
Rayi terduduk di ruang tengah seraya memandangi kartu undangan di tangannya. Salah satu rekannya tadi telah mengantarkan kartu undangan yang telah selesai dicetak. Pertengkarannya dengan Anfa tadi sukses membuat hatinya galau. Astuti keluar dari kamar kemudian menghampiri sang putri. Tak lama, sang kakak, Rahayu ikut bergabung.
“Undangannya sudah jadi?”
Astuti duduk di samping anaknya seraya mengambil salah satu kartu undangan. Rahayu juga melakukan hal yang sama. Wajah Astuti nampak berbinar saat melihat namanya bersanding dengan Teddy dan Rahma.
“Akhirnya aku bisa besanan sama keluarga konglomerat, uakeh tenan aku mba,” girang Astuti.
“Iyo dek.. si Retno nda bisa ngomong opo-opo,” Rahayu terkekeh.
“Tadi kamu sudah milih souvenir Ray?”
“Belum ma. Aku tadi malah barentem sama Anfa,” jawab Rayi lesu.
“Kamu tuh. Harusnya kamu bisa naklukin si Anfa, buat dia bucin sama kamu, nurutin semua kemauan kamu. Masa gitu aja nda bisa,” sewot Astuti.
“Emang kenapa sampai nda jadi Ray?” tanya Rahayu.
“Dia harus balik ke kantor gara-gara Kenzie sakit. Dia harus gantiin kak Abi di kantor.”
Astuti menghela nafas mendengar nama Abi. Dalam hatinya sangat tidak menyukainya tapi tak punya keberanian juga untuk berhadapan dengan pria dingin itu. Apalagi saat Rayi menceritakan kalau Anfa terpaksa melakukan banyak pekerjaan di kantor karena Abi memilih bekerja dari rumah setelah kelahiran anaknya.
“Abi tuh sopo?”
“Kakak iparnya Anfa. Gualak e.. kaya singa kelaparan, aku ra seneng sama Abi. Sok ngatur, sok berkuasa gitu. Yang bikin kesel tuh, Anfa yo nurut ae kata Abi.”
“Kalau begitu kamu harus bisa bikin Anfa tergila-gila sama kamu Ray. Dia harus manut sama kamu, jangan sampai si Abi Abi itu ngatur hidup kalian.”
“EHEM!!!”
Deheman kencang terdengar mengagetkan ketiga orang itu yang tengah bercengkrama. Wisnu berjalan mendekat lalu ikut duduk bersama mereka. Sejak kedatangan orang tua dan saudara perempuannya, penyakit sang istri kumat. Dia juga Rahayu senang sekali mengompori Rayi dan menjejali otak anaknya itu dengan doktrin yang menurut mereka benar.
“Ibu tuh.. anak lagi galau mbok ya kasih saran yang bener, ini malah ngomporin. Abi itu sedang menggembleng Anfa supaya siap menjadi pemimpin perusahaan. Kamu seharusnya bisa mendukung calon suamimu, bukan menghambatnya. Masalah penikahan kan sudah dibantu atasanmu. Bapak dengar juga Nadia dan Sekar ikut membantumu, kurang apalagi Ray? Kalau perlu minta ibu sama budemu ini membantu. Jangan cuma ngomporin saja.”
“Bapak nih...”
“Opo? Kalau kamu masih kasih saran nda bener sama anakmu, bapak bakal batalin pernikahan ini. Bapak nda mau kehilangan muka di mata pak Teddy juga bu Rahma karena nda bisa mendidik anak dengan baik. Ingat Ray, baik buruknya sikapmu itu membawa nama baik bapak juga ibu. Kamu juga sudah dewasa, harus tahu bagaimana membedakan saran yang baik dan tidak buat kamu.”
Rahayu memutuskan pergi dari ruang tengah. Sejak dulu, wanita itu memang tidak terlalu menyukai Wisnu. Bukan hanya karena strata mereka yang tak sama, namun Wisnu tak pernah sungkan mengemukakan pendapatnya walau bertentangan dengan dirinya. Astuti pun segera mengikuti sang kakak masuk ke dalam kamar.
Wisnu berpindah duduk di samping Rayi. Dirangkulnya anak semata wayangnya ini yang sejak pulang selalu bermuram durja. Rayi merebahkan kepalanya di bahu sang ayah. Setelah pertengkarannya dengan Anfa tadi, gadis itu lebih banyak diam. Dia cukup terkejut melihat sikap Anfa. Pria itu biasanya bersikap santai dan selalu menuruti keinginannya. Tapi hari ini, dia melihat sosok lain dari kekasihnya itu. Sikap tegas dan dominan yang tak pernah dilihatnya dulu.
“Ono opo toh nduk?”
Rayi mengesah panjang, pertanyaan sang ayah membuatnya bertambah galau. Wisnu memandangi wajah sang anak yang terlihat sendu. Tanpa putrinya katakan, pria itu sudah tahu kalau ada sesuatu yang terjadi. Akhir-akhir ini, baik istrinya maupun kakak iparnya selalu menjejali otak Rayi dengan hal-hal yang tak berguna.
“Apa kamu bertengkar dengan Anfa?”
Rayi melihat sekilas ke arah sang ayah kemudian menceritakan apa yang terjadi tadi. Pertengkarannya dengan Anfa sampai ancamannya akan membatalkan pernikahan. Wisnu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tebakannya benar, sang anak memang sudah terkontaminasi dengan ucapan ibu juga budenya.
“Ray... seorang laki-laki itu bertanggung jawab atas empat orang perempuan. Ibunya, saudara perempuannya, istrinya dan anak perempuannya. Apa yang dilakukan Anfa tadi tidak salah, dia hanya ingin membantu kakaknya. Lagi pula kamu itu masih calon istrinya, kamu masih belum punya hak apapun atas dirinya. Sedangkan Anfa itu bertanggung jawab atas Nina, walaupun Nina sudah menikah. Ketika kalian sudah menikah pun, Anfa masih belum lepas tanggung jawabnya atas Nina. Itu yang harus kamu pahami Ray.
Jangan dengarkan ucapan orang yang menyesatkan. Kamu akan menjadi prioritas Anfa tapi bukan berarti kamu bisa menghalangi dirinya menjalankan tanggung jawabnya.”
Tak ada komentar dari Rayi, gadis itu semakin mengeratkan pelukannya di lengan sang ayah. Dia tak bisa melukiskan bagaimana perasaannya saat ini. Sedih, marah, kecewa dan takut bercampur menjadi satu.
“Apa yang dikatakan Anfa itu memang benar. Ketika kita menikah, maka kita bukan hanya menikahi pasangan kita, tapi seluruh keluarganya. Anfa hanya punya satu kakak perempuan, sudah sewajarnya kalau dia sangat menyayangi kakaknya. Kamu sudah lama mengenal Anfa, kalian sudah bersama sejak SMA. Tapi Anfa baru setahun bisa berkumpul lagi bersama kakaknya yang telah terpisah bertahun-tahun. Apa kamu tidak terlalu kejam memintanya memilih kamu atau Nina? Setahu bapak, kamu nda seperti itu, Ray.”
“Tapi Anfa sekarang berubah pa. Dia ngga seperti Anfa yang dulu. Biasanya Anfa tuh selalu dengerin aku, dia ngga pernah marah. Tapi tadi aku benar-benar kaget pak. Dia banyak berubah pa."
“Papa ingat bagaimana Anfa dulu. Dia tidak banyak banyak bicara, jarang mengeluarkan pendapat kalau tidak ditanya, selalu menuruti apa kemauanmu. Tapi apa kamu sadar Ray, mungkin saja sikapnya dahulu bukanlah dirinya yang sebenarnya. Bisa jadi itu karena tekanan orang tua angkatnya yang menginginkannya menjadi Gean. Dan yang kamu lihat sekarang ada Anfa yang sebenarnya.”
Rayi cukup terkejut mendengar perkataan sang ayah. Dia mengangkat kepala dan mulai duduk tegak. Matanya terus memandangi wajah Wisnu, menuntut penjelasan lebih jauh lagi dari pria itu.
“Selama ini kamu terbiasa menerima dirinya sebagai Gean. Saat dia bertemu dengan Nina dan keluarga barunya, kamu hanya siap menerima perubahan namanya saja, bukan perubahan sikapnya. Jujur, papa lebih suka Anfa yang sekarang. Sekarang dia memliki kepercayaan diri, tegas, bertanggung jawab dan pekerja keras. Harusnya kamu bangga dengan perubahan Anfa, bukan malah seperti ini. Kamu mungkin tahu bagaimana Abi sangat mencintai Nina. Kamu ingin diperlakukan seperti itu tapi menggunakan cara yang salah. Cara Nina menundukkan Abi bukan dengan paksaan tapi dengan cinta dan kenyamanan yang diberikan pada pasangannya. Harusnya kamu melakukan itu Ray.”
Rayi terdiam merenungi ucapan sang ayah. Penyesalan mulai merayapi hatinya. Gadis itu tersadar akhir-akhir ini telah bertingkah kekanakkan. Tanpa dia sadari ucapan bude dan ibunya terus masuk ke gendang telinga dan menetap di kepalanya hingga membuatnya bertindak di luar kebiasaannya.
“Aku salah ya pa. Aku harus bagaimana pa? Anfa marah sama aku, bahkan mungkin dia setuju membatalkan pernikahan ini karena ancamanku.”
__ADS_1
Rayi mulai menangis, dia menyesali kebodohannya yang bertindak hanya menuruti emosi saja. Wisnu merangkul bahu sang anak kemudian mengusap lengannya pelan. Rayi mengusap airmata yang membasahi pipinya.
“Papa percaya kalau Anfa tidak sedangkal itu pemikirannya. Coba besok kalian bertemu, bicarakan semua secara baik-baik dan dengan kepala dingin.”
“Iya pa.”
“Sudah.. sekarang kamu istarahat.”
Wisnu mencium kening Rayi. Gadis itu bangun dari duduknya lalu masuk ke dalam kamar. Rayi merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tangannya meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas. Tak ada pesan atau panggilan dari Anfa, sepertinya lelaki itu benar-benar marah padanya. Rayi sendiri tak punya keberanian untuk menghubungi Anfa lebih dulu. Gadis itu hanya bisa memeluk ponselnya sambil berharap Anfa menghubunginya terlebih dulu.
☘️☘️☘️
Di kediaman Abi, Anfa masih betah berada di kediaman kakak iparnya itu. Pria itu tengah berbaring dengan kepala berada di pangkuan sang kakak. Hatinya sama galaunya seperti sang kekasih setelah pertengkaran mereka tadi. Nina mengusap puncak kepala Anfa dengan lembut, menunggu adiknya itu bercerita tentang kegundahannya.
“Kak..”
“Hmm..”
“Kalau aku batal nikah, ngga apa-apa kan?”
Usapan tangan Nina di kepala Anfa terhenti. Dia cukup terkejut mendengar perkataan Anfa tadi. Anfa menegakkan tubuhnya kemudian duduk di samping sang kakak. Wajahnya terlihat begitu sendu.
“Kalian ada masalah apa?”
“Aku ngga ngerti sama dia kak. Rayi akhir-akhir ini berubah. Dia terlalu banyak menuntut perhatian dariku, dia bahkan cemburu sama kakak juga kak Abi. Dia marah dan bilang kalau dia bukan prioritasku. Aku harus gimana kak? Sebisa mungkin aku bagi waktu antara pekerjaan juga dia tapi selalu kurang di matanya. Tadi dia marah karena aku memilih kembali ke kantor dari pada nemenin dia lihat souvenir dan dekorasi pelaminan.”
“Maaf Fa.. maafin kakak. Karena kakak, kamu bertengkar dengan Rayi.”
“Kamu ngga salah, kenapa harus minta maaf.”
Terdengar suara Abi menginterupsi pembicaraan. Pria itu baru saja menidurkan anaknya dan memutuskan bergabung dengan istri juga adik iparnya. Sedari tadi mulutnya sudah gatal ingin berkomentar namun berusaha ditahannya. Abi mendudukkan bokongnya di samping sang istri.
“Mas..”
“Rayi itu sudah dewasa, dia harusnya bisa berpikir dengan baik. Anfa itu bukan pria pengangguran yang setiap saat harus ada untuknya. Dia sudah harus mulai terbiasa dengan kesibukan calon suaminya. Kalau dia bersikap seperti ini terus, bagaimana dia bisa menjadi pendamping yang kuat untuk Anfa. Dia selalu menuntut diperhatikan, dibantu mengurus pernikahan, apa selama ini kita tidak membantu? Mama bahkan meminta Mrs. Anne langsung yang mengurus pernikahan kalian, Nadia juga Sekar bahkan ikut membantu. Sebenarnya apa masalahnya? Semua urusan pernikahan sudah dihandle oleh Mrs. Anne, Rayi hanya tinggal mengatakan iya atau tidak. Sifat kekanakkannya itu masalahnya.”
“Ya wajar dong mas, kalau Rayi minta diperhatikan. Ini kan pernikahan mereka berdua, harusnya Anfa luangin waktu buat dia.”
“Ya itu karena Anfa balik ke kantor lagi.”
“Anfa.. apa alasan kamu kembali ke kantor?” tanya Abi.
“Buat gantiin kak Abi. Bi Ita kasih tahu kalau Ken sakit. Pasti kak Na panik dan repot kan tadi, makanya aku balik ke kantor supaya kak Abi bisa pulang ke rumah.”
“Harusnya ngga usah Fa.”
“Apa yang Anfa lakukan itu benar. Wajar kalau dia bersikap seperti itu, karena kamu kakaknya. Harusnya Rayi mengerti bukan marah-marah ngga jelas.”
Nina terdiam, apa yang dikatakan Abi memang benar, namun tetap saja ada perasaan bersalah mengganjal di hatinya. Walau pun dia sempat kecewa dengan sikap Rayi kemarin, namun Nina terus meyakinkan hatinya kalau apa yang terjadi pada Rayi hanyalah sindrom menjelang pernikahan.
“Setelah menikah nanti, kamu jangan tinggal di rumah orang tuanya Rayi. Ibunya itu membawa pengaruh buruk. Aku tahu Rayi sebenarnya anak yang baik, tapi sepertinya ibunya yang sudah mencemari otaknya.”
“Mas tahu dari mana?”
“Perlu mas jelaskan?”
Nina tak menjawabnya, karena dia sendiri sudah bisa menebaknya. Pasti sang suami atau mama mertuanya sudah menempatkan mata-mata di sekitar keluarga Rayi. Anfa sendiri baru tersadar, kalau perubahan Rayi bisa jadi disebabkan calon mama mertuanya.
“Besok temui Rayi. Ajak dia bicara dari hati ke hati. Hubungan kalian sudah terjalin lama, jangan karena calon mertua kamu dan saudaranya yang mulutnya kaya comberan itu, hubungan kalian jadi berantakan. Kamu itu laki-laki dan sudah dewasa Fa, jika Rayi bersikap kekanakan, maka kamu yang harus lebih bersabar karena nantinya kamu yang akan menjadi imam dalam rumah tangga kalian. Mengalah untuk menang tidak ada salahnya.”
“Iya kak, makasih.”
“Sana pulang. Mama nanyain kamu dari tadi.”
“Iya kak.”
Anfa beranjak dari duduknya kemudian mencium punggung tangan Nina dan Abi. Hati pria itu sudah tenang setelah mendapatkan petuah dari sang kakak. Dengan langkah ringan, dia berjalan menuju kediaman Teddy yang hanya berselang lima rumah saja.
☘️☘️☘️
__ADS_1
Rayi terkejut saat mendapati Anfa sudah berdiri di depan rumahnya. Padahal dia baru saja berencana hendak menemui kekasihnya itu. Untuk sesaat keduanya hanya saling memandang.
“Ray.. aku...”
Kata-kata Anfa terhenti ketika Rayi menghambur ke arahnya lalu memeluk pinggangnya. Anfa cukup terkejut dengan reaksi kekasihnya itu. Namun tak ayal tangannya pun bergerak memeluk punggung Rayi.
“Maafin aku Fa. Maaf karena sudah bersikap kekanakkan dan egois akhir-akhir ini.”
“Maafin aku juga Ray. Maaf karena terlalu sibuk dan mengabaikanmu.”
Rayi menguraikan pelukannya kemudian mendongakkan kepala menatap wajah kekasihnya. Anfa tersenyum ke arah Rayi, membuat gurat senyum di wajah gadis itu terbit.
“Kamu bakalan tetap nikahin aku kan?”
“Iya.”
“Kamu udah ngga marah?”
“Ngga.”
“Kita bisa ketemu Mrs. Anne sekarang?”
“Hmm.. kemana pun kamu mau, aku akan antar dan temani kamu.”
Rayi kembali memeluk Anfa. Perasaannya sungguh bahagia, akhirnya hubungannya dengan Anfa yang sempat menegang belakangan ini bisa mencair juga. Wisnu yang mengintip dari balik gorden tersenyum bahagia. Astuti yang menyadari kedatangan Anfa, hendak menyambutnya namun buru-buru ditarik Wisnu ke dalam kamar. Dia tak ingin sang istri mengganggu kebahagian pasangan tersebut.
“Fa.. undangannya udah selesai dicetak. Sekalian bawa ya.”
“Iya.”
“Sebentar aku ambil.”
Rayi bergegas masuk ke dalam untuk mengambil kartu undangan. Dia memang sengaja tak mengajak kekasihnya itu masuk ke dalam rumah. Gadis itu takut mama atau budenya akan mengatakan hal-hal yang akan membuat mood mereka turun hari ini. Tak berapa lama kemudian Rayi keluar dengan dus berisi undangan. Anfa dengan cepat mengambil barang tersebut lalu memasukkannya ke dalam mobil.
Keduanya segera menaiki mobil kemudian meluncur ke kantor Rayi yang ada di daerah Gatot Subroto. Selama dalam perjalanan, banyak hal yang mereka bicarakan, termasuk soal rencana bulan madu mereka. Juna sudah berjanji akan memberikan kado berupa paket bulan madu yang masih dirahasiakan tujuannya.
Senyum dan tawa terus menghiasi wajah Rayi juga Anfa. Pasangan yang akan segera menjadi suami istri ini terlihat begitu bahagia. Setelah hujan badai menerpa, kini pelangi tengah menghiasi dunia mereka. Keduanya telah mengambil pelajaran dari konflik yang mereka alami sebelumnya dan berharap ini semakin memperkuat cinta mereka.
☘️☘️☘️
**Tegangan tingginya sudah menurun ya gaaeesss...
Huaaaa mamake terhura lihat banyak yang komen di eps Pertengkaran, bahkan kalian saling berbalas pantun eh pesan🤭
Dari eps kemarin yang memancing keributan kemarin, mamake cuma mau memperlihatkan beberapa hal:
Setiap org punya persepsi sendiri dlm menyikapi persoalan. Seperti kmrn, ada yg pro Anfa, ada yg pro Rayi ada yg di tengah². Hidup itu penuh pro dan kontra, pilihan kita menjadi pro atau kontra kembali lagi pada persepsi kita dlm menyikapi persoalan.
Pada ngga setuju sama Rayi karena faktor bu Astuti. Dalam keluarga apalagi yang namanya hubungan antar besan, ngga selamanya mulus. Banyak kita temui besan yg ngga akur atau ada besan yg nyebelin. Nah ini salah satu contoh yg diangkat, hidup itu tak sempurna. Dibalik keharmonisan dan kebahagiaan keluarga Hikmat ada juga durinya, yaitu bu Astuti🤣
Ngga rela Rayi sama Anfa. Mohon mangap ya, sejak novel ini dibuat, sudah terselip di otak mamake klo jodohnya Anfa itu Rayi. Jadi yg pengen nikung, berhenti berharap ye🤣
Berhubung Anfa dan Rayi sudah akur. Maka pernikahan akan tetap dilanjutkan. Dengan ini mamake mengundang semua readers untuk menghadiri pernikahan mereka. Nih undangannya udah mamake siapkan buat kalian. Jangan lupa dandan yang cetar membahana sama bawa amplop tapi jangan diisi kertas pake tulisan "maaf, anda belum beruntung" atau daun pisang ya. Isi yg ada warnanya, uang monopoli gitu🤣
__ADS_1
Cuss aahh kita siap² ke pesta pernikahan Rayi & Anfa. Jangan lupa undangannya dibawa**.