KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Eksekusi


__ADS_3

Jojo sampai di markas bersamaan dengan Abi, Cakra dan Kevin. Kening Jojo berkerut melihat Kevin juga ikut ke markas. Biasanya pria itu tak pernah peduli dengan urusan orang lain kecuali berkaitan dengan Juna atau perusahaan.


“Tumben lo ikut ke sini?”


“Ngga usah geer. Kalau bukan istri gue yang nyuruh, gue juga ogah.”


Jojo tak mempedulikan ucapan Kevin yang semenjak menikah dengan Rindu menjadi rajin mengeluarkan kalimat-kalimat panjang. Dia bergegas masuk ke dalam rumah. Agung memandunya naik ke lantai dua. Tempat di mana ketiga orang yang berkomplot menyiksa Adinda berada.


Terlihat tiga orang tengah duduk dengan tangan dan kaki terikat dengan mulut ditutup lakban. Dua orang perempuan dan satu orang laki-laki. Jojo menatap wajah ketiganya satu per satu. Mereka tertunduk melihat tatapan tajam pria tersebut.


“Jadi dia dalangnya?” Jojo menunjuk pada satu-satunya pria di sana. Dengan cepat lelaki itu menggelengkan kepalanya.


“Dia pamannya Dinda, namanya Daus. Dia itu adik dari ayahnya Dinda dan itu istrinya, Rika. Daus sudah memperlakukan Dinda dengan buruk selama ini. Dia mengabaikan ibu juga keponakannya yang hidup kesusahan. Istrinya juga, bahkan dia yang telah menjual Dinda ke mami Elis,” jelas Agung.


BRAK!!


Jojo menggebrak meja dengan tangannya, mengejutkan ketiga orang di depannya. Ketiganya semakin ketar-ketir dibuatnya. Abi, Cakra dan Kevin masuk ke dalam ruangan. Suasana semakin bertambah tegang.


“Apa begini cara kalian memperlakukan anggota keluarga kalian? Apa salah Dinda sampai kalian memperlakukannya dengan kejam?” Jojo melepaskan lakban yang menutup mulut keduanya.


“Kenapa kalian memperlakukan Dinda begitu kejam, JAWAB!!!” ulang Jojo.


“Karena dia anak pembawa sial. Gara-gara anak itu kakakku meninggal dunia. Begitu juga dengan ibuku. Kalau ibu tidak bersikeras tinggal bersama Dinda, dia tidak akan pergi secepat ini.”


Abi dan Cakra ternganga mendengar jawaban Daus. Wajah Jojo nampak merah padam. Diambilnya vas yang ada di atas meja lalu melemparkannya ke tembok hingga hancur berkeping-keping.


PRANG!!


“Kalian benar-benar picik. Apa kalian pikir dia mau kehilangan orang tuanya di saat masih kecil? Di saat dirinya masih membutuhkan perlindungan dan kasih sayang. Kalian pikir dia senang menjadi yatim piatu?!!!”


“Lalu istrimu. Dia dengan teganya menjual Dinda pada mucikari. Apa kamu tahu itu??!!”


Terlihat raut wajah terkejut dari paman Adinda itu. Daus melihat pada sang istri. Rika menundukkan kepalanya dalam-dalam. Hatinya semakin ketar-ketir. Menjual Adinda adalah inisiatifnya sendiri setelah terhasut bujukan Luna.


“Saya akan laporkan kalian berdua ke polisi. Terutama anda!” Jojo menunjuk pada Rika.


“Tolong jangan laporkan saya ke polisi, saya mohon.”


Cakra yang sedari tadi hanya melihat saja, mulai mendekati Jojo. Dia berbisik pelan di telinga sahabatnya itu.


“Jangan sadis-sadis, nyet. Inget, lo butuh Daus buat jadi walinya blewah nikahin kalian.”


Jojo berdehem mendengar ucapan Cakra. Walau kesal pada sahabatnya yang telah mengganggu konsentrasinya marah-marah, tapi apa yang dikatakan Cakra benar adanya. Daus adalah satu-satunya wali Adinda saat ini.


“Baik.. saya tidak akan melaporkan kalian ke polisi. Tapi kalian harus melakukan sesuatu untuk saya, terutama kamu pak Daus. Saya mau kamu menebus dosa-dosa kamu pada Dinda, lakukan satu hal untuknya.”


“Saya ngga sudi!!”


“Baik kalau begitu, saya akan jembloskan anda ke penjara hari ini juga. Dan saya akan pastikan anda mendekam lama di dalam sana.”


“Jangan.. tolong jangan lakukan itu pada suami saya. Pa.. setujui saja pa,” bujuk Rika pada suaminya. Daus nampak berpikir sejenak.


“Kamu mau apa? Jangan minta dia tinggal bersama kami.”


“Cih.. saya juga tidak sudi menitipkan Dinda pada kalian walau hanya sedetik. Kamu akan menjadi wali nikah Dinda saat menikah denganku.”


“Saya tidak sudi!!”


“Ok.. Gung, bawa dua-duanya ke kantor polisi sekarang. Buat laporan berlapis buat dua orang ini. Pastikan tidak ada satu orang pengacara pun yang akan membelanya. Saya bisa menikah dengan Dinda, dengan atau tanpa dirinya.”


Agung menarik tubuh Daus juga Rika. Kedua orang itu mencoba memberontak, namun cekalan tangan Agung begitu kuat. Rika langsung menjatuhkan diri di depan Jojo. Wanita itu duduk bersimpuh.


“Tolong jangan masukkan kami ke penjara. Suami saya akan melakukan apapun yang anda minta. Pa.. pikirkan Sandi.. kalau kita di penjara, bagaimana dengan Sandi?”


Daus tersadar ketika sang istri menyebut nama anaknya. Akhirnya pria itu menganggukkan kepalanya pelan. Demi sang anak, Daus bersedia menjadi wali nikah untuk Adinda, keponakan yang sangat dibencinya.


“Anda hanya perlu menikahkan Dinda saja. Kalian juga tidak perlu hadir di pesta pernikahan kami. Setelah itu jangan pernah temui Dinda lagi, walau kalian sekarat sekali pun jangan pernah menemuinya lagi.”


Abi berjalan mendekat pada Daus juga Rika. Dengan isyarat tangan dia meminta Rika untuk berdiri. Kemudian dia berbisik pelan pada Jojo.


“Emang lo yakin si Pus mau nikah sama elo? Gimana kalau tuh anak ngga mau.? Kan malu lo udah ngancem-ngancem kaya gini.”


Jojo langsung menoleh pada Abi. Demi apapun, ingin rasanya dia menyumpal mulut somplak sahabatnya yang selalu mengeluarkan kata-kata yang membuat dongkol. Abi hanya mengangkat bahunya tanpa merasa bersalah sama sekali.


“Kalian boleh pulang. Tunggu kabar dari saya!”

__ADS_1


Agung menarik Rika dan Daus untuk segera pergi. Namun langkah mereka terhenti ketika mendengar suara Abi.


“Besok pak Daus tidak usah pergi bekerja, karena anda sudah dipecat dari tempat kerja. Dan segera lunasi cicilan di bank secepatnya kalau tidak, rumah kalian akan disita.”


Abi mengucapkannya dengan wajah tanpa ekspresi. Daus tercengang mendengarnya, bergegas pria itu menghampiri Abi.


“Ke.. kenapa saya sampai dipecat?”


“Saya dengar kamu kemarin menampar Dinda. Gara-gara hal itu istri saya nangis sepanjang malam. Pemecatanmu adalah bayaran karena sudah membuat istri saya menangis.”


Wajah Daus berubah pucat, jika dia sampai kehilangan pekerjaan, bagaimana dirinya akan melunasi cicilan rumahnya di bank. Belum lagi anaknya yang tahun ini akan masuk perguruan tinggi.


Abi memberi isyarat pada Agung untuk membawa Daus dan Rika pergi, kemudian dia kembali mendudukkan diri di sofa. Menatap penuh intimidasi pada Endang. Jojo juga ikut duduk di sebelah Abi.


“Bu Endang,” suara Jojo sedikit melunak namun tatapan matanya tetap tajam. Endang memberanikan diri menatap Jojo.


“Ma.. maafkan saya. Sa.. saya terpaksa karena disuruh seseorang.”


“Cih.. terpaksa? Kamu sudah mempermalukan calon istri saya, mengusirnya di saat neneknya baru saja meninggal dunia. Apa ibu tahu kejahatan apa yang sudah ibu lakukan?” Endang hanya menundukkan kepalanya.


“Menagih uang kontrakan yang sudah dibayarkan, mengambil paksa ponselnya, mengusir secara kasar dan menyebarkan fitnah tentang dirinya. Kira-kira berapa lama hukuman yang bakal dia terima Bi?”


“Kalau gue ngga usah dihukum, langsung aja kirim ke pulau terpencil yang isinya binatang buas semua, beres.”


“Lo Cak?”


“Mengusir secara paksa itu perbuatan tidak menyenangkan. Menyebarkan fitnah, itu pencemaran nama baik. Mengambil ponsel tanpa seijin pemilik, itu perampasan. Dan yang paling fatal, menagih kembali uang kontrakan yang sudah dibayar, itu jatohnya pasal 378, penipuan. Jadi.. ditotal-total bisa 20 tahun penjara,” jawab Cakra sekenanya.


“Jadi, ibu pilih yang mana? Penjara 20 tahun atau dibuang ke pulau terpencil?”


Endang meneguk ludahnya kasar, tidak ada satu pun pilihan yang menguntungkan. Dia sedikit mengangkat kepalanya. Ketiga orang pria di depannya nampak serius, tak ada tanda-tanda kalau mereka tengah bergurau.


“Ma.. maafkan saya, tolong maafkan saya.”


“Ok, saya mau selama enam bulan anda bekerja di panti asuhan meniti harapan sebagai juru kebersihan tanpa digaji. Lalu setiap hari Jum’at harus menyediakan makanan untuk kaum dhuafa sebanyak 50 pack. Selain itu, kalau dalam waktu tiga bulan ibu kembali melakukan perbuatan tidak menyenangkan PADA SIAPAPUN, maka ibu akan langsung masuk ke penjara. Bagaimana?”


Tanpa pikir panjang, wanita itu menyanggupi semua yang dikatakan Abi barusan. Pria itu kembali memberikan isyarat pada Agung untuk membawa wanita paruh baya itu pergi. Abi menoleh pada Jojo yang kondisinya sudah sedikit tenang.


“Udah siap ketemu sama dalangnya? Dalang yang sudah menghasut Endang dan menghasut Rika untuk menjual si Pus. Bahkan dia juga sudah menyiapkan orang untuk menyewa jasa si Pus di klub mami Elis. Bukan satu, tapi dia sudah menyiapkan tiga orang sekaligus. Sepertinya dia benar-benar mau menghancurkan hidup calon bini lo.”


Emosi Jojo yang sempat surut kini kembali berkobar. Tangan pria itu mengepal kencang. Rahangnya mengeras, sorot matanya penuh dengan amarah. Saat yang bersamaan, pintu ruangan terbuka. Agung masuk dengan membawa seorang wanita muda. Jojo terlonjak dari duduknya begitu melihat wanita yang dibawa Agung.


Jojo berjalan cepat ke arah Luna kemudian dengan cepat didorongnya tubuh Luna ke tembok. Tangannya mencekal leher gadis dengan kuat.


“Ma...s J..o..”


Luna berusaha sekuat tenaga melepaskan tangan Jojo dari lehernya namun cengkeraman Jojo begitu kuat. Wajahnya mulai memerah, Cakra segera menarik Jojo hingga akhirnya tangan pria itu terlepas dari leher Luna. Tubuh Luna merosot jatuh ke lantai. Terdengar suara batuknya beberapa kali. Agung membantu Luna berdiri lalu mendudukkannya di sofa.


Jojo yang masih dikuasai emosi berusaha untuk melepaskan diri dari Cakra. Ingin rasanya dia melenyapkan wanita itu saat ini juga. Luna tercekat melihat amarah Jojo. belum pernah dirinya melihat Jojo seemosi ini.


“Lepas Cak, tuh cewek biar gue bikin mampus sekalian!”


“Istighfar Jo. Pikirin Dinda, lo pikir dia seneng lihat lo jadi pembunuh?”


Jojo terus berusaha melepaskan diri dari pegangan sahabatnya. Cakra melihat kesal ke arah Abi yang hanya diam, tanpa mau membantunya menenangkan Jojo yang sudah seperti orang kesetanan. Begitu pula dengan Kevin, pria itu malah asik dengan ponselnya.


“Halo bee.. Dinda kenapa?”


Mendengar nama Dinda, sontak Jojo menoleh ke arah Kevin yang tengah berbicara dengan ponselnya. Dia melepaskan diri dari Cakra kemudian menghampiri Kevin.


“Dinda kenapa?”


“Kata Rindu, si Dinda pingsan lagi.”


Jojo terkejut mendengarnya, kini otaknya hanya dipenuhi kecemasan akan keadaan Adinda. Pria itu melihat ke arah Luna kemudian melihat ke arah Abi.


“Gue serahin soal Luna sama elo, Bi. Pastiin lo kasih hukuman yang setimpal buat dia. Gue balik,” Jojo bergegas pergi setelahnya.


“Dasar bucin.”


“Monyet bucin,” ucap Abi dan Cakra bersamaan.


Sepeninggal Jojo, suasana hening sejenak. Cakra dan Kevin ikut duduk di samping Abi. Luna menelan ludahnya kelat melihat ketiga lelaki di hadapannya. Wajah Abi yang tanpa ekspresi, Kevin yang menatapnya dingin dan Cakra yang melihatnya dengan sinis.


“Luna.. Luna... kamu itu cuma tikus got tapi belagak mau jadi mafia, ck..ck.. ck..” Abi memecah keheningan.

__ADS_1


“Cerdas dikit kalau mau jebak orang. Cuma hitungan satu jam udah ketahuan dalangnya siapa,” Cakra menggelengkan kepalanya.


“Kamu tahu Luna? Jojo memang selalu baik pada orang-orang di sekitarnya tapi kalau dia sudah marah, dia jarang menggunakan otaknya,” Abi mengetukkan jari di kepalanya.


“Kamu beruntung Cakra bisa melepaskannya darimu tadi,” sambungnya.


Luna menelan ludahnya kelat. Refleks dia memegang leher yang terkena cekikan Jojo. Sosok Jojo begitu menyeramkan saat menyerangnya tadi.


“Udah eksekusi aja langsung,” cetus Kevin.


Abi menoleh ke arah Agung. Tanpa berbicara pun Agung sudah tahu maksud Abi. Pria itu bergegas keluar ruangan. Suasana kembali hening. Luna semakin tercekat, tiba-tiba saja dia merasakan oksigen di sekitarnya mulai menipis. Tak lama pintu ruangan kembali terbuka. Kali ini Agung masuk dengan seorang wanita paruh baya dengan riasan tebal di wajahnya.


Mata Luna membulat melihat kedatangan mami Elis. Hatinya semakin ketar-ketir. Mami Elis duduk di sofa tunggal tepat di samping sofa yang diduduki Luna. Dia melirik ke arah gadis yang wajahnya terlihat pucat pasi. Sejatinya mami Elis cukup terkejut melihat keberadaan Luna. Dia tahu siapa betul siapa ayah Luna.


“Bawa dia ke klubmu. Aku memberikannya gratis untukmu.”


Mami Elis terkejut mendengarnya, refleks kepalanya menggeleng. Bagaimana mungkin dia membawa Luna ke klubnya, sedangkan ayah Luna adalah salah satu pejabat yang memback-up bisnis prostitusinya. Dia juga pelanggan tetap klub yang dikelolanya. Elis tak dapat membayangkan jika pria itu tahu anaknya dijadikan salah satu wanita penghiburnya.


“Maaf pak Abi, saya tidak bisa.”


“Kenapa? Anda takut kalau ayahnya tahu anaknya dijadikan salah satu peliharaanmu? Bukankah bagus, jika dia datang dan meminta salah satu wanitamu, kamu bisa memberikan Luna padanya.”


Kali ini Luna yang terkejut. Bagaimana mungkin ayahnya yang terlihat begitu menyayangi dan mencintai ibunya sering menyewa jasa wanita penghibur.


“Kenapa terkejut? Apa kamu pikir ayahmu adalah pejabat yang bersih? Kamu tahu berapa uang yang mengalir ke rekeningnya dari bisnis prostitusi yang dikelola oleh wanita ini? Pantas saja kelakuanmu seperti wanita murahan, ternyata ayahmu memberi makan dengan uang haram.”


“Kamu bohong! Ayahku tidak seperti itu!”


“Kalau begitu ikut dengannya dan lihat dengan mata kepalamu sendiri.”


“Pak Abi, tolong jangan seperti ini. Tolong jangan libatkan saya dalam urusan Luna. Silahkan berikan dia ke klub lain, jangan pada saya.”


“Saya hanya ingin dia ada di klubmu. Sekarang kamu tinggal pilih, membawanya atau aku buat usahamu gulung tikar?”


Mami Elis terdiam. Kalau saja dia tahu Adinda adalah salah satu kerabat Abi, tak mungkin dia akan menerima gadis itu. Kemudian dia menatap kesal ke arah Luna. Gadis itu yang membuat masalah, namun dirinya yang harus makan buah simalakama.


“Bawa dia, jadikan dia salah satu wanita penghibur di klubmu. Kalau ayahnya datang, berikan dia pada ayahnya. Kita lihat bagaimana reaksi pria itu.”


“Tapi bagaimana kalau dia menghancurkan bisnis saya?”


“Saya jamin dia tidak akan melakukannya.”


“Baiklah.”


“Jangan.. saya mohon jangan lakukan ini. Tolong maafkan saya," seru Luna.


Luna terus memohon namun tak ada yang mendengarkannya. Dua orang pengawal mami Elis masuk lalu menyeret gadis itu pergi. Mami Elis menghela nafas panjang, mengingat dia kini tengah memegang bara panas. Tapi berhadapan dengan Abi lebih menyeramkan dibanding menghadapi kemurkaan Rustam, ayah Luna.


“Apa saya boleh menawarkannya pada pelanggan?”


“Boleh.. tapi hanya menemani minum saja. Dia tidak boleh melayani klienmu di ranjang. Aku hanya ingin memberinya pelajaran atas perbuatannya, bukan merusaknya.”


“Baik pak Abi. Tapi saya mohon tepati janji anda untuk melindungi usaha saya.”


“Saya tidak akan melindungi usahamu, hanya memastikan kalau Rustam tidak akan membalasmu karena telah mempekerjakan anaknya. Saya juga tidak menyukai bisnis propertimu. Dan satu lagi, jangan pernah menculik atau menjebak gadis untuk kamu jadikan wanita malammu. Kalau kamu melakukannya maka aku sendiri yang akan menghancurkan usahamu.”


“Tapi bagaimana caraku mendapatkan wanita penghibur?”


“Itu urusanmu. Lebih baik kamu tutup saja usahamu lalu buka majelis taklim.”


Mami Elis mendengus kesal, dengan kasar diraih tas tangannya kemudian meninggalkan ruangan tersebut. Dia selalu terkena sial jika berurusan dengan Abi.


“Ngga kebayang gue kalau mami Elis berubah jadi mamah Dedeh,” Cakra tergelak dengan ucapannya sendiri.


“Eh Vin, itu si blewah beneran pingsan?” lanjutnya. Kevin hanya mengangkat bahunya kemudian pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


“Dasar kulkas dua pintu, ditanya bukannya jawab malah pergi. Heran gue, si Rindu kuat punya suami model tuh orang. Bi, kira-kira....”


Belum selesai Cakra selesai berkata, Abi bangkit dari duduknya kemudian keluar ruangan. Lagi-lagi Cakra dibuat kesal oleh kelakuan dua manusia kutub itu.


“Asem.. orang belum selesai ngomong main pergi aja. Dasar duo kampret!!” umpat Cakra seraya menyusul keluar dari ruangan.


☘️☘️☘️


**Sabar ya Cak, kalau manusia kutub emang begitu modelnya. Lagian Lo mah seneng banget ngoceh kaya emak² aja🤣

__ADS_1


Maafkeun hari ini telat up nya. Seperti biasa kalau Jumat ada ayah di rumah. Ngga ada waktu kencan Ama laptop. Ditambah mamake family time dulu sekalian pacaran Ama ayah😎


Ada yang penasaran sama visual mami Elis? Ngga usah lah ya, ngga penting juga🤣**


__ADS_2