
Sebuah mobil berjenis sedan memasuki pelataran parkir hotel Yudhistira. Hari ini adalah waktu yang dijanjikan oleh Ezra untuk bertemu. Pria itu memilih jam setelah isya. Setelah memarkirkan kendaraannya, Hanum turun dari kendaraannya. Dress selutut dengan motif floral terpasang di tubuh langsingnya. Dengan tas tersampir di bahu, wanita itu memasuki lobi hotel Yudhistira.
Suara ketukan high heels yang dikenakan Hanum terdengar ketika dia melangkah keluar dari lift. Seorang pelayan menghentikan langkahnya saat akan memasuki Krishna café. Namun mendengar nama Hanum dan Ezra, pelayan tersebut mempersilahkannya masuk, bahkan mengantarnya sampai ke meja.
Setelah mendudukkan diri di kursi, Hanum baru menyadari kalau pengunjung café adalah keluarga Hikmat beserta para sahabatnya. Matanya berkeliling mencari sosok Ezra, sambil hatinya bertanya-tanya acara apa yang tengah digelar di café ini. Perhatian Hanum teralihkan ketika mendengar suara MC membuka acara.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab semua yang hadir.
“Selamat malam dan selamat datang untuk bapak, ibu dan teman-teman sekalian. Malam ini sedianya akan dilangsungkan acara pertunangan antara Ezra dan Dilara. Sebelum acara inti dimulai, saya persilahkan pada perwakilan kedua keluarga untuk maju ke depan menyampaikan sepatah atau dua patah kata. Waktu dan tempat, saya persilahkan.”
Hanum bagai tersambar petir ketika mendengar apa yang disampaikan oleh pembawa acara tersebut. Telinganya seketika tuli ketika Juna dan Jojo bergantian memberikan sambutan singkatnya. Pikirannya berhamburan entah kemana. Perasaan melambung yang dibawanya saat menuju ke tempat pertemuan, terhempas seketika jatuh ke tanah dan hancur berkeping-keping.
Perasaan Hanum semakin teriris sembilu ketika sang pembawa acara memanggil pasangan yang akan bertunangan malam ini. Ezra maju lebih dulu ke depan. Pria itu nampak gagah dan tampan dengan tuxedo berwarna hitam di tubuhnya. Tak lama Dilara menyusul dengan mengenakan long dress berwarna saleem. Ezra mengulurkan tangannya, membantu Dilara untuk berjalan sampai ke dekatnya.
Pembawa acara mengarahkan pasangan tersebut untuk berdiri berhadapan. Di tangannya sudah terdapat kotak beluduru berwarna merah. Dia memposisikan di tengah, menyaksikan kedua orang yang tengah memegang tangan satu sama lain. Pandangan keduanya pun saling mengunci netra masing-masing.
“Dila.. terima kasih sudah datang sebagai pelangi dalam hidupku setelah hujan yang mengguyur. Banyak yang bilang, keindahan pelangi hanya bisa dinikmati sesaat, namun warna indah yang kamu berikan padamu, merasuk ke dalam hatiku dan menetap di sana selamanya.”
“Kak Ez.. terima kasih sudah menerima diriku apa adanya. Sikapmu yang hangat dan lembut membuatku nyaman untuk selalu dekat denganmu. Karenamu aku merasa sangat dicintai dan spesial. Bagiku, kakak adalah malaikat tak bersayap yang senantiasa melindungiku dan menghujaniku dengan kasih sayang dan cinta.”
“Dila.. maukah kamu menjadi masa depanku?”
“Iya, kak. Aku bersedia menyongsong masa depan denganmu.”
Sang pembawa acara menyodorkan kotak beludru di tangannya. Ezra mengambil cincin yang bertahtakan berlian, kemudian menyematkannya di jari Ezra. Hal yang sama dilakukan oleh gadis itu. Sebuah cincin juga melingkar di jari manis Ezra. Terdengar gemuruh tangan begitu pasangan selesai dengan ritual pemasangan cincin.
“I love you, Dila.”
“I love you, kak Ez..”
Ezra mencium punggung tangan Dilara yang kemudian dilanjut dengan mencium keningnya. Gemuruh tepuk tangan kembali terdengar. Ezra dan Dilara menghadap ke arah para tamu seraya memamerkan cincin di jari mereka. Sang juru foto dengan sigap mengabadikan pasangan tersebut.
Kebahagiaan yang terjadi di depan sana, nyatanya berbanding terbalik dengan kondisi Hanum. Mata wanita itu berkaca-kaca menyaksikan semua yang terjadi. Harapannya bisa kembali pada Ezra langsung hancur berkeping-keping. Tanpa sempat dirinya berkata dan bertanya, Ezra langsung memberikan jawaban yang membuat dadanya terasa sesak. Tanpa dapat ditahan, airmatanya jatuh bercucuran.
Usai pemakaian cincin, acara dilanjutkan dengan penampilan pengisi acara membawakan lagu-lagu bertemakan cinta. Sambil menggandeng tangan Dilara, Ezra berjalan menuju meja yang ditempati Hanum. Melihat kedatangan pasangan yang baru saja mengikat diri dalam pertunangan, Hanum buru-buru menghapus airmatanya.
Ezra menarik sebuah kursi lalu mendudukkan sang kekasih di sana, setelahnya dia baru menarik kursi untuk dirinya. Hanum semakin miris melihat semua itu. Dulu, Ezra selalu melakukan itu untuknya. Namun sekarang sudah ada wanita lain yang mendapatkan perlakuan istimewa Ezra.
“Sudah lama?” tanya Ezra berbasa-basi.
“Hmm..”
“Maaf, membuatmu menunggu lama. Oh ya, apa yang mau kamu bicarakan?”
“Tidak ada.”
“Kamu bilang ada yang mau dibicarakan. Katakan saja sekarang. Tidak ada rahasia antara aku dengan Dila.”
“Tidak jadi, sudah tidak penting lagi. Oh iya, aku ucapkan selamat untuk kalian berdua. Maaf, aku pergi dulu.”
Tanpa menunggu jawaban dari Ezra, Hanum segera berdiri kemudian meninggalkan meja seraya menyambar tasnya. Dirinya sudah tak bisa menahan rasa sakit lebih lama lagi. Menyaksikan kemesraan Ezra dan Dilara membuatnya semakin terpuruk saja. Dengan langkah cepat, dia meninggalkan Krishna café.
“Emang ada apa sih, kak?” tanya Dilara begitu Hanum pergi.
“Dia bilang ada yang mau dibicarakan denganku. Entah apa.”
“Kak Hanum pernah bilang kalau ingin bersaing sehat untuk mendapatkan kakak.”
“Ck.. aku ini bukan trophy yang diperebutkan. Harusnya dia sudah mengerti dan tidak masuk di antara kita.”
“Tapi aku ngerasa ngga enak juga sama kak Hanum. Dia berjuang untuk sembuh, dan saat sudah berhasil, ternyata laki-laki yang dicintainya sudah tidak berada di tempat semula.”
“Jangan merasa bersalah. Urusan kami sudah selesai sejak lama. Dia yang memilih pergi dan menghilangkan jejak. Aku pun memutuskan untuk berhenti menunggu dan mencari jalan baru. Dan aku tidak menyesali keputusan itu.”
Ezra meraih tangan Dilara kemudian mengecupnya lembut. Pipi Dilara memerah mendapatkan perlakuan seperti ini. Dia mengalihkan kepalanya ke arah lain demi menyembunyikan semburat merah di wajahnya.
“Dan untukmu, Dila. Berhenti memanggilku kakak. Aku bukan kakakmu,” Ezra menjawil hidung mancung kekasihnya.
“Terus aku harus panggil apa?”
“Apa aja, asal bukan kakak atau abang.”
“Terus apa dong? Masa akang? Berasa manggil kang Mus.”
“Hahaha…”
Tangan Ezra bergerak mengusak puncak kepala sang kekasih, yang selalu saja bisa membuatnya tertawa sekaligus gemas.
“Panggil yang mesra dong..”
“Ish.. kakak kenapa jadi genit gini.”
“Panggil kakak lagi, aku cium kamu di sini.”
“Iya.. iya… mas Ezra,” wajah Dilara merona ketika merubah panggilan untuk Ezra dari kakak menjadi mas.
Perlahan Ezra mendekatkan wajahnya ke arah Dilara. Namun pergerakannya terhenti ketika tiba-tiba wajah Dilara berganti dengan wajah Barra. Untuk saja remnya pakem, jika tidak mungkin bibir Barra yang akan terkena ciumannya. Dengan kesal dia menjauhkan wajah Barra dari hadapannya.
“Bikin kaget aja, lo!”
__ADS_1
“Hahahaha… lo mau ngapain Dila? Belum sah oey!!”
“Udah sana…. Sana… ganggu gue aja.”
“Kakak ipar nih,” sewot Barra.
“Masih calon.”
“Ya tetap bakalan jadi kakak ipar, lo!”
“Kagak.. nanti gue minta om Jo hapus elo dari daftar KK sama ganti akte elo.”
“Buset adik ipar durhakim,” Barra menoyor kepala Ezra. Dilara tak bisa menahan tawanya melihat tingkah kakak dan calon suaminya.
Ezra menarik tangan Dilara, dan segera membawanya dari situ. Sesampainya di tempat yang sedikit sepi, baru dia melepaskan pegangan tangannya. Namun betapa terkejutnya Ezra, setelah mengetahui tangan yang ditariknya adalah tangan Barra.
“Ngapain lo ngikut ke sini?” tanya Ezra.
“Dih, elo yang narik tangan gue. Mau ngajakin gue mojok ya.”
“Najong!”
Ezra menghempaskan tangan Barra kemudian segera berlalu meninggalkan pria itu. Barra hanya terpingkal saja melihat kekesalan di wajah Ezra. Dia memang sengaja tadi mendahului tangan Dilara menyambut uluran tangan Ezra.
☘️☘️☘️
Kenan membereskan buku-bukunya kemudian bergegas keluar dari kelas. Sepulang kuliah, dia berjanji akan menjemput Zahra di kampusnya. Mereka berencana menghabiskan malam minggu ini dengan berkencan. Kebetulan sekali jadwal magang Zahra memang sudah berakhir. Tunangannya itu hanya tinggal fokus pada tugas akhirnya saja.
Mengingat cuaca kota Bandung yang akhir-akhir ini sering dilanda hujan, Kenan memutuskan pergi dengan menggunakan mobil. Pemuda itu melambatkan laju kendaraannya begitu sampai di dekat kampus Zahra. Dia menghentikan mobil tidak jauh dari pintu gerbang. Dibukanya kaca jendela mobil. Dengan lengan disandarkan ke pintu, Kenan memperhatikan mahasiswi yang tengah berjalan keluar dari kampus.
Matanya kemudian menangkap sosok Zahra tengah berjalan menuju gerbang kampus. Baru saja dia hendak melambaikan tangan, namun tertahan ketika melihat seorang pria mendekati Zahra. Cukup lama keduanya berbincang dan dari bahasa tubuh pria tersebut, Kenan yakin kalau pria itu menaruh hati pada kekasihnya. Dengan cepat Kenan turun dari mobil lalu menghampiri Zahra.
“Yang..”
Zahra menolehkan kepalanya ketika mendengar suara Kenan. Bukan hanya gadis itu, namun lelaki yang bersamanya juga terkejut mendengar panggilan Kenan untuk Zahra. Kenan menghampiri Zahra kemudian memeluk bahu kekasihnya itu. Matanya menatap tajam pada pria di depannya.
“Ok, Ra. Jangan lupa ya, yang aku bilang tadi, bye.”
Pria itu segera menghakhiri percakapan dengan Zahra dan pergi dari sana. Dia merasa tak nyaman dengan kedatangan Kenan. Mata Kenan memandangi punggung lelaki itu yang semakin berjalan menjauh. Dia lalu mengalihkan pandangan pada Zahra.
“Dia ada perlu apa?”
“Itu, di kampus mau ngadain acara healing sebelum ujian. Dia ngajakin aku.”
“Healing kemana?”
“Ke puncak.”
“Ngga boleh!”
Zahra melepaskan pelukan Kenan di bahunya, kemudian berjalan meninggalkan kekasihnya itu, namun diam-diam dia mengulum senyuman. Kenan segera menyusul dari belakang. Zahra tak mempedulikan panggilan Kenan padanya. Dia terus berjalan menuju mobil, namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara temannya memanggil Kenan.
“Hendra.. kamu Hendra kan? Vocalis The Myth,” ujar salah seorang gadis, teman dari Zahra.
“Eh iya,” jawab Kenan bingung.
“Masih inget ngga? Aku yang waktu itu ulang tahun.”
“Oh iya.. iya..”
“Ngapain ke sini? Jangan bilang nyari aku,” gadis mengedip-ngedipkan matanya ke arah Kenan.
Gerah melihat tingkah temannya sendiri, Zahra bergegas menghampiri kemudian menarik Kenan dari sana. Namun pergerakannya tertahan ketika temannya juga menarik tangan Kenan. Zahra membelalakkan matanya.
“Lepas, Ci,” ujar Zahra.
“Dih kenapa kamu sewot. Aku kan lagi ngobrol sama Hendra.”
“Ngga bisa. Hendra mau pergi.”
“Dih.. apaan sih, Ra. Aku mau selfie bentar sama Hendra.”
“Ngga boleh!”
“Emang kamu siapanya? Dih posesif amat.”
“Dia itu…”
“Aku tunangannya Zahra. Maaf aku ngga bisa selfie.”
Kenan menarik tangan Zahra kemudian bergegas menuju mobil. Pria itu mengenakan dahulu sit beltnya sebelum melajukan kendaraannya. Sekilas dia melirik pada Zahra yang sedari tadi hanya membungkam mulutnya. Kenan menepikan kendaraan di bahu jalan, kemudian melihat pada kekasihnya itu.
“Kenapa?” tanya Kenan.
“Tadi kalau aku ngga cegah, kamu pasti mau kan diajak foto selfie sama Cici.”
“Kamu cemburu?” tanya Kenan.
“Wajar kan kalau aku cemburu. Laki-laki kalau dideketin perempuan, kadang suka ngga tahan godaan.”
“Terus apa kabarnya kamu tadi? Aku ngelarang kamu pergi ke Puncak, kamu bilang aku posesif. Kamu pikir aku suka lihat kamu pergi ke tempat lain sama laki-laki lain?”
__ADS_1
“Kita kan ngga pergi berdua, rame-rame. Kamunya aja yang ribet.”
“Aku juga tadi ngga ngapa-ngapain sama Cici, tapi kamunya udah sewot duluan.”
“Kenapa jadi bahas aku. Kan masalahnya di kamu.”
“Apa masalahku? Salahku di mana? Kamu yang ngga jelas. Tiba-tiba sewot sama aku.”
Kenan menyandarkan punggung ke sandaran jok seraya menghela nafas panjang. Pertemuan yang disangkanya akan menjadi momen indah, justru menjadi pertengkaran. Padahal Kenan sengaja mengajak Zahra berkencan, karena melihat akhir-akhir ini kekasihnya itu selalu bad mood.
“Kamu kenapa sih, Za? Akhir-akhir ini kamu tuh uring-uringan terus. Apa yang aku lakukan selalu salah di mata kamu.”
“Maaf,” cicit Zahra.
“Cerita, Za. Ada apa sih?”
“Aku cuma lagi kesel aja.”
“Kesel sama siapa? Sama aku?”
“Bukan.”
“Terus?”
Zahra terdiam sejenak, lalu melihat pada Kenan yang masih terus menatapnya. Menunggu dirinya menjawab pertanyaan.
“Aku lagi kesal sama papa.”
“Papa mana nih?”
“Papa Sandilah.”
“Emang kenapa? Terus apa hubungannya sama aku?”
“Ya aku takut aja, kamu kaya papa. Ngga bisa nahan diri kalau digoda perempuan.”
“Za.. maksud kamu apa sih?"
Zahra kembali terdiam. Belakangan ini perasaannya memang tidak karuan setelah mendengar kabar tak mengenakkan dari sang mama. Perasaan malu dan marah bercampr menjadi satu. Dan imbasnya dia melampiaskan itu semua pada Kenan.
“Aku pikir papa sudah sadar dari kesalahannya. Tapi ternyata dia mengulangi kesalahan yang sama.”
“Maksudnya?”
“Mama bilang, papa menikah lagi di tempat kerjanya yang baru.”
Kali ini giliran Kenan yang terdiam. Sebenarnya dia sudah tahu perihal pernikahan sirri Sandi dengan salah seorang gadis di sana. Namun pria itu sengaja menutupinya dari Zahra. Dan ternyata kabar itu sudah sampai ke telinga sang kekasih.
“Ya.. aku ngga bisa nyalahin papa kamu seratus persen sih. Salah bu Risma juga, kenapa ngga mau ikut pindah ke pulau Rinca. Udah tahu modelan papa kamu kaya gimana, eh malah dilepas sendirian.”
“Jadi kamu belain papa?”
“Bukan belain, cuma memahami situasinya aja. Lagian biarin ajalah, Za. Ngga usah pusingin soal papa kamu. Biarkan dia dengan kehidupannya sendiri. Kamu juga mama dan Silva sudah punya kehidupan baru, bersama papa Darmawan juga kak Fikri dan kak Mentari.”
“Aku takut, kamu seperti papa.”
“Ck.. ucapan itu doa. Jangan ngomong yang aneh-aneh. Apa pernah selama ini kamu lihat aku keganjenan sama cewek?”
Zahra hanya menggelengkan kepalanya, karena memang selama mengenal Kenan, dia tak pernah melihat kekasihnya itu tebar pesona apalagi menggoda perempuan.
“Nah, terus kamu khawatir soal apalagi?”
“Maaf.”
“Hari ini aku maunya menghabiskan waktu sama kamu. Kita senang-senang menikmati waktu malam minggu. Jangan mikirin yang aneh-aneh. Jangan mengkhawatirkan masalah yang belum tentu terjadi. Kita fokus saja jalani hubungan ini sampai ke pernikahan nanti.”
“Iya, maaf.”
“Dan aku tetap ngga ngijinin kamu ke puncak kecuali sama aku.”
“Iya.. iya.. lagian aku juga ngga minat.”
“Tapi kenapa kamu tadi bilang kaya gitu?"
“Kan aku ngetes aja, kamu cemburu ngga. Kan katanya kalo cemburu tanda cinta.”
Zahra terkejut ketika tiba-tiba Kenan mencondongkan tubuh ke arahnya. Gadis itu sampai menahan nafas karena posisi tubuh mereka yang begitu dekat. Bahkan dia bisa merasakan hembusan nafas Kenan di wajahnya.
“Aku selalu cemburu setiap melihat kamu bersama dengan laki-laki lain. Tapi aku menahan diri karena tidak ingin membuatmu tak nyaman. Dan tadi, aku tidak dapat menahan rasa cemburuku lagi. Jadi, jangan pernah coba-coba dekat dengan lelaki tadi, kalau kamu ngga mau aku patahkan kakinya.”
“Ish kamu tuh, posesif. Aku ngga mungkin terpesona sama laki-laki lain. Karena semua udah ada di kamu, dari yang paling manis sampai yang paling pahit.”
“Dih pahitnya ngga usah disebut.”
“Biarin,” Zahra menjulurkan lidahya.
“Za.. sekali lagi kamu kaya gitu, aku cium.”
Zahra segera mengalihkan pandangannya ke arah jendela samping. Kenan terkekeh melihat kekasihnya yang salah tingkah. Pria itu kembali ke posisi semula dan menjalankan kendaraannya lagi. Sepertinya dia harus membujuk kedua orang tuanya untuk mempercepat pernikahannya dengan Zahra. Semakin hari, dia semakin sulit untuk menahan diri.
☘️☘️☘️
__ADS_1
Maafkan karena 2 hari tidak up. Kamis sibuk dengan kerjaan di RL, Jum'at full waktu dengan keluarga. Mudah²an bab ini bisa jadi pengobat rindu, sarange😘😘😘