KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Efek Domino


__ADS_3

Dua hari setelah insiden yang menimpa Anya, Kenzie pulang dari acara bulan madunya. Pria itu sengaja mempercepat kepulangannya karena khawatir dengan keadaan sepupunya itu. Walau Kenan sudah mengatakan kalau keadaan Anya sudah lebih baik. Tetap saja Kenzie merasa cemas kalau belum melihatnya secara langsung.


Setelah sampai di kediaman orang tuanya, Kenzie dan Nara langsung meluncur ke kediaman Cakra. Kedatangan pengantin baru itu tentu saja disambut gembira oleh Anya.


“Bang Ken!” seru Anya seraya menghambur ke arah kakak sepupunya itu. Dengan manja, gadis itu memeluk erat tubuh Kenzie.


“Gimana keadaan kamu?”


“Alhamdulillah udah baik, bang. Mana oleh-olehnya?”


“Tuh di kak Nara.”


“Asik.”


Anya melepaskan diri dari Kenzie kemudian menghambur ke arah Nara. Setelah berpelukan dan bercipika-cipiki, Anya langsung menagih oleh-oleh untuknya. Nara memberikan paper bag ditangannya. Dari arah taman belakang muncul Kenan. Sejak kejadian dua hari lalu, Kenan memang selalu menemani Anya di rumah sampai Cakra atau Aric pulang dari kantor. Bahkan pemuda itu rela bolos kuliah demi menemani Anya yang masih takut kalau tidak ada pria di dekatnya.


“Ngga kuliah lo?” tegur Kenzie.


“Ngga bang. Nemenin nyi loreng,” celetukan Kenan langsung dibalas cebikan bibir Anya.


“Kok udah balik lagi? Katanya masih seminggu lagi,” seru Kenan lagi.


“Mas Ken khawatir sama Anya.”


Kenan hanya manggut-manggut saja. Kenzie memang menyayangi Anya seperti dirinya. Jadi wajar saja kalau sang kakak mempercepat kepulangan demi gadis somplak itu. Kemudian matanya melihat ke arah paper bag di tangan Anya.


“Oleh-oleh buat gue mana?” tanya Kenan.


“Ya di rumahlah, ngapain gue bawa ke sini.”


“Hehehe.. ya kali dibawa. BTW gue kangen sama kakak ipar, peyuk gue dong kak,” Kenan hendak memeluk Nara, namun sebuah jeweran menahan langkahnya.


“Berani peluk Nara, gue bikin bonyok lo!” ancam Kenzie.


“Sokooorrr,” ledek Anya.


Nara hanya terkikik geli melihat tingkah Kenzie dan Kenan. Suaminya yang bucin plus posesif padanya dan Kenan yang senang menjahili kakaknya.


“Bang.. aku abis buat cheese cake. Abang mau ngga?” tawar Anya.


“Mau dong.”


“Kita makan di halaman belakang aja yuk.”


Kenzie menganggukkan kepalanya. Sambil memeluk pinggang Nara, pria itu menuju ke halaman belakang lalu mendudukkan diri di gazebo yang ada di sana. Kenan berbaik hati membantu Anya membawakan kue dan minuman untuk pasangan pengantin baru.


Anya meletakkan nampan berisi cheese cake dan empat buah piring kecil, disusul Kenan yang membawa minuman dingin. Kenzie menepuk ruang kosong di sebelahnya, meminta Anya untuk duduk di sebelahnya. Dia lalu merengkuh bahu Anya, sedang tangan satunya lagi memeluk bahu Nara. Kenan hanya mencibir saja melihat gaya Kenzie yang sudah seperti sultan saja, diapit dua wanita cantik.


“Itu kejadian kemarin gimana ceritanya?” tanya Kenzie.


Sebenarnya Anya malas membicarakan kejadian paling menyeramkan dalam hidupnya, namun karena yang bertanya adalah kakak sepupunya tersayang, gadis itu mengulang kembali cerita menyeramkan itu. Nara yang mendengarkan, merinding sendiri mendengar cerita Anya. Tak terbayang kalau dirinya yang ada di situasi itu.


“Ya ampun, Nya. Kamu berani banget. Kalau aku udah pingsan kali,” ujar Nara setelah Anya selesai bercerita.


“Terus pelakunya dikasih hukuman apa?” tanya Kenzie.


“Yang lima orang di DO dari kampus. Mereka juga ngga dikasih fasilitas transfer nilai kalau mau daftar kuliah. Terus selama tiga bulan dikirim ke pulau A buat kerja suka rela di sana,” jelas Kenan.


“Bagus,” seru Kenzie.


“Tapi gue ngga puas sama hukuman buat si mak lampir, dalangnya, si Jihan.”


“Emang dia dihukum apa?”


“Bang Aric cuma hukum dia pindah kelas sama jadi relawan setahun. Ngga adil banget kan, harusnya dia dapet hukuman yang lebih berat. Makanya gue tambahin hukuman dia ngerasain apa yang Anya alamin. Tapi masih gedeg gue,” kelutus Kenan.


“Biar bagaimana juga Jihan itu anak om Gurit. Itu yang jadi pertimbangan Aric kasih hukuman seperti itu. Tapi sebenernya hukuman Jihan ngga sesimple itu. Aric sengaja kasih hukuman yang ngga seimbang, biar yang lima orang itu merasa ngga adil. Dia lagi nunggu efek domino dari keputusan yang dia buat,” tutur Kenzie.


“Maksud mas gimana?”


“Dari sifatnya, ketahuan kalau lima orang itu iri dan dengki. Mereka pasti ngga akan tinggal diam lihat Jihan dapet hukuman yang lebih ringan dari mereka. Pembalasan dari mereka yang ditunggu Aric.”


“Oh gitu,” celetuk Kenan.


“Kalau kak Nara yang digituin sama Jihan, apa bang Ken bakal ambil keputusan yang sama kaya bang Aric?” tanya Anya.


“Mungkin. Tapi sebelumnya abang bakalan botakin rambutnya terus pakein baju kodok. Suruh dia keliling lapangan gasibu tengah hari bolong sambil pake empeng terus dibikin live streaming.”


“Huahahaha.. wuanjayyy abang gue beneran sadis. Kenapa gue ngga kepikiran ya,”celetuk Kenan.


“Makanya jangan mulut mulu yang digedein bacotnya. Otak lo juga mesti digedein kapasitasnya hahahaha,” sahut Anya yang dibalas toyoran di kepala dari Kenan.

__ADS_1


Nara hanya menggelengkan kepalanya saja. Membayangkan Jihan seperti yang dikatakan Kenzie tadi membuatnya terkikik geli. Suaminya ini memang tidak perlu ditanya kesadisannya dalam memberikan hukuman.


“Eh bang, kemarin pas ditelepon bilang lagi bikin adonan. Adonan apa bang?” tanya Anya polos.


Wajah Nara memerah mendengarnya. Dengan kesal dia menepuk lengan suaminya ini. Anya yang tidak mendapat jawaban dari Kenzie melihat ke arah Nara. Wanita itu kelimpungan sendiri. Bagaimana mungkin dia mengatakan kalau adonan yang dimaksud adalah usaha Kenzie menembakkan kecebongnya hingga berkembang menjadi embrio.


“Kalian selama bulan madu ngapain aja? Katanya di sana banyak tempat bagus ya,” Kenan mencoba mengalihkan pembicaraan.


“Ya macem-macemlah, namanya juga liburan. Tapi paling sering sih ke pulau kapuk,” lagi Kenzie menjawab pertanyaan seenak jidatnya.


“Ngapain ke pulau kapuk?” tanya Anya kepo.


“Tidur sambil berantem, Nya,” jawab Kenzie. Nara menepuk keningnya mendengar ucapan suaminya yang mulai mesum saja.


“Berantem gimana?”


“Udah kaga usah banyak tanya. Si bang Ken aja di dengerin, dia mana pernah jawab pertanyaan bener sih. Eh bang jangan ngasal lo ngasih jawaban ke anak perawan oon model dia. Tar kalo dia pengen gimana? Mana belum ada lawan. Belum laku dia, kecuali jin Singapura yang ngikutin dia mulu huahahaha…”


“Nan!! Kampreto lo!”


Kenan segera beranjak dari tempatnya begitu melihat pergerakan Anya yang hendak menghajarnya. Namun Anya yang kadung kesal terus mengejar sepupu durjananya itu. Kenzie tak bisa menahan tawa melihat kelakuan keduanya. Senang rasanya melihat Anya sudah kembali ceria seperti sebelumnya.


☘️☘️☘️


Setelah dua hari membolos, akhirnya Jihan mulai kuliah kembali. Namun kali ini dia memasuki kelas yang berbeda dari Anya. Semenjak peristiwa dua hari lalu, Jihan lebih banyak diam, gadis itu selalu terlihat murung. Bukan hukuman Aric yang membuatnya sedih, tapi sikap Gurit yang berubah dingin padanya. Bukan hanya Gurit, tapi juga kakaknya, Emily ikut mendiamkannya.


Jihan memasuki ruangan di mana teman-teman barunya berada. Hanya satu dua orang yang dikenalnya di kelas ini. Keadaan kelas sendiri sudah cukup ramai oleh para mahasiswa yang telah siap mengikuti perkuliahan pertama pagi ini. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Hampir semua yang ada di ruangan melihat kepadanya. Terdengar bisik-bisik mereka membicarakan perbuatan Jihan tempo hari.


Tak terima saat tahu hukuman yang diterima Jihan lebih ringan, sebelum berangkat ke pulau A, salah satu dari mereka menyebarkan berita tentang kejadian di belakang kampus dan tak lupa menyebutkan nama Jihan sebagai dalangnya. Tentu saja itu menghebohkan warga kampus. Bahkan berita tersebut sudah sampai ke telinga para dosen dan dekanat.


“Gila ya, sama temen sendiri bisa sadis gitu. Kalau gue sih ogah deh temenan sama model begitu,” cetus salah satu mahasiswi.


“Cinta ditolak, demit bertindak hahaha,” timpal yang lainnya.


“Yakin gue, Nan bakalan tambah ilfil sama dia.”


“Sirik tanda tak mampu, makanya pake jalan licik. Minta bantuan kunti dan kawan-kawan untuk menjatuhkan lawan hahaha..”


Komentar-komentar pedas terus menyapa indra pendengaran Jihan. Mata gadis itu mulai berkaca-kaca, rasanya tak sanggup mendengar semua itu. Baru saja Jihan akan keluar kelas, dosen yang mengajar sudah lebih dulu masuk. Gadis itu terpaksa mendudukkan tubuhnya kembali.


Selama perkuliahan berlangsung, Jihan tak dapat berkonsentrasi. Di kepalanya terus terngiang komentar pedas yang didengarnya tadi. Di tengah materi, sang dosen memberikan tugas yang harus dikerjakan secara berpasangan. Dari semua penghuni kelas tak ada yang mau berpasangan dengan Jihan.


“Maaf pak, saya mending ngerjain sendiri dari pada dipasangin sama Jihan. Takut ditusuk dari belakang pak,” ujar mahasiswi yang diminta berpasangan dengan Jihan.


“Ngga apa-apa pak.”


“Biar sama saya aja pak.”


Perhatian sang dosen dan seluruh penghuni kelas tertuju pada seorang pemuda yang baru saja masuk. Pria muda yang wajahnya lumayan manis itu, berjalan menghampiri sang dosen dengan sebuah amplop di tangannya.


“Maaf pak, saya mahasiswa pindahan dari kampus lain. Mulai hari ini, saya gabung di kelas ini,” ujar pemuda itu seraya menyerahkan amplop di tangannya.


“Silahkan duduk.”


Pemuda itu menganggukkan kepalanya. Dengan ransel di pundaknya dia berjalan menuju ke meja kosong yang ada di dekat meja Jihan. Seraya melemparkan senyum, pemuda itu mendudukkan diri. Jihan cukup terkejut melihat pria yang mengantarkannya ke rumah setelah dikerjai oleh Kenan kini satu kelas dengannya.


Jamal memang diperintahkan oleh Dendi untuk mengawasi pergerakan Jihan di kampus. Jangan sampai gadis itu kembali mengulangi perbuatannya. Sebenarnya saat di markas, Jamal sempat bertemu dengan Jihan. Namun karena pemuda itu selalu mengenakan masker, membuat Jihan tak mengenalinya. Apalagi pertemuan mereka hanya terjadi sekilas.


Sejatinya Jamal malas mendapat tugas seperti ini. Dia lebih baik diberi tugas menyusup ke sarang musuh dari pada harus berpura-pura sebagai mahasiwa. Otaknya sudah buntu kalau harus kembali ke bangku perkuliahan. Baru saja dia menyelesaikan studinya tahun ajaran lalu. Itu juga berkat bantuan Fathan yang membimbingnya menyelesaikan tugas akhir. Tapi demi profesionalitas, pemuda itu akhirnya pasrah saja menjalani perannya yang baru sebagai mahasiswa pindahan.


“Hai.. ketemu lagi, kita,” sapa Jamal.


“Kamu yang waktu itu nganterin aku pulang kan?”


“Iya. Nama gue Jamal,” Jamal mengulurkan tangannya ke arah Jihan.


“Jihan.”


“Kita sekelompok sekarang. Mohon bimbingannya ya, soalnya gue rada belet,” Jamal terkekeh. Jihan hanya tersenyum tipis, namun dia cukup senang ada orang yang mau mengajaknya bicara dan satu kelompok dengannya mengerjakan tugas.


☘️☘️☘️


Perkuliahan hari ini baru saja berakhir. Dengan langkah lunglai, Jihan berjalan menuju tempat parkir. Dia ingin segera pulang mengistirahatkan diri karena kelelahan yang melanda. Bukan lelah secara fisik, melainkan hati. Cibiran, sindiran dan komentar pedas para mahasiwa, baik yang mengenalnya atau tidak membuat hatinya lelah menjalani hari ini. Dia tahu kalau masalah ini tidak akan cepat berlalu. Besok pun dia harus kembali menyiapkan telinga dan hatinya.


Saat berada di area parkir, dia bertemu dengan Anya yang tengah berjalan bersama dengan Kenan. Tak ada kata yang keluar dari bibir Anya, gadis itu masih belum mau bertegur sapa dengan Jihan. Demikian juga Kenan yang tak melirik sedikit pun padanya. Hati Jihan bertambah mencelos ketika Revan dan Haikal juga memperlakukannya seperti mahkluk tak kasat mata.


Sambil menundukkan kepalanya, Jihan berjalan menuju mobilnya. Ketika dia hendak membuka pintu mobil, seorang wanita paruh menghampirinya. Jihan terpaku melihat wanita itu yang tengah menatapnya dengan sengit.


“Kamu Jihan Kemala kan?”


“Iya, bu.”

__ADS_1


“Saya ibunya Resti. Ayo ikuti mobil yang di sana.”


Wanita itu menunjuk sebuah mobil sedan berwarna hitam yang terparkir beberapa meter dari mobil Jihan. Jihan terkesiap mendengar nama anak wanita itu. Resti adalah salah satu orang yang membantunya mengerjai Anya. Tanpa meminta ijin, mama Resti segera masuk ke dalam mobil Jihan. Gadis itu terjengit ketika wanita tersebut menekan klakson. Dengan cepat dia masuk ke dalam mobil dan mengikuti kendaraan yang ditunjuk tadi.


Kendaraan di depan Jihan berbelok ke arah café. Gadis itu pun terus mengikuti dan berhenti di dekat mobil tersebut. Dari dalamnya keluar seorang pria paruh baya. Dia adalah ayah dari Resti. Tanpa banyak bertanya Jihan mengikuti kedua orang itu masuk ke dalam café.


Jamal yang sejak dari kampus mengikuti Jihan dengan sepeda motornya segera melaporkan apa yang dilihatnya pada Dendi. Pria itu lalu memasuki area café dan memarkirkan motornya. Setelah memakai maskernya, Jamal masuk ke dalam café dan mengambil tempat duduk tak jauh dari Jihan.


Dengan perasaan was-was, Jihan memandangi lima pasang suami istri yang duduk di hadapannya. Dia seperti tengah menghadiri sidang saja. Tangannya meremat blouse yang dikenakannya, mencoba menghalau rasa gugup yang melanda.


“Jadi kamu yang sudah menyebabkan anak saya terkena hukuman. Dikeluarkan dari kampus dan harus menjadi sukarelawan di pulau tempat para kriminal di penjara,” terdengar suara mama Resti.


“Kamu yang jadi otak kejahatan kenapa anak kami yang harus menerima hukuman lebih berat?”


“JAWAB!!”


Jihan terlonjak ketika salah satu pria menggebrak meja hingga menimbulkan suara keras. Jamal bersiaga kalau-kalau salah seorang dari mereka bermaksud mencelakai Jihan.


“Maaf om.. tante.. maafkan saya,” suara Jihan terdengar tercekat. Airmatanya sudah menganak sungai. Satu kedipan saja, airmata itu akan luruh berjatuhan.


“Apa maafmu bisa mengembalikan keadaan seperti semula? Waktu anak-anak kami terbuang percuma karena harus mengulang kuliah dari awal. Belum lagi kerugian akan biaya yang telah kami keluarkan.”


“Kalau kamu mau berbuat jahat, lakukan sendiri! Jangan libatkan anak-anak kami!”


Jihan semakin terpojok. Gadis itu tak bisa berkata apa-apa. Hanya airmatanya saja yang sudah jatuh berderai. Cercaan dan makian terus terlontar dari para orang tua di hadapannya. Jamal yang melihatnya jadi geram sendiri. Memang apa yang dilakukan Jihan itu salah, tapi tidak seharusnya mereka menyerangnya bersamaan seperti ini. Pemuda itu berdiri hendak menghentikan perbuatan mereka. Namun kedatangan Gurit menghentikannya. Dendi memang langsung menghubungi Gurit setelah mendapat laporan dari Jamal.


“Maafkan atas kesalahan anak saya.”


Ucapan Gurit menghentikan cercaan para orang tua itu. Jihan dapat bernafas lega melihat kedatangan papanya. Gurit menarik kursi di samping Jihan. Dipandanginya wajah-wajah di depannya satu per satu.


“Secara pribadi saya meminta maaf atas perbuatan anak saya yang sudah menyeret anak bapak dan ibu sekalian. Tapi bukankah lebih baik jika kalian mendatangi saya, bukannya menyerang anak saya seperti ini?”


“Karena memang anakmu bersalah.”


“Anak saya sudah mendapatkan hukumannya.”


“Tapi hukumannya lebih ringan dari anak-anak kami. Padahal dia otak dari kejadian itu.”


“Anak bapak dan ibu tidak akan terkena hukuman seandainya menolak apa yang dikatakan anak saya. Dia tidak mengancamnya, tidak membayarnya juga, mereka melakukannya dengan sukarela. Yang artinya sedari awal, anak kalian juga mempunyai niat jahat untuk mengerjai Anya. Lalu kenapa hanya anak saya yang disalahkan. Bukankah lebih baik anda sekalian introspeksi juga, kenapa anak kalian melakukan hal seperti itu.”


Semua terbungkam mendengar perkataan Gurit. Walau tak suka, namun mereka mengakui juga apa yang dikatakan ayah dari Jihan itu benar adanya. Jihan semakin menundukkan kepalanya. Perasaan bersalah semakin menghujamnya. Di tengah kekecewaannya, sang ayah masih membelanya.


“Tetap saja saya tidak terima dengan keputusan yang tidak adil ini. Kami menderita kerugian banyak. Waktu, tenaga dan uang pastinya.”


“Saya akan mengganti kerugian finansial yang kalian derita. Saya akan membayarkan kembali biaya kuliah sekaligus uang saku yang kalian keluarkan untuk anak-anak kalian.”


“Apa kamu pikir itu cukup untuk mengganti kerugian kami? Bagaimana nasib anak-anak kami di pulau sekarang?”


“Anak kalian di sana saya jamin akan baik-baik saja. Mereka diberi makan yang cukup dan tempat tinggal yang layak.”


Semua langsung mengarahkan pandangannya pada Cakra yang baru saja datang. Mendengar Gurit menghadapi semua orang tua komplotan Jihan, Cakra memutuskan untuk datang. Pria itu menarik kursi di samping Gurit. Tak ada yang berani menanggapi ucapan Cakra. Mereka tahu betul siapa pria yang saat ini duduk di hadapannya.


“Kalian meributkan tentang hukuman yang anak kalian terima. Tapi apa pernah kalian berpikir satu kali saja, apa akibat dari perbuatan anak kalian pada anak saya? Anak saya disekap di ruangan gelap. Bukan hanya itu, mereka juga memutarkan mantra pemanggil makhluk halus untuk menakutinya. Apa pernah kalian berpikir, anak saya bisa saja terkena serangan jantung atau mati ketakutan?!”


Tak ada jawaban dari semua orang, termasuk Gurit. Pria itu menundukkan kepalanya, menahan malu atas apa yang dilakukan anaknya. Jihan tak berhenti menangis, kepalanya terus tertunduk dalam.


“Sebelum Jihan mengusulkan rencana baru, anak kalian telah merencanakan lebih dulu perbuatan jahatnya pada anak saya. Dengan atau tanpa rencana Jihan, mereka akan tetap mengerjai anak saya. Itu berarti anak kalian memang sudah berniat buruk sejak awal. Mereka bisa saja menolak rencana Jihan, tapi dengan suka rela mereka melakukannya. Kalau kalian tidak terima dengan hukuman yang diberikan, mari kita bawa masalah ini ke ranah hukum. Saya akan menuntut anak-anak kalian termasuk Jihan karena sudah berusaha mencelakai anak saya.”


“Tolong maafkan kami, pak Cakra. Jangan bawa masalah ini ke jalur hukum. Kami terima semua hukuman anak kami. Tapi kami tetap akan meminta ganti kerugian materil pada pak Gurit.”


“Kirimkan saja pada saya, berapa kompensasi yang harus saya keluarkan. Saya akan membayarnya,” ujar Gurit.


Setelah tak ada yang perlu dibicarakan lagi, kelima orang tua itu pergi meninggalkan café. Cakra masih bertahan di sana. Dilihatnya Gurit yang tak mau melihat ke arahnya. Dia baru mendengar kabar dari Jojo kalau Gurit berniat mengundurkan diri.


“Kenapa kamu mau mengundurkan diri?”


Gurit melihat ke arah Cakra, pasti Jojo telah mengatakan perihal itu padanya. Dia memang berniat mengundurkan diri dan pindah ke daerah lain. Dirinya merasa malu akan perbuatan Jihan. Pria itu seakan tak memiliki wajah lagi untuk bertemu dengan Sekar dan yang lainnya.


“Aku percaya kamu sudah berusaha menjadi orang tua yang baik untuk Jihan. Jika anak melakukan kesalahan, memang orang tua ikut bertanggung jawab atas kesalahannya. tapi bukan berarti kamu harus menarik diri dari kami. Jihan sudah menerima hukumannya, kamu juga bersedia mengganti kerugian finansial kelima orang tadi. Lalu apa harus kamu mengundurkan diri dan menjauh dari kami? Pikirkan bagaimana perasaan Sekar kalau dia tahu soal ini.”


“Maaf bang. Aku hanya merasa malu saja bertemu dengan kalian lagi. Sebagai orang tua, aku sudah gagal mendidik anakku. Aku juga belum berani bertemu dengan Sekar. Dia pasti membenciku.”


“Kamu sudah mengenal Sekar sejak dulu. Kamu tahu bagaimana sifatnya. Apa kamu yakin kalau dia membencimu? Jangan bersikap seperti ini. Anak-anak melakukan kesalahan, itu hal yang wajar. Sebagai orang tua, kita wajib membimbingnya tapi jangan sampai hal itu mempengaruhi hubungan kita. Temuilah Sekar, Anya juga menanyakanmu. Selamanya, kamu tetap bagian dari kami.”


Cakra menepuk pelan pundak Gurit, kemudian pergi meninggalkan tempat itu. Jihan yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka semakin dihantam perasaan bersalah.


“Papa.. maafin Jihan. Aku janji ngga akan melakukan hal yang mengecewakanmu lagi.”


“Papa tunggu pembuktian darimu. Ayo pulang.”


Gurit beranjak dari duduknya kemudian berjalan keluar café. Jihan berdiri kemudian mengikuti dari belakang. Walau hanya itu yang keluar dari mulut Gurit, namun dia lega, akhirnya sang papa tak mendiamkannya lagi. Dirinya berjanji akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

__ADS_1


☘️☘️☘️


Happy Saturday Night


__ADS_2