
“Saya terima nikah dan kawinnya Karenina Anastasia binti Ahmad Prasetya dengan mas kawin tersebut tunai!”
Abi langsung menyambung ucapan Anfa saat prosesi ijab kabul yang dilangsungkan pagi ini di salah satu hotel milik keluarga Hikmat.
“Bagaimana para saksi, sah?”
“SAH!!”
Tegas ayah Kevin yang bertindak selaku saksi dari pihak Abi dan salah seorang petinggi pemerintahan yang diminta Teddy untuk menjadi saksi dari pihak Nina. Terdengar ucapan syukur dari semua yang hadir.
Abi duduk cemas menanti kedatangan Nina yang menunggu prosesi ijab kabul selesai di salah satu ruangan yang ada di ballroom. Kepalanya terangkat ketika melihat pengantin wanitanya berjalan mendekat dengan diapit oleh Nadia juga Sekar. Mereka mendudukkan Nina di samping Abi.
Penghulu mempersilahkan Abi memakaikan cincin pernikahan. Abi membuka kotak beludru hitam tersebut kemudian mengeluarkan cincin dari dalamnya. Disematkan cincin bertahtakan berlian itu di jari manis sang istri. Nina pun melakukan hal yang sama. Cincin berbahan titanium kini tersemat di jari manis Abi.
Nina mencium punggung tangan Abi dengan takzim. Abi merengkuh bahu Nina kemudian mendaratkan ciuman di kening. Nina memejamkan matanya, menikmati ciuman lembut sang suami di keningnya. Walau ini bukan ciuman pertama yang diberikan Abi, namun status suami istri yang melekat pada mereka membuat hati Nina bergetar.
Abi dan Nina mendengarkan nasehat tentang pernikahan dari petugas KUA. Selanjutnya disambung dengan acara sungkeman dan berbagi nasehat dari para orang tua. Rahma memeluk Abi erat, airmatanya mengalir melepas anak lelakinya ini untuk kedua kalinya. Ada perasaan lega kali ini, dia percaya Nina akan membuat anaknya bahagia.
“Mama selalu mendoakanmu sayang. Jadilah suami yang baik untuk istrimu. Dia adalah surgamu saat ini.”
“Iya ma, makasih. Terus doakan aku ma.”
Rahma mencium kening Abi kemudian dia beralih pada Nina. Gadis cantik yang langsung menarik perhatiannya ketika pertama bertemu. Dia terus memeluk Nina seraya membisikkan kalimat-kalimat nasehat di telinga menantunya. Nina hanya bisa menganggukkan kepalanya, tenggorokannya seperti tercekat menahan rasa haru dan bahagia.
Nina menghampiri Anfa. Mata adik lelakinya itu nampak berkaca-kaca. Anfa menarik Nina dalam pelukannya. Belum lama dirinya bertemu dengan sang kakak setelah terpisah sekian lama. Kini dia harus menyerahkannya pada lelaki yang telah sah menjadi suaminya. beruntung Abi adalah pria baik yang diyakini akan menyayangi dan melindungi kakaknya dengan baik.
“Selama ya kak. Aku bahagia melihatmu bersatu dengan lelaki yang kakak cintai. Lelaki yang mencintai dan menyayangi kakak sepenuh hati. Maafkan aku yang ngga bisa memberikan apapun selain menjadi wali sahmu.”
“Dengan adanya kamu di samping kakak, itu udah cukup Fa. Kakak bersyukur bisa menemukanmu.”
Anfa mengurai pelukannya. Tangan Anfa dan Nina bergerak saling menghapus airmata. Pemuda itu kemudian melihat ke arah Abi.
“Kak.. aku titip kak Na. Aku percaya kakak akan menjadi imam yang baik untuknya. Terima kasih sudah mempertemukanku dengannya.”
“Terima kasih sudah bertahan selama ini. Aku akan menjaga Nina dengan baik.”
“Terima kasih kak.”
Abi memeluk Anfa, menepuk pelan punggung adik iparnya itu. Setelah itu dia beralih pada Juna. Kakak laki-lakinya yang selama ini terus memberikan support padanya. Juna memeluk sang adik. Sudut matanya berair, sebuah airmata kebahagiaan melihat adiknya dipersatukan dengan wanita yang baik dan mencintainya.
“Aku doakan kamu memperoleh kebahagiaan di pernikahan keduamu. Kamu adalah lelaki baik dan akan menjadi suami yang baik untuk Nina serta ayah yang baik untuk anak-anakmu nanti.”
“Terima kasih kak, selama ini selalu mendukungku. Terima kasih sudah membawa Nina dalam kehidupanku.”
“Kamu adikku. Aku akan melakukan apapun agar kamu bisa bahagia lagi,” Juna menepuk pelan rahang Abi.
“Kak ayo usaha terus kasih aku keponakan, jangan sampai kesalip sama aku,” kekeh Abi.
“Kalau aku kesalip sama kamu wajar aja. Kan duda memang selalu di depan.”
Abi memandang keki ke arah Juna yang terkekeh puas berhasil membalas sang adik. Nina dan Nadia pun tak bisa menahan tawanya. Cakra dan Kevin yang sedari tadi melihat mulai bergabung kemudian mengucapkan selamat.
Kevin yang irit bicara menjabat tangan Abi seraya mengucapkan selamat. Cukup sampai di situ tak ada basa-basi atau doa yang terlontar dari mulutnya. Berbeda dengan Cakra yang langsung memeluk sahabatnya ini. Dia lega sahabatnya akhirnya dapat bersatu dengan wanita yang baik dan mencintainya.
“Jojo ngga bisa dateng?” tanya Abi setelah mengurai pelukannya.
“Dia titip salam sama elo. Katanya om Ronald lagi sakit, jadi dia ngga bisa ninggalin perusahaan. Tapi nanti dia usahain dateng sambil kasih kado pernikahan.”
“Hmm.. kemarin gue telpon ngga diangkat aja.”
“Sibuk katanya. Hp ketinggalan di rumah sakit.”
Abi hanya mengangguk, walau ada sedikit kecewa di hatinya. Selain Cakra, Jojo adalah sahabat terbaiknya. Setelah dia menikah dengan Fahira, Jojo harus pindah ke Singapura, mengikuti papa tirinya yang asli orang sana. Dia diminta membantu mengurus perusahaan milik Ronald , papa tirinya.
__ADS_1
Usai acara sungkeman, pengantin beserta keluarga dipersilahkan mengisi perut terlebih dulu sebelum mengikuti upacara adat Sunda. Rindu mendekati Sekar yang tengah asik menyantap sate ayam beserta lontong.
“Se.. lo jadi kan minjemin duit buat abah gue?” tanya Rindu tanpa basa-basi.
“Jadi.. tenang aja. Butuh berapa? Seratus kan?”
“Iya.”
“Mau ditransfer kapan? Sekarang?”
“Jangan sekarang nanti aja kalau udah waktunya bayar.”
“Kenapa? Kan lebih cepat lebih baik.”
“Pak hajinya lagi umroh dulu. Nanti bayarnya pas dia pulang umroh. Kalau ditransfer sekarang bahaya Se, tar malah kepake duitnya. Tahu sendiri abah gue ngga bisa megang uang gede dikit. Kalau saudara-saudaranya tahu, beuh mereka langsung ngantri minta jatah.”
“Hmm.. ya udah. Tar kalo udah waktunya kasih tau aja, takutnya gue lupa.”
“Ok sip, thank you honey.”
Saking senangnya Rindu memeluk Sekar lalu mendaratkan ciuman di pipi sahabatnya itu. Tanpa disadari perbuatannya itu tertangkap mata Kevin juga Cakra.
“Rin.. boleh ngga abang yang gantiin bibir kamu,” celetuk Cakra yang langsung dihadiahi pelototan Sekar.
“Pantes Sekar ngga pernah ngelirik kamu, Cak. Ternyata selama ini dia diintilin jin perempuan mesum.”
“Eh maksud bang Ke apa ya? Aku gitu jin mesumnya?”
“Merasa ngga?”
“Ngga lah.”
“Ya kalau ngga, ngga usah sewot. Gitu aja kok repot.”
“Sabar Rin. Tuh kulkas berjalan emang ngga ngenakin kalau ngomong.”
Cakra mengusap puncak kepala Rindu. Sekar berdecih melihat kelakuan Cakra yang sok akrab pada Rindu seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.
☘️☘️☘️
Setelah melalui serangkaian upacara adat, pasangan pengantin diminta kembali ke kamar untuk berganti pakaian. Abi memang menginginkan acara resepsi dilangsungkan setelah akad nikah, jadi tidak usah menunggu lagi. Keduanya berganti pakaian di kamar yang terpisah.
Madam Lee membantu Nina berganti pakaian. Gaun pengantin yang akan dikenakan Nina memang cukup sulit kalau tidak dibantu. Penata rias pun membenarkan riasan Nina yang sedikit luntur. Madam Lee memasangkan tiara di kepala Nina setelah wajah pengantin itu selesai di touch up. Bertepatan dengan itu, Abi masuk ke dalam kamar.
Melihat kedatangan Abi, madam Lee mengisyaratkan yang lain keluar dari kamar. Abi memandangi Nina tanpa berkedip. Istrinya itu terlihat bak putri kerajaan, begitu cantik, anggun dan mempesona. Ingin rasanya Abi merobek gaun itu agar Nina tidak jadi berdiri di atas pelaminan.
“Mas.. aku cantik ngga?”
“Banget. Aku jadi ngga rela kamu mejeng di pelaminan. Gimana kalau kita minta pak Kamal sama bi Murni aja yang mejeng di sana.”
“Mas jangan macem-macem deh.”
Abi terkekeh melihat kekesalan di wajah sang istri. Dia berjalan menuju meja rias lalu mengambil selembar tisu. Selanjutnya pria itu mendekati Nina, tisu di tangannya diarahkan ke bibir Nina. Dihapusnya lipstik berwarna merah maroon itu.
“Mas iih kenapa dihapus?”
“Aku ngga suka warna lipstiknya. Ganti!”
“Ganti sama warna apa mas? Jangan aneh-aneh deh.”
“Ganti warna bibir aja.”
“Ngga ada mas. Semua lipstiknya warna terang.”
__ADS_1
“Masa? Ini ada satu.”
“Mana?”
“Ini...”
Abi menarik tengkuk Nina kemudian membenamkan bibirnya ke bibir sang istri. Nina yang mendapat serangan dadakan dari Abi hanya terpaku. Sadar tak ada balasan dari Nina, Abi mengakhiri ciumannya. Dia menyatukan keningnya dengan kening Nina.
“Kiss me, please,” suara Abi terdengar putus asa.
Nina mengalungkan tangannya di leher Abi kemudian mencium bibir suaminya. Abi membalas ciuman Nina. Berulang kali Abi menyesap bibir atas dan bawah istrinya itu, kemudian mengakhiri ciumannya.
“Aku mencintaimu, Nina.”
“Aku juga mencintaimu, mas.”
“Jangan pernah berubah.”
“I won’t.”
Abi kembali mencium Nina. Perasaan insecure yang belakangan ini menghantuinya berangsur menghilang. Hatinya benar-benar yakin kalau Nina mencintainya dan tak akan meninggalkannya. Abi mengakhiri ciumannya lalu mengusap bibir sang istri yang basah terkena salivanya.
“Ayo keluar.”
“Aku pake lisptik dulu mas.”
“Sini aku pakein.”
“Ngga mau, nanti yang ada bibir aku jadi aneh bentuknya.”
Abi tergelak, dia berjalan menuju pintu untuk memanggil penata rias. Seorang pria dengan langkah gemulai masuk ke dalam kamar. Saat dia akan memoles bibir Nina, Abi menahan tangannya.
“Eh tunggu.. penata rias yang perempuan mana?”
“Eiy.. mamase ngga lihat kalau ekke ini cuantik.”
“Cantik dari hongkong. Tuh jakun umpetin dulu.”
Pria gemulai itu langsung menyentuh jakunnya. Nina berusaha menahan tawanya. Abi selalu berkata seenaknya pada semua orang.
“Udah kak Esme, jangan dengerin dia. Cepetan pakein lipstik.”
“Inget pakein doang. Awas jangan curi-curi kesempatan pegang-pegang istri gue!”
Pria gemulai yang dipanggil Esme itu menulikan telinganya. Dengan lihai dia memoles bibir Nina. Esme tersenyum lebar melihat penampilan Nina yang sempurna.
“Perfect! You look so beauty princess.”
“Biasa aja lihatnya!”
“Ish mamase ribut bener sih. Ekkeh ngga tertarik sama Nina. Ekkeh lebih suka yang macho model iyey.”
Esme menoel dagu Abi yang langsung ditepis kasar olehnya. Matanya melotot ke arah lelaki gemulai itu. Tapi bukannya takut, esme malah mengedipkan matanya seraya melayangkan fly kiss ke arah Abi. Setelah itu dengan langkah gemulai dia keluar dari kamar.
“Dasar cowok setengah mateng!” gerutu Abi.
Nina hanya terkikik geli melihat Abi yang dongkol setengah mati gara-gara dilecehkan seorang laki-laki setengah matang. Nina mengalungkan tangannya di lengan Abi. Keduanya berjalan keluar kamar, bersiap untuk menuju ballroom. Acara resepsi akan segera dimulai.
☘️☘️☘️
**Selamat ya Abi & Nina akhirnya sah juga jadi suami istri. Maaf ya mamake ngga bisa dateng ke resepsi, lagi ngga enak badan🤧
Buat readers semua, maaf kemarin cuma bisa up 1, karena lagi ngga enak badan. Hari ini juga kayanya hanya bisa up 1 aja. Mudah²an kondisi cepat membaik lagi, minta doanya ya🙏**
__ADS_1