
Cakra melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Dia juga ikutan panik saat mendengar erangan Nina. Di kursi belakang, Abi berusaha menenangkan sang istri yang terkadang mengerang atau menjerit menahan rasa sakit. Lengannya sudah memerah bahkan ada bekas cubitan atau cakaran Nina. Namun Abi mengabaikannya, karena dia tahu sakit yang dirasakannya tak sebanding dengan sang istri.
Kendaraan berhenti saat arus kemacetan melanda. Abi menoleh ke jendela mobil, deretan mobil nampak berjejer dan melaju sedikit demi sedikit. Awalnya pria itu masih bersabar, namun karena tak tega melihat kondisi istrinya yang berjuang menahan rasa sakit, semburan keluar juga dari mulutnya.
“Ck.. ini kenapa ngga jalan-jalan sih,” gerutunya pada Cakra.
“Lo kaga lihat, noh macet. Kalo bisa gue juga mau terbangin nih mobil,” kesal Cakra.
“Lagian nih orang pada ngapain sih keluar, bikin jalanan macet aja!”
Sontak Cakra melihat ke arah sahabatnya itu begitu mendengar komentar absurd darinya. Abi yang tak merasa salah dengan komentarnya sibuk memperhatikan Nina. Pria itu nampak mengusap pinggang bagian belakang sang istri.
Tak berapa lama, arus kemacetan mulai mengurai. Cakra membelokkan mobilnya mengambil jalan pintas agar cepat sampai ke rumah sakit. Lima menit kemudian, kendaraannya sudah memasuki pelataran parkir rumah sakit. Cakra menghentikan mobil di depan pintu masuk UGD.
Abi turun dari mobil kemudian membantu sang istri keluar. Dua orang perawat yang telah bersiaga di depan pintu masuk, segera menghampiri sambil mendorong kursi roda. Abi mengambil alih kursi roda kemudian mendorongnya masuk dalam. Rahma memang telah menghubungi pihak rumah sakit untuk bersiap menerima kedatangan menantunya.
Perawat langsung memandu Abi menuju lantai lima, tempat di mana ruang persalinan berada. Sekeluarnya dari lift, Abi mendorong kursi roda menuju ruang perawatan. Dokter Santi yang selama ini menangani Nina sudah bersiap di sana. Dengan dibantu perawat, Nina dinaikkan ke atas ranjang.
Seorang bidan yang biasa membantu dokter Santi bertugas segera memeriksa pembukaan Nina. Wanita itu meringis pelan saat telunjuk bidan memasuki inti tubuhnya. Abi melihat tak suka ke arah bidan tersebut. Harusnya dirinya saja yang memeriksa Nina dengan cara seperti itu.
“Baru pembukaan lima, dok.”
“Ok.. bu Nina, kita tunggu sampai pembukaan komplit. Ibu bisa jalan-jalan dulu atau makan, supaya ibu punya tenaga saat melahirkan nanti.”
Nina hanya menganggukkan kepalanya. Dokter Santi dan juga bidan keluar dari ruangan. Abi mendekati sang istri yang masih berbaring. Diraihnya tangan Nina lalu mencium punggung tangannya beberapa kali.
“Kamu mau makan sayang?”
“Ngga ah.. kan tadi udah makan banyak. Bantu aku bangun mas, katanya aku harus jalan-jalan biar pembukaannya cepat komplit.”
Abi memegangi tangan Nina saat wanita itu turun dari ranjang. Kemudian dia mengajak sang suami keluar ruangan. Abi dengan setia mendampingi sang istri. Perasaannya campur aduk, antara bahagia karena sebentar lagi buah hati yang ditunggunya akan lahir ke dunia. Tapi di sisi lain juga cemas, takut sesuatu terjadi pada istri juga anaknya.
“Yang.. emang kalau ngecek pembukaan harus kaya tadi ya?”
“Iya mas.”
“Ck.. enak banget tuh bidan colok-colok kamu. Aku aja yang periksa kalau gitu.”
“Emangnya mas tahu, udah pembukaan berapa?”
“Ngga.. tapi kalau soal colok mencolok kan aku jagonya.”
Nina mencubit lengan suaminya yang semakin ngawur saja bicaranya. Abi hanya meringis menahan rasa panas di permukaan kulitnya. Nina meneruskan langkahnya menyusuri koridor rumah sakit. Abi dengan setia terus berada di sampingnya. Tak lama keluarga dan para sahabatnya berdatangan. Rahma bergegas mendekati menantunya itu.
“Gimana Nin? Sudah diperiksa dokter?”
“Sudah ma, katanya baru pembukaan lima.”
“Ya kamu harus banyak jalan biar cepat komplit pembukaannya."
Nina mengangguk kemudian meneruskan langkahnya. Sedangkan dua calon ibu yang baru saja datang terus memandangi Nina sambil ikut-ikutan menahan sakit seperti yang wanita itu lakukan. Cakra dan Kevin mengajak istrinya masuk ke dalam ruangan.
Nina berhenti sejenak saat kembali merasakan kontraksi. Beberapa kali wanita itu menarik nafas panjang demi meredakan sakit yang menderanya. Radix, Gurit, Nabila dan Syakira yang baru tiba menghampiri ibu hamil itu.
“Gimana keadaannya kak?” tanya Radix.
“Masih nunggu pembukaan komplit. Ssshhh.. aaaww..”
Nina memegangi perutnya yang kembali merasakan kontraksi. Abi merangkul pinggang sang istri kemudian mengajak duduk di kursi yang tersedia. Kembali terdengar ringisan Nina, jarak kontraksi yang dirasakannya semakin intens saja. Syakira yang sedari tadi memperhatikan Nina, tanpa sadar ikut meringis.
“Sssshhhh aaahhhh ssshhhh..”
Gurit menoleh bingung ke arah kekasihnya itu. Nampak Syakira tengah khusyu melihat ke arah Nina. Bahkan tangannya ikut-ikutan memegang perut, seolah dia merasakan apa yang Nina rasakan.
“Kamu kenapa?” bisik Gurit.
“Akkuuhhh lagiiihh ngebayaanginnhh kaalaauuhh akkuuhh jadiiiihhh Ninaaahhh.”
“Ngga usah dibayangin. Dijebol aja belum gimana mau melendung,” balas Gurit asal. Syakira menepuk lengan kekasihnya itu.
☘️☘️☘️
Tiga jam berlalu, namun pembukaan Nina belum komplit juga. Kevin juga Jojo pamit pulang bersama istri mereka karena malam sudah semakin larut. Sedang Radix dan Gurit sudah pulang sejak sejam lalu. Rahma juga meminta Juna dan Cakra untuk pulang. Namun keduanya bergeming, mereka ingin menunggui proses kelahiran keponakan perdana mereka.
Cekalan di tangan Abi kembali terjadi dan kali ini lebih lama dan kuat. Abi sampai meringis menahan sakit saat kuku Nina menancap di kulitnya. Rahma bergegas keluar untuk memanggil perawat. Tak lama seorang perawat juga bidan datang. Sang bidan kembali memeriksa Nina.
“Kita pindah ke ruang persalinan bu, sudah komplit pembukaannya.”
Perawat yang datang bersama bidan bergegas membuka pintu kemudian mendorong bed Nina. Sedangkan bidan wanita yang tadi memeriksa Nina segera menyiapkan ruang persalinan dan menghubungi dokter Santi.
Semua keluarga Hikmat menunggu di depan ruang persalinan, hanya Abi yang diperbolehkan masuk. Sambil berlari Anfa menuju ruang tunggu persalinan, dia baru saja mengantarkan kekasihnya pulang. Rahma merangkul bahu pemuda itu begitu duduk di sampingnya.
Di dalam ruangan, dokter juga bidan tengah bersiap untuk membantu kelahiran cucu pertama keluarga Hikmat. Perawat membantu Nina menekuk kakinya kemudian melebarkannya. Abi berdiri tepat di samping sang istri. Pegangan Nina di tangan Abi semakin kencang saja, seiring dengan rasa sakit yang semakin mendera.
“Aaarrgghh.. sakit mas..”
__ADS_1
“Tahan sayang.. sabar ya.. ini cubit atau gigit aja tangan mas.”
Abi menyodorkan tangannya namun sang istri hanya menggelengkan kepalanya. Dokter mulai memberi aba-aba pada Nina untuk bersiap. Nina menarik nafas beberapa kali saat mengambil ancang-ancang untuk mengeluarkan sang jabang bayi. Mulutnya mengatup rapat, menahan suara teriakan yang hendak keluar.
Percobaan pertama masih belum berhasil. Wanita itu beristirahat sejenak. Saat kontraksi datang lagi, dia pun mulai mengejan. Tangannya meraih rambut Abi kemudian menjambaknya dengan kencang.
“Aaaggghhhh..”
Bukan suara Nina, melainkan teriakan Abi yang merasakan kulit kepalanya hampir terlepas gara-gara jambakan sang istri. Dua orang suster yang membantu persalinan, berusaha keras menahan tawanya melihat penampilan Abi yang sudah tak karuan. Bukan hanya rambutnya yang acak-acakkan, namun juga kemeja pria itu sudah kusut di sana-sini. Setiap merasakan kontraksi, Nina dengan asal menarik bagian tubuh suaminya.
Setelah berjibaku hampir setengah jam, akhirnya dengan satu hentakan keras, Nina berhasil mengeluarkan bayi laki-laki mungil dari dalam rahimnya. Abi menatap tak percaya ketika sang bidan mengeluarkan bayi merah itu dari bagian bawah sang istri. Seketika terdengar tangisnya memenuhi seisi ruangan.
“Alhamdulillah..” gumam Abi pelan.
Dia langsung melihat ke arah Nina yang terkulai lemas. Diraihnya wajah sang istri kemudian memberikan ciuman bertubi di sana. Tak lupa Abi juga mengecup bibir istrinya beberapa kali, tanpa mempedulikan orang-orang yang ada bersamanya.
“Terima kasih sayang.. anak kita sudah lahir dengan selamat.”
Nina hanya menganggukkan kepalanya. Buliran bening mengalir dari kedua sudut matanya. Di malam ini, dia sudah menjadi wanita sempurna. Suster datang dengan membawa bayi dalam gendongannya, kemudian memberikan pada Abi untuk diadzankan. Suara Abi terdengar bergetar saat mengumandangkan adzan di telinga kanan anaknya. Airmatanya pun merembes menandakan rasa haru sekaligus bahagia yang mendalam.
Abi mengembalikan anaknya pada suster yang kemudian diserahkan pada Nina untk diberikan inisiasi dini. Abi menyusut airmatanya, netranya terus melihat sang anak yang tengah mencari sumber kehidupannya. Kemudian bibirnya bergerak menyesap bukit kembar sang bunda.
“Berat bayi 3,2 kg dan panjangnya 55 cm pak.”
Abi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Matanya masih betah memandangi dua orang yang begitu disayanginya. Sambil menyusui bayinya, sang bidan mulai membersihkan sisa-sisa darah yang masih menempel di dinding rahim Nina, kemudian dilanjutkan dengan menjahitnya.
Nina meringis merasakan linu saat bidan tengah menjahit inti tubuhnya. Abi mengalihkan pandangan sejenak ke arah sang bidan yang tengah berkonsentrasi. Karena penasaran Abi mengintip sang bidan yang tengah menjahit alat vital istrinya.
“Jangan dijahit semua ya, sisain buat saya masuk,” celetuk Abi dengan wajah tanpa dosa.
Dokter, bidan dan suster yang ada di ruangan terbengong sesaat kemudian tertawa setelahnya. Nina yang masih menyusui anaknya mencubit lengan suaminya yang bicara tanpa saringan.
“Ya pasti disisain pak Abi, masa dijahit semua. Kasihan dong adiknya pak Abi nanti,” balas sang bidan tak kalah nyeleneh.
“Ya kali aja lupa.”
“Pak Abi bisa aja. tapi inget ya pak, belum bisa dipake loh. Harus puasa dulu 40 hari.”
“Harga pas itu? Ngga bisa diskon?”
Gelak tawa langsung terdengar menyambut ucapan Abi. Nina beberapa kali memukuli lengan suaminya sampai terdengar suara mengaduh dari pria itu. baru beberapa menit menjadi ayah, namun pria ini sudah banyak bicara. Padahal biasanya pria itu irit bicara jika bukan dengan keluarga atau temannya.
Setelah selesai melakukan jahitan dan juga membersihkan rahim Nina. Ibu muda itu dipersilahkan pindah ke ruang perawatan. Suster menyerahkan bayi mungil yang sudah selesai menyusu kepada ayahnya. Wajah Abi tersenyum bahagia menatap bayi laki-laki darah dagingnya. Kemudian bersama Nina juga suster, pria itu keluar dari ruangan.
Mereka disambut oleh semua anggota keluarga yang sedari tadi menunggu. Rahma langsung menyongsong Abi dan mengambil bayi dalam dekapannya. Matanya berkaca-kaca melihat cucu pertamanya lahir ke dunia. Teddy beranjak mendekat, pria itu juga begitu terharu.
Pelan-pelan, Rahma menidurkan cucunya di dalam boks bayi yang telah tersedia. Nina sendiri sudah berbaring di ranjangnya. Abi dengan setia terus berada di sisi istrinya. Juna, Cakra, Anfa, Sekar dan Nadia berdiri mengelilingi boks bayi. Mereka masih mengagumi bayi tampan yang tengah tertidur pulas.
“Kamu sudah punya nama untuk anakmu?” terdengar suara Teddy.
“Sudah pa.”
“Siapa namanya?” tanya Rahma tak sabar.
“Kenzie Nagendra Hikmat. Artinya pemimpin yang bjaksana dan kuat.”
“Uluh.. uluh... baby Ken ganteng aned sih,” seru Sekar.
“Iya ganteng kaya uwanya,” celetuk Juna.
“Sembarangan, ganteng kaya bapaknya lah. Nanem saham juga ngga.”
“Emang kamu mau aku ikut nanem saham?”
“Nih,” Abi mengepalkan tangan ke arah Juna yang hanya dibalas gelakan tawanya. Nadia yang sudah tahu sifat kakak beradik itu tak ingin berkomentar. Dia masih saja memandangi baby Ken yang begitu menggemaskan.
Malam semakin larut bahkan beranjak menuju dini hari. Abi meminta semua untuk pulang. Walau enggan, akhirnya Rahma menuruti permintaan anaknya. Mereka meninggalkan ruang perawatan.
Suasana mendadak sepi begitu semua keluarga Hikmat pulang ke rumah. Abi merangkak naik ke atas bed yang ukurannya cukup besar kemudian membaringkan tubuhnya di samping sang istri. Diciuminya beberapa kali puncak kepala dan juga kening sang istri yang telah tertidur.
“Terima kasih sayang sudah memberikan kebahagiaan untukku. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu,” bisik Abi di telinga Nina. Kemudian pria itu ikut memejamkan matanya.
☘️☘️☘️
Keesokan harinya, Rahma beserta yang lain kembali ke rumah sakit. Demikian pula dengan para sahabat Abi. Mereka tak sabar ingin melihat seperti apa wajah anak keturunan beruang kutub.
Mata Adinda nampak berbinar melihat bayi mungil yang berbaring di dalam boks. Sesekali tangannya bergerak kemudian kembali tertidur pulas. Jojo yang berada tepat di sampingnya, juga memandangi baby Ken penuh rasa haru. Akhirnya sang sahabat bisa mendapatkan keturunan. Dulu seandainya Fahira yang menggugurkan kandungannya, mungkin Abi sudah mempunyai dua orang anak.
“Mukanya mirip kak Abi ya,” celetuk Adinda.
“Tapi hidungnya mirip Nina, dagunya juga.”
“Mata sama wajahnya dominan kak Abi,” jawab Adinda tak mau kalah.
__ADS_1
“Kalau anak kita nanti mirip siapa ya?”
“Ngga apa-apa wajahnya mirip bapaknya asal jangan kelakuannya aja.”
“Emang bapaknya kenapa? Kan bapaknya juga soleh.”
“Soleh dari Hongkong. Bapaknya tuh casanova plus tukang celup.”
“Hahahaha...”
Abi, Kevin, Juna, Cakra juga Anfa tertawa puas mendengar perkataan Adinda. Jojo memandang kesal pada Adinda. Bisa-bisanya istrinya itu mengatakan hal yang memalukan tapi benar adanya di depan semua orang. Bahkan Rindu dan Sekar yang tengah menginterogasi Nina, menanyakan tentang suka duka proses lahiran sampai menolehkan wajahnya.
“Fa.. jangan tiru kebiasaan kakak kamu yang satu itu,” seru Cakra.
“Bisa disunat dia sama Rayi kalau berani,” celetuk Nadia.
“Sebelum Rayi, aku duluan yang sunat dia kak,” terdengar suara Nina ikut menyahuti pembicaraan.
Anfa hanya menggelengkan kepalanya saja. Sungguh berat hidupnya, mempunyai kakak dan juga kakak ipar yang buas seperti raja hutan. Juna terkekeh melihat Anfa yang terkena serangan dadakan.
“Eh Fa.. waktu itu kamu diapain aja sama Angela?” tanya Jojo.
Anfa sontak membulatkan matanya. Rayi yang berada di sampingnya langsung melihat ke arahnya. Juna dan Cakra yang mengetahui apa yang terjadi malam itu sebisa mungkin menahan senyumnya. Anfa hanya melemparkan cengiran begitu melihat wajah horor sang kekasih.
“Ngapain kak Jo kepo? Pengen nostalgia ya sama Angela?”
Kali ini Jojo yang terbengong mendengar komentar istrinya. Dengan cepat pria itu menggelengkan kepalanya. Adinda melihat sinis ke arah sang suami, hatinya masih jengkel setiap mendengar nama Angela. Apalagi mereka pernah berbagi ranjang dan berbagi keringat.
“Mamvus lo,” ledek Cakra.
“Hobi kok celap celup,” celetuk Kevin.
“Sekarang cebongnya demo kan,” tambah Juna.
“Otongnya Jojo harus dicuci air dari tujuh sumur plus kembang tujuh rupa biar cebongnya ngga demo lagi,” sahut Abi.
“Sama pasang GPS hahaha...”
Semua melongo melihat Teddy menimbrung pembicaraan mereka. Pria yang biasanya bersikap kalem dan santun ternyata bisa juga mengeluarkan kalimat nyeleneh. Rahma terkikik geli mendengar celetukan suaminya.
“Papa ngga salah minum obat kan?” tanya Jojo.
“Papamu ngga salah minum obat cuma terkontaminasi Cakra juga Anfa,” tawa Rahma pecah mendengar ucapannya sendiri.
Keceriaan dan kegaduhan di ruangan sama sekali tak mengganggu baby Ken yang tertidur pulas. Suasana bertambah ramai ketika Radix dan Gurit datang bersama dengan pasangannya. Keempatnya langsung menuju boks bayi setelah menyalami Teddy juga Rahma.
“Yaahh ampyuunnhh ghantengghh bhangheetthh siiihhh.. Diptaaahhh akuuhh maauuhh punyhaahh anaakhh kayaaahh giniihh.”
“Ya mana bisa sayang, ini kan bibitnya kak Abi sama kak Nina. Kalau anak kita paling ngga jauh kaya aku sama kamu. Tapi kalau bisa anak kita ngomongnya jangan mendesah kaya kamu ya.”
“Iiiihhh kaamuuuhhh tuuuuhhhh,” Syakira mencubit lengan kekasihnya gemas.
“Kalian kapan menikah?” tanya Teddy.
“Nanti om, kita mau kumpulin uang dulu,” jawab Radix.
“Kalau kalian sudah ada rencana nikah, kasih tau om. Nanti om yang sponsorin kalian.”
“Beneran om? Alhamdulillah,” ujar Radix dan Gurit sambil mengangkat kedua tangannya.
Teddy hanya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Gurit dan Radix memang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri. Mereka juga sahabat baik dari anaknya. Tanpa Sekar tahu, Teddy meminta Radix juga Gurit menjaga putrinya dan menjadi mata-matanya.
“Tapi nanti kalau Syakira hamil, aku saranin mending operasi cesar aja pas lahirannya,” ucap Abi.
“Emangnya kenapa kak?”
“Kalau lahiran normal, takut dokter, bidan sama susternya mendadak bengek denger suara ngeden Syakira,” jawab Abi santai.
“Hahaha.. ngga kebayang gue gimana tuh ngeden sambil mendesah,” celetuk Cakra.
“Abis nafas duluan,” sambar Kevin.
Gelak tawa kembali terdengar. Bukannya membela, Gurit malah ikutan tertawa. Syakira hanya menunjukkan wajah cemberut saja tanpa berani melawan. Tak punya nyali dia mencak-mencak di hadapan Abi dan sahabat-sahabatnya.
Kali ini baby Ken terbangun mendengar polusi suara di sekitarnya. Dia langsung membalas dengan tangisan kencangnya. Abi buru-buru mengambil sang anak kemudian memberikannya pada Nina untuk disusui. Dia menarik tirai untuk menutupi bed Nina. Tangis baby Ken berhenti setelah berhasil menemukan susu murni sumber kehidupannya.
☘️☘️☘️
**Selamat ya Abi dan Nina sudah punya baby Ken. Semoga jadi anak yang soleh ya, mudah²an mulutnya ngga sama kaya papanya🤣
Oh iya kemarin ada yang nanya visual Anfa ama Rayi. Sebenernya mamake udah pernah kasih, tapi lupa kali ya. Nih mamake kasih lagi visual Anfa sama Rayi.
Muhammad Anfa Hikmat**
__ADS_1
Rayi Aisyahrani