KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Gara-gara Jamu


__ADS_3

“Kang..”


Kevin langsung menyambar bibir Rindu, gayung bersambut, Rindu pun membalas ciuman sang suami. Jika kemarin malam, Kevin menciumnya dengan lembut, tidak kali ini. Ciuman Kevin begitu tergesa dan menuntut. Tangannya pun mulai menggerayangi tubuh Rindu. Meremat bulatan kenyalnya yang masih tertutup rapih.


Sebuah de**han lolos dari bibir Rindu saat Kevin meremat bulatan kenyalnya. Kevin semakin menggila mendengar d**ahan Rindu. Diangkatnya tubuh sang istri lalu membaringkannya di kasur. Dengan tergesa dibukanya kancing blouse yang dikenakan Rindu, karena tak sabar Kevin langsung menariknya.


BRETT


Kancing blouse berhamburan, Kevin melepas blouse Rindu lalu membuangnya asal. Kini tangannya menelusup ke balik punggung, melepaskan kaitan bra lalu membuka penutup bukit kembar itu. Kevin langsung melahap bukit kembar yang terlihat menantang di matanya. Tanpa sadar dia memberikan gigitan kecil di puncaknya, membuat Rindu menjerit tertahan.


“Abaaaang.. saaakiiit..”


Kevin tersentak, seketika langsung menghentikan aktivitasnya. Ditatapnya wajah Rindu yang berada di bawah kungkungannya.


“Maaf,” bisiknya.


Kevin menciumi wajah Rindu, lalu memagut bibir tipis itu. Kali ini dia melakukannya lebih lembut. Ciuman Kevin terus turun ke bawah, menelusuri leher, bahu, dada dan kembali ke bulatan kenyal favoritnya. Lagi-lagi Rindu mend**ah saat Kevin memainkan puncak bukit kembarnya dengan jari dan lidahnya.


Kevin mengangkat tubuhnya, tangannya lalu bergerak melepaskan kancing kemeja. Tangan Rindu terulur untuk bantu melepaskan. Melihat Rindu yang begitu menggoda, Kevin tak sabaran, dia pun menarik paksa kemejanya hingga robek dan kancingnya berhamburan lalu membuangnya ke lantai.


Kini dia mulai melepaskan kain terakhir yang membalut tubuh sang istri disusul dengan miliknya. Rindu memalingkan wajahnya saat melihat tubuh polos suaminya. Kevin kembali merangkak naik ke atas Rindu. Dia kembali memberikan cumbuan yang memabukkan, sesekali Rindu menjambak rambuk Kevin saat merasakan gelanyar aneh yang menerjang tubuhnya.


Kevin bersiap untuk memasuki Rindu. Dengan tatapan sayu, Rindu melihat ke arah sang suami yang berada di atasnya. Kevin memagut bibir Rindu seraya menaruh kedua tangan sang istri melingkar di lehernya. Tak lama kemudian miliknya mulai memasuki ruang bawah tanah sang istri yang lembab. Rindu mengeratkan pelukan di leher Kevin saat benda tumpul menghantam masuk menerobos pertahanannya.


Kevin terus mencumbu Rindu untuk mengurangi rasa sakit yang mendera. Rindu memejamkan matanya erat, rasa perih, linu masih mendominasi bagian bawahnya namun cumbuan Kevin dapat sedikit mengalihkan rasa sakitnya. Setelah merasa sang istri lebih tenang, Kevin mulai bergerak. Lagi Rindu memeluk erat leher suaminya. Sesekali terdengar erangannya menahan rasa sakit tapi perlahan berganti dengan de**han.


Rindu terpekik saat gelombang hangat menghantamnya dan Kevin mempercepat pergerakannya. Deru dan hembusan nafas Kevin dapat dengan jelas Rindu rasakan. Tangannya melingkar di punggung yang lembab oleh keringat. Tak berapa lama kemudian terdengar erangan Kevin disusul dengan semburan lahar panas ke rahim Rindu. Kevin memeluk erat Rindu yang ada di bawahnya. Setelah nafasnya sedikit normal, dia berguling ke sisi sang istri.


Rindu masih dengan posisi terlentang. Dadanya naik turun seiring dengan deru nafasnya yang masih terengah. Tubuhnya serasa remuk redam, namun di sisi lain dia menikmati penyatuan tadi. Kevin menarik tubuh Rindu merapat padanya. keduanya berbaring dengan saling berhadapan.


“Makasih Kang...” Kevin menciumi seluruh wajah Rindu.


“I love you.”


Rindu memandang lekat-lekat wajah suaminya. Tak percaya kalau makhluk sedingin Kevin bisa bersikap manis dan mengucapkan tiga kata ajaib yang sangat ingin didengarnya. Rindu meraba rahang Kevin.


“Abang mencintaiku? Secepat ini?”


“Aku sudah bilang tidak ada yang tahu kapan cinta datang di antara kita. Aku juga tidak menyangka kalau perasaanku padamu bisa berkembang secepat ini.”


“Ya ampun kulkas dua pintu akhirnya mencair juga.”


“Apa kamu bilang hmm?”


Kevin menciumi wajah dan leher Rindu, tangannya juga menggelitiki pinggang Rindu, membuat wanita itu berteriak kegelian. Tubuhnya menggelinjang merasakan sensasi geli di tubuhnya. Bukannya berhenti, Kevin malah bertambah semangat menggerayangi tubuh istrinya.


“Baaang.. geli iihh.. ampuun.. ampun..”


Kevin menghentikan gerakan tangannya lalu menarik Rindu ke dalam dekapannya. Dipeluknya erat tubuh sang istri seraya menghidu dalam-dalam aroma yang tadi membuatnya mabuk kepayang.


“Kamu kok wangi banget sih Kang. Kamu pake apa sih? Kok wanginya tuh aku pengen makan kamu terus.”


“Ngga tahu bang. Tadi shubuh mama kasih aku lulur, katanya suruh pake lulur pas mandi, ya udah aku pake aja. Lulurnya bikin badanku lembut.”


Mendengar jawaban Rindu, Kevin teringat dengan jamu yang dirinya dan Rindu minum setelah sarapan. Sepertinya mamanya telah memasukkan ramuan yang dulu juga pernah diberikan pada kakak-kakaknya saat awal menikah. Pantas saja, dirinya tak bisa menahan diri. Begitu pula dengan Rindu yang biasanya malu-malu, tapi langsung menyambut ciumanya tadi.


“Kayanya kita dikerjain mama deh. Jamu yang kita minum kayanya ada ramuan yang bikin kita kaya tadi.”


“Masa sih? Jadi kalau ngga minum jamu tadi, abang ngga bakal nyentuh aku gitu?”


“Sejak awal nikah aku udah pengen banget nyentuh kamu, Kang. Tapi aku tahan karena takut bikin kamu ngga nyaman karena pernikahan kita yang mendadak.”


“Jadi sekarang aku udah sepenuhnya milik abang ya.”


“Dari aku ucap ijab kabul dan disahkan saksi juga penghulu, kamu emang udah jadi milik aku seutuhnya.”


“Ya kan kalau di novel-novel kalau belum belah semangka, belum dibilang udah jadi milik seutuhnya.”


PLETAK


Rindu mengusap keningnya yang terkena sentilan Kevin. Dia memajukan bibirnya tanda protes atas perlakukan sang suami. Kevin langsung menyambar bibir yang terlihat begitu menggoda. Rindu memukul-mukul dada Kevin ketika suaminya tak kunjung melepaskan tautan bibir mereka padahal dirinya sudah hampir kehabisan nafas.


“Abaaang iih.. aku ngga bisa nafas,” protes Rindu, Kevin hanya terkekeh.


“Abang ngga kerja.”


“Males ah.. abang pengen sama kamu seharian ini. Lagian tadi udah ijin juga sama Juna.”


Rindu menatap Kevin tak berkedip ketika suaminya itu merubah panggilan dirinya dari aku menjadi abang. Ada perasaan bahagia menjalari hatinya.

__ADS_1


“Abaang..”


“Hmm..”


“Ganti dong panggilannya, jangan Kang. Ngga enak tahu dengernya, udah kaya kangkung, kang cendol, kang baso, kang becak.”


“Hahaha...”


“Ganti ya.. nanti aku juga ganti deh. Aku panggilnya bang Kev.. hihihi..”


“Mau dipanggil apa? Sweety?”


“Ngga mau kaya merk popok. Berasa aku kaya ****** bayi kalau dipanggil sweety.”


“Hahaha..”


Kevin kembali tergelak, istrinya ini selain bawel juga selalu mengeluarkan kata-kata yang membuatnya tak bisa menahan tawa. Dia meraih ponselnya lalu mengetik di daftar pencairan ‘panggilan sayang untuk pasangan’. Rindu ikutan membaca apa yang tertera di layar ponsel.


“Gimana kalau abang panggil hobit aja? Kan badan kamu kecil kaya hobit.”


“Ish abang mah ngga ada mesra-mesranya ke istri.”


“Terus kamu maunya dipanggil apa Kang?”


“Iiihh.. Kang lagi. Panggil aku Bee ya, artinya lebah, lebah kan penghasil madu. Aku kan bisa buat abang yang dingin jadi manis, ya ngga bang?”


“Ternyata selain bawel, kamu narsis juga.”


“Biarin aja.”


“Abang panggil Kul aja ya.”


“Kul? Apa artinya? Baru denger.”


“Kul, panjangnya bakul. Kamu kan kalo makan sebakul jadi cocok panggilannya.”


“Abaaaaaannggg!!”


“Berisik Bee..”


BLUSH


Dengan kesal Kevin turun dari ranjang untuk mengambil ponsel yang ada di saku celananya. Terlihat nomor kantor tertera di layar ponselnya. Dengan cepat dia menerima panggilan tersebut.


“Halo.”


“Halo pak Kevin. Bapak ke kantor jam berapa? Ada berkas yang harus ditanda tangani,” terdengar suara Vita dari seberang.


“Berkas apa? Berikan saja pada Darian.”


“Maaf pak, katanya harus bapak yang tanda tangan.”


“Ya sudah!”


KLIK


Kevin memutuskan panggilan lalu dengan kesal melempar ponsel ke kasur. Dia melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Rindu hanya terdiam di tempatnya, dia memilih kembali berbaring. Rasanya tak sanggup bangun di saat tubuhnya terasa remuk.


Sepuluh menit kemudian Kevin keluar dengan tubuh terbalut handuk sebatas pinggang. Dada Rindu kembali berdesir saat melihat tubuh tegap suaminya. Tanpa sadar dia menggigit bibirnya dan terlihat oleh Kevin. Dengan cepat pria itu menghampiri istrinya lalu memagut bibir Rindu sebentar.


“Kamu mau menggoda abang hmm?”


“Ngga.. abang aja yang ngga kuat iman.”


Rindu menutupi wajahnya dengan selimut, takut sentilan kembali mendarat di keningnya. Kevin tersenyum lalu mengusap puncak kepala sang istri. Dia berdiri kemudian menuju lemari untuk mengambil kemeja baru.


Rindu mengintip dari balik selimut, melihat sang suami yang tengah berpakaian. Dia memandang kagum pada tubuh suaminya yang begitu sempurna di matanya. Tak berapa lama Kevin sudah kembali siap dengan setelan kerjanya. Dia menghampiri Rindu lalu duduk di sisi ranjang.”


“Abang ke kantor dulu ya.”


“Katanya mau libur.”


“Barusan Vita telepon, katanya ada berkas yang harus ditanda tangan.”


“Vita lagi.. ish nyebelin.”


“Dia kan sekretaris abang.”


“Emang ngga bisa ganti apa?”

__ADS_1


“Mudah-mudahan dia ngelakuin kesalahan, jadi abang bisa tendang dia. Untuk sementara kamu sabar ya, ok Bee.”


“Abang jangan lirik-lirik dia ya.”


Rindu memeluk leher Kevin, hingga selimut yang meutupi tubuhnya melorot. Kevin menelan ludahnya kelat ketika matanya melihat bulatan kenyal sang istri.


“Bee.. kamu jangan godain abang dong.”


“Goda apa?”


“Ini kenapa dipamerin terus? Bikin abang pengen lagi.”


Rindu melepaskan pelukannya lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya lagi. Kevin mengulum senyumnya lalu mendaratkan kecupan di pipi dan bibir Rindu.”


“Abang pergi dulu ya.”


“Iya bang. Baik-baik ya bang, jangan deket-deket sama ulet bulu.”


Kevin tergelak sambil terus melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Rindu menyibakkan selimut, dia ingin membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Tapi baru saja berdiri, dia kembali duduk saat merasakan saki di bagian bawah tubuhnya.


TOK


TOK


TOK


“Non Rindu.. bibi boleh masuk?”


“Masuk aja bi.”


Rindu mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya. Pintu kamar terbuka, bi Ipah masuk dengan membawa secangkir minuman juga botol kecil di tangannya. Wanita paruh baya itu tersenyum melihat pakaian yang berserakan di lantai juga keadaan kasur yang sudah acak-acakkan. Dia segera menghampiri Rindu.


“Non.. tadi ibu sebelum pergi titip pesan. Non disuruh minum ini.”


Bi Ipah menyodorkan cangkir pada Rindu. Tangan Rindu mengambil cangkir tersebut. Terlihat warna minuman yang kuning kecoklatan. Dari baunya sudah bisa ditebak kalau itu adalah jamu.


“Ini jamu ya bi?”


“Iya non. Itu jamu buat ngurangin rasa sakit non di bagian situ.”


Tangan bi Ipah menunjuk pada area intimnya membuat wajah Rindu merona. Dia baru menyadari keadaan kamarnya yang seperti kapal pecah. Ingin rasanya dia menghilang dari hadapan bi Ipah saat ini juga.


“Ngga usah malu non, yang namanya udah suami istri mah wajar atuh. Tadi main berapa ronde non?”


“Cuma sekali bi, tapi sakit banget iih.”


“Awal mah pasti sakit non, tapi yang kedua, ketiga dan seterusnya mah bikin nagih. Maunya nambah dan nambah lagi,” bi Ipah terkikik geli.


“Ish.. bibi omes juga.”


“Ayo diminum non jamunya. Ini buatan ibu, khasiatnya buat mengurangi sakit dia **** ***** sesudah berhubungan. Tenang aja non, ramuan ini sudah terbukti khasiatnya. Kalau ngga percaya tanya aja ke non Anya sama non Kumala.”


Rindu mendekatkan cangkir ke mulutnya lalu meneguk cairan itu sampai habis. Rasanya nano-nano, ada pahit, asem dan manis. Bi Ipah mengambil cangkir dari tangan Rindu lalu menyerahkan botol kecil di tangannya.


“Nah yang ini masukin di bath tub, buat berendam dengan air hangat. Dijamin rasa sakitnya berkurang.”


“Makasih bi. Ini mama juga yang siapin?”


“Iya non. Non Rindu mau mandi sekarang?”


“Iya bi.”


“Bibi siapin dulu air hangatnya.”


Bi Ipah mengambil kembali botol kecil dari Rindu lalu masuk ke dalam kamar mandi. dia mengisi bath tub dengan air hangat sampai setengah lalu menuangkan isi botol ke dalamnya. Rindu masuk ke kamar mandi dengan selimut membalut tubuhnya. Bi Ipah membantu wanita itu masuk ke dalam bath tub seraya melepaskan selimut. Setelah itu dia keluar dari kamar mandi.


☘️☘️☘️


**Yeeeaaaayyy akhirnya goooolllll...


Pagi pertama bang Ke sukses juga.


Mama Delia jempolan deh. Semoga cepat dapet cucu dari Bang Ke ya.


Sekarang bukan Bang Ke - Kang Pur lagi, tapi Abang - Bee, uhuk..


Ada pesan dari mama Delia, buat yang nanya soal kamu, ini jawabannya: KEPO!!!🤣🤣🤣


Gimana? Puaaaaassss...

__ADS_1


Puas dong pastinya, hari ini mamake up 2 bab yg totalnya 4000 kata lebih. Jangan bilang masih kurang😭 nanti jempolku cantengan kebanyakan ngetik😂**


__ADS_2