
“Ternyata kamu cantik juga ya, Nya.”
“Dih.. baru sadar apa kalau aku cantik,” kesal Anya.
“Cantik sih tapi tapi ketutup sama kelakuan somplak kamu, hahaha..”
“Bang Irvin rese nih.”
Dengan kesal Anya memukuli lengan Irvin seraya memanyunkan bibirnya, membuat Irvin bertambah gemas pada gadis itu. Tangannya lalu menangkap tangan Anya, desiran halus yang tadi menyapa kini berganti menjadi degupan kencang ketika tangan mereka bersentuhan. Dengan gugup, Irvin melepaskan pegangan tangannya.
“Kamu udah punya pacar, Nya?”
“Belum. Jomblo dari lahir aku mah.”
“Padahal kamu cantik loh. Masa ngga ada yang naksir.”
“Widih jangan salah. Yang naksir mah banyak, cuma akunya aja yang belum mau pacaran. Ralat aku emang ngga mau pacaran. Kalau udah ketemu orang yang tepat, aku mau langsung nikah aja.”
“Emang calon yang kamu mau yang kaya gimana sih?”
“Yang kaya papi sama bang Aric lah.”
“Kirain yang kaya kompor mledug.”
“Bisa bengek punya suami kaya dia hahaha..”
Irvin ikut tertawa mendengarnya. Dirinya juga tidak bisa membayangkan, Anya yang somplak berdampingan dengan Kenan, si kompor mledug. Pastinya setiap hari rumah tangga mereka akan dipenuhi huru-hara.
“Abang sendiri udah punya pacar?”
“Udah.”
“Lah terus kenapa ngga diajakin ke café tadi.”
“Hubunganku sama dia gantung.”
“Kok gitu?”
“Dia selingkuh, Nya. Dan aku juga udah hilang feeling sama dia.”
“Terus kenapa masih diterusin pacarannya?”
“Aku sengaja bikin dia pacaran sama selingkuhnya diam-diam. Pengen lihat aja repotnya dia kasih alasan ke aku,” Irvin terkekeh.
“Pasti ada alasannya dong kenapa dia selingkuh. Jangan-jangan abang selingkuh duluan.”
“Sembarangan. Aku tuh tipe setia. Lagian mana punya aku waktu selingkuh, kerjaanku aja banyak banget.”
“Ya kali aja cinlok ama bang Barra hahahaha…”
Tawa lepas Anya terdengar begitu saja. Tak terima dengan ledekan Anya, Irvin mengacak-acak rambut gadis itu lalu menyubit kedua pipinya. Anya pun tak mau kalah, dia ikutan menyubit kedua pipi Irvin. Saking semangatnya, Anya sampai kehilangan keseimbangan dan tubuhnya jatuh di atas tubuh Irvin. Pria itu refleks memeluk pinggang Anya hingga posisi keduanya tak berjarak.
Anya terkejut saat menyadari wajah keduanya begitu dekat. Dengan cepat Anya menarik tubuhnya menjauh dari Irvin, membuat pemuda itu melepaskan pelukannya. Suasana jadi canggung sesaat.
“Ehem.. udah malem. Pulang yuk, bang.”
“Ayo.”
Keduanya kemudian berjalan beriringan. Tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan. Ingin rasanya Irvin menggenggam tangan itu, tapi ditahannya. Dia tak ingin membuat Anya tak nyaman lagi dengannya.
Saat perjalanan pulang, suasana di antara keduanya sudah tak secanggung tadi. Beberapa kali terdengar tawa Anya saat mendengar gombalan receh Irvin. Anya tak menyangka berbicara dengan Irvin bisa seseru ini.
“Kali-kali kenalin aku ke calon mantan abang ya.”
“Hahaha… baru denger aku, calon mantan.”
“Emang abang mau terus pacaran sama dia?”
“Ngga lah.”
“Makanya mending putusian aja bang. Terus abang cari perempuan lain yang lebih segala-galanya dari dia. Biar dia nyesel udah selingkuhin abang. Terus kalau dia minta balikan, jangan mau.”
“Siap, suhu.”
“Dih..”
“Hahaha..”
Suasana hati Irvin benar-benar cerah, secerah langit malam ini yang dipenuhi taburan bintang. Sepertinya dia mulai jatuh hati pada gadis cantik yang ada di sampingnya.
“Eh.. tapi kenapa dia bisa selingkuh. Abang kurang romantis kali.”
“Hmm.. bisa jadi. Pacaran sama aku dianggurin mulu kali, jarang diajak jalan. Soalnya aku sibuk. Terus katanya aku kaku, karena ngga pernah cium-cium dia.”
“Serius? Abang tahu dari mana?”
“Aku denger sendiri pas mergokin dia lagi jalan sama selingkuhannya. Ya nguping dikit gitu pas mereka ngobrol.”
“Harusnya dia bersyukur kalau abang ngga macem-macem sama dia. Ini malah pengen dimacem-macemin hihihi..”
“Eh.. katanya Al mau nikah.”
“Iya. Makanya aku lagi deketin dia sama bang Viren. Cuma tau sendiri bang Vir kaya gimana. Dia mah kaya gong, kalo ngga ditakol ngga akan bunyi. Ngga peka juga orangnya.”
Irvin manggut-manggut saja, padahal dalam hatinya bersorak mendengar ucapan Anya barusan. Jadi memang tidak ada apa-apa antara Anya dengan Viren. Berarti kesempatannya untuk mendekati Anya terbuka lebar.
“Sebenernya asik juga ya kalo nikah muda. Jadi pas pacaran, kitanya udah halal, bebas mau ngelakuin apa aja. Papi juga bilang kemampuanku lihat kunti dan kawan-kawan bakalan hilang perlahan kalau aku udah nikah.”
“Kamu juga mau nikah muda kaya Al?”
“Pengennya bang, tapi belum ada calonnya, sedih banget ngga sih.”
“Aku punya calon buat kamu. Mau ngga aku kenalin?”
“Beneran? Orangnya baik ngga bang?”
“Baik, ganteng juga. Udah kerja, jadi kamu ngga bakalan kelaperan kalau nikah sama dia.”
“Boleh deh, bang. Kenalin sama aku siapa tahu cocok. Aku udah bosen nih lihat jin mulu. Badan lemes kalau abis ketemu mereka.”
Irvin mengarahkan kendaraannya ke bahu jalan kemudian menghentikannya. Dia membuka sabuk pengaman kemudian membalikkan tubuhnya menghadap Anya. Pria itu lalu mengulurkan tangannya ke arah Anya.
“Apaan bang?”
“Kenalin, namaku Irvin Mahaprana. Aku anak pertama dari papa Radix dan mama Nabila. Usiaku 24 tahun, dan sudah bekerja. Aku siap jadi calon suami kamu.”
“Apaan sih.. abang gaje.”
“Ini disambut dong tangannya, aku pegel ini,” Anya memanyunkan bibirnya namun tak ayal menyambut uluran tangan Irvin.
“Lavanya Pratista, anak bungsu dan paling cantik dari papi Cakra dan mami Sekar. Punya abang ganteng satu, namanya Aric. Aku masih kuliah. Kelebihanku bisa lihat makhluk astral hahaha..”
__ADS_1
Irvin tersenyum saat Anya menyambut uluran tangannya sambil ikut memperkenalkan seperti dirinya.
“Ok.. kalau gitu mulai sekarang, aku bakalan jadi calon suami kamu, ya.”
“Apaan sih, bang. Urusin dulu pacarnya, jangan main ngelamar orang aja.”
“Aku bakalan putusin dia secepatnya. Tapi kamu mau kan kasih kesempatan aku buat jadi calon suami kamu?”
“Hmm.. terima ngga ya? Nanti deh aku pikir-pikir dulu.”
“Ngga masalah. Aku bakalan tetap nunggu kamu.”
“Abang kesambet jin di mana sih?”
“Hahaha.. aku serius, Nya.”
Irvin mengusak puncak kepalanya Anya, kemudian tanpa diduga pria itu mengecup punggung tangan Anya. Semburat merah langsung menghiasi wajah gadis itu. Dengan cepat dia menarik tangannya yang masih berada dalam genggaman Irvin lalu membuang wajahnya ke samping. Irvin kembali ke posisinya semula kemudian memakai kembali sabuk pengamannya. Mobil yang dikendarainya kembali melaju.
☘️☘️☘️
Suasana Liverpoolan café dipenuhi teriakan dan sorak soray pendukung kedua tim yang tengah berlaga. Fans The Blues berada di bagian kiri. Mereka kompak menonton dengan dress code berwarna biru, sebagian besar memakai jersey tim kebanggan kota London itu. Sedang pendukung Liverpool berada di bagian kanan. Seperti halnya tim sebelah, pendukung The Reds itu juga menggunakan jersey Liverpool atau pakaian berwarna merah.
Viren dan Alisha duduk di antara fans Liverpool lainnya. Sebelum menikmati pertandingan, Viren mengganti dulu pakaiannya dengan jersey The Reds yang memang sengaja dibawanya dari rumah. Alisha yang tidak tahu menahu soal acara nonton bareng nampak berbeda dari yang lain, karena gadis itu mengenakan dress warna peach. Beruntung Viren membawa syal tim yang berasal dari kota pelabuhan itu dan memakaikannya pada Alisha.
Pertandingan berjalan alot, masih-masing tim menjalankan pola bertahan dan menyerang. Terkadang mereka harus menahan nafas saat tim kesayangannya hampir saja kebobolan. Waktu pertandingan sudah berjalan delapan puluh menit, namun kedudukan masih imbang. Kedua tim belum berhasil membobol lawan hingga skor kacamata masih bertahan menjelang akhir pertandingan.
Tiga menit menjelang peluit panjang terdengar sorakan dari kubu sebelah kanan. Penyerang andalan Liverpool akhirnya berhasil melesakkan gol ke gawang lawan lewat tendangan bebas yang dilakukannya. Alisha bersorak kegirangan melihat striker favoritnya berhasil mencetak gol. Tanpa sadar gadis itu memeluk leher Viren. Dia lupa kalau yang tengah menonton bersamanya bukanlah Ezra. Biasanya memang sang kakak yang selalu menemaninya menyaksikan pertandingan karena tim kesukaan mereka sama.
“Eh maaf bang,” Alisha segera melepaskan pelukannya. Yang membuatnya bertambah malu, Viren sama sekali tak menunjukkan eskpresi apapun.
Pertandingan terus berlanjut sampai sang wasit memberi waktu tambahan empat menit. Kedua tim tak henti menyuguhkan permainan apik. Namun Alisha tidak bisa menikmati semua itu. Dirinya kini sudah tak fokus pada pertandingan. Rasa malu sekaligus kecewa yang menyerangnya sukses membuyarkan konsentrasinya.
Sorak sorai pendukung Liverpool langsung terdengar ketika wasit meniup peluit panjang. Alisha melirik Viren yang duduk di sampingnya. Tim kesayangannya menang atau kalah, tetap tak ada ekspresi dari pria itu. Alisha jadi meragukan makhluk di sampingnya. Jangan-jangan Viren adalah robot AI yang menyamar. Membayangkan hal konyol seperti tadi membuat Alisha tersenyum sendiri. Hal itu tertangkap oleh Viren.
“Kenapa Al senyum-senyum sendiri?”
“Ngga.. aku lagi ngebayangin kalau abang tuh ternyata robot AI,” Alisha terkikik geli sambil menutup mulut dengan tangannya.
PLETAK
Sebuah sentilan mendarat di kening Alisha. Gadis itu terkejut mendapat serangan dadakan sekaligus terkesima melihat senyum Viren saat melihatnya meringis seraya mengusap keningnya. Untuk beberapa saat Alisha hanya diam terpaku, menikmati senyum manis Viren yang sukses membuat jantungnya berdebar kencang.
“Sakit gitu?” pertanyaan Viren membangunkan Alisha dari lamunannya.
“Sakit banget bang. Kayanya aku harus di CT scan, takutnya gegar otak.”
“Lebay, sejak kapan kamu ketularan somplaknya Anya.”
“Sejak Malin Kundang dikutuk jadi lemper, bang hahaha..”
Lagi, Alisha berhasil membuat Viren menampilkan senyum manisnya. Ingin rasanya dia mengabadikan senyuman Viren dengan ponselnya. Namun sayang, dia tak punya nyali sebesar itu.
“Kamu mau pulang sekarang?”
“Iya bang. Udah malem juga.”
“Ayo.”
Alisha bangun dari duduknya lalu mengikuti langkah Viren yang sudah lebih dulu pergi. Dia membuka pintu mobil lalu mendudukkan diri kursi samping pengemudi. Beberapa kali gadis itu mencoba tali seat belt, namun tak berhasil, sepertinya macet. Alisha menahan nafasnya ketika Viren tiba-tiba mencondongkan tubuh ke arahnya untuk membantu.
Setelah dua kali percobaan, akhirnya Viren berhasil menarik tali tersebut. Pandangan keduanya bertemu saat pria itu menautkan tali seat belt. Waktu seolah berhenti ketika netra mereka saling mengunci. Mata tajam Viren beradu pandang dengan mata indah Alisha. Seolah ada medan magnet di antara mereka. Jantung gadis itu seperti berhenti berdetak saat Viren membelai rambutnya.
“Al…”
Alisha terbangun dari khayalannya ketika Viren memanggil namanya. Viren menatap Alisha bingung. Sedari tadi gadis itu hanya diam sambil memegangi sabuk pengamannya dan sekarang tiba-tiba saja wajahnya memerah.
“Kamu kenapa? Sakit?”
“Ng.. ngga bang.”
Dengan cepat Alisha memakai sabuk pengamannya. Dalam hati dia merutuki pikiran kotornya barusan. Bagaimana bisa dia membayangkan Viren menciumnya. Ingin rasanya dia menjedotkan kepala ke kaca jendela, namun tak berani, takut Viren bertambah heran padanya.
Sepanjang perjalanan pulang, tak ada perbincangan di antara keduanya. Alisha terus mengarahkan pandangannya ke jendela samping. Viren sendiri tak berminat memutar audio mobil. Jadilah suasana perjalanan mereka sunyi senyap seperti di kuburan. Akhirnya suasana tak mengenakan itu berakhir juga saat kendaraan Viren berhenti di depan rumah Juna.
“Makasih ya, bang.”
“Kapan-kapan kita nobar lagi ya.”
“Iya bang.”
Alisha turun dari kendaraan roda empat itu lalu bergegas masuk ke dalam rumah. Melihat Alisha sudah masuk, Viren melajukan mobilnya kembali.
☘️☘️☘️
Dengan langkah lesu Ravin menuruni anak tangga kemudian menuju ruang makan. Rindu memandangi anak sulungnya ini yang nampak pucat dan tak bergairah. Tangannya bergerak meraba kening Ravin, suhu tubuh anaknya itu lebih panas dari biasanya.
“Kamu panas, Vin. Mending ngga usah kerja dulu.”
“Iya ma, aku udah telepon Ezra tadi.”
Tak berapa lama Kevin dan Viren datang bergabung. Sekilas Kevin melihat ke arah Ravin yang terlihat tidak sehat. Sudah seminggu ini hotel Arjuna memang disibukkan dengan beberapa event. Banyak pihak yang menggunakan jasa hotel tersebut untuk menyelenggarakan acara. Dan sudah seminggu pula Ravin menginap di hotel.
“Pa.. tahu ngga Arcapada Group?” Viren membuka pembicaraan.
“Tahu. Kenapa?”
“Itu perusahaan besar ya?”
“Dulunya, tapi sekarang mereka lagi di ambang kebangkrutan. Biasalah terjadi perebutan posisi. Pak Thomas punya tiga anak laki-laki dan semuanya berambisi mau memegang jabatan sebagai CEO. Akhirnya mereka sikut-sikutan dan ngga fokus sama kemajuan perusahaan. Harga saham mereka turun di pasaran, sekarang mereka lagi cari partners buat menstabilkan perusahaan.”
Viren terdiam sejenak, dia mencoba menghubungkan apa yang dikatakan ayahnya dengan informasi yang baru diterima dari Jacob. Temannya itu memberitahu kalau pemilik mobil yang dilihatnya dua hari lalu adalah Reymond, anak dari Baskara, salah satu pewaris Arcapada Group.
“Tesismu sudah selesai?” pertanyaan Kevin membuyarkan lamunan Viren.
“Sudah pa, lusa aku sidang.”
“Putuskan kamu mau mulai kerja di mana. Sudah bukan waktunya lagi kamu main-main.”
“Iya, pa.”
“Bagaimana kalau kamu bantu kakakmu di hotel."
“Jangan ma. Nanti hotel Arjuna bisa bangkrut. Orang susah senyum sama muka rata model dia, malah bikin tamu pada sawan,” timpal Ravin.
“Lewat otak gue, bisa bantu nambah occupancy hotel,” sombong Viren.
“Di hotel ngga butuh otak pinter aja, tapi pinter bergaul, ramah dan murah senyum. Kalo lo kerja di hotel, di sangkanya pihak manajemen mempekerjakan robot AI bukan manusia.”
Tanpa memberi kesempatan Viren untuk membalas, Ravin segera bangun dari duduknya lalu kembali ke kamarnya. Viren malah termenung mendengar kata-kata kakaknya barusan. Ucapannya sama persis seperti Alisha.
“Kamu kerja sama papa aja. Kebetulan sekretaris papa mau pensiun. Sekalian kamu belajar untuk menggantikan posisi papa. Dua tahun lagi Ezra akan naik menggantikan om Juna. Kakakmu ngga mau bergabung di perusahaan, dia akan bertanggung jawab urusan hotel. Jadi, lebih baik kamu yang dampingi Ezra.”
__ADS_1
“Iya, pa.”
Kevin cukup lega mendengar jawaban sang anak. Dia dan Juna memang telah membicarakan hal ini sebelumnya. Juna tidak mau mengambil orang lain untuk menjadi pendamping Ezra. Awalnya Kevin menawarkan pada Ravin, tapi ditolak. Anak sulungnya itu memang lebih senang bekerja yang berhubungan dengan banyak orang. Bekerja di bidang perhotelan sudah menjadi passionnya sejak dulu. Berbeda dengan Viren yang lebih mirip dirinya.
Setelah mengakhiri sarapannya, Viren kembali ke kamarnya. Tak berapa lama dia kembali dengan tas di tangannya. Pria itu berpamitan kepada kedua orang tuanya lalu berangkat ke kampus. Dia harus mengurus berbagai persyaratan untuk menghadapi sidang tesisnya lusa nanti.
☘️☘️☘️
Dengan kesal Alisha menendangi ban mobilnya yang bocor. Sepertinya tadi ban mobilnya terkena paku di jalan. Sialnya lagi, karena berangkat terburu-buru, ponselnya sampai tertinggal di meja makan. Gadis melihat ke sekeliling, sejauh mata memandang dia tak melihat keberadaan bengkel.
Sebuah mobil berjenis SUV melintas di depannya kemudian berhenti tak jauh dari mobilnya. Dari dalamnya keluar seorang pria seumuran Ezra. Sambil melepas kacamata hitamnya, pria itu mendekati Alisha.
“Kenapa?” tanya pria itu.
“Ban mobil bocor.”
“Ada ban serepnya? Biar aku bantu ganti,” tawar pria tersebut.
Alisha terdiam, tak menolak namun juga tak mengiyakan. Mata gadis itu menelisik pria di depannya. Tinggi pria itu setara dengan Ezra, memiliki kulit kuning langsat, potongan rambut dan dua lesung pipi langsung terlihat ketika pria itu tersenyum. Dilihat secara fisik, pria itu memilki penampilan yang menarik, namun itu tak berlaku untuk Alisha. Gadis itu masih selalu bersikap waspada pada orang asing yang baru ditemuinya.
“Halo..” pria tersebut melambaikan tangannya di depan wajah Alisha.
“Mana ban serepnya, biar kubantu.”
“Ngga usah. Aku lagi nunggu teman yang mau bantu. Sebentar lagi dia dateng, kok.”
“Ok.. kalau gitu aku temenin aja sampai teman kamu datang. Kenalin, aku Reymond.”
Pria yang bernama Reymond itu mengulurkan tangannya pada Alisha. Tangan pria itu menggantung beberapa saat sebelum akhirnya Alisha membalas ulurannya seraya menyebutkan namanya. Reymond tersenyum memamerkan lesung pipinya. Sebisa mungkin dia memancarkan pesona pada Alisha untuk membuatnya terkesan.
“Kamu masih kuliah?”
“Iya.”
“Jurusan apa?”
“Dago – Ledeng,” jawab Alisha asal yang langsung disambut gelak tawa Reymond.
Reymond memandangi Alisha. Selain cantik, gadis ini juga memiliki daya tarik tersendiri. Dia semakin tertarik untuk mendekatinya. Baru saja Reymond akan bertanya lagi ketika seseorang datang menghampiri mereka.
“Al..”
“Mau apa kamu?!” ketus Alisha pada Lisda. Wanita itu akhir-akhir kerap mengganggunya.
“Sudah kubilang kalau hanya ingin meminta maaf.”
“Simpan omong kosongmu. Lebih baik pergi dari sini!” hardik Alisha.
Pandangan Reymond tak lepas dari Alisha. Nampak jelas kalau Alisha tak nyaman dengan kehadiran wanita bernama Lisda itu. Pria itu mendekati Lisda lalu menarik wanita paruh baya itu untuk menjauhi Alisha.
“Maaf, bu. Dia ngga suka dengan kehadiran ibu. Lebih baik ibu pergi saja.”
“Tolong jangan ikut campur, saya hanya ingin mendapatkan maaf darinya.”
“Tapi tidak dengan memaksa seperti ini!”
Alisha memandangi perdebatan dua orang di dekatnya. Baik Lisda maupun Reymond sama-sama membuatnya tak nyaman. Dia memutuskan untuk menghindari keduanya. Baru beberapa langkah berjalan, sebuah mobil berhenti di dekatnya. Viren turun dari dalamnya.
“Mobilmu kenapa?”
“Abang..”
Refleks Alisha mendekat pada Viren. Refleks gadis itu memeluk lengan Viren, seolah meminta perlindungan darinya. Kedatangan Viren mengejutkan Reymond dan Lisda yang tengah berdebat.
“Ban mobilmu bocor?” tanya Viren lagi.
“Ayo aku antar pulang. Tinggal saja mobilmu di sini, biar nanti orang bengkel yang mengambilnya.”
Alisha menganggukkan kepalanya. Ditemani Viren, dia kembali ke mobilnya. Setelah mengambil tas dan mengunci mobil, Viren memintanya untuk segera masuk ke dalam mobil. Dari dalam mobil Alisha memperhatikan Viren yang tengah berbicara dengan Lisda dan Reymond.
“Hentikan sandiwara kalian. Kalau kalian masih berani mendekati Alisha, jangan salahkan aku kalau berbuat kasar pada kalian!”
Selesai melontarkan ancamannya, Viren segera naik ke mobilnya. Tak lama kendaraannya melacu meninggalkan kedua orang tersebut di belakang. Reymond menendang kesal kerikil yang ada di dekatnya. Lalu dia berbalik ke arah Lisda.
“Dasar tidak becus bekerja! Harusnya kamu lebih berusaha lagi!”
“Alisha yang sekarang bukanlah Alisha yang dulu selalu menurutiku. Sudah kukatakan itu!”
“Kalau kamu tidak bisa membuatku mendekati Alisha, aku tidak akan membayarkan hutangmu. Ingat itu!!”
Dengan kesal Reymond masuk ke mobilnya. Sudah dua bulan ini dia memata-matai Alisha dan bekerja sama dengan Lisda untuk mendekati gadis itu. Demi membantu sang ayah mendapatkan tahta kepemimpinan di Arcapada Group, pria itu bermaksud mendekati Alisha. Kalau dia berhasil mendekati Alisha dan membuatnya jatuh cinta, maka Reymond akan dengan mudah menikahinya. Dengan begitu tujuannya tercapai. Melalui bantuan Juna, sang ayah akan mendapatkan jabatan CEO yang selama ini diinginkannya.
Mobil yang dikendarai Viren terus meluncur. Alisha memandangi jalan yang dilaluinya, ini adalah jalan menuju kantor ayahnya bukan jalan menuju rumah. Dia menoleh ke arah Viren yang tetap mengarahkan pandangannya ke depan.
“Abang mau ke kantor ayah?”
“Iya. Beres sidang mungkin aku akan langsung kerja di sana.”
“Oh.. kapan abang sidang?”
“Lusa. Hmm.. aku boleh minta tolong ngga, Al?”
“Minta tolong apa bang?”
“Bantuin aku siapin konsumsi buat sidang. Si miss jeprut ngga bisa bantu katanya.”
“Siapa miss jeprut?”
“Anya.”
“Hahaha.. ada-ada aja panggilannya. Oke deh bang. Mau makanan berat apa snack?”
“Kalau dua-duanya repot ngga?”
“Ngga lah. Berapa pax?”
“100.”
“Siap bang.”
Alisha menaruh tangannya di kening seperti tengah menghormat bendera. Dan sebagai hadiah dari kesanggupannya, pria itu kembali melemparkan senyum manisnya. Jangan ditanya bagaimana senangnya perasaan Alisha saat ini.
☘️☘️☘️
Anya & Irvin
Alisha & Viren
__ADS_1