KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Kontak Fisik


__ADS_3

Setelah dirawat selama dua hari, akhirnya Delia diperbolehkan pulang. Kevin yang menjemput sang mama dari rumah sakit. Juna memang memberinya libur dua hari setelah pernikahan. Kedatangan Delia disambut oleh Kumala juga Rindu. Sekarang Rindu sudah tidak canggung lagi berdekatan dengan mama mertuanya. Delia bukanlah tipe mertua seperti FTV di stasiun televisi ikan terbang. Wanita itu begitu hangat dan menyayanginya.


“Mama,” Rindu mencium punggung tangan Delia.


“Menantu baru mama, gimana kabarnya? Kamu ngga disiksa sama Kevin kan?”


Kevin berdecak sebal mendengar pertanyaan mamanya. Kumala hanya mengulum senyum. Walau Kevin kerap bersikap dingin namun dia sangat memperhatikan anggota keluarganya, termasuk Kumala. Tak jarang Kevin membelikan makanan yang diinginkan wanita yang tengah hamil lima bulan ini.


“Gimana calon cucu mama?” Delia mengusap perut Kumala yang mulai terlihat buncit.


“Alhamdulillah si utun anteng.”


“Mas Ivan kemana mba?”


“Lagi ke kantor asuransi. Ada dokumen yang harus dilengkapi buat pencairan asuransi katanya.”


“Mudah-mudahan lancar ya. Ivan juga bisa rintis usahanya lagi, kamu yang sabar ya La. Namanya hidup, kadang di atas kadang di bawah.”


“Iya ma, makasih.”


Bi Ipah, asisten rumah tangga orang tua Kevin datang membawakan minuman dan pisang goreng yang baru saja matang. Dia kembali ke dapur lalu membawakan salad buah untuk nyonya rumah.


“Mama makan yang ini aja ya, kan belum boleh makan yang panas-panas.”


“Siapa yang bikin ini? Kamu Rin?”


“Mana bisa dia ma. Menantu bungsu mama kan cuma bisa makan doang, masak air juga gosong,” celetuk Kevin.


“Enak aja. Aku bisa kok bikin mie instan sama ceplok telor.”


“Gitu aja bangga.”


“Sudah-sudah kalian ini ribut mulu, udah kaya kucing sama tikus. Mending kalian ribut yang bermanfaat.”


“Ribut yang bermanfaat yang kaya gimana ma?” celetuk Kumala.


“Ribut di atas kasur. Banyak manfaatnya itu, bisa membuat pasangan harmonis, bikin tubuh sehat karena berkeringat dan bisa bikin perut melendung kaya kamu.”


Kumala terkikik geli, Kevin hanya melotot ke arah sang mama sedang Rindu langsung memalingkan wajahnya ke arah lain saking malunya. Tak disangka ternyata sang mertua sedikit somplak seperti dirinya.


“Kamu udah jebol gawang Rindu belum Vin?”


Uhuk... Uhuk..


Kevin tersedak minumannya sendiri mendengar ucapan sang mama. Rindu menundukkan kepalanya, tak berani melihat orang-orang di dekatnya. Mulutnya juga terkunci rapat, Delia sukses membuat gadis cerewet itu mati kutu. Tak sanggup mendengar ucapan sang mertua yang frontal menjurus mesum, Rindu buru-buru pamit lalu masuk ke kamar. Delia memberi kode pada Kevin untuk menyusul Rindu. Pria itu memutar bola matanya melihat tingkah sang mama.


Rindu tengah berbaring di atas kasur sambil bermain ponsel ketika Kevin masuk ke dalam kamar. Terlihat istrinya itu tengah cekikikan, jempolnya mengetik cepat di keyboard ponsel. Kevin membaringkan tubuhnya di samping Rindu. Matanya melirik ke arah ponsel Rindu, rupanya sang istri tengah asik ber-chat ria dengan ketiga sahabat somplaknya.


“Kamu ngga kuliah?”


“Libur bang, dosennya masih mudik katanya. Besok ada satu matkul tapi siang.”


Kevin mengeluarkan dompetnya lalu mengambil kartu atm dari dalamnya. Disodorkan kartu itu pada Rindu. Gadis itu hanya diam memandangi kartu di tangan sang suami.


“Malah diem, ambil.”


“Buat apa bang?”


“Ya buat keperluan kamu sehari-hari.”


“Aku masih punya uang, bang. Gaji yang kemarin abang kasih juga belum aku pakai sama sekali.”


“Sekarang aku suamimu. Jadi semua kebutuhanmu menjadi tanggung jawabku. Uang yang kamu punya simpan aja. Pakai ini buat beli semua keperluanmu. Pin nya udah aku ganti tanggal ulang tahun kamu.”


“Emang abang tahu tanggal ultahku?” Rindu mengambil kartu di tangan Kevin.


“Ya tahulah. Kan ada di biodata kamu pas magang.”


“Ya ampun ternyata aku spesial ya sampai abang masih inget tanggal ultahku.”


“Ingatanku emang bagus. Bisa merekam dan memikirkan banyak hal. Emangnya kamu, yang ada dalam pikiranmu cuma makan aja.”


Rindu menyebikkan bibirnya. Dia bangun dari tidurnya untuk menyimpan kartu ke dalam dompet kemudian kembali membaringkan tubuh di atas kasur. Hari ini dia hanya ingin berleha-leha saja.


“Kamu ada rencana kemana hari ini?”


“Ngga ada bang. Aku cuma mau makan, tidur, makan tidur.”


“Udah kaya uler aja. Dasar siluman ular putih.”


“Biarin. Kalau aku siluman ular putih, abang Xu Xian-nya.”


“Siapa Xu Xian?”

__ADS_1


“Suaminya Bay SuZhen, siluman ular putih hihihi...”


Kevin bangun dari tidurnya ketika mendengar notifikasi di ponselnya. Sekretaris barunya mengirimkan e-mail berisi file untuk rapat besok yang harus dihadirinya. Kevin hanya melihatnya sekilas. Diletakkannya ponsel ke atas nakas lalu membaringkan kembali tubuhnya. Dia melirik ke arah Rindu yang masih asik berbalas pesan dengan para sahabatnya.


“Nanti sore keluar yuk.”


“Kemana bang.”


“Lihat rumah.”


“Rumah? Rumah siapa?” Rindu menaruh ponsel di kasur lalu melihat ke suaminya.


“Rumah kita. Aku mau kita belajar rumah tangga mandiri. Kamu juga harus belajar masak, mengurus rumah dan keuangan kita. Mulai besok kamu yang menyiapkan semua keperluanku, ngerti?”


“Iya bang. Emangnya abang udah beli rumah?”


“Belum. Tapi ada beberapa rumah yang aku incer. Nanti kita lihat satu-satu, kamu aja yang putusin cocoknya yang mana.”


“Aku bang?”


“Iyalah, kamu kan istriku. Nantinya kamu yang akan banyak tinggal di rumah. Jadi pilihlah rumah yang bikin kamu nyaman.”


“Iiih abang manis banget sih.”


“Baru tahu?”


“Iya.. kan biasanya abang bikin kesel aja.”


PLETAK


Kevin menyentil kening Rindu. Gadis itu menyebikkan bibirnya seraya mengusap keningnya yang terasa panas. Kevin menarik kepala Rindu lalu mencium kening yang tadi disentilnya. Dunia Rindu serasa berhenti saat itu juga. Dia memandang Kevin tak berkedip.


“Salah satu cara menumbuhkan perasaan sayang dan cinta adalah dengan kontak fisik. Seperti ini...”


Kevin kembali mencium kening Rindu, lalu kedua pipinya. Wajah Rindu merona, jantungnya juga mulai bertalu-talu tak karuan. Tubuhnya seperti tersetrum aliran listrik saat Kevin membelai rambutnya kemudian mengusap pipi dengan punggung tangannya.


“Aku ngantuk.”


Kevin merapatkan tubuhnya ke arah Rindu kemudian memeluk pinggang ramping itu. Rindu melirik sang suami yang tengah terpejam. Jantungnya berdegup lebih kencang lagi. Dia memegang tangan Kevin yang melingkar di pinggangnya. Secara perlahan merubah posisi tubuhnya menjadi miring. Dengan gerakan pelan dia mencium kening Kevin.


Jantung Rindu seperti akan melompat ketika melakukannya. Dia tersenyum sendiri, tak menyangka dirinya akan seberani ini. Tanpa disadarinya, Kevin diam-diam tersenyum mendapat ciuman dari sang istri.


☘️☘️☘️


Setelah libur selama dua hari, akhirnya Kevin kembali bekerja. Saat masuk ke dalam ruangan, dia langsung disambut oleh sekretaris barunya. Kevin terkejut, ternyata sekretaris baru yang bernama Vita itu adalah sahabat dari istrinya yang telah menikung dan menusuk dari belakang. Begitu pula dengan Vita, dirinya tak menyangka kalau atasannya adalah pria yang diduga sebagai sugar daddy Rindu.


“Hmm.. jadi kamu yang jadi sekretaris saya?”


“Iya pak. Perkenalkan nama saya Vitalia Permata Sari, bapak bisa panggil saya Vita.”


“Cukup! Mana bahan untuk rapat hari ini?”


“Ini pak,” Vita menyerahkan berkas di tangannya.


Kevin segera menuju mejanya lalu mempelajari berkas yang diberikan oleh Vita. Kevin mengangkat kepalanya ketika menyadari kalau Vita masih berdiri di depannya.


“Ada apa?”


“Bapak mau saya buatkan minuman apa?”


“Ngga usah. Kembali bekerja!”


“I... iya pak.”


Vita sedikit terkejut melihat sikap dingin dan nada ketus Kevin. Ternyata rumor yang didengarnya tentang Kevin benar adanya. Dia kembali ke mejanya lalu mulai mengerjakan pekerjaan yang telah menunggunya. Tapi Vita tak bisa sepenuhnya konsentrasi. Dia cukup penasaran kenapa mantan sahabatnya bisa dekat dengan pria dingin itu.


Kevin mengambil berkas dan ponsel kemudian berdiri. Vita ikutan berdiri, dia segera menyusul Kevin yang sudah keluar ruangan. Mereka menuju lantai 18, tempat meeting akan dilakukan. Rapat hanya berlangsung satu jam, tapi semua kepala divisi terkena semprotan Kevin. Baru dua hari pria itu tak masuk kerja, tapi semua pekerjaan yang ada di bawah tanggung jawabnya terbengkalai.


Dengan kesal pria itu kembali ke ruangannya. Tanpa banyak bicara, dia merevisi pekerjaan anak buahnya yang tak terpakai olehnya. Satu jam berlalu, satu pekerjaan sudah selesai.


“Vita!”


“Iya pak.”


“Mana hasil rapat tadi?”


“Belum selesai pak.”


“Kerja kamu dari tadi apa saja hah??!! Selesaikan dalam waktu lima belas menit!! Kalau tidak selesai, ini hari terakhir kamu kerja!”


Kevin berdiri dari duduknya lalu keluar dari ruangan. Vita terlonjak saat Kevin membanting pintu dengan kencang. Buru-buru dia kembali ke meja kerjanya, dengan cepat gadis itu menyelesaikan hasil rapat tadi. Vita tak ingin hari ini menjadi hari pertama dan terakhirnya bekerja.


Kevin mengetuk pintu ruangan Juna lalu masuk setelah mendengar sahutan bosnya dari dalam. Kening Juna mengernyit melihat asistennya masuk dengan wajah kusut. Pria itu menghempaskan bokongnya di sofa. Juna segera menyusul duduk di sana.

__ADS_1


“Kenapa nih pengantin baru mukanya kusut gitu?”


“Anak buah gue ngga ada yang becus kerjanya. Baru dua hari ditinggal udah kacau balau. Gimana kalau gue cuti seminggu?”


“Kalau lo cuti, nanti biar Darian yang handle kerjaan elo.”


“Lebih bagus kalau Abi yang gantiin gue.”


“Hahahaha... lo mau anak buah lo masuk rumah sakit semua kalau Abi yang gantiin elo.”


Senyum Kevin muncul juga mendengar ucapan Juna. Sesadis-sadis dirinya di kantor ini, masih kalah sadis dengan Abi. Pria tanpa ampun itu benar-benar tidak menoleransi kesalahan sekecil apapun. Jika melakukannya maka siap-siap terkena semprotannya yang tak enak di telinga plus lembur panjang.


“Lo ada rencana bulan madu kemana?”


“Ngga tau gimana si Kangen aja.”


“Hahaha.. lo ngga bisa ganti nama panggilan dia?”


“Ck.. udah hak paten itu.”


“Gimana sekretaris baru lo?”


“Baru hari pertama kerja udah bikin gue naik darah. Kalau sampai seminggu masih ngga becus juga, gue mau ganti.”


“Astaga Vin, bener-benar ya.”


Kevin melihat jam tangannya, waktu lima belas menit yang diberikan untuk Vita sudah berakhir. Dia bangun dari duduknya, bermaksud kembali ke ruangannya. Baru saja tangannya membuka pintu, terdengar suara Juna.


“BTW lo udah jebol gawang belum?”


“Kepo! Urus aja bini lo!”


Kembali terdengar tawa Juna mengiringi langkah Kevin keluar dari ruangan. Darian menganggukkan kepalanya ke arah Kevin yang hanya dibalas dengan mengangkat sebelah tangannya.


Vita terjengit ketika pintu ruangan terbuka. Kevin masuk lalu langsung menghampiri meja kerja. Tangan Vita mengambil lembar terakhir yang baru selesai diprint lalu menyerahkannya pada Kevin.


“Berikan berkas di meja saya ke divisi perencanaan.”


“Baik pak.”


Kevin kembali ke mejanya diikuti oleh Vita. Gadis itu mengambil berkas yang telah selesai direvisi. Dia bergegas keluar ruangan menuju divisi perencanaan. Bekerja dengan Kevin, tidak hanya harus cerdas tapi juga gesit. Itu yang Vita pelajari di hari pertamanya kerja.


☘️☘️☘️


Rindu melangkahkan kakinya memasuki gedung perkantoran yang dulu menjadi tempatnya magang dan bertemu dengan kulkas berjalan yang kini menjadi suaminya. Sang mama mertua meminta Rindu mengantarkan makan siang untuk suaminya sebelum kuliah.


Gadis itu tersenyum ke arah resepsionis yang kerap menjadi partner gibahnya dulu. Dari dua orang itu, Rindu banyak mendapatkan informasi seputar perusahaan ini, termasuk tentang Kevin. Itulah yang membuat dia berhasil melalui berbagai macam cobaan saat menjadi sekretaris Kevin. Info dari para gibahers memang sangat bermanfaat.


Melihat pintu lift yang mulai menutup Rindu berlari lalu bergegas masuk ke dalamnya. Dia terkejut, di dalam lift bertemu dengan makhluk yang tak ingin dilihatnya lagi. Vita memandang sinis ke arahnya.


“Ngapain lo ke sini? Mau minta duit sama sugar daddy lo? Gue kasih tahu ya, mending pulang aja. Mood daddy lo lagi ngga baik hari ini.”


“Sok tahu.”


“Emang gue tahu. Kan gue sekretarisnya sekarang.”


Rindu terkejut mendengarnya. Vita tersenyum senang melihatnya. Awalnya hanya main-main saja, kini Vita malah benar-benar ingin merebut Kevin dari Rindu. Membayangkan wajah tampan Kevin dan uang yang dimiliki pria itu semakin membulatkan tekadnya.


“Bae-bae lo jadi sekretarisnya. Kalau ngga sesuai dengan harapannya, bisa ditendang keluar kantor lo.”


“Cih.. sok tau.”


“Ya taulah. Sebelum elo, gue udah duluan jadi sekretarisnya selama tiga bulan.”


“Oh jadi lo ngerayu bos lo ya? Ngga profesional banget.”


“Tanpa gue rayu juga dia bakalan nempel terus sama gue.”


TING


Pintu lift terbuka, menghentikan perdebatan kedua gadis itu. Vita menabrak Rindu dengan pundaknya, membuat gadis mungil itu sedikit oleng. Ukuran tubuh Vita memang lebih besar dan lebih tinggi dari Rindu. Wajahnya juga cantik, dan dikaruniai otak encer. Selesai sekolah Vita lebih memilih mengambil kuliah D3 jurusan sekretaris. Semua yang ada dalam diri Vita sempat membuat Rindu minder setelah mantan sahabatnya itu merebut Hendra darinya.


Vita masuk ke dalam ruangan diikuti oleh Rindu. Kevin yang tengah sibuk dengan laptopnya tak menyadari kedatangan istrinya. Baru saja Rindu akan memanggil Kevin, suara Vita sudah mendahuluinya.


“Pak, ada tamu.”


☘️☘️☘️


Kira² gimana reaksi Kevin?


a. Langsung menyambut Rindu


b. Cuma lihat dengan muka datarnya?

__ADS_1


c. Nerusin kerjaannya


d. Joged²😂


__ADS_2