
Abi menggenggam erat pisau cutter di tangannya, perlahan dia mengarahkan pisau ke pergelangan tangannya. Semua yang ada di sana menahan nafasnya, tak terkecuali Jojo.
“BERHENTI!!!”
Nina menghambur ke arah Abi kemudian merebut pisau dari tangan suaminya lalu membuangnya. Dia berdiri membelakangi Abi, matanya menatap nyalang ke arah Jojo.
“Bukan mas Abi yang memperkosa Anka.”
“Kamu masih saja membelanya Nin?”
“Tentu saja, dia adalah suamiku. Aku membawakanmu bukti kalau bukan mas Abi yang melakukannya. Buka telingamu lebar-lebar!”
Nina memutar rekaman suara yang tadi didengarnya. Dia menaikkan volume hingga ke posisi tertinggi. Selang beberapa detik kemudian, terdengar suara Anka.
Jojo... kalau kamu dengar rekaman suara ini, berarti aku sudah tidak ada di dunia ini lagi. Maafkan aku Jo (terdengar suara tangisan Anka). Maafkan aku karena meninggalkanmu lebih dulu... maafkan aku karena telah membohongimu... (Anka kembali menangis). Bukan Abi yang telah memperkosaku, aku terpaksa berbohong demi keselamatanmu. Dia mengancamku akan membunuhmu kalau aku menceritakan yang sebenarnya.
Tangan Jojo terkulai mendengarnya. Rayi segera melepaskan diri dari cengkeraman Jojo lalu menghambur ke arah Anfa. Gadis itu menangis dalam pelukan kekasihnya.
Maaf butuh waktu lama untukmu mengetahui semua kebenarannya. Aku harus memastikan kamu benar-benar siap saat mengetahui kebenarannya. Aku tidak mau kamu terluka dan pengorbananku menjadi sia-sia. Aku mohon berikan dia hukuman yang setimpal. Aku sudah menyiapkan bukti kuat untuk menyeretnya ke penjara.
“Anka!!!” teriak Jojo, pria itu jatuh berlutut. Tangisnya pecah, Cakra segera menghampiri sahabatnya itu.
Kamu ingat Jo, saat aku bilang ingin menjadi sutradara, kamu membelikanku kamera film, supaya aku bisa berlatih membuat film. Aku ngga menyangka pemeran utama film pertama yang kubuat adalah diriku sendiri (Anka kembali terisak). Aku ingin merekam suasana di malam hari di sebuah rumah temanku yang sudah lama kosong. Konon di sana sering terjadi penampakan makhluk halus di malam hari. Saat aku baru selesai menyalakan kamera, tiba-tiba dia datang dan melakukan perbuatan bejat itu padaku. Dia merenggut kesucianku, menghancurkan duniaku.
“Aaaaaaggghhhh!!!”
Jojo berteriak kencang diiringi tangisnya. Cakra merangkul erat sahabatnya ini. Matanya pun berkaca-kaca mendengar penuturan pilu Anka. Abi memeluk Nina erat, sebisa mungkin dia menahan amarah sekaligus kesedihan yang menghentak di dalam dada.
Aku tidak pernah menyangka, papa Ronald, orang yang sangat kuhormati dan kusayangi seperti papa sendiri tega menghancurkan diriku. Bahkan setelah hari itu dia terus melakukannya padaku secara paksa. Dia juga mengatakan ingin mempunyai anak dariku. Aku membencinya Jo, sangat membencinya. Dia mengancam akan menyakiti dan membunuhmu jika aku menceritakannya padamu. Dia memintaku memfitnah Abi (suara tangis Anka terdengar begitu menyayat hati).
“Laki-laki brengsek!!” rutuk Abi.
Juna mencengkeram erat lengan sang adik yang terlihat begitu emosi. Nina menghapus airmatanya, dirinya memang belum mendengarkan keseluruhan isi rekaman Anka tadi. Sebagai seorang wanita, dia merasakan betul bagaimana hancurnya perasaan dan hidup Anka saat itu.
Aku minta padamu Jo, berikan dia hukuman yang setimpal. Jangan biarkan dia hidup tenang setelah apa yang dia lakukan padaku.
“Aku akan membunuhnya An! Aku akan membunuhnya!!”
Sekali lagi maafkan aku Jo. Aku tidak cukup kuat menghadapi semuanya sendirian. Aku hanyalah seorang pengecut yang lari dari kenyataan, dan menjadikan bunuh diri sebagai jalan keluarnya. Aku harap kamu menjalani hidupmu dengan baik. Maaf aku telah menghancurkan duniamu. Di malam saat aku membohongimu, aku melihat luka yang begitu besar di matamu. Dan aku yang telah melukaimu, membuatmu membenci sahabatmu sendiri. Maafkan aku.. sampaikan juga maafku pada Abi dan terima kasih karena telah menyelamatkanku. Aku tidak menyesal telah mencintai laki-laki sebaik dia. Bahkan saat nyawa ini meninggalkan raga, aku masih mencintainya. Jaga dirimu baik-baik Jo, aku menyayangimu.
Rekaman suara Anka terhenti. Semua terpaku di tempatnya. Jojo terduduk di lantai dengan kepala tertunduk. Cakra masih setia berada di sampingnya. Tiba-tiba Jojo berdiri, dihapusnya airmata dengan kasar lalu menghampiri Nina. Dia mencabut usb dari tablet.
“Di mana kaset videonya?” pinta Jojo. Nina merogoh saku blousenya kemudian memberikan kaset kecil yang terbalut kotak bening.
“Jo.. lo mau kemana?” tanya Abi.
“Gue harus ketemu bajing*n itu.”
“Jo.. tenang dulu.”
“GUE HARUS KETEMU BAJING*N ITU SEKARANG!!!”
“Gue ikut.”
Jojo tak menghiraukan ucapan Abi, dia bergegas pergi. Abi yang hendak menyusul tertahan gerakan tangan Nina yang mencengkeram lengannya.
“Mas...” Abi menoleh ke arah Nina, dia terkejut melihat wajah istrinya mendadak pucat.
“Kamu kenapa sayang?”
“Perutku sakit..”
“Bi.. kamu urus Nina, biar aku sama Cakra yang nyusul Jojo.”
Juna dan Cakra bergegas menyusul Jojo yang telah lebih dulu pergi bersama anak buahnya. Abi menangkap tubuh Nina yang hampir terjatuh. Dibopongnya tubuh sang istri lalu bergegas menuruni tangga.
☘️☘️☘️
Cakra memandang sendu ke arah sahabatnya yang tengah terpejam. Berkat bujukan Juna, Jojo mau kembali ke apartemen setelah kejadian menegangkan di atap gedung. Tapi dia kembali mengamuk setelah melihat rekaman video pemerkosaan Anka. Juna sampai memanggil dokter pribadi keluarganya untuk menenangkan Jojo.
Setelah mendapatkan suntikan obat penenang, Jojo jatuh tertidur. Cakra meminta Juna pulang karena sedari tadi Nadia tak henti menghubunginya. Dia juga tak memberi tahu kondisi Jojo pada Abi, karena sahabatnya itu sedang menunggui Nina di rumah sakit.
Jojo membuka matanya yang terasa berat. Samar-samar dilihatnya Cakra tengah tertidur dengan posisi duduk di sofa sambil menyandarkan kepalanya ke kepala sofa. Jojo memaksakan diri untuk bangun lalu duduk bersandar ke headboard ranjang. Diambilnya bantal lalu melemparkannya ke arah Cakra. Seketika Cakra terjaga dari tidurnya.
“Bangke lo, gangguin tidur gue aja.”
__ADS_1
“Ngapain lo tidur di sini? Bukannya pulang.”
“Tar lo nangis bombay lagi kalau gue tinggal. Takutnya tetangga lo keganggu sama suara nangis lo yang mirip kucing kejepit.”
“Kampret!!”
Cakra tergelak, dia bangun lalu beranjak menuju dapur. Waktu sudah menunjukkan pukul empat shubuh, tak ada niat untuk meneruskan tidur lagi. Pria itu memilih membuat dua cangkir kopi.
Mencium aroma kopi, Jojo menghampiri Cakra di dapur. Dua cangkir kopi hitam sudah tersedia di atas meja makan. Cakra mengambil pizza dari dalam kulkas yang dipesannya semalam, lalu menghangatkannya dengan microwave. Tak butuh waktu lama, pizza sudah siap disantap.
Cakra menarik kursi di samping Jojo. Keduanya mulai menikmati sarapan yang lebih mirip sahur. Jojo melirik Cakra yang tengah menikmati pizzanya. Dia terlihat santai, seperti tak pernah ada ketegangan antara mereka sebelumnya. Jujur saja, Jojo sangat merindukan momen seperti ini bersama kedua sahabatnya.
“Cak.. menurut lo, Abi bakal maafin gue? Gue udah bikin hancur hidupnya.”
“Kecewa pasti Jo, tapi gue percaya Abi berjiwa besar. Dia pasti bakal maafin elo. Dia juga tahu selama ini hidup lo ngga mudah. Asal lo jangan ganggu Nina lagi.”
Jojo terkekeh, dimasukkan potongan pizza ke dalam mulutnya. Mengingat Nina, Jojo jadi malu sendiri. Betapa dia begitu terobsesi untuk memiliki wanita itu.
“Ya ngga lah, lagian Nina juga ngga mau sama gue. Gue bersyukur Abi mendapatkan perempuan seperti Nina.”
“Apa yang mau lo lakuin sekarang Jo?”
“Gue barusan dapet pesan kalau bajing*n itu mau ke sini hari ini. Gue mau denger dari mulut dia sendiri apa yang udah dia lakuin ke Anka.”
“Jo.. thanks ya, kemarin lo udah selamatin Sekar.”
“Sayang anak buah gue kehilangan jejak orang itu.”
“Gue udah dapet orang itu.”
“Oh ya? Siapa?”
“Dia cuma orang suruhan. Bokap lo yang nyuruh orang itu nyelakain Sekar.”
“What??!!”
Rahang Jojo mengeras, tangannya mengepal kencang. Lagi-lagi dia mendapatkan kenyataan mengejutkan tentang ayah tirinya. Ayah yang selama ini dia hormati dan sayangi dengan sepenuh hati.
“Soal kecelakaan yang menimpa Fahira juga itu sudah direncanakan.”
“Rem mobil Vicko sengaja dirusak. Tapi kita belum tahu siapa pelakunya.”
“Apa mungkin bokap juga?”
“Ngga tau juga Jo. Tapi ada masalah apa bokap lo sama Vicko juga Fahira?”
Jojo hanya mengangkat bahunya. Rasanya dia ingin segera bertemu dengan Ronald, untuk menanyakan pertanyaan yang terus berputar di kepalanya.
☘️☘️☘️
Pukul sembilan pagi, Ronald tiba di apartemen Jojo. Dia terkejut mendapati Cakra juga ada di sana. Setahunya sudah cukup lama Jojo tidak berhubungan dengan Cakra juga Abi setelah dia menerapkan taktik devide et impera pada tiga serangkai tersebut.
“Apa kabar om?” Cakra menjabat tangan Ronald.
“Baik. Gimana kabar kamu?”
“Alhamdulillah baik om. Sebentar lagi saya mau nikah, dateng ya om,” Cakra berbasa-basi, Jojo hanya mendengus melihat tingkah sahabatnya.
“Sana pulang lo, betah banget di sini,” usir Jojo.
“Yakin ngga mau gue temenin?”
“Najis gue ditemenin elo. Sana balik.”
Jojo menendang bokong Cakra sampai keluar apartemen lalu menutup pintunya. Ronald hanya terkekeh melihat tingkah kedua orang tersebut. Dia mendudukkan bokongnya di sofa. Jojo memandang pria berusia 55 tahun itu dengan dada penuh kobaran amarah. Namun sebisa mungkin dia bersikap tenang.
“Papa jadi mau ke makam Anka?”
“Jadi dong.”
“Aku ganti baju dulu pa. Oh iya, aku dapet tawaran kerjasama dari B&G Company. Coba papa lihat dulu company profile mereka.”
Jojo menyalakan televisi dengan remote di tangannya kemudian menghubungkan usb ke layar datar tersebut. Video pemerkosaan Ronald pada Anka sudah dipindahkan ke dalam USB. Dia dan Cakra yang sengaja menyusun rencana ini.
Jojo meninggalkan Ronald di ruang tengah. Dia berdiri di dekat pintu kamarnya menanti detik-detik pria itu melihat kelakuan bejatnya sendiri. Ronald memperhatikan dengan serius layar datar di depannya. Dia sudah lama ingin menjalin kerjasama dengan B&G Company. Film dimulai dengan memperlihatkan hitungan mundur deretan angka.
__ADS_1
Kening Ronald berkerut melihat tayangan di depannya memperlihatkan gambar sebuah kamar yang terlihat familiar. Jantung Ronald seakan melompat keluar ketika adegan berikutnya menayangkan dirinya tengah memaksa Anka untuk memenuhi nafsunya. Wajahnya langsung berubah pucat.
Jojo mengarahkan remote ke televisi lalu mematikannya. Dia tak sanggup harus melihat kembali perbuatan bejat papa tirinya kepada saudara kembarnya. Ronald sontak menoleh ke arah belakang. Tampak Jojo tengah melihatnya dengan tatapan penuh amarah dan kebencian.
“Bagaimana rasanya pa? Bagaimana rasanya mencicipi tubuh anak tirimu sendiri?” tangan Jojo mengepal kencang saat mengatakannya.
Ronald berdiri dari duduknya lalu bergegas menghampiri Jojo. Tak disangka, pria itu duduk bersimpuh di hadapan Jojo.
“Maafkan papa Jo. Maafkan papa.”
“Kenapa pa? KENAPA?!!!”
“Papa mencintai Anka.”
“Aaaagggghhh...”
Jojo mengepalkan tangannya lalu mengayunkannya mengarah pada Ronald. Namun gerakan tangan Jojo hanya menggantung di udara, kemudian dia melampiaskannya dengan memukul dinding di belakangnya. Bagaimana pun juga Ronald adalah orang yang telah membesarkannya setelah papa kandungnya meninggal dunia.
“Maafkan papa. Papa khilaf. Setahun setelah kepergian mamamu, papa kesepian. Melihat Anka yang mirip dengan mamamu, membangkitkan perasaan lain di hati papa. Papa jatuh cinta pada Anka. Hari itu papa khilaf hingga memaksanya berhubungan intim. Setelah itu papa semakin serakah, papa terus ingin menyentuhnya bahkan ingin memiliki anak darinya.”
“Lalu kenapa papa memfitnah Abi?”
“Abi itu pintar juga cerdik, dia akan dengan mudah mengetahui kalau papa yang sudah memperkosa Anka.”
“Karena itu papa memfitnahnya? Memecah persahabatanku dengannya? Membuatku salah paham dan terjerumus dalam dendam?
“Maafkan papa. Semua papa lakukan karena papa takut kehilanganmu. Papa takut kamu meninggalkan papa. Papa sangat menyayangimu Jo, juga Anka.”
“Kalau papa menyayangiku dan Anka, papa tidak akan melakukan hal itu!!!”
Jojo berteriak kencang melampiaskan semua emosi yang membuncah di dada. Tangannya menghancurkan barang-barang yang ada di dekatnya. Ronald masih duduk bersimpuh di lantai. Tak mempedulikan pecahan vas dan gelas yang mengenai tubuhnya. Jika saat ini Jojo membunuhnya pun, dia pasrah. Sudah banyak kesalahan yang dilakukannya pada anak sambungnya itu. Anak yang sangat dia sayangi seperti darah dagingnya sendiri.
“Lalu kenapa papa mencelakai Sekar? Apa untuk membuat kesalahpahaman baru di antara kami?”
“Maaf...”
“Apa papa juga yang telah menyuruh orang untuk merusak rem mobil Vicko?”
“Maaf...”
Jojo meremat rambutnya kencang. Dia sungguh tak mempercayai semua ini. Ronald, pria yang senantiasa bersikap lembut dan penuh kasih sayang ternyata seorang yang licik. Jojo benar-benar tak mengenali pria yang tengah duduk bersimpuh itu.
“Kenapa pa? Kenapa papa membunuh Fahira juga Vicko?”
“Fahira, wanita itu tahu perbuatan papa pada Anka. Saat papa mabuk, secara tidak sadar papa menceritakan perbuatan papa pada Anka dan dia merekamnya. Dia mengancam dan memeras papa. Selain itu, dia juga sudah mengkhianatimu. Dia mempermainkan cintamu. Papa pernah menawarinya sejumlah uang dengan syarat dia mau tidur dengan papa. Dan dia melakukannya. Tak tahan terus menerus diancam olehnya, akhirnya papa memilih untuk menyingkirkannya. Vicko, dia hanya korban tambahan saja.”
Jojo semakin terhenyak mendengar pengakuan Ronlad. Kepalanya seperti dipukul godam besar. Kenyataan tentang Ronald, kenyataan tentang Fahira, semua berputar-putar di kepalanya. Dengan langkah lunglai Jojo berjalan menuju pintu. Dibukanya pintu kemudian mempersilahkan anggota kepolisian yang telah dihubungi Cakra untuk masuk.
“Silahkan tangkap orang itu pak. Ambil juga semua bukti yang ada. Pastikan dia mendekam di penjara seumur hidupnya.”
Dua orang polisi tak berseragam masuk lalu memborgol kedua tangan Ronald. Dua orang lainnya segera mengamankan barang bukti. Ronald digiring keluar dari unit apartemen. Saat melintasi Jojo, pria itu berhenti sebentar.
“Maafkan papa, Jo. Sekali lagi maafkan papa. Jaga dirimu baik-baik, papa sangat menyayangimu.”
Jojo memalingkan wajahnya ke arah lain. Tak sanggup rasanya bersitatap dengan pria itu. Kedua petugas yang menangkap Ronald, segera membawanya pergi. Ronald masih terus melihat ke arah Jojo, berharap anaknya itu sudi melihat ke arahnya untuk terakhir kali. Airmatanya jatuh membasahi pipinya yang mulai terlihat keriput.
Sepeninggal Ronald, Jojo jatuh terduduk di lantai. Tangisnya kembali pecah. Seharusnya dia lega melihat orang yang telah memperkosa Anka dan menjadi penyebab bunuh dirinya sudah tertangkap oleh polisi. Tapi justru perasaan sesak yang menghinggapi hatinya. Tak dipungkiri perasaan sayang pada Ronald masih mendominasi hatinya.
Jojo berdiri kemudian berjalan menuju lift. Tangannya menekan tombol angka 20. Tak lama lift bergerak membawa dirinya menuju lantai tertinggi di gedung ini. Jojo keluar dari lift kemudian menapaki tangga yang akan membawanya ke rooftop.
Jojo terus berjalan mendekati tepian rooftop. Perlahan kakinya menaiki pembatas rooftop yang hanya setinggi betis. Jojo berdiri di atas pembatas rooftop, matanya menatap lurus ke arah depan.
“An.. aku udah berhasil menangkap pria itu. Dia akan membusuk di penjara sampai akhir hidupnya. Maafkan aku tidak bisa menjadi kakak yang baik untukmu. Aku membiarkanmu menjalani semua penderitaan yang disebabkan orang itu sendirian. Tapi kamu bisa beristirahat dengan tenang sekarang. An.. tunggu aku, aku akan menyusulmu.”
Jojo memejamkan matanya seraya merentangkan kedua tangannya. Wajahnya tersenyum membayangkan Anka tengah menanti dirinya. Perlahan Jojo mencondongkan tubuhnya ke bawah, dia bersiap untuk menjatuhkan diri.
☘️☘️☘️
**Congratulations kalian bisa menebak dengan benar kalau pelaku sesungguhnya adalah papa tiri Jojo👏👏👏
Maaf ya Jo.. kamu diem aja dulu di situ. Mamake mau tahun baruan dulu sama bapake🤭
Terima kasih buat semua yang terus mendukung karya mamake. Kita bertemu lagi tahun depan ya😁
Happy New Year🥳🥳🥳**
__ADS_1