
Flashback On
Abi, Jojo dan Kevin bergegas masuk ke dalam mobil. Dendi segera menjalankan kendaraaannya dengan kecepatan tinggi. Semua berjalan sesuai rencana yang disusun oleh Abi. Upaya bunuh diri Naya, penculikan Freya sampai pertemuan di gedung mangkrak, tempat tujuan mereka kali ini. Hanya satu yang dicemaskan Dendi, rencana terakhir Vito yang tidak dikatakan pada Ariyanto. Menurut salah satu anak buahnya, Vito membeli senjata api, namun mereka tidak bisa menemukan keberadaan senjata tersebut. Kecil kemungkinannya mereka bisa menukarnya dengan yang palsu.
Dendi menepikan kendaraannya, pria itu membuka kunci bagasi kemudian bergegas keluar dari mobil. Dia mengambil tiga buah rompi anti peluru dari dalam bagasi kemudian masuk kembali ke dalam mobil. Dia menyerahkan rompi tersebut pada Abi, Jojo dan Kevin.
“Vito membeli senjata api. Saya tidak tahu apa rencana terakhirnya, saya mohon kenakan rompi ini demi keamanan.”
Tanpa banyak bertanya ketiganya segera memakai rompi tersebut. Perasaan Jojo mendadak cemas. Pria itu bukan mencemaskan dirinya tapi mencemaskan Abi. Sahabatnya itu terkadang selalu bertindak impulsif, dia akan melakukan apapun untuk menyelamatkan orang yang disayanginya.
“Saya minta bapak jangan memprovokasi Vito. Dia bisa berbuat nekad karena dendamnya sudah berkarat,” ujar Dendi seraya menjalankan kendaraannya lagi.
“Kamu mengkhawatirkanku?”
“Tentu saja pak. Bukan hanya saya saja, tapi semua orang yang menyayangi bapak pasti khawatir,” Dendi melirik ke arah Jojo dari kaca spion. Wajah pria itu nampak tegang.
“Kamu sudah memberiku ini,” Abi menepuk rompi anti peluru yang ada dibalik kemejanya.
“Itu hanya bisa melindungi tubuh bapak. Bagaimana kalau Vito menembakkannya ke arah kepala?”
“Kalau begitu kita serahkan semuanya pada Tuhan. Karena hanya Dia yang bisa menjaga kita. Rompi ini, hanya salah satu alat yang kita siapkan untuk menjaga diri.”
Dendi hanya menganggukkan kepalanya. Dalam hatinya berdoa, semoga saja tidak akan ada hal buruk nantinya. Suasana mendadak menjadi tegang, Jojo bertambah gelisah. Kevin yang sedari tadi hanya menutup mulutnya juga tak luput dari kegelisahan. Mendengar penuturan Dendi, dia mengkhawatirkan Abi dan Juna. Entah apa yang akan sahabatnya itu lakukan kalau sampai terjadi sesuatu pada Abi.
“Bagaimana dengan Freya?” pertanyaan Abi membuyarkan lamunan semuanya.
“Freya aman pak. Sekarang pak Agung dan Ravin sedang menjaganya.”
“Syukurlah.”
Akhirnya mobil yang dikendarai Dendi sampai di gedung mangkrak, tempat pertemuan Abi dengan Ariyanto juga Vito. Dendi membawa mereka memasuki gedung setengah jadi itu. Jojo menghentikan Abi ketika mereka hampir sampai di rooftop.
“Bi.. apapun yang terjadi di atas sana, please.. berhenti jadi tameng gue. Ini masalah gue, Vito dendam sama gue. Kalau dengan kematian gue, bisa buat keadaan jadi damai, gue ikhlas.”
Abi menatap tak suka dengan apa yang Jojo katakan, tanpa menjawab apapun, pria itu meneruskan langkahnya menuju ke rooftop. Dendi sengaja menunggu di tangga terakhir, berjaga-jaga kalau Vito atau Ariyanto melarikan diri. Beno dan beberapa anak buahnya sudah berada di rooftop, mereka berjagadi posisi masing-masing untuk membantu Abi.
☘️☘️☘️
Rian langsung menyusul ke gedung tempat Vito bertemu dengan Abi dan Jojo setelah mendengar kalau sepupunya itu hendak membalaskan dendam pada Jojo. Rian adalah anak pertama dari Setia, adik dari Aswan, ayah Vito. Bersama Rian, turut pula Keysha, adiknya.
“Kak ayo lebih cepat lagi. Kita harus cegah kak Vito,” seru Keysha.
“Vito bener-bener gila! Kenapa kamu ngga bilang dari kemarin, Key?”
“Aku ngga tahu kak. Aku juga baru tahu pas mba Celin telepon aku. Mba Celin juga bilang kalau kak Vito beli senjata api.”
“Apa??”
Rian menekan pedal gas dalam-dalam, dia harus secepatnya sampai di tempat tujuan. Sebelum meninggal, sang ayah sudah berpesan padanya untuk mengawasi Vito agar tidak terus tenggelam dalam dendamnya. Berulang kali Rian merutuki dirinya sampai bisa kecolongan.
Mobil yang dikendarai Rian terus melaju di jalan raya. Beberapa kali pria itu menyalip kendaraan di depannya. Lima menit kemudian dia sampai tempat di lokasi pertemuan. Keysha langsung menghambur turun begitu kendaraan berhenti.
“Key!! Tunggu!!”
Rian langsung melesat mengejar adiknya yang langsung berlari memasuki gedung. Di tangga lantai ke delapan, dirinya baru bisa menyusul Keysha. Adiknya itu tengah beristirahat sejenak untuk memulihkan nafasnya yang tersengal. Rian membantu Keysha terus naik hingga ke lantai sebelas.
Keadaan di rooftop semakin tegang. Tahu kalau Abi sudah mengganti sanderanya, pria itu menodongkan pistol ke arah Abi. Jojo berusaha menghalau Abi yang berdiri tegak di depannya, namun sahabatnya itu bergeming.
“Minggir Bi.. Vito cuma mau gue,”Abi tak menghiraukan ucapan Jojo.
“Menyingkirlah! Atau aku akan benar-benar menembakmu!” Vito menarik kokang senjatanya.
“Bi.. minggir, ingat Nina, ingat anak-anak.”
“Mas…”
Abi terkejut mendengar suara Nina. Istrinya itu datang bersama anak bungsunya. Kenan yang tak tahu menahu soal kejadian ini bermakud menghampiri Vito yang tengah menodongkan senjata ke arah papanya. Namun Cakra segera menahannya. Melihat perhatian Abi teralihkan pada Nina dan Kenan, Jojo menarik tubuh Abi.
“Turunkan senjatamu, Vito!!” teriak Juna.
“Suruh adikmu menyingkir!”
“Tidak akan!!” seru Abi sambil menyingkirkan tubuh Jojo.
“Brengsek!! Mati kamu, Bi!!”
Rian dan Keysha yang baru tiba di rooftop terkesiap ketika Vito menodongkan senjata api ke arah Abi. Secepat kilat Rian berlari ke arah Vito dan Keysha berlari menuju Abi.
DOR!
Timah panas yang ditembakkan Vito melesat dengan cepat. Keysha menghalangi tubuh Abi dan peluru sukses menembus punggungnya. Tubuh Abi ambruk seiring dengan jatuhnya Keysha. Dengan cepat Abi memeluk wanita itu seraya memandangi tangannya yang berlumuran darah.
__ADS_1
“MAS!”
“PAPA!”
“ABI!”
"KEY!"
Semua yang ada di sana langsung menghambur ke arah Abi. Rian menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang, dia terkesiap begitu melihat sang adik yang terkena sasaran peluru Vito. Pria itu segera berlari ke arah sang adik. Senjata di tangan Vito terlepas begitu saja saat mengetahui dirinya telah salah sasaran.
Juna melesat ke arah Vito lalu mendaratkan pukulan bertubi pada pria itu. Tidak cukup sampai di situ, dia juga menendangi tubuh Vito yang sudah terkapar tak berdaya. Cakra dan Kevin juga Beno langsung menarik Juna menjauh dari Vito. Cakra memberi kode pada Beno untuk membawa Vito pergi.
“Key... aku mohon bertahanlah,” Abi memeluk tubuh Keysha.
“Kak Abi..”
“Kenapa Key.. kenapa kamu melakukannya?”
“Karena aku mencintaimu kak..”
“Key… tolong bertahanlah.”
Airmata Abi mengalir begitu saja melihat darah segar yang terus keluar dari punggung Keysha. Rian menghambur pada sang adik, tangisnya pecah melihat kondisi Keysha yang berlumuran darah. Jojo melepas jasnya lalu menaruhnya di luka tembak yang terus saja mengeluarkan darah. Ditekannya luka itu untuk menghambat pendarahan.
“Key.. Key..” Rian berusaha mengambil Keysha dari Abi namun wanita itu menolaknya.
“Kakak biarkan aku bersama kak Abi. Untuk pertama dan terakhir kalinya biarkan aku merasakan pelukan hangatnya.”
“Key…” Nina meraih tangan Keysha.
“Nina.. aku pinjam suamimu sebentar, boleh?” Nina menganggukkan kepalanya sambil berderai airmata. Kenan mendekat lalu merangkul bahu sang mama.
“Ayo kita ke rumah sakit,” Abi hendak mengangkat tubuh Keysha, tapi lagi-lagi ditolaknya.
“Aku ngga mau kak. Aku mau di sini saja dalam pelukanmu. Waktuku sudah tak banyak. Peluk aku kak.”
Abi mengeratkan pelukannya di tubuh Keysha. Tangan Keysha melingkari pinggang pria yang masih dicintainya hingga saat ini. Airmata mengalir dari kedua sudut matanya, bukan airmata kesedihan tapi kebahagiaan. Di penghujung hidupnya, akhirnya dia bisa berada di pelukan lelaki tercinta.
“A..ku.. men..cin..tai..mu… kak.”
“Aku tahu Key… aku tahu,” jawab Abi di sela-sela tangisnya.
“Ja..ngan.. me.na..ngis.. ka..k, a..ku.. baha.. gia..”
Keysha menggeleng lemah. Ditatapnya wajah Abi, walau umurnya sudah tak muda lagi, namun masih terlihat tampan di matanya. Tangan Keysha bergerak menghapus airmata di wajah lelaki tercintanya. Kemudian dia melihat ke arah Rian.
“Ka..k ke.. ingin.. nanku.. su.. dah ter.. kabul..”
“Iya Key.. Abi ada di sini, bersamamu. Kamu bahagia?”
Keysha menganggukkan kepalanya pelan. Tangis Rian semakin kencang, dia tahu kalau sebentar lagi adik tersayangnya akan meninggalkannya. Tangannya menggenggam erat tangan Keysha.
“Ka..k A..bi.. ak.. ku.. per..gi.. ma..af..” tangan Keysha terkulai lemah dan matanya menutup perlahan.
“KEY!! KEY!!” Abi berteriak kencang seraya memeluk tubuh Keysha.
“Key..” Rian tak dapat menahan tangisnya.
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun,” ujar Cakra pelan.
Nina memeluk tubuh Kenan, tangisnya pecah dalam pelukan anaknya. Rian duduk bersimpuh di hadapan jasad sang adik yang masih berada dalam pelukan Abi. Airmata Abi tak bisa berhenti mengalir. Walau dirinya tak memiliki perasaan apapun pada wanita yang berstatus sebagai sepupunya, namun kesedihan tak ayal menghantamnya. Apalagi kepergian Keysha karena melindungi dirinya.
Juna duduk di samping Abi lalu memeluk tubuh adiknya. Jojo menyandarkan punggungnya ke tembok seraya meremat rambutnya. Lagi-lagi karena dirinya, seseorang menjadi korban. Cakra menghampiri Jojo, lalu memeluk sahabatnya itu.
“Ini salah gue, Cak. Salah gue.”
“Ini takdir, Jo. Berhenti menyalahkan diri sendiri.”
Barra tergugu melihat kondisi sang ayah yang terlihat rapuh. Begitu pula dengan Nara, dia masih shock mendengar masa lalu kelam papanya. Wanita itu menundukkan kepalanya dalam-dalam. Rasanya tak sanggup bersitatap dengan suaminya.
☘️☘️☘️
Rian segera melangsungkan pemakaman Keysha. Urusan Vito diserahkan langsung pada Juna. Celin, istri Vito terkejut bukan main mendengar apa yang terjadi. Berulang kali dia meminta maaf pada Rian, Juna dan Abi. Kedua anak Vito juga shock mendengar aksi ayah mereka. Apalagi saat mengetahui tante mereka tersayang menjadi korban penembakan sang ayah.
Acara pemakaman berlangsung khidmat. Abi dan Juna membantu Rian mengantarkan Keysha ke peristirahatan terakhirnya. Airmata Nina kembali mengalir saat melihat suaminya beserta Rian dan Juna membaringkan Keysha di lubang berukuran 1x2 M. Wanita yang dulu kerap menghinanya, yang sering mengganggu suaminya ternyata begitu mencintai Abi dengan tulus hingga rela mengorbankan nyawa untuknya.
Dibantu oleh Juna, Abi naik ke atas, selanjutnya mereka membiarkan para penggali kubur melakukan tugas terakhir mereka. Menutupi tubuh Keysha dengan tanah. Juna merangkul bahu sang adik. Walau tak mengatakannya, Juna tahu betapa terpukulnya sang adik. Dia lalu melihat pada Rian yang nampak begitu tegar melepas adik satu-satunya.
Usai memanjatkan doa-doa, para pengantar jenazah beranjak pulang. Juna dan yang lainnya memilih mampir terlebih dulu ke rumah Rian. Celin dan kedua anaknya juga menuju ke sana. Mereka memilih menemani Rian daripada menemui Vito yang tengah disekap di markas keamanan keluarga Hikmat.
“Kak.. atas nama mas Vito, aku minta maaf. Kalau aku tahu tahu sejak awal, aku pasti akan mencegahnya.”
__ADS_1
“Semua sudah terjadi, Cel. Aku harap urusan dendam ini selesai. Farah, Arman, om harap kalian tidak menyimpan dendam atas kejadian ini. Papa kalian akan dihukum sesuai kesalahannya. Kalian harus tahu, apa yang terjadi bukan kesalahan om Abi atau om Jojo. Ini murni kesalahan papa kalian yang tak bisa menyingkirkan dendamnya. Om Jojo juga tidak bersalah, Vicko, adik papa kalian meninggal karena ulahnya sendiri. Ini masalah yang rumit seperti benang kusut. Om harap semua berhenti sampai di sini. Bagaimana pun juga kita keluarga. Jangan mengulangi kesalahan orang tua kita.”
Farah dan Arman menganggukkan kepalanya mendengar kalimat panjang lebar dari Rian. Mereka tidak marah apalagi sampai menimbulkan dendam. Mereka kecewa sang ayah yang menjadi penyebab kematian tante yang begitu mereka sayangi.
“Bi.. aku harap kamu tidak menyalahkan dirimu. Ini pilihan Keysha. Dia melakukannya karena cintanya padamu.”
“Aku tidak pernah bersikap baik padanya,” lirih Abi.
“Kamu penyemangat hidupnya, Bi. Aku juga tahu kamu diam-diam membantu café miliknya. Kamu tidak benar-benar membencinya, Bi. Sikap kasarmu hanya untuk membuatnya tak mengganggu Nina lagi, aku tahu itu.”
“Apa Key sakit?” tanya Juna.
“Iya. Sepuluh tahun yang lalu dia terkena kanker Rahim. Rahimnya terpaksa diangkat supaya sel kanker tidak menyebar. Itulah yang membuatnya enggan menikah, selain karena dia cinta mati pada Abi,” Rian tersenyum tipis membayangkan adiknya.
“Tapi dua tahun yang lalu diketahui ternyata sel kanker itu tidak mati bahkan menyebar ke organ yang lain. Dia berjuang melawan sakitnya, tapi terakhir dokter memvonis hidupnya tidak akan lama lagi. Bisa bertahan sampai dua bulan saja sudah keajaiban. Dia selalu bilang tidak mau mati karena penyakitnya tapi dia ingin melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain. Dan keinginannya sudah terkabul. Jadi jangan menyalahkan diri sendiri, Bi. Anggap itu sebagai ungkapan rasa cintanya yang tulus,” lanjut Rian.
Abi tak sanggup berkata-kata. Pria hanya diam membisu, Nina terus mengusap punggung suaminya. Juna juga tak mengatakan apapun. Selama ini dia juga tak terlalu akrab dengan Keysha. Dalam hatinya bersyukur, Keysha mau berbaik hati menyelamatkan nyawa adiknya. Dia juga tak menyangka, Rian bisa sebijak ini menyingkapi semua permasalahan yang terjadi.
“Apa yang mau kamu lakukan pada Vito?” tanya Juna.
“Serahkan saja pada polisi. Biarkan dia mendapatkan hukuman yang setimpal. Kalian tidak keberatan kan?” Rian melihat pada Celin dan kedua anaknya. Ketiganya hanya menganggukkan kepala. Apalagi yang bisa mereka lakukan selain pasrah. Kenyataannya memang Vito yang telah membunuh Keysha.
☘️☘️☘️
Sepulang dari kediaman Rian, Abi hanya mengurung diri di kamar. Nina selalu setia berada di sampingnya. Abi membaringkan tubuhnya di kasur dengan kepala berada di pangkuan sang istri. Nina terus mengusap puncak kepala suaminya, sedang sebelah tangannya digenggam erat oleh Abi.
“Apa kamu sudah tahu soal sakitnya Key?”
“Iya mas. Waktu dia ke sini, selain minta maaf, dia juga cerita soal penyakitnya. Aku ngga boleh menceritakan ini padamu, maaf mas. Dia juga minta ijin, seandainya waktunya untuk pergi sudah tiba, dia ingin meninggal dalam pelukanmu. Tapi aku ngga menyangka dia pergi secepat ini,” Nina mengusap buliran bening yang kembali mengalir.
Abi merubah posisi tidurnya. Tangannya melingkari pinggang sang istri seraya membenamkan wajahnya di perut Nina. Punggung pria itu nampak bergetar. Dia menangis, masih tersisa penyesalan dalam dirinya akan apa yang terjadi pada Keysha. Terlebih selama ini Abi tak pernah bersikap baik pada sepupunya itu.
Khawatir dengan keadaan Abi, ketiga anaknya berkumpul di depan kamar. Mereka ingin tahu bagaimana kondisi sang papa. Namun ketiganya batal masuk begitu mendengar suara tangis Abi dari dalam. Mendengar tangisan papanya, Freya tak sanggup untuk tidak ikut menangis. Gadis itu terisak dalam pelukan Kenzie.
Kenan mendudukkan dirinya di lantai dengan punggung menyandar ke tembok di belakangnya. Mata pemuda itu juga nampak berkaca-kaca. Kesedihan yang dirasakan Abi seakan sampai padanya. Hanya Nara yang tak ada bersama mereka. Istri dari Kenzie itu memilih mengurung diri di kamar. Masa lalu tentang sang papa yang didengarnya tadi cukup membuatnya shock.
Tak berapa lama pintu kamar terbuka. Nina terkejut mendapati ketiga anaknya duduk di depan kamarnya. Meihat sang mama. Ketiganya bangun lalu menghampirinya. Dari pintu yang terbuka, Kenan melihat Abi tengah tertidur.
“Papa gimana ma?” tanya Kenzie.
“Papamu ngga apa-apa. Sekarang sedang tidur, mama baru saja memberinya obat. Badannya sedikit demam.”
“Aku boleh lihat papa kan ma?” tanya Kenan.
“Iya, kalian boleh lihat tapi satu-satu ya masuknya. Jangan sampai papamu bangun. Mama mau siapin makan malam dulu.”
Nina beranjak pergi menuju dapur. Freya masuk ke kamar lebih dulu. Sejenak dipandanginya Abi yang tengah tertidur pulas. Tanpa menimbulkan suara, Freya berjalan mendekat lalu duduk di lantai, tepat di dekat Abi.
“Papa.. aku sangat berterima kasih pada tante Key, karena sudah menyelamatkan papa. Aku sayang papa, aku masih butuh papa. Papa harus tetap sehat dan kuat untuk mama, aku, Nan dan bang Ken. Love you papa.”
Freya mengangkat tubuhnya sedikit lalu mencium pipi Abi. Gadis itu kemudian berdiri lalu keluar dari kamar. Kenan masuk setelahnya. Sama seperti Freya, pemuda itu duduk di dekat Abi.
“Pa.. cepat sembuh ya. Papa jangan bersedih lagi. Tante Key sudah bahagia di tempatnya yang baru. Papa beruntung dicintai begitu besar oleh tante Key dan mama pastinya. Papa harus tetap sehat. Aku belum siap kehilangan papa. Aku akan membawa perempuan yang tahan dengan mulutku lalu membawanya ke hadapan papa. Papa akan melihatku menikah dan memberimu banyak cucu. Aku sayang papa.”
Kenan mengecup pipi Abi kemudian keluar dari kamar. Nara yang baru saja bergabung, langsung masuk saat Kenan keluar. Begitu mendengar kalau ayah mertuanya sakit, Nara langsung berlari turun ke bawah. Dia duduk bersimpuh di samping Abi.
“Papa.. terima kasih untuk kasih sayang papa yang begitu besar untuk papaku. Saat dirinya sudah melakukan hal buruk padamu, papa berbesar hati mau memaafkannya. Terima kasih papa selalu berada di sampingnya dan melindunginya. Rasa sayangku pada papa sama besarnya seperti sayangku pada papaku. Sehat terus pa, aku dan mas Ken juga yang lain masih membutuhkanmu. Aku sayang papa.”
Nara meraih tangan Abi lalu mencium punggung tangannya dengan takzim. Dihapusnya dulu airmata yang membasahi wajahnya baru wanita itu keluar dari kamar. Kenzie memandangi mata Nara yang nampak sembab. Ekor matanya terus memandangi sang istri yang kembali naik menuju kamarnya. Pria itu kemudian memasuki kamar orang tuanya.
Cukup lama Kenzie hanya duduk memandangi Abi yang tertidur pulas. Kejadian menegangkan di atas rooftop kembali terbayang di pelupuk matanya. Jantungnya seperti berhenti berdetak saat melihat Vito menembakkan senjata api pada Abi. Mata Kenzie memanas, entah apa yang akan terjadi kalau saat itu Keysha tak datang menghadang peluru untuk sang papa.
“Pa.. tolong jangan buatku takut lagi. Papa tau aku belum mau berpisah darimu. Berhentilah bersikap seperti jagoan. Papa sudah tua, sudah tidak pantas berlagak seperti James Bond. Sekarang lebih baik papa istirahat, habiskan banyak waktu bersama mama sambil menunggu kehadiran cucu dariku juga Nara. Biarkan aku yang menjaga mama, Nara, Frey dan Nan. Aku juga akan menjaga dan melindungi papa mulai sekarang. Anakmu sudah besar. I love you papa.”
Kenzie bangun dari duduknya lalu berpindah duduk ke sisi ranjang, tepat di samping Abi. Diciumnya pipi Abi kemudian memeluk tubuh yang tengah tertidur itu cukup lama. Dia terjengit ketika merasakan tangan Abi memeluk punggungnya.
“I love you too, son.”
“Tidur pa.”
“Gimana mau tidur kalau kalian berisik terus,” Abi terkekeh seraya melepaskan pelukannya.
“Aku keluar. Papa istirahat kalau ngga mau kena getok mama.”
“Iya.”
Kenzie berdiri lalu membenarkan selimut yang menutupi tubuh ayahnya. Pria itu keluar dari kamar lalu menutup pintu dengan gerakan pelan. Kemudian dia melangkah menuju lantai atas. Tangan Kenzie bergerak membuka pintu kamarnya, nampak istrinya tengah duduk melamun di atas Kasur sambil memeluk kedua lututnya. Kenzie merangkak naik ke atas Kasur lalu duduk di samping Nara. Direngkuhnya bahu sang istri masuk ke dalam pelukannya.
“Ada apa sayang?”
☘️☘️☘️
__ADS_1
Ada alarm, mas. Udah 2900 kata, takut ditolak hihihi🤭