
Hai readers.. sekarang kita udah masuk ke cerita anak²nya. Sengaja mamake satukan aja di sini karena kisahnya mereka juga ngga akan panjang dan agak ribet kalau harus bikin judul baru. So enjoy the story.
******************************************
Seorang gadis cantik keluar dari mini market. Tangan kirinya menenteng kantung belanjaan, sedang tangannya memegang es krim batang. Sambil memakan es krimnya, gadis itu melangkah menyusuri jalanan yang mengarah ke kompleks perumahan di mana dia tinggal. Dia memilih berjalan kaki karena cuaca kota Bandung saat ini sedang bersahabat. Tidak panas dan hembusan angin terasa menyegarkan.
Di sebuah jalan yang sepi, nampak dua orang lelaki tengah bersantai di bawah pohon. Melihat seorang gadis berjalan seorang diri. Keduanya segera bergerak. Mereka menghampiri gadis tersebut dan berhenti tepat di depannya.
Freya memandangi dua orang lelaki yang menghalangi jalannya. Rambut gondrong, wajah kucel dan tatto yang memenuhi kedua lengan mereka semakin menambah kesan menakutkan. Tapi Freya terlihat santai, dia terus memandangi dua orang di depannya sambil terus memakan es krimnya.
“Boleh dong bagi-bagi kita,” salah seorang dari mereka mulai bersuara.
“Bagi apa? Es krim?” Freya melahap semua es krim di tangannya yang tinggal tersisa sedikit lalu memasukkan stik bekasnya ke dalam kantung belanjaannya.
“Sorry, udah abis,” lanjutnya.
“Kita ngga mau es krim. Kita mau yang ada di dalam dompet kamu. Sekalian juga sama hp, kalung dan cincin yang kamu pakai.”
“Kalau mau punya uang dan barang bagus, kerja, jangan ngerampok orang. Ngga berkah juga uangnya. Mau perut kalian buncit gara-gara makan uang haram.”
“Ck.. punya nyali juga nih cewek. Sikat aja bro, sekalian kita cicipin dia juga.”
Kedua pria tersebut merangsek maju mendekati Freya. Refleks gadis itu berjalan mundur. Dia mulai waspada dan bersiap-siap kalau para preman itu menyerangnya. Namun tiba-tiba
PLETUK
“Aduuhh..”
Salah seorang dari mereka terkena lemparan kerikil. Tak berapa lama, temannya pun merasakan hal yang sama. Dengan berang dia melihat ke arah pemuda yang berdiri tak jauh di belakang Freya.
“Berani sentuh dia. Gue bikin mampus lo!”
Tanpa menoleh, Freya sudah tahu siapa yang ada di belakangnya. Pemuda itu kemudian berjalan mendekat lalu berhenti di sampingnya. Kenan melipat kedua tangannya di depan dada dengan mata terus mengawasi dua lelaki di depannya.
“Lo ngga apa-apa kak?”
“Banyak bacot lo. Buruan hajar tuh orang,” kesal Freya.
“Ashiyaaapp.”
Kenan baru saja akan bergerak, namun seseorang telah mendahuluinya. Seorang pemuda tiba-tiba datang lalu menghajar kedua lelaki tersebut. Merasa bukan lawan seimbang, kedua preman itu langsung lari terbirit-birit. Setelah berhasil mengalahkan lawannya, pemuda itu membalikkan badannya menghadap Freya.
“Kamu ngga apa-apa Frey?”
“Cih sok pamer..”
“Aku anter pulang yuk.”
“Ogah.”
Freya segera menyetop security yang melintas dengan motornya. Melihat gadis itu, sang security menghentikan kendaraannya. Freya segera naik ke belakang pria bertubuh tambun itu. Saat motor mulai melaju, Freya menjulurkan lidahnya ke arah dua pemuda di belakangnya.
“Sabar ya bang, kakak gue emang antik,” Kenan menyentuh bahu Ravin.
“Elo tuh.. bantuin gue ngapa.”
“Eits sorry bang gue ngga bisa. Gue cuma mencoba fair aja, ngga mau berpihak sama siapa pun. Silahkan bang Ravin sama bang Barra bersaing secara sehat. Saran gue nih bang, sebelum naklukkin kak Frey, taklukkin dulu si naga kutub. Dia kan herdernya kak Frey. Good luck bro.”
Kenan menepuk bahu Ravin pelan kemudian membalikkan badannya. Sambil bersiul dia berjalan menuju motornya yang terparkir di dekat bangunan kampus yang terletak di dekat pintu masuk kompleks rumahnya. Sedang Ravin bergegas menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri. Dia memang mengikuti Freya sejak dari mini market.
Kenan memberikan selembar lima ribuan pada penjaga parkir, lalu naik ke atas tunggangannya. Baru saja dia akan memakai helm, sebuah suara yang sangat dikenalnya memanggilnya.
“Kenan...”
“Heleh si kunti, ngga di mana-mana nongol mulu.”
Setengah berlari, Chika menghampiri Kenan. Chika, teman SD Kenzie dulu, sekarang sudah tumbuh menjadi wanita cantik. Rasa sukanya pada Kenzie berubah menjadi cinta seiring bertambahnya usia. Namun sayang, Kenzie tak pernah menanggapinya.
“Bang Ken mana?” tanya Chika begitu sampai di dekat Kenan.
“Ya kerjalah. Ini kan jam kantor. Bang Ken bukan pengangguran yang keluyuran ngga jelas kaya elo.”
“Anterin aku ketemu Ken dong, ya Nan. Kamu ganteng deh.”
“Ngga usah dipuji juga gue udah ganteng. Sono pergi aja sendiri kalau mau ketemu bang Ken. Gue sih males nemenin elo. Emang siapa elo.”
Kenan langsung mengenakan helmnya kemudian menyalakan mesin motornya. Tak lama dia sudah melaju meninggalkan Chika dengan segala kekesalannya. Sambil menghentakkan kakinya, gadis itu kembali ke mobilnya. Kalau Kenan bukan adik dari pria yang dicintainya, dia juga malas harus beramah tamah dengan pemuda menyebalkan itu. Kenan memang memiliki wajah tampan dan tak pelit untuk tersenyum, Namun ucapan yang keluar dari mulutnya tak kalah pedas dari Kenzie.
☘️☘️☘️
“Ken....”
“Maaf pak.”
Sekretaris Kenzie hanya menundukkan kepalanya karena tak mampu menahan Chika yang menerobos masuk ke dalam ruang kerja Kenzie. Pria itu itu hanya menganggukkan kepalanya, dan sang sekretaris pun segera keluar dari ruangan. Chika berjalan mendekati meja kerja Kenzie lalu menarik kursi di depannya.
“Ken.. kita makan siang yuk.”
Tak ada jawaban dari Kenzie. Pria itu meneruskan pekerjaannya, seolah tak terganggu dengan kehadiran Chika. Untuk beberapa menit Chika masih sabar menunggu. Matanya terus memperhatikan Kenzie yang masih berkutat dengan laptopnya.
Kenzie sekarang berusia 26 tahun dan kini dipercaya memegang jabatan sebagai wakil CEO di Metro East. Dalam menjalankan tugasnya, Kenzie dibantu Fathan sebagai asistennya dan Yoga, sekretarisnya. Saat ini, dia masih belum memikirkan untuk berpacaran apalagi menikah. Pekerjaan masih menjadi fokus utama dalam hidupnya.
“Ken.. ayo kita makan. Aku laper,” Chika mulai merajuk.
Masih tak ada reaksi dari Kenzie. Dia tetap meneruskan pekerjaannya. Bahkan pandangannya tak beralih sedikit pun pada Chika. Sebenarnya dia jengah juga pada gadis di depannya. Chika selalu menempel padanya seperti permen karet. Kalau dia bukan anak dari rekan bisnis sang papa, mungkin dia sudah melempar gadis itu ke pulau komodo.
“Ken...”
“Kamu ngga lihat aku lagi apa?”
“Tapi ini kan udah masuk jam istirahat. Udah waktunya makan siang.”
“Suka-suka aku mau makan jam berapa.”
“Ya ngga boleh gitu dong. Kalau kamu makannya ngga teratur, nanti kamu sakit. Kalau kamu sakit, kan aku sedih, Ken.”
“Udah berkicaunya? Sana pulang.”
Kenzie akhirnya mengarahkan pandangannya pada Chika. Gadis itu menelan ludahnya kelat melihat mata tajam Kenzie yang menusuk. Tapi tak bisa dipungkiri kalau itu yang disukainya dari Kenzie. Pesonanya begitu kuat dan terus menariknya semakin dekat saja.
“Sekali aja Ken, kamu makan bareng sama aku.”
“Emang aku kurang apa sih, sampai kamu selalu mengabaikan aku?” lanjut Chika karena Kenzie tak kunjung menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
“Kurang diem.”
Kenzie mengangkat gagang telepon di dekatnya kemudian menghubungi sekretarisnya. Tak lama Yoga masuk ke dalam.
“Tolong bawa perempuan ini keluar, mengganggu pekerjaan saya.”
“Baik pak.”
Yoga segera mendekat kemudian menarik tangan Chika. Dengan kasar Chika menepis tangan Yoga. Dia berdiri kemudian merapihkan dressnya yang sedikit kusut. Dengan kesal dia melihat ke arah Kenzie.
“Ingat ya Ken. Aku akan membuatmu bertekuk lutut padaku. Aku akan membuatmu datang dan mengemis padaku.”
“Yoga, sekalian kamu siram kepalanya pake air. Kayanya dia tidur sambil berjalan.”
Hampir saja tawa Yoga meledak mendengar ucapan sarkas atasannya. Chika semakin dibuat kesal dengan sikap Kenzie. Dia mendorong tubuh Yoga lalu berjalan keluar ruangan. Sepertinya dia harus memakai cara lain untuk mendapatkan Kenzie. Dia akan meminta sang ayah untuk merancang perjodohan antara dirinya dengan pria itu.
☘️☘️☘️
Usai makan malam, Kenzie nampak bersantai dengan berbaring di sofa ruang tengah. Kepalanya berada di pangkuan sang mama. Nina mengusap kepala anak sulungnya ini. Walau sudah sebesar ini, Kenzie masih sering bermanja padanya. Tak berapa lama Abi datang. Dia menarik tangan Kenzie, membuatnya bangun dari tidurnya.
“Bangun, jangan deket-deket wanitanya papa.”
Setelah berhasil menghalau Kenzie, Abi langsung tiduran menggantikan posisi sang anak. Dia merebahkan kepalanya di pangkuan sang istri.
“Wanitanya papa itu mamaku, kalau papa lupa.”
Nina hanya menggelengkan kepalanya saja melihat perdebatan anak dan suaminya. Keduanya memang kerap memperebutkan dirinya. Belum lagi jika ditambah Kenan. Maka akan terjadi perang tiga sisi. Apalagi jika Freya sudah bertingkah seperti pelakor yang merebut Abi darinya. Tapi itu semua merupakan hiburan tersendiri untuknya di usia senjanya.
“Dan mamamu itu istri papa. Kamu sudah besar, jangan ganggu mama lagi. Sana cari perempuan yang bisa kamu peluk.”
“Belum nemu.”
“Gimana mau nemu kalau kamu nongkrongnya di kantor terus. Ketemunya sama Fathan dan Yoga. Sekali-kali kamu main ke rumah om Jo, om Radix, om Gurit atau om Kevin. Siapa tahu jodoh kamu ada di sana.”
“Anaknya om Kevin laki semua pa.”
“Oh iya. Atau kamu sama Chika aja anaknya om Damar. Nanti papa yang lamarin dia buat kamu.”
“Ngga mau! Awas aja ya pa, berani lamarin dia buat aku. Aku mau perempuan yang kaya mama.”
“Udah ngga ada lagi. Mama itu limited edition dan udah jadi hak milik papa.”
“Lebay.”
Kenzie berjalan meninggalkan kedua orang tuanya. Kakinya melangkah menapaki anak tangga, menuju kamarnya yang terletak di lantai dua. Abi mengubah posisi tidurnya menjadi miring. Wajahnya menghadap perut Nina. Tangannya melingkari pinggang sang istri.
“Tuh anak udah 26 tahun tapi masih belum mikirin cewek.”
“Kasih dia waktu mas.”
“Waktu umur segitu mas udah nikah.”
“Iya, sama Fahira,” ketus Nina.
“Kok kamu ngomong gitu sih, Yang.”
“Loh emang bener kan. Fahira itu istri pertama mas.”
“Tapi kok nada suaranya gitu sih.”
“Kamu cemburu ya.”
“Ngga.. ngapain cemburu sama orang yang udah ngga ada.”
“Nah iya. Ngapain juga kamu cemburu, ngga penting. Dia mungkin istri pertama mas, tapi kamu yang terakhir dan terbaik. Dan mas sangat mencintaimu, dulu, sekarang dan selamanya.”
“Gombal.”
Tak ayal senyum Nina terbit juga mendengar gombalan receh suaminya. Seiring bertambahnya usia, sikap Abi mulai bertambah romantis padanya. Berbeda seperti awal-awal mereka menikah dulu. Abi menarik tengkuk Nina, namun belum sempat bibirnya mendarat di bibir Nina, sebuah suara mengiterupsi kegiatan mereka.
“Mama.. papa.. please deh jangan kotori mata suciku dengan kemesraan kalian. Kasihanilah anakmu yang masih polos ini.”
“Polos.. bilang aja jomblo.”
“Jomblo itu pilihan ya pa, bukan takdir.”
“Dari pada kamu gangguin papa sama mama. Mending kamu pikirin siapa yang mau kamu pilih, Ravin apa Barra. Jangan kelamaan gantung anak orang. Mereka bukan jemuran.”
“Au ah gelap.”
Gadis itu bergegas naik ke lantai atas sebelum dirinya dibombardir kedua orang tuanya perihal para pria yang mendekatinya. Abi hanya terkekeh saja melihat kelakuan sang putri. Dia kemudian mengalihkan pandangannya pada Nina.
“Kamu lebih setuju Frey sama Ravin apa Barra?”
“Aku ngga mau ikut campur. Biar Frey aja yang mutusin. Dua-duanya sama-sama baik. Siapa pun pilihan Frey, aku akan mendukungnya.”
“Ngga kebayang, Ravin dan Barra yang saingan. Ngga taunya mereka ditikung sama laki-laki lain hahaha...”
“Ish mas tuh suka julid. Nanti Jojo nangis guling-guling.”
“Haahhh.. ngomongin tuh orang, puyeng. Tiap ketemu pasti nanya terus soal Barra sama Frey. Apalagi kalau udah ada Kevin, dua orang tuh pasti ribut. Sibuk promoin anaknya.”
“Hahaha.. lucu ya mas. Aku juga kalau ketemu Rindu sama Dinda, pasti mereka juga nanyain soal Frey pilih siapa.”
“Emang pesona seorang Abimanyu itu ngga lekang dimakan zaman. Dulu bapaknya, sekarang anaknya yang jadi rebutan.”
“Hilih.. mulai narsisnya.”
Abi tergelak mendengar jawaban keki sang istri. Tangannya bergerak meraba wajah istrinya yang masih terlihat cantik. Nina menundukkan kepalanya. Abi meraih tengkuk Nina seraya menaikkan posisi kepala. Hanya sedikit lagi bibir mereka bertemu,
“Astaga pasangan tua ini kalau bermesraan suka ngga lihat tempat.”
Lagi-lagi pertemuan bibir Abi dan Nina harus gagal setelah Kenan datang dan mengganggu mereka. Dengan kesal Abi bangun dari tidurnya lalu menarik tangan Nina. Mereka langsung menuju ke kamar dan melanjutkan sesuatu yang tertunda tadi.
Kenan hanya melihat kedua orang tuanya pergi dengan wajah tanpa dosa. Dia lalu menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Tangannya bergerak mengganti-ganti channel televisi. Mencari acara yang menarik perhatiannya.
Sementara itu di atas, setelah masuk ke dalam kamarnya, Freya langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur. Matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar. Sesekali terdengar helaan nafasnya. Kepalanya pusing memikirkan dua orang pria yang saat ini tengah mengejarnya.
Freya sudah berteman dengan Barra dan Ravin sejak kecil. Dia sendiri sudah nyaman dengan zona pertemanan di antara mereka. Namun tiba-tiba enam bulan lalu keduanya menyatakan perasaan padanya. Barra lebih dulu mengungkapkan perasaannya. Sehari kemudian Ravin juga mengatakan hal yang sama padanya. Freya sendiri masih belum tahu kemana hatinya akan berlabuh.
Dddrrttt..
Dddrrrtt..
__ADS_1
Lamunan Freya buyar saat sebuah pesan masuk ke ponselnya. Dengan malas dia menegakkan tubuhnya kemudian menarih ponsel yang ada di atas nakas. Gadis itu kembali merebahkan tubuhnya seraya membuka pesan yang masuk.
From Barra :
Udah tidur?
To Barra :
Belum
From Barra :
Besok jalan yuk.
To Barra :
Kemana?
From Barra :
Nonton. Ada film baru.
To Barra :
Lihat besok.
Freya meletakkan ponsel di dekatnya. Baru saja gadis itu akan memejamkan matanya. Sebuah pesan kembali masuk ke ponselnya. Tangannya meraba ruang di sebelahnya untuk mengambil benda pipih persegi itu.
From Ravin :
Lagi apa?
To Ravin :
Rebahan.
From Ravin :
Besok jalan yuk.
To Ravin :
Kemana?
From Ravin :
Nonton pertunjukkan kembang api.
To Ravin :
Lihat besok.
Freya kembali meletakkan ponselnya. Lalu dia mengambil bantal dan membenamkan ke wajahnya. Dia berteriak keras mengeluarkan kebingungan yang melanda hatinya. Barra dan Ravin sama-sama baik, sama gantengnya dan perhatian padanya. gadis itu benar-benar bingung harus menjatuhkan pilihan pada siapa.
☘️☘️☘️
Pagi harinya seluruh keluarga tengah sarapan bersama. Kenzie sudah siap dengan setelah kerjanya. Walau hari Sabtu, dia memilih datang ke kantor dari pada harus menghabiskan waktu dengan hal-hal tak penting menurutnya. Dia melirik ke arah Freya yang nampak tak bersemangat menikmati sarapannya.
“Frey.. kamu kan udah beres kuliah. Kamu ngga ada niatan kerja gitu?” Kenzie membuka pembicaraan.
“Mau kok. Aku rencananya mau kerja di hotel Arjuna aja bareng kak Ezra. Dia itu lebih manusiawi dibanding abang.”
Kenan terkekeh mendengar jawaban kakak perempuannya. Namun kekehannya berhenti begitu mendapat tatapan horor dari Kenzie. Pemuda itu memilih menghabiskan makanannya.
“Kamu mau kerja di bagian apa?” kali ini Abi yang bertanya.
“Kata kak Ezra ada posisi kosong di bagian keuangan. Kayanya aku mau ambil pa. Anggap aja cari pengalaman kerja di bawah orang lain.”
“Papa setuju. Kerja yang baik, jangan malu-maluin kakak sepupumu.”
“Siap bos.”
Abi menyunggingkan senyum tipis. Dia memang selalu mengajarkan anak-anaknya untuk mandiri. Mereka bebas memilih pekerjaan apa saja, asal itu baik dan sesuai dengan passion mereka.
“Bagaimana kuliahmu?”
“Lancar, aman terkendali pa.”
“Bagus.”
“Pa, aku mau ambil side job boleh? Bandku ditawari ngisi acara setiap weekend di cafe teman. Boleh ya pa?”
“Hmm.. asal jangan sampai mengganggu kuliahmu.”
“Woke jenderal.”
Kenan tersenyum senang mendapat lampu hijau dari sang papa. Dia bersama dengan Haikal, Revan dan Viren memang membentuk grup band. Viren didaulat sebagai penggebuk drum, Haikal bass, Revan dan dirinya memegang gitar. Kenan juga merangkap sebagai vokalis. Terkadang Anya, adik Aric ikut tampil bersama mereka.
“Assalamu’laikum..”
☘️☘️☘️
**Waalaikumsalam...
Siapa tuh yang dateng🤔
Kira² Freya bakal milih Barra apa Ravin?
Mana tim Barra?🙋
Mana tim Ravin?🙋
Buat yang penasaran sama visual anak² Abi dan Nina. Nih mamake kasih.
Kenzie**
Freya
Kenan
__ADS_1