KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Loneliness


__ADS_3

Pagi semua...


Terima kasih buat saran kalian semua. Mamake akan tetap lanjutkan cerita ini sampai tamat, disusul dengan kisah Cakra, Bang Ke dan Jojo di lapak ini sampai tamat.


Sebenarnya ada kekhawatiran kalian bosan dengan kisah ini, makanya rencana awal ngga akan bikin episode panjang di cerita ini. Tapi kebijakan NT buat mamake ambil keputusan lain. Semoga kalian tetap enjoy dengan kisah ini ya, lope you all😘😘😘


Happy Reading....


*********************************************


Tanah kuburan masih merah dan basah. Bunga yang bertebaran di atasnya pun masih terlihat segar. Jojo berdiri di depan makam dengan mata terus menatap ke arah nisan kayu yang tertancap kokoh. Semua yang mengantar dan mengikuti prosesi pemakaman sudah kembali. Hanya menyisakan dirinya ditemani sahabat setianya. Jojo kembali teringat ucapan petugas kepolisian yang menghubunginya beberapa jam sebelum pemakaman dilangsungkan.


Maafkan kami pak Jovan. Karena kelalaian anak buah saya, semuanya terjadi. Kami sungguh tak menyangka pak Ronald merebut pistol salah satu anggota kami kemudian menembakkan ke kepalanya sendiri. Pak Ronald meninggal di tempat sebelum kami sempat membawanya ke rumah sakit. Sekali lagi kami minta maaf.


Jojo menjatuhkan dirinya di depan makam Ronald. Sekali lagi dia ditinggalkan oleh orang yang disayanginya dengan cara yang tragis. Tangannya meremas tanah kuburan yang masih basah. Airmatanya jatuh bercucuran. Cakra dan Abi mendekat lalu merangkul sahabatnya.


“Kenapa pa? Kenapa papa begitu pengecut? Harusnya papa jalani saja hukuman papa bukan lari seperti ini. Apa dengan cara ini papa berharap bisa mendapat maaf dariku?”


Jojo kembali menangis, hidupnya benar-benar hampa saat ini. Kalau bukan karena dua sahabat serta orang-orang di sekelilingnya yang terus memberikan dukungan, ingin rasanya dia menyusul Anka dan Ronald.


“Sabar Jo, gue yakin setelah ini akan ada kebahagiaan buat elo,” Cakra menyemangati.


“Gue udah ngga punya siapa-siapa lagi.”


“Jangan pernah bilang lo ngga punya siapa-siapa. Ada gue, Cakra, semua keluarga gue adalah keluarga elo. Jadi jangan pernah bilang lo sendiri!”


“Makasih Bi, Cak. Kalian emang sahabat terbaik gue.”


“Jo...”


Jojo menoleh saat namanya dipanggil seseorang. Dia berdiri kemudian menghampiri Richard, adik dari Ronald. Richard memandang anak sambung kakaknya dengan mata berkaca-kaca. Setelah mendengar kasus kriminal yang menimpa sang kakak, Richard bergegas datang ke Bandung. Tapi dia dikejutkan dengan kabar meninggalnya sang kakak satu jam setelah bertemu dengan dirinya.


“Maafkan papamu Jo. Om tahu dia telah berbuat banyak kesalahan, tapi om mohon maafkan dia. Dia sangat menyayangimu, semua yang dilakukannya karena ketakutannya kehilangan dirimu. Seandainya om tahu apa yang dia lakukan, om pasti akan berusaha menghentikannya.”


“Tapi kenapa papa harus pergi dengan cara seperti ini? Harusnya dia tetap hidup untuk menebus semua kesalahannya.”


“Om sempat berbicara dengannya saat di kantor polisi. Semenjak Anka meninggal, papamu tidak pernah hidup tenang. setiap malam dia selalu dibayangi kematian Anka. Dia juga takut kamu mengetahui kebenarannya, takut kamu akan membenci dan meninggalkannya. Karena itulah dia berusaha membuat jurang pemisah untukmu juga Abi. Dia takut Abi akan membongkar semua kejahatannya, dia juga nekad ingin mencelakai Sekar demi membuat hubunganmu dengan Abi semakin memburuk. Om tahu dia menyayangimu dengan cara yang salah. Tapi satu yang harus kamu tahu Jo, papamu sangat menyayangimu. Dia meninggalkan wasiat untukmu. Selama setahun belakangan ini, diam-diam papamu membangun bisnis rumah produksi. Dia melakukan itu untuk mewujudkan cita-cita Anka. Dalam wasiatnya dia menghibahkan perusahaan itu padamu dan minta kamu mengurusnya.”


“Ngga om, aku ngga mau.”


“Tolong terima niat baiknya Jo. Om ngga akan memaksamu untuk menerimanya sekarang. Tapi om minta, pikirkan lebih dulu. Ini, papamu juga menitipkan surat ini untukmu.”


Jojo memandangi amplop putih di tangan Richard. Dengan ragu Jojo mengambil amplop tersebut. Richard memeluk Jojo dengan erat. Seperti halnya Ronald, dia pun sangat menyayangi Jojo. Richard melepaskan pelukannya lalu menepuk pelan rahang Jojo.


“Om harap sebelum om pulang ke Singapura, om sudah menerima jawabanmu. Dan seringlah berkunjung ke Singapura, rumah om selalu terbuka untukmu.”


“Terima kasih om.”


Richard tersenyum kemudian menghampiri kedua sahabat Jojo. Dia menyalami Cakra seraya mengucapkan terima kasih karena tetap mendampingi Jojo di masa sulitnya. Kemudian Richard menghampiri Abi.


“Abi.. atas nama Ronald, om meminta maaf padamu. Om tahu sudah banyak yang dia lakukan padamu. Om hanya berharap kamu mau memaafkannya, agar dia tenang di sana. Om juga titip Jojo.”


“In Syaa Allah saya sudah memaafkannya om. Om ngga usah khawatir soal Jojo, dia akan baik-baik saja.”


“Terima kasih Bi, kamu memang anak yang baik. Kalau begitu om permisi dulu.”


Richard memandang sejenak ke arah makam sang kakak. Awalnya dia ingin membawa jasad sang kakak pulang dan dimakamkan di sana. Tapi wasiat terakhir Ronald mengatakan ingin dimakamkan di samping makam Anka dan istrinya. Dengan berat hati Richard mengabulkan keinginan terakhir sang kakak.


“Selamat tinggal kak. Beristirahatlah dengan tenang, ada Anka dan kak Amira yang mendampingimu. Aku akan menengokmu sewaktu-waktu.”


Richard mengusap nisan yang bertuliskan nama sang kakak kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan peristirahatan terakhir Ronald. Tak lama kemudian Abi mengajak Cakra juga Jojo untuk pergi karena hari sudah semakin sore. Ketiganya keluar dari pemakaman umum menggunakan mobilnya.


☘️☘️☘️


Sepeninggal kedua sahabatnya, apartemen Jojo kembali sepi. Pria itu menolak ketika Abi mengajaknya menginap di rumah, begitu juga dengan ajakan Cakra. Saat ini Jojo hanya ingin sendiri. Memberikan waktu untuk dirinya sendiri memikirkan apa yang akan dilakukannya kemudian.


Jojo masuk ke dalam kamar. Matanya langsung tertuju pada amplop putih pemberian Richard yang tergeletak di atas meja. Amplop putih itu masih tertutup rapat. Untuk sesaat Jojo memandangi amplop tersebut, ada keraguan untuk membuka dan membacanya. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Jojo memutuskan untuk membaca surat terakhir dari papa sambungnya.


Jojo meraih amplop kemudian berjalan menuju ranjang. Dia duduk menyandar ke headboard ranjang lalu mulai membuka amplop putih tersebut. Dadanya berdebar saat membuka lipatan kertas. Matanya mulai membaca deretan kalimat yang tertulis rapih.


Teruntuk anakku, Jojo

__ADS_1


Jojo.. maaf.. hanya itu yang bisa papa katakan padamu. Maaf atas segala hal yang papa lakukan atas dasar kasih sayang, nyatanya hal itu malah membuatmu menderita. Mungkin terkesan klise kalau papa bilang, semua kejahatan yang papa lakukan karena takut kehilanganmu. Tapi memang itu kenyataannya.


Kesalahan pertama yang papa lakukan adalah jatuh cinta pada Anka. Selanjutnya seperti orang bodoh, papa terus melakukan kesalahan lain yang tidak berujung. Papa sadar kalau sudah begitu egois. Papa mencintai Anka, papa berusaha memilikinya dengan cara yang salah, yang akhirnya membuatnya membenci papa.


Papa juga sangat menyayangimu hingga melakukan hal buruk demi membuatmu terus berada di sisi papa. Sekali lagi maafkan papa. Sampaikan permintaan maaf papa pada Abi. Satu-satunya alasan papa menjadikannya kambing hitam karena dia sangat menyayangimu. Dia pasti akan melakukan apapun demi mencari orang yang telah menodai Anka jika kamu yang memintanya. Itulah yang membuat papa memaksa Anka memfitnah dirinya.


Maaf kalau papa menjadi pengecut dengan meninggalkan dunia ini, bukannya bertahan untuk mendapatkan maaf darimu. Papa merasa tidak pantas dan malu berhadapan denganmu lagi. Tapi papa tenang meninggalkanmu bersama dengan Abi dan Cakra. Mereka akan selalu berada di sampingmu di saat terburukmu sekalipun.


Papa mohon kamu mau melanjutkan usaha yang telah papa rintis. J & J Entertainment, papa bangun untuk mewujudkan impan Anka sekaligus sebagai penebus kesalahan papa. J & J papa ambil dari nama kalian berdua, Jovan dan Jovanka. Papa harap kamu bisa mengembangkan J & J Entertainment dan mewujudkan impian Anka.


Sekali lagi papa minta maaf padamu. Papa harap kamu bahagia selalu, papa juga mendoakan kamu dapat bertemu dengan wanita baik yang mencintai dan menyayangimu sepenuh hati. Jika kamu menikah dan memiliki anak, tolong jangan lupa perkenalkan papa padanya.


Terima kasih Jo, sudah hadir dalam hidup papa. Menyempurnakan hidup papa yang tak sempurna ini. Kamu adalah anak yang Tuhan kirimkan untuk papa. Papa sungguh berharap melihatmu hidup bahagia, sampai hembusan nafas terakhir papa tetap hanya namamu yang ada dalam doa papa. Jaga dirimu baik-baik nak, hiduplah dengan baik dan lupakan semua kenangan buruk yang terjadi.


Peluk cium terakhir papa untukmu, Jojoku tersayang.


“Papaaaaa!!!!”


Teriakan kencang Jojo membahana di sekeliling ruangan. Tangisnya kembali pecah membaca surat terakhir Ronald. Dibalik semua kesalahan yang dilakukan pria itu, Jojo tak menampik kasih sayang yang diberikan Ronald padanya begitu besar. Setelah kecewa mendengar semua hal buruk yang dilakukan sang papa, Jojo kembali dibuat terpukul dengan aksi bunuh diri pria tersebut. Jojo seperti mendapatkan pukulan beruntun dalam hidupnya.


☘️☘️☘️


Di sebuah rumah yang tampak sepi, seseorang juga tengah meratapi kesendiriannya. Cakra berdiri memandangi foto keluarga berukuran besar yang terpajang di ruang tamu rumahnya. Foto itu diambil tiga tahun lalu, dua minggu sebelum kecelakaan pesawat yang dialami kedua orang tuanya.


Sejak saat itu, Cakra hanya tinggal berdua bersama bi Sumi. Pria itu juga lebih banyak menghabiskan waktu di kantor atau bermain di rumah Abi untuk mengalihkan rasa sepinya. Melihat Jojo yang terpukul ketika kehilangan Ronald, secara tidak langsung mengingatkannya akan peristiwa kelam saat dirinya mendadak harus menjadi yatim piatu.


“Ma.. pa.. sebentar lagi aku akan menikah. Rumah ini tidak akan sepi lagi. Aku berharap mama dan papa bisa melihatku dari sana. Aku merindukan kalian. Terima kasih ma, pa... doa kalian menjadi kenyataan....”


Cakra tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Tenggorokannya serasa tercekat, hanya matanya yang tampak berair. Dalam satu kedipan saja, dipastikan buliran bening itu akan luruh membasahi wajahnya. Dia kembali teringat ketika sang mama selalu mendoakannya berjodoh dengan Sekar begitu mengetahui anaknya mencintai adik dari sahabatnya itu.


Cakra tersentak ketika sebuah tangan memeluk lengannya. Sekar berdiri di sampingnya seraya tersenyum ke arahnya. Tangannya bergerak menghapus genangan air di sudut mata calon suaminya.


“Abang ngga sendirian. Ada aku, kak Abi, bang Jojo dan yang lainnya bersama abang. Kami semua menyayangimu, mama dan papa pasti bahagia di sana melihat anaknya tumbuh menjadi laki-laki baik dan kuat.”


“Terima kasih Se..”


Cakra mendekap Sekar erat. Tangan Sekar melingkar di pinggang Cakra. Membiarkan calon imamnya itu menangis dalam pelukannya. Cakra yang biasanya selalu terlihat ceria kini terlihat begitu rapuh. Dibalik senyumannya, dia memendam kesedihan seorang diri. Puas menumpahkan semua kesedihannya, Cakra melepaskan pelukannya.


“Makasih Se,” Cakra meraih tangan Sekar lalu mencium punggung tangannya.


“Kamu naik apa ke sini?”


“Tadi dianter sama pak Kamal. Aku sengaja ke sini mau minta dianter abang ke rumah Hendi.”


“Hendi? Anak ingusan itu?”


Sekar tergelak mendengar julukan Cakra untuk Hendi. Ingus yang dimaksud Cakra sudah tentu dalam bentuk yang sebenarnya. Gadis itu selalu tertawa kalau mengingat ekspresi Cakra saat melihat angka sebelas di bawah hidung Hendi.


“Iya bang, Hendi yang itu. Ayo, aku mau kasih undangan buat mamanya. Tapi kita mampir dulu ya bang beli oleh-oleh buat mereka.”


“Ayo.”


Cakra mengambil kunci mobil di atas nakas kemudian menggandeng tangan Sekar menuju mobilnya. Kendaraan roda empat miliknya mulai membelah jalanan menuju kediaman Hendi. Sebelumnya mereka mampir dulu di supermarket untuk membeli camilan sebagai oleh-oleh. Kebiasaan yang tak pernah Sekar lewatkan saat akan menemui Hendi.


Kedatangan Sekar dan Cakra disambut oleh ibu Hendi. Dia mempersilahkan keduanya untuk masuk. Kehidupan Hendi dan keluarganya sudah lebih baik. Lewat bantuan Sekar, mereka bisa pindah ke rumah yang lebih layak huni. Ibu Hendi juga menggunakan uang yang diberikan Sekar untuk modal dagangnya. Dia berjualan topokki di depan kampus yang ada di dekat kontrakannya. Tentu saja ide itu berasal dari Sekar.


“Gimana bu usahanya? Lancar?”


“Alhamdulillah neng.”


“Nanti aku bantu jualan online ya bu.”


“Makasih ya neng. Neng Sekar teh meni bageur pisan. Tumben nih malam-malam ke sini, ada apa neng?”


“Ini bu, saya mau kasih undangan pernikahan saya sama bang Cakra. Ibu sama anak-anak datang ya.”


“Aduh ibu malu neng. Ibu ngga punya baju bagus, nanti malah malu-maluin neng Sekar kalau ibu datang.”


“Soal itu ibu ngga usah pikirin. Nanti ada temen saya yang ke sini. Dia yang bakal antar ibu sama anak-anak beli baju.”


“Ya Allah neng, ibu jadi malu. Neng teh baik pisan ke ibu dan anak-anak.”

__ADS_1


“Saya kagum sama ibu. Ibu berjuang sendirian membesarkan tiga orang anak.”


Ibu Hendi tersipu malu. Awal perkenalan mereka, Sekar sering melihatnya mangkal di dekat lampu merah untuk mengemis. Berkat gadis itu, dia bisa membuka usaha sendiri tanpa harus mengemis pada orang lain.


“Hendi mana bu?”


“Hendi lagi latihan kabaret neng. Mahasiwa seni di kampus depan sana mau adain acara, salah satunya mau bikin kabaret, mereka ngajak Hendi. Katanya Hendi pinter akting.”


“Emang pinter bu, pinter banget,” timpal Cakra. Sekar terkikik geli mengingat aktingnya dulu bersama Hendi.


“Assalamu’alaikum..”


“Waalaikumsalam.”


Panjang umur, sosok yang mereka bicarakan tiba. Hendi datang dengan membawa kotak makanan di tangannya. Hendi tersenyum lebar melihat Sekar. Dia menghambur ke arah gadis itu lalu mencium punggung tangannya.


“Kak Sekar.”


Hendi lalu beralih pada Cakra. Dia juga bermaksud mencium punggung tangan Cakra, tapi pria itu lebih dulu memegang dagu Hendi lalu mendongakkan kepalanya. Dia ingin memastikan kalau tidak ada angka sebelas di bawah hidung Hendi. Baru kemudian menyodorkan tangannya.


“Hendi udah ngga ingusan lagi, om,” ucap Hendi setelah mencium punggung tangan Cakra.


“Eh kenapa panggil dia kakak terus panggil aku om?” protes Cakra.


“Ya kan kak Sekar masih muda, makanya aku panggil kakak. Kalau om kan udah tua.”


Jawaban polos Hendi sontak membuat Sekar terbahak. Cakra membelalakkan matanya, tak percaya bocah di hadapannya mengeluarkan kata-kata seperti itu. Dia melihat keki ke arah Hendi yang hanya cengar-cengir saja.


“Kita pulang dulu ya bu. Jangan lupa ya datang ke pernikahanku.”


“Iya neng. In Syaa Allah ibu akan datang.”


Sekar berpamitan pada Hendi juga adik-adiknya kemudian meninggalkan rumah sederhana itu bersama dengan Cakra. Selama dalam perjalanan Cakra tak hentinya protes tentang panggilan Hendi untuknya. Sekar tak dapat berhenti tertawa mendengarnya.


Cakra membukakan pintu mobil untuk Sekar setelah mereka sampai di kediaman Teddy. Dia mengantarkan Sekar sampai ke depan pintu. Sekar membalikkan badannya berhadapan dengan Cakra.


“Makasih ya bang.”


“Sama-sama.”


“Inget ya abang jangan sedih-sedih lagi.”


“Iya sayang.”


Sekar mendekat lalu memeluk pinggang Cakra. Selang beberapa detik kemudian Sekar melepaskan pelukannya lalu berjinjit, dengan cepat dia mengecup bibir Cakra membuat pria itu membeku selama beberapa detik.


“Kalau abang sedih, inget aja yang tadi aku kasih ya,” wajah Sekar tampak merona.


“Se.. boleh siaran ulang ngga?”


“Ngga ada!”


Sekar buru-buru masuk ke dalam rumah lalu menutup pintu. Cakra mengulum senyumnya. Jarinya bergerak mengusap bibirnya yang baru saja terkena kecupan singkat calon makmumnya. Sambil bersiul dia berjalan kembali ke mobilnya. Sejenak Cakra berdiam di belakang kemudinya. Kemudian dia mengambil ponsel lalu menghubunginya sahabatnya.


“Paan lo malem-malem telpon,” terdengar suara Jojo dari seberang.


“Jo, ke rumah Abi yuk. Kita nginep di sana sambil ngegame, kan udah lama kita ngga ngegame bareng.”


“Tapi besok anterin gue ke J & J Entertainment ya.”


“Gampang itu, sekalian besok ajak Abi juga.”


“Woke, gue otw sekarang.”


☘️☘️☘️


**Kok mamake sedih ya pas nulis surat dari papa Ronald buat Jojo🤧


Untung ada Hendi yang bikin suasana jadi ngga melow lagi😁


Bang Cak maunya ada siaran ulang, salah sendiri tadi ngga gercep nyamber bibir Sekar🙊**

__ADS_1


__ADS_2