
“Anya..”
Jay terjengit ketika mendengar suara pria di belakangnya memanggil nama Anya. Senyum terbit di wajah Anya melihat lelaki yang ingin dijumpainya, akhirnya muncul juga. Bergegas dia mendekati Irvin yang berdiri tak jauh darinya seraya memeluk lengan pria itu.
“Abang..”
“Ada apa ini?” Irvin melihat ke arah Jay. Saat sampai, tadi dia melihat Jay tengah mengejar kekasihnya.
“Ada dedemit ngikutin aku terus,” mata Anya mengarah pada Jay.
“Ada perlu apa kamu dengan tunangan saya? Apa kamu ngga punya kerjaan lain?” mata Irvin menatap tajam pada Jay.
“Wey.. santai bro. Gue cuma pengen kenal aja, kagum sama suaranya yang merdu. Kali aja dia mau jadi penyanyi di café gue yang baru dibuka,” kilah Jay.
“Dia bukan penyanyi café. Jangan dekati lagi kalau lo ngga mau masuk IGD,” Irvin menepuk sedikit kencang lengan Jay kemudian membawa pergi Anya dari hadapan pria itu. Jay mengusap lengannya yang terasa panas. Sambil menggerutu, dia memilih kembali ke tempatnya.
Irvin terus menggandeng Anya keluar dari area café. Dia ingin mengajak Anya berbicara serius di tempat yang lebih tenang. Pria itu memilih arah balkon yang lebih sepi, lalu mendudukkan diri di kursi santai yang ada di sana.
“Abang kapan pulang dari Bali?” tanya Anya. Sudah seminggu ini dia tak bertemu dengan Irvin, karena pria itu harus ke Bali untuk melihat jalannya syuting film terbaru garapan J&J Entertainment di sana.
“Tadi siang. Maaf ya ngga langsung kabarin kamu. Abang langsung istirahat, cape banget. Sekalian mau kasih surprise juga.”
“Ngga apa-apa. Abang kulitnya jadi eksotis gini. Kelamaan nangkring di pantai ya,” Anya terkikik geli. Kulit Irvin menjadi sedikit gelap karena selama seminggu mengawasi jalannya proses syuting di area pantai dari pagi sampai malam.
“Tapi masih ganteng kan?”
“Narsis.”
Irvin tergelak mendengarnya, diusaknya puncak kepala gadis itu. Tak dapat dipungkiri kalau dirinya begitu merindukan Anya. Kalau saja hubungannya sudah halal, mungkin dia berani melakukan lebih dari ini. Sejenak diperhatikan penampilan Anya, kekasihnya itu terlihat agak kurusan.
“Kamu baik-baik aja, Nya?”
“Iya, bang. Kenapa?”
“Kamu kurusan. Pasti kamu kurang tidur ya,” Irvin mengusap pipi Anya dengan punggung tangannya.
“Ya gitu deh, bang. Padahal aku udah pindah ke kamar tamu, tetap aja digangguin. Makanya aku pindah lagi ke kamarku. Untungnya bang Aric udah pulang bulan madu, jadi aku ada temennya di lantai dua. Udah beberapa hari ini bang Aric nemenin aku di kamar sampai aku tidur.”
Irvin meraih tangan Anya. Didenggamnya jemari lentik itu seraya menatap dalam ke arah netranya. Anya balas menatap mata Irvin, pria yang begitu dirindukannya akhir-akhir ini.
“Nya.. nikah yuk. Selain untuk menyempurnakan ibadah kita, kamu juga bisa terbebas dari makhluk astral yang sering deketin kamu.”
“Tapi bang..”
“Setelah pernikahan kita, kamu bisa tetap melanjutkan kuliahmu. Abang juga ngga akan membatasi ruang gerakmu. Kamu bisa terus ikutan manggung sama The Myth. Abang juga ngga akan menuntut hak dengan cepat, sesiapmu aja. Kita bisa pacaran sambil mengenal lebih dalam satu sama lain. Lebih enak pacaran setelah nikah kan?”
“Abang serius? Beneran mau nikah sama aku? Aku belum bisa jadi istri yang baik. Aku juga belum bisa masak, kalau bikin kue sih bisa.”
“Abang juga belum sepenuhnya paham bagaimana menjadi suami yang baik. Kita bisa belajar bersama-sama. Kita bisa belajar dengan melihat rumah tangga orang tua kita. Abang percaya, kita berdua bisa membina rumah tangga dengan baik. Kalau kamu setuju, abang akan melamarmu secara resmi secepatnya.”
“Iya, bang. Aku setuju.”
Irvin merengkuh Anya dalam pelukannya. Akhirnya dia bisa membujuk gadis itu menikah secepatnya. Pria itu tak tega melihat Anya yang harus berjibaku dengan rasa takutnya setiap waktu. Semoga saja setelah pernikahan mereka, Anya benar-benar terlepas dari kejaran para makhluk astral tersebut. Ingin rasanya dia melakukan lebih dari pelukan, namun sadar dirinya belum punya hak untuk itu.
Sementara itu, suasana di café semakin meriah saat MC mengisi acara dengan permainan. Hadiah yang ditawarkan juga lumayan banyak, ada souvenir, voucher makan gratis di Krishna café, Amarta restoran dan juga voucher menginap gratis di Yudhistira hotel. Tentu saja pengunjung yang datang bersemangat untuk mengikuti game, termasuk Dila dan Sisil.
Kenan yang masih berkumpul dengan para sahabatnya langsung berdiri begitu melihat seorang gadis cantik memasuki area café. Zahra yang baru bisa datang setelah menyelesaikan shiftnya segera menghampiri. Namun langkahnya terhenti ketika melihat ternyata Sandi beserta keluarga juga ikut datang ke café ini, termasuk Jay.
“Kenapa ngga bilang? Kan bisa aku jemput,” ucapan Kenan mengalihkan pandangan Zahra dari sang ayah yang sedang berbincang dengan Jay.
“Ngga apa-apa, takutnya kamu lagi manggung. Ke tempat yang lain yuk, jangan di sini.”
“Kenapa?”
“Itu kenapa si Jaylangkung ada di sini juga? Papa juga ada di sini, bikin mood ambyar aja,” wajah Zahra terlihat kesal.
“Jay kan supplier di hotel ini, jadi wajar kalau diundang. Mungkin dia dapet undangan tambahan, makanya ngajak keluarga papamu.”
“Ck.. ngga peduli aku. Ayo ah, jauhan dari sini, males aku.”
Baru saja Zahra dan Kenan hendak beranjak, ternyata Sandi telah lebih dulu melihat keberadaan mereka.
“Zahra!”
Zahra berusaha mengabaikan panggilan sang ayah. Namun karena pria itu terus memanggil dengan suara yang sedikit kencang, mau tak mau gadis itu menghampiri. Kenan juga ikut bersamanya. Saat melintasi meja sang kakak, pemuda itu mengedipkan mata ke arah Kenzie.
“Sini.. duduk di sini,” Sandi menunjuk kursi yang kosong di samping Jay.
“Ngga pa. Aku mau sama Nan aja.”
“Jangan ganggu dia. Dia di sini itu kerja, bukan sebagai tamu undangan. Kalau sampai dia kena tegur, kasihan kalau tidak dapat bayaran,” nada suara Sandi penuh dengan ejekan. Kenan menanggapinya dengan senyuman saja. Berbeda dengan Kenzie yang terlihat dongkol.
“Bagaimana kalau kamu kerja di tempatku? Lumayan buat nambah-nambah uang saku. Kerjanya juga ngga susah, cuma ngangkutin kebutuhan hotel kaya beras, sayuran, daging, ya kaya gitu deh,” tawar Jay dengan pandangan meremehkan.
“Gajinya gede ngga?” tanya Kenan.
“Kerja belum udah nanya soal gaji aja.”
“Oh jelas dong. Kita harus tahu berapa tenaga kita dibayar. Jangan sampai tenaga yang dikeluarkan ngga sesuai dengan tenaga yang dikeluarkan. Kalau bayarannya lebih dari hasil ngamen di café bolehlah,” tantang Kenan.
“Emang berapa bayaran lo?”
“Sekali manggung kita dibayar 5 juta.”
__ADS_1
“Tapi kan bagi empat sama personil lainnya.”
“Kalau sebulan gue dapet tawaran ngamen 10 kali, gede kan penghasilan gue. Lo sanggup emang bayar gue segitu? Palingan juga upahnya di bawah UMK,” balas Kenan yang tak bisa dibantah oleh Jay.
“Tapi ngga tiap bulan kamu dapat tawaran ngamen segitu banyak,” sela Sandi, mencoba untuk membela Jay.
“Penghasilanmu itu ngga tetap. Sebulan dapet gede, bulan berikutnya gigit jari, sama juga bohong,” lanjut Sandi.
“Yang penting itu tetap berpenghasilan, bukan penghasilan tetap. Penghasilan tetap hanya bisa didapatkan dari gaji bulanan dengan nominal yang itu-itu aja. Tapi kalau tetap berpenghasilan, artinya kita bisa dapat uang bukan hanya dari gaji tetap tapi dari arah yang lain. Dan saya memegang prinsip itu.”
“Kamu itu cuma pintar ngomong. Belum tentu bisa merealisasikannya. Saya tidak mau ambil resiko anak saya hidup susah nantinya.”
“Papa ngga usah khawatir, selama 13 tahun ini aku sudah terbiasa hidup susah. Terima kasih untuk papa yang sudah mengajarkanku bagaimana caranya bersyukur dengan apa yang kupunya dan bertahan hidup di saat kesulitan menghimpit. Soal bagaimana hidupku dengan Nan nanti, biar itu menjadi urusan kami. Papa tidak usah sok peduli, toh selama ini juga papa tidak pernah peduli.”
Setelah berhasil melontarkan kalimat yang sukses membuat ayahnya bungkam, Zahra menarik tangan Kenan menjauhi meja mereka. Kenzie mengulum senyum mendengar jawaban Zahra. Dia kagum dengan pola pikir Zahra dan sikap gadis itu yang tidak mudah ditindas. Harus diakui, Zahra sudah pantas menjadi bagian keluarga Hikmat. Seorang wanita yang kuat dan tidak mudah ditindas.
Zahra melepaskan pegangannya di tangan Kenan setelah berada jauh dari meja Sandi. Wajahnya yang semula sumringah, kini sudah seperti kertas lipat. Kenan hanya terkekeh melihat wajah kekasihnya yang begitu kusut. Diraihnya tangan Zahra kemudian dikecupnya lembut punggung tangannya.
“Jangan manyun gitu dong.”
“Bete aku sama papa.”
“Ngga usah dipikirin.”
“Gimana ngga aku pikirin. Tiba-tiba aja papa datang, berakting seolah orang tua yang peduli pada anaknya. Lalu menjodohkanku dengan Jay. Aku yakin dia punya tujuan lain menjodohkanku dengan si Jaylangkung itu.”
Kenan tak bisa menahan tawanya mendengar julukan Zahra untuk Jay. Sepertinya gadis itu sudah tertular mulut bocornya yang suka seenaknya memberi julukan untuk orang lain. Dibawanya Zahra duduk di salah satu kursi yang ada di sana.
“Ngga usah dipikirin. Masalah Jaylangkung biar aku yang urus. Aku bakal buka mata papa kamu, kalau aku jauh lebih baik milyaran kali dari si Jayus.”
“Nan..”
“Hmm..”
“Kita nikah aja, yuk. Biar papa ngga ganggu hubungan kita lagi.”
“Hah??”
Mata Kenan mengerjap, jarinya refleks mengorek telinganya. Mungkin saja tadi dia salah mendengar. Zahra menatap dalam netra Kenan. Hatinya sudah benar-benar mantap menjatuhkan pilihan pada pemuda di depannya.
“Aku serius, Nan. Nanti biar aku tanya sama mama, siapa lagi yang bisa nikahin aku selain papa.”
“Za..”
“Aku ingin lepas dari pria itu. Aku membencinya Nan, sangat membecinya.”
Kenan merapatkan tubuhnya kemudian menarik Zahra ke dalam pelukannya. Lagi, gadis itu menangis karena sikap ayahnya. Untuk beberapa saat Kenan membiarkan Zahra menangis, kemudian mengurai pelukannya seraya menghapus buliran bening di wajah gadis itu.
“Pernikahan bukan jalan keluarnya, Za. Yang harus kita lakukan itu mengubah cara berpikir ayahmu. Selama ini ayahmu selalu menganggap apa yang dilakukannya itu benar, termasuk meninggalkan ibumu, kamu dan Silva. Papamu harus disadarkan dari kesalahannya.”
“Beri aku waktu sedikit lagi. Kalau dia tidak berubah juga, kita akan menikah.”
“Secepatnya, aku ngga mau si Jaylangkung ganggu hidupku. Tadi siang dia berani dateng ke rumah sakit cari aku. Dia bilang sama rekanku di IGD kalau dia calon suamiku, nyebelin banget.”
“Wah cari mati tuh orang. Tenang aja, aku bakal kasih pelajaran tuh kunyuk satu. Seenaknya ngaku-ngaku jadi calon suami kamu. Ngga tau apa kalau kamu udah punya stempel dariku.”
“Mana stempelnya?”
“Ini.”
Kenan menaikkan jari telunjuk dan tengahnya, menaruh ke bibirnya, kemudian menempelkannya ke bibir Zahra. Wajah gadis itu seketika memerah. Kenan merangkum wajah Zahra dengan kedua tangannya.
“Kalau udah ada kata sah dari penghulu baru aku kasih stempel dari bibir seksiku,” Kenan mengedipkan matanya.
“Ish..” Zahra memukul lengan Kenan pelan seraya tersenyum.
“Nah gitu dong, senyum. Jangan biarkan papa, Jaylangkung atau siapa pun melenyapkan senyuman di wajahmu. Ada atau tidak ada mereka dalam hidupmu, kamu harus tetap bahagia. Kehadiran satu atau dua hama, jangan sampai merusak kehidupanmu. Lihat aja sekeliling, masih banyak orang yang sayang sama kamu dan bisa membuatmu tersenyum bahagia.”
“Makasih, Nan. Tumben bijak,” ledek Zahra.
“Ini mode ustadznya lagi on.”
Tangan Kenan refleks mencubit pipi Zahra ketika senyum gadis itu terbit. Kembali direngkuhnya Zahra ke dalam pelukannya. Otaknya berputar keras bagaimana cara merubah cara pandang Sandi akan dirinya juga Zahra. Sepertinya dia akan meminta pendapat kakak dan juga papanya.
☘️☘️☘️
Usai menghadiri pembukaan Krishna café, Irvin mengantar Anya ke rumah. Dia juga sengaja bertemu dengan Cakra dan Sekar membicarakan tentang rencana pernikahannya dengan Anya. Aric menyambut baik usulan Irvin, dia tak tega melihat adiknya terus menerus mengalami gangguan dari makhluk halus.
Cakra pada dasarnya setuju, hanya saja dia meminta Irvin melamar Anya dua minggu lagi. Jujur saja, pria itu masih belum rela melepas putrinya yang masih muda untuk mengakhiri masa lajangnya. Rencananya setelah acara lamaran, Irvin juga tidak akan berlama-lama untuk segera melangsungkan pernikahan.
Walau sedikit kecewa, namun akhirnya Irvin menyetujui usulan Cakra. Tadinya dia berencana melamar Anya secara resmi hari Minggu besok. Namun pria itu juga memaklumi keputusan yang diambil oleh calon mertuanya itu. Karena hari sudah semakin malam, Irvin pun pamit pulang.
Sepulangnya Irvin, Cakra, Sekar dan Aric masih bertahan di ruang tengah. Aric masih belum setuju dengan keputusan papinya yang menunda lamaran Irvin sampai dua minggu ke belakang, karena menurutnya kondisi Anya saat ini sudah sangat mendesak. Walau tak pernah memperlihatkan secara langsung, namun Aric tahu ketakutan yang dirasakan adiknya itu semakin lama semakin besar seiring dengan kian banyaknya gangguan yang menghantui dirinya.
“Pi.. harusnya papi ngga usah nunda lagi lamaran Irvin. Kondisi Anya makin drop aja.”
“Keputusan papi sudah bulat. Dua minggu itu tidak lama. Tidurlah, Naya sudah menunggumu.”
Cakra bangun dari duduknya kemudian melangkahkan kaki menuju kamarnya. Sekar menepuk pundak Aric, kemudian menyusul suaminya. Terdengar helaan nafas panjang Aric, bukannya tak memahami apa yang papinya rasakan, tapi kondisi sang adik juga tidak cukup baik. Dia hanya takut gangguan makhluk halus itu berpengaruh pada kondisi fisik Anya.
Dengan gerakan pelan, Sekar menutup pintu kamar. Dilihatnya sang suami tengah duduk termenung di sisi ranjang. Wanita itu mendekat lalu memeluk pria di hadapannya. Cakra melingkarkan tangannya di pinggang Sekar dan menyandakan kepalanya di perut sang istri.
“Aric benar, bang. Anya harus segera menikah dengan Irvin, demi kebaikannya. Lagi pula setelah menikah Anya tetap tinggal di sini. Kita tetap bisa mengawasi Anya. Apalagi yang abang khawatirkan?”
__ADS_1
“Abang tahu. Biar Anya tetap tinggal bersama kita, tapi tanggung jawab abang sudah berpindah sepenuhnya ke pundak Irvin. Abang belum siap untuk itu.”
“Tidak ada ayah yang siap melepas putrinya ke tangan pria lain. Cepat atau lambat, abang akan melepas Anya. Walaupun dia sudah menjadi istri seseorang, tapi dia akan tetap menjadi putri abang.”
Tak ada jawaban Cakra, pria itu masih bertahan dengan posisinya, menikmati pelukan hangat sang istri. Tangan Sekar bergerak mengusap lembut puncak kepala pria yang sudah dua puluh tahun lebih menenaminya.
Sementara itu di lantai atas, Aric masuk ke dalam kamar sang adik. Anya baru saja selesai membersihkan diri dan bersiap untuk tidur. Aric naik ke atas ranjang kemudian mendudukkan diri di sana sambil bersandar ke headboard. Anya membaringkan diri di samping sang kakak.
“Bang Irvin udah pulang?”
“Udah.”
“Apa kata papi, bang?”
“Dua minggu lagi Irvin ngelamar kamu secara resmi.”
Anya terdiam sejenak, antara siap dan tak siap mendengar keputusan papinya. Gadis itu merubah posisi tidurnya menjadi miring kemudian memeluk pinggang sang kakak. Aric mengusap puncak kepala adiknya itu.
“Kalau aku nikah, aku masih boleh manja-manjaan sama abang ngga?”
“Boleh, asal Irvinnya ngga cemburu,” Aric terkekeh.
“Ish.. masa sama abang cemburu.”
“Laki-laki kalau udah bucin, kadang cemburunya ngga lihat siapa orangnya.”
“Kalau abang cemburu ngga sama bang Barra?”
“Ngga.”
“Berarti abang ngga bucin sama kak Naya?”
“Ngga cemburu sama Barra, bukannya abang ngga bucin. Tapi karena abang udah kenal dan dekat sama Barra dari kecil. Jadi ngga aneh lihat Naya dekat dengan Barra. Beda sama Irvin, dia kan ngga terlalu dekat dengan kamu atau abang, bisa aja dia cemburu lihat kedekatan kita.”
“Tapi bang Ken suka cemburu lihat kak Nara dekat sama Nan.”
“Dia mah kelainan,” Aric terkekeh sendiri.
“Kirain abang ngga bucin sama kak Naya.”
“Ssssttt.. udah jangan bahas soal bucin lagi. Nanti kalau kakak ipar kamu dengar, bahaya.”
“Kenapa bang? Takut ngga dikasih jatah malam ya,” Anya terkikik geli.
“Iya, nanti kamu ketunda punya ponakannya.”
Kali ini giliran Aric yang tergelak. Anya mengeratkan pelukannya kemudian memejamkan matanya. Matanya memang sudah memberat dan beberapa kali gadis itu menguap. Aric terus mengusap puncak kepala sang adik agar cepat tertidur. Dan tak butuh waktu lama, Anya sudah terlelap.
Perlahan Aric melepaskan pelukan Anya di pinggangnya. Dengan gerakan pelan, pria itu turun dari ranjang. Diselimutinya tubuh Anya hingga sebatas dada. Sebelum keluar kamar, Aric mencium kening adiknya lebih dulu. Tanpa menimbulkan suara kencang, Aric menutup pintu kamar Anya kemudian masuk ke kamarnya.
Naya menaruh ponselnya melihat suaminya sudah masuk ke dalam kamar. Sejak pulang bulan madu, setiap malam Aric memilih menemani Anya dulu di kamarnya sampai tertidur baru masuk ke kamar. Naya sendiri tak mempermasalahkan hal tersebut, karena Aric menemani adik kandungnya sendiri, bukan perempuan lain.
“Belum tidur?” Aric mencium bibir Naya sekilas.
“Nungguin abang.”
“Mau kasih jatah malem ya?”
“Ish.. maunya abang itu.”
“Emang kamu ngga mau? Lagian udah dua hari abang ngga ambil jatah.”
Tangan Aric bergerak menurunkan tali lingerie yang dikenakan Naya, kemudian bibirnya mulai memberikan kecupan-kecupan kecil di sana. Wanita itu mendongakkan kepalanya, memberikan ruang untuk sang suami mengalihkan ciuman ke leher jenjangnya. Sebuah des*han lolos dari bibirnya ketika bulatan kenyalnya terasa diremat oleh Aric.
Perlahan Aric membaringkan tubuh Naya sambil tak henti mendaratkan ciuman di wajah dan lehernya. Pelan namun pasti, lingerie di tubuh wanita itu sudah lolos dari dan berpindah tempat ke lantai. Aric semakin gencar memberikan cumbuannya, membuat Naya mulai tak enak diam. Suara des*han terus keluar dari bibirnya dan membuat Aric semakin bersemangat.
Aric melepaskan kaos dan celana yang membalut tubuhnya lalu membuangnya asal. Dia kembali merapatkan tubuhnya lalu mencium bibir Naya, mel*mat dalam seraya memasukkan lidahnya. Sebentar lagi pria itu siap untuk memanjakan ular kobranya, bermain di sarang favoritnya.
☘️☘️☘️
Sambil sesekali melihat ke arah belakangnya, Anya terus berlari, menjauhi sesuatu yang mengejarnya. Beberapa kali kakinya tersandung bebatuan yang bertebaran di jalan yang dilaluinya. Tanpa mempedulikan rasa sakit yang mendera, gadis itu terus berlari sampai akhirnya dia tak sanggup dan berhenti.
Tubuh Anya bersandar di sebuah pohon besar. Dadanya naik turun seiring dengan ritme jantungnya yang tak beraturan dan deru nafasnya yang memburu. Matanya memandang sekeliling, sesuatu yang mengejarnya sudah tak terlihat. Namun ketakutan masih belum hilang darinya saat menyadari kalau kini dia terjebak di dalam hutan yang dipenuhi pepohonan lebat.
“Anya..”
Gadis itu menolehkan kepalanya. Dia terkejut melihat sesosok tinggi besar berdiri di hadapannya. Tubuh sosok tersebut lima kali lebih besar dari dirinya. Sekujur tubuhnya berwarna merah menyala, dan yang paling mengerikan, mata besarnya yang terletak di dahinya. Makhluk itu hanya memiliki satu mata, namun sorotan matanya begitu mengerikan. Secepat kilat sosok itu mencengkeram lengan Anya.
“PAPI!!!!”
Anya terlonjak dari tidurnya. Mulutnya terus saja berteriak memanggil sang papi. Aric yang mendengar teriakan sang adik, terbangun kemudian secepat kilat menuju kamar Anya. Saat yang bersamaan, Cakra juga datang. Pria itu langsung membuka pintu kamar. Segera dihampirinya Anya yang tengah menangis histeris.
“Papi…”
Cakra memeluk tubuh Anya yang bergetar hebat. Piyama yang dikenakannya juga telah basah oleh keringat. Anak gadisnya itu terus menangis dalam pelukannya.
“Ini papi, sayang..”
“Anya takut, pi..” ujar Anya di sela-sela tangisnya.
“Tenang sayang, ada papi di sini.”
“Aku takut pi…”
__ADS_1
☘️☘️☘️
S**eperti biasa, besok libur😎**