KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Makan Malam


__ADS_3

Pukul lima lebih sepuluh menit, Abi sudah sampai ke rumah. Tadi Nina sudah wanti-wanti padanya untuk pulang cepat. Malam ini istrinya itu akan menggelar makan malam dengan mengundang beberapa orang. Tak berapa lama mobil Cakra sampai, pria itu segera mengikuti Abi masuk ke dalam rumah.


Langkah kedua pria itu terhenti ketika sampai di ruang tengah. Mereka tertegun melihat pemandangan di depannya. Nina sedang duduk di sofa menikmati pertunjukan musik secara live. Di depannya nampak Sekar dan Adinda tengah berduet, sedang di belakang mereka, Radix dan Gurit menari mengikuti irama musik. Nina tak berhenti tertawa melihat kekonyolan empat orang di depannya. Beberapa kali dia mengusap sudut matanya yang basah saking banyaknya tertawa.


Sekar dan Adinda berduet menyanyikan lagu Cherrybelle, beautiful. Setiap Sekar menyanyikan sebaris lirik, maka Adinda akan meneriakkan kata blewah dengan gaya hard corenya. Radix dan Gurit mengikuti gaya personil Cherrybelle menari. Beberapa detik kemudian penampilan mereka berakhir. Nina bertepuk tangan memberikan aplaus untuk para performer dadakan.


Kelima orang yang berada di ruang tengah dikejutkan dengan suara tepukan lain. Semuanya langsung menoleh ke arah Abi dan Cakra yang berdiri tak jauh dari sofa tempat Nina duduk. Abi segera menghampiri Nina lalu mendaratkan kecupan di keningnya. Sadar akan adanya potensi adegan berbahaya lainnya, duo curut segera melipir ke halaman belakang. Begitu pula Adinda yang langsung ngacir ke dapur.


“Abang kapan datengnya?” tanya Sekar seraya mendekat pada Cakra.


“Baru aja.”


“Ke rumah aja yuk, abang mandi dulu.”


“Abang ngga bawa baju ganti.”


“Aku udah siapin baju ganti buat abang. Ayo.. nanti abis maghrib kita ke sini lagi,” Sekar menarik tangan Cakra keluar dari rumah.


Abi berjongkok di depan Nina lalu mendaratkan ciuman di perut sang istri yang masih rata. Nina mengusap lembut puncak kepala sang suami. Abi mengangkat kepalanya lalu mendekati wajah Nina. Sebuah ciuman lembut mendarat di bibir sang istri. Nina membalas ciuman sang suami.


Pasangan suami itu terus saling me**mat dan memagut. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dengan mulut ternganga. Adinda yang hendak menanyakan kapan acara makan malam dimulai hanya terpaku di tempatnya. Tiba-tiba seseorang menutup matanya lalu menyeretnya pergi dari sana.


Radix melepaskan tangannya dari mata Adinda begitu mereka sampai di halaman belakang. Adinda mengerjap-ngerjapkan matanya sebentar, kemudian memandangi Radix dan Gurit bergantian dengan wajah bingung.


“Sorry gue seret ke sini. Kalo kelamaan di sana tar otak polos lo bisa terkontaminasi,” Radix mengetuk-ngetuk kening Adinda dengan telunjuknya.


“Hehehe.. makasih ya kak. Aslinya aku syok banget.”


Pipi Adinda merona saat membayangkan kembali adegan adu bibir antara Abi dengan Nina. Radix memandang gadis itu dengan gemas. Tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang melihat senyum manis Adinda. Matanya terus menatap ke arah Adinda. Gurit berdehem kencang, membuyarkan lamunan sang sahabat.


“Biasa aja lihatnya,” bisik Gurit.


“Cantik banget. Udah kaya bidadari turun dari bajaj bro,” jawab Radix sambil berbisik pula.


“Naksir lo?”


“Hooh.”


“Jangan ngarep,” Gurit mengusap wajah Radix dengan telapak tangannya.


“Buset tangan lo bau banget sih, Rit.”


“Abis garuk pan**t gue hahahaha....”


Gurit langsung ngacir melihat tatapan horor Radix. Sementara itu, Adinda kembali ke ruang tengah sambil mengendap-endap, takut kalau adegan tadi masih berlangsung. Tapi ternyata Abi dan Nina sudah tak ada di ruang tengah. Gadis itu kembali ke dapur untuk membantu bi Ita menyiapkan makan malam.


☘️☘️☘️


Sehabis maghrib semua tamu undangan sudah datang ke kediaman Abi. Sekar dan Cakra datang terlebih dahulu, disusul kemudian oleh Juna dan Nadia. Tak berapa lama kemudian, Kevin dan Rindu datang menambah suasana rumah bertambah ramai. Nina menyambut kedatangan mereka dengan suka cita.


“Eh Vin, lo ngga bulan madu?” tanya Cakra.


“Bulan madu, tapi si moyong nyuruh gue dateng,” Kevin menunjuk ke arah Abi.


“Emang lo bulan madu di mana?” Cakra mulai kepo.


“Di Bandung aja bang. Kita keliling tempat wisata di Bandung, terus tidurnya di hotel. Ya sebenernya lebih banyak tinggal di hotel sih dari pada jalan-jalannya.”


Kevin spontan melihat ke arah sang istri yang begitu polos menjawab pertanyaan Cakra. Sontak saja hal tersebut mengundang tawa yang lainnya.


“Emang ngapain aja di hotel? Bukannya jalan-jalan,” pancing Juna.


“Ya gitu deh kak. Abang mah maunya di kasur mulu.”


Gelak tawa langsung terdengar mendengar jawaban Rindu, tak terkecuali Sekar. Walau belum menikah, dia tahu kemana arah pembicaraan sang sahabat. Wajah Kevin memerah menahan malu.


“Udah diapain aja sama bang Kevin?” kali ini Nadia yang bertanya.


“Udah mmmppp..”


Rindu tak bisa melanjutkan ucapannya, karena Kevin langsung menyumpal mulutnya dengan brownies yang tersaji di meja. Rindu melihat kesal ke arah sang suami. Namun tak ayal mulutnya mengunyah kue yang masuk ke mulutnya. Ditariknya tangan Rindu lalu mendudukkan di sofa.


“Ngga usah jawaban pertanyaan mereka, ngerti?”


Rindu memanyunkan bibirnya melihat sikap jutek suaminya. Dia memilih ke dapur untuk mengambil minuman. Sepertinya brownies yang dimakannya tersangkut di tenggorokan. Saat yang bersamaan Jojo datang. Semua yang ada di sana menatap ke arah pria tersebut, tepatnya pada wanita yang ada di belakang Jojo.


“Lun.. kamu ikut ke sini juga?” cetus Cakra.


“Iya diajakin mas Jo.”


“Dari pada gue diledekin jomblo mulu,” sambar Jojo.


“Ayo sini duduk Lun.”


Ajak Nina, Sekar menarik tangan Luna lalu mereka duduk bersama di sofa. Jojo beranjak menuju dapur. Kerongkongannya terasa kering, jadi dia memutuskan untuk mengambil minum. Kevin bergegas mengikuti Jojo, takut sang istri kembali terpincut pada mantan gebetannya.


“Eh ada Rindu,” sapa Jojo saat sampai di dapur.

__ADS_1


“Eh bang Jojo, apa kabar bang?”


“Baik. Gimana bulan madunya?”


“Ya gitu deh bang. Kita...”


“Ehem!!”


Rindu seketika menghentikan ucapannya begitu mendengar deheman keras Kevin. Dia segera mengampiri sang suami yang sudah memasang wajah menyeramkan. Kevin menggandeng tangan Rindu keluar dari dapur. Jojo hanya menggeleng melihat kelakuan absurd Kevin.


“Dasar bucin,” gumamnya pelan.


Jojo melangkahkan kakinya mendekati kulkas yang berada di sudut dapur. Tiba-tiba matanya menangkap sosok yang dikenalnya tengah menata hidangan di piring.


“EHEM!!!”


Adinda terlonjak ketika mendengar deheman keras dari arah belakangnya. Seketika dia langsung membalikkan badannya. Gadis itu terkejut melihat Jojo ada di hadapannya. Untuk beberapa saat Adinda hanya terpaku memandangi Jojo.


“Kamu lagi ngapain di sini?”


“Nggg.. aku disuruh kak Abi ke sini.”


“Abi? Sejak kapan kamu kenal Abi hah? Kamu sengaja ya deketin saya sama teman-teman saya, ngaku!!”


Adinda terkesiap melihat Jojo yang begitu marah padanya. Lidahnya seketika menjadi kelu. Tubuhnya gemetar menahan rasa takut yang tiba-tiba menyeruak.


“Ng... ngga.. om,” suara Adinda terdengar bergetar.


“Ngga usah bohong! Saya udah paham perempuan seperti apa kamu!! Pura-pura lugu, polos padahal cuma topeng buat ngambil simpati orang.”


“Jo!”


Kehadiran Cakra seperti air es yang menyejukkan Adinda. Dia seperti baru saja terselamatkan dari terkaman hewan buas. Cakra yang hendak ke halaman belakang memutuskan ke dapur setelah mendengar suara kencang Jojo. Dia memberi isyarat pada Adinda untuk pergi. Dengan tergesa, gadis itu buru-buru keluar dari dapur.


“Lo kenapa sih Jo? Kasihan tuh anak sampe sawan gitu lo bentak-bentak. Emangnya dia salah apa sama elo?”


“Anak munafik kaya dia ngga usah dikasih hati, tar ngelunjak.”


“Lo ada masalah apa sih sama dia?”


Jojo menghembuskan nafas panjang seraya mengusap wajahnya. Dia tak langsung menjawab pertanyaan Cakra. Diambilnya sebotol air mineral dari dalam kulkas lalu meneguknya sampai habis. Cakra masih setia menunggu jawaban sang sahabat. Jojo membuat botol kosong ke dalam tempat sampah kemudian menyandarkan punggungnya ke kulkas.


“Lo sadar ngga sih kelakuan dia kaya siapa?” bukannya menjawab, Jojo malah melemparkan pertanyaan pada Cakra.


“Maksud lo?”


“Lo ngga bisa nyamain orang begitu aja Jo. Si blewah ngga seperti Fahira, gue yakin itu. Lo ngga lihat gimana gigihnya dia cari uang. Dia di sini juga diminta Abi buat bikinin jus sama nasi TO buat Nina.”


“Nah itu dia. Modusnya sama kaya si Fahira. Ujung-ujungnya nanti dia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang.”


“Astaghfirullah... lo kenapa sih Jo? Gue yakin si blewah ngga kaya gitu. Dia itu anak baik. Coba buka mata lo, dia ngga seperti Fahira.”


“Bisa-bisanya lo belain cewek model dia.”


“Karena dia anak baik, Jo. Gue aneh sama elo, anak baik dicurigain tapi model ulet bulu kaya Syakira ama Luna lo deketin.”


“Lebih baik Syakira atau Luna, mereka itu apa adanya, ngga ada yang ditutup-tutupin, ngga munafik kaya si blewah.”


Jojo segera keluar dari dapur meninggalkan Cakra yang masih kesal mendengar jawabannya. Saat yang bersamaan Abi masuk. Dia bingung melihat kedua sahabatnya seperti sedang bersitegang. Jojo berlalu begitu saja tanpa menegur Abi.


“Sssttt.. kenapa si monyet?”


“Tau, temen lo lagi kumat gilanya. Bisa-bisanya dia nyamain si blewah sama si Fahira.”


“Blewah siapa?”


“Adinda, dudul.”


“Emang kenapa si Pus?”


“Tau, si Jojo sebel banget sama si blewah. Katanya munafik lah, pura-pura susah buat dapetin simpati kita kaya si Fahira dulu.”


“Ah elah si monyet emang korslet mulu otaknya. Tenang aja, gue bakalan kerjain tuh monyet satu.”


Abi mengajak Cakra ke halaman belakang karena acara makan malam akan dimulai. Suasana di halaman belakang sudah ramai oleh pembicaraan dan gelak tawa para tamu undangan. Mereka duduk melingkar di atas rumput sintetis. Bi Ita, Dewi, dibantu Adinda menata hidangan di tengah-tengah. Kevin menggeser tempat nasi ke dekat sang istri. Rindu memandang heran ke arahnya.


“Itu nasinya taro di sana bang, kenapa di deketin ke aku?”


“Biar gampang kalau kamu mau nambah.”


“Abaaaaanngg...”


“Itu perhatian namanya Rin,” goda Sekar.


“Au ah..”


Rindu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Melihat sang istri ngambek, Kevin malah terus mendekatkan piring berisi lauk pauk ke dekat Rindu. Sekar tak bisa menahan tawa melihat tingkah pasangan absurd di sampingnya ini.

__ADS_1


Sementara itu Adinda duduk terdiam di samping Radix. Matanya terus memandang ke arah aneka hidangan yang tersaji. Setiap melihat makanan enak, maka gadis itu akan teringat pada sang nenek. Adinda beranjak dari duduknya lalu mendekati Nina yang tengah mengobrol dengan Abi.


“Teh Nina..”


“Iya Din.”


“Maaf ya, aku mau pulang aja, ngga apa-apa?”


“Eh kok pulang sih. Kan kita belum mulai makan-makannya.”


“Iya, kan kamu udah capek nyiapin semua ini. Makan dulu baru pulang,” sahut Abi.


“Ngga kak Abi, makasih. Aku mau pulang aja.”


“Kenapa? karena Jojo? Cuekin aja, dia abis kesambet jin pohon pete.”


“Bukan kak. Aku harus pulang, enin ngga mau makan kalau ngga sama aku. Kasihan enin, aku makan enak di sini tapi enin nahan lapar di rumah.”


“Ya ampun aku lupa kalau enin kamu lagi sakit. Ya udah kamu pulang aja, tapi tunggu sebentar ya, biar bi Ita siapin makanan buat kamu bawa pulang.”


Nina beranjak dari duduknya kemudian menuju dapur. Adinda menunggu Nina dengan kepala tertunduk, jari tangannya saling meremat. Gadis itu tak berani mengangkat kepalanya karena takut melihat Jojo yang menatapnya tajam.


“Nenek kamu sakit apa?” tanya Abi.


“Biasa kak, namanya juga udah tua. Segala kerasa.”


“Kalau kamu jualan, siapa yang jaga nenek kamu?”


“Ada tetanggaku kak.”


Abi terus mengajak Adinda bicara sambil menunggu istrinya selesai menyiapkan makanan untuk dibawa gadis itu pulang. Diam-diam Luna menatap iri ke arah Adinda. Gadis itu bisa dengan mudahnya menarik perhatian Abi, tidak seperti dirinya yang selalu mendapatkan sikap dingin dari pria itu.


Nina datang dengan tote bag di tangannya. Adinda menerima pemberian Nina seraya mengucapkan terima kasih. Tadi sore, nyonya Abimanyu itu sudah memberikan sejumlah uang atas jasanya membuatkan jus juga nasi tutug oncom.


“Makasih teh Nina, kak Abi. Semuanya, aku pulang dulu ya,” pamit Adinda pada yang lain.


“Eh kok pulang Din,” seru Sekar.


“Iya teh. Enin nunggu di rumah.”


“Kamu pulang naik apa?” tanya Cakra.


“Naik angkot, kang.”


“Diantar pak Kamal aja,” tawar Juna.


“Biar aku yang anter kak,” seru Radix.


“Eh monyong, tar gue pulang ama sapa?”


“Tar gue ke sini lagi.”


Radix bangun dari duduknya kemudian mendekati Adinda. Sekali lagi gadis itu berpamitan lalu beranjak pergi diikuti oleh Radix. Pemuda itu menyerahkan helm pada Adinda. Tak lama Honda Varionya bergerak meninggalkan kediaman Abi.


☘️☘️☘️


Radix memarkirkan motornya di dekat pohon mangga kemudian mengantarkan Adinda sampai ke rumahnya. Jaraknya hanya beberapa meter saja dari tempatnya memarkir motor. Mereka berhenti di depan sebuah rumah kecil yang warna catnya telah kusam. Baru saja Adinda akan mengetuk pintu, salah seorang tetangga mendekatinya.


“Dinda, ai kamu kamana wae? Ditelponan teu aktif wae.”


“Maaf bu, hp Dinda abis batre. Enin kemana? Kok rumah sepi.”


“Enin kamu dibawa pak RT ke rumah sakit. Abis maghrib mendadak enin sesak nafas.”


“Astaghfirullah.. enin dibawa ke rumah sakit mana bu?”


“Ke rumah sakit yang deket pasar.”


“Ya atuh, Dinda langsung ke sana, makasih bu. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Adinda bergegas pergi disusul oleh Radix. Tetangga Adinda tersebut hanya memandangi gadis itu dengan tatapan sendu. Dia tahu betul bagaimana perjuangan Adinda membiayai hidupnya juga sang nenek. Ditambah setahun terakhir ini, neneknya sering sakit-sakitan.


☘️☘️☘️


**Udah kejawab kan kenapa tiba² Jojo berubah ketus sama Blewah.


Kira² si Abi mau ngerjain Jojo kaya gimana ya🤔


Buat yang penasaran sama penampakan duo Curug, nih mamake kasih visualnya versi mamake. Klo ngga suka silahkan bayangin yang sesuai selera aja ya😁


Radix yang mulai cenat cenut sama Blewah**



Gurit, yg suka kabur kalo ketemu Kunti

__ADS_1



__ADS_2