KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Sang Penguntit


__ADS_3

“KARENA KAMU BEGITU CANTIK..”


“Cantik memang cantik.. hanya kamu.. kamu yang buatku tertarik..” Kenan menyambung pusinya dengan nyanyian.


Wajah Zahra memerah karena kini semua mata tertuju kepadanya. Seorang dokter jaga yang ada di sana tak bisa menahan tawanya melihat aksi konyol Kenan. Begitu juga rekan kerja Zahra yang lain. IGD yang biasanya dipenuhi suara rintihan pasien kini berganti dengan suara Kenan.


Tak bisa menahan malu terlalu lama, Zahra masuk ke ruangan yang menyediakan obat-obatan untuk pasien IGD. Tak lama dia keluar lalu menghampiri Kenan yang masih berpuisi.


“MENGAPA DIRIMU SELALU MENGECEWAKANKU. MENGAPA KA..”


BRUK


Tiba-tiba tubuh Kenan ambruk begitu saja. Zahra meminta kedua temannya untuk bantu membawa Kenan ke blankar. Wanita itu baru saja menyuntikkan obat penenang ke tubuh Kenan.


“Eh temen saya kenapa sus?” tanya teman Kenan.


“Kayanya kemasukan jin di IGD, tiba-tiba pingsan,” jawab Zahra sekenanya kemudian pergi meninggalkan pemuda itu.


Khawatir dengan keadaan temannya, pemuda itu segera mencari ponsel Kenan. Dia langsung menghubungi nomor rumah Kenan dan mengabarkan kalau temannya itu sedang berada di IGD.


Setengah jam kemudian Abi bersama Nina datang. Mereka terkejut mendengar Kenan tiba-tiba pingsan. Dokter jaga yang ada di IGD tak kalah terkejutnya saat mengetahui pemuda yang membuat keributan tadi adalah anak bungsu dari CEO Metro East, dia mengajak Zahra untuk meminta maaf pada Abi dan Nina.


Zahra berdiri di depan Abi dan Nina dengan kepala tertunduk. Perasaannya was-was juga mengetahui pemuda yang dikerjainya adalah anak salah satu keluarga terkaya dan berkuasa. Apalagi dia juga pernah mendengar kabar kalau CEO yang tengah duduk di hadapannya ini sering memberi hukuman mengirim orang ke pulau. Zahra takut dikirim ke pulau untuk merawat komodo.


“Maafkan saya, bapak.. ibu.. saya memang salah.”


Abi mengangkat tangannya membuat ucapan Zahra terhenti. Dia memutar video rekaman cctv yang ada di IGD. Nina juga ikut melihat apa yang diputar di sana. Wanita itu menundukkan kepala seraya menutupi wajah dengan tangannya. Kenan benar-benar membuatnya malu.


“Kelakuan anakmu mas,” bisik Nina.


“Nama kamu Zahra?” tanya Abi.


“I.. Iya pak.”


“Berapa lama anak saya akan tertidur?”


“Sebentar lagi juga bangun kok, pak. Saya cuma kasih dosis rendah aja. Uuppss..”


Zahra menutup mulut dengan kedua tangannya. Tak disangka Abi malah terbahak mendengarnya. Nina juga ikut tertawa, dia lalu berdiri dan menghampiri Zahra yang masih bingung.


“Zahra, maafkan anak saya ya. Kalau dia sudah mengganggumu.”


“I.. iya tante. Harusnya saya yang minta maaf.”


“Ngga apa-apa. Kamu ngga salah, anak saya saja yang kelewatan jahilnya.”


“Jadi saya ngga akan dikirim ke pulau kan pak, bu?”


Gelak tawa Abi kembali terdengar. Tanpa berkata apapun, dia keluar dari ruangan kemudian menuju ke blankar Kenan. Di belakangnya Nina dan Zahra menyusul. Melihat kedua orang tua Kenan sudah datang, teman Kenan yang datang bersamanya segera pamit pulang.


Tak berapa lama Kenan terbangun. Beberapa kali dia mengerjapkan matanya sambil berusaha mengingat apa yang terjadi. Pemuda itu terkejut saat melihat kedua orang tuanya berada di samping blankar yang ditidurinya.


“Mama sama papa ngapain ke sini?”


“Ayo bangun.”


“Bentar pa.. aaaaaa…”


Kenan berteriak ketika Abi menjewer telinganya kemudian membawanya keluar dari IGD. Saat melintasi Zahra, pemuda itu masih sempat mengedipkan mata seraya melemparkan fly kiss ke arah perawat itu.


☘️☘️☘️


Suasana kediaman Juna di malam minggu cukup ramai dengan kedatangan para sahabatnya. Agung, Beno dan Dendi juga ikut datang. Mereka kumpul bersama layaknya keluarga. Agung sudah harus membiasakan diri berkumpul dengan kelima pria tersebut karena sebentar lagi akan menjadi bagian keluarga Hikmat. Beno dan Dendi juga harus membiasakan diri. Ini kali pertama mereka ikut bergabung di luar urusan pekerjaan.


Para wanita sibuk menyiapkan hidangan, sedang para pria kebagian tugas memanggang daging. Mereka tengah mengadakan pesta barbeque di halaman datang. Hanya para orang tua saja yang ikut. Anak-anak mereka sibuk dengan urusannya masing-masing. Ezra sedang berkencan dengan Dilara. Begitu pula dengan Azra dan Fathan. Sedang Alisha diajak oleh Anya nonton film baru di bioskop.


Setelah makanan sudah tersaji, semuanya duduk bersama di atas rumput sintetis. Juna dan Jojo masih memanggang daging. Abi, Cakra dan Kevin sibuk menghabiskan daging yang matang. Jojo menggerutu kesal karena ketiga sahabat minim akhlaknya itu menghabiskan kerja kerasnya tanpa merasa berdosa sama sekali. Beno, Dendi dan Agung hanya terkekeh melihat perdebatan unfaedah mereka.


“Gung, kamu dapet juga kiriman video dari Dilara?” tanya Jojo.


“Iya. Astaga ngga nyangka Fathan kaya anak kecil gitu,” kekeh Agung.


“Si Aric kenapa mau dibegoin ama Ken, ikutan hompimpah,” timpal Cakra.


“Ravin juga. Tuh anak mau aja ngikutin usulan anak si bon cabe,” sahut Kevin.


“Untung ngga ada anakku. Alhamdulillah Hanna masih normal hahaha,” celetuk Anfa.


“Emang kelakuan mereka ngga ada yang beres. Persis kaya bapaknya,” sambung Abi.


Kevin, Cakra dan Agung langsung mendelik ke arah yang berbicara dengan entengnya. Tapi seperti biasa, pria tak peduli dengan semua itu. Dia masih anteng menyuapkan daging panggang ke mulutnya.


“Saya kalem loh, pak,” protes Agung.


“Kalem kalo lagi kerja. Kalo di tempat tidur ya ngga kalem lah.”


Agung hanya menggelengkan kepalanya saja. Lebih baik diam dari pada berdebat dengan Abi. Pria itu selalu saja punya jawaban untuk membalas lawan bicaranya.


“Bi, Jo.. jangan jumawa dulu, kalian. Freya sama Naya juga setuju calon lakinya hompimpah, berarti mereka juga ikutan oon,” sewot Kevin.


“Untung anak gue ngga ikutan,” sahut Juna.


“Lupa lo, Azra kan anak lo,” jawab Kevin.


“Oh iya, gue lupa hahahaha..”

__ADS_1


“Gini nih kalau udah jadi anggota ****,” komen Abi.


“Apaan tuh?” tanya Jojo.


“Penurunan Daya Ingat Permanen, hahahaha..”


Gelak tawa kembali terdengar di antara mereka. Para wanita hanya menggelengkan kepalanya saja melihat suami-suami mereka yang tak ingat umur jika sudah berkumpul. Selalu saja celotehan unfaedah dan absurd keluar dari mulut mereka.


“Jadi yang pertama nikah, Ravin sama Frey. Yang mejeng duluan bon cabe ama kulkas dua pintu,” kekeh Jojo.


“Kedua, Aric ama Naya. Yang mejeng gue ama nih kunyuk. Bisa ganti besan ngga sih?” timpal Cakra.


“Maksud lo pengen mejeng di pelaminan bareng Syakira? Se.. suami kamu tuh pengen mejeng bareng Syakira. Kangen sama suara mendesahnya mmpphh.. hah.. hah..”


Cakra menyumpal mulut Jojo dengan daging yang baru matang. Pria itu mengibas-ngibaskan tangan ke mulutnya yang terasa panas. Adinda segera memberikan minuman pada suaminya.


“Panas kampret!” kesal Jojo yang hanya dijawab kekehan Aric saja.


“Nikahan hari ketiga Azra sama Fathan. Dua kalem mejeng di pelaminan,” celetuk Juna.


“Kalem dari Hongkong,” timpal Jojo.


“Kaya lembu maksudnya,” seru Kevin.


“Kalem-kalem bikin bengek,” sambung Cakra.


“Kalem tapi anaknya tiga,” sahut Abi.


“Saya cuma satu pak,”protes Agung.


“Derita lo kalau itu.”


Gelak tawa kembali terdengar. Agung dibuat mati kutu untuk yang kedua kalinya oleh Abi. Tidak saat bekerja atau saat santai, mulut Abi memang sulit untuk dilawan. Beno dan Dendi begitu puas menertawakan Agung.


“Sabar Gung. Anggap aja itu ucapan selamat datang dari Abi,” Juna merangkul bahu calon besannya ini.


“Mulut dia emang ngga ada enak-enaknya, pahit kaya brotowali,” timpal Cakra.


“Plus cabe setan,” sambung Jojo.


“Omongannya ngga enak sama kaya mukanya yang ngga enak dilihat,” celetuk Kevin.


“Kaya elo ngga aja, dasar pak Ujang,” balas Abi.


Kevin melihat kesal ke arah calon besannya itu. Sudah setua ini, dia masih belum ikhlas menerima kenyataan kalau ada kata Ujang tersemat di depan namanya. Tawa Beno, Agung dan Dendi hampir saja meledak mendengar ucapan Abi tapi diurungkannya begitu melihat wajah dingin Kevin.


“Dah sesama mulut pahit ngga usah saling ngejek. Apalagi kalian udah mau besanan. Yang akur ye..” seru Jojo yang kembali disambut tawa lainnya.


“Jo.. kayanya ada bahan lo bakalan besanan ama kak Juna,” celetuk Cakra.


“Kak Juna ama Anfa juga,” bangga Jojo.


“Tau.. kan si Hanna lagi galau kedatangan mantan terindah,” kekeh Cakra.


“Serius? Pantes si Barra dari kemarin manyun mulu.”


“Hahaha.. berat saingannya,” Cakra.


“Sokoooor,” Kevin.


“Curiga dukun bertindak,” Juna


“Pake dukun juga ngga bakalan mempan. Nasibnya Barra apes, gara-gara punya bapak model Jojo hahaha,” Abi tertawa puas sekali.


“Dasar minim akhlak lo semua!”


“Hahahaha..”


☘️☘️☘️


Situasi bioskop di Andhara mall sudah ramai didatangi pengunjung. Rata-rata pengunjung adalah kawula muda yang datang bersama pasangannya. Ravin nampak tengah membeli tiket bersama dengan Freya. Tak jauh dari mereka, berdiri Viren dengan memasang muka masamnya.


“Biasa aja tuh muka, Vir. Udah jelek malah tambah jelek,”ledek Freya.


Viren hanya mencibir mendengar ledekan calon kakak iparnya. Pria itu masih keki dipaksa sang kakak menjadi satpam kencan mereka. Inilah kerugiannya menjadi jomblo, tidak punya alasan kalau harus menolak permintaan konyol seperti ini. Sialnya malam minggu ini juga tidak ada jadwal manggung bersama band-nya.


“Kaga usah manyun. Kaga ikhlas bener lo,” seru Ravin.


“Emang kaga,” jawab Viren keki.


“Anggap aja ini bakti lo sama gue sebagai kakak.”


“Kakak semprul.”


“Hahaha..”


“Tenang aja Vir, gue udah minta Anya buat jadi pasangan duet lo. Biar lo ngga gabut sendirian,” timpal Freya.


“Udah gabut tambah bengek gue dikasih pasangan kuda lumping model si Anya.”


“Hahaha… gue sumpahin bucin lo ama dia.”


“Mana ada. Di seluruh DNA gue tuh modelan si Anya ngga terdaftar.”


PLAK

__ADS_1


Sebuah pukulan mendarat di punggung Viren. Anya yang baru datang langsung memukul sahabatnya itu yang kalau bicara tak pernah ada saringan. Viren terkejut melihat kedatangan Anya bersama dengan Alisha.


“Eh, Al ikut juga. Waduh aku harus beli tiket lagi,” ujar Ravin.


“Ngga usah, bang. Aku ngga ikutan nonton. Aku ada janji ama temen, makanya aku ajak Al buat pengganti.”


“Ih perasaan lo ngga bilang tadi,” bisik Alisha yang kesal hendak ditinggal begitu saja oleh Anya.


“Kalo gue bilang lo ngga bakalan mau,” Anya terkikik.


“Heh.. bisik-bisik tetangga aja lo berdua,” sembur Viren.


“Gue cabut ya. Met kencan yee buat bang Ravin ama kak Frey. Bang Vir jadi satpam yang bener. Sepupu gue jangan lo apa-apain. Coba mukanya kendorin dikit, kasihan si Al takutnya sawan lihat muka lo yang kaku, mana jelek lagi hahahaha…”


Dengan cepat Viren mengalungkan lengannya di leher Anya kemudian sebelah tangannya lagi menjitak kepala gadis itu. Ravin dan Freya hanya terpingkal saja melihat tingkah absurd kedua orang itu. Berbeda dengan Alisha yang melihat dengan pandangan iri dan sedikit cemburu juga. Seandainya saja Viren bisa bersikap seperti itu padanya.


“Lepas bang.. uhuk.. uhuk..”


Viren melepaskan lengannya di leher Anya kemudian mengusak puncak kepala gadis itu hingga rambutnya berantakan. Dengan kesal Anya merapihkan rambutnya, sedang sang pelaku hanya terkekeh saja.


“Dah ah, aku cabut dulu. Bye… bang.. gue titip Al ya, jangan digigit. Dicip*k aja hahahaha…”


Anya segera kabur melihat tatapan horror Viren. Wajah Alisha bersemu merah mendengar ucapan nyeleneh Anya. Tak lama terdengar suara operator memanggil penonton untuk masuk ke dalam studio. Sambil menggandeng Freya, Ravin masuk ke dalam studio disusul oleh Viren dan Alisha di belakang mereka.


Viren menghentikan langkahnya di deretan ketiga dari atas. Ravin membelikan tiket dengan tempat duduk terpisah dari calon pengantin tersebut. Ravin memilih deretan paling atas untuk menikmati pertunjukkan bersama dengan Freya.


“Wah.. ngapain lo duduk di pojokan? Mau main dalam gelap ya,” tuduh Viren.


“Berisik loh, kepo aja ama urusan orang. Nih bekel buat nonton,” Ravin menyerahkan sebuket popcorn dan dua buah minuman bersoda. Kemudian pria itu terus naik menuju kursinya yang ada di deretan paling atas.


Viren mengambil tempat duduk di bagian paling sisi dengan Alisha berada di sebelahnya. Tak lama datang seorang pria kemudian duduk di samping Alisha. Pertunjukkan belum dimulai, lampu juga masih menyala tapi lelaki di sebelah Alisha sudah mulai mengganggu gadis tersebut. Ada saja yang ditanyakan pria itu untuk menarik perhatian Alisha.


“Al.. pindah duduknya.”


Viren berdiri kemudian menarik tangan Alisha agar berpindah tempat duduk dengannya. Alisha menuruti saja apa kata Viren, dia juga jengah dengan tingkah lelaki di sebelahnya. Viren mendudukkan diri di tempat Alisha tadi seraya melihat ke arah lelaki itu.


“Apa? Lo mau kenalan juga ama gue?” ketus Viren.


Lelaki itu hanya mendengus kesal. Dia berpindah ke kursi lain, sedikit menjauh dari Viren namun masih di deretan yang sama. Tak lama lampu studio menyala, pertunjukkan segera dimulai. Alisha yang terbiasa dengan suasana gelap terjengit. Dadanya berdebar kencang, nafasnya mulai tidak teratur. Inilah yang membuatnya enggan nonton di bioskop.


Sadar dengan perubahan tingkah Alisha, Viren menolehkan wajahnya. Lewat cahaya yang berasal dari layar lebar di depannya, pria itu bisa melihat perubahan mimik wajah Alisha. Gadis itu terlihat panik.


“Kenapa?”


“Ng.. ngga apa-apa bang. A.. aku cuma belum terbiasa dengan gelap.”


Viren melirik ke arah tangan Alisha yang terkepal kencang. Tanpa banyak bicara, pria itu meraih tangan Alisha lalu menautkan jari jemari mereka. Alisha terkejut dengan yang dilakukan Viren. Sontak gadis itu menoleh pada pria tersebut.


“Ngga usah takut. Ada aku di sini,” Viren mengangkat tangannya yang menggenggam tangan Alisha. Gadis itu buru-buru menundukkan pandangannya saat merasakan pipinya menghangat. Dadanya juga berdebar dengan kencang. Apa yang dilakukan Viren sukses membuatnya salah tingkah.


☘️☘️☘️


Anya berjalan-jalan mengelilingi mall. Sebenarnya dia berbohong mengatakan ada janji dengan temannya. Itu hanya akal-akalan saja supaya bisa membuat Alisha berduaan dengan Viren. Sebagai sepupu yang baik, tentu saja Anya menyadari perasaan Alisha pada Viren. Dia bermaksud menjadi mak comblang untuk keduanya secara diam-diam. Mengharapkan Viren yang kaku, rasanya tak mungkin kalau pria itu mendekati Alisha. Begitu pula dengan Alisha, gadis itu pastinya malu jika harus bergerak lebih dulu.


Untuk menghilangkan kegabutannya, dia memilih masuk ke arena bermain. Setelah mengisi saldo kartu, dia langsung berkeliling memainkan semua jenis permainan yang ada di sana. Baru saja selesai bermain basket, Anya terkejut melihat pria yang mengikutinya kini ternyata sudah ada di dekatnya.


Buru-buru gadis itu keluar dari arena bermain. Dia lalu bergegas menuju lantai bawah, di mana tengah ada pertunjukkan musik yang diadakan salah satu perusahaan otomotif yang tengah mempromosikan produk terbarunya. Dia bersembunyi di antara kerumunan penonton. Tangannya lalu mengambil ponsel dari tas selempang miliknya.


Dengan tangan bergetar, Anya menghubungi Kenan. Untung saja sepupunya itu berada tak jauh dari Andhara mall. Pemuda itu mengatakan akan langsung menyusul. Mendengar Kenan akan menjemputnya, Anya sedikit tenang. Dia berusaha meleburkan diri bersama para penonton di sekitarnya seraya memegangi liontin kalungnya erat.


Tak jauh dari Anya, Irvin dan Jihan juga berada di sana. Jihan meminta Irvin mengantarnya berjalan-jalan di mall. Gadis itu ingin menghilangkan kekesalannya karena Kenan menolak ajakannya nonton bareng. Terdengar suaranya mengikuti lagu yang dibawakan salah satu band yang tengah naik daun. Irvin hanya diam memandangi kumpulan pemuda di atas panggung. Menurutnya suara Kenan lebih merdu dibanding vocalis band tersebut.


Sementara itu, Anya masih bersikap waspada. Dia takut lelaki yang mengikutinya berhasil menemukan dirinya. Ketakutannya terjadi, lelaki itu ternyata sudah ada di dekatnya, hanya terhalang dua orang saja. Refleks Anya berjalan mundur, mencoba menghindari pria tersebut. Karena tak melihat jalan di belakangnya, tanpa sengaja dia menabrak seseorang.


Tubuh Irvin sedikit terhuyung ketika ada seseorang menabraknya. Begitu menoleh, pria itu terkejut saat tahu Anya yang menabraknya. Lebih terkejut lagi melihat wajah Anya yang sedikit pucat. Melihat Anya bersama dengan Irvin, pria misterius itu menghentikan langkahnya namun matanya terus menatap tajam pada Anya.


“Nya..” tegur Irvin.


“Bang Irvin.. Alhamdulillah ada abang.”


“Kamu kenapa?”


“Aku..”


“Nya.. ngapain lo di sini?” pertanyaan Jihan memutus jawaban Anya.


“Gue..”


Lagi-lagi Anya tak meneruskan kalimatnya. Pria yang mengikutinya kini sudah berdiri di belakang Jihan. Dengan cepat gadis itu memalingkan wajahnya. Kembali tangannya memegang liontin kalungnya. Pria itu kemudian melewati Jihan dan berusaha mendekat padanya. Refleks Anya bersembunyi di belakang Irvin. Kesal Anya tak menanggapinya, Jihan menarik tangan Irvin dan membawanya pergi.


Anya terkejut saat Irvin tak lagi menjadi tamengnya. Dia bergegas mengikuti langkah Irvin dan pria aneh itu terus mengejarnya. Sedikit lagi pria itu berhasil memegang bahu Anya ketika terdengar suara Kenan memanggilnya.


“Anya!”


Jihan yang mendengar suara Kenan, langsung menolehkan kepalanya. Matanya membulat saat melihat Anya berlari ke arah Kenan lalu memeluk tubuh pemuda itu. Yang lebih membuatnya kesal, Kenan juga membalas pelukan Anya. Jihan menghentakkan kakinya kesal melihat interaksi Kenan dan Anya.


“Kenapa Ji?”


“Aku sebel ama Anya. Dia tuh selalu aja deketin Nan. Emang sih mereka sepupuan, tapi ngga gitu juga kali,” gerutu Jihan.


“Kamu suka sama Nan?”


“Iya. Dan anya tuh selalu aja bikin aku kesel. Dia tuh caper sama kecentilan banget ama Nan. Ngga cukup apa bang Viren dideketin, Nan juga. Semua aja cowok diembat sama dia.”


Dengan kesal Jihan meninggalkan area pertunjukkan. Moodnya hancur melihat kebersamaan Anya dengan Kenan. Irvin buru-buru menyusul gadis itu.

__ADS_1


☘️☘️☘️


Buat yang nunggu Nick, mohon maaf hari ini ngga up. Anak mamake masih sakit, harap maklum🙏


__ADS_2