KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Rencana Pendekatan


__ADS_3

“Mang, aku udah bilang mau pulang sendiri.”


“Jangan cari masalah Frey. Masuk!!”


Freya terkejut melihat orang yang menyusulnya adalah Kenzie. Tak berani membantah perintah sang kakak, Freya bergegas masuk ke dalam mobil. Kenzie pun ikut menyusul masuk ke mobil, kendaraan roda empat itu akhirnya melaju.


Dari depan lobi hotel, Ravin terus memperhatikan mobil Kenzie sampai hilang dari pandangannya. Pria itu terjengit saat merasakan tepukan di bahunya. Ezra sudah berdiri di sampingnya.


“Kenapa harus kasih tahu Ken kalau Frey pulang sendiri. Harusnya lo aja yang anterin dia pulang.”


“Gimana gue bisa move on kalau terus deket dia. Tiap deket sama dia, perasaan yang mau gue hilangin malah tumbuh subur.”


“Yakin lo mau ngelepas Frey? Tiga tahun lo mendam perasaan sama dia. Belum lagi dua tahun belakangan lo juga stalker dia. Masa iya lo mau lepasin dia begitu aja. Ayo dong berjuang lagi.”


“Dia udah nolak gue kalo lo lupa.”


Ravin kembali masuk ke dalam lobi, lalu mendudukkan diri di salah satu sofa yang terdapat di sana. Ezra mengikuti sang sahabat dan ikut duduk di sampingnya. Beberapa karyawan yang melintas di depan mereka menganggukkan kepalanya tanda hormat.


“Kalau gue bilang, jawaban Frey waktu itu cuma cari aman aja. Dia ngga mau hubungan lo ama Barra renggang gara-gara dia. Selama enam bulan dia nolak pedekate sama elo juga Barra, karena apa? Karena dia menjaga hubungan baik kalian. Sekarang beda lagi ceritanya, Barra udah keluar dari arena permainan. Tuh kadal buluk nembak Frey gara-gara disugesti mulu ama bokapnya. Sekarang giliran lo maju, gue yakin Frey sebenernya ada rasa sama elo.”


“Gue ngga yakin Ez. Tar kalo ujung-ujungnya gue ditolak lagi gimana? Malu kuadrat gue. Si petasan jangwe pasti bakalan ngetawain gue mulu.”


“Cara pendekatan lo harus dirubah.”


“Gimana caranya?”


Ezra menggerakkan dua jarinya meminta sahabatnya itu untuk mendekat. Pria itu mulai mengatakan hal-hal apa saja yang harus dilakukan Ravin untuk menaklukkan hati adik sepupunya. Nampak beberapa kali Ravin mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Yakin nih cara bakalan berhasil? Tar gue cuma dibuat melambung tinggi terus dihempaskan ke bumi.”


“Ck.. tenang aja. Gue jamin nih rencana berhasil 1000%.”


“Kalau ngga berhasil?”


“Gue bakalan jadi kacung lo selama setahun.”


“DEAL!!”


Ravin mengulurkan tangannya ke arah Ezra. Pria tampan itu memandang wajah sang sahabat dengan keki. Begitu mendengar kata kacung, Ravin langsung setuju. Ezra curiga sebenarnya sahabatnya ini ingin bersama Freya atau melihatnya menjadi kacung.


“Lo kayanya girang banget gue mau jadi kacung lo.”


“Kapan lagi direktur Arjuna hotel jadi kacung gue hahaha..”


“Dasar kampret. Jadi lo ngga mau sama Frey nih.”


“Ya maulah,” sewot Ravin.


“Tapi.. kalo rencana gue berhasil lo harus ngelakuin sesuatu buat gue.”


“Apaan?”


“Belum kepikiran sih sekarang. Tapi nanti kalau udah kepikiran lo harus mau, jangan mangkir.”


“Asal jangan lo suruh gue dandan kaya mimi peri terus nari-nari di lampu merah.”


“Boleh juga tuh hahaha...”


“Gue gibeng lo berani nyuruh kaya gitu.”


“Hahahaha...”


Ezra tertawa santai menanggapi ucapan Ravin. Sebenarnya dia sudah membicarakan ini dengan Kenzie. Sahabat sekaligus sepupunya itu setuju usulannya untuk mendekatkan kembali Ravin dengan Freya. Kenzie memang menginginkan salah satu sahabatnya yang menjadi pendamping Freya. Karena Barra hanya menganggap Freya tak lebih sebagai adik, maka harapan Kenzie hanya pada Ravin. Menurutnya hanya Ravin yang bisa melindungi Freya nantinya.


☘️☘️☘️


Acara pertunangan Aric dan Naya selesai sudah. Semua tamu telah kembali pulang, demikian juga dengan sang pemilik acara. Aric mengantarkan Naya lebih dulu pulang baru kemudian dia kembali ke rumahnya.


Aric memarkirkan kendaraannya di halaman. Pria itu kemudian masuk ke dalam rumah. Kedatangannya sudah ditunggu oleh kedua orang tuanya. Dia melangkahkan kakinya menuju ruang tengah. Di sana, Cakra dan Sekar sudah menunggunya.


“Duduk!” titah Cakra.


Melihat sang kakak yang akan menghadiri sidang pleno, Anya yang juga tengah bersama kedua orang tuanya langsung naik ke lantai atas. Dia memilih menyingkir, melihat aura sang papi yang tidak bersahabat. Aric mendudukkan diri di tempat Anya berada tadi. Hatinya cukup ketar-ketir melihat Cakra yang begitu serius.


“Kamu tahu apa kesalahanmu?”


“Iya pi, maaf.”


“Buka hp-mu dan lihat kegaduhan apa yang sudah kamu timbulkan.”


Aric mengambil ponselnya lalu membuka aplikasi berita. Deretan berita tentang pertunangannya menghiasi hampir semua portal pemberitaan. Ada salah satu artikel dengan judul yang menarik perhatiannya, AKHIRNYA GENERASI PENERUS DINASTI HIKMAT TERKUAK. Dalam artikel tersebut, bukan hanya foto dirinya dan Naya yang terpampang, tapi juga Kenzie, Ezra dan Hanna.


“Papi kecewa sama kamu. Apa kamu tahu alasan om Abi menutupi identitas kalian? Ini semua demi keselamatan kalian. Kamu mungkin masih ingat kasus percobaan penculikan Alisha tujuh tahun lalu. Apa yang akan kamu lakukan kalau hal seperti itu terulang?”


“Maaf pi, aku ceroboh. Aku akan mengatasi masalah ini.”


“Kamu tidak perlu melakukan apa-apa. Om Abi sudah mengurus semua. Besok pagi semua pemberitaan itu akan hilang. Begitu pula dengan berita pertunanganmu. Yang perlu kamu lakukan adalah mulai bersikap tegas pada calon istrimu. Jangan sampai rasa cinta membutakan matamu dan membuatmu menjadi orang bodoh!”


Cakra meninggalkan ruang tengah dengan penuh kekesalan. Bisa-bisanya sang anak melakukan kecerobohan seperti tadi. Walau Jojo sudah meminta maaf atas nama Naya, namun pria itu tetap merasakan kekecewaan pada sang anak. Untung saja tadi Nina bisa menenangkan Abi, kalau tidak, sahabatnya itu akan membatalkan acara pertunangan Aric dan Naya.

__ADS_1


Sepeninggal Cakra, Sekar berpindah duduk di sisi sang anak. Aric merebahkan kepalanya di bahu sang mama. Pria itu sadar apa yang terjadi malam ini, mutlak adalah kesalahannya. Seharusnya dia memang bersikap lebih tegas pada Naya.


“Maafin aku, mi.”


“Mami tahu kamu juga terkejut dengan apa yang dilakukan Naya. Tapi papimu benar, seharusnya kamu bisa bersikap lebih tegas pada Naya. Rasa cinta tidak harus selalu ditunjukkan dengan menuruti semua keinginan pasangan kita. Kamu tetap harus bisa bersikap obyektif, hingga bisa menilai apa yang dilakukan itu benar atau salah. Kamu akan menjadi suami, nantinya tugasmu akan lebih berat.”


“Aku ngga bermaksud membela diri, mi. Tapi aku sungkan dengan om Jo.”


“Om Jo, bukan orang yang berpikiran sempit. Dia sudah bersahabat dengan papimu dan juga semua pamanmu sangat lama. Dia tahu betul apa saja aturan yang ada dalam keluarga kita, karena dia juga bagian dari itu. Om Jo akan sangat berterima kasih kalau kamu mengoreksi sikap Naya yang salah. Jadi, jangan bilang sungkan. Selama yang kamu lakukan itu baik, om Jo pasti akan mendukungmu.”


“Iya, mi. Makasih.”


“Kamu pasti lelah. Sana istirahat dulu.”


Aric memeluk Sekar sejenak. Maminya itu selalu saja dapat menenangkan hatinya di saat sedih atau gundah gulana. Jika Cakra menegur atau memarahinya, maka Sekarlah yang berperan sebagai tempatnya berlabuh. Dia akan mengarahkan dan memberikan semangat pada sang anak.


☘️☘️☘️


Hal yang sama terjadi di kediaman Jojo. Saat ini dirinya tengah berhadapan dengan putrinya. Naya masih duduk menunggu hal apa yang akan dibicarakan sang papa. Adinda datang bergabung, namun Jojo memintanya masuk ke dalam kamar. Dia memang melarang Adinda ikut bergabung, karena Naya pasti akan meminta pembelaan sang mama. Hanya Barra yang ada bersamanya.


“Kamu sadar Nay, kesalahan apa yang sudah kamu lakukan?” Jojo membuka percakapan.


“Kesalahan apa pa?”


“Soal mengundang wartawan, apa itu inisiatifmu sendiri atau kamu sudah mendiskusikannya dengan Aric?”


“Ooh soal itu. Aku yang undang pa.”


“Apa Aric tahu?”


“Ngga. Tapi kan selama ini bang Aric selalu ok aja dengan keputusanku. Emang ada masalah?”


“Kamu keterlaluan ya, Nay. Gara-gara ulahmu semua jadi repot. Masih untung kamu ngga disemprot sama om Abi. Kamu lupa apa? Keluarga Hikmat itu paling ngga suka kalau urusan pribadi keluarganya itu diekspos ke media massa,” sembur Barra. Sedari tadi pria itu sudah menahan kekesalan pada sang adik.


“Cuma masalah itu? Ngga usah lebay deh. Emang kenapa kalau ngundang wartawan. Kalau soal wartawan yang bikin pemberitaan tentang mereka ya itu resiko mereka sebagai salah satu keluarga terpandang. Aneh,” Naya menyilangkan kedua tangannya di dada.


Barra yang kesal mendengar jawaban Naya, segera pergi meninggalkan adiknya itu. Dia dan Naya memang tak pernah cocok. Selain egois dan manja, Naya juga keras kepala. Dia jarang mau mendengarkan nasehat orang-orang di sekitarnya.


“Naya.. kamu masih ingat kasus penculikan Alisha? Itu adalah salah satu alasan kenapa keluarga Hikmat tidak pernah mau mengekspos kehidupan pribadi mereka. Karena dibalik kesuksesan mereka, ada banyak orang yang membenci dan berusaha menjatuhkan mereka. Hal yang sama juga berlaku untuk keluarga kita. Jadi, papa minta batalkan semua jadwal wawancara dengan media. Ini demi kebaikanmu juga Aric.”


“Ya ngga bisa gitu dong pa. Aku kan udah setuju wawancara sama mereka.”


“Apa pentingnya wawancara itu? Kalau terjadi sesuatu sama kamu apa mereka akan menolongmu? Pemberitaanmu hanya dijadikan tambang emas untuk mereka. Turuti papa, batalkan semua. Lagi pula besok pemberitaan pertunangan kalian akan dihapus dari semua media massa dan sosial. Jangan melakukan hal yang sia-sia.”


“Papa jahat! Pokoknya aku bakal tetap melakukan wawancara, papa suka atau ngga.”


“NAYA!!”


“BATALKAN WAWANCARA ITU ATAU PAPA BATALKAN PERNIKAHANMU DENGAN ARIC, MENGERTI!!”


“I.. iya pa.”


Naya menundukkan kepalanya, seumur hidup, ini pertama kalinya sang ayah terlihat begitu marah padanya. Biasanya Jojo selalu bersikap lembut dan bijak. Hanya Adinda yang selalu mengeluarkan omelan plus suara menggelegarnya. Melihat anaknya yang nampak shock, Adinda bermaksud menghampiri namun Jojo melarangnya.


“Masuk!! Sekali-kali anak itu harus diberi pelajaran.”


Jojo menarik tangan sang istri masuk ke dalam kamar. Barra juga tak ada minat untuk menenangkan sang adik yang mulai menangis. Begitu pula Nara, dia sudah lelah melihat sikap manja dan mau menang sendiri kakak kembarnya. Gadis itu juga masuk ke dalam kamarnya. Hanya Dilara yang menghampiri Naya.


“Kak Naya...”


“Papa jahat, Dil. Aku salah apa? Kenapa papa lebih membela orang lain dari pada anaknya.”


“Sabar kak..”


Naya menangis dalam pelukan Dilara. Gadis itu benar-benar kecewa pada sang papa. Hanya karena masalah sepele, dirinya harus menerima bentakan dan juga ancaman Jojo. Besok Naya berencana menemui Aric dan mengadukan semuanya. Dia juga akan meminta Aric mengijinkannya untuk melakukan wawancara.


☘️☘️☘️


TOK


TOK


TOK


“Pak Ravin..”


Kepala Adel menyembul dari balik pintu. Ravin mengalihkan pandangan dari berkas-berkas di tangannya. Adel masuk lalu menghampiri meja atasannya itu.


“Pak.. kita makan siang yuk. Aku udah masak makanan spesial buat bapak,” Adel mengangkat kotak bekal di tangannya.


“Bagaimana kalau kita ke ruangan pak Ezra? Tadi dia ngajakin makan siang bareng.”


“Boleh.”


Ravin beranjak dari duduknya lalu bersama dengan Adel keluar dari ruangan. Mereka langsung menuju lift yang akan mengantar sampai ke lantai 17. Setelah mengetuk pintu, keduanya masuk ke dalam ruangan. Selain Ezra, Freya juga sudah ada di sana. Adel cukup terkejut melihat kehadiran Freya. Gadis itu masih bertanya-tanya apa hubungan Freya dengan dua lelaki pemegang jabatan tertinggi di hotel ini.


Sekretaris Ezra datang dengan membawa pesanan makan siang kemudian meletakkannya di atas meja. Wanita paruh baya itu kemudian keluar dari ruangan sang atasan. Adel juga membuka kotak bekalnya. Dengan bangga dia memperlihatkan hasil masakannya.


“Aku buatin masakan spesial buat pak Ravin, semoga rasanya pas ya.”

__ADS_1


Adel menyodorkan dua kotak bekal berisi semur ati sapi dan juga capcay ke arah Ravin. Freya menegang melihat Adel benar-benar memasakkan ati sapi untuk Ravin. Baik Ravin maupun terkejut melihat makanan yang dibawa Adel.


“Ini apa?” tanya Ravin.


“Semur ati sapi, kesukaan pak Ravin.”


“Kesukaanku?” Ravin kembali memastikan dan hanya dijawab anggukan oleh Adel.


“Kamu tahu dari mana Ravin suka ati sapi?” kali ini Ezra yang bertanya.


“Freya.”


Sontak Ravin dan Ezra melihat ke arah Freya. Gadis itu membuang pandangannya ke arah lain. Ezra mengulum tipis melihat Freya yang terlihat salah tingkah. Sedang Ravin melihatnya dengan pandangan yang sulit diartikan.


“Dicoba ya pak,” Adel hendak mengambilkan ati sapi untuk Ravin.


“Ehhmm.. Del.. sebenernya dari kemarin mamaku masakin ati sapi terus, jadi aku agak bosen sekarang,” kilah Ravin.


“Yaa.. gimana dong. Padahal aku udah cape-cape masak ini buat bapak.”


“Dikit aja ngga apa-apa deh.”


Ravin tak tega juga melihat wajah memelas Ade. Senyum wanita itu terbit mendengar ucapan Ravin. Dia memasukkan dua potong ati sapi ke dalam piring Ravin. Sejenak Ravin memandangi makanan yang paling tidak disukainya itu. Freya jadi tak enak hati, kejahilannya justru menyusahkan Ravin.


Dengan sangat terpaksa Ravin memotong sedikit ati kemudian memasukkan ke dalam mulutnya. Tanpa dikunyah dia langsung menelan makanan itu lalu mendorongnya dengan air. Freya memutar otak bagaimana caranya membebaskan Ravin dari situasi tak menyenangkan yang dibuatnya. Lalu pandangannya tertuju pada orange juice milik Adel yang tinggal setengah. Dengan gerakan pelan dia menyenggolnya hingga mengenai celana yang dikenakan wanita itu.


“Aduh.. maaf-maaf ya kak,” seru Freya.


“Ngga apa-apa.”


Freya mengambilkan tisu untuk Adel. Wanita itu segera mengeringkan tumpahan jus di celananya. Namun karena tangannya terasa lengket, dia meminta ijin Ezra memakai kamar mandi yang ada di ruangannya. Adel bergegas masuk ke dalam toilet. Freya secepat kilat mengambil ati dari piring Ravin kemudian menyuapkan ke dalam mulutnya. Begitu pula dengan Ezra. Beberapa saat kemudian Adel kembali. Dia tersenyum saat melihat ati buatannya sudah tak ada di piring Ravin.


“Gimana pak, semur ati buatanku?”


“Lumayan.. enak.”


“Tambah lagi pak.”


“Jangan!!” Adel terkejut mendapat jawaban kompak dari Ravin, Ezra dan Freya.


“Udah cukup, Del,” sambung Ravin.


Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya. Dia lalu meneruskan makannya yang sempat tertunda. Usai makan siang, Adel pamit karena harus bertemu dengan calon klien. Freya juga ikutan pamit, dia malu kalau harus berlama-lama dengan Ravin.


TING


Pintu lift terbuka, Freya masuk ke dalamnya. Baru saja pintu akan menutup, sebuah tangan menahannya. Freya terkejut melihat Ravin masuk ke dalam lift. Gadis itu menundukkan pandangannya.


“Kenapa kamu bilang sama Adel kalau ati sapi itu makanan kesukaanku?”


Freya tak menjawab pertanyaan Ravin, dia semakin menundukkan kepalanya. Sebenarnya dirinya bingung juga harus menjawab apa. Kemarin gadis itu spontan mengatakan hal tersebut karena kesal Adel terus saja bertanya tentang Ravin padanya.


“Apa sebegitu bencinya kamu sama aku, Frey, sampai kamu mengarahkan Adel buat masakin makanan yang paling ngga aku suka.”


“Ngga bang, ngga begitu,” akhirnya Freya membuka mulutnya juga.


“Lalu?”


“Aku.. cuma iseng aja. Maaf..”


“Iseng? Apa aku ini lelucon buatmu? Apa ngga cukup kamu menolakku dan sekarang aku dijadikan bahan permainanmu?”


“Ngga bang. Maaf aku ngga bermaksud seperti itu.”


TING


Pintu lift terbuka di lantai 13, dengan cepat Freya keluar dari lift. Melihat Ravin begitu marah padanya membuat hati Freya sedih. Dia memilih menghindari lelaki tersebut. Ravin menghela nafas melihat kepergian Freya. Sama sekali dia tak marah dengan perbuatan gadis itu. Dia hanya tengah menjalankan rencana yang disusun oleh Ezra. Walau tak tega, dia harus melakukan ini agar rencananya berhasil.


Jari Ravin bergerak memencet tombol 15. Kotak besi tersebut kembali bergerak ke atas. Ravin menyenderkan punggungnya ke dinding lift. Hatinya sungguh tak tenang mengingat bagaimana wajah sedih Freya. Sesampainya di lantai 15, Ravin kembali memencet tombol 13, pria itu bermaksud menemui Freya. Persetan dengan rencana yang disusunnya. Dia hanya tak ingin melihat gadis yang dicintainya bersedih.


Sementara itu Freya yang tak enak hati hanya duduk termenung di depan kubikelnya. Lamunannya buyar ketika terdengar ketukan di dekatnya. Remy datang dengan coklat di tangannya. Dia menyodorkan coklat itu pada Freya.


“Apa ini?”


“Coklat. Kamu ngga lihat.”


“Maksudku buat apa coklat ini.”


“Untukmu. Aku lihat dari pagi mood kamu lagi ngga bagus. Konon katanya coklat bisa mengembalikan mood kita. Jadi aku beli ini buat kamu. Ayo coba, kita lihat apa khasiatnya bekerja.”


Freya mengambil coklat dari tangan Remy lalu membuka bungkusnya. Sepotong coklat masuk ke dalam mulutnya. Seketika rasa manis penganan berwarna coklat itu langsung menerpa indra pengecapnya. Freya yang sangat menyukai coklat tentu saja merasa senang. Senyum Remy terbit melihat Freya menikmati coklat pemberiannya.


Dengan langkah lebar Ravin keluar dari dalam lift. Dia segera menuju ruangan divisi MPR. Saat kakinya akan masuk ke dalam ruangan terdengar suara tawa Freya. Ravin membuka sedikit pintu. Dari baliknya dia melihat Freya tengah berbicara sambil tertawa dengan Remy. Dengan kesal Ravin kembali ke ruangannya. Maksud hati ingin menghibur Freya, justru dirinya disuguhkan pemandangan yang membuat hati dan otaknya panas.


☘️☘️☘️


**Besok mamake udah mulai perang sama mixer, loyang dan oven, alias mulai bikin kue. Mohon maaf kalau sekiranya ngga bisa up tiap hari. Tapi mamake usahakan up kalau memungkinkan. Karena membuat kue dan menulis novel itu sama² membutuhkan waktu banyak.


Penasaran sama visual Ezra ngga? Nih mamake kasih**.

__ADS_1



__ADS_2