KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Bonchap : Ngidam Bikin Runyam #2


__ADS_3

Acara mengidam makanan juga tengah dirasakan Nina yang tengah hamil anak ketiganya. Kali ini dia ingin sekali memakan surabi yang tengah viral di media sosial, Surabi Ceu Edoh. Bukan hanya karena rasa surabinya yang endol ta kendol-kendol, tapi surabi ini juga terkenal karena pedagangnya, alias ceu Edoh yang tak berhenti mengoceh saat membuatkan pesanan.


Selain tak henti mengoceh, ceu Edoh juga kerap mengeluarkan kata-kata seenak perutnya. Tak ada pembeli yang berani komplain padanya, karena akan langsung disembur olehnya. Namun begitu, pembeli masih banyak berdatangan di kedainya yang terletak di daerah Geger Kalong.


Nina mengajak Abi untuk membeli surabi di sana. Selain karena ibu hamil itu begitu ingin mencicipi surabi buatan ceu Edoh, dia juga ingin tahu antara suaminya dengan penjual surabi itu lebih pedas mana ucapannya. Demi sang istri tercinta, Abi pun bersedia pergi menemani membeli surabi.


Abi menghentikan kendaraannya di depan kedai Surabi Ceu Edoh. Sudah banyak pembeli yang mengantri di sana. Bersama dengan Nina, dia masuk lalu duduk tepat di depan wanita penjual surabi tersebut. Abi mengamati wanita bertubuh gempal, dengan rambut dicepol dan mengenakan daster. Yang terlihat mencolok dari wanita itu adalah bibirnya yang tebal dipoles dengan lipstik merah menyala.


“Ceu.. saya minta surabi coklat keju, dua ya. Ngga pake lama.”


“Ceu saya minta surabi telor, tiga.”


“Mun embung lila mah, jug we meuli di tempat nu sejen. Teu ningali kitu nu meuli sakieu lobana. Tangan ge ngan dua. Ulah protes, saberesna we (Kalau ngga mau lama, sana aja belinya di tempat lain. Ngga lihat gitu yang beli segini banyaknya. Tangan cuma dua, jangan protes, tunggu seberesnya aja),” jawab ceu Edoh yang malah dibalas dengan cekikikan dari pembeli yang meminta cepat.


“Eta nu make telor, sing jelas atuh hayangna telor naon? Telor ayam negeri, ayam kampung atawa telor bebek, asin, atawa pedes kitu? Telorna kudu ngareret ka kenca atawa katuhu (Itu yang pesen pake telor, yang jelas mau telor apa? Telor ayam apa bebek, asik atau pedes? Telornya harus ngelirik ke kiri apa kanan),” lanjut ceu Edoh.


“Suka-suka eceu aja yang penting enak,” jawab sang pembeli.


“Jawaban naon eta teh. Pan nu rek makanna oge anjeun lain sayah, kumaha teu jelas iih (jawaban apa itu. Kan yang mau makan kamu bukan saya, ngga jelas banget).”


Kembali terdengar cekikikan dari pembeli yang tengah berbalas pantun dengan ceu Edoh. Abi terus memperhatikan wanita yang tak berhenti mengoceh selama membuatkan pesanan. Karena kesal dengan polusi suara yang dibuat penjual tersebut, Abi mulai berkomentar.


“Berisik!”


Ceu Edoh langsung melihat ke arah Abi. Awalnya ceu Edoh cukup terpana melihat ketampanan pria di depannya. Tapi mendengar apa yang dikatakan pria itu barusan, dia sedikit kesal juga.


“Upami embung kagandengan mah ulah kadieu. Da saya mah emang kieu, bawel. Jug we meuli di tempat sejen (kalau ngga mau berisik, jangan di sini. Saya emang gini, bawel. Sana aja beli di tempat lain).”


“Kalau istri saya ngga ngidam, saya juga ogah ke sini,” balas Abi.


“Alesan, ngomong we hayang panggih jeung ceu Edoh anu keur viral tea (alasan, ngomong aja pengen ketemu sama ceu Edoh yang lagi viral).”


“Ngapain ketemu situ? Cantik ngga, kerjaan nyerocos mulu. Awas tuh ludah kamu muncrat-muncrat.”


“Nya moal atuh, da masak surabina ge ditutup (ya ngga bakalan, kan masak surabinya ditutup.”


“Bukan surabinya, tapi pembelinya kena hujan lokal kamu!”


Ceu Edoh semakin kesal pada Abi. Nina langsung menundukkan kepalanya. Sebisa mungkin dia menahan tawanya yang hendak meledak. Sesuai perkiraan, duel mulut pedas suaminya dan ceu Edoh memang terjadi.


“Ai akang teh rek naon kadieu? Rek meuli atawa ngajak gelud? (akang ke sini mau apa? Mau beli apa ngajak ribut?).”


“Kan tadi udah dibilang, istri saya ngidam mau makan surabi, ya pasti mau beli. Budeg apa oon sih.”


“Rek surabi naon? (mau surabi apa).”


“Surabi telor yang pedes ya ceu,” jawab Nina.


“Telor naon? Sing jelas mun pesen teh.”


“Telor ayam yang ukurannya ngga lebih dari 80 gram. Posisi kuning telor ada di tengah, dari sebelah kiri dan atas jaraknya harus 4 senti, dari posisi kanan dan bawah 3 senti. Garem, merica sama sambelnya harus pas posisinya ada di tengah-tengah. Pedesnya juga harus pas sama lidah istri saya, kalau ngga pas, saya sumpel mulut kamu pake surabi gosong,” jawab Abi.


Ceu Edoh ternganga mendengar jawaban Abi. Matanya mengerjap-ngerjap beberapa saat. Baru kali ini dia bertemu dengan pembeli yang mulutnya ketus dan sikapnya menyebalkan. Wanita itu segera membuatkan pesanan Nina tanpa bertanya lagi. Nina terus saja terkikik, senang rasanya mendapat hiburan gratis dari suami serta ceu Edoh.


☘️☘️☘️


Bukan hanya Abi, Jojo dan Cakra yang dibuat pusing dengan acara ngidam istrinya yang tengah hamil. Juna pun tak kalah pusing dengan berbagai permintaan istrinya. Ada saja yang diminta Nadia pada suaminya itu.


Seminggu yang lalu Nadia selalu minta ikut ke kantor bersama si kembar. Alhasil ruang kerja Juna berubah seperti taman bermain. Nadia juga selalu ingin ikut meeting kalau tahu klien yang akan ditemui Juna adalah seorang perempuan. Bahkan dia meminta sekretaris Juna mencari pacar. Tentu saja pemuda itu kelabakan, karena dia memang jomblo akut.


Dan kali ini dia meminta Juna mengenakan kemeja warna pink saat bekerja selama seminggu. Tak ingin mengecewakan sang istri yang akan memberikannya anak ketiga, Juna pun mengiyakan saja permintaan istrinya. Dia memanggil Darian, sekretarisnya. Juna memerintahkan pada Darian untuk mengabarkan pada Kevin juga Wildan perihal aturan mengenakan kemeja pink selama seminggu ke depan.


Kevin yang baru saja mendapat kabar itu dari Darian segera menghadap Juna. Dengan kesal dia masuk ke ruangan bosnya itu. Juna yang sudah tahu maksud kedatangan asisten sekaligus sahabatnya hanya diam saja di kursi kebesarannya.


“Maksud lo apa nyuruh gue pake kemeja pink selama seminggu?”


“Nadia yang minta. Dia ngidam pengen lihat semua yang ada di lantai ini pake kemeja pink.”


“Gue ngga punya.”


“Beli, jangan kaya orang susah.”


“Bini lo yang hamil, kenapa gue harus ikutan repot,” protes Kevin.


“Ngomong aja sendiri sama orangnya.”


“Pokoknya gue ngga mau pake kemeja pink, titik!”


Kevin bergidik sendiri membayangkan dirinya mengenakan kemeja berwarna pink. Itu adalah warna yang paling tidak disukainya. Juna mengambil ponselnya kemudian menghubungi Rindu. Dia sengaja memasang mode loud speak agar suaranya terdengar oleh Kevin.


“Halo kak Juna,” Kevin langsung melihat ke arah Juna begitu mendengar suara istrinya.


“Halo Rin. Kakak mau minta tolong nih.”

__ADS_1


“Soal apa kak?”


“Nadia lagi ngidam. Dia pengen lihat aku sama Kevin pake kemeja pink selama seminggu, tapi suami kamu ngga mau. Katanya ngga punya kemeja pink.”


“Oh gampang itu kak, nanti aku beliin. Yang penting pink kan?” Kevin melotot mendengar ucapan istrinya. Dia langsung merebut ponsel dari tangan Juna.


“Bee, apa-apaan sih kamu. Pokoknya abang ngga mau pake kemeja pink.”


“Abang jangan gitu, kan kak Nadia lagi hamil. Kasihan nanti anaknya ileran kalau ngga diturutin.”


“Bodo amat, anaknya Juna ini bukan anak abang.”


Juna langsung mengeplak kepala Kevin mendengar ucapannya yang enteng tadi. Kevin beranjak sedikit menjauh dari Juna dan mematikan mode loud speak. Dia terus membujuk sang istri agar tak menyetujui permintaan Juna.


“Pokoknya abang harus turutin keinginan kak Nadia. Kalau ngga, aku ngga akan kasih abang jatah.”


“Bee.. kamu mah ngancem mulu.”


“Pokoknya kalau abang ngga mau. Aku sama anak-anak mau ke Tasik, mau liburan di sana dua bulan.”


“Iya-iya.”


Kevin mengakhiri panggilannya kemudian memberikan kembali ponsel pada sang empu. Juna tersenyum melihat kedongkolan di wajah Kevin. Sudah pasti pria itu takluk dengan ancaman istrinya.


“Apa lo senyum-senyum?”


“Besok jangan lupa pake kemeja pink,” jawab Juna sambil meng*lum senyum.


“Lo yang modalin, beliin gue kemejanya. Gue ogah keluar duit.”


“Tenang aja gue kirimin ke rumah lo sekontainer hahaha...”


“Si Nadia rese banget, ngidam bikin susah orang.”


Kevin terus saja menggerutu dan itu semakin membuat Juna terpingkal. Sebenarnya hanya dirinya yang diminta mengenakan kemeja pink. Tapi karena tak ingin ditertawakan oleh Kevin, dia pun berpura-pura kalau Nadia meminta semua yang ada bersamanya di lantai ini mengenakan kemeja dengan warna yang identik dengan perempuan. Setidaknya pria itu tak menderita sendirian.


☘️☘️☘️


Di hari terakhir Juna mengenakan kemeja pink, Nadia datang ke kantor untuk makan siang bersama sang suami. Kening wanita itu berkerut melihat Darian juga Wildan mengenakan kemeja pink, begitu pula resepsionis yang ada di lantai ini. Dia lalu menghampiri Darian yang tengah sibuk dengan pekerjaannnya.


“Dar..” tegur Nadia.


“Eh bu Nadia. Maaf saya ngga tahu kalau ibu datang. Cari pak Juna?”


“Bapak ada di ruangannya, lagi bicara sama pak Kevin.”


“Ok makasih. Eh iya, kok kamu sama Wildan bisa samaan pake kemeja pink?”


“Disuruh pak Juna. Selama seminggu ini, semua yang ada di lantai harus pakai kemeja pink.”


“Berarti Kevin juga?”


“Iya bu.”


Nadia meng*lum senyum mendengarnya. Dengan tidak sabar, dia membuka pintu ruangan. Pandangannya langsung tertuju pada Kevin yang tengah duduk di sofa bersama suaminya. Tawa wanita itu langsung meledak melihat Kevin mengenakan kemeja warna pink. Nadia tahu betul kalau sahabat suaminya itu tak menyukai warna favorit kaum hawa tersebut.


“Apa lo ketawa?”


“Ya ampun Vin.. lo imut banget sih? Boleh ngga aku unyeng-unyeng pipi kamu?”


“Rese lo! Kalau ngidam ngga usah bawa-bawa orang bisa ngga?”


“Aku kan cuma minta mas Juna yang pake kemeja pink. Kamu aja yang solidaritasnya tinggi jadi ikut-ikutan pake,” Nadia terkikik geli.


“Kata Juna...”


Kevin tak menyelesaikan ucapannya. Dia langsung menoleh ke arah sahabat sekaligus atasannya itu. Juna hanya mengendikkan bahunya dengan santai dan tanpa rasa bersalah sedikit pun.


“Dasar atasan durjana,” gerutu Kevin yang hanya dibalas Juna dengan tawanya saja.


“Tapi kamu tambah ganteng loh pake kemeja pink, imut-imut gimana gitu,” goda Nadia.


“Dasar suami istri sableng semua.”


Kevin membereskan berkas di atas meja kemudian bergegas keluar dari ruangan atasannya itu. Juna masih belum berhenti tertawa, bahagia sekali bisa mengerjai sahabatnya itu. Nadia menghampiri lalu memeluk leher suaminya.


“Jadi gitu ya mas, ngajak-ngajak temen pake kemeja pink-nya.”


“Biar kamu bahagia sayang.”


“Ngeles aja. Bilang aja malu kalau pake sendirian.”


“Hahahaha...”

__ADS_1


“Mas.. laper nih, makan yuk.”


“Ayo.. kamu mau makan apa?”


“Makan lotek yang di dekat kantor mas. Makannya di sana tapi makannya di sana aja ya.”


“Ok.”


Juna berdiri kemudian memeluk pinggang sang istri. Keduanya lalu keluar dari ruangan. Setelah menitipkan pesan pada Darian, Juna segera mengajak sang istri menuju kedai penjual lotek yang sudah terkenal kelezatannya seantero kantor.


☘️☘️☘️


Kebahagiaan juga tengah dirasakan Radix. Setelah menikah selama tiga bulan, dia sudah berhasil membuat sang istri hamil. Perasaan Radix campur aduk tak menentu, antara bahagia sekaligus takut. Pria itu takut kalau Naysila mengalami kejadian yang sama seperti Nabila. Namun hasil pemeriksaan menunjukkan kalau Naysila sehat, begitu pula dengan janin yang dikandungnya.


Waktu terus berjalan dan rasa cinta di antara keduanya mulai tumbuh dan berkembang. Ditambah dengan kehadiran calon anak mereka, membuat hubungan keduanya semakin erat saja. Radix sudah tak sungkan menunjukkan perasaan cintanya pada sang istri, begitu pula dengan Naysila yang mulai berani bersikap mesra pada suaminya itu. Irvin juga merasa senang akan mendapatkan seorang adik. Kebahagiaan yang dirasakan keluarga kecil itu lengkap sudah.


Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, Naysila sedari tadi berdiri di depan teras menunggu kepulangan suaminya. Dia berjalan mondar-mandir seraya mengusap perutnya yang buncit. Kehamilan Naysila sudah memasuki usia tujuh bulan. Sejak siang tadi, dia mengidam ingin membeli Red Velvet yang dijual di salah satu toko kue ternama di kota Bandung.


Setelah menunggu hampir dua puluh menit lamanya, akhirnya orang yang ditunggunya datang juga. Naysila menyambut kedatangan Radix dengan suka cita. Dia mencium punggung tangan sang suami yang dibalas ciuman di keningnya.


“Irvin masih di tempat mama?” tanya Radix.


“Iya a. Kata mama, Irvin disuruh nginap di sana.”


“Oh ya ngga apa-apa.”


“A.. aku pengen Red Velvet yang di toko The Pastry.”


“Boleh, tapi aa mandi dulu ya. Badan aa lengket nih.”


“Iya a. Mau aku bantuin gosokin punggungnya ngga?”


“Boleh banget dong sayang.”


Radix merangkul sang istri masuk ke dalam rumah. Setelah melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuhnya, pria itu masuk ke dalam bath tub. Tak lama Naysila masuk lalu bergabung ke dalam bath tub. Wanita itu langsung menggosok punggung sang suami. Kesempatan ini tentu saja dimanfaatkan Radix untuk menjenguk calon anaknya, dan tak ada penolakan dari Naysila. Sejak hamil, Naysila yang pemalu berubah menjadi agesif juga berurusan dengan masalah ranjang. Dan tentu saja hal ini membuat Radix senang bukan kepalang.


Selepas maghrib, Radix baru bisa mengajak istrinya keluar membeli kue yang dimaksud. Karena acara mandi sore memakan waktu lebih lama dari biasanya. Pria itu segera mengarahkan kendaraannya menuju daerah Setia Budi, tempat di mana toko dimaksud berada.


Setibanya di toko, ternyata stok Red Velvet telah habis dibeli. Naysila tentu saja merasa kecewa, ngidamnya tak kesampaian. Merasa bersalah, Radix pun berusaha membujuk sang istri agar permintaannya diganti hal lain saja.


“Ganti yang lain aja ya,” bujuk Radix.


“Tapi aku maunya Red Velvet.”


“Cari di toko lain gimana? Yang penting sama jenisnya dan rasanya juga enak.”


“Boleh deh.”


Radix menghubungi Sekar dan Rindu, menanyakan toko kue yang menjual Red Velvet. Tak lama dia menjalankan kendaraannya menuju toko kue hasil rekomendasi kedua sahabatnya. Sial, semua toko yang direkomendasikan Rindu juga Sekar telah kehabisan stok Red Velvet. Wajah Naysila nampak makin tertekuk saja. Akhirnya Radix memilih menghubungi Juna dan menanyakan apakah hotel Arjuna menyediakan Red Velvet.


Perasaan Radix senang begitu Juna turun tangan memerintah chef utamanya membuatkan Red Velvet untuk Naysila. Keduanya menunggu di restoran sambil menikmati makan malam. Satu setengah jam kemudian, pesanan kue selesai. Seraya mengucapkan terima kasih, Radix menerima boks kue tersebut. Keduanya kemudian kembali ke rumahnya.


Naysila memandangi Red Velvet di depannya.



Tangannya lalu mengambil ponsel kemudian mulai mengabadikan kue tersebut. Beberapa kali dia mengambil gambar kue berwarna merah tua itu. Radix menghampiri sang istri kemudian duduk di sampingnya.


“Kok dilihatin aja kuenya, dimakan dong.”


“Aa mau?”


“Boleh.”


Naysila bangun dari duduknya untuk mengambil piring kecil juga sendok. Hati-hati dia mengiris kue kemudian memberikannya pada Radix. Dia meminta Radix berpose sebelum memakan kue tersebut. pria itu menuruti saja permintaan sang istri. Puas mengambil gambar sang suami, Naysila segera meng-up load foto-foto yang diambilnya tadi ke laman IG.


“Yang, ini makan dulu kuenya.”


“Ngga ah, udah kenyang.”


“Loh katanya kamu mau makan kue ini tadi.”


“Bukan mau makan a. Mau beli buat aku foto. Nih udah kesampaian, aku udah foto dan udah kupajang di IG, hehehe..”


Radix hanya melongo mendengar jawaban istrinya. Dengan wajah tanpa dosa, Naysila mengangkat kue yang sudah tak utuh lagi bentuknya lalu memasukkannya ke dalam lemari es. Radix hanya mampu menepuk keningnya melihat kelakuan absurd sang istri. Susah-susah mendapatkan kue hanya untuk difoto saja.


☘️☘️☘️


**Mohon maaf kalau visualnya bikin ngiler🤭


Curhat bentar ya..


Mamake dapet misi dari NT selama bulan puasa up date 30 hari berturut² sampai lebaran. Menurut kalian mamake ambil ngga ya tawarannya? Aku sebenernya agak dag dig dug klo ikut misi ini, takut kalian jenuh dengan ceritanya🙈

__ADS_1


Kasih pendapat kalian ya, makasih😉**


__ADS_2