Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 10 Double Date


__ADS_3

"Nia kamu kenal bang Kirman yang bagian pengiriman barang itukan?"


"Kenal...kataku sambil mengunyah makan siangku, memangnya kenapa?"


"Memang kamu ngga taukah?" Tini berkata lagi.


"Ya ngga taulah, dari tadi kamu ngga bilang apa-apa."


"Ada yang lagi p.d.k.t tau...!" Tini melirik senyum-senyum pada Tuti. Tapi yang dilirik pura-pura cuek."


Tapi aku keliru. Karena Tuti duduk disamping Wati, jadi kupikir watilah yang dimaksud oleh Tini.


"Wuidih..selamat ya Wati akhirnya pecah juga status kejombloanmu."


"Ngapain loe kasih selamat buat Wati?" Emang dia naik kelas.


"Lha tadi barusan bilang bang Kirman naksir Wati, kamu gimana sih Tin...ngasih berita kok ngga jelas begitu."


"Bukan Wati yang kumaksud, tapi Tuti!!!"


"Oalah...makanya aku bingung, apa Wati sudah beralih hati ke bang Kirman!"


"Bukannya dia lagi ngejar-ngejar Waluyo anaknya pakde Timbul itu ya."


"Memang Tuti sudah jadiankah sama Kirman?"


"kayaknya sudah sih!" Timpal Tini. Habis Tuti cuma diam-diam bae...


"Terus kamu dengan Riduan gimana Tin?"


"Sudah dong..." Tini malu-malu.


'Bang Riduan bilang cinta padaku pake nyanyi segala lagi."


"Romantisnya..ngga kayak aku sama mas Sofwan."


"Mas Sofwan langsung main lamar aja ngga ada romantis-romantisnya."


"Bagus dong Nia, itu artinya bang Sofwan menunjukan kesungguhan niatnya padamu dan Ibu, bukan sekedar mempermainkan perasaanmu."


Aku menyenggol bahu Tini.


"Wati tuh kenapa tenang aja dari tadi."


"Makan dengan sopan, mengunyah dengan manis...Biasanya grasah grusuh."


"Tau tuh...Tumben banget, biasanya paling ribut."


"Wati...Are you okay???"


"Sok inggris loh Nia...Memangnya Wati ngerti?" Tuti yang dari tadi diam akhirnya buka suara juga.


"Aku ngerti dodol...Gini-gini akukan S2..Tau?"


"Alhamdulillah...akhirnya loe bersuara juga Ti.." Kataku.


"Hebat kau Wati...Tamatan S2 kerjanya dipabrik."


"Tini..Tini...Maksudku S2 itu, tamat SD dan SMP..tau!"


"Oalah...Kirain tamatan universitas..."Kami tertawa ngakak.


"Ngga pengen lanjutin sekolah lagi kah Wati?" Kejar paket gitu..untuk dapat ijazah SMA." Aku bertanya!


"Belum kepikiran Nia, nantilah jika sudah dibukakan pintu hatiku."


"Jangan kelamaan...nanti keburu tumpul otakmu, kalo sudah tumpul susah ngasahnya biar tajam kembali."


"Lagian diantara kita bertiga, kamu paling muda loh Wati."


"Iya...Umur paling muda tapi kelimutu..."


"Apa itu kelimutu Tin...kataku"


"Kelihatan muka tua, Nia...gitu aja ngga tau..payah loe!" Tuti menyenggol bahuku.


Sementara Tini cuma nyengir kuda mendengarnya.


"Kampret loe Tuti..."


"Wajahku ini imut banget...yah..setara lah dengan Lisa blackpink."


Kami bertiga tertawa ngakak mendengarnya.


"Iya, setara memang imutmu Wati apalagi liatnya dari lubang sedotan." Ha..ha..ha Tini tertawa sampai memegang perutnya.

__ADS_1


"Awas jangan tertawa terus Tin..ntar ngompol lagi."


"Aku ngga mau pulang bareng kamu kalo kamu ngompol dicelana, malu aku..Nanti dikira orang aku yang bau pesing..Mau ditaruh dimana harga diriku..Bisa hilang nanti aura keimutanku."


Bukannya berhenti tertawa kami malah semakin ngakak.


"Memang tak ada duanya kok double W ini, kataku."


"Maksudnya double W apa Nia?"


Tuti masih sempat bertanya disela-sela tawanya.


"Iya...Wati dan Waluyo...Cocokkan mereka berdua...Kataku.


"Eh...Tapi ngomong-ngomong kita double date yuk malam minggu besok."


"Maksudnya double date itu apa Ti, kataku."


"Hadeuh Nia...Nia...Masa double date aja kamu ngga tau sih?"


"Kalo aku tau, aku ngga akan nanya Tuti!!!Kataku."


"Kencan bareng Nia...Kamu dan bang Sofwan..Aku dan bang Kirman, Tini dan bang Riduan...Begitu ceritanya...Kata Tuti."


"Terus aku dengan siapa? Masa aku ngajak Deden terus minta dia pura-pura jadi pacarku? Ngga lucukan."


"Ya sama Waluyo lah Wati."


"Tapi Tin gimana cara ngajaknya?" Aku malu tau...


"Hih...Tumben tau malu...Biasanya juga malu-maluin...Aku menimpali."


"Ya iyalah...Sebagai manusia terkadang aku juga ada insafnya."


"Kamu tenang aja kawan...Nanti aku dan Tuti yang bicara dengan Waluyo. Jika perlu..Nia turun tangan membantu menyeretnya datang kehadapanmu."


Wati diam sambil mengetuk-ngetukan jari telunjuk kedagunya.


"Bisa juga nih anak berpikir batinku.'


"Jangan kelamaan mikir Ti, ntar keburu sore." Kataku.


"Okelah kalau begitu". Wati mengacungkan jempolnya.


"Waalaikumsalam...Coba Nia bukakan pintu sana, ada tamu tuh."


Aku berdiri berjalan malas kepintu. Sehabis makan dan sholat Isya gini rasanya aku ingin memanjakan diriku sejenak menonton televisi.


"Selamat malam cinta!!!"


"Haish...Basa-basinya sudah basi mas..."


Mas Sofwan nyengir kuda didepan pintu tanpa disuruh masuk lagi, dia sudah masuk sendiri.


"Eh nak Sofwan, tumben malaman kesininya." Nak Sofwan mau makan? Biar ibu minta Nia siapkan."


Aku mendelik gondok pada ibu. Kupandangi Sofwan dengan isyarat mata.


"Eh boleh deh jika Nia yang menyiapkan, Sofwan balas melirikku dengan senyum kemenangan."


"Ish...dasar siulat bulu...bikin susah saja...kenapa juga ngga datang dari tadi."


Tapi aku berdiri juga melangkah kedapur lagi, mana berani aku membantah perkataan ibu walaupun aku sebenarnya sudah malas banget rasanya.


"Bu, Ini Sofwan bawakan kebutuhan dapur dan ini martabak manis kesukaan Ibu."


"Mas...Buat Nia mana kok ibu melulu sih."


"Hayo...Nak Sofwan...Nia cemburu tuh..."


"Kok cemburu sama ibu, lagian mas tuh ngga tau kesukaanmu apa Nia...Kayaknya pemakan dan penyuka segalanya deh."


"kayak aku omnivora aja mas...Sungutku."


"Pintarnya sayangnya mas, biar sudah tidak sekolah belasan tahun masih ingat aja sama pelajaran."


"Lagian kamu tinggal bilang mau makan apa ntar mas belikan, Nia."


"Tidak usah nak Sofwan, ini aja sudah cukup, Kasian nak Sofwan juga baru pulang kerja."


"Nia, bantu dulu nak Sofwan angkat belanjaannya kedapur."


"Nia, kamu pegang ini buat bantu belanjaan sebulan ya...Jangan sampai Ibu tau nanti ibu pasti menolak."


"Tapi mas...Kataku."

__ADS_1


"Sudah...Kamu pegang aja lagian aku juga suka makan disini kok."


"Memang mas sudah gajian? kalau belum jangan nanti buat mas ngga cukup."


"Sudah kok, makanya tadi mas pulang agak lama, kamu sudah suudzon berpikiran kemana-mana kan? Hayo ngaku..."


Wajahku memerah mendengarnya. Siulat bulu ini tau aja yang ada dipikiranku.


Kutemani dia makan malam. Orang yang mau makan dalam kesederhanaan walaupun aku tau jika dia mau dia bisa diam-diam makan diluar sana. Tapi dia memilih untuk pulang dan makan dirumah.


"Mas, malam minggu besok ada acarakah?"


Dia menghentikan makannya dan menatapku.


"Memangnya kenapa Nia?" Kamu mau jalan keluarkah?


"Teman-teman ngajak double date mas...Jika mas Sofwan bisa sih...Kataku merasa nggak enak.


'Bisa...jam berapa mau berangkat?" Dia berdiri membawa piring kotornya kewastafel.


"Ngga usah dicuci mas, biar Nia aja yang cuci."


"Ngga apa-apa hanya piring sama sendok aja kok."


Aku meringkas kembali meja makan lalu kami berjalan keluar menemui Ibu.


"Sudah selesai makannya? Ibu tinggal dulu ya. Pinggang ibu sering sakit akhir-akhir ini."


"Oh iya satu lagi...Ibu membalikkan badannya lagi, jangan sampai kelewat malam ya...ngga enak dilihat Tetangga."


"Nggeh bu...Aku dan Mas Sofwan bicara berbarengan."


"Memang pada mau pergi kemana besok?"


"Belum tau mas liat aja besok, mereka mau kemana."


Kami hanya berbincang-bincang sebentar lalu mas Sofwan pamit pulang.


"Nanti malam jadikan kita ngedatenya?" Kata Wati.


"Cie..cie..yang sudah ngga sabar pergi dengan Waluyo."


"Bukan gitu Tin, akukan harus mempersiapkan mentalku..Mempersiapkan seluruh jiwa ragaku dulu ." Aku deg-degan tau.


"Ya sudah..kita berpisah disini ya...Jangan lupa sehabis maghrib kita kumpul didepan rumah Wati."


"Bahasa mu ti...kayak kita mau nyerang emak sama bapaknya Wati aja.


"Tuti itu semangat sebab mau ketemu Kirman Tin, kayak kamu ngga berbunga-bunga aja mau ketemu Riduan. Aku menggoda mereka.


Gantian kan dulu mereka selalu menggodaku dengan mas Sofwan. Emang enak digangguin.


"Wes...wangi bener yang pada mau kencan...biasanya juga bau asem." Bapak dan emaknya Wati yang lagi ngeteh diluar mengomentari."


"Deden ngga malam mingguan? Kataku.


"Sama siapa mbak?" masa sama bebek? Dia cemberut.


"Ya sama oranglah Den..gitu aja ngga tau...Balas Tuti."


"Sabar Den kata bapaknya umurmu masih lima belas tahun. Sana masuk kedalam main free fire."


"ish...Bapak...Deden kan mau ikut mereka!"


"Mau apa? Mau jadi obat nyamuk kamu?" Kata emaknya.


Kami tertawa melihat kelakuan adiknya Wati ini. Memang kenana-mana dia selalu mengekor pantat kakaknya.


Dulu sewaktu aku dan kak Della kecil juga begitu. Kemana-mana selalu bersama.


Sampai kami berdua dihukum karena pulang kerumah baju seragam basah dan becek semua karena hujan dan main lumpur.


Aku ingat betapa marahnya bapak melihat kami pulang dari rambut sampai kaki tertutup becek, hanya mata, mulut dan hidung yang masih kelihatan.


"Kalian ini seperti Yeti, kata bapak dulu."


"Cuma bedanya yeti mahluk salju, dan kalian berdua ini mahluk lumpur."


"Ah..jadi kangen kak Della. Sudah bertahun-tahun kakakku itu tidak ada kabar beritanya lagi."


"Ah sudahlah, aku tak boleh merusak suasana malam ini."


***Bersambung....


Jangan lupa like dan komen nya terimakasih 😊🙏***

__ADS_1


__ADS_2