
“Hukuman buatmu.... dimulai dari kak Juna.”
“Well Angela. Saya acungi jempol buat kamu berani menyatut nama Blue Sky demi bisa mengikuti tender. Yang lebih parahnya kamu memenangkan tender dengan cara menyogok panitia tender. Dan itu jelas mencoreng nama perusahaanku.”
“Maaf pak Juna, kami benar-benar minta maaf,” tukas Gary.
“Sebagai gantinya, saya meminta semua saham atas nama Angela di Leslie Corp dan copot dia dari jabatannya. Angela juga tidak berhak atas semua hal yang berkaitan dengan kebijakan, manajerial maupun operasional Leslie Corp.”
“Ngga bisa seperti itu. Aku ngga mau pa!” pekik Angela.
“Baik pak Juna. Atas nama siapa harus saya alihkan saham milik Angela?”
“Berikan saja pada karyawan loyalmu.”
“Baik pak.”
“Papa!!”
Gary tak mempedulikan teriakan anaknya. Walau berat, dia harus menuruti keinginan Juna kalau tidak mau perusahaannya gulung tikar. Angela menghembuskan nafas kesal. Separuh harta miliknya hilang begitu saja.
“Cak..”
“Proyek terakhir Ocean Corp di Jepang, seharusnya bekerja sama dengan Nakamura Corp, tapi kamu menyabotase proyeknya dan mengambil desain mereka dan mengatakan kalau itu hasil Leslie Corp. Nakamura Corp mengalami kerugian dan kami hampir dituntut olehnya. Saya mau kamu mengucapkan permintaan maaf secara terbuka, mengembalikan dana yang telah kami berikan dan mengganti kerugian finansial Nakamura Corp.”
“Maaf pak Cakra, kalau dana yang diberikan kami bisa mengembalikannya tapi ganti rugi Nakamura Corp kami hanya bisa membayar setengah dari jumlah yang diminta, karena saham Angela sudah dialihkan. Tolong beri kami kelonggaran.”
“Baik, ganti sisa ganti rugi dengan tenaga saja. Angela selama setahun akan bekerja di bagian kebersihan Nakamura Corp tanpa digaji.”
“Enak saja!! Aku tidak mau bekerja di bagian kebersihan!!”
“Kalau gitu ganti semua kerugian atau mendekam di penjara sebagai gantinya.”
Angela langsung terdiam, di penjara tentu bukan pilihannya. Gary memejamkan matanya, hukuman yang diterima sang anak memang cukup berat. Namun dia tak punya pilihan selain menyetujuinya.
“Jo..”
“Pak Gery selalu mengganggu uncle Richard dalam menjalankan perusahaan. Terakhir, Angela juga menyabotase proyek yang menyebabkan kerugian. Saya mau Angela mengganti kerugian dua kali lipat.”
“Tapi kami tidak punya dana sebanyak itu,” tukas Gary.
“Kalau begitu ganti dengan semua sahammu di perusahaan. Baik anda maupun Angela tak berhak menginjakkan kaki lagi di perusahaan.”
“Baik, kami akan penuhi semuanya.”
Tubuh Gary semakin lemas saja. Akibat ulah sang anak, dirinya juga harus menanggung kerugian yang begitu besar. Begitu Jojo selesai mengatakan hukuman untuk Angela, Abi melihat ke arah Kevin. Kini giliran kulkas dua pintu yang bersuara.
“Vin..”
Juna, Cakra dan Jojo melihat ke arah Kevin. Mereka cukup penasaran apa yang akan dikatakan oleh pria dingin itu. Tak ada angin, tak ada hujan, pria itu tiba-tiba ikut bergabung bersama mereka. Kevin sendiri berpikir keras membuat alasan agar dapat menghukum Angela. Dia tak mau anacondanya tak mendapat jatah malam selama sebulan gara-gara wanita itu.
Angela juga Gary melihat ke arah mereka dengan was-was, tanpa mereka sadari Kevin masih berpikir keras dibalik wajah datarnya. Abi dan yang lainnya terus melihat ke arah Kevin. Dalam hati mereka menertawakan sahabatnya itu yang nampak mati kutu.
Pengen tau gue, lo bakal ngomong apa (Abi)
Gaya lo Vin, sok cool padahal mikir keras hahaha.. (Juna)
Sokooorrr.. sok-sok mau ikutan segala (Jojo)
Wess.. nyerah aja lo, Vin (Cakra)
Suasana hening masih menghinggapi mereka untuk sesaat. Tapi kemudian terdengar deheman kencang Kevin. Sepertinya pria itu sudah siap untuk mengeluarkan suaranya yang sedari tadi ditunggu oleh para sahabatnya.
“Selama dua minggu ini, kamu selalu membuat Anfa sibuk dengan berbagai alasan pekerjaan. Dan itu mengganggu program kemanusiaan yang tengah saya dan Anfa garap. Akibatnya pekerjaan saya banyak yang tertunda karena saya harus menangani semua pekerjaan sendiri. Karena itu, saya menuntut ganti rugi atas kerugian yang saya alami.”
Sa ae kang Ujang (Abi)
Otak licik lo kerja juga ternyata (Juna)
Kepikiran aja si kulkas dua pintu (Cakra)
Maksa banget alesannya oii (Jojo)
“Mau ganti rugi apa? Duit aku ngga punya!!” sewot Angela yang hartanya sudah habis dipakai untuk membayar kerugian finansial.
“Satu, selama sebulan menjadi sukarelawan di panti rehabilitasi bagi lansia yang menderita alzheimer. Dua, menjauh dari Anfa, jangan pernah temui dia lagi. Tiga, meminta maaf pada Rayi atas perbuatan yang kamu lakukan dan terima hukuman apapun yang diberikan olehnya.”
Angela melihat Kevin dengan kesal. Hukuman pria itu untuk meminta maaf pada Rayi sungguh menjatuhkan harga dirinya. Belum lagi harus menjadi sukarelawan mengurus penderita alzheimer, bisa-bisa dirinya juga terkena penyakit pikun itu.
“Kalian sudah dengar hukuman dari yang lain. Sekarang dengarkan hukuman yang kuberikan. Silahkan pilih, hukuman untuk kalian semua atau hanya untuk Angela.”
Gary cukup terkejut mendengar ucapan Abi. Dia langsung menoleh pada istri juga anaknya. Sang istri menggelengkan kepalanya, berbeda dengan Angela yang terlihat cuek. Ditambah lagi hukumannya tak akan berpengaruh padanya. Apalagi hukuman Kevin hanya sebulan dan Cakra setahun. Setelah itu, dia akan bebas melakukan apapun.
“Apa hukuman untuk kami?”
“Ijin Leslie Corp akan dicabut, semua aset kalian akan dibekukan, termasuk aset pribadi kalian. Rumah serta kendaraan kalian akan disita. Kalian hanya akan membawa barang-barang pribadi saat meninggalkan rumah. Selama lima tahun kalian akan terkena embargo ekonomu, tak ada satu pun lembaga keuangan yang akan memberikan dana pinjaman. Mulai kembali kehidupan kalian dari nol.”
__ADS_1
Gary beserta istri benar-benar terkejut, terutama Gary. Usahanya bertahun-tahun mengumpulkan harta benda hilang begitu saja. Begitu pula sang istri yang belum bisa meninggalkan gaya hidup mewahnya.
“Apa hukuman untuk Angela?”
“Di deportasi dari Indonesia. Tidak diperkenankan menginjak Indonesia lagi selamanya. Selama enam tahun akan dikirim ke pedalaman di Thailand untuk membantu mereka yang hidup jauh dari peradaban. Hukumannya akan dimulai setelah menjalani hukuman di panti rehabilitasi dan menjadi petugas kebersihan di Nakamura Corp. Jika dia melanggar, maka akan segera dimasukkan ke rumah sakit jiwa dengan tingkat keamanan tinggi. Silahkan pikirkan, apa yang kalian pilih. Dan waktu kalian tak banyak, lima menit dari sekarang!”
Angela yang awalnya bersikap santai mulai panik. Dia tak dapat membayangkan dirinya hidup di pedalaman yang jauh dari peradaban. Jika dihitung-hitung, maka total hukumannya menjadi tujuh tahun. Dia memohon pada sang ayah agar tidak menerima hukuman atas dirinya.
“Kami tidak akan memilih satu pun dari pilihanmu!!”
“Kalau begitu, kedua hukuman itu akan dijalankan sekaligus. Agung!!”
“Jangan.. tolong jangan lakukan itu. Biarkan saja Angela yang menjalani hukumannya.”
“Papa!!”
“Jalani hukumanmu. Semua itu terjadi karena kegilaanmu, pikirkan nasib ibu juga adikmu. Hukum saja Angela.”
Angela menatap tak percaya pada sang ayah yang telah menyerahkan dirinya untuk menjalani hukuman dari pada memulai hidup dari nol. Bahkan sang mama pun tak memberikan komentarnya.
“Ok.. masalah selesai.”
Abi berdiri diikuti yang lainnya. Kemudian kelima pria tampan itu keluar dari unit, meninggalkan Angela yang masih belum menerima hukuman dan melampiaskannya kepada sang ayah.
Di depan unit apartemen, Anfa masih setia menunggu. Satu per satu para pria yang tadi memberikan hukuman keluar dari unit. Dimulai dari Juna. Pria itu mendekati Anfa yang berdiri di dekat pintu unit apartemen Angela.
“Lain kali dengarkan orang lain, supaya tidak masuk perangkap,” Juna menjewer telinga Anfa, membuat pemuda itu meringis.
PLETAK
Cakra tak berbicara tapi hanya menghadiahkan sentilan di kening pemuda itu. Anfa mengusap keningnya yang terasa panas. Lain dengan Jojo yang menendang tulang kering Anfa. Walau tak keras namun cukup membuat pemuda itu mengaduh kesakitan.
“Gara-gara kamu, aku hampir kehilangan aset berhargaku,” tukas Jojo sembari pergi.
Terakhir Kevin yang mendekatinya, tanpa bicara dan tanpa ekspresi, pria itu memukul belakang kepala Anfa dengan telapak tangannya kemudian berlalu dengan tenang. Abi yang terakhir keluar, mendekati Anfa kemudian berteriak ke arah para sahabatnya.
“Kalau Nina tahu, kalian udah nyiksa adiknya. Tamat riwayat kalian!!”
Keempat pria itu menghentikan langkahnya. Mereka berbalik kemudian kembali ke arah Anfa. Satu per satu, mereka mendekati Anfa.
“Ingat Fa, kakak sama kak Nadia sayang kamu, oke,” Juna mengusak puncak kepala Anfa.
“Apapun yang terjadi, aku sama Sekar selalu di pihak kamu,” Cakra menepuk rahang Anfa.
“Selamanya lo, adek gue, ok,” ibu jari dan jari telunjuk Jojo membentuk huruf O.
“Bilang sama Nina, dosa apa dia punya suami model Abi.”
“Dasar ******!!”
Abi menendang bokong Kevin, namun si kulkas dua pintu itu dapat menghindar dengan cepat. Anfa tak dapat menahan tawanya. Kelima pria yang disegani dan ditakuti ternyata mempunyai sisi konyol yang bisa membuat perut sakit. Abi merangkul bahu Anfa. Keduanya berjalan menyusul yang lainnya menuju lift.
“Rayi ada di rumah sekarang. Sekarang lebih baik kamu ikut pulang dulu. Selesaikan masalah kalian.”
“Iya kak.”
☘️☘️☘️
Rayi tak henti mengusap airmata yang merembes membasahi pipinya. Gadis itu tengah berbicara dengan Nina. Mendengar penjelasan Nina tentang apa yang terjadi pada Anfa malam itu membuatnya marah, kecewa sekaligus menyesal. Marah dengan Angela yang berusaha merebut Anfa darinya. Kesal pada Anfa yang tak bersikap tegas pada Angela. Menyesal karena tak memberi kesempatan pada sang kekasih untuk menjelaskan semua yang terjadi.
“Kakak mengerti, wanita yang ngga kecewa dan marah melihat kekasihnya berduaan bersama perempuan lain. Apalagi perempuan itu dalam keadaan yang setengah tel*njang. Tapi kakak harap kamu tidak mengambil keputusan sepihak. Tolong dengarkan dulu penjelasan Anfa, coba pahami situasinya. Kamu sudah lama mengenal Anfa dan tahu seperti apa karakternya.”
“Aku kesel kak, Anfa tuh kadang terlalu baik sama orang. Aku udah peringatin dia soal Angela, tapi dia ngga mau denger.”
“Coba kalian bicara lagi. Jangan sampai karena kesalahpahaman ini, hubungan yang sudah terjalin lama putus begitu saja. Anfa sangat mencintai kamu Ray.”
“Tapi dia selalu menunda kalau aku bicara soal pernikahan kak. Selalu kak Abi yang jadi alasan. Kadang aku mikir, dia serius ngga sih sama aku.”
“Ray.. sebaiknya...”
Perbincangan kedua wanita itu terhenti ketika Abi disusul Anfa masuk ke dalam rumah. Kedua pria itu langsung menuju ruang tengah. tempat di mana Nina dan Rayi berbicara. Abi mendudukkan diri di samping sang istri, sedang Anfa memilih duduk terpisah dari Rayi. Tak ada sapaan dari pasangan kekasih yang sempat memutuskan break up beberapa waktu lalu.
“Bagaimana? Kalian sudah berbicara?” tanya Abi.
“Sudah mas.”
“Baguslah.”
“Aku udah dengar semua dari kak Nina, tapi aku tetap kecewa sama kamu Fa. Harusnya kamu dengarin peringatan aku soal Angela. Kamu tuh terlalu polos dan baik jadi orang.”
“Aku juga kecewa sama kamu Ray. Di antara semua orang harusnya kamu mempercayaiku, membelaku tapi kamu justru jadi orang pertama yang menudingku.”
“Ini kenapa kalian jadi ribut,” Nina menengahi.
“Mumpung ada kak Nina dan kak Abi, aku menuntut kejelasan dari kamu. Kapan kamu mau menikahiku?” tantang Rayi.
__ADS_1
“Aku ngga bisa nikahi kamu sekarang Ray, aku sudah kasih tahu kamu alasannya.”
“Astaga kalian ini!”
Baik Anfa maupun Rayi langsung bungkam begitu mendengar teriakan Nina. Sedang Abi hanya diam saja menikmati pertunjukan sepasang kekasih di depannya sambil bersedekap. Nina melihat ke arah suaminya.
“Ini semua gara-gara mas.”
“Loh kok aku?”
“Kalau mas ngga kasih syarat Anfa harus beres S2 dulu sebelum nikah, masalah kaya gini ngga bakal kejadian.”
“Walaupun aku mengijinkan mereka menikah, masalah seperti ini akan tetap ada. Selama tak ada kepercayaan di antara mereka, masalah sekecil apapun pasti akan menjadi besar dan membuat mereka bertengkar.”
Semua terdiam mendengar ucapan Abi, termasuk Nina. Abi melihat ke arah Anfa juga Rayi yang sama-sama menundukkan kepalanya.
“Rayi.. kamu sudah mengenal Anfa lama, bahkan lebih lama dari kami. Seharusnya kamu percaya kalau dia ngga akan berbuat sehina itu. Dengan kondisinya sekarang, Angela bukan perempuan terakhir yang akan mengejarnya. Kalau kamu tidak bisa mempercayai dan terus bersikap kekanakan, bagaimana kamu bisa mempertahankan Anfa ada di sampingmu. Saat ini Anfa sudah menjadi bagian keluarga Hikmat, musuh atau pun wanita akan silih berganti mengganggunya. Kamu sebagai calon istri Anfa harus kuat, jangan mudah tertipu karena tak selamanya yang kamu lihat itu adalah kebenaran. Musuh punya berbagai macam cara untuk menghancurkan kalian. Kalau kamu bersikap lemah seperti ini, maka kamu tidak cukup pantas untuk menjadi pendamping seorang Muhammad Anfa Hikmat.”
Nina menoleh ke arah sang suami, matanya nampak mengembun mendengar Abi menyematkan kata Hikmat di belakang nama adiknya. Begitu pula dengan Anfa, tak menyangka kalau namanya disandingkan dengan nama keluarga yang terkenal dengan kekayaan dan kekuasaannya.
“Dan Anfa, mulai sekarang kamu harus belajar menjadi pria yang lebih kuat lagi. Kamu harus lebih waspada. Tidak selamanya orang yang bersikap baik padamu tak memiliki niat jelek padamu. Jadikan kejadian kemarin sebagai pelajaran untukmu. Jika kamu tidak bisa melindungi dirimu sendiri, bagaimana kamu bisa melindungi keluarga dan orang-orang di sekitarmu.”
“Iya kak.”
“Semua sudah terjadi, kalian berdua melakukan kesalahan. Jadi selesaikan masalah dengan menyadari apa kesalahan kalian bukan bertahan dengan menganggap diri paling benar. Selesaikan masalahmu dengan Rayi secepatnya, lalu segera ke kantor.”
Abi mencium kening Nina, kemudian berdiri dari duduknya. Dengan cepat dia keluar rumah, karena sedari tadi Fadil terus menghubunginya. Klien penting yang akan bertemu dengannya sudah hampir sampai.
Suasana hening sejenak sepeninggal Abi. Nina berdiri kemudian masuk ke dalam kamar. Tinggallah Rayi dan Anfa yang masih saling diam. Akhirnya anfa berinisiatif untuk memulai percakapan.
“Ray.. aku minta maaf. Aku tahu udah buat kamu kecewa dan sakit hati. Tapi aku mohon beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua. Kamu masih mau kan menjalin hubungan denganku dan mewujudkan rencana pernikahan kita?”
“Iya Fa, aku juga minta maaf. Maaf udah ngga percaya sama kamu dan ngga beri kamu kesempatan buat menjelaskan. Tapi aku juga mau kamu membuktikan keseriusanmu.”
“Aku serius sama kamu, Ray.”
“Lamar aku secepatnya.”
“Kakak akan melamarmu untuk Anfa sekarang.”
Pasangan tersebut menoleh ke arah Nina yang sudah ada di antara mereka lagi. Ibu hamil itu sudah berpakaian rapih. Anfa yang terkejut mendengar perkataan Nina tadi segera menghampiri kakaknya itu.
“Kak, maksud kakak apa?”
“Ayo kita ke rumah Rayi sekarang. Kakak akan melamarnya untukmu.”
“Tapi kak, kak Abi belum mengijinkan.”
“Kamu ngga usah khawatir, biar kakak nanti yang bicara dengan mas Abi. Ayo kita pergi sekarang.”
Senyum bahagia tercetak di wajah Rayi. Dengan semangat, dia bangun dari duduknya kemudian menuntun Nina berjalan keluar rumah. Anfa hanya terdiam melihat keduanya. Ada sedikit kecemasan menggelayuti pikirannya.
“Anfa ayo!!”
Teriakan Nina sukses membuyarkan lamunan pemuda itu. Setengah berlari dia menyusul dua wanita yang sangat disayanginya. Anfa membukakan pintu belakang mobil untuk sang kakak, sedang Rayi duduk di kursi depan bersamanya. Beberapa saat kemudian roda kendaraan itu bergulir.
☘️☘️☘️
Setengah jam perjalanan, pikiran Anfa berkelana tak tentu arah. Hatinya berdebar saat mobil yang dikendarainya memasuki kompleks perumahan di mana Rayi tinggal. Kemudian kendaraan tersebut berhenti di depan rumah bercat hijau. Ketiganya pun turun dari mobil. Anfa menuntun Nina yang sudah membesar perutnya berjalan memasuki pekarangan rumah.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Rayi mengajak Nina juga Anfa masuk ke dalam rumah. Kedatangan ketiganya disambut oleh Wisnu. Ayah dari Rayi itu memang lebih banyak tinggal di rumah setelah mempercayakan toko sembakonya pada orang kepercayaannya. Orang tua Rayi memang memiliki tiga toko sembako yang cukup besar di tiga pasar yang ada di kota Bandung.
Wisnu mempersilahkan para tamu untuk duduk, sedang Rayi masuk untuk memanggil sang mama. Ibu Rayi yang bernama Astuti meninggalkan kegiatan masaknya setelah mendengar kedatangan Anfa beserta sang kakak. Tak lupa wanita itu memerintahkan asisten rumah tangganya untuk menyiapkan minuman untuk para tamu.
Wanita keturunan Solo itu merapihkan penampilannya sejenak sebelum berjalan menuju ruang tamu. Astuti duduk di samping sang suami dan Rayi di sampingnya. Sejenak wanita paruh baya itu memperhatikan Nina yang tengah berbadan dua.
“Mohon maaf sebelumnya kalau kami datang tanpa pemberitahuan sebelumnya. Perkenalkan, saya Nina, kakak dari Anfa. Kedatangan saya ke sini untuk menyampaikan niat baik adik saya untuk melamar Rayi. Saya...”
“Sebentar....”
Ucapan Nina terhenti begitu saja ketika Astuti memotong ucapannya. Nina terdiam dan menunggu kata-kata wanita itu selanjutnya. Astuti melihat pada Anfa sejenak sebelum meneruskan kata-katanya.
“Anfa.. apa kamu tidak memberitahukan pada kakakmu apa yang saya sampaikan waktu itu?”
☘️☘️☘️
**Nah loh emaknya Rayi mau ngomong apa tuh?
Angela udah tutup buku ya gaaeess tapi masalah Anfa sama Rayi belum tutup buku nih kayanya🤔
Terima kasih buat semua readers yang kasih kesempatan mamake istirahat selama dua hari ini. Makasih udah tetap setia menunggu cerita ini up tiap harinya🙏
__ADS_1
Maaf kalau masih butuh waktu buat up tiap hari. Butuh fisik yang sehat biar ngehalunya lancar. Sekali lagi makasih buat pengertiannya😘😘😘**