
“Jelaskan kenapa kamu memutuskan untuk membatalkannya?!” Abi membanting berkas ke atas meja.
“Maaf pak. Saya baru menemukan kalau ternyata Angela melakukan beberapa kecurangan untuk mendapatkan beberapa proyek sebelum bekerja sama dengan kita. Dan ternyata kondisi keuangan perusahaannya saat ini tak memungkinkan untuk meneruskan kerjasama, dikhawatirkan akan memberikan dampak finansial pada perusahaan kita dan beberapa rekan bisnis lainnya.”
“Kenapa baru sekarang kamu melaporkannya? Kenapa tidak sejak awal? Apa kamu lupa kalau beberapa hari lagi proyek ini akan segera dikerjakan? Berapa kerugian yang harus kita tanggung kalau sampai proyek ini tertunda?”
“Maaf pak, saya memang salah tidak mengecek sebelumnya. Tapi saya tetap akan membatalkan proyek dengan Angela karena resiko kerugian yang kita tanggung nantinya akan lebih besar kalau diteruskan, belum lagi nama baik perusahaan menjadi taruhannya. Saya akan segera mencari partner pengganti agar proyek tetap berjalan sesuai rencana.”
“Saya pegang kata-katamu. Temukan partner pengganti dalam waktu dua hari!”
Anfa menganggukkan kepalanya kemudian berdiri dari duduknya. Secepatnya pemuda itu keluar dari ruangan atasannya. Memikirkan partner pengganti dan juga masalahnya dengan Rayi seketika membuat kepalanya hendak meledak.
☘️☘️☘️
Angela membuang semua barang-barang yang ada di dekatnya. Tadi siang dia mendapatkan kabar kalau Anfa sudah membatalkan semua proyek yang tengah digarapnya, termasuk proyek bersama Metro East yang diyakini akan memberikan keuntungan besar untuknya.
Kesialannya bertambah saat sang ayah menghubunginya. Jika dia tak bisa mengembalikan semua proyek yang lepas maka dirinya akan dicopot jabatannya sebagai wakil direktur utama.
“Anfa brengsek!! Beraninya bocah itu mempermainkanku. Aku akan membuat perhitungan denganmu!!”
Angela masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Yang ada di kepalanya saat ini adalah menemui Anfa dan mendapatkan proyeknya kembali. Tidak peduli jika harus dengan cara menggoda, mengancam atau menjebaknya, yang penting proyek tersebut harus kembali ke tangannya.
Usai dengan aktivitas mandinya, Angela memilih pakaian yang dapat menunjang usahanya. Pilihan jatuh pada blouse berleher rendah yang memperlihatkan beberapa bercak merah di bagian atas dadanya. Semalam dia menyewa jasa pria penghibur untuk menuntaskan hasratnya dan meminta meninggalkan jejak kepemilikan di sana.
Setelah penampilannya dirasa sempurna, Angela menyambar tas Prada miliknya kemudian melenggang pergi meninggalkan unit apartemennya yang sudah seperti kapal pecah. Tujuan pertamanya kali ini adalah menemui Anfa.
Mobil yang dikendarai Angela tiba ketika motor Anfa baru saja keluar dari basement gedung kantor. Wanita itu kembali menjalankan kendaraannya untuk menyusul pemuda itu. Angela menambah kecepatan mobilnya kemudian menyalip Anfa dan berhenti beberapa meter di depannya. Dengan cepat Anfa mengerem kendaraannya. Bunyi berdecit terdengar ketika ban motornya bergesekan dengan aspal. Angela turun dari mobil lalu menghampiri Anfa. Pemuda itu melepas helmnya.
“Anfa, kenapa kamu membatalkan semua proyekku?”
“Karena perusahaanmu ngga layak mendapatkan proyek itu.”
“Cih.. apa kamu tahu kalau aku adalah rekan bisnis istimewa Teddy Hikmat, pemilik perusahaan tempatmu bekerja. Beraninya kamu membatalkan proyek itu, apa kamu siap bertanggung jawab di hadapannya?”
“Aku ngga peduli.”
“Jangan mengujiku, Fa. Kembalikan proyekku selagi aku memintanya dengan baik atau kamu akan menyesal.”
“Silahkan saja.”
Anfa mengenakan kembali helmnya kemudian menjalankan kendaraannya. Dia mengambil arah sedikit melebar untuk melewati mobil Angela kemudian meluncur pergi menuju kampusnya. Hari ini adalah tenggat terakhir pengumpulan tugasnya.
Angela menghentakkan kakinya kesal lalu menuju mobilnya. Tak ada cara lain untuk mengembalikan proyeknya selain menemui Teddy. Melalui Teddy, dia yakin kalau proyeknya akan kembali, dan juga bisa menyingkirkan Anfa atau menjadikan pemuda itu miliknya. Dengan kecepatan tinggi, Angela memacu kendaraannya menuju kediaman salah satu orang terkaya di Asia.
Kedatangan Angela disambut oleh bi Sari. Wanita paruh baya itu meminta Angela menunggu di ruang keluarga, sesuai amanat sang tuan rumah. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya pasangan suami istri yang selalu terlihat rukun dan harmonis itu menemui tamunya. Keduanya duduk berhadapan dengan Angela. Mata Rahma langsung menangkap bercak merah keunguan di bahu juga dada bagian atas wanita di hadapannya.
“Ada apa menemui saya di sini, Angela?” tanya Teddy dengan ramah.
“Maaf om, saya hanya ingin menanyakan tentang proyek saya.”
“Kamu harusnya menemui Abi di kantornya, bukan kemari. Semua tanggung jawab yang berhubungan dengan Metro East sudah menjadi tanggung jawab Abi,” jawab Rahma.
“Saya tidak bisa menemui Abi, karena selalu dihalangi Anfa. Dia juga telah membatalkan proyek kerjasama kita secara sepihak. Saya hanya menuntut keadilan di sini. Karena Anfa, perusahaan saya hampir merugi.”
Teddy dan Rahma saling berpandangan. Rahma bangkit dari duduknya untuk menuju kamarnya. Di sana wanita paruh baya itu menghubungi ketiga anaknya untuk datang ke rumah. Dia juga menghubungi Anfa, namun tak ada jawaban darinya. Rahma kembali ke tempatnya semula.
“Tante sudah menghubungi Abi, sebentar lagi dia sampai. Ayo dimakan dulu.”
Rahma mempersilahkan Angela menikmati teh dan juga aneka kue yang disuguhkan sang empu rumah. Dalam hatinya tersenyum senang, penyambutan Teddy dan Rahma begitu baik padanya. Sepertinya dewi fortuna tengah berpihak padanya.
Sepuluh menit berlalu, terdengar suara kendaraan berhenti di halaman rumah Teddy. Tak berapa lama, Cakra masuk. Pria itu menghampiri Teddy dan Rahma kemudian mencium punggung tangannya. Sekar yang mengetahui kedatangan suaminya segera menyambutnya.
“Abang tumben pulang cepet,” Sekar mencium punggung tangan Cakra yang dibalas dengan kecupan di kening.
“Mama telepon, katanya harus pulang sekarang.”
Cakra menghela pinggang Sekar, mengajaknya duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tengah. Sekar berdecih melihat penampilan Angela. Tak lama Juna dan Nadia datang, pasangan itu memilih duduk di dekat Sekar dan Cakra. Terakhir Abi dan Nina tiba. Sekilas Abi melirik ke arah Angela yang melihatnya dengan tatapan menggoda kemudian mendudukkan diri di sofa yang ada di samping kiri kedua orang tuanya.
“Ada apa ma?” tanya Abi ketika bokongnya baru saja menyentuh sofa. Pria itu memang tak pernah berbasa-basi.
“Kata Angela, Anfa membatalkan semua proyeknya.”
Nina cukup terkejut mendengar ucapan Teddy. Tak menyangka kalau sang adik terseret dalam pembicaraan kali ini. Biasanya jika sang mertua mengharuskan semua anggota berkumpul, maka ada hal serius yang terjadi. Nyonya Abimanyu itu menoleh ke arah Angela, dan saat yang bersamaan Angela pun menatap ke arahnya.
Raut wajah Angela sedikit terkejut saat melihat Nina. Wajahnya mirip dengan Anfa. Hatinya mulai tak tenang, dipikirnya Anfa hanyalah pegawai biasa yang akan dengan mudah disingkirkan. Tapi sepertinya ada hubungan lain antara pemuda itu dengan keluarga ini.
“Biar nanti Anfa yang menjelaskan,” sahut Abi.
“Kamu menyetujuinya, Bi?” tanya Juna.
“Keputusan itu ngga akan keluar kalau aku ngga acc, kak.”
__ADS_1
Jawaban datar Abi sukses mengejutkan Angela. Kembali wanita itu melihat ke arah pria tersebut. Abi balas melihat Angela dengan tatapan dinginnya. Angela semakin tak enak hati. Sepertinya kali ini dirinya salah perhitungan. Dia meraih gelas kemudian membasahi kerongkongannya untuk menghilangkan kegugupan.
“Anfa sudah bisa dihubungi?” suara Teddy kembali terdengar.
“Lagi di jalan pulang pa, dia ke kampus dulu,” jelas Sekar.
Wanita cantik yang saat ini tengah mengandung buah hatinya bersama Cakra melihat Angela yang semakin gugup. Wajahnya tersenyum namun penuh dengan intimidasi.
Ketegangan Angela sampai ke puncaknya saat terdengar suara motor memasuki pekarangan rumah. Untuk beberapa saat wanita itu menunggu dalam keadaan tegang. Kemudian terdengar suara mengucapkan salam. Suara yang membuat hatinya berdebar, bukan berdebar karena perasaan cinta tapi berdebar seperti menunggu hukuman mati tiba.
Anfa memasuki ruang tengah. Dihampirinya orang-orang yang dihormati dan disayanginya kemudian mencium punggung tangan mereka satu per satu. Sekar menyodorkan tangannya ke arah Anfa yang langsung ditepuk oleh pemuda itu. Sekar tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya. Anfa melihat malas ke arah Angela kemudian mendudukkan diri di sebuah sofa single.
“Anfa.. apa benar kamu membatalkan semua kontrak Angela?” Teddy membuka pembicaraan.
“Iya pa, maaf.”
“Kenapa?”
“Maaf sebelumnya kalau aku lalai memeriksa soal Leslie Corp. Karena itu rekan bisnis bawaan papa yang membantu proses merger Maesya Dunia, aku ngga cek and ricek lagi. Tapi ternyata banyak ketidaksesuaian data yang diberikan dengan kenyataan di lapangan. Makanya aku memutuskan secara sepihak kontraknya. Ditambah lagi, ternyata Angela kerap memenangkan tender dengan jalan tidak sah, tidak melalui prosedur legal. Papa pernah berpesan kalau kita tidak boleh menjalin hubungan bisnis dengan orang seperti itu bukan?”
Teddy hanya manggut-manggut mendengarkan penjelasan panjang lebar Anfa. Cakra tersenyum senang, hasil didikannya selama ini membuahkan hasil. Juna pun melihat bangga pada pemuda itu. Nina masih terlihat cemas, dia merasa seperti ada sesuatu yang direncanakan Angela terhadap Anfa. Sedang Abi tetap bertahan dengan wajah datarnya.
“Kamu dengar sendiri penjelasan Anfa, Angela.”
“Itu fitnah om. Anfa sengaja melakukannya untuk menyingkirkannya saya.”
Nina menatap tajam pada Angela, emosinya sudah mulai terpancing mendengar kata-kata perempuan ular itu. Angela pun tak bisa mundur lagi, sudah terlanjur basah, lebih baik terjun sekalian.
“Semalam Anfa sudah memaksakan keinginannya pada saya om.”
“Dasar perempuan gila! Bisa-bisanya kamu memutar balik keadaan,” geram Anfa.
“Lihat ini! Semua tanda merah ini adalah hasil perbuatannya!!” teriak Angela.
Dengan tanpa malu Angela melebarkan bagian kerah blousenya demi memperlihatkan deretan tanda merah di sana. Para pria di ruangan langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. Mata Anfa membulat, kekesalannya pada Angela semakin memuncak. Nina sudah tak dapat menahan emosinya lagi.
“Buktikan kalau adikku yang melakukan itu!!!”
Suara keras Nina membuat semua orang menolehkan pandangan padanya. Abi langsung memeluk pinggang Nina demi menenangkan istrinya itu.
“Sudah jelas Anfa yang melakukan ini.”
“Bawakan bukti kongkritnya padaku!! Kalau memang benar dia yang melakukannya, aku akan membuatnya menikahimu. Tapi kalau kamu berbohong, maka aku akan membuatmu menyesal!!”
“Hellow tante.. bang Anfa ngga mungkin mau sama susu kamu yang udah kaya bukit kembar longsor. Dia pasti lebih milih Rayi yang bentukannya masih padet kaya pepaya mengkel,” sambar Sekar.
Cakra terpaksa membekap mulut Sekar yang tanpa saringan saat berbicara. Teddy sampai menepuk keningnya melihat kelakuan anak bungsunya. Juna senyum-senyum sendiri mendengarnya.
"Dendi!!"
Suara kencang Abi memanggil nama salah satu tim keamanan keluarganya. Tak lama seorang pria berambut cepat, bertubuh tinggi, masuk ke dalam ruangan.
"Ya pak Abi."
“Antar perempuan ini kembali ke apartemennya. Tempatkan dua orang untuk berjaga di depan unitnya. Pastikan dia tetap berada di unitnya sampai saya datang dan memberikan hukuman untuknya!”
"Baik pak."
Dendi mengangguk, kemudian dia menghampiri Angela. Dengan kasar ditariknya tangan Angela. Sekuat tenaga wanita itu mencoba untuk melepaskan diri, namun sia-sia karena tenaganya tak sekuat Dendi. Dengan langkah terseok-seok, Angela berjalan menuju mobil lalu tubuhnya didorong masuk dengan paksa. Mobil tersebut langsung melaju tanpa mempedulikan teriakan Angela yang meminta turun.
Suasana hening sejenak pasca kepergian Angela. Nina berdiri dari duduknya kemudian menghampiri Anfa yang masih menundukkan kepalanya karena malu akan fitnah Angela barusan.
“Ikut kakak!!”
Nina berjalan menuju halaman belakang rumah. Anfa berdiri kemudian menyusul sang kakak. Nina terus berjalan memasuki ruangan film, tak lama Anfa menyusul masuk. Pemuda itu berdiri tepat di belakang kakaknya. Nina membalikkan badannya, emosi masih menguasai dirinya.
“Katakan.. apa benar yang dikatakan Angela tadi?”
“Ngga kak.”
“Katakan yang benar Anfa!! Dia ngga mungkin mengatakan hal seperti tadi kalau tidak terjadi sesuatu pada kalian!!”
“Benar kak, aku ngga melakukan apa-apa,” Anfa nampak begitu frustrasi.
“Lalu ini apa??!!”
Nina menunjuk bercak merah keunguan di leher adiknya. Anfa cukup terkejut saat menyadari tanda merah itu masih ada di lehernya. Pemuda itu bungkam seribu bahasa. Bagaimana mungkin dia menjelaskan pada Nina tentang kejadian semalam. Walau tidak terjadi apa-apa, namun dia sempat menikmati walau sesaat. Tentu saja Anfa malu untuk mengatakannya. Kebungkaman Anfa semakin membuat Nina berang. Ketakutannya bertambah kalau benar Anfa telah berhubungan badan dengan Angela.
“Anfa, kakak mohon, jawab!! Tolong jangan permalukan mama dan papa dengan kelakuanmu!! Aku ngga mau mereka dituding sebagai orang tua yang buruk karena kelakuan anaknya. Aku juga ngga mau kamu mempermalukan mama Rahma dan papa Teddy yang sudah sangat baik dan menyayangi kita.”
“Aku ngga melakukan apa-apa kak. Aku ngga peduli kalau semua orang menuduhku asal jangan kakak.”
__ADS_1
“Kalau begitu jelaskan!!!”
Abi yang mendengar teriakan sang istri langsung menerobos masuk kemudian menarik Nina dalam pelukannya. Beberapa kali Nina mencoba melepaskan diri karena masih ingin mendengarkan jawaban Anfa. Namun bisikan darinya bisa membuat sang istri sedikit tenang.
“Anfa ngga bersalah sayang. Ngga terjadi apa-apa antara dia dengan Angela. Mas jamin itu. Kamu harus tenang, ingat anak kita.”
Abi terus memeluk Nina yang mulai menangis. Dia memberi isyarat pada Anfa untuk pergi. Dengan langkah gontai, Anfa meninggalkan ruangan tersebut. Perasaan hati pemuda itu tak dapat digambarkan seperti apa saat ini, antara kesal, marah, sedih dan kecewa membaur menjadi satu.
Di luar ruangan, Anfa disambut oleh Cakra. Seperti biasa, Cakra selalu bersikap hangat padanya. Pria itu menarik bahu Anfa kemudian membawanya masuk ke dalam rumah.
“Adek abang sudah besar ternyata. Sudah bisa menarik perhatian ulet bulu model Angela,” Cakra mengusak puncak kepala Anfa.
Teddy dan Rahma mendekati Anfa yang masih terlihat linglung. Tuduhan Angela, pertengkarannya dengan Nina, ucapan Cakra semua berputar-putar di otaknya bak kunang-kunang.
“I’m proud of you, son. You learned from mistake and made a good decision (papa bangga padamu, nak. Kamu belajar dari kesalahan dan membuat keputusan tepat),” Teddy menepuk pelan rahang Anfa kemudian meremat pundaknya pelan.
“Istirahat sayang, kamu pasti lelah,” Rahma menangkupkan kedua tangannya ke wajah Anfa seraya menyunggingkan senyuman.
Hati Anfa menghangat melihat sikap dan senyum Rahma. Dipeluknya Rahma erat sejenak untuk melepaskan sedikit beban yang sedari tadi menghimpitnya. Kemudian dia naik ke lantai atas lalu masuk ke dalam kamarnya.
Anfa terduduk di sisi ranjang, merenungi apa yang baru saja terjadi. Tapi kekecewaan masih sedikit menggelayuti hatinya. Nina masih belum mempercayai dirinya. Dan Rayi memilih berpisah darinya. Lamunan Anfa buyar, ketika mendengar suara ketukan. Juna masuk ke dalam kamar lalu duduk di samping Anfa.
“Kamu baik-baik saja?”
“Iya kak.”
“Fa.. kejadian tadi mungkin hal pertama untukmu tapi bukan berarti yang terakhir.”
Anfa mengangkat kepalanya lalu menatap Juna lekat-lekat. Pria yang selalu bersikap tenang itu tersenyum, kemudian tangannya meraih bahu Anfa.
“Sebagai bagian keluarga Hikmat, kamu harus siap menghadapi hal-hal seperti tadi. Wanita, rekan bisnis, lawan bisnis bahkan mungkin saudara akan bergantian menguji diri kita. Kamu harus selalu siap menghadapi situasi yang tidak mengenakkan bahkan mungkin merugikan. Kamu harus kuat agar bisa melindungi diri sendiri dan orang-orang di sekitarmu. Sejauh ini kamu sudah melakukannya dengan cukup baik, tapi kamu harus lebih waspada ke depannya nanti. Harus lebih seksama dalam mengamati situasi atau orang-orang di sekitarmu. Belajarlah dari kakak iparmu yang menyebalkan itu, bagaimana mengenali orang-orang yang mungkin akan merugikan kita, dia juga punya banyak trik licik dan akal bulus untuk melindungi dirinya dan orang-orang di sekitarnya.”
“Iya kak, makasih buat dukungannya. Maaf kalau aku salah.”
“Dan kamu belajar dari kesalahan itu. Kakak suka itu. Lalu bagaimana dengan Angela?” Juna menaik turunkan alisnya.
“Aku ngga ngapa-ngapain kak sama dia.”
“Terus kenapa bisa ada tanda ini?”
“Tanda sialan!!!”
Anfa mengusap dengan kasar tanda merah keunguan hasil karya Angela. Tentu saja hal itu tak membuatnya menghilang, bahkan menambah warna merah di atasnya. Juna tersenyum geli melihat tingkah Anfa.
“Ada ya kak perempuan kaya dia. Udah kaya jablay aja. Aku mau diperk*sa sama dia kemarin.”
“Hahahaha...”
Tawa Juna pecah mendengar ucapan Anfa. Sedari awal dia sudah menduga kalau Angela yang berusaha menerkam Anfa. Cakra yang sedari tadi menguping di luar kamar Anfa, langsung menerobos masuk. Jiwa keponya meronta ingin mengetahui secara detail adegan hingga terciptanya tanda merah itu.
“Fa.. itu gimana ceritanya bisa nemplok cap bibir Angela di sana,” sembur Cakra.
“Kepo..”
“Diapain aja ama Angela?” lanjut Cakra tak menyerah.
Anfa memandang kedua lelaki di hadapannya yang awalnya menyemangati dan menasehati dirinya dengan kata-kata bijak nan menyejukkan hati. Tapi kini berbalik menyerangnya dengan pertanyaan seputar kejadian dirinya dengan Angela. Dengan amat sangat terpaksa, Anfa menceritakan semua yang terjadi di malam kelam itu.
“Rasanya gimana Fa? Enak ngga?” goda Cakra.
“E.. enak sih kak,” jawab Anfa malu-malu, mengundang kembali tawa Juna dan Cakra.
“Mau ngerasain lagi ngga?” goda Juna.
“Ya maulah. Normal juga aku. Tapi bukan sama Angela ya.”
“Nikah sono!” Cakra menoyor kepala Anfa.
“Belum boleh sama kak Abi.”
“Heleh si beruang kutub emang paling bisa bikin orang sengsara. Tapi bentaran lagi juga surat ijin nikah kamu keluar, lihat aja,” Cakra yakin sekali dengan ucapannya. Anfa hanya tersenyum tipis mendengarnya. Mungkinkah, ucapnya dalam hati.
☘️☘️☘️
**Angela bentar lagi kelar hidup lo!!! Tunggu aja hukuman dari si beruang kutub mulut bon cabe.
Malem² mamake ngga berhenti ketawa baca komen kalian sampe batuk². Kayanya mamake kualat deh udh bikin kalian emosi jiwa, tobat dah🤣🤣🤣
Kalau msh ada yg tanya kenapa akhir² ini jrg up, kan udh diksh tau ya, klo mamake kena sakit berjamaah yg melanda negeri ini alias bapil dan demam. Klo fisik sakot, maka otak pun susah diajak kerjasama buat ngehalu, masa iya mamake ngga boleh sakit, hadeuh... Tlg baca dan pahami biar ngga nanya² trs.
Terus kalau merasa up nya sedikit, udh mamake blg setiap up minimal 2000 kata, part ini smp 2500 kalau ngga percaya, itung aja sendiri. Makanya bacanya coba pke mode slow motion biar ngga cpt habis bacaannya😝🤣
__ADS_1
Tuh kan kepanjangan lagi pidato kenegaraannya, padahal mamake mau promo. Mampir yuk ke karya salah satu anak bujang online mamake, Rama Ramles. Cerita soal Sean yang gayanya nyebelin habis yang harus menerima perjodohan dengan perempuan cantik, Natasya, senior di kampusnya. Mamake kasih tau ya, nih othornya beneran ganteng, serius loh, soalnya laki bukan cewek🤣 jangan lupa tinggalin jejak kalian, like, komen, rate bintang 5, fav dan gift klo berkenan. Makasih readers keceku**..