KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Duda Jablay


__ADS_3

Abi mengamati rekaman cctv yang diberikan oleh Beno. Setelah mengantarkan Nina kembali ke rumah, pria itu segera kembali ke kantor untuk melaporkan kejadian saat di panti tadi. Cakra juga ikut melihat rekaman tersebut.


“Ini Ruby,” cetus Cakra.


“Hmm.. sepertinya rubah itu mulai berani bermain-main. Apa isi botol yang dibawanya?”


“Air raksa mas. Sepertinya dia berusaha menyiramkannya ke wajah mba Nina. Tetapi lelaki berpakaian hitam itu mencegahnya.”


Abi mengepalkan tangannya mendengar penjelasan Beno. Diputarnya kembali rekaman cctv yang diambil dari halaman panti. Abi berusaha mengenali pria yang bersama Ruby, namun sia-sia. Wajah pria itu tertutup oleh topi juga masker, hingga sulit dikenali.


“Apa dia yang ada dibalik Ruby?”


“Tapi kenapa dia mencoba melindungi mba Nina?”


“Apa dia salah satu anak buahmu Bi?”


“Bukan. Aku hanya menugaskan bang Beno.”


“Terus dia siapa?” Cakra mengetukkan jarinya di gambar sosok pria tersebut.


“Siapa pun dia aku akan menemukannya. Dia sepertinya berhubungan dengan Ruby.”


“Tapi kenapa dia melindungi Nina?”


“Sepertinya dia mencintai Nina. Dia melindunginya sekarang dan akan merebutnya dariku.”


Cakra dan Beno cukup terkejut mendengarnya. Walau belum bisa yakin seratus persen, namun Cakra sedikit percaya ucapan temannya itu. Selama ini Abi tak pernah salah menganalisis situasi. Itu juga yang membuat posisi perusahaannya tetap stabil. Abi pandai membaca dan menganalisis situasi.


“Beri pelajaran pada Ruby, tapi jangan sampai dia tahu kalau aku sudah mengetahui identitas dan rencananya. Cukup ikat tangan dan kakinya, jangan biarkan dia kabur supaya aku bisa menangkap sekutunya.”


“Baik mas. Apa rencana mas Abi.”


“Kumpulkan anak buahmu. Aku akan ke markas sepulang kerja. Aku akan menjelaskan semua rencana di sana.”


“Baik mas.”


Beno menganggukkan kepalanya lalu keluar dari ruangan. Cakra memicingkan matanya, menatap curiga pada sahabatnya ini.


“Bi.. lo jangan berbuat di luar batas ya.”


“Ck.. ngga usah bawel. Mending lo pikirin gimana caranya dapetin Sekar. Udah tiga tahun ngga ada kemajuan, payah.”


“Sumpah ya Bi, makin ke sini mulut lo makin comel and nyebelin.”


Cakra keluar dari ruangan sahabat sekaligus atasannya itu sambil membanting pintu dengan kencang. Abi tergelak melihat kekesalan sahabatnya.


☘️☘️☘️


Sebuah lengan kekar memeluk pinggang Nina saat gadis itu tengah membuat minuman di mini bar yang ada di bioskop mini. Abi menaruh dagunya di bahu Nina. Hidungnya mengendus aroma tubuh yang begitu disukainya. Hembusan hangat nafas Abi di lehernya membuat bulu di tubuh Nina meremang.


“Kapan pulang mas?”


“Setengah jam yang lalu.”

__ADS_1


Nina membalikkan tubuhnya. Terlihat wajah segar Abi dengan rambutnya yang masih sedikit basah. Aroma sabun tercium dari tubuhnya. Sehabis mandi, Abi memang langsung menemui kekasihnya ini.


“Bikin apa?”


“Cheese tea, mau mas?”


“Hmm.. boleh.”


Nina mengambil gelas kemudian menuangkan minuman yang tadi dibuatnya. Abi menyeruput minuman yang dibuat calon istrinya.


“Gimana mas? Enak?”


“Hmm.. enak seperti yang bikin.”


“Aku bukan makanan ish..”


“Tapi bibir kamu enak buat dimakan.”


Uhuk.. uhuk..


Abi tersenyum melihat Nina yang salah tingkah. Gadis itu bergegas kembali ke sofa untuk meneruskan film yang ditontonnya tadi. Abi mengikutinya dari belakang. Karena kesibukannya belakangan ini, dia jadi jarang menggoda calon istrinya. Abi mendudukkan diri di samping Nina.


“Huaaa.. Jang Ki Yong oppa.. ganteng banget sih.”


Celetuk Nina dengan mata tak berkedip menatap layar putih di depannya. Abi mendengus kesal melihat kekasihnya memuji laki-laki lain di depannya. Dia mengambil ponsel kemudian mulai membuka media sosialnya. Nina melirik ke layar ponsel, matanya membelalak ketika Abi sedang melihat wanita memakai bikini. Dengan kesal diambilnya ponsel tersebut.


“Oh jadi gini ternyata kelakuan mas Abi. Dasar cowok, semua sama aja ngga bisa lihat muka bening, kulit mulus, bodi seksi langsung mata melotot.”


“Nih puas-puasin lihat cewek seksi ini.”


Nina mengembalikan kembali ponsel Abi dengan perasaan dongkol. Dengan santai Abi mengambil ponselnya kemudian melihat lagi gambar wanita berbikini itu. Karuan saja Nina bertambah sebal.


“Teroooosss aja pelototin.”


“Aku sebenernya lagi ngebayangin..”


“Ngebayangin apa?”


“Ngebayangin kamu yang pakai ini.”


BLUSH


Wajah Nina merona mendengarnya. Dia buru-buru memalingkan wajahnya sambil merutuki Abi dalam hati. Dasar cowok mesum...


“Tapi kayanya kamu ngga akan seseksi ini sih. Dada kamu aja rata kaya gini, kalau dianalogikan, dada kamu tuh kaya bakpau yang kegencet.”


“Apa??!! Dasar nyebelin!! Rasain...”


Nina melayangkan pukulan bertubi-tubi ke lengan Abi. tapi lelaki itu hanya terpingkal saja. Sepertinya pukulan Nina hanya belaian di tubuhnya. Tapi kemudian terdengar ringisannya ketika Nina mencubit perutnya.


Abi menangkap tangan Nina lalu menguncinya ke belakang punggungnya membuat tubuh mereka merapat. Mata keduanya bertemu dan saling mengunci. Abi mendekatkan wajahnya kemudian mencium bibir Nina. Dengan penuh kelembutan, dia me**mat bibir seksi itu.


Pegangan Abi di tangan Nina terlepas. Kini satu tangannya memeluk pinggang Nina, sedang sebelah tangannya menahan tengkuk kekasihnya itu untuk memperdalam ciuman mereka. Nina mengalungkan tangannya ke leher Abi. Keduanya semakin terhanyut dalam decapan yang semain menuntut.

__ADS_1


“EHEM!!”


Nina spontan melepaskan tautan bibir mereka ketika mendengar deheman keras di belakang mereka. Dia langsung menarik kaos Abi untuk menyembunyikan wajahnya. Abi melirik kesal ke arah sang kakak beserta kakak ipar yang mengganggu kemesraan mereka.


“Ayo Nin kita keluar. Ada jin pengganggu di sini.”


“Hahaha... kita ini pasangan malaikat yang menyelamatkan Nina dari jin mesum macem kamu, Bi.”


Abi menarik tangan Nina. Dia berhenti sebentar di depan Juna juga Nadia. Nina masih malu bersitatap dengan dua orang di depannya. Dia memilih menyembunyikan wajah dibalik punggung Abi.


“Kalian kapan pindah? Rumah kalian kan udah selesai, masih seneng aja tinggal di sini.”


“Suka-suka kita dong. Kita bakal tetap di sini sampai kalian halal. Kita bakal jadi pengawas supaya Nina ngga jebol duluan sama duda jablay kaya kamu hahaha...”


Nina semakin menyurukkan wajahnya ke punggung Abi mendengar ledekan Juna. Nadia mencubit lengan suaminya yang kebiasaan jahilnya selalu kumat jika berhadapan dengan pasangan calon pengantin.


“Nad... kalau kak Juna ngga kuat ngelayanin kamu di ranjang, bilang aja. Tar aku beliin vibrator buat kamu.”


Kini giliran wajah Nadia yang memerah. Juna mendendang bokong adiknya itu. Dengan cepat Abi menghindar sambil terus terkekeh. Digandengnya tangan Nina keluar dari bioskop mini.


☘️☘️☘️


Sebuah Honda Jazz berhenti di jalan yang sepi. Ruby keluar dari dalamnya dengan wajah kesal. Hari ini dia benar-benar sial. Sudah gagal mencelakai Nina, mendapat ancaman dari Mano, dihukum Abi lembur sampai malam, kini mobilnya mogok.


Ruby melihat sekelilingnya, suasana benar-benar sepi. Maklum saja, sekarang sudah jam sepuluh malam. dia bergidik juga saat menyadari dirinya berada di sebuah jalan yang minim penerangan dan dikeliligi pohon besar. Dia membuka pintu mobil lalu mengambil ponsel dari dalam tasnya. Ternyata kesialannya bertambah, baterai ponselnya habis. Ruby menghembuskan nafa kesal.


Sial banget sih gue hari ini. Aduh gimana gue mau pulang. Mana jarak ke apartemen masih jauh lagi. Gara-gara Abi ngasih kerjaan seabrek nih, siaaaaalll.


Ruby tak punya pilihan selain melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Tak mungkin juga dia menunggu orang yang akan melewati jalan ini. Diambilnya tas yang tergeletak di jok mobil kemudian mencabut kunci dari kontaknya. Ruby menutup pintu lalu menguncinya. Setelah itu dia mulai berjalan membelah kesunyian malam. Sesekali kepalanya menoleh ke belakang, berharap ada kendaraan yang lewat dan bisa dimintai tumpangan.


Sesampainya di pertigaan, langkahnya mulai melambat. Ruby ragu melewati jalan tersebut. Tampak dari tempatnya berdiri beberapa lelaki sedang berkumpul. Dengan mengumpulkan segenap keberaniannya, wanita itu melanjutkan langkahnya. Kepalanya menunduk, tak berani melihat ke arah kumpulan pria tersebut. Dari sudut matanya seklias dia melihat beberapa botol tergeletak di dekat mereka. Yang artinya mereka tengah mabuk-mabukkan.


Terdengar sapaan dari mulut mereka ketika Ruby melintas. Wanita itu menulikan telinganya, dia mempercepat langkahnya. Tapi tiba-tiba seseorang sudah menghadang langkahnya. Ruby memberanikan diri mengangkat kepalanya. Seorang pria berbadan tegap dengan kulit gelap memandang dirinya dengan senyum menyeringai di wajahnya. Ruby menelan ludahnya kelat, lelaki di hadapannya ini sungguh menyeramkan. Di tambah dengan gambar tato yang memenuhi kedua lengannya, semakin menambah kesan sangar dirinya.


“Mau kemana malam-malam? Mau abang antar neng?”


Ruby masih menutup mulutnya. Refleks dia berjalan mundur. Tapi kemudian gerakannya terhenti ketika punggungnya menabrak tubuh seseorang. Ruby menoleh, seorang pria dengan penampilan tak kalah menyeramkan sudah berdiri di belakangnya. Bukan hanya itu, di kanan kirinya juga sudah berdiri empat laki-laki lain. Ruby semakin tercekat, dirinya terkepung oleh sekumpulan preman.


“Ka.. kalian mau apa?”


“Mau kamu manis.”


“Ja.. jangan macam-macam. A.. atau aku akan teriak.”


“Teriak aja, ngga akan ada yang dengar kamu di sini.”


Lelaki di depan Ruby berjalan mendekat ke arahnya. Wanita itu semakin panik dibuatnya. Dia berusaha melarikan diri, namun keenam pria di dekatnya itu mulai mengurung pergerakannya. Tiba-tiba sebuah tangan membekap mulutnya. Sapu tangan yang telah dibaluri obat bius berhasil membuat Ruby tak sadarkan diri.


☘️☘️☘️


**Mas Juna bisa aja nyebut Abi Duda Jablay🤣


Wah kira² apa yang terjadi sama si Ruby Rainbow ya🤔**

__ADS_1


__ADS_2