Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 112 Aku Masih Mencintaimu


__ADS_3

"Siapa laki-laki yang tengah bersimpuh di samping pembaringan Sania itu ya??"


"Assalamualaikum...." Sultan masuk dan memberi salam.


Sosok yang bersimpuh itu juga ikut menoleh ke arah pintu.


Ke duanya sama-sama tertegun.


"Siapa laki-laki ini? Kenapa dia masuk ke dalam ruangan Sania?" Sofwan tampak berpikir sambil menatap Sultan dengan tajam.


Sebaliknya Sultanpun berpikir. "Ganteng banget laki-laki yang ada di depanku ini, wajahnya masih terlihat imut walaupun sepertinya sudah memasuki usia tiga puluhan ."


" Waalaikum salam, oh...Sultan sudah kembali dari mesjid?" Sania memecah keheningan.


Sultan hanya mengangguk kecil.


"Siapa dia dek?" Ada kecemburuan dari nada suara Sofwan.


"Sultan...ini mas Sofwan, bapaknya anak-anak...dan mas Sofwan, ini Sultan adik iparnya Tini."


Akhirnya Sultan berinisiatif mengulurkan tangannya lebih dulu.


"Sultan..."


"Sofwan.."


"Kenapa laki-laki yang pernah dekat dalam hidupnya mba Nia ini orangnya ganteng-ganteng semua?" Batin Sultan.


"Mas ini apanya dek Nia?" Sofwan langsung to the point bertanya pada Sultan.


"Saya..." Ucapan Sultan terpotong, dia menelan salivanya karena kaget dengan pertanyaan Sofwan yang tiba-tiba.


"Sultan itu bosnya Nia di kafe, mas..." Sania menjelaskan.


"Dek, kok bisa Sultan yang menjagamu di sini?" Ada nada kecemburuan yang terselip dari pertanyaan Sofwan.


"Mas...Tini ngga bisa jaga karena anak-anak untuk sementara tinggal di rumahnya."


"Tuti dan Wati juga ngga mungkin, mereka juga punya keluarga....jadi Sultan yang dimintakan tolong Tini untuk menjagaku di sini."


"Terus kalau Sultan yang berjaga di sini, lalu kerjanya Miko itu apa?? Kamu kan istrinya juga, jangan hanya sibuk dengan istri mudanya sementara kamu diabaikan olehnya."


"Kalau memang begitu kenyataannya, ceraikan saja daripada kamu sakit hati terus..."

__ADS_1


"Sudah cukup mas dulu yang membuatmu terluka, walaupun semua di luar kuasa mas Sofwan...tapi mas Sofwan ngga rela, melihatmu terluka lagi karena perlakuan Miko padamu."


Sultan tertegun mendengar penuturan Sofwan yang lantang dan tanpa ragu-ragu. Dia tahu di dalam setiap tatapan dan perilaku Sofwan pada Sania, masih ada cinta yang begitu besar di sana.


"Mas...ngga usah mengungkit cerita lalu, aku sudah ikhlas menerimanya...mengenai Miko, mungkin aku akan mengurus perceraian kami secepatnya, agar kehadiranku tidak mengganggu hubungan mereka berdua."


"Kamu ngga terbalik kah dek? Bukannya kehadiran Alena yang telah menghancurkan rumah tanggamu dan Miko?"


"Sudahlah mas, aku ngga mau memikirkan hal-hal seperti itu, jika kepergianku membuat Miko dan Alena bahagia...maka aku memilih pergi."


Sofwan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengacak rambutku perlahan.


Semua perlakuan Sofwan tak lepas dari pandangan Sultan. Ada sedikit terselip rasa cemburu di hatinya melihat kemesraan Nia dengan mantan suaminya.


"Mas...gimana dengan kabarmu sendiri? Apakah Anggita dan Aisyah baik-baik saja?"


"Istri dan anakku kabarnya baik-baik saja." Sambil berkata begitu, Sofwan membuang pandangannya ke luar jendela.


"Kabarku juga baik, berkat doamu dan anak-anak...." Aku mengangguk sambil tersenyum.


"Syukurlah....semoga kalian bertiga selalu berbahagia ya mas!!!" Kataku tulus.


Sofwan hanya tersenyum. "Kamu tak tahu bagaimana rasanya hatiku, dek...aku berusaha untuk kuat menjalani hari-hariku tanpa kamu lagi di sampingku."


"Dek...kamu mau makan apa? mas Sofwan pesankan ya? Sultan juga mau makan apa? Ntar sekalian kupesankan juga!!"


Dia tersenyum pada Sultan dan kembali mengalihkan tatapannya pada mantan istrinya itu.


Sultan yang sedang duduk di sofa terkesiap melihat senyuman Sofwan. "Pantas banyak wanita tergila-gila padanya, senyuman berlesung pipit itu manis sekali." Batinnya.


"Saya terserah aja, apa sajalah pokoknya!! Sultan menambahkan.


"Kalau kamu dek?"


Sania dan Sofwan saling bertatapan lama...sekali. Terlihat rona merah di wajah ke duanya sebelum akhirnya saling membuang pandangan ke arah lain.


Dan semua itu tak luput dari pandangan Sultan.


"Sofwan dan Sania ini sebenarnya masih saling mencintai satu dengan yang lainnya...kasihan mereka, kehidupan cinta mereka seperti dikutuk oleh sebuah kutukan yang tak menginginkan mereka bersama."


"Aku terserah mas Sofwan dan Sultan aja!!!" Lalu Sania bangun dan berusaha untuk duduk bersandar di pembaringannya.


Dengan cekatan Sofwan membantunya. Menghalangi belakangnya dengan bantal agar Sania bisa nyaman untuk bersandar.

__ADS_1


Ada kecemburuan di hati Sultan melihat kemesraan sepasang mantan itu.


"Sultan...jangan salah paham ya??? Kami berdua sudah seperti sahabat kok, walaupun kami pernah lama bersama tapi itu dulu sekali, sekarangkan kita sudah punya pasangan masing-masing...ya kan mas!!"


Sania menatap Sofwan yang duduk di depan pembaringannya sambil tersenyum. Sofwan hanya mengangguk sambil membalas senyuman Sania lalu beralih memandang Sultan.


"Satu-satunya yang masih membuat kami dekat itu, hanyalah anak-anak...Sultan!! Sofwan tersenyum lagi pada Sultan.


"Besok saja mas mengajak anak-anak untuk jalan-jalan dek...lagian ini sudah malam, gerimis juga lagi...kasihan nanti anak-anak, takut mereka sakit."


"Memang mas di kota ini berapa hari? Jangan terlalu lama mas, kalau urusanmu di sini sudah selesai, pulanglah segera."


"Kasihan Anggita dan Aisyah jika ditinggal terlalu lama di sana."


Sultan dan Sofwan sama-sama termenung mendengar ucapan Sania. Termenung dengan versi bahasa masing-masing di hati mereka.


"Kamu luar biasa mba Sania, sudah di sakiti tapi rasa kasih sayang dan cintamu kepada orang lain masih saja bisa kamu tunjukan dengan tulus...terbuat dari apa hatimu itu??"


Sementara Sofwanpun berkata dalam hatinya, "Sebenarnya mas enggan untuk pulang dek, mas ingin terus di kota ini bersamamu dan anak-anak...apalagi mas tau, nasib pernikahanmu dan Miko sudah di ujung tanduk."


"Seandainya kamu tau, mas ingin sekali kembali padamu...mas ingin mengumpulkan kembali serpihan kenangan kita yang dulu sempat tercerai berai dengan sakitnya mas Sofwan."


"Tapi pasti kamu menolaknya, hatimu terlalu lembut untuk merampas kebahagiaan orang lain...kamu memilih untuk menderita dari pada melihat orang lain yang menderita." Jeritan Sofwan menggema di lorong-lorong hatinya.


"Dek Nia, Sultan...bolehkan aku menginap di sini? Aku ingin dekat dengan Sania, aku ingin menebus semua kesalahanku padanya dulu dengan ikut menjaga dia di rumah sakit ini!!"


Sania dan Sultan saling menatap untuk meminta persetujuan masing-masing.


"Kalau aku terserah mba Nia aja, dialah yang menentukan boleh atau tidaknya."


"Kalau aku sebenarnya tidak keberatan mas...tapi masa mas Sofwan mau beralaskan ambal itu untuk tidur di lantai?" Sania menunjuk kearah ambal tebal yang terlipat di samping Sofa.


"Di hotel tempat mas Sofwan menginapkan jauh lebih nyaman, aku tidak mau mas sakit hanya karena ikut menjagaku."


"Mas sudah terbiasa tidur di tikar kok dek, bukannya dulu juga kita sering tidur di lantai hanya beralaskan tikar?"


Wajah Sania memerah mendengar Sofwan masih mengingat semua tentang kenangan yang pernah mereka lewati bersama dulu.


Tapi segera di tepisnya semua ingatan itu, mengingat itu hanyalah bagian dari masa lalu mereka yang harus segera disingkirkan dari ingatan.


***Bersambung...


"Maaf agak telat up nya...kemarin sibuk ngurus anak sekolah...jadi ngga fokus untuk nulis...Selalu minta dukungannya ya all readers...Like, komen, vote, favorite dan ratenya...happy reading💜💜 terima kasih selama ini atas dukungannya🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2