KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Hasutan


__ADS_3

Mendapat berita dari Kenzie, Barra bergegas pulang ke rumah. Pria itu takut terjadi sesuatu pada sang adik. Kini dirinya yang diberi tanggung jawab oleh Jojo untuk menjaga ketiga adiknya. Pagi tadi kedua orang tuanya berangkat ke Thailand, entah apa yang mereka kerjakan atau cari di sana.


Nara terkejut ketika pintu kamarnya terbuka tiba-tiba. Barra menghambur masuk kemudian mendekati sang adik. Pria itu memandangi Nara yang tengah duduk sambil menyender di headboard ranjang. Matanya memindai apakah ada bagian tubuh sang adik yang terluka.


“Abang kenapa sih?”


“Kamu ngga apa-apa? Mana yang luka?”


“Ngga bang. Tadi perutku kena tendang tapi udah baikan kok.”


“Beneran ngga apa-apa?”


“Iya abang.”


“Syukur deh. Aku hampir jantungan denger kamu kena begal.”


Barra merangkak naik ke atas kasur lalu ikut duduk di samping Nara. Untung saja saat kejadian sang adik bersama dengan Kenan. Pemuda pemegang sabuk hitam taekwondo itu pasti bisa melindungi sang adik.


“Si Kenan kan jago beladiri, kenapa kamu sampai kena tendang?”


“Tadi Nan mau dipukul pake kayu ama tuh begal. Aku kan takut bang, refleks aku lari, niatnya mau nolong Nan, eh malah aku yang kena tendang.”


“Makanya jangan sok jadi pahlawan, ujung-ujungnya jadi korban. Tanpa kamu tolong si kompor mledug pasti bisa ngelindungin dirinya sendiri. Cukup kamu keluarin teriakan tujuh oktaf kamu, beres,” Barra menoyor kepala sang adik.


“Ish.. tadi mas Ken marah, sekarang abang juga ikutan marah.”


“Ya gimana ngga marah, kamu tuh bertindak tanpa.... eh bentar-bentar, tadi kamu manggil Ken apa? Mas?”


Nara menutup mulut dengan kedua tangannya lalu menggelengkan kepala dengan cepat ketika sadar dirinya sudah keceplosan. Barra memperhatikan wajah sang adik dengan tatapan penuh menggoda. Nara mengambil bantal lalu menutupi wajahnya dengan itu.


“Ra..”


“Hmm..” jawab Nara tanpa melepaskan bantal dari wajahnya.


“Ini lepas napa,” Barra menarik paksa bantal dari sang adik.


“Apaan sih bang.”


“Kamu kenal Toza ngga?”


“Tozaki mantannya Hanna?”


“Iya.”


“Kenal sih ngga, cuma tau aja. Hanna suka cerita soal dia. Emang kenapa?”


“Hanna lama pacaran sama si Toza.. Toza itu?”


Nara terdiam sejenak untuk mengingat-ingat sambil mengetukkan jari ke dagunya. Sebenarnya dia sudah ingat, hanya sengaja saja mengulur waktu agar sang kakak penasaran. Sadar kalau Nara sedang mengerjainya, sebuah toyoran kembali mendarat di kepala Nara, membuat gadis itu terkikik.


“Pacarannya dua tahun bang, tapi mereka kenal udah agak lama sekitar tiga tahun gitu.”


“Mereka putus kenapa?”


“Toza ngga mau komitmen. Dia takut nikah karena pengalaman buruk orang tuanya. Selain itu karena mereka beda keyakinan juga sih. Pasti om Anfa ngga akan setuju, kecuali Toza mau jadi mualaf. Makanya mereka putus.”


“Yang mutusin Hanna apa Toza?”


“Kesepakatan bersama sih kayanya.”


“Hanna masih suka ngga sama si Toza?”


“Hmm... ngga tahu juga ya bang. Mereka kan putus bukan karena orang ketiga, jadi kemungkinan sih masih pada sayang juga. Mereka putus karena merasa sia-sia aja ngelanjutin hubungan yang ngga akan tau akan sampe ke ujungnya apa ngga. Kenapa sih bang nanya-nanya? Abang beneran suka ama Hanna?”


Barra tak menjawab pertanyaan sang adik. Dia merebahkan tubuhnya di kasur dan menjadikan kedua tangannya sebagai tumpuan kepala. Matanya menatap lurus ke langit-langit kamar.


“Hanna ngga pernah cerita soal abang ke kamu?”


“Ngga bang. Mungkin dia sungkan kali kalo cerita ke aku. Ngga tahu kalau sama Azra atau Frey. Abang coba tanya aja ke Frey.”


“Ngga ah, tar ada yang cemburu kalo aku tanya Frey.”


“Siapa? Bang Ravin?”


“Iya si kunyuk itu, siapa lagi.”


“Emang bang Ravin ngejar Frey lagi?”


“Iya, lagi tancep gas sekarang dia. Kayanya Frey juga suka sama dia.”


“Ya ampun jadi selama ini abang cuma jadi laler pengganggu aja dong.”


Barra berdecak sebal mendengar komentar sang adik. Nara hanya terkikik melihat wajah kesal Barra. Terdengar ponsel Nara berdering, melihat Kenzie yang melakukan panggilan, Nara buru-buru mengusir Barra dari kamarnya. Dia mendorong tubuh sang kakak sampai jatuh dari ranjang.


BRUK


“Aduh.. dasar adek durjana!”


“Sana keluar abang.”


“Telpon dari Ken ya?”


“Kepoooo... sana keluar.”


Barra segera keluar dari kamar sebelum Nara melemparnya dengan bantal. Begitu Barra keluar dari kamar, Nara segera menjawab panggilan. Tapi tiba-tiba pria itu kembali masuk, dia berlari mendekati Nara kemudian berteriak di dekat ponsel Nara.


“Keeeeen!!! Si Nara udah bucin noh sama elo!!”


“Abaaaangg!!”


Nara mengambil bantal lalu memukulkannya ke arah Barra. Pria itu malah tergelak kemudian lari meninggalkan sang adik. Nara mengambil kembali ponsel yang tadi diletakkan di atas kasur.


“Halo..”


“Udah selesai urusannya sama Barra?”


“Udah mas.”


“Sekarang tidur!”


“Iya mas.”


Panggilan langsung berakhir. Nara sedikit kecewa karena Kenzie tak mengucapkan kata-kata manis untuknya. Bahkan sepertinya teriakan Barra tadi tak berarti apapun baginya. Nara membaringkan tubuhnya, diambilnya guling lalu dipeluknya erat. Gadis itu mencoba untuk tidur, terbayang wajah Kenzie saat matanya tertutup.


☘️☘️☘️


Naya keluar dari kamar mandi masih menggunakan bath robe. Gadis itu mendudukkan diri di depan meja rias lalu mulai memoles wajahnya dengan cream. Setelah itu Naya membuka lemari, cukup lama gadis itu berdiri melihat deretan pakaian yang tergantung di depannya. Dia kembali menutup pintu lemari, lalu pandangannya tertuju ke conneting door. Pintu yang menghubungkan kamarnya dengan kamar Nara.


Dari pulang kerja kemarin sampai sekarang, dia tidak melihat Nara keluar dari kamar. Naya mendekat ke connecting door lalu membuka selot yang menempel di pinggir pintu. Biasanya baik Naya maupun Nara tak pernah mengunci pintu tersebut. Namun semenjak hubungan keduanya merenggang, Naya selalu menguncinya.


Kening Naya berkerut saat pintu terbuka. Biasanya Nara sudah siap dengan setelan kerjanya, tapi sekarang kembarannya itu masih berbaring di kasur. Nara terkejut sekaligus senang melihat Naya datang ke kamarnya melalui pintu penghubung itu.


“Ra.. lo ngga kerja?”


“Ngga.. gue masih dikasih libur.”


“Enak banget.”

__ADS_1


Naya merangkak naik ke atas kasur lalu merebahkan diri di samping adik kembarnya. Terdengar helaan nafasnya beberapa kali. Nara menolehkan kepalanya ke arah Naya. Jelas terlihat kalau ada yang mengganggu pikiran Naya.


“Kenapa Nay?”


“Bang Aric.”


“Bang Aric kenapa?”


“Kata Ve.. dia jalan sama cewek lain.”


“Terus lo percaya gitu?”


Kini giliran Naya yang menolehkan kepalanya ke arah kembarannya. Dia mengubah posisinya menjadi berbaring dengan sebelah tangan menyangga kepalanya.


“Kalau lo?” Naya malah balik bertanya pada Nara.


“Kalau gue jadi elo, ya ngga akan percaya sebelum melihat dengan mata kepala sendiri. Nay.. elo tuh udah lama kenal bang Aric. Dari kecil kita tumbuh bersama, sedang Ve.. lo baru beberapa tahun kenal sama dia. Masa sih lo lebih percaya Ve dari pada bang Aric, teman masa kecil dan tunangan lo sendiri.”


“Tapi wajar kan kalo gue curiga. Lo tahu sendiri hubungan gue sama bang Aric kaya gimana sekarang.”


“Tapi kalo lo curigaan kaya gini, malah bikin hubungan lo sama bang Aric tambah kacau nantinya.”


Naya kembali merebahkan kepalanya di atas bantal. Kini gantian Nara yang mengambil posisi seperti Naya tadi. Senyum terkulum di bibirnya melihat Naya datang kemudian berbaring di kasurnya. Dulu mereka kerap seperti ini, saling mengunjungi kamar masing-masing dan berbagi cerita.


Mata Nara nampak berkaca-kaca. Gadis itu menolehkan wajahnya ke arah lain seraya mengusap sudut matanya. Apa yang dilakukan Nara tertangkap oleh Naya.


“Lo kenapa Ra?”


“Ngga apa-apa, gue cuma kangen aja.”


“Kangen apa?”


“Kangen momen kaya sekarang. Akhir-akhir ini kita jarang kaya gini kan Nay?”


Naya hanya terdiam namun membenarkan apa yang dikatakan saudaranya itu. Sejujurnya Naya juga merindukan momen kebersamaan mereka dahulu. Namun entah apa yang membuatnya terkadang enggan untuk menjalin kedekatan dengan adiknya itu.


“Nay..”


“Hmm..”


“Sorry ya kalau gue yang duluan nikah.”


“Ngga apa-apa. Emang nasib gue kali.”


“Nay.. ayo baikan dong sama bang Aric. Emang bang Aric minta apa sih ke elo?”


“Au ah Ra, pusing gue.”


“Hayo lagi pada gosip apa?”


Saudara kembar yang tengah berbaring di kasur dikejutkan dengan kehadiran Dilara. Tanpa mengetuk pintu, gadis itu langsung nyelonong masuk ketika mendengar suara-suara dari kamar sang kakak. Dilara naik ke atas kasur lalu berbaring di antara Nara dan Naya.


“Iih nih anak main nyempil aja,” protes Nara.”


“Biarin. Kak, ngga siap-siap kerja? Udah jam tujuh tuh,” ujar Dilara pada Naya.


“Bentar lagi.”


“Jangan lupa sarapan. Tadi malem kak Naya kan ngga makan, Kata Ayu, kakak juga ngga makan siang kemarin.”


“Dasar Ayu, ember bocor,” kelutus Naya.


“Eh itu tandanya perhatian. Kak Ayu tuh asisten setia, kak.”


“Sana sarapan dulu, Nay.”


“Gue bikinin tomago sandwich, mau ya?” tawar Nara.


Mendengar salah satu makanan favoritnya, Naya langsung menganggukkan kepalanya. Pelan-pelan Nara bangun kemudian turun dari kasur. Walau nyeri di perutnya masih belum sepenuhnya hilang, namun demi membuatkan makanan kesukaan Naya, Nara menahan rasa sakit itu.


Hati-hati Nara menuruni anak tangga sambil memegangi perutnya. Kemudian dia berjalan menuju dapur. Diambilnya dua buah telur dari dalam kulkas lalu merebusnya. Selanjutnya dia mengambil keju kemudian memarutnya. Terakhir dia mengambil roti tawar yang selalu siap di atas meja makan.


Nara mengangkat telur yang dirasa sudah pas kematangannya. Setelah merendamnya sebentar di air dingin, dia mengupas telur kemudian lalu dimasukkan ke dalam mangkok. Pelan-pelan dihancurkan telur rebus yang kuningnya tidak matang sempurna. Nara menambahkan keju parut dan mayonaise serta sedikit oregano ke dalam telur kemudian mengaduknya.


Gadis itu mengambil selembar roti tawar lalu memasukkan adonan telur ke atas roti kemudian menaruh lagi selembar roti di atasnya. Dia terus melakukan itu sampai telur habis. Total ada empat tangkup roti yang berhasil dibuatnya. Selanjutnya Nara membagi dua roti dengan bentuk segitiga. Terakhir dia menata tomago sandwich di atas piring dan membawanya ke meja makan.


Barra yang baru keluar dari kamarnya terkejut melihat sang adik yang seharusnya beristirahat justru sibuk menyiapkan sarapan. Bergegas dia menuruni tangga kemudian menghampiri Nara.


“Ra.. ngapain kamu?”


“Ish abang ngagetin aja. Aku cuma buat tomago sandwich buat Naya.”


Naya yang sudah selesai berpakaian turun dari lantai dua diikuti Dilara dari belakang. Mata Naya berbinar melihat makanan kesukaannya sudah siap di atas meja. Dengan cepat dia menyambar tomago sandwich buatan Nara. Seperti biasa makanan buatan saudara kembarnya tak pernah gagal. Rasanya selalu lezat seperti masakan sang mama.


“Nay.. kamu bener-bener keterlaluan ya,” sembur Barra.


“Kenapa bang?”


“Nara itu lagi sakit! Dia belum boleh banyak gerak!”


“Bang.. udah iih.. ini bukan salah Naya. Aku yang inisiatif bikin sarapan buat dia.”


“Aku kan ngga tau bang,” kesal Naya.


“Karena kamu emang ngga peka!! Kamu tahu dari kemarin sore Nara ngga keluar kamar. Harusnya kamu tanya!! Kamu tuh ngga ada perhatiannya sama sekali sama saudara sendiri. Asal kamu tahu, Nara kemarin kena begal. Perutnya kena pukulan dan dia ngga boleh banyak gerak.”


Dilara terkejut mendengar penuturan Barra. Gadis itu segera mendekati Nara. Pantas saja sang kakak tidak keluar kamar kemarin. Dipikirnya Nara kelelahan sehabis belanja hantaran pernikahan.


“Terus aja salahin aku, bang. Dari dulu abang tuh emang ngga pernah sayang sama aku. Selalu aja Nara yang abang bela. Sebenarnya aku adik abang bukan sih??!!”


Dengan kesal Naya meninggalkan ruangan makan. Hilang sudah selera makannya gara-gara ucapan Barra. Gadis itu segera masuk ke mobilnya kemudian melajukannya dengan kecepatan tinggi.


“Abang jahat banget sih sama Naya.”


“Sekali-kali tuh anak harus dikerasin, biar ngga manja. Sekarang kamu balik ke kamar.”


“Ngga mau!!”


“Nara!”


Nara hanya melengos mendengar teriakan Barra. Matanya melihat tomago sandwich yang baru sedikit terkena gigitan Naya. Sia-sia saja perjuangannya membuatkan sarapan untuk saudara kembarnya. Padahal Nara berharap, hubungannya bisa sedikit membaik dengan Naya. Namun Barra mengacaukan segalanya.


Kenzie yang baru saja tiba terkejut melihat Nara dan Barra tengah bersitegang. Perdebatan Nara dan Barra berakhir begitu pria itu datang. Dengan menenteng jas di tangannya, Barra beranjak pergi.


“Ken.. bawa tuh calon istri lo yang keras kepala ke kamar. Suruh dia istirahat, kali aja kalo lo yang ngomong dia mau nurut,” Barra melanjutkan langkahnya.


Nara menundukkan kepalanya saat Kenzie melihat ke arahnya. Seketika Dilara merinding melihat tatapan Kenzie pada sang kakak. Gadis itu buru-buru kembali ke kamarnya. Perlahan Kenzie menghampiri Nara.


“Ngapain di sini? Bukannya istirahat.”


“Tadi buatin Naya sarapan dulu mas.”


“Emangnya dia ngga punya tangan? Dia bisa bikin sendiri kan?”


“Ngga gitu mas.. aku..”


Belum sempat Nara menyelesaikan kalimatnya, Kenzie langsung membopong tubuh Nara kemudian membawanya ke kamar. Pria itu mendudukkan Nara di atas kasur. Dan dirinya menyusul duduk di sisi ranjang.

__ADS_1


“Kamu itu lagi sakit, Ra. Harusnya kamu lebih peduli dengan keadaan kamu.”


“Aku cuma mau memperbaiki hubungan sama Naya, mas.”


“Aku ngga ngelarang, tapi kamu bisa melakukannya nanti. Sekarang bukan waktunya kamu melakukan itu. Sebelum kamu memperhatikan orang lain, kamu harus memperhatikan diri kamu sendiri. Kalau kamu sakit setelahnya apa Naya akan peduli sama kamu? Apa dia tahu kejadian yang menimpa kamu kemarin?” Nara menggelengkan kepalanya.


“Kalau dia peduli sama kamu, dia ngga harus nunggu kamu cerita untuk tahu keadaan kamu. Sebagai saudara apalagi kembar, harusnya dia lebih peka, Ra.”


Nara menundukkan kepalanya. Apa yang dikatakan Kenzie sama persis seperti yang dikatakan Barra tadi.


“Kamu udah sarapan?”


Nara kembali menggeleng. Kenzie berdiri dari duduknya kemudian keluar dari kamar. Dengan cepat pria itu menuruni tangga kemudian menuju meja makan. Kenzie mengambil dua potong sandwich lalu meletakkannya ke piring kecil. Dia lalu bergegas kembali ke atas.


“Ini.. makan dulu,” Kenzie menyodorkan piring ke arah Nara.


“Aku ngga suka.”


“Terus kamu mau makan apa?”


“Bubur ayam.”


Kenzie kembali keluar kamar. Setelah meletakkan piring kecil di atas meja makan, pria itu bergegas keluar rumah. Dia menjalankan mobilnya menuju penjual bubur ayam yang mangkal di depan kompleks.


Dilara yang menyangka Kenzie sudah pergi, masuk ke dalam kamar Nara. Gadis itu naik ke atas ranjang lalu duduk di sebelah sang kakak. Dilara menanyakan pada Nara kejadian pembegalan. Nara pun menceritakan apa yang terjadi kemarin.


Beberapa saat kemudian Kenzie kembali dengan semangkok bubur di tangannya. Dilara terkejut melihat Kenzie ternyata belum pergi. Tak ingin mengganggu kebersamaan calon pengantin, Dilara keluar dari kamar. Kenzie mendudukkan diri di sisi ranjang.


“Makan dulu.”


“Mas ngga ke kantor?”


“Aku ke kantor kalau kamu sudah sarapan dan minum obat.”


Nara memakan bubur yang dibelikan calon suaminya itu. Kenzie terus memperhatikan Nara sampai bubur di mangkok habis. Nara menaruh mangkok di atas nakas kemudian mengambil gelas berisi air putih. Tangan Kenzie meraih obat yang harus diminum lalu memberikannya pada Nara.


“Sekarang istirahat. Aku ngga mau kejadian tadi terulang.”


“Iya mas.”


“Awas aja kalau bandel.”


PLETAK


Kenzie menyentil kening Nara, kemudian keluar dari kamar. Nara membaringkan tubuhnya ke kasur dengan kesal. Bukannya ciuman yang didapat tapi malah sentilan yang mendarat di keningnya. Baru saja gadis itu memejamkan matanya, ketika merasakan benda empuk mengenai keningnya. Mata Nara langsung terbuka, ternyata Kenzie yang kembali masuk lalu mencium keningnya.


“Tidur.”


Kenzie mengusap puncak kepala Nara. Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya seraya menyunggingkan senyuman. Kenzie kemudian berlalu, kali ini dia benar-benar pergi. Dilara yang tadi sempat mengintip apa yang dilakukan Kenzie tak dapat menyembunyikan senyumnya. Ingin rasanya menggoda sang kakak, namun dia segera mengurungkan niatnya mengingat Nara masih butuh istirahat.


☘️☘️☘️


Naya menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Pertengkarannya dengan Barra tadi pagi masih menyisakan kekesalan di hatinya. Niatnya ingin memperbaiki hubungan dengan Nara berantakan karena tudingan sang kakak. Dia juga kesal pada Nara yang tak menceritakan kejadian pembegalan kemarin. Kalau tahu, dirinya tak akan membiarkan Nara membuatkan sarapan untuknya.


Sebuah tangan menepuk pundak Naya, membuat gadis itu terjengit. Veruca dan Lucky sudah datang atas permintaan Naya. Belakangan ini Naya memang lebih sering berbagi masalah dengan kedua sahabatnya itu. Veruca dan Lucky mengambil duduk di samping kanan dan kiri Naya, mengapit gadis itu.


Tangan Lucky terangkat untuk memanggil pelayan. Setelah memesan minuman serta makanan ringan, Lucky mulai bertanya pada Naya. Melihat wajah gadis itu yang terlihat kusut, dia yakin kalau ada yang ingin diceritakan.


“Lo kenapa Nay, muka kusut gitu kaya baju belum disetrika,” ujar Lucky.


“Bete gue.”


“Bete kenapa?” tanya Veruca.


“Gue kesel sama bang Barra. Tadi pagi dia marah-marah sama gue gara-gara Nara buatin gue sarapan. Dia nuduh gue minta Nara bikinin sarapan, padahal Nara lagi sakit. Mana gue tahu kalo si Nara sakit. Gue juga bukan saudara yang jahat keles, nyuruh saudara yang sakit buatin sarapan. Si Nara aja yang ngga bilang kalo lagi sakit.”


Naya mengeluarkan semua uneg-uneg yang dipendamnya sejak pagi. Lucky hanya manggut-manggut saja, padahal hatinya senang bisa menemukan celah membuat Naya semakin membenci Nara. Pria itu memberikan kode pada Veruca.


“Abang lo pilih kasih ya sama elo. Perasaan setiap gue denger cerita soal Barra, dia tuh kayanya lebih sayang ke Nara dari pada elo,” Veruca memulai ujaran kebenciannya.


“Sebenernya bukan salah Barra juga sih. Tapi emang sodara kembar lo emang licik. Dia memanfaatkan kasih sayang Barra ke dia buat mojokin elo. Sekarang kenapa Nara ngga bilang kalo dia sakit? Dia bela-belain bikin sarapan buat elo untuk apa coba? Untuk bikin elo terlihat buruk di mata Barra. Dia itu licik, musang berbulu domba. Lo harus hati-hati Nay. Sodara kembar lo ngga sebaik yang terlihat.”


Naya tercenung merenungi ucapan Lucky. Walau hati kecilnya menolak atas apa yang dikatakan sahabatnya barusan, namun secara logika dia membenarkannya. Sepertinya Nara memang sengaja menutupi keadaannya yang sakit untuk menarik simpati Barra. Hati Naya yang awalnya mulai melembut dan ingin memperbaiki hubungan dengan Nara kembali mengeras.


Lucky dan Veruca tak melanjutkan hasutannya. Dibiarkan Naya berpikir sendiri. Kalau mereka terus menghasut, khawatir kalau Naya akan curiga. Mereka memilih menikmati pesanan yang baru saja diantar. Lucky mengambil ponsel kemudian melihat pesan yang masuk. Sang bos memintanya untuk bertemu sore nanti.


Suasana hening di antara mereka terpecahkan dengan kehadiran Chika. Setali tiga uang, gadis itu juga terlihat begitu kesal. Sudah beberapa hari ini dia dilarang datang ke kantor Kenzie. Disangkanya ancaman Kenzie waktu itu hanya bualan saja, namun nyatanya dia benar-benar diusir dari kantor Metro East saat ingin bertemu dengan pria yang sudah dicintainya sejak lama.


“Nih lagi satu, dateng-dateng mukanya udah kaya kertas lipet,” seru Lucky.


“Bete.. bete.. bete..”


“Bete napa?” tanya Veruca.


“Gue diusir dari kantor Ken.”


“Kok bisa?”


“Gara-gara Nara. Kenzie ngancem gue, gue ngga boleh ganggu Nara lagi. Gue juga dilarang dateng ke kantornya. Nara brengsek!!”


Tak ada komentar dari Naya, dirinya juga tengah merasa kesal pada saudara kembarnya itu. Chika menyambar gelas minuman Lucky lalu meneguknya sampai habis. Dia menaruh gelas ke meja dengan gerakan sedikit kencang hingga menimbulkan suara keras. Beberapa pengunjung yang ada di dekat meja mereka mengalihkan pandangan pada gadis itu.


“Gue mau bilang ke bokap buat secepatnya ketemu sama om Abi. Pokoknya bokap harus bisa jodohin gue sama Ken.”


“Telat...” akhirnya Naya membuka suaranya juga.


“Telat kenapa?” tanya Chika.


“Dua hari kemarin, Ken udah ngelamar Nara.”


“WHAT????!!!”


Lucky mengorek telinganya yang terasa pengang akibat teriakan Chika. Lagi-lagi gadis itu menarik perhatian pengunjung lain. Bukan hanya Chika yang terkejut, tapi dua orang lainnya juga ikut terkejut, terutama Lucky. Padahal pria itu baru saja akan mendekati Nara. Sepertinya dia harus mengubah rencana, dia harus membuat Nara sendiri yang membatalkan pernikahan itu.


“Ngga bisa.. ngga bisa dibiarin. Gue bakal lakuin apa aja buat batalin pernikahan mereka. Jangan sebut nama gue Chika kalau gue ngga bisa bikin mereka batal nikah!”


Terlihat kilatan di mata Chika, gadis itu bersungguh-sungguh dengan ucapannya barusan. Kebenciannya pada Nara semakin bertambah subur. Otaknya segera bergerak cepat mencari cara untuk bisa membatalkan pernikahan Kenzie dan Nara. Kalau perlu dia akan menyingkirkan Nara dari kehidupan Kenzie.


☘️☘️☘️


**Hmm.. kira² apa ya rencananya Lucky Strike sama Chiki Balls🤔


Oh ya jangan heran ya kalau Kenzie ngga kaya Abi yg suka nyosor Nina sebelum nikah. Harap dipahami waktu Abi ketemu Nina, statusnya tuh duda jablay sedang Kenzie perjaka tingting yg masih terjaga kemurniannya🤣🤣🤣


Mamake mau promo lagi dong karya mamakr yang lain. Empat kisah cinta para cogan dan cecan dalam Four Seasons of Love.


Season 1 : Dear Uncle


Season 2 : Bitter Sweet Romance


Season 3 : You Are My Destiny


Season 4 : Bizzare Love Triangle


Buat yang belum mampir cuzz mampir ya. Karya ini udah tamat. Sambil nunggu KPA sama The Nick up, bolehlah mampir ke sini😘


__ADS_1


__ADS_2