KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Suprised Nara


__ADS_3

“Nara..”


“Selamat pagi pak Kenzie Nagendra Hikmat. Perkenalkan, nama saya Naraya Ofelia. Saya akan menjadi sekretaris bapak selama tiga bulan ke depan. Mohon bimbingannya pak.”


“Kamu ngapain di sini?”


“Ya ampun masa bapak ngga denger yang saya bilang tadi. Ngga mungkin kan wakil CEO Metro East kurang pendengaran. Masa ganteng-ganteng budeg,” Nara mengecilkan suaranya saat mengucapkan kalimat terakhir.


Sebisa mungkin Fathan menahan tawanya yang hendak meledak. Sepertinya mulai sekarang suasana kantor tidak akan sama lagi. Kehadiran Nara akan menambah semarak lantai 17 ini. Dan pastinya dia akan menikmati hiburan gratis dari Nara dan Kenzie.


“Saya denger ya.”


“Nah kan berarti pak Kenzie yang terhormat denger perkenalan saya tadi.”


“Maksud saya kenapa kamu yang jadi sekretaris saya?”


“Emang ada yang salah pak? Saya normal kok, bisa melihat, bisa mendengar, bisa berbicara, bisa menulis, bisa mengetik, bisa...”


“Bisa diem ngga?” sambar Kenzie.


Nara langsung mengatupkan mulutnya. Kemudian dia berjalan mendekat ke meja atasannya ketika Kenzie memberi isyarat untuk mendekat. Kenzie memandangi Nara dari atas sampai bawah. Blazer yang ukurannya lebih besar dari badannya dan celana kulot membalut tubuh Nara yang langsing. Tak ada yang salah dengan pakaian yang dikenakannya, karena Kenzie memang tak menyukai wanita berpakaian seksi. Tapi yang menarik perhatiannya adalah kacamata yang menghiasi wajah Nara.


“Sejak kapan kamu pake kacamata?”


“Sejak hari ini pak. Ini cuma aksesoris aja. Saya ingin lebih menghayati peran saya sebagai sekretaris kaya di telenovela Betty Lafea itu loh pak. Pasti bapak ngga tau, soalnya telenovela itu jadul banget. Mama saya aja belum lahir pas tayang di tv. Pasti bapak bingungkan kenapa saya bisa tahu. Karena saya...”


“Kurang kerjaan. Udah sana balik ke meja kamu. Tanya ke Fathan tugas apa yang harus kamu kerjakan.”


“Siap bosqu,” Nara menaruh tangannya di atas pelipis seperti tengah menghormat bendera kemudian keluar dari ruangan bersama Fathan.


Kenzie menyandarkan punggungnya ke kursi kebesarannya, sedang tangannya memijat pelipisnya yang mendadak terasa pening. Mimpi apa dia semalam mendapatkan sekretaris pengganti model ember bocor.


Sementara itu di luar ruangan, Fathan tengah menerangkan pada Nara apa saja yang harus dikerjakannya. Pria itu juga memberikan jadwal Kenzie selama seminggu ke depan. Gadis itu harus menyusun jadwal dan mengingatkan atasannya kapan pertemuan akan dilakukan. Karena minggu ini jadwal Kenzie cukup padat.


Setelah menerangkan job desk Nara, Fathan kembali ke ruangannya. Dengan cepat Nara mengerjakan semua yang diperintahkan Fathan. Menyusun jadwal Kenzie bukanlah hal sulit, dia sering membantu menyusun jadwal sang papa. Bukan itu saja, Nara juga sering membantu membuat laporan pekerjaan. Gadis itu sebenarnya cekatan dalam bekerja. Alasannya tidak mau bekerja di perusahaan sang papa karena tidak mau terus dibandingkan dengan Naya.


TING


Pintu lift terbuka, dari dalamnya keluar Chika. Sebelum menuju ruangan Kenzie, gadis itu merapihkan dulu rambut dan poninya. Setelah dirasa pas, dia melangkah menuju ruangan pujaan hatinya. Saat dirinya hampir mencapai pintu, dengan cepat Nara menghalangi.


“Mohon maaf, apa mba sudah buat janji dengan pak Kenzie?”


“Siapa lo?”


“Perkenalkan, saya Naraya, sekretaris barunya pak Kenzie. Apa mba sudah buat janji?”


Chika mendekat ke arah Nara, sepertinya dia tak asing dengan gadis di depannya. Chika mencondongkan tubuhnya ke arah Nara sampai Nara harus memundurkan tubuhnya. Chika kembali menegakkan tubuhnya, dia nampak berpikir sejenak. Tak lama gadis itu menjentikkan jarinya.


“Oh gue inget, elo Nara kan kembarannya Naya.”


Nara memutar bola matanya malas, lagi-lagi nama Naya selalu menyertai namanya. Gadis itu menyilangkan kedua tangannya di dada. Dia tahu kalau Chika adalah fans berat Kenzie. Dan soal Chika masuk dalam daftar pekerjaannya. Fathan mewanti-wanti Nara untuk tidak meloloskan gadis itu masuk seenaknya ke ruangan Kenzie.


“Sudah ada janji belum?”


“Gue ngga perlu janji buat ketemu Kenzie. Gue itu calon istrinya.”


“Hahahaha... calon istri dari Hongkong.”


“Eh lo tuh nyebelin banget. Minggir ngga.”


Bukannya menyingkir Nara malah berdiri tegak di depan pintu ruangan. Kemudian dia menundukkan kepalanya, gadis itu bergeming untuk beberapa saat. Chika yang penasaran menundukkan kepala seraya memiringkannya, mencoba melihat apa yang terjadi pada Nara. Namun kemudian Nara mengangkat kepalanya secara tiba-tiba sambil berteriak kencang.


“HEY YAYA.. HEY YAYA.. HEY.. HEY.. HEY YAYA... HEY YAYA.. HEY.. HEY..”


“Astaga!”


Kedua tangan Nara terangkat kemudian menghentak-hentak mengikuti irama lagu yang dinyanyikan. Kepalanya bergerak ke depan, kanan dan kiri, rambutnya yang tergerai menjadi sedikit berantakan. Chika yang terkejut melihat tingkah Nara bergegas pergi. Fathan yang mendengar keributan bertanya pada Chika yang tengah berlari.


“Chik.. kenapa?” tanya Fathan bingung.


“Sekretaris barunya Kenzie kesurupan. Nih kantor ada setannya kayanya.”


Chika buru-buru masuk ke dalam lift. Gadis itu menyender ke dinding lift sambil memegangi dadanya yang berdebar kencang. Bukan hanya suara keras Nara yang mengejutkannya. Tapi mata Nara yang melotot serta rambutnya yang tergerai mengingatkan Chika akan hantu sundel bolong yang sempat fenomenal beberapa dekade silam.


Nara merapihkan rambutnya yang berantakan lalu kembali ke balik mejanya. Gadis itu melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. Fathan yang penasaran, segera melihat rekaman cctv yang ada di koridor menuju ruangan Kenzie. Tawanya pecah melihat tingkah Nara. Dia kemudian mengirimkan rekaman tersebut pada Kenzie.


Perhatian Kenzie pada laptop teralihkan ketika mendengar notifikasi pesan di ponselnya. Diambilnya benda pipih tersebut kemudian membuka video yang dikirimkan oleh Fathan. Awalnya Kenzie memperhatikan dengan serius, lalu


“Hahahaha...”


Tawanya meledak melihat bagaimana cara Nara mengusir Chika. Sepertinya menjadikan gadis bar-bar itu sebagai sekretarisnya adalah keputusan yang tepat. Untuk menghadapi Chika, Nara mempunyai kemampuan di atas Yoga. Untuk beberapa saat pria itu masih tertawa. Jarang-jarang ada orang yang bisa membuat naga kutub tertawa begitu lepas. Salah satunya adalah makhluk bernama Nara.


☘️☘️☘️


Suasana EDR sudah ramai didatangi para pegawai yang hendak makan siang. Salah satu di antara mereka adalah Nara. Gadis itu mengantri di belakang pegawai lain yang telah lebih dulu datang. Setelah mendapatkan makanan dan minuman, Nara berjalan sambil membawa nampan di tangannya lalu mendudukkan diri di salah satu meja yang masih terdapat kursi kosong.


Ini adalah hari pertama Nara bekerja dan belum ada pegawai yang dikenalnya kecuali Fathan dan Vega. Fathan seperti biasa makan siang di ruangan Kenzie, sedang Vega tidak kelihatan batang hidungnya. Gadis itu akhirnya menikmati makan siangnya seorang diri. Di sebelah dan di depannya duduk pegawai wanita lain yang entah berasal dari divisi mana.


Sambil makan, mereka membicarakan banyak hal. Mulai dari pekerjaan, sang wakil CEO yang tampan namun menyeramkan dan terakhir soal Aric. Direktur perencanaan Maeswara Dunia itu ternyata cukup populer di kalangan pegawai wanita. Selain wajah tampannya, sikap Aric yang ramah juga menjadi daya tarik tersendiri. Nara membuka telinganya lebar-lebar. Dia penasaran ingin tahu tentang pria yang akan menjadi kakak iparnya.


“Bentar lagi pak Aric dilabel ya.”


“Siapa sih calonnya?”


“Itu anak kembarnya pak Jovan, direktur J&J Entertainment.”


“Oh iya gue tahu. Tapi yang mana? Naya apa Nara?”


“Ya pasti Naya lah. Ngga mungkin sama Nara. Gue heran deh, mereka tuh kembar tapi kok beda kelas banget.”


“Masa?”


“Nih kalau ngga percaya.”


Pegawai wanita yang paling ceriwis itu mengambil ponselnya. Dia lalu membuka aplikasi IG di ponselnya. Jarinya mengetik nama Nayara Sheila. Muncullah deretan foto-foto cantik Naya. Gadis itu memang rajin memposting foto dirinya. Pegawai wanita itu lalu memperlihatkan foto Naya pada teman-temannya.



“Emang cantik sih, cocoklah sama pak Aric.”


“Kalau Nara?”


Wanita tadi kembali menggerakkan jarinya, kali ini dia mengetik Naraya Ofelia di laman pencarian. Lalu muncul deretan foto-foto Nara. Tak banyak yang gadis ini posting ke laman IG nya. Terakhir kali Nara memposting foto dirinya sekitar tiga bulan yang lalu. Teman wanita itu melihat foto Nara yang terpampang.



“Beda banget kan?” tanya wanita itu.


“Iya beda. Cantikkan Naya, pantes kalau pak Aric kesengsemnya sama Naya. Kalau Nara mah aneh kalau kubilang.”

__ADS_1


Nara tersenyum getir mendengar komentar para pegawai wanita tersebut. Tadinya dia berpikir dengan bekerja di luar kantor sang papa bisa menghindari orang-orang yang membandingkannya dengan Naya, tapi nyatanya hal itu tetap terjadi. Gadis itu mengakhiri makanannya, selera makannya tiba-tiba hilang begitu saja. Dengan cepat dia meninggalkan EDR.


☘️☘️☘️


TOK


TOK


TOK


Terdengar suara ketukan pintu disusul oleh pintu yang terbuka. Barra masuk ke kamar salah satu adik kembarnya. Pria itu langsung mendudukkan diri di samping sang adik yang tengah duduk menyender di atas kasur. Nara sendiri tak terusik dengan kedatangan kakak laki-lakinya, jari-jarinya masih bergerak lincah bermain di atas keyboard laptop. Sekilas Barra melirik apa yang dilkukan adiknya itu.


“Masih sibuk aja, Ra. Emang kerjaan kamu banyak banget ya sampai harus dibawa ke rumah.”


“Hmm.. lumayan kak. Ini kerjaan yang belum sempet aku beresin di kantor. Soalnya aku harus dampingin bang Ken ketemu klien terus.”


“Gimana rasanya kerja bareng Ken?”


“Harusnya ya ditanya? Kak Barra pasti udah tahu jawabannya. Aku salut loh sama bang Fathan yang kuat ngadepin tuh naga kutub.”


“Hahahaha...”


Barra menanggapi ucapan sang adik dengan tawa lepas. Bersahabat sejak kecil dengan Kenzie membuat pria itu paham bagaimana sepak terjang Kenzie. Tapi di luar sikap dingin dan mulutnya yang kerap mengeluarkan kata-kata pedas, Kenzie adalah tipe sahabat setia. Dia sebenarnya berhati hangat, tapi sikap hangatnya itu hanya ditunjukkan pada keluarga dan orang terdekatnya saja.


Terdengar hembusan nafas lega ketika Nara telah menyelesaikan pekerjaannya. Setelah menyimpan hasil pekerjaannya, dia mematikan laptop lalu menaruhnya di atas meja. Kemudian dia kembali ke tempatnya semula. Kepalanya disandarkan ke bahu sang kakak. Hanya kepada Barra, gadis itu kerap bersikap manja.


“Kak..”


“Apa?”


“Minta uang dong. Uangku menipis nih.”


“Masa?”


“Iya. Kan kakak tau ATM sama kartu kreditku disita sama papa. Kartuku bakal dibalikin kalau aku udah bisa melewati masa tiga bulan kerja di kantor om Abi. Aku ngga punya uang nih. Minta dong.”


“Beneran kamu ngga punya uang?”


“Iya, masa kakak ngga percaya sih.”


Nara beranjak dari tempatnya lalu menyambar tas yang tergeletak di atas meja. Dari dalamnya dia mengeluarkan dompet miliknya. Nara membuka dompet lalu memperlihatkan isi di dalamnya. Hanya ada satu lembar lima puluh ribuan, satu lembar dua puluh ribuan dan tiga lembar sepuluh ribuan. Total uang yang dimilikinya seratus ribu rupiah.


“Tuh..”


“Masih ada itu.”


“Buat beli bensin besok sama batagor juga habis kak. Ayo dong, aku pinjem deh. Nanti kalau udah gajian, aku ganti.”


“Kakak ngga pegang uang cash,” elak Barra. Padahal dia sudah diwanti-wanti oleh Jojo untuk tidak memberikan uang pada Nara. Pria itu memang punya rencana terselubung untuk anaknya.


“Yaaahhh..”


“Minta sama Naya atau Dila.”


“Udah. Mereka ngga berani ngasih, takut sama papa katanya.”


Barra terdiam sejenak, sebenarnya dia kasihan pada adiknya ini. Tapi dirinya tak punya pilihan selain mengikuti rencana sang ayah. Karena Barra juga ingin Nara bisa berjodoh dengan Kenzie. Jojo memang mengatakan rencananya ingin menjodohkan Nara dengan Kenzie dan Barra menyetujui hal tersebut. Menurutnya tak ada lelaki yang pantas mendampingi Nara selain Kenzie.


“Kamu kasbon aja sama Ken, hahahaha..”


“Ogah, mau taruh di mana nih muka.”


“Ish abang mah. Serius ini... aku lagi sekarat. Aku ngga bisa jajan baso tahu, seblak, baso, tahu jablay, cilok, tahu bulet yang digoreng dadakan huaaaaa...”


“Lebay,” Barra menjitak kepala adiknya ini.


Nara mengusap kepalanya yang terkena jitakan sang kakak. Bibirnya maju beberapa senti dan semakin membuat Barra tergelak. Kalau bisa, ingin rasanya dia mengikat mulut sang adik dengan karet gelang.


“Kamu minta uang aja ke om Abi, pasti dikasih. Om Abi kan sayang sama kamu.”


“Om Abi mah sayang sama semua kak, bukan aku aja. Tapi masa aku minta uang sama om Abi sih, udah kaya anak SD yang minta angpaw lebaran aja.”


“Dari pada kamu ngga bisa jajan cilok dan kawan-kawan.”


“Aku minta sama kakak aja. Besok ya ambil dulu uang di ATM. Ya kak, please.”


Nara menangkupkan kedua tangannya seraya mengedip-ngedipkan kedua matanya. Kalau sudah begini, Barra tak bisa menolak permintaan sang adik. Dia mengambil dompet dari saku belakang celananya lalu mengeluarkan lima lembar seratus ribuan dan memberikannya pada Nara.


“Alhamdulillah.. makasih kak, you are the best.”


Nara mencium pipi Barra, tapi sebelumnya dia membasahi bibirnya. Saliva gadis itu sukses menempel di pipi sang kakak. Sambil berteriak kesal, Barra menghapus air di wajahnya.


“Nara!! Kebiasaan kalo nyium suka pake kuah.”


“Hahaha...”


Nara segera bangun dari duduknya lalu berlari keluar kamar sebelum Barra membalasnya. Dengan cepat Barra berlari mengejar sang adik. Sadar akan bahaya yang mengancam, Nara segera menghampiri Adinda kemudian bersembunyi di balik punggung ibunya itu.


“Ma.. tolong Nara, kak Barra kemasukan jin tomang.”


“Aduh kalian tuh, udah besar tapi bercandanya masih kaya anak kecil.”


“Nara yang mulai ma.”


“DIAM!!”


Nara dan Barra terdiam begitu mendengar suara sang mama yang sudah seperti vocalis band musik hard core.


“Kalian siap-siap, habis maghrib kita ke rumah om Anfa.”


“Ngapain ma?”


“Syukuran kepulangan Hanna.”


“Hanna udah pulang ma?” tanya Nara.


“Iya, kemarin.”


“Emang si Hanna abis dari mana? Pantesan udah lama ngga lihat dia,” tanya Barra bingung.


“Ya ampun kakakku yang ganteng tapi tulalit. Emang kakak ngga tau kalau Hanna kuliah di Jepang.”


“Oh iya, lupa. Lagian dia ngapain kuliah di sana, kurang kerjaan.”


“Bukan kurang kerjaan tapi dapet beasiswa kaaaakk.. ya salam. Gini nih punya kakak tulalit plus ngga peka.”


“Heleh ngga penting. Ada atau ngga ada Hanna ngga ngaruh buat kakak.”


Barra menyambar risoles buatan sang mama yang baru saja dipindahkan ke piring, lalu melenggang pergi. Tak dipedulikan ucapan Nara padanya.

__ADS_1


“Awas jangan sampe naksir Hanna nanti!!”


☘️☘️☘️


Keramaian sudah terasa di kediaman Anfa. Pria ini tengah berbahagia karena anak sulungnya sudah kembali ke tanah air setelah enam tahun lamanya tinggal di Jepang untuk menyelesaikan studinya. Kepulangan Hanna tentu saja disambut bahagia oleh kedua orang tua, adik dan keluarga yang lain. Anfa memutuskan mengadakan syukuran atas kepulangan anaknya sekaligus syukuran keberhasilan anak gadisnya menyelesaikan studi S2-nya.


Semua yang datang nampak tak percaya dengan perubahan penampilan Hanna. Gadis yang dulunya selalu berambut cepak dan terlihat tomboy, kini sudah berubah menjadi lebih feminin. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai begitu saja, membuat penampilnnya semakin cantik.


Kenzie, Aric dan Ezra cukup terkejut dengan perubahan adik sepupunya itu. Dulu mereka bertiga memang kerap bermain bersama Hanna, hingga tanpa sadar mereka mempengaruhi penampilan gadis itu.


“Ini beneran Hanna?” tanya Aric seraya memutar-mutar tubuh gadis itu.


“Iya bang. Udah dong, pusing aku.”


“Kamu kesambet setan mana jadi feminin kaya gini,” sambung Ezra.


“Bukan kesambet ya kak. Tapi aku udah insyaf sekarang.”


“Hahahaha,” tawa Aric dan Ezra meledak.


“Bang Ken diem aja. Aku cantik kan sekarang?” Hanna mengedip-ngedipkan kedua matanya.


“Cantik...”


Senyum Hanna mengembang mendengarnya. Jarang-jarang pria itu memuji wanita lain. Karena menurutnya hanya Nina dan Freya yang masuk kategori cantik. Tapi kemudian senyum Hanna menghilang setelah mendengar ucapan Kenzie selanjutnya.


“Soalnya kamu perempuan. Kalo laki, pasti ganteng.”


Dengan santai Kenzie melenggang pergi. Hanna menyebikkan bibirnya ke arah pria itu namun tak digubrisnya. Aric dan Ezra pun ikutan melipir saat melihat genk rempong tengah mendekat.


“Hannaaaaaa!!!”


Teriakan Azra langsung terdengar. Gadis itu dengan cepat menghampiri Hanna lalu bercipika-cipiki. Di belakang mereka menyusul Freya, Naya dan juga Nara. Jika sudah berkumpul seperti ini, sudah dipastikan acara gosip menggosip akan dimulai. Azra menarik tangan Hanna menuju tempat yang dipikirnya aman dan nyaman untuk bergosip.


“Hanna.. lo tambah cantik aja,” puji Nara.


“Makasih. Lo juga tambah cantik, Ra.”


“Makasih. Lo orang pertama yang muji gue cantik. Huaaa.. ngenes banget ya gue.”


“Yang bilang lo jelek, matanya picek,” seru Freya.


“Termasuk abang lo dong.”


“Emang abang gue bilang lo jelek?”


“Ngga. Dia lebih parah. Kayanya dia ngga nganggap gue cewek. Di matanya gue tuh bang Fathan kedua huhuhu...”


“Bukan Ken kalo ngga begitu. Dia kan emang abnormal hahaha..”


Freya menepuk lengan Azra. Kakak sepupunya itu memang selalu mengeluarkan komentar seenak jidatnya saja. Hanna sedari tadi hanya tersenyum saja mendengarkan celotehan saudara juga sahabatnya. Hal yang sangat dirindukan bisa berkumpul dan bergosip bersama mereka.


“Hanna, gue seneng lo udah pulang. Besok jangan lupa dateng ke pesta pertunangan gue ya,” ucap Nay.


“Gue pasti dateng lah. Momen bersejarah gitu. Akhirnya ya setelah pacaran empat tahun, bang Aric ngelamar lo juga.”


“Iya Han, alhamdulillah akhirnya dia sadar juga ngajakin gue married,” Naya terkikik geli.


“By the way Toza ngga diajak?” lanjut Naya.


“Ngga.. gue sama dia udah putus. Udah ada enam bulan.”


“Serius Han? Gue kira lo bakalan sampe pelaminan sama Toza,” seru Azra.


“Dia ngga selingkuh kan?” selidik Freya.


“Ngga kok. Ngga ada orang ketiga, cuma perbedaan aja. You know there’s so much different between us (kalian tahu, ada banyak perbedaan antara aku dan dia). Orang tuanya kawin cerai dan itu yang membuatnya ngga percaya dengan pernikahan. Dia selalu ngelak kalau gue ngomong soal pernikahan. Lagi pula kita beda keyakinan. Bisa digantung gue sama papa kalau nikah beda agama. Makanya dari pada buang waktu yang ujung-ujungnya ngga bisa bersatu, mending putus aja.”


Freya memeluk sepupunya dari samping. Walau wajahnya tersenyum, namun Freya yakin kalau Hanna masih bersedih. Dia sudah berpacaran dengan Tozaki selama dua tahun. Pria keturunan Jepang itu berhasil mencuri hati Hanna saat gadis itu menonton pertandingan volley. Tozaki adalah seorang atlit volley, dan Hanna menyukai jenis olahraga tersebut.


“Mungkin Toza bukan jodoh lo. Siapa tahu jodoh lo, nyelip di antara mereka,” Azra menunjuk ke arah sekumpulan pria yang tengah berbincang sambil menikmati makanan.


“Viren boleh juga,” celetuk Nara.


“Ogah.. bisa bengek gue kalo sama si mulut petasan.”


“Hahaha.. ya udah sama kakaknya aja. Bang Ravin juga masih jomblo.”


“Bukannya bang Ravin naksir Frey?"


“Udah ditolak dia sama Frey.”


“Widih yakin lo, Frey, nolak bang Ravin? High quality jomblo padahal.”


Hanna menggoda Freya. Gadis itu hanya tersenyum simpul. Seminggu bekerja bersama dengan Ravin, dia menjadi lebih mengenal pria itu. Dan ternyata Ravin memiliki banyak penggemar. Banyak karyawan wanita yang bermimpi menjadi kekasihnya. Dan yang paling membuatnya jengah adalah Adel. Gadis itu selalu menempel pada Ravin jika bertemu.


“Gue mau ambil cemilan dulu. Siapa yang mau?”


Semua yang berada di sana mengangkat tangannya mendengar ucapan Freya. Dengan cepat Freya menuju meja yang menyajikan aneka makanan. Dia mengambil sebuah piring lalu mengisinya dengan aneka camilan. Saat yang bersamaan, Ravin juga tengah mengambil makanan.


“Hai Frey..”


“Hai bang.”


“Itu buat kamu semua?”


“Ya ngga lah. Sama pasukan juga. Mana muat perut aku makan ini semua,” Ravin terkekeh mendengarnya.


“Oh iya bang. Soal...”


Ucapan Freya terhenti karena ponsel Ravin berdering. Dia membiarkan pria itu menjawab panggilannya dahulu.


“Iya Del, ada apa?”


Mendengar nama Adel, seketika mood Freya ambyar. Dia bergegas meninggalkan meja lalu kembali ke habitatnya. Sambil menikmati camilan, Freya terus melihat Ravin yang masih berbicara dengan Adel. Hatinya kesal melihat tawa pria itu. Sepertinya Adel sudah berhasil merebut perhatian Ravin, dan itu sukses membuat Freya panas.


☘️☘️☘️


**Hai readers kece, seperti biasa jumat off. Sekarang mamake up panjang biar kalian puas😉


Oh iya di kolom komentar banyak yg komen, kok beda banget Naya sama Nara, satu bule satu asia. Buat yg lupa, visual Dinda itu Korean looks jadi mamake buat anaknya kembar tidak identik atau kembar fraternal.


For your info, buat anak kembar yang punya ortu beda ras, sangat memungkinkan itu terjadi. Nih mamake kasih bukti buat kalian**.




So.. ngga semua anak kembar itu harus sama. Dan ortu yang berbeda ras bisa menghasilkan anak kembar sesuai ras mereka masing². Jadi visual Naya dan Nara bukan sekedar kehaluan mamake aja, tapi berdasarkan fakta yang terjadi di lapangan. Mudah²an info ini berguna ya buat kalian. Sekian dan terima gajih💃💃💃

__ADS_1


__ADS_2