
Perhelatan pesta resepsi usai sudah. Suasana ballroom yang tadi semarak berubah menjadi sepi. Hanya ada beberapa staf banquet yang masih mengatur ulang ballroom untuk pesta esok hari. Dikarenakan pesta besar digelar tiga hari berturut-turut, Ezra mengijinkan departemen F&B menambah pekerja DW atau Daily Worker untuk membantu staff banquet, service dan kitchen.
Di bagian lain hotel, tepatnya di kamar pengantin, Freya masih berada di kamar mandi membersihkan tubuhnya. Usai pesta, gadis itu dibantu Nara dan dua calon pengantin lain, Naya dan Azra melepaskan gaun pengantin dan membersihkan make up dari wajahnya. Kegiatan kemudian diteruskan dengan wejangan Nara tentang malam pertama. Mendengar penuturan kakak iparnya itu, Freya cukup ketar-ketir juga.
Freya menepuk keningnya saat sadar tak membawa pakaian ganti ke dalam kamar mandi. Setelah mengeringkan tubuh dan rambutnya, gadis itu melilitkan handuk sampai menutupi dada. Kemudian dengan perlahan menggeser pintu kamar mandi. Dia kembali menutup pintu ketika melihat Ravin sedang duduk di atas kasur sambil menonton televisi.
Sambil menggigit kuku jarinya, Freya berjalan mondar-mandir di kamar mandi. Mau keluar malu, tapi tidak mungkin juga dia berdiam diri di kamar mandi dengan berbalut handuk saja. Setelah berpikir sejenak, akhirnya gadis itu memutuskan meminta tolong pada suaminya. Pelan-pelan dibukanya pintu, kemudian melongokkan kepalanya.
“Abang…”
“Hmm…”
“Tolong ambilin bajuku dong di lemari.”
Perhatian Ravin langsung teralihkan begitu mendengar permintaan sang istri. Pria itu beranjak dari kasur lalu menuju lemari. Dibukanya pintu lemari berukuran sedang itu. Tangan Ravin hendak mengambil lingerie yang tergantung namun langsung diurungkannya. Dia kembali menutup pintu lemari.
“Yang.. baju kamu ngga ada.”
“Masa sih?” Freya terkejut mendengarnya.
“Iya. Kayanya Nan lupa deh anter koper kamu.”
“Ngga mungkin. Tadi aku lihat ada kok.”
“Ya udah kamu keluar aja, lihat sendiri.”
“Abang bohong nih. Cepet ambilin baju, bang. Aku kedinginan ini.”
“Makanya kamu keluar biar abang angetin.”
“Abaaang….”
Ravin terkekeh mendengar teriakan sang istri, namun pria itu bergeming. Dia tak juga mengambilkan pakaian untuk istrinya itu. Freya yang sudah kedinginan, merasa kesal dengan tingkah suaminya. Baru saja beberapa jam menyandang status suami, pria itu mulai bersikap mesum.
“Abaaang…”
“Iya, Yang..”
“Baju aku please…”
“Iya.. iya..”
Ravin membuka pintu lemari kemudian menutupnya lagi. Dia berjalan mendekati Freya seraya menyembunyikan tangannya di belakang punggung. Melihat Ravin mendekat, Freya menjulurkan tangannya. Sebisa mungkin dia menyembunyikan tubuhnya dibalik pintu.
“Mana bang?”
“Ini..”
Ravin menggerakkan tangan dibalik punggungnya lalu menarik tangan Freya. Terkejut dengan tarikan Ravin, Freya tak punya cukup persiapan untuk menahan tubuhnya. Pintu kamar mandi bergeser dan dengan mudah Ravin menarik Freya keluar. Pria itu langsung mendekap tubuh sang istri yang hanya terbalut handuk. Freya tak berani menatap Ravin. Dia menyembunyikan wajah di dada suaminya.
“Kamu ngga perlu baju malam ini, Yang,” bisik Ravin di telinga Freya dan sukses membuat wanita itu merinding disko.
Perlahan Ravin mengurai pelukannya. Freya buru-buru memejamkan matanya. Namun sejurus kemudian matanya terbuka saat merasakan bibir Ravin menempel di bibirnya. Pria itu mulai memagut bibir ranum yang begitu dirindukannya. Satu bulan menjelang pernikahan, Freya melarang Ravin menciumnya. Dan seminggu sebelum hari H, gadis itu juga meminta mereka melakukan tradisi pingitan. Jangankan bertemu atau bermesraan, dia melarang Ravin menghubunginya melalui pesan, telepon apalagi video call. Pernikahan Viren dan Alisha adalah kali terakhir mereka bertemu sebelum akad nikah.
Terbuai dengan permainan bibir suaminya ditambah rasa rindu yang menggebu, Freya mulai membalas ciuman Ravin. Keduanya dengan cepat hanyut dalam pertautan bibir yang semakin lama semakin dalam dan menuntut.
Ravin mengakhiri ciumannya ketika merasakan pasokan oksigen di sekitar mereka mulai menipis. Kemudian ciumannya berlanjut ke area leher. Sebuah des*han lolos dari bibir Freya saat pria itu menyesap kulit putih itu sedikit kencang. Ciumannya kemudian berlanjut ke area bahu dan dada bagian atas.
Perlahan tangan Ravin melepaskan simpul handuk yang membalut tubuh Freya. Sekali tarik, handuk berwarna putih itu jatuh ke lantai. Ravin kembali mencium bibir Freya seraya menggendong istrinya itu. Perlahan direbahkan tubuh Freya di atas kasur. Pria itu menelan ludahnya kelat saat melihat keindahan di bawahnya.
Ravin menegakkan tubuhnya sebentar untuk melepaskan kaos yang dikenakannya. Seketika suhu tubuhnya naik dan membuatnya panas. Dada Freya berdebar melihat tubuh gagah suaminya. Dadanya yang bidang disertai perut kotak-kotaknya. Ravin memang rajin berolahraga untuk menjaga bentuk tubuhnya.
Pelan namun pasti Ravin menundukkan kepalanya, tujuannya tepat menuju bukit kembar yang sedari tadi telah menantangnya. Kemudian dengan gerakan lembut, dia mulai memainkan salah satu bukit kembar itu dengan mulutnya. Sedang yang satunya lagi diremat menggunakan tangan layaknya squishy.
Walau pun baru pertama kali beradegan intim dengan wanita, namun jangan ditanya kelihaiannya. Selain didorong oleh instingnya sebagai laki-laki, dia juga sudah menerima sedikit ilmu dari para pendahulunya. Total ada tiga orang yang berjasa memberinya bocoran bagaimana melakukan malam pertama. Yang pertama sang sahabat Kenzie. Kedua, adiknya Viren. Dan ketiga, papa Abi, mertuanya yang terkenal dengan julukan bon cabe.
Ravin bersyukur mendapat petunjuk dan ilmu dari sang mertua, karena tidak mungkin dia mengharapkan dari papanya. Kevin adalah orang yang lebih banyak mengajarkan sesuatu dengan bersikap dan bertindak dibandingkan kata-kata. Tak mungkin juga dia meminta sang ayah mempraktekkannya langsung di depannya. Untung saja Abi berbaik hati mau memberikan wejangan seputar hubungan ranjang setelah acara akad nikah.
Lagi terdengar des*han Freya saat Ravin mulai bermain dengan area bawahnya. Kepala gadis itu terdongak, dadanya membusung saat merasakan rasa geli bercampur nikmat yang menghantamnya bersamaan. Beberapa saat kemudian tubuh wanita itu menggelinjang hebat saat meraih pelepasan pertamanya.
Nafasnya terengah, matanya menatap sayu ke arah sang suami yang tengah melepaskan kain terakhir yang melekat di tubuhnya. Freya memejamkan matanya saat melihat sesuatu yang baru pertama kali dilihatnya. Dadanya semakin berdebar, was-was menanti benda pusaka suaminya menerobos miliknya.
Ravin mendekatkan wajahnya kemudian kembali mel*mat bibir Freya untuk menghilangkan kegugupan istrinya itu. Setelah keadaan Freya sedikit rileks, pria itu bersiap untuk menerobos pertahanan Freya dan mencetak gol pertamanya. Ringisan Freya terdengar saat Ravin berhasil menerobos pertahanan dan membobol gawangnya. Ravin berdiam sejenak, memberi waktu untuk sang istri mengatur nafas dan menerima keberadaan benda pusakanya.
Setelah kondisi sang istri tenang, Ravin mulai menggerakkan pinggulnya. Rasa perih bercampur sakit yang tadi dirasakan Freya berangsur mulai berkurang dan berganti dengan kenikmatan. Dia mulai menikmati penyatuan mereka. Keduanya terus melanjutkan percintaan sampai berhasil mencapai puncak nirwana bersama-sama.
☘️☘️☘️
Keesokan harinya, pasangan pengantin tidak bisa ikut sarapan bersama. Freya memilih sarapan di kamar karena bagian bawahnya masih terasa sakit. Apalagi sehabis shubuh Ravin kembali membobol gawangnya. Alhasil wanita itu agak kesulitan untuk berjalan. Setelah meminta staf service mengantarkan makanan pesanannya ke kamar, Ravin merangkak naik ke atas kasur. Pria itu merebahkan kepalanya di pangkuan sang istri.
“Yang.. masih sakit?”
“Sedikit.”
“Banyakan mana kerasanya? Sakit apa enak?”
“Abang iih.. dari semalem omes mulu ngomongnya.”
“Omes sama istri sendiri ngga apa-apa dong. Halalan toyiban, wajib, fardhu ‘ain.”
“Bisa aja jawabnya.”
“Ya udah deh kalau gitu abang ngga akan kasih yang enak-enak lagi.”
__ADS_1
“Dih kok gitu sih. Itu kan nafkah batin.”
“Cie… pengen lagi ya.”
Dengan kesal Freya memijit hidung suaminya. Ravin mengangkat kepalanya seraya melepaskan capitan dihidungnya lalu dengan cepat menyambar bibir istrinya. Tangannya lalu menarik tengkuk Freya untuk memperdalam ciumannya. Lidahnya menerobos masuk dan bermain di rongga mulut sang istri. Lidahnya mulai membelit dan menarik lidah Freya. Membuat keduanya saling bertukar saliva.
Ciuman keduanya terus berlanjut dan semakin intens. Tangan Ravin mulai menggerayangi tubuh Freya, meremat bulatan kenyal sang istri yang hanya terlapisi lingerie tipis. Hasrat pria itu kembali bangkit seiring dengan pertautan bibir mereka yang belum berakhir. Namun mereka harus mengakhiri ciuman panas itu ketika terdengar suara bel.
Dengan sangat terpaksa Ravin mengakhiri ciumannya kemudian keluar dari ruang tidur. Seorang staf service membawakan makanan pesanan mereka. Ravin menaruh sarapan di dapur kecil yang ada di dalam ruangan suite room itu. Dia kembali ke dalam kamar kemudian keluar seraya membopong tubuh Freya. Perlahan didudukkannya sang istri di salah satu kursi.
“Sarapan dulu, Yang. Buat mengganti tenaga yang hilang da biar siap tempur lagi.”
“Abang iihh..”
CUP
Ravin mencium pipi Freya kemudian menyodorkan piring yang berisikan sosis, kentang goreng dan omelet pada istrinya itu. Karena lapar, Freya langsung menyantap sarapannya. Jari Ravin bergerak menghapus sisa saus yang menempel di sudut bibir istrinya lalu menjilatnya.
“Makasih ya, Yang. Udah nerima abang sebagai suami kamu. Abang akan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanmu. I love you,” Ravin mencium punggung tangan Freya dengan mesra.
“Makasih juga bang, mau menungguku. Maaf kalau aku terlalu lama membalas perasaan abang. I love you too.”
“Sayang.. kamu tahu kan, landasan pernikahan itu salah satunya adalah kepercayaan. Abang harap kamu percaya sama abang. Cuma kamu perempuan yang abang cintai dan abang harap kamu pun seperti itu. Jangan biarkan ada orang lain di antara kita.”
“Aku percaya sama abang. Tapi aku ngga percaya dengan Adel. Abang lihat sendiri semalam, di depan aku beraninya dia masih goda abang.”
“Abang janji, hal seperti semalam ngga akan terjadi lagi. Mulai Senin, dia akan dipindahtugaskan ke hotel yang ada di Labuan Bajo.”
“Serius bang?”
“Iya. Hotel di sana lebih membutuhkan dirinya sebagai tenaga marketing. Remy juga bakal dipindahin tapi belum tahu kemana. Abang sama Ezra masih rundingan mau dipindah kemana tuh kutu kupret.”
“Kirim aja ke pulau Komodo atau pulau Rinca, suruh ngelatih komodo biar bisa jaga image kalau ketemu pengunjung.”
Freya terkikik geli mendengar ucapannya sendiri. Ravin merengkuh wajah sang istri kemudian menggigit pipi dengan bibirnya.
“Sakit abang..”
“Abisnya kamu gemesin. Abang kan jadi pengen anu.”
“Iih aku ngga nyangka abang seomes ini. Dulu mama Rindu ngidam apa sih pas hamil abang.”
“Katanya ngidam lihat papa ngedance ala K-Pop.”
“Serius?”
“Iya.”
“Terus papa mau?”
“Kalau gitu nanti aku juga mau gitu aah, pas ngidam. Aku mau lihat abang joged dangdut sambil narik bass betot hahahaha…”
“Ngga usah ngayal ngidam. Mending sekarang usaha aja dulu biar cepet jadi jabang bayinya.”
“Aaaaaa… abang..”
Freya terjengit ketika tiba-tiba Ravin membopong tubuhnya. Wanita yang sudah menanggalkan keperawanannya itu memeluk erat leher Ravin, saat suaminya itu membawanya kembali ke dalam kamar. Sepertinya Ravin akan mencetak gol untuk yang ketiga kalinya.
☘️☘️☘️
Pukul setengah satu siang pasangan pengantin baru keluar dari kamarnya. Keduanya langsung menuju ballroom tempat diadakannya akad nikah Naya dan Aric. Pengucapan ikrar pernikahan pasangan kedua memang sengaja dilakukan siang hari, mengingat mereka baru saja mengadakan pesta hingga malam.
Petugas KUA yang akan menikahkan pengantin estafet ini masih penghulu yang sama. Sedianya pria itu akan menikahkan Azra dan Fathan juga esok harinya. Semua yang berkepentingan sudah berkumpul di meja akad. Aric duduk berhadapan dengan Jojo. Setelah memeriksa kelengkapan dokumen, sang penghulu memberi tanda pada Jojo untuk memulai akad nikah. Jojo menggenggam tangan Aric dengan erat.
“Ananda Muhammad Atalaric Dunia, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya, Nayara Sheila Romano binti Jovan Romano dengan mas kawin satu unit villa senilai dua milyar rupiah dibayar tunai!”
“Saya terima nikah dan kawinnya Nayara Sheila Romano binti Jovan Romano dengan mas kawin tersebut tunai!”
“Bagaimana para saksi, sah?”
“SAH!” tegas Kevin dan Agung yang bertugas menjadi saksi.
“Uhuy… pasangan kadaluarsa akhirnya sah juga!” teriak Kenan.
“Akhirnya setelah mendapat tiga salipan mengenaskan jadi juga nikahnya,” sambung Ravin.
“Kebanyakan drama sih,” celetuk Kenzie.
“Untung pinter suit jadi nikah yang kedua,” sahut Barra.
“Jebol gawangnya besok ya,” diakhiri oleh Fathan.
Ingin rasanya Aric menyumpal para pemilik mulut lemes itu. Namun kemudian kekesalannya tergantikan dengan kehadiran Naya didampingi Adinda dan Sekar. Senyumnya mengembang melihat wanita yang baru dinikahinya lima menit lalu. Naya kemudian duduk di samping Aric. Ritual pemasangan cincin pun dimulai.
Aric merengkuh pundak Naya kemudian mendaratkan ciuman di kening, setelah istrinya itu mencium punggung tangannya. Telinga Naya mendengarkan nasehat sang penghulu tentang pernikahan, sedang matanya terus memandangi cincin yang melingkar di jari manisnya. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya dia sah menyandang status sebagai istri Aric.
Usai penandatanganan dokumen pernikahan, pasangan pengantin mendatangi orang tua satu per satu untuk mendapatkan wejangan dalam mengarungi bahtera ruma tangga. Naya nampak menangis dalam pelukan Adinda saat sang ibu memberikan nasehatnya.
“Belajarlah menjadi istri yang baik. Berhenti bersikap egois, hormati suamimu, taati dia dan minta ijin darinya jika ingin melakukan sesuatu.”
“Iya, ma.”
“Naya, anak papa yang cantik. Selamat nak, keinginanmu menjadi istri Aric sudah terkabul. Papa akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian.”
__ADS_1
“Iya, pa,” suara Naya terdengar semakin tercekat.
Aric menghampiri kedua mertuanya kemudian mencium punggung tangan mereka. Jojo menarik pria itu ke dalam pelukannya. Dalam hatinya bersyukur kedua anak kembarnya mendapatkan lelaki terbaik, anak dari dua sahabat baiknya.
“Papa titip Naya. Tolong gantikan peran papa untuk mendidik, membimbing dan melindunginya. Papa percaya padamu.”
“Sayangi Naya seperti kamu menyayangi mami dan adikmu. Jika dia melakukan kesalahan, tegurlah dengan lemah lembut,” sambung Adinda.
“In Syaa Allah, ma, pa. Aku akan menjaga amanat kalian dengan baik.”
Naya berjalan menuju Sekar dan Cakra. Kedua mertuanya itu langsung menyambut menantu pertama mereka. Walau hubungan Naya dengan orang tua Aric sudah dekat sejak kecil, namun dia merasa hubungannya semakin erat saja setelah sah menjadi menantu mereka.
“Titip Aric ya, Naya. Mami harap kamu bisa menjadi istri yang baik untuknya. Bangunlah rumah tangga kalian dengan ketakwaan, kasih sayang dan kepercayaan.”
“Papi doakan yang terbaik untuk kalian berdua. Jangan sungkan datang pada kami jika kamu mengalami kesulitan. Kalau Aric berani berbuat kasar padamu, katakan pada papi.”
“Terima kasih mami, papi.”
Cakra memeluk Naya juga istrinya. Diciumnya puncak kepala Naya sebelum mengurai pelukannya. Aric mendekati Sekar kemudian mendudukkan wanita itu di kursi. Pria itu bersimpuh di hadapan Sekar kemudian merebahkan kepalanya di pangkuan sang mami. Matanya memanas mengingat perjuangan Sekar saat melahirkan dirinya. Maminya itu hampir kehilangan nyawa dan sempat mengalami koma karena pendarahan. Perlahan buliran bening membasahi pipinya.
“Maafin aku mami.. aku belum bisa menjadi anak yang berbakti untuk mami. Aku belum bisa membalas apa yang sudah mami lakukan untukku…”
Semua yang mendengar ucapan Aric ikut larut dalam keharuan. Sekar pun tak bisa menahan airmatanya. Direngkuhnya tubuh Aric kemudian dipeluknya erat. Untuk sesaat anak dan ibu itu larut dalam tangisan.
“Bagi mami, kamu tumbuh menjadi anak yang sehat, kuat, soleh dan penyayang, itu sudah cukup. Kamu adalah kebanggaan mami. Perlakukan istrimu dengan baik. Kalau kamu menyakitinya sama saja kamu menyakiti mami.”
“Doakan aku, mi. Supaya aku tetap menjadi anak yang baik dan berbakti pada mami dan papi, juga menjadi suami yang baik untuk istriku.”
“Mami akan selalu mendoakanmu, sayang.”
Sekar mencium kening Aric, kemudian menghapus airmatanya. Anak yang dilahirkan dengan penuh perjuangan dan taruhan nyawa kini siap mengarungi hidup baru. Aric melepaskan diri dari Sekar lalu menghampiri Cakra. Tanpa banyak bicara, Cakra menarik Aric dalam pelukannya.
“Papi.. terima kasih untuk semua kasih sayang dan bimbingan papi selama ini. Maafkan aku kalau masih belum bisa melakukan yang terbaik.”
“Papi bangga padamu. Tetaplah menjadi Aric yang sekarang, jangan pernah berhenti untuk belajar dan memperbaiki diri. Sekarang Naya adalah tanggung jawabmu. Jadilah suami yang baik dan bertanggung jawab untuknya.”
“Iya, pi.”
Cakra mengurai pelukannya, kemudian menepuk pelan rahang anaknya itu. Aric menghapus airmatanya kemudian menghampiri Anya. Mata adik perempuannya itu sudah berkaca-kaca.
“Anya..”
“Abang.. hiks.. hiks..”
“Maaf kalau abang belum bisa menjagamu dengan baik. Tapi abang percaya, kamu adalah gadis yang kuat.”
“Aku masih boleh manja-manjaan sama abang kan?” tanya Anya di sela tangisnya.
“Selamanya kamu adalah adik abang. Kapan pun kamu membutuhkan abang, abang akan selalu ada untukmu,” Aric mencium puncak kepala Anya beberapa kali.
“Aku request ponakan ya bang. Kalau bisa sekaligus kembar enam, tiga laki-laki, tiga perempuan biar kak Naya capenya sekalian,” Aric menjitak kepala adiknya ini.
“Aku juga mau nitip pas abang bulan madu.”
“Nitip apa?”
“Itu para jin and the gank yang suka ikutin aku, masukin ke botol terus buang kemana kek.”
“Tenang aja, nanti abang suruh Barra yang ngumpulin jinnya. Mukanya Barra kan cocok buat bikin para jin sawan.”
“Woii kakak ipar lo, nih!!” sewot Barra.
“Oh iya, lupa bro..”
“Bangga banget jadi kakak ipar,” sindir Ravin.
“Apalagi kebanggaannya kalau bukan itu. Status boleh kakak ipar tapi yang paling lama laku. Itu juga dipungut Hanna karena diobral,” celetuk Kenzie dengan santainya.
“Asem.. dasar adik ipar durhakim lo, pada..”
“Hahahaha…”
Barra mendelik ke arah Kenan, tawa si kompor mledug terdengar paling kencang di antara yang lain. Saking terpingkalnya, pemuda itu sampai memegangi perutnya.
“Jangan ketawa lo, Nan. Sendirinya masih jomblo,” ketus Jojo keki.
“Eh bang, gue jomblo masih dimaklumi. Masih muda, masih kinyis-kinyis. Lah abang, udah mau expired huahahaha…”
Barra berjalan menuju meja prasmanan kemudian mengambil sebuah pisang. Tanpa membuka kulitnya, dia langsung memasukkan pisang tersebut ke dalam mulut Kenan. Kini giliran pria itu yang terpingkal melihat mulut Kenan tersumpal makanan favorit monyet dan para saudaranya. Revan dengan cepat mengabadikan momen tersebut.
“Sip.. gue bakalh kirim ke Zahra.”
“Eh monyet, jangan coba-coba ya!” teriak Kenan.
“Elo yang monyet, tuh abisin dulu pisangnya hahaha..”
"Uu.. aa.. uu.. aa.." sahut Haikal sambil bergaya seperti monyet.
Suara tawa kembali terdengar. Para tetua hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat aksi anak-anak mereka. Suasana yang tadi mengharu biru, ambyar sudah dengan tingkah mereka.
☘️☘️☘️
**Mohon maaf hari Minggu kemarin ngga bisa up. Berhubung laptop masih di bengkel, mamake pake laptop adek dan kemarin diambil sebentar sama pemiliknya. Jadi baru bisa up sekarang.
__ADS_1
Mamake up bab ini Senin pagi, ya. Semoga ngga berlete-lete dengan reviewnya dan bisa dibaca di hari yang sama.
Buat yang nunggu Nick, masih dalam proses pengetikan. Mamake bakal tamatin cerita Nick dan Iza kok😉**