KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Kepastian


__ADS_3

Masih diliputi kesedihan dan kemarahan, ibunda Yuni menghampiri Dilara yang masih terpaku di tempatnya. Gadis itu masih terisak. Dengan sorot mata penuh amarah, ibunda Yuni mengangkat tangannya dan


PLAK!!!


Dilara melihat pada ibunda Yuni seraya memegangi pipinya yang terkena tamparan. Sungguh dirinya tak menyangka wanita tersebut melampiaskan kekecewaan, kesedihan sekaligus kemarahan pada dirinya.


“Tante… apa salah saya?”


“Beraninya kamu bertanya seperti itu! Karena kamu, Yuni meninggal!”


“Apa maksud tante? Saya tidak ada bersama Yuni saat kecelakaan terjadi.”


“Tapi dia menaiki mobilmu! Saya tahu kamu anak dari Jovan Romano. Ayahmu itu pasti punya banyak musuh. Pasti ada yang sudah merusak mobilmu dan ingin membuatmu celaka. Tapi kenapa harus anakku!!”


“Maaf tante… papa saya bukan orang jahat dan tidak punya musuh. Apa yang terjadi pada Yuni, murni karena kecelakaan.”


“Masih mau menyangkal? Dasar anak kurang ajar!!”


Ibunda Yuni kembali hendak menampar Dilara, namun kali ini wanita tersebut tak bisa melakukannya. Sebuah tangan menahan pergelangan tangannya, lalu dengan sedikit keras dia mendorong seraya melepaskan tangan ibunda Yuni. Suaminya yang tengah berbicara dengan suster segera menghampiri dengan tergopoh-gopoh.


“Tolong jaga sikap ibu. Tidak seharusnya ibu melampiaskan kemarahan pada Dila. Dia tidak bersalah.”


“Dia yang sudah membuat anak saya celaka!!” jari ibu Yuni menunjuk pada Dilara.


“Ibu, istighhfar.. jangan seperti ini,” sang suami mengingatkannya.


“Bukan Dila yang mengendarai mobil dan saya bisa pastikan tidak ada sabotase pada mobil milik Dila. Kecelakaan murni terjadi karena human error. Saya peringatkan pada ibu, jangan asal menuduh tanpa bukti. Kali ini saya maafkan mengingat ibu sedang berduka. Tapi sekali lagi saya mendengar ibu berkata kasar apalagi sampai menampar Dila, saya tidak akan tinggal diam.”


Sambil menarik tangan Dilara, Ezra membawa kekasihnya itu pergi dari sana. Mata Dilara terus melihat pada tangannya yang digenggam oleh Ezra. Ada rasa haru melihat sang kekasih hati membela dirinya. Ezra terus membawa Dilara menuju tempat yang cukup sepi lalu mendudukkan gadis itu di kursi.


“Kamu ngga apa-apa?” tanya Ezra seraya mendudukkan diri di samping Dilara. Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya.


“Sakit?” lanjutnya sambil mengusap pipi Dilara.


Airmata Dilara tak terbendung mendapatkan perlakuan manis dari kekasihnya. Ezra menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Semalam saat Barra mengatakan Dilara mengalami kecelakaan, Ezra langsung memutuskan kembali ke Bandung malam itu juga. Dan baru tadi shubuh sampai ke tanah air. Dia segera bergegas menuju rumah sakit, untuk melihat keadaan kekasihnya.


“Maaf aku ngga menghubungimu selama di Phuket. Hp-ku tertinggal di kantor Jakarta. Kemarin aku telpon pakai hp Viren, tapi hp-mu mati. Aku cemas Dil.. tolong jangan buatku cemas lagi.”


“Maaf.. ka..” jawab Dila di sela-sela tangisnya.


Ezra mengurai pelukannya, dihapusnya airmata yang masih membasahi wajah Dilara. Kantung mata terlihat di sana, karena semalaman gadis itu tidak tidur.


“Pulang dulu, ya.”


“Aku mau lihat Yuni dulu untuk yang terakhir.”


“Baiklah.. ayo.”


Ezra membawa kembali Dilara menuju ruang tunggu ICU. Nampak di sana kedua orang tua Yuni tengah berbicara dengan petugas polisi yang sengaja datang untuk melihat keadaan Yuni. Ezra segera mendekati petugas tersebut. Dilara berdiri di belakang Ezra, karena ibunda Yuni masih terus melihat dengan mata penuh kobaran amarah.


“Apa peyelidikannya sudah selesai, pak?” tanya Ezra.


“Iya.. berdasarkan hasil pantauan cctv di Blue Moon dan sepanjang jalan menuju TKP, kami simpulkan kalau kecelakaan terjadi karena human error. Tidak ada kerusakan apapun pada mesin mobil, semuanya dalam keadaan baik. Ketiga korban keluar dari klub dalam keadaan mabuk. Dan berdasarkan rekaman kamera yang ada di mobil, ada kelalaian supir saat berkendara hingga menyebabkan kecelakaan terjadi. Menurut hasil pemeriksaan dokter, terdapat kandungan alkohol dalam tubuh korban sebanyak 20%. Kami masih menunggu kondisi saudara Yogi dan Intan pulih, sebelum melakukan proses pemeriksaan. Saudara Yogi sendiri saat ini sudah resmi sebagai tersangka kelalaian dalam berkendara hingga menyebabkan penumpang kehilangan nyawa.”


Penjelasan panjang lebar petugas polisi sontak membuat tubuh ibunda Yuni lunglai. Dengan sigap sang suami segera menangkap tubuh wanita itu lalu membawanya ke kursi. Tak tega melihat keadaan wanita itu, Dilara menuju mesin penjual minuman otomatis dan mengambil air mineral dari dalamnya. Kemudian gadis itu berjalan mendekati ibunda Yuni.


“Tante.. diminum dulu.”


Dilara menyodorkan botol air mineral di tangannya. Melihat tak ada reaksi dari istrinya, ayah Yuni yang mengambilnya. Dibukanya penutup botol tersebut lalu memberikannya pada sang istri. Hanya seteguk saja air yang mampu masuk dalam kerongkongan wanita tersebut. Mendengar penjelasan petugas polisi, membuatnya begitu terpukul.


“Saya turut berduka cita, tante. Semoga Yuni bisa beristirahat dengan tenang.”


“Apa yang akan terjadi padanya. Di saat-saat terakhir hidupnya, dia malah mengkonsumsi barang haram,” guman ibunda Yuni dengan airmata mengalir. Dilara menegakkan tubuhnya sedikit kemudian memeluk wanita itu.


“Sabar tante. Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya dan diberikan tempat terbaik di sisi-Nya.”


Tangis ibunda Yuni semakin pecah mendengar ucapan Dilara. Gadis yang telah dituduh dan ditamparnya masih mau mendoakan anaknya dengan tulus. Wanita itu memeluk punggung Dilara. Ezra hanya memperhatikan dari tempatnya berdiri. Tak salah dirinya memilih pasangan hidup, Dilara anak yang baik dan hatinya begitu lembut. Dia masih bisa bersikap baik pada wanita yang telah menyakitinya.

__ADS_1


“Maafkan tente, nak. Maaf tante terbawa emosi tadi.”


“Tidak apa, tante.”


Ibunda Yuni mengurai pelukannya kemudian mengusap pipi Dilara yang ditamparnya. Masih ada sedikit warna merah di sana. Sorot penyesalan nampak di mata wanita paruh baya itu. Karena kesedihan dan terbawa emosi, dia melampiaskannya pada orang yang salah.


Seorang perawat menghampiri mereka dan mengatakan jenazah Yuni siap dibawa pulang. Dibantu suaminya, ibunda Yuni berdiri kemudian berjalan ke dekat pintu masuk ruangan ICU. Ezra merangkul bahu Dilara, membimbing gadis itu mendekati pintu. Tak berapa lama pintu terbuka, seorang suster mendorong blankar dengan jasad Yuni tertutup kain putih. Tangis ibunda Yuni seketika pecah melihat kondisi anaknya. Dia terus mengikuti perawat tersebut yang membawa jenazah Yuni untuk dimasukkan ke dalam ambulans.


☘️☘️☘️


Acara pemakaman Yuni berlangsung dengan khidmat. Keluarga, para tetangga di kediamannya juga teman-teman sekampusnya turut mengantarkan Yuni ke peristirahatan terakhirnya. Genta juga ikut hadir di sana. Pemuda itu nampak menangis, karena baru semalam dia bertemu dan bercanda dengan temannya itu.


Ezra tak melepaskan pelukannya dari Dilara. Gadis itu sejak masuk ke area pemakaman terus saja menangis. Menyaksikan tubuh Yuni yang terbungkus kain kafan perlahan dimasukkan ke liang lahat, semakin membuat airmatanya deras bercucuran.


Setelah lubang berukuran 1x2 itu tertutup sempurna oleh tanah dan ditaburi oleh bunga, disambung dengan untaian doa-doa untuk almarhumah, semua yang mengantar jenazah Yuni, satu per satu meninggalkan area pemakaman. Hanya tersisa keluarga dan sahabat dekat Yuni, termasuk Dilara.


Dengan mata sembab, dia terus melihat ke arah nisan kayu yang tertancap di atas tanah merah. Di sana tertulis nama temannya, Yuni Kharisma. Rasanya masih belum percaya, teman yang sudah dikenalnya sejak pertama kali menjejakkan kaki di kampus, kini sudah pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.


“Kita pulang sekarang,” ajak Ezra. Dilara hanya menganggukkan kepalanya. Dia lalu berjalan mendekati kedua orang tua Yuni untuk berpamitan. Setelahnya gadis itu keluar area pemakaman dengan Ezra terus memeluk pinggangnya.


Tak ada pembicaraan sama sekali saat keduanya tengah berada dalam perjalanan pulang. Dilara masih setia mengatupkan mulutnya. Usai pemakaman Yuni, kini pikirannya beralih pada Hanum. Kata-kata wanita itu kemarin kembali terngiang-ngiang di telinganya. Perasaan takut yang terlupakan karena insiden kecelakaan kembali datang.


Karena asik melamun, Dilara tak menyadari kalau mobil yang dikendarai kekasihnya sudah sampai di depan kediaman Jojo. Gadis itu terjengit ketika Ezra membukakan kaitan sabuk pengamannya.


“Sudah sampai.”


“Eh.. iya, kak.”


Dilara membuka pintu kemudian turun dari kendaraan roda empat tersebut. Sejenak Ezra terdiam di tempatnya, memperhatikan Dilara yang masuk ke dalam rumah seperti orang linglung saja. Pria itu kemudian turun dari mobil dan bergegas menyusul kekasihnya itu.


Sesampainya di kamar, Dilara langsung mendudukkan diri di ranjang. Pikirannya masih berkelana entah kemana, sampai akhirnya dia tersadar ketika merasakan pergerakan di sampingnya. Ezra yang ikut menyusul ke dalam kamar, mendudukkan diri di sisinya. Pria itu meraih tangan Dilara dan mengangkup dengan kedua tangannya.


“Ada apa? Apa kamu masih bersedih soal Yuni?” hanya gelengan kepala Dilara sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut.


“Lalu kenapa? Kamu banyak melamun tadi.”


Dilara memperhatikan tangan Ezra yang menangkup tangannya, kemudian pandangannya beralih pada netra sang kekasih. Perasaannya semakin galau jika mengingat tekad Hanum untuk merebut pria di sampingnya ini.


“Hmm..”


“Boleh aku tanya sesuatu?”


“Soal apa?”


“Hanum.”


Ezra tertegun mendengar ucapan Dilara. Melihat Ezra yang tak bereaksi apa-apa, semakin membuat perasaan gadis itu gundah.


“Beberapa hari ini kak Hanum selalu mengajakku bertemu. Dan kemarin aku bertemu dengannya. Dia bilang mau kembali pada kakak. Dia juga mengajakku bersaing secara sehat untuk mendapatkan kakak.”


Dilara menghentikan ucapannya sejenak. Dihirupnya oksigen sebanyak-banyaknya untuk memenuhi rongga paru-parunya. Ezra masih diam, membiarkan sang kekasih mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya.


“Aku.. tidak mau terlalu lama menunggu jawaban dari kakak. Aku ingin kakak menjawabnya sekarang. Apa kakak akan kembali pada kak Hanum atau tetap bersamaku?”


“Kita bicarakan ini nanti, setelah perasaanmu tenang. Kamu masih shock dengan kejadian hari ini. Lebih baik kamu istirahat dulu.”


“Ngga mau! Aku mau dengar jawabannya sekarang. Aku udah sedih karena meninggalnya Yuni. Ditambah kabar buruk satu lagi juga ngga apa-apa. Biar sakitnya sekalian dan nangisnya juga dirapel, ngga dicicil-cicil. Nangis juga butuh energi, kak. Jadi jawab aja sekarang, biar nangisnya sekalian, capenya juga sekalian.”


Ezra tersenyum mendengar cicitan kekasihnya ini. Tangannya bergerak mengusap puncak kepala gadis itu. Namun Dilara segera menghindarinya. Dia menjauhkan tangan Ezra dari kepalanya kemudian menatap lekat-lekat wajah tampan di depannya.


“Jawab aku, kak.”


“Aku ngga mau jawab.”


“Kakak egois. Jawab sekarang, pilih aku atau kak Hanum.”


“Ngga mau.”

__ADS_1


“Kenapa?”


“Karena sejak awal aku sudah memilihmu. Untuk apa aku menjawab pertanyaanmu lagi.”


“Tapi itu sebelum kedatangan kak Hanum. Sekarang dia sudah datang dan ingin kembali pada kakak. Sekarang kakak punya pilihan. Aku atau mmppphh..”


Kalimat Dilara terputus begitu saja ketika Ezra membungkam bibir yang terlalu banyak mengeluarkan kata-kata. Dengan lembut pria itu mel*mat bibir tipis yang baru kali diciumnya. Dilara yang terkejut hanya diam, sampai Ezra mengakhiri ciumannya.


“Aku tidak peduli Hanum kembali atau tidak. Yang ada dalam hatiku cuma kamu. Dia hanyalah masa lalu, sedangkan kamu masa adalah depan. Aku hidup untuk masa depan, bukan masa lalu. Apa jawabanku sudah jelas?”


Masih shock dengan apa yang terjadi, Dilara hanya menganggukkan kepalanya pelan. Ezra mendekatkan wajahnya lagi dan melakukan hal yang sama. Dengan gerakan pelan dia memagut dan mel*mat bibir Dilara. Memandu gadis itu untuk membalas ciumannya. Mata Dilara terpejam dan mulai mengikuti alur pertautan bibir mereka.


Perlahan Ezra melepaskan tautan bibirnya dengan sebuah sesapan lembut di bibir bawah Dilara. Kedua tangannya kemudian menangkup wajah cantik yang tertutup sembab di matanya.


“Mau menikah denganku?”


“Mau.. tapi kata kakak nunggu aku beres kuliah.”


“Aku berubah pikiran. Kita menikah secepatnya, supaya aku bisa mendampingimu saat wisuda nanti.”


“Kakak yakin? Bagaimana dengan kak Hanum?”


“Jangan sebut dia lagi. Sudah kubilang dia hanyalah masa lalu. Atau kamu mau aku kembali padanya?”


Dengan cepat Dilara menggelengkan kepalanya. Ezra terkekeh melihatnya, tangannya lalu menarik kepala sang kekasih bersandar di dadanya.


“Aku mencintaimu, Dila. Bukan Hanum atau perempuan lain, hanya kamu. Jadi buang semua pikiran burukmu itu. Percaya takdir kita, aku cinta padamu.”


“Kok kaya lirik lagu?”


“Emang hehehe…”


“Ish..”


Dilara mendorong dada Ezra seraya menjauhkan kepalanya. Ezra merapihkan rambut gadis itu yang sedikit berantakan karena ulahnya. Kemudian dia membaringkan Dilara di atas kasur. Pria itu sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah sang kekasih.


“Sekarang tidur. Jangan pikirkan apapun lagi, hmm..”


“Iya.”


“Aku pulang.”


Ezra mencium kening dan kelopak mata sang kekasih bergantian. Dilara memejamkan matanya. Wajahnya kini sudah bisa menyunggingkan senyuman lagi. Ezra mengusap pelan puncak kepala Dilara, kemudian keluar dari kamar.


Setelah berpamitan dengan Adinda, Ezra segera keluar rumah dan menuju kendaraannya. Baru saja dirinya akan masuk ke dalam mobil ketika ponselnya berdering. Di layar ponselnya tertera nomor tak dikenal yang memanggil. Jari pria itu menekan icon berwarna hijau untuk menjawab panggilan.


“Halo..”


“Halo, Ez.. ini aku,” terdengar suara Hanum dari seberang.


“Ada apa?”


“Bisa kita bertemu?”


“Maaf.. hari ini aku lelah, baru pulang dari Phuket.”


“Tapi aku perlu bertemu denganmu. Ada yang ingin kubicarakan.”


“Lusa kita bertemu.”


“Di mana?”


“Nanti aku kabari lagi tempat dan waktunya.”


“Baiklah. Thanks, Ez. Love you..”


Tanpa membalas ucapan cinta Hanum, Ezra mengakhiri panggilan tersebut. Dia lalu masuk ke dalam mobilnya dan memacu kendaraan menuju kediaman orang tuanya. Tubuhnya sudah lelah setelah menempuh perjalanan jauh dan menemani Dilara seharian. Yang diinginkannya saat ini hanyalah membersihkan diri dan tidur.

__ADS_1


☘️☘️☘️


Jelas ya, kecelakaan murni karena human error, bukan karena mobil Dilara disabotase. Hanum ngga sejahat itu kok. Jangan lupa minta maaf yang udah suudzon ama Hanum🏃🏃🏃🏃


__ADS_2