
Anya berkeliling ruang kerja Hanna sambil memperhatikan satu per satu benda yang ada di sana. Hanna pusing sendiri melihat tingkah saudara sepupunya itu. Konsentrasinya sedikit terganggu oleh ulah Anya.
“Nya.. kamu lagi ngapain sih? Dari tadi muter-muter mulu kaya mandor. Ngga pusing apa?”
“Aku lagi nyari sesuatu, kak.”
“Nyari apaan sih?”
Anya tak menjawab pertanyaan Hanna. Dia meneruskan inspeksinya. Gadis itu lalu berjalan mendekat ke meja kerja Hanna. Kali ini Anya membuka laci yang ada di sana. Laci pertama tak ditemukan apa-apa. Begitu pula dengan laci kedua. Saat dia membuka laci ketiga, teriakannya terdengar ketika menemukan benda yang dicarinya.
“Gotcha!”
Tangan Anya terulur mengambil figura dengan gambar Tozaki di dalamnya kemudian menggoyang-goyangkannya ke arah Hanna. Refleks Hanna mengambil figura tersebut lalu memasukkan kembali ke tempat semula.
Setelah figura di tangannya berhasil diambil oleh Hanna, kini perhatian gadis itu beralih pada ponsel Hanna yang tergeletak di atas meja. Dengan cepat Anya menyambar ponsel tersebut. Walau tak tak bisa membuka kunci ponsel, namun dia bisa melihat wallpaper yang terpasang. Foto Hanna dan Barra yang terpasang di sana.
“Widih.. foto mantan masih tersimpan rapih di laci meja, foto calon masa depan ada di wallpaper hp,” ledek Anya.
“Ampun ya. Kepo banget, lo! Balik sana! Gangguin gue kerja aja.”
Anya hanya tergelak mendengar gerutuan Hanna. Sepupunya itu lalu mengambil ponsel yang ada di tangannya. Gadis itu kemudian berjalan ke arah sofa lalu mendudukkan diri di sana. Hanna ikut menyusul ke sofa, percuma juga meneruskan pekerjaan kalau ada Anya yang selalu mengganggunya.
“Jadi gimana kak? Balikan ama Toza apa move on sama bang Barra?”
“Ngga tau, aku bingung.”
“Kenapa bingung?”
Hanna memandang Anya sejenak. Sejak kedatangan Tozaki, gadis itu mulai galau. Perjuangannya melupakan mantan terindahnya itu seakan terhenti begitu saja ketika pria itu tiba-tiba muncul di hadapannya. Harus Hanna akui, masih ada sisa perasaan untuk Tozaki di hatinya.
“Kak..” panggilan Anya menghentikan lamunan Hanna. Gadis cantik itu kembali fokus pada Anya.
“Toza ngajak balikan.”
“Serius? Terus gimana?”
“Ngga tau. Aku bingung, Nya. Terus terang aja, kalau ditanya perasaan. Aku emang masih sayang ama Toza. Tapi di sisi lain, aku juga udah mulai nyaman sama bang Barra.”
“Lah terus piye?”
Hanna hanya mengendikkan bahunya. Dia teringat saat Tozaki mengajaknya menjalin hubungan kembali. Untuk menunjukkan keseriusannya. Tozaki juga bersedia berpindah keyakinan, mengikuti keyakinan Hanna.
“Emang papi setuju? Kakak tau sendiri kan alasannya apa?”
“Dia mau ngikutin keyakinan aku, Nya. Dia juga udah sunat sebelum ke sini.”
“Widih.. serius ini, doi mau balikan. Wah bang Barra punya saingan berat ini. Tapi sorry ya kak, aku bakalan tetap dukung bang Barra.”
“Jujur, aku bingung, Nya. Di satu sisi, aku seneng Toza ngajak balikan dan serius mau nikah sama aku. Di sisi lain juga aku ngga tega sama bang Barra. Dia baik banget.”
“Perasaan kak Hanna gimana sebenarnya? Kendala kakak bisa nikah sama Toza udah ngga ada lagi. Kalau kakak emang masih sayang sama dia, ya udah tinggal nikah aja. Soal bang Barra, ya pasti dia bakalan kecewa. Lebih baik kakak bilang sama bang Barra kalau ngga bisa lanjutin hubungan sama dia. Jangan sampai dia berharap sama kakak tapi ujung-ujungnya cuma pepesan kosong aja yang didapet.”
“Ngga semudah itu, Nya.”
Hanna menarik nafas dalam-dalam. Memilih Tozaki atau Barra dalam waktu dekat ini, tak bisa dilakukannya. Selain masih bingung, dia juga belum percaya sepenuhnya pada Tozaki, dan belum mau kehilangan Barra. Egois memang, tapi ini yang dirasakannya. Gadis itu perlu waktu lebih banyak untuk berpikir dan mengambil keputusan.
“Selain masalah keyakinan, alasan kita putus waktu itu karena Toza ngga percaya dengan komitmen. Selama pacaran, dia ngga pernah terbuka sama aku. Dia tertutup kalau soal privasi. Masalah perceraian orang tua yang bikin dia trauma untuk berkomitmen juga baru dia bilang pas kita mau putus. Aku takut, nanti pas nikah keadaan juga ngga berubah. Kamu tahu kan, kalau komunikasi itu salah satu pondasi penting dalam berumah tangga. Kalau dianya berjarak sama aku, gimana kita bisa menjalani rumah tangga dengan benar.”
Anya mendengarkan dengan seksama. Sesekali dia menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal. Dirinya yang belum pernah merasakan jatuh cinta, bingung sendiri dengan kegalauan yang Hanna rasakan. Baginya kalau sebuah hubungan sudah berakhir, ya berakhir saja. Tapi entahlah, sekali lagi, gadis itu belum pernah merasakan cinta dan belum pernah punya mantan, jadi tak mengerti dengan cinta lama yang belum kelar.
“Maaf ya kak, aku belum punya pengalaman soal beginian. Kakak udah curhat belum sama mimi? Secara orang tua kan pengalamannya lebih banyak dari kita.”
“Belum, Nya. Aku takut kalau curhat sama mimi terus bilang ke pipi. Mereka pasti bakal condong milih bang Barra. Sedang aku maunya kalau memang aku sama bang Barra, murni karena perasaanku sendiri, bukan paksaan dari orang tua. Dan kalau aku nolak Toza, benar-benar karena pertimbanganku sendiri.”
“Hadeuh.. repot, cyinn..”
Anya menyandarkan punggungnya ke sofa. Dia jadi ikutan pusing mendengar cerita Hanna. Apalagi membayangkan Barra tahu soal ini, pria itu pasti akan sedih, bisa jadi nangis guling-guling. Sudah ditolak Freya, sekarang ditolak Hanna juga.
“Kak.. seandainya ngga ada bang Barra, apa kakak bakal langsung terima lamaran Toza?”
“Belum tentu juga. Kan alasannya seperti yang aku bilang tadi.”
“Nah kalau seandainya bang Barra yang ngajakin nikah. Tanpa ada Toza ngajakin balikan, gimana?”
“Hmm.. mungkin aku bakalan terima. Dia kan laki-laki yang baik, aku juga udah kenal dekat sama keluarganya. Pipi sama om Jo juga sahabatan, pokoknya ada banyak hal yang bikin aku jawab iya.”
“Nah… terus apa yang dibuat bingung?”
“Itu kan kalau ngga ada Toza. Tapi kan sekarang ada Toza.”
Keduanya kembali terdiam. Anya melirik Hanna yang nampak frustrasi. Sudah hampir seminggu gadis ini menolak ajakan Barra juga Tozaki. Dia masih ingin menenangkan diri dan jauh dari kedua pria itu.
“Papi pernah bilang, ada empat situasi tentang jodoh. Satu, kita saling cinta dan bisa menikah. Dua, kita saling cinta tapi ngga bisa nikah. Tiga, kita ngga cinta tapi kita bisa menikah dengannya. Empat, kita ngga cinta dan ngga bisa menikah dengannya. Menurut kakak, Toza sama bang Barra ada di mana?”
Hanna terdiam merenungi ucapan Anya. Jika dulu, dirinya dan Toza ada di posisi kedua. Tapi sekarang, Toza sudah meruntuhkan penghalang yang ada, namun entah mengapa gadis itu masih meragu. Sedang Barra, mungkin berada di posisi tiga. Tapi soal tak ada perasaan, tak sepenuhnya benar. Nyatanya Hanna merasakan cemburu melihat pria itu berdekatan dengan gadis lain.
“Saran aku, coba kakak obrolin sama yang lebih pengalaman. Dan tanya hati kakak lagi, di antara Toza dan bang Barra, siapa yang paling membuat kakak takut kehilangan. Aku balik dulu ya kak, ada kuliah.”
“Iya, makasih ya, Nya. Makasih udah mau dengerin curhatanku dan kasih saran.”
__ADS_1
“No problem, sista. Aku balik ya, papay.”
Anya berdiri dari duduknya seraya menyampirkan tasnya ke bahu. Gadis itu melambaikan tangannya ke arah Hanna sebelum melangkah keluar dari ruangan. Bergegas dia menuju lift, Kenan sudah menunggunya di basement.
☘️☘️☘️
Setelah hampir dua jam berkutat dengan pembahasan materi yang membosankan dan membuat kening berkerut, mata kuliah panjang nan membosankan berakhir sudah. Semua mahasiswa yang mengikuti perkuliahan sore ini, bersiap pulang setelah sang dosen keluar dari kelas.
“Nya.. gue tunggu di parkiran,” celetuk Kenan yang hanya dijawab dengan anggukan.
Anya masih membereskan barang-barangnya ketika Jihan datang menghampiri. Gadis itu duduk di kursi depan meja Anya dengan posisi menghadap gadis itu. Anya memasukkan tablet ke dalam tasnya, lalu melihat ke arah Jihan.
“Nungguin gue?”
“Iya. Gue mau minta tolong.”
“Mintol apaan?”
“Bang Irvin kan dua hari lagi ultah. Gue pengen kasih surprise buat dia, eh bokap tiba-tiba ngajakin liburan keluarga. Lo bisa ngga gantiin gue kasih surprise ke dia? Lo kan lumayan deket sama bang Irvin.”
“Hmm.. gue udah ada janji. Eh bentar, ultah bang Irvin sama kak Hanna kan barengan ya, kok gue sampe lupa.”
“Iya, mereka kan lahirannya barengan. Cuma beda sejam gitu,” jawab Jihan.
“Iya bener. Dari kecil mereka juga deket, udah kaya anak kembar beda emak sama bapak, hihihi..”
“Jadi gimana Nya? Bisa ngga?”
“Hmm.. bisa deh. Lo mau kasih surprise kaya gimana?”
“Kalau gue sih baru kepikiran kasih kue ultah doang. Terserah elo aja deh, gimana bagusnya. Tapi jangan sampai dia curiga.”
“Ok deh, tar gue pikirin. Sekalian gue juga lagi siapin surprise party buat kak Hanna.”
“Thanks ya, Nya.”
“Sama-sama. Gue cabut duluan ya. Tar si kompor mledug ngomel-ngomel kalo kelamaan nunggu.”
Anya mengangkat tasnya lalu menyampirkannya ke bahu kemudian keluar dari kelas, mendahului Jihan tanpa gadis itu sadari suasana hati Jihan memburuk begitu mendengar soal Kenan. Tak lama gadis itu menyusul langkah Anya.
Baru saja beberapa langkah, Anya merasakan bahunya dirangkul seseorang. Dia menolehkan wajahnya, Revan dengan santainya mengalungkan lengannya di pundak Anya. Di samping kirinya, Haikal juga berjalan bersisian dengannya. Ketiganya terus melangkah melewati tiga orang mahasiswi yang tengah duduk di kursi yang ada di koridor.
“Cih.. sebel gue lihat Anya. Sok laku banget,” cetus salah satunya.
“Ember.. perasaan semua cogan nempel ama dia. Kenan, Revan, Haikal. Kak Viren yang dingin kaya freezer berjalan aja bisa segitu nempelnya ama dia. Padahal kalau sama cewek lain, jangankan ngobrol, senyum aja ngga pernah.”
“Au.. pake pelet kali dia.”
“Udah nembak malah, tapi ditolak.”
“Kak Prabu emang ganteng sih, tapi berat lah kalo saingannya Kenan.”
“Tapi yang bikin sebel, udah dapet Kenan, kenapa Revan sama Haikal diembat juga.”
Pembicaraan seputar Anya terus berlangsung. Anya yang supel, membuatnya dengan mudah disukai oleh banyak orang. Namun tak sedikit juga yang tak menyukainya. Apalagi banyak pria yang menyukai gadis itu. Namun Anya tak pernah menerima pernyataan cinta para lelaki yang mencoba mendekatinya. Apalagi ada Kenan yang setia menjadi bodyguardnya. Hingga tersiar kabar di kampus kalau Anya dan Kenan berpacaran.
Obrolan ketiganya terhenti ketika Jihan melintas di depan mereka. Setelah gadis itu menjauh, pembicaraan kembali terjadi. Suasana bertambah ramai ketika dua orang pria mantan pemuja Anya bergabung. Didorong kecemburuan dan kekecewaan akan penolakan Anya, kelima orang tersebut merencanakan sesuatu untuk mengerjai Anya.
“Beneran nih mau ngerjain si Anya?”
“Iya, kali-kali tuh anak harus dikerjain, biar ngga kecentilan sama kepedean.”
“Betul tuh. Kalian punya ide apa?”
Salah seorang pemuda korban penolakan Anya, memberi tanda untuk mendekat. Dia mengatakan apa yang direncanakannya. Awalnya mereka tidak percaya dengan apa yang dikatakan pemuda itu.
“Seriusan lo? Tahu info dari mana?”
“Gue denger pake kuping gue sendiri waktu dia lagi ngobrol sama Kenan.”
“Ya udah kalo gitu, jalanin aja rencana itu. Soal Kenan, nanti gue yang bakal alihin perhatiannya. Gue juga bakalan ngajakin Prabu.”
“Bolehlah. Biar tahu rasa tuh cewek.”
Kelima orang tersebut menganggukkan kepalanya. Membayangkan rencana mereka mengerjai Anya berhasil membuat mereka menyunggingkan senyuman.
☘️☘️☘️
“Bang..”
Anya menarik tangan Irvin yang baru saja akan memasuki lift. Sehari sebelum acara surprise untuk Hanna, Anya mendatangi kantor Barra. Dia perlu menambah acara kejutan untuk Irvin, sesuai permintaan Jihan.
“Bang.. besok ngga ada acara kan? Bantuin aku yuk.”
“Ada sih.”
“Yah.. batalin bisa ngga? Aku sama bang Barra lagi mau bikin surprise party buat kak Hanna. Aku mau minta bantuan abang. Kasihan bang Barra, akhir-akhir ini hubungannya sama kak Hanna renggang gara-gara Toza. Mau ya bang?”
Anya menangkupkan kedua tangannya seraya mengedip-ngedipkan mata seperti puppy eyes. Irvin terdiam sejenak, sebenarnya besok dia berencana ke makam Nabila, ibu kandungnya. Semenjak Radix menceritakan tentang siapa ibu kandungnya, Irvin selalu menyempatkan diri mengunjungi makam sang ibu di hari ulang tahunnya. Tapi mendengar alasan Anya, dia memutuskan mengunjungi makam setelah membantu Anya. Pria itu menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
“Yess! Makasih ya bang. Besok bisa jemput aku di rumah, ngga? Jam Sembilan pagi.”
“Ok.”
Senyum Anya mengembang, selain mendapat bala bantuan menyiapkan kejutan untuk Hanna, gadis itu juga berhasil membuat Irvin masuk dalam rencananya. Sekarang tinggal menyiapkan kue ulang tahun untuk pria itu. Anya segera berpamitan pada Irvin. Dia harus segera pulang.
☘️☘️☘️
Sejak habis shubuh, Anya berkutat di dapur membuat kue untuk ulang tahun Irvin. Gadis itu membuat black forest yang akan dihias secantik mungkin olehnya. Sekar yang hendak membuat sarapan, melihat ke arah anaknya yang tengah membuat adonan kue.
“Kamu lagi ngapain?”
“Bikin kue ulang tahun.”
“Buat siapa?”
“Ish mami, kepo aja. Ngga usah kepo, mi. nanti rorombeheun.”
“Dih..”
Sekar melanjutkan kegiatannya membuat sarapan untuk keluarganya dibantu oleh asisten rumah tangganya. Sesekali dia melirik ke arah Anya yang masih sibuk dengan mixer dan loyangnya. Walau anak bungusnya itu belum terlalu pandai memasak, namun untuk urusan membuat kue, harus Sekar akui, kue buatan anak gadisnya itu tak pernah gagal dan rasanya enak.
Anya memasukkan kue yang telah jadi ke dalam kulkas. Dia perlu mendinginkan kue sebelum dihias. Setelah itu, dia bergabung dengan yang lain di meja makan. Selama sarapan, gadis itu hanya mendengarkan saja cerita Aric tentang persiapan pernikahannya.
Usai sarapan, gadis itu kembali berkutat dengan kuenya. Pelan-pelan dia menghias kue dengan butter cream juga coklat blok yang sudah dicairkan. Di atas kue, dia menuliskan Happy Birthday Irvin. Tak lupa, menancapkan lilin dengan angka 24 di atasnya. Puas dengan hasil kerjanya, dia memasukkan kue ke dalam dus. Kemudian gadis itu memesan layanan ojek online.
Lima menit kemudian, ojek yang dipesannya tiba. Dia membawa dus berisi kue dan meminta sang driver mengantarkan pesanan ke alamat tujuan dengan hati-hati. Jangan sampai hasil kerja kerasnya rusak. Selesai urusan dengan kue, gadis itu bergegas menuju kamarnya untuk bersiap. Sebentar lagi Irvin akan menjemputnya.
☘️☘️☘️
Irvin menghembuskan nafas kasar, akhirnya persiapan pesta kejutan selesai sudah. Sejak pagi, ada saja yang diminta Anya padanya. padahal bukan hanya Anya yang menyiapkan pesta. Barra memang berencana mengadakan surprise party di vila milik ayahnya yang ada di Lembang. Rencananya ini dibantu Anya and the gank.
Pesta barbeque sudah siap di halaman belakang. Para tamu undangan yang terdiri dari para sahabatnya juga sudah bersiap di vila. Hanya saja mereka bersembunyi sebelum sang empu hajat memberikan kejutan.
Anya menarik Irvin ke salah satu tempat yang sepi untuk bersembunyi, ketika mobil yang dikendarai Barra berhenti di depan vila. Hati-hati pria itu membantu Hanna turun. Kedua mata gadis itu tertutup kain hitam. Barra menuntun Hanna masuk ke dalam vila, terus menuju ke halaman belakang.
Barra menghentikan langkahnya. Dia mengarahkan Hanna di posisi yang sudah disiapkan olehnya. Kemudian pria itu memberi tanda pada Anya. Perlahan dia membuka penutup mata Hanna. Beberapa saat Hanna mengerjapkan matanya. Pemandangan malam hari langsung menyapa indra penglihatannya. Namun dia dikejutkan dengan suara ledakan diiringi pendaran warna-warni di langit gelap. Pendaran cahaya itu kemudian membentuk tulisan HAPPY BIRTHDAY HANNA.
“Happy birthday to you.. happy birthday to you.. happy birthdap dear Hanna.. happy birthday to you.”
Belum hilang keterkejutan Hanna akan pendaran kembang api. Dia dikejutkan lagi dengan kedatangan sahabat dan para sepupunya. Haikal membawa kue ulang tahun di tangannya lalu berhenti di depan Hanna.
“Happy birthday, kak.”
Hanna tak mampu berkata-kata. Dia sungguh bahagia mendapat pesta kejutan ini. Selama di Jepang, gadis itu tak pernah merayakan ulang tahunnya. Tozaki juga tak pernah memberikan surprise seperti ini padanya.
“Make a wish kak. Terus tiup lilinnya.”
Hanna memejamkan matanya, mengucapkan apa yang menjadi keinginannya dalam hati. Barra tak melepaskan pandangannya dari Hanna, sambil berharap ada namanya dalam doa yang diucapkan gadis pujaannya itu. Selesai berdoa, Hanna membuka matanya lalu meniup lilin. Tepuk tangan langsung terdengar setelahnya.
“Makasih ya, Kal.”
“Jangan makasih sama gue kak. Gue mana mau repot bikin surprise party kaya gini. Noh, bang Barra yang rencanain.”
“Beneran bang?”
Barra hanya menganggukkan kepalanya. Dia lalu mengajak Hanna dan lainnya menyicipi hidangan yang sudah tersedia. Anya mengajak Irvin makan lebih dulu karena pria itu tiba-tiba saja pamit pulang. Seharian ini, Anya selalu saja membuatnya sibuk dan tak sempat mengunjungi makam. Dari pada mendengar rengekan gadis itu, Irvin pun menurutinya.
Di saat yang lain tengah menikmati makanan, Barra menarik tangan Hanna ke tempat yang agak sepi. Beberapa kali pria itu menarik dan menghembuskan nafas panjang. Ada sesuatu yang ingin disampaikannya pada Hanna.
“Han..”
“Iya bang.”
“Kamu suka ngga dengan pestanya?”
“Suka, bang. Makasih ya.”
“Syukur deh kalau kamu suka. Ehm.. Han..”
Barra merogoh saku celananya, mengambil kotak kecil beludru berwarna hitam dari dalamnya. Kemudian pria itu berlutut di hadapan Hanna seraya mengulurkan kotak di tangannya. Hanna membeku melihat apa yang dilakukan Barra.
“Hanna.. aku tahu kalau kedekatan kita baru terjalin. Tapi aku sudah merasa nyaman denganmu. Dan kamu sudah membuatku merasakan seperti apa jatuh cinta. Aku mau hubungan kita terus berlanjut dan tak terpisahkan. Hanna.. will you marry me? Will you be a mother of my child (Hanna, maukah kamu menikah denganku? Maukah kamu menjadi ibu dari anakku?).”
Hanna hanya diam membisu. Hal yang ditakutkannya terjadi. Di saat hatinya belum bisa memilih kemana kakinya akan berpijak, Barra sudah melamarnya. Untuk sesaat suasana hening melanda, Barra masih bertahan di tempatnya, menatap Hanna yang masih terdiam. Sejurus kemudian, gadis itu menurunkan tubuhnya sejajar dengan Barra.
“Bang.. maaf.. aku.. aku belum bisa kasih jawabannya sekarang.”
Kekecewaan nampak di wajah Barra. Namun sebisa mungkin pria itu menyembunyikannya dengan senyum samar. Dia menutup kotak berisi cincin kemudian berdiri seraya menarik tangan Hanna.
“Ngga apa-apa, Han. Kamu ngga harus menjawabnya sekarang. Pegang saja cincin ini, kalau kamu menerima lamaranku, pakai cincin ini di jarimu. Kalau kamu menolaknya, kembalikan saja padaku. Aku tidak memberi batasan waktu, kamu boleh mengambil waktu selama yang kamu butuhkan. Aku akan selalu menunggu jawabanmu.”
“Terima kasih, bang. Maaf..”
“Jangan bilang maaf. Kamu kan belum nolak aku. Ayo kita ke yang lain.”
Barra meraih tangan Hanna kemudian menariknya kembali ke halaman belakang. Bergabung bersama yang lainnya yang tengah menikmati hidangan, tanpa mereka tahu penggagas pesta ini sedang merasakan kegalauan karena nasib cintanya tengah digantung oleh sang pujaan hati.
☘️☘️☘️
__ADS_1
Mohon maaf kemarin ngga bisa up. Selain anak masih sakit, laptop juga ikutan hareeng, jadi we ngga bisa ngetik🙏