
Beno melambaikan tangannya pada pria bertubuh tinggi kurus yang tak lain adalah Panca, temannya yang mencari pekerjaan. Beno mempersilahkan Panca untuk duduk. Setelah memesan minuman, keduanya mulai terlibat perbincangan.
“Beneran nih bang aku bisa langsung kerja?”
“Iya.. mas Abi sendiri yang bilang kamu stand by di bengkel kantor aja.”
“Wah makasih ya. Ngomong-ngomong kantor mana mas?”
“Itu Metro East.”
Panca terdiam sebentar, mencoba mengingat nama perusahaan yang tak asing di telinganya. Matanya membelalak ketika mengetahui dirinya diterima bekerja di perusahaan besar yang bergerak di bidang trading dan juga property.
“Woaah.. kaya mimpi bang. Kok bisa sih langsung acc gitu bang. Kenal deket sama si bos?”
“Alhamdulillah aku dipercaya jadi kepala keamanan keluarga Hikmat.”
“Keluarga Hikmat?”
Lagi-lagi Panca terdiam. Nama itu juga familiar di telinganya. Pria itu bukan ingat karena keluarga Hikmat merupakan salah satu konglomerat tapi karena suatu peristiwa yang membuat hidup Panca jungkir balik.
“Kenapa Pan? Kok muka kamu pucet gitu?”
“Bang Beno kenal sama Abimanyu Hikmat ngga?”
“Lah.. dia kan orang yang udah terima kamu kerja, bos aku.”
“Hah??”
“Kenapa?”
Beno memandang curiga pada temannya ini. Panca tampak gelisah, sesekali dia mengusap tengkuk atau menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sejenak dipandanginya wajah Beno. Hatinya bimbang untuk bercerita. Namun akhirnya serangkaian cerita mengalir juga dari mulutnya.
☘️☘️☘️
Setelah mendengar laporan dari Beno, Abi bermaksud menemui Panca. Tak disangka lelaki itu ternyata membawa kabar mengejutkan tentang kecelakaannya dahulu. Dia juga mengajak Juna dan Cakra. Ketiganya segera menuju markas tim keamanan keluarga mereka.
Juna memperhatikan Panca dari atas sampai bawah. Dia mengenali Panca sebagai mekanik yang memeriksa mobil Abi juga Vicko pasca kecelakaan. Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui kalau kecelakaan yang terjadi memang benar kecelakaan atau ada unsur kesengajaan. Dan dari hasil investigasi, peristiwa naas tersebut murni kecelakaan. Faktor human error karena Vicko tak bisa mengendalikan laju mobilnya hingga kendaraannya keluar jalur dan menabrak pengendara lain.
“Kamu orang yang bertugas memeriksa kondisi mobil pasca kecelakaan kan?” tanya Juna.
“Iya pak.”
“Maksud kamu apa dengan ada kesalahan hasil pemeriksaan?”
Panca menelan ludahnya kelat. Dia cukup takut akan reaksi yang diberikan oleh Juna atau Abi nantinya. Keringat dingin membasahi kening juga telapak tangannya. Abi yang menangkap kegelisahan di wajah Panca, angkat bicara.
“Tidak usah takut. Katakan saja apa yang kamu tahu. Kami tidak akan menuntutmu atau menjebloskanmu ke dalam penjara.”
Mendengar adanya jaminan dari Abi, hati Panca mulai tenang. Setelah menenangkan diri beberapa saat dia mulai menuturkan apa yang diketahuinya saat itu.
“Sebenarnya dari hasil pemeriksaan mobil yang dipakai pak Abi tidak ada masalah. Tapi mobil yang dipakai pak Vicko yang ada masalah. Saya yang mengecek mobil itu dan mendapati kalau tali remnya sudah dirusak. Begitu pula dengan kemudinya, ada yang sudah merusaknya juga jadi pengendara tidak bisa mengendalikan laju kendaraan.”
Baik Abi, Juna maupun Cakra cukup terkejut mendengarnya. Selama ini mereka meyakini kalau perisitiwa naas itu murni kecelakaan, begitu pula dengan keluarga Vicko. Aswan menyalahkan Abi yang mengakibatkan kecelakaan tersebut. Karena saat itu Abi tengah mengejar Vicko yang melarikan diri bersama Fahira.
“Lalu kenapa kamu berbohong?”
__ADS_1
“Saya minta maaf pak, waktu itu saya terpaksa. Saya juga butuh uang untuk operasi ibu saya. Selain itu, saya juga diancam akan dibunuh kalau tidak mau berbohong.”
“Siapa yang sudah menyuruhmu?”
“Saya ngga tahu pak. Karena dia hanya menghubungi saya via telepon. Saya takut karena saat menghubungi saya, dia sedang bersama ibu dan adik saya. Saya takut mereka dilukai, makanya saya langsung setuju.”
“Apa kamu punya bukti?”
“Saya mengamankan memory card dari camera mobil pak Vicko. Di sana terekam dengan jelas apa yang terjadi sebelum kecelakaan.”
Panca mengambil dompetnya lalu mengeluarkan kartu kecil yang terbungkus plastik putih kemudian memberikannya pada Abi. Cakra mengambil tablet dari dalam tasnya lalu memasangkan memory card tersebut. Dia memutar rekaman yang ada di dalam memory card tersebut.
Vicko mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Di sebelahnya Fahira duduk, sesekali kepalanya menoleh ke belakang. Wajah keduanya nampak cemas. Di belakang mereka, Abi mengejarnya.
“Vick.. cepat Vick.. itu Abi udah mulai nyusul.”
Vicko menekan pedal gas dalam-dalam. Jarum speedometer sudah menunjuk ke angka 150. Pria itu tak henti menekan klakson untuk menghalau kendaraan yang menghalangi di depannya. Di sebuah pertigaan, Vicko bermaksud menurunkan kecepatannya karena akan berbelok. Vicko menekan pedal rem namun ternyata rem mobilnya blong. Beberapa kali dia menginjak pedal rem namun sia-sia.
“Kenapa Vick?”
“Fa.. remnya blong.”
“Jangan bercanda kamu Vick.”
“Aku ngga bercanda, remnya blong!”
Seketika kedua orang itu panik. Mobil yang mereka tumpangi semakin tak terkendali. Belum hilang rasa terkejut, Vicko kembali dibuat panik dengan setir kemudi yang tidak bisa digerakkan dengan benar.
“Fa.. setirnya macet.. gimana ini.”
Abi mengerem kendaraannya melihat kecelakaan yang menimpa Vicko. Naas, mobil Vicko yang terkena hantaman keras berguling beberapa kali kemudian menimpa mobil yang digunakan Abi. Rekaman berhenti sampai di situ.
Abi menahan nafas melihat rekaman tersebut. Melihat dahsyatnya kecelakaan yang terjadi, dia cukup bersyukur masih hidup dan hanya menderita kelumpuhan sementara. Berbeda dengan Vicko dan Fahira yang langsung tewas di tempat. Tubuh Vicko tergencet bodi mobil sedang Fahira terlempar beberapa meter dari mobil. Pengendara mini bus yang bertabrakan dengan Vicko pun tidak dapat diselamatkan. Dia meregang nyawa saat dibawa ke rumah sakit.
“Berarti ada orang yang sengaja ingin mencelakai Vicko,” ujar Juna memecah keheningan.
“Bi, gimana ceritanya lo bisa tahu kalau selingkuhan Fahira itu Vicko?” tanya Cakra.
“Ada yang kirim gambar juga video Fahira dengan Vicko ke hp gue dari nomer tak dikenal. Jujur gue kepancing emosi dan langsung datengin Vicko di apartemennya. Kita berantem, terus Vicko kabur sama Fahira. Gue langsung ngejar mereka dan selanjutnya lo tahu sendiri.”
“Lo ngga coba lacak no itu?”
“Udah.. tapi itu kartu sekali pakai aja. Ngga ada jejaknya. Identitas yang dipake punya penjaga counter yang jual pulsa. Dia juga ngga inget siapa yang beli karena banyak pembeli kartu baru sekali pakai pake identitas dia.”
“Ternyata kecelakaan lo ngga sesederhana yang kita kira.”
“Om Aswan harus tahu Bi. Biar dia ngga terus nyalahin kamu atas kematian Vicko.”
“Biarin aja kak.”
“Ngga bisa Bi. Dia harus tahu. Om Aswan itu dendam sama kamu, aku takut Nina atau Anfa yang akan jadi sasarannya.”
Abi terdiam, apa yang dikatakan Juna ada benarnya juga. Terakhir Keysha mencoba mencelakai Nina karena bujukan dari Aswan.
“Kartu ini saya simpan sebagai bukti. Apa kamu keberatan?”
__ADS_1
“Ngga pak, silahkan aja. Saya simpan kartu itu buat jaminan keselamatan saya sebenarnya.”
“Kamu ngga usah takut soal itu. Anak buah bang Beno bakal jagain kamu mulai sekarang. Lebih baik kamu jangan kerja di kantorku. Aku akan titip kamu di bengkel salah satu temanku. Kalau pelaku sebenarnya sudah tertangkap, baru kamu kerja di kantorku.”
“Baik pak. Saya ikut aja. Terima kasih karena tidak melaporkan saya ke polisi.”
Abi hanya mengangguk saja. Beno mengajak Panca keluar dari ruangan. Sepertinya ada hal penting yang hendak dibicarakan tiga atasannya itu. Abi mulai mengurai satu per satu peristiwa yang menimpanya. Lewat bukti dan keterangan Panca dia akan mencari tahu siapa dalang dibalik kecelakaannya. Satu yang Abi yakini, orang itu tak berada jauh darinya. Dan Ruby merupakan salah satu kunci untuk menemukan orang itu.
☘️☘️☘️
Wajah Aswan tampak memerah, tangannya mengepal kencang sampai buku-buku tangannya memutih. Rahangnya mengeras menahan amarah yang membuncah saat melihat rekaman black box mobil Vicko, anaknya.
Setelah mendapatkan bukti dari Panca, Juna langsung mengajak Abi menemui Aswan. Bagaimana pun juga kesalahpahaman ini harus segera diakhiri. Juna tak bisa membiarkan Aswan terus memendam dendam pada adiknya. Dia khawatir pamannya itu akan bertindak nekad menyakiti Abi.
“Bagaimana om? Apa om masih terus menyalahkan Abi atas kecelakaan yang menimpa Vicko? Abi adalah korban om. Ada orang yang berusaha mencelakai Vicko, dengan atau tanpa Abi mengejar mereka, Vicko pasti akan celaka juga. Karena sasaran mereka Vicko.”
Aswan tak mengatakan apapun. Walau dalam hatinya mengakui kalau ternyata tuduhannya selama ini salah. Namun dia masih gengsi mengakui kekeliruannya.
“Abi adalah korban dari perbuatan orang yang berusaha mencelakai Vicko. Selain itu, Abi juga korban pengkhianatan Fahira dan Vicko. Dia terluka lahir dan batin karena Vicko. Kalau lelaki lain yang menjadi selingkuhan Fahira, aku tidak peduli om. Tapi ini Vicko, kalau aku berada di posisi Abi, mungkin aku akan melakukan hal yang sama. Selain rekaman sebelum kecelakaan, ada rekaman lain yang menunjukkan perselingkuhan Vicko dan Fahira. Bagaimana Vicko bisa tidak tahu malu bercinta dengan istri sepupunya sendiri,” Juna kembali melanjutkan kata-katanya.
Wajah Aswan merah padam, bukan menahan amarah tapi karena rasa malu yang menderanya. Juna juga tidak sungkan-sungkan mengungkapkan semua yang mengganjal di hatinya. Sudah cukup dirinya menahan diri selama ini melihat Aswan begitu membenci Abi dan menyalahkannya atas kematian Vicko. Sedangkan Abi hanya diam saja memperhatikan kakak dan pamannya berbicara. Dia sudah tak peduli dengan perselingkuhan Fahiran dan Vicko dulu. Yang ingin diketahui adalah dalang dibalik semua kejadian ini.
“Maafkan om, Abi. Maaf kalau om sudah salah menuduhmu selama ini. Atas nama Vicko, om juga minta maaf. Dia sudah menjadi duri dalam pernikahan kalian.”
“Sudahlah om, aku sudah tidak peduli lagi dengan perselingkuhan mereka. Aku hanya tidak mau om berhenti mengganggu hidupku, dan berhenti menyakiti Nina, istriku. Aku tahu orang yang berada dibalik tindakan Keysha tempo hari adalah om.”
“Maaf Bi, sekali lagi om minta maaf. Om janji tidak akan mengusik hidupmu atau istrimu. Kamu berhak bahagia setelah penderitaan yang kamu alami. Tapi om minta tolong, bantu om menemukan pelaku yang telah mencelakai Vicko.”
“Tanpa om minta, aku pasti akan menemukannya. Tapi untuk saat ini tetaplah bersikap seperti biasa om. Tetaplah memusuhiku dan menjaga jarak seperti dulu. Kita ikuti saja permainan orang itu. Sepertinya dalam waktu dekat, dia akan kembali beraksi.”
“Om ikuti saja rencanamu.”
“Baiklah, kalau begitu kami permisi, om.”
Juna juga Abi berdiri setelah tak ada lagi yang perlu dibicarakan. Keduanya keluar dari ruang kerja pribadinya. Istri Aswan, Sinta dan anak sulungnya, Vito memandang tajam ke arah Abi. Seperti Aswan, mereka juga sangat membenci Abi. Menganggap kalau pria itu yang telah menyebabkan kematian Vicko.
Abi melintasi keduanya tanpa ingin melihat atau menyapanya. Hanya Juna yang menganggukkan kepalanya pelan ketika melewati keduanya. Aswan mengikuti kedua keponakannya sampai ke teras rumah. Sekilas diliriknya pandangan penuh kebencian anak dan istrinya pada Abi.
“Abi,” panggilnya ketika keponakannya itu akan menuju mobilnya.
Abi menghentikan langkahnya lalu membalikkan badan. Dia hanya diam menunggu Aswan yang datang menghampirinya. Begitu sampai di dekat Abi, dengan cepat pria paruh baya itu menarik Abi dalam pelukannya.
“Sekali lagi maafkan om. Maafkan juga tante dan Vito, mereka bersikap seperti itu karena om,” Aswan menepuk punggung koponakannya ini.
Abi hanya terdiam tanpa ada niatan membalas pelukan sang paman. Sinta juga Vito terbelalak melihat pemandangan tersebut. Juna melihat ke arah ibu dan anak itu kemudian mengalihkan lagi pandangannya ke arah Aswan yang telah melepaskan pelukannya.
“Aku harap, om mau menjelaskan soal yang tadi pada tante juga Vito. Sebagai kakak, jujur aku sangat tersinggung dengan cara mereka melihat dan memperlakukan Abi. Dan jika mereka masih bersikap sama setelah mengetahui kebenarannya, maka jangan salahkan aku jika aku tidak akan menganggap mereka keluarga lagi. Sudah cukup mereka berlaku seenaknya selama ini.”
“Iya Jun, om akan meluruskan semuanya.”
“Aku harap om menepati janji.”
Juna segera masuk ke dalam mobil. Abi hanya memandangi Juna yang terlihat sangat emosional. Biasanya Juna lebih banyak diam, tapi kali ini entah sudah berapa kali kakaknya itu melontarkan kecaman juga ancaman pada pamannya. Lamunan Abi buyar ketika Juna membunyikan klakson. Dengan cepat dia masuk ke dalam mobil.
☘️☘️☘️
__ADS_1
Oh ternyata ada udang dibalik bakwan soal kecelakaan Abi. Siapa ya dalangnya kira²🤔