
"Dek, ibu sama bapak mengajak kamu tinggal di rumah mereka sampai Dina di aqiqahkan."
Aku yang sedang menyusui Dina sedikit kaget.
"Tapi nanti di sini mas Sofwan tidak ada yang mengurus dirumah." Aku berusaha berkilah.
"Tidak apa-apa dek, kan cuma sebulan saja."
"Tinggal di sana bisa membuatmu istirahat, karena ada ibu yang bisa ikut menjaga Dina."
"Sementara jika tinggal di sini, mas lihat kamu selalu begadang menjaga Dina."
"Pagi hari kamu bersiap lagi mengurus mas dan mencuci pakaian serta popok-popok Dina."
"Tapi mas, bagaimana dengan sikap kakak-kakakmu padaku?"
"Sedangkan ada mas disampingku saja, sikap mereka sudah buruk padaku, apalagi mas tak ada di sampingku?"
"Demi kesehatanmu dan Dina dek...abaikan dulu keegoisanmu itu."
"Setiap sabtu mas akan datang menjengukmu dan anak kita."
Rasanya berat sekali menerima saran mertua dan permintaan suami.
Tiga hari saja dulu pas acara pernikahan rasanya begitu lama, apalagi sebulan penuh? Bisa gila aku tinggal disana.
Tapi ada benarnya ucapan mas Sofwan. Aku hampir tak bisa tidur. Dari pagi hingga malam anakku kerjanya tidur, tapi dari jam 22.00 hingga menjelang azan subuh, dia akan terjaga.
Aku juga harus memikirkan keadaan suamiku. Diapun tidak akan bisa tidur nyenyak, apalagi besok pagi dia harus berangkat bekerja pagi-pagi sekali.
"Bapak dan ibu akan menjemput kalian pukul 15.00 nanti."
"Takut kesorean di jalan jika harus menunggu mas pulang kerja."
"Iya mas...Akhirnya aku mengalah juga."
Ketika Dina tidur, dan mas Sofwan sudah berangkat kerja, aku meringkas bajuku dan Dina yang akan kubawa nanti.
Sepanjang siang aku gelisah, rasanya berat untuk pergi. Dan tepat jam 15.00 mertuaku sudah datang.
"Baju-baju kalian sudah dibawa Nia?" Mertuaku bertanya dari balik kemudi.
"Sudah pak, sudah saya persiapkan sejak tadi siang."
"Ya sudah langsung naik, kita langsung berangkat."
"Mudah-mudahan sebelum maghrib kita bisa sampai di rumah, kasihan bayimu jika kemalaman di jalan."
Ibu mertuaku pindah ke belakang duduk di sampingku. Bergantian menggendong Dina.
"Bagaimana kabar cucu nenek yang cantik ini?"
"Nenek dengar kalau siang tidur melulu terus malam begadang ya..."
"Jika kamu tinggal di rumah ibu, kamu bisa beristirahat Nia."
"Suamimu juga bisa istirahat tenang, kasihan jika dia juga begadang terus."
"Iya bu," aku menjawab pelan. Entah mengapa sejak tadi, moodku sudah jelek.
Ibu dan bapak mertuaku saling bercerita. Aku cukup jadi pendengar yang baik, atau menjawab jika ditanya.
Cukup lama perjalanan yang melelahkan hingga akhirnya tiba juga.
__ADS_1
"Ayo turun, biar anakmu ibu yang gendong."
Bapak mertua membantuku membawa tas baju dan aku mengikuti mereka berjalan dibelakang.
Rumah ibu tampak lengang, pembantu rumah sudah pulang lebih dulu.
"Ayo masuk nak, hari sudah hampir maghrib." Tidak baik terlalu lama di luar.
"Iya bu..." Aku melangkah masuk mengikuti ibu mertuaku.
"Ini kamarmu dan anakmu ya, tapi kalau malam kita menggelar tempat tidur di ruang tengah saja."
"Jadi ibu dan bapak bisa bergantian saling menjaga, supaya kamu juga bisa beristirahat."
"Sekarang kamu bersihkan diri dulu jangan langsung menyusui anakmu, karena kita habis melakukan perjalanan jauh."
Aku menuruti semua kata ibu mertuaku. Setelah bersih aku berganti baju supaya tidak gerah dan apek.
"Nia, kamu dan ibumu makanlah dulu biar bapak yang menggendong Dina."
"Ayo..." kata ibu, "anggaplah rumah ini rumahmu sendiri, kamu juga anak ibu dan jangan merasa sungkan."
"Assalamualaikum...Sudah sampai di rumah ibu dan bapakkah?"
"Sudah mas, menjelang maghrib tadi."
"Baik-baik di sana ya, tidak usah terlalu berpikiran yang macam-macam."
"Jangan kata bermacam-macam, semacam saja sudah sakit kepalaku berpikir," gumamku.
"Nanti hari sabtu sehabis pulang kerja mas langsung nyusul ke sana."
ingin rasanya Dina cepat-cepat di aqiqahkan, supaya aku bisa cepat pulang lagi.
"Pasti besok aku akan bertemu dengan mereka, " desahku.
"Ya sudah, mas mau sholat dulu ya baru makan."
"Iya mas, maaf ya jika mas Sofwan selama sebulan ke depan ini harus mengurus diri sendiri dulu."
""Siapa yang menelpon Nia? Sofwankah?"
"Iya pak, mas Sofwan tanya sudah sampai atau belum."
"Lha cucu nenek, mulai malam mulai terang matanya seperti lampu neon 100 watt."
"Orang sudah pada mau tidur, dia malah baru bangun."
"Kamu istirahat dulu Nia, sambil kamu susui Dina."
"Biar nanti ibu dan bapak yang gantian menjaga."
Aku tertidur pulas, karena memang beberapa malam ini aku kurang tidur. Rasanya tubuhku lelah sekali.
Dan inilah hari yang paling tidak ingin kulalui, yaitu bertemu dengan kakak-kakak iparku.
"Eh...ada istri Sofwan dan bayinya, kapan datangnya adik ipar?"
Aku tahu pertanyaan ini bernada mengejekku tapi tetap kujawab.
"Baru kemarin waktu hampir maghrib kak. " jawabku.
"Ingat ya...jangan sepenuhnya mengandalkan ibu untuk menjaga anakmu."
__ADS_1
"Berapa lama kamu akan tinggal di sini?"
"Kurang lebih sebulan kak, sampai Dina aqiqahan."
Di dalam hatiku meradang, seandainya bukan kakak dari suamiku pasti sudah kulawan. Lagian siapa juga yang mau tinggal lama-lama di dalam kandang macan?
Walaupun aku tinggal di gubukku yang reyot tapi aku bahagia, ketimbang tinggal di istana yang megah, tetapi membuatku menderita.
Banyak sudah andai-andai dan perumpamaan yang aku buat sangking gondoknya.
"Memangnya tinggal di rumahmu sana, tidak bisa sambil mengurus anak dan suamimu kah?"
"Sampai kalian berdua harus diungsikan Sofwan kemari."
"Ibu dan bapak di sini juga sudah tua, sudah waktunya mau tenang."
"Apalagi jika anakku, anak Juwita dan anak Anya berkumpul, pasti akan sangat ramai disini.'
"Ibu dan bapak yang mengajak mereka kemari sampai Dina di aqiqah...Anya."
"Mereka tidak pernah meminta, tapi ibu yang mau."
"Ibu senang mendengar ada suara tangis bayi lagi dirumah ini."
"Lho ibu ini gimana sih? ingat, ibu jangan sampai terlalu lelah, nanti penyakit jantung ibu kumat lagi."
Ya Allah, baru hari kedua aku dan anakku tinggal di sini, apalagi sampai sebulan? Mungkin penuh telinga kiri dan kananku ini dengan makian dan sindiran.
"Mengurus Dina tidak akan membuat ibu sakit, Anya."
"Lagian kan ada ibunya di sini, ibu hanya sekedar membantu saja."
"Sudah ah...kamu pagi-pagi datang malah ribut disini."
Kulihat Anya menghentakan kaki sambil mendelik kearahku, mendengar ibunya malah membelaku di depannya.
"Sabar ya nak...Anya memang begitu orangnya." Ibu menghiburku sambil menggendong Dina yang pulas tertidur, setelah semalaman begadang.
"Iya bu ngga apa-apa," jawabku.
"Ibu dan bapak akan mempercepat acara aqiqahan anakmu."
"Ibu tahu kamu tidak akan betah tinggal di sini sampai sebulan."
"Nia terserah ibu saja, mari sini Dina Nia gendong saja, mau Nia tidurkan di kamar bu."
Ibu menyerahkan Dina padaku, kubawa Dina melewati ruang tengah di mana para penyihir jahat berkumpul.
Semua mata tertuju kepadaku dengan sinisnya. Seolah aku ini pesakitan yang harus di benci dan di jauhi.
Ingin rasanya aku menangis sekeras mungkin untuk meluapkan semua kesedihan dan kekesalan di hatiku.
Seandainya ibuku sendiri masih hidup, tentu aku lebih memilih mengaqiqahkan Dina di rumah saja.
Kubaringkan tubuhku di samping putri kecilku yang tertidur nyenyak. Sebenarnya dia tidak cengeng dan tidak rewel. Dia hanya menangis saat haus atau popoknya basah, selebihnya dia akan tidur kembali.
Tapi tentu aku tak sampai hati kalau malam membiarkannya bangun sendirian, sementara aku tidur.
Yah, semoga waktu yang dinanti segera datang. Rasanya menunggu sebulan seperti setahun bahkan mungkin rasa seabad jika terus menerus dalam kondisi seperti ini.
***Bersambung....
jangan lupa like dan komennya...vote dan hadiahnya jika berkenan๐๐๐๐***
__ADS_1