Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 49 Babyku Sakit


__ADS_3

"Mak...bangun...Syifa mau pipis..."


"Mak...bangun...Juned juga pengen pipis..."


"Kok badan mamak panas dek...coba sini Syifa pegang badannya mamak..."


"Iya bang...mamak sakit....Syifa panggil kak Dina dan ayah om dulu ya bang..."


"Ayah om Miko...bangun...badan mamak panas sekali...Syifa membangunkan Miko dengan tangan mungilnya."


"Ada apa Syifa bangunkan ayah...." Aku menggeliatkan badanku.


"Ayah om...kayaknya mamak sakit...badannya panas tapi kaki mamak dingin kayak es...Juned coba menjelaskan."


Aku langsung melompat bangun dari tidurku. Kuhampiri kak Nia yang pindah tidur ke pojok ruang tamu. Badannya meringkuk sambil menggigil.


"Sayang...sayang...kamu kenapa? Apa yang kamu rasakan?"


Aku sudah tidak bisa bicara lagi...lidahku terasa kelu menahan dingin di sekujur tubuhku. Aku demam tinggi tapi keringatku bercucuran. Kepalaku sangat sakit, badanku terasa pegal dan aku merasa mual dan mau muntah.


"Sayangku...kamu kenapa? Jangan buat aku takut..."


"Ayah om Miko...panggil doktel aja untuk peliksa mamak..." Kata Juned.


"Iya juned benar...ayah telepon dokter dulu sementara itu Juned sama Syifa bangunkan kak Dina untuk menjaga ibu kalian."


"Bodohnya aku!!! Kenapa aku jadi panik begini, hingga tidak kepikiran untuk menelpon dokter lagi."


Aku menelpon dokter Andri sahabatku."Hallo dri...selamat malam...maaf mengganggu...bisakah kamu datang kejalan mawar no 11? Bukan...bukan aku yang sakit, tapi calon istriku...cepat ya..."


Kulihat Dina dan adik-adiknya sudah mengelilingi Nia.


Kulihat juga keringat yang bercucuran semakin deras...wajahnya terlihat semakin pucat. Aku berusaha untuk tidak panik agar ketiga calon anak tiriku pun tidak ikut panik.


Padahal aku panik luar biasa...aku jadi berpikiran yang negatif...aku sangat takut kehilangan dia lagi.


Tak lama dokter Andri datang...dengan sigap dia memeriksa Nia.


"Malaria, Ko...untung masih gejala yang ringan...ini diagnosaku saja ya...


"Kuberikan obat antimalaria dulu ya, besok segera bawa kerumah sakit, supaya bisa diambil sampel darahnya.


"Pertanyaannya adalah di mana sebelumnya dia tinggal? Apakah lingkungannya dulu kumuh dan banyak genangan airnya? Atau tinggal dekat rawakah?"


Miko terdiam mencoba mengingat-ingat. Sepertinya memang tempat tinggal Nia dulu disebelahnya itu ada rawa-rawa yang di tumbuhi tanaman kangkung.


Dokter Andri tersenyum....akhirnya bisa juga kamu jatuh cinta, Ko...dengan janda anak tiga lagi...."


"Ya sudah nanti cepat diminum obatnya dan besok segera bawa kerumah sakit, kebetulan besok aku dokter jaganya."


"Terima kasih banyak atas pertolonganmu ya dri..."

__ADS_1


"Sama-sama, Ko...aku pamit pulang dulu."


"Sayang...obatnya diminum dulu ya...Dina coba ayah minta air di gelas buat ibumu minum obatnya.


"Pahit banget, Ko....aku menelan dengan susah payah..."


"Bisa...kamu pasti bisa menelannya...pahitnya hidup aja bisa kamu telan, apalagi hanya pahit obat seperti ini."


"Beb...aku mau pulang ke rumah dulu ambil mobil...kita berangkat ke rumah sakit besok pagi ya..."


"Dina...nanti kalau ayah pulang, jaga dulu adik sama ibu ya..." Dina hanya mengangguk saja.


"Untung semalam aku nginap di sini, kalau aku pulang? Gimana nasib mereka berempat ini? Di tempat baru begini, mana ada yang mau peduli?"


Aku kasihan sekali sama mereka ini, sebegitu kumuhkah lingkungan tempat tinggal Nia dulu?


Aku hanya geleng-geleng kepala, nyesek rasa dihatiku melihat mereka. Istri harus berjuang mati-matian untuk bertahan hidup, bekerja untuk menghidupi kebutuhan mereka berempat, sementara si suami? Hidup enak dalam keamnesiaannya.


Aku keluar setelah melihat Nia kembali tertidur. Keadaannya tak separah tadi, tapi tetap saja aku harus membawanya kerumah sakit nanti saat pagi tiba.


Aku mengendarai sepeda motorku dengan kecepatan tinggi biar bisa cepat sampai di rumah.


Aku mandi sebentar setelah itu kuambil kunci mobil diatas meja lalu bergegas pergi lagi


"Kak...mamak ngga apa-apakan? Mamak ngga akan mati ninggalin kitakan? Juned takut kalau mamak mati kak!!!"


"Hushhh....ngga boleh ngomong gitu...kita berdoa aja semoga mamak cepat sembuh...nanti pagi kan mau dibawa kerumah sakit sama om Miko."


"Bukan dek...bapak kita itu tetap bapak Sofwan, dan bukan om Miko...paham?"


Juned menggelengkan kepalanya keras-keras..."Juned ngga mau bapak Sofwan lagi, Juned takut."


"Juned seling lihat bapak lagi mukul mamak...jadi juned takut..."


"Dina....iya mak...." Dina menghampiriku.


""Kenapa mamak tidak dibangunkan untuk sholat subuh, nak?"


"Mamak baru saja tidur lagi setelah menggigil setengah malaman, jadi Dina dilarang om Miko untuk membangunkan mamak."


Aku mencoba duduk walaupun kepalaku masih terasa sangat sakit.


"Om Miko kemana, Dina?"


"Om Miko pulang ambil mobil terus mau antar mamak kerumah sakit."


"Din...bisa ambilkan mamak minumkah? Tenggorokan mamak terasa kering sekali."


Sambil menunggu Dina aku mencoba bangkit mau ke toilet, mau bersihkan muka dan gosok gigi dulu rencanaku. Tapi tiba-tiba mataku terasa gelap dan aku langsung ambruk. Aku tak ingat lagi selanjutnya.


"Sayang...kamu sudah siuman? Kamu tadi jatuh pingsan waktu mau berdiri, untung aku datang tepat waktu dan cepat menangkapmu, kalau tidak mungkin tadi kamu sudah mencium lantai."

__ADS_1


"Miko...terima kasih ya...aku menggenggam erat tangannya."


"Kamu makan dulu ya...tadi aku beli bubur ayam di ujung jalan sana, aku sama anak-anak beli nasi kuning."


Kulihat di meja makan anak-anakku makan dengan lahapnya. "Ya Allah...sebegitu besar perhatian Miko pada kami, seandainya dalam keadaan aku sakit begini tak ada dia, bagaimana kami jadinya."


"Kamu juga makan ya...nanti aku suapi..."


"Aku belum lapar, Ko...Lagian aku mau muntah rasanya."


"Kamulah makan dulu, Ko...nanti kamu juga sakit!!"


"Makan sayang...akuu suapi...tidak usah pikirkan aku dulu...nanti selesai kamu makan, baru aku akan makan."


"Perutmu terasa mual dan mau muntah karena tidak makan."


"Ntar ya...kubuatkan teh hangat dulu untukmu, supaya perutnya cepat enakan, lalu makan."


"Anak-anak...kalau sudah selesai makan, mejanya dirapikan ya...terus sana pergi mandi...ayah mau antar ibu kalian dulu ke rumah sakit...jangan ngeluyur kemana-mana ya Juned, nanti sesat...Di sini bukan tempat tinggal yang dulu..."


Nada bicara Miko terdengar lembut, tetapi tegas.


"Iya ayah om Miko...Kata Juned dan Syifa serentak."


Aku tersenyum mendengar perkataan anak-anakku. Ada kata om tapi ada kata ayah juga.


"Kamu minum dulu...habis itu kusuapi ya..."


"Ko...kalau sampai dibawa ke rumah sakit, terus kalau aku sampai dirawat...bagaimana anak-anak di rumah? Baru besok Dina sudah masuk ke sekolah yang baru..."


"Kamu tak usah memikirkan itu...nanti aku yang menghandlenya...akukan bisa minta tolong bibi di rumah untuk menjemput Dina pulang sekolah nanti...sementara Juned sama Syifa tak bawa kerumah dulu supaya bisa dijaga bibi."


"Terus, besok bagaimana aku bisa bekerja ya, Ko?"


"Aduh sayang...lama-lama ku ***** juga tuh bibir...cerewet aja dari tadi...sudah kamu tak usah pikirkan itu, nanti aku yang akan mintakan izin."


"Maafkan aku ya, Ko...baru saja tiba di tempat baru, sudah merepotkanmu begini."


"Ya lagian kamu sih...tak ajak tinggal di rumahku ngga mau."


"Di rumah banyak kamar kosongnya, bibi hanya kerja dari pagi sampai sore...setelah itu aku sendirian."


"Alasanmu ya ngga enaklah...ya takut aku diam-diam masuk ke kamar gerayangin kamulah...0adahal kalau aku mau tak usah nunggu di rumah, tadi malam aja aku bisa melakukannya."


"Orang kamu tidur kayak kebo...kalau aku jahat...tadi malam kutusuk apa kamu tau? Paling-paling besok pagi tinggal sakit ngga bisa jalan...lha ini belum ditusuk aja malah sudah sakit duluan."


Wajahku memerah menahan malu mendengar Miko yang terus nyerocos seperti burung perkutut.


***Bersambung....


Author jadi baper juga melihat kemesraan mereka berdua...Jangan lupa like, komen, vote dan favoritenya jika berkenan...Terima kasih***...

__ADS_1


__ADS_2