KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Bonchap (An Extra Ordinary Wedding)


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Revan sampai di kediaman Darmawan. Dari dalamnya turun berturut Revan, Radix, Naysila dan Katrina. Tak lama di belakang mereka berhenti dua buah kendaraan yang membawa Anya dan Irvin, serta Olivia dan suaminya. Mereka semua ikut mengantar Revan untuk mengantar Revan melamar Silva.


Kedatangan Radix beserta keluarga disambut sukacita oleh Darmawan dan Nita. Sandi dan Risma juga ikut datang menyambut calon besan mereka. Revan menyalami satu per satu dua pasangan tersebut. Mereka kemudian mempersilahkan para tamu untuk masuk. Nita membawa keluarga calon besannya ke halaman belakang. Di sana sudah tergelar karpet tebal untuk alas duduk mereka.


Revan terkejut melihat Abi dan Nina ada di sana. Matanya langsung berkeliling mencari keberadaan sosok sahabatnya, namun batang hidung Kenan tak terlihat. Pria itu menghembuskan nafas panjang, lega rasanya si pemilik mulut kompor mledug tidak ikut dalam pertemuan keluarga ini.


Baru saja sebentar Revan duduk bersama keluarganya. Tiba-tiba dari arah dalam rumah terdengar suara langkah kaki memasuki halaman belakang. Revan hanya menganga melihat pasukan bodrex datang berturut-turut menuju karpet tebal yang didudukinya lalu duduk di sana.


Aric, Naya, Ravin, Freya, Viren, Alisha, Ezra, Dilara, Fathan, Ezra, Barra, Hanna, Haikal dan Vina ikut duduk melingkar di sana. Belum hilang keterkejutan Revan, pria itu kembali dibuat terkesiap dengan kehadiran Kenzie beserta Nara dan pastinya Kenan dengan Zahra. Perasaan pria itu mulai tidak enak.


“Kalian semua ngapain ke sini?” tanya Revan keki.


“Biasa aja, kaga usah ngegas nanyanya,” celetuk Haikal.


“Kita ke sini cuma mau support elo,” sambung Barra.


“Lo itu stok cowok terakhir yang belum laku. Makanya kita ke sini mau mengantar dan menjadi saksi berakhirnya kejombloan elo,” sahut Kenan.


Kening Revan mengernyit, matanya memicing, memandang curiga pada pasukan bodrex yang terlihat begitu mencurigakan. Radix, Darmawan, Abi dan Sandi hanya tertawa mendengar percakapan anak-anak muda itu.


Tanpa menungu lama, Radix segera menyampaikan tujuannya datang untuk melamar Silva. Pria itu tidak tidak hanya meminta ijin pada Sandi dan Nita mempersunting Silva untuk Revan, anaknya. Tapi juga meminta ijin pada Darmawan selaku ayah sambung Silva saat ini.


“Kalau saya menyerahkan semua keputusan pada Silva, karena dia nanti yang akan menjalani biduk rumah tangga,” jawab Sandi setelah Radix selesai dengan mengutarakan niat baiknya.


“Begitu juga saya,” sambung Nita.


“Memang sudah sepatutnya Silva yang menjawab niat baik Revan. Nak, apa jawabanmu?”


Darmawan mengusap lembut puncak kepala anak sambungnya itu yang duduk di antara dirinya juga Nita. Silva menundukkan kepalanya, gadis itu nampak malu-malu. Nita menyentuh tangan sang anak dengan lembut. Silva mengangkat kepalanya kemudian mengangguk pelan. Terlihat senyum kelegaan di wajah Revan melihat anggukan kepala Silva.


“Alhamdulillah Silva sudah setuju. Selanjutnya kita hanya tinggal membicarakan waktu pernikahan saja.”


Perbincangan kembali berlanjut di antara para orang tua. Revan melirik pada pasukan bodrex, tak ada tanda-tanda mereka akan memicu keributan. Semua sibuk mencicipi aneka kue dan camilan yang tersedia di sana.


“Baiklah, kalau begitu pernikahan akan dilangsungkan dua bulan dari sekarang,” ujar Darmawan mengakhiri diskusi panjang mereka dan disetujui oleh yang lainnya.


“Untuk mas kawin sendiri, apa Silva ada permintaan?” tanya Radix.


Silva melihat pada mamanya, Nita hanya tersenyum seraya mengusap puncak kepala anaknya. Dia lalu melihat pada Sandi dan Darmawan, lagi-lagi hanya senyuman yang didapat oleh gadis itu. Orang tuanya menyerahkan masalah mahar pada dirinya.


“Kalau aku terserah kak Revan aja. Sesuai dengan kemampuannya aja, jangan terlalu memberatkan.”


“Ngga bisa gitu, Sil. Kamu itu anak bungsu mama Nita, jadi kamu itu spesial. Karena kamu spesial, makanya mas kawinnya harus yang spesial juga.”


Revan mendelik pada sahabatnya. Kewaspadaan pria itu mulai meningkat begitu mendengar celotehan sang sahabat. Pasti ada maksud terselubung mengapa Kenan melontarkan kalimat seperti itu.


“Abang setuju dengan yang dikatakan Kenan. Kalau minta mas kawin jangan tanggung-tanggung. Contoh, minta dibelikan kapal pesiar,” celetuk Kenzie.


“Ngga kapal pesiar, Yacht juga boleh,” Barra.


“Pulau pribadi juga aja biar kita bisa numpang liburan,” Aric.


“Vila mewah,” Fathan.


“Mobil sport terbaru,” Viren.


“Perhiasan emas satu toko,” Ravin.


“Jet pribadi,” Ezra.


“Helikopter,” Irvin.


“Taj Mahal,” Haikal.


“Hotel beserta pegawai dan tamunya,” Kenan.


Para orang tua hanya bisa terkekeh mendengar usulan yang diberikan anak-anak mereka. Mentari dan Fikri yang ikut hadir di sana juga tak kuasa menahan tawanya. Revan memandang keki pada pasukan bodrex.


“Ck.. kalian ngeremehin gue? Gue jabanin semua permintaan kalian. Gue bakal kasih Silva mas kawin semua yang lo sebutin,” ujar Revan penuh percaya diri.


“Heleh.. ngomong aja ama tembok. Beli seblak aja masih suka ngutang ama gue,” celetuk Irvin yang langsung mendapat pelototan dari Revan.


“Jangan ngeremehin gue, bang. Gue beneran bakal kasih semua yang kalian sebutin tadi.”


“Miniaturnya doang paling,” sahut Kenzie.


“Hahahaha…” Revan tertawa menanggapi jawaban Kenzie yang tepat sasaran.


“Itu juga bayarnya nyicil tiga tahun,” sambung Kenan. Suara tawa kembali terdengar. Silva juga ikutan tertawa, suasana lamaran yang awalnya terasa serius kini mulai berubah arah.


“Udah.. udah.. jangan pusing, Sil. Kamu minta uang aja buat mas kawinnya,” usul Anya.


“Nah bener, cuan lebih berguna. Tapi jangan tanggung-tanggung mintanya,” sambung Azra.


“Betul banget. Udah Sil, minta uang aja. Nanti uangnya bisa kamu pake,” ujar Zahra.


“Pake buat apa kak?” tanya Silva bingung.


“Buat oplas muka si Revan, biar gantengan dikit huahahaha….” Kenan tertawa puas berhasil membuat sahabatnya keki berat.


Abi segera menghentikan perbincangan absurd tersebut, jika tidak, maka pembicaraan tidak akan pernah selesai. Soal mahar diserahkan sepenuhnya pada calon pengantin, para orang tua tidak akan ikut campur. Setelah semua masalah penting selesai dibicarakan, Nita mempersilahkan semua tamunya untuk mencicipi hidangan yang telah disiapkan.


☘️☘️☘️


Dua bulan kemudian

__ADS_1


“Saya terima nikah dan kawinnya Silva Ananda Putri binti Sandi Putra dengan mas kawin tersebut tunai.”


“Bagaimana para saksi?”


“SAH!!”


Teriakan dari para sahabat Revan langsung terdengar ketika pria itu sukses mengucapkan kalimat ijab Kabul dengan lancar, aman dan terkendali.


“Presiden jomblo akhirnya laku juga!” Haikal.


“Tinggal belah duren!” Viren.


“Awas salah coblos!” Kenan.


Revan menulikan telinganya. Matanya hanya tertuju pada pintu yang ada di sisi kanannya, menunggu sang mempelai wanita keluar dari persembunyiannya. Tak berapa lama, sosok yang dinanti muncul juga. Sesampainya di dekat Revan, Silva mendudukkan diri di sisi pria yang telah sah menjadi suaminya.


Tanpa menunggu lama Revan langsung menyematkan cincin pernikahan yang sedari tadi tersimpan di atas meja. Pasangan pengantin itu memasangkan cincin pernikahan secara bergantian. Silva mencium dengan takzim punggung tangan Revan. Dan saat pria itu hendak mencium kening sang istri, terdengar celetukan dari anggota pasukan bodrex.


“Inget cium kening, bukan bibir,” Irvin.


“Jangan pake kuah,” Kenzie.


“Abis makan jengkol lagi,” Aric.


“Hooh.. tar jatohnya najis mugholadoh,” Barra.


“Hahahaha….”


Revan berusaha mengabaikan komentar julid dari pasukan bodrex. Direngkuhnya kedua bahu Silva, kemudian mendaratkan ciuman di kening istrinya itu. Pasangan itu kemudian menandatangani dokumen pernikahan, lalu berfoto seraya memamerkan cincin pernikahan dan buku nikah mereka.


“Itu cincin beli cash apa kredit?” Ravin.


“Nyicil 10 bulan,” Ezra.


“Itu fotonya jangan pake filter, biar kelihatan jeleknya pengantin cowok,” Fathan.


“Sirik aja lo pada!”


Akhirnya keluar juga balasan dari bibir pengantin pria yang gatal karena sedari tadi tak henti menerima komentar yang membuat telinganya merah. Komentar Revan justru memicu tawa yang lain.


“Wes.. Wes.. jangan rebut, biarkan pengantin menerima tausyiah soal hukum pernikahan,” ujar sang penghulu untuk meredakan suasana.


“Direkam aja, pak. Dia mah belet, ngga akan ngerti kalau cuma dibilangin sekali,” Kenan.


“Iya, pak. Otaknya sekarang ngga bisa nampung wejangan yang baik,” celetuk Haikal.


“Kenapa?” tanya sang penghulu yang justru ikutan terbawa arus kesomplakan personil The Myth.


“Bawaannya pengen nyoblos mulu.”


“Hahahaha…”


☘️☘️☘️


Malam harinya pesta resepsi digelar. Kedua pengantin sudah bersiap di pelaminan untuk menerima ucapan selamat dari para tamu undangan. Radix dan Naysila juga sudah di sana untuk mendampingi sang anak. Sedang yang mendampingi Silva adalah Nita dan Darmawan. Sandi dengan legowo sekali lagi menyerahkan kursi di panggung pelaminan pada Darmawan.


Satu per satu tamu undangan menaiki panggung pelaminan dan memberikan ucapan selamat pada pasangan pengantin. Tak jauh dari panggung pelaminan, para wedding singer mulai menyanyikan lagu-lagu bertema cinta untuk menghibur semua yang ada di dalam ballroom.


Tiara bersama Aldi yang diundang pada acara pernikahan juga datang untuk memberikan ucapan selamat. Mantan dari Revan itu tak menyangka, empat bulan setelah pernikahannya, Revan mengakhiri masa lajangnya. Wanita itu bersyukur Revan telah menemukan kebahagiaannya.


“Selamat ya kak Revan, semoga rumah tangga kalian samawa,” ucap Tiara dengan tulus.


“Makasih, Tia.”


“Silva selamat, ya. Semoga kalian cepat diberi momongan,” Tiara melihat pada Silva.


“Aamiin.. makasih, kak.”


Aldi juga mengucapkan selamat setelah sang istri. Keduanya kemudian turun dari panggung pelaminan dan bergabung dengan tamu undangan lainnya. Silva melirik pada suaminya yang matanya tengah menatap serius ke bawah sana. Wanita itu mengikuti arah pandang suaminya, dan ternyata Revan tengah melihat pada panggung hiburan.


“Kenapa kak?” tanya Silva, membuyarkan lamunan Revan.


“Kok perasaan aku ngga enak, ya.”


“Ngga enak gimana?”


“Tuh lihat Anya udah naik ke panggung. Kayanya dia mau nyanyi.”


“Kan suara kak Anya bagus. Pasti lagu yang dinyanyiin keren.”


“Ngga yakin.”


Revan terus memperhatikan Anya yang tengah berbincang dengan band pengiring. Dia melihat gelagat yang aneh dari kakak iparnya itu.


“Selamat malam semua. Selamat datang untuk para undangan sekalian. Silahkan naik ke panggung pelaminan untuk memberikan ucapan selamat pada pengantin baru, jangan lupa untuk mencicipi hidangan yang telah disediakan sambil diiringi lagu persembahan dari saya khusus untuk sang mempelai pria.”


DEG


Dada Revan berdebar kencang mendengar ucapan Anya. Dia semakin yakin kalau Anya akan mempersembahkan sebuah lagu di luar batas kenormalan. Dan kekhawatiran Revan menjadi kenyataan ketika mendengar alunan musik dari lagu yang akan dinyanyikan. Jika biasanya Anya selalu menyanyikan lagu barat, kali ini dia menyanyikan lagu Sunda.


“Lain sakali anjeun teh ngulang ngulang deui. Kasalahan sami mani neungteuli nganyeunyeuri. Tega tegana teu bosen bosen ngumbar ngumbar cinta. Taya puas puas na luka liku ngagulkeun dusta.”


Revan menepuk keningnya pelan. Bisa-bisanya sahabat sekaligus kakak iparnya itu menyanyikan lagu bertema patah hati di pernikahannya. Lagu yang dinyanyikan Anya adalah lagu Buleud yang pernah dipopulerkan Evie Tamala. Lagu itu menceritakan kesedihan seorang wanita yang memiliki pasangan tidak setia dan akhirnya memilih untuk berpisah.


Silva terkikik geli melihat wajah kesal sang suami. Berbeda dengan Revan, dia justru menikmati lagu yang dinyanyikan oleh Anya. Istri dari Irvin itu memang memiliki suara yang merdu, cengkok dan logatnya juga terdengar begitu pas menyanyikan lagu Sunda tersebut.

__ADS_1


Anya terus menyanyikan lirik lagu Buleud, dia sengaja mempersembahkan lagu tersebut untuk mengerjai sang sahabat. Aksi Anya ini tentu saja didukung penuh oleh pasukan bodrex, terutama suaminya. Wanita itu menuruni panggung kemudian berjalan menuju pelaminan. Anya berhenti tepat di depan Revan, kemudian menyanyikan bagian akhir lengkap dengan mimic wajah yang dibuat sesedih mungkin.


“Menit ieu abdi pamit. Narimakeun cinta nu leungit. Ngapungkeun rasa nu pait ka luhur langit. Abdi rela undur diri. Ngubur panghareupan nu suci. Malidkeun rasa kanyeuri neunagkeun ati. Kajeun asa beurat ngalengkah. Kajeun abdi can boga arah.


Abdi buleud buleud buleud lepas ti anjeun.”


Alunan musik berakhir seiring dengan berakhirnya lagu yang dinyanyikan oleh Anya. Tawa Anya langsung pecah melihat wajah keki Revan.


“Kampret.. lo nyanyi kaya gitu disangkanya elo mantan gue yang tersakiti, monyong,” rutuk Revan.


“Kaga ada sopan-sopannya ama kakak ipar,” Anya memukul lengan Revan. Silva hanya mampu terkikik melihat interaksi dua adik dan kakak ipar itu.


“Dosa apa gue punya dua kakak ipar, timbangan otaknya kurang setengah kilo.”


“Hahahaha… lebay lo, pengantin kurap. Noh, si Nan udah nyiapin kado yang lain buat elo.”


“Kado apaan?” wajah Revan terlihat panik.


Anya menunjuk panggung hiburan dengan dagunya. Revan menggaruk kepalanya yang tak gatal begitu melihat Kenan naik ke atas panggung dengan membawanya seorang wanita yang dikenal Revan.


“Ngapain si kompor bawa-bawa ceu Entin ke sini?” tanya Revan. Ceu Entin adalah penjual seblak yang mangkal di depan kompleks perumahan di mana Revan tinggal.


“Dia mau kasih persembahan buat elo, pelanggan setianya,” sambil terkikik Anya turun dari panggung pelaminan.


“Selamat malam semua.. acara hiburan kami lanjutkan kembali. Kali ini perkenankan salah satu penggemar mempelai pria menyumbangkan suara emasnya untuk pasangan pengantin. Revan.. lagu ini spesial dari ceu Entin buat elo.”


Wanita bernama Entin itu bersiap untuk mempedengarkan suara emasnya. Dia menggenggam erat microphone di tangannya. Dan mulai menyanyikan lagu yang akhir-akhir tengah viral di media sosial.


“Hari terus berlalu. Tergilas oleh waktu. Aku yang pernah menyakitimu. Rasanya ingin bertemu.”


Kenzie sampai tersedak mendengar suara Entin yang sungguh tidak enak terdengar di telinga. Kenan tak bisa berhenti terpingkal, begitu pula pasukan bodrex yang lain.


“Buset tuh suara udah kaya kucing kejepit,” celetuk Kenzie.


“Bisa aja PEA. Lo sendiri suaranya kaga lebih enak dari dia,” jawab Aric.


“Sesama pemilik suara sumbang dilarang komen,” Barra.


“Hooh… sendirinya juga kaga bisa nyanyi,” Fathan.


“Polusi suara kalo dia nyanyi,” Ravin.


“Bumi gonjang-ganjing,” Ezra.


“Biar kaga bisa nyanyi seenggaknya muka gue ganteng jadi masih enak dilihat.”


“Narsis,” jawab yang lain.


Kenzie tak mempedulikan komentar para sahabatnya, Dia memilih mengambil makanan, berharap suara Entin akan terserap oleh obrolan para tamu yang tengah mengantri makanan.


Revan menatap tak berkedip pada Entin. Sungguh pria itu tak menyangka wanita yang usianya hanya terpaut tiga tahun darinya bisa dengan percaya dirinya mempedengarkan suara yang bisa menyakiti gendang telinga. Entah bagaimana cara Kenan membujuk wanita itu agar mau bernyanyi di hadapan banyak orang. Lamunan Revan buyar ketika Entin menyanyikan bagian refrain.


“Begitu syuwlit lupakan Revan.. apalagi Revan baaiikkk.. Begitu syusyah cari gantinya, chukup dikenang saja. Oohh Revan… oohh Revan.. kini Revan pergi.. menikah dengan yang lain. Begitu syuwlit lupakan Revan.. apalagi Revan baaiikkk.. Begitu syusyah cari gantinya, chukup dikenang saja.”


Revan jatuh terduduk di atas kursi pelaminan. Tangannya memegangi kepalanya yang mendadak pusing. Silva memegangi perutnya karena tak bisa berhenti tertawa. Pernikahan Revan dengan dirinya benar-benar meninggalkan kenangan yang tidak bisa dilupakan.


☘️☘️☘️


Malam pertama yang ditunggu Revan akhirnya tiba juga. Pria itu sedari tadi sudah mendapatkan banyak wejangan dan juga tips dari para senior dan sahabatnya, dia sudah tidak sabar untuk mempraktekkan apa yang didapatnya tadi.


Revan menghampiri Silva yang duduk di atas ranjang seraya memeluk lututnya. Gadis itu tengah berada dalam kegugupan tingkat tinggi. Seumur hidupnya dia tak pernah berhubungan dengan seorang pria. Dan kini Silva harus berada dalam satu ruangan dengan seorang lelaki. Walau Revan telah sah menjadi suaminya, tetap saja rasa malu dan grogi melanda.


Jantung Silva berdetak semakin cepat ketika Revan semakin mendekat. Suaminya itu merangkak naik ke atas ranjang dan mendudukkan diri di sampingnya. Untuk sesaat suasana menjadi hening. Revan sendiri berusaha mengusir kegugupan yang juga menguasai dirinya.


“Ehem…. Sil..”


“I.. iya, kak.”


“Kita malem pertama yuk.”


“Malem pertama kaya gimana kak?” tanya Silva tanpa berani melihat pada suaminya.


“Kita main.”


“Main apa kak?”


“Main kuda-kudaan.”


“Maksudnya?”


“Susah neranginnya, pokoknya kamu terima beres aja ya.”


Revan mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir Silva. Terkejut dengan yang dilakukan suaminya, Silva hanya terdiam, tak membalas ciuman Revan. Tak menyerah Revan terus memagut bibir Silva, sambil tangannya menggerayangi tubuh gadis yang sebentar lagi akan ditanggalkan status kegadisannya.


Cukup lama Revan mencium dan mencumbu sang istri, sampai akhirnya Silva dapat menikmati apa yang dilakukannya dan membalasnya sedikit demi sedikit. Gadis itu terjengit ketika merasakan sesuatu yang menonjol menusuk pahanya. Revan yang sudah tak bisa menahan hasratnya lagi, membuka semua pakaian yang melekat di tubuhnya.


Sontak Silva langsung menutup wajah dengan kedua tangannya. Pipinya merona melihat suami yang baru menikahinya beberapa jam lalu sudah dalam keadaan polos. Dari sela-sela jarinya dia bisa melihat sesuatu yang tegak tetapi bukan tiang listrik. Silva kembali terkejut ketika Revan mulai membuka pakaiannya. Walau malu, gadis itu pasrah saja saat Revan membuat tubuhnya polos. Tak lama malam pertama yang tadi dicetuskan Revan terealisasi juga. Pria itu bersiap bermain kuda-kudaan dengan sang istri.


☘️☘️☘️


**KPA siap² landing ya.. In Syaa Allah besok adalah final ending bonchap🙏


Yang nanya novel Naik Ranjang, novel itu masih belum up. Setelah KPA benar² berakhir, kisah Dewi Mantili akan menyapa kalian🤗


Happy Weekend**

__ADS_1


__ADS_2