang. Pria itu mengambil gelas lalu meneguk minumannya. Kini giliran Nina yang terkikik dalam hati.


“Aduh kok panas ya pak,” Nina mengibas-ngibaskan tangan ke arah lehernya.


“Masa sih?” Mano meletakkan tangannya di kening Nina.


“Eh kok tangan pak Mano dingin banget.”


Wajah Mano semakin terlihat senang. Nina kembali menyambar minumannya dan meneguknya sampai habis. Mano pun tanpa sadar melakukan hal yang sama. Nina semakin tak enak diam, tangannya terus mengibas ke arah tubuhnya.


“Aduh kok tambah panas. Aku ke toilet dulu ya pak.”


Nina menyambar tasnya kemudian buru-buru menuju toilet. Dari balik dinding dia terus mengawasi pergerakan Mano yang mulai tak bisa diam. Dengan mengendap-endap Nina berjalan menuju dapur. Untung saja dia sudah mengenal pegawai di sini. Mereka membantu Nina keluar dari cafe lewat pintu belakang.


Mano terlihat gelisah, hawa panas seketika menjalari tubuhnya. Dia memandangi gelas di depannya kemudian menggeram kesal. Dengan segera dia bangun dari duduknya lalu keluar dari cafe. Dua anak buahnya yang sedari tadi menunggu langsung menghampiri.


“Mana Nina?!”


“Ngga tahu bos. Bukannya dia masih di dalam?”


“Shit!! Carikan aku perempuan, sekarang!!”


“Siap bos.”


“Antarkan ke apartemenku. Kamu, bawa mobilku.”


Mano melemparkan kunci mobilnya pada salah satu anak buahnya. Dalam keadaan seperti ini tak mungkin baginya untuk menyetir. Wajah Mano sudah memerah menahan sesuatu yang bergolak dalam dirinya.


Ternyata kamu licik juga Nina. Lihat saja, aku akan mendapatkanmu nanti. Dasar rubah betina, tapi aku semakin ingin memilikimu melihatmu seperti ini.


☘️☘️☘️


Tanpa melihat ke arah Ruby, Nina langsung masuk ke ruangan suaminya. Abi yang sedang berdiri di dekat lemari arsip tersenyum menyambut kedatangan sang istri. Nina mendekat dan langsung memeluk Abi. Wanita itu bersyukur dapat terhindar dari jebakan Mano. Dirinya tak dapat membayangkan jika pria itu berhasil menyentuhnya.


Nina mengeratkan pelukannya di pinggang Abi. Berada dalam pelukan suaminya membuatnya lebih tenang. Abi membiarkan Nina memeluknya sampai puas walau hatinya bertanya-tanya. Dia merasa ada yang tak beres dengan istrinya ini. Setelah sedikit tenang, Nina mengurai pelukannya. Abi mengajaknya duduk di sofa.


“Kamu kenapa sayang?”


Nina tak langsung menjawab. Dia malah kembali menghambur ke pelukan Abi. wajahnya terbenam di dada bidang sang suami. Tangan Abi bergerak mengusap punggung Nina dengan gerakan lembut.


“Mas.. tadi ada orang yang berusaha menjebakku.”


“Menjebak gimana?”


Abi melepaskan pelukannya lalu memundurkan badannya sedikit. Ditelitinya wajah serta tubuh Nina. Tangannya menangkup wajah sang istri.

__ADS_1


“Siapa yang berusaha menjebakmu? Ruby?”


“Bukan. Mas masih ingat soal ganti rugi tas yang rusak?”


“Iya.”


“Pemilik toko itu, dia pernah menemuiku dan memintaku menjadi perawat ibunya yang terkena stroke. Tapi aku menolaknya. Tadi aku bertemu dengannya lagi, dia mengajakku bicara soal kondisi ibunya. Tapi ternyata dia berusaha menjebakku. Dia memasukkan sesuatu ke minumanku. Sepertinya obat perangsang.”


“Tapi kamu ngga apa-apa kan?”


“Ngga mas. Aku berhasil menukar minumannya karena curiga padanya.”


Abi menarik Nina ke dalam pelukannya. Dikecupnya puncak kepala sang istri berulang kali. Dia harus mencari tahu siapa pria yang berusaha menjebak istrinya dan memperketat penjagaannya.


“Siapa nama laki-laki itu?”


“Romano, lebih sering dipanggil Mano. Dia memiliki toko tas branded di mall Andhara, tapi aku lupa nama tokonya.”


“Mas akan cari tahu. Mulai sekarang jangan pergi kemana pun tanpa mas, mengerti?”


“Iya mas.”


☘️☘️☘️


Cakra meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya kemudian kembali berkutat dengan berkas-berkasnya. Tanpa lelaki itu sadari, Sekar memperhatikannya dari balik dinding kaca yang membatasi ruangan mereka.


Waktu magang Sekar hanya tersisa dua minggu lagi, tapi hubungannya dengan Cakra sudah seperti orang asing saja. Bahkan untuk bertemu dengan klien, Cakra lebih suka mengajak Anfa ketimbang dirinya. Sepertinya pria itu benar-benar ingin menjaga jarak dengannya.


Sekar bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Cakra. Dia menarik kursi di depan meja kerja Cakra lalu duduk berhadapan dengan pria itu. Cakra tak mempedulikan kehadiran Sekar. Dia tetap sibuk dengan berkas-berkasnya.


“Bang.. makan siang bareng yuk.”


“Ngga bisa Se..” Cakra tak mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas di tangannya.


“Kenapa?”


“Ada meeting sama klien sekalian makan siang.”


“Ya udah sama aku aja ketemu kliennya.”


“Kenapa Anfa? Kan sekretarisnya abang aku, bukan Anfa.”


“Aku lagi kejar setoran ngajarin dia semua hal yang berkaitan dengan pekerjaanku. Dia harus sudah siap saat aku pergi.”


“Emangnya bang Cakra mau pergi ke mana?”


“Ada hal lain yang harus kuurus Se. Ngga selamanya aku ada di sini. Dari pada kamu gangguin aku, mending kamu kerjain laporan ini.”


Cakra memberikan sebuah berkas pada Sekar. Dengan berat hati gadis mengambilnya lalu kembali ke mejanya. Ingin rasanya Sekar menangis mendapat perlakuan dingin dari pria itu. Tapi mau taruh di mana mukanya kalau Cakra tahu dia menangis karenanya.


Cakra melirik sekilas ke arah Sekar saat gadis itu menuju mejanya. Sebenarnya dia tak tega bersikap seperti ini pada Sekar. Namun Cakra menguatkan hati, dia tak bisa terus terjerumus dalam perasaan sepihak. Terlalu sakit baginya melanjutkan semua ini.


Maafin aku Se.. tapi kamu ngga pernah mau kasih aku kesempatan untuk masuk ke dalam hatimu. Aku akan berusaha melupakan perasaan ini.


Lamunan Cakra buyar saat ponselnya berdering. Keningnya berkerut melihat nama Mang Deden tertera di layar ponselnya. Dengan cepat dia menjawab panggilan tersebut.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.. Cakra, ini mang Deden. Kumaha damang?”


“Alhamdulillah baik mang. Mamang apa kabarnya?”


“Alhamdulillah, mamang sekeluarga juga baik. Hmm.. Begini Cak, mamang ada perlu sama kamu. Besok bisa ketemu? Mamang besok mau ke Bandung.”


“Boleh atuh mang. Mamang nginep di rumah aja ya. Ke Bandungnya sama bi Tini?”


“Iya atuh, mana dibolehin mamang ke kota sendirian sama bibi kamu. Dia kan cemburuan orangnya,” terdengar kekehan Deden di seberang sana.


“Sudah dulu ya Cak.. punten mamang ganggu waktu kamu. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Cakra meletakkan kembali ponselnya ke meja setelah panggilannya berakhir. Hatinya cukup senang mendapat panggilan dari Deden, sepupu jauh papanya yang tinggal di Ciamis. Deden memang cukup dekat dengan almarhum papanya, mereka tumbuh bersama sejak kecil. Dan Deden merupakan satu-satunya keluarga yang masih peduli padanya.


Sekar memandangi wajah Cakra yang tengah tersenyum. Setelah sekian lama, akhirnya dia bisa melihat senyum pria itu. Dada Sekar tiba-tiba saja berdebar melihat senyuman Cakra. Entah mengapa lelaki terlihat begitu tampan saat ini.

__ADS_1


Ish nih jantung kenapa ngga jelas gini iramanya. Duh masa iya gue mulai suka sama bang Cakra. Huaaaa.. gimana dong, mana sekarang dia lagi cuek bebek sama gue. Tengsin gue kalau sampe ditolak.


☘️☘️☘️


Sekar mengaduk-aduk jus alpukat di depannya. Dia tak habis pikir kenapa bisa senekad ini. Gadis itu menanyakan pada Anfa di mana mereka akan meeting, dan di sinilah kini dirinya berada, di sebuah restoran bintang lima. Mata Sekar terus memandang ke arah tangga. Sudah hampir satu jam dia menunggu, tapi belum ada tanda-tanda meeting akan selesai.


Sedang asik melamun, tiba-tiba seseorang duduk di hadapannya. Sekar menatap tajam pada pemuda di depannya. Gamma, senior di kampusnya yang tergila-gila padanya. Sejak awal Sekar menyandang status mahasiswa, sejak saat itu pula Gamma mengejarnya. Bahkan saat ospek Sekar kerap mendapatkan keringanan, karena Gamma adalah ketua panitia ospek.


“Hai.. Se.. lagi apa nih?”


“Kelihatannya?”


“Lagi nunggu seseorang kan? Kok kamu tahu sih aku di sini?”


“Dih geer.. siapa juga yang nyariin situ.”


Gamma hanya tersenyum, sudah biasa dirinya mendapat perlakuan jutek dari Sekar. Tapi menurutnya itulah daya tarik seorang Sekar. Hanya gadis itu yang tak mempan dengan bujuk rayu dan hartanya. Ya tentu saja, karena kekayaan keluarga Gamma jelas di bawah Sekar.


“Cuma minum aja? Ngga takut kembung tuh perut?”


“Lagi diet.”


“Ngapain diet, nyiksa diri. Lagi pula aku suka kamu apa adanya.”


Sekar kembali mengalihkan pandangannya ke arah tangga. Berhadapan dengan Gamma cukup menguras emosinya. Pria narsis satu ini tak pernah lelah mengejar dan menggodanya. Ada saja rayuan receh yang keluar dari mulutnya.


“Se.. jadi pacarku yuk.”


“Dih ngajak pacaran kaya ngajak nonton dangdutan.”


“Hahahaha.. ya ampun Se, kamu lucu banget sih. Aku jadi tambah gemes sama kamu.”


Gamma mengusak puncak kepala gadis itu tapi langsung ditepisnya. Di saat yang bersamaan Cakra beserta Anfa juga klien yang tadi meeting bersamanya tampak menuruni tangga. Mata Cakra langsung menangkap sosok Gamma yang tengah berduaan dengan Sekar. Dadanya bergemuruh melihat keduanya, rasa cemburu langsung menderanya.


Melihat orang yang ditunggunya muncul juga, Sekar bergegas menghampirinya. Dia langsung menggamit lengan Cakra, membuat pria itu terkejut. Gamma melihat kesal ke arah Cakra. Gadis yang susah payah didekati dengan mudah memeluk lengan pria lain di depan matanya. Pemuda itu segera menghampiri Sekar.


“Se.. ini kakakmu?”


“Bukan.. ini tunanganku. Bang Cakra, kenalin ini Gamma, senior di kampusku.”


Cakra mengulurkan tangannya yang langsung dibalas oleh Gamma. Cakra menjabat erat tangan Gamma hingga pemuda itu meringis kesakitan seraya menyebutkan namanya. Setelah berkenalan, Cakra segera mengajak Sekar keluar dari restoran.


“Kamu ke sini naik apa?”


“Aku bawa mobil. Fa, kamu aja ya yang bawa mobilku.”


Sekar memberikan kunci mobil pada Afa. Kemudian dia mengikuti Cakra masuk ke dalam mobil pria itu. Cakra langsung menjalankan kendaraannya keluar dari area parkir restoran.


“Tadi siapa Se?”


“Gamma, seniorku. Bete aku, dari dulu ngga ada matinya ngejar aku. Padahal udah berkali-kali aku tolak eh masih aja ngejar. Nyebelin banget kan bang.”


“Berarti sama kaya aku ya Se. Padahal udah sering ditolak sama kamu tapi masih aja berharap. Pasti aku nyebelin banget di matamu.”


“Eh..”


Skak mat, kata-kata Cakra sukses membungkam mulut gadis itu. Sekar sungguh tak tahu harus berkata apa. Dia sadar kalau selama ini sudah bersikap seenaknya pada Cakra. Mengabaikan perasaan pria itu dan kini dia merasakan apa yang dirasakan Cakra dulu.


“Tapi kamu tenang aja Se.. Aku udah berhenti berharap sekarang.”


“Bang.. maaf..”


“Kamu ngga perlu minta maaf. Perasaan emang ngga bisa dipaksakan. Aku aja yang terlalu percaya diri bisa mendapatkan hatimu. Maaf ya Se..”


Cakra menoleh pada Sekar, diusaknya puncak kepala gadis itu seraya melemparkan senyuman. Hati Sekar tertohok mendengarnya, senyum Cakra seperti sembilu yang mengiris hatinya. Dia tak rela kalau Cakra berhenti memperjuangkannya.


Jangan berhenti bang... aku siap membuka hatiku sekarang. Maaf kalau aku terlambat menyadari perasaanku.


Ingin rasanya Sekar meneriakkan kata-kata itu tapi dia hanya mampu mengutarakan dalam hati saja. Gadis itu masih memerlukan waktu untuk mengatakan perasaannya. Dia takut kalau sekarang justru Cakra akan menolaknya.


☘️☘️☘️


**Buat yang jantungan kemarin, sudah bisa bernafas lega ya, Nina vs Mano, ternyata Nina yang menang.


Sekar.. ayo sekarang giliran kamu kejar Cakra sebelum dia diambil orang**.

__ADS_1


__ADS_2