Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 26 Bertemu Teman Lama


__ADS_3

Jam 12 siang tak terasa. "Wan, sudah waktunya makan siang!"


Anto dari lantai 2 dan Bahar yang bertugas di lantai 3 turun mendatangiku.


"Kita makan siang di luar yuk! ajak mereka berdua."


"Maaf teman, saya tadi bawa bekal makan dari rumah."


"Oh ya sudah, besok kita berdua bawa bekal makan juga supaya bisa makan bersama di sini."


"Aku sama Bahar pergi makan dahulu ya, kami berdua titip area kami sebentar Sofwan."


"Tenang saja, nanti aku yang akan menghandle sementara, kalian makan saja lah."


Diarea tempatku bekerja sekarang ini memang bukan area rawat inap. Di sini tempatnya poli-poli dan area rawat jalan, bahkan lantai 3 tempat Bahar bertugas, sebagian adalah area perkantoran.


Lagi enak-enaknya aku makan siang, tiba-tiba aku didatangi sekuriti yang bertugas di dekat pendaftaran.


"Dengan mas Sofwan ya?"


"Benar pak, ada yang bisa saya bantu pak?" Kulirik nama di bed nya, Kasman.


"Panggil saja saya Kasman mas, saya diminta kan tolong oleh ibu Kiki di lantai 3, ada tumpahan air di bawah meja beliau."


"Siap pak Kasman, saya cuci tangan dulu ya pak."


Untung tadi aku sudah dibawa keliling sampai ke lantai 3 oleh Anto jadi sedikit banyak aku sudah hapal apa yang harus aku kerjakan.


"Mari mas saya antar menghadap ibu Kiki."


Kami bertiga bergegas naik lift kelantai 3 supaya cepat sampai.


"Permisi bu, ini saya antarkan cleaning service yang bertugas dilantai 1."


"Iya pak Kasman, tadi mas Bahar sudah izin mau istirahat makan siang, tadi air minum saya tumpah pak takut merembes kemana-mana."


Dia menoleh kearah kami berdua yang baru tiba


Seorang wanita mengenakan hijab berwajah ayu bermata bulat menghadap kami.


Dia tersenyum kepadaku, "maaf ya mas saya jadi merepotkan dan mengganggu jam istirhatnya."


"Maaf juga ya pak Kasman."


Wanita ini sopan sekali, tutur katanya lemah lembut. Padahal kami hanya karyawan rendahan, tapi dia tetap menghormati kami berdua.


Tapi mata bulat dan teduh itu seperti pernah aku lihat, hanya saja aku belum bisa mengingatnya.


Aku mengambil double bucket dan alat untuk mengepel. Dengan cepat kupel dan kubersihkan dibawah mejanya.


"Sudah selesai bu, sebentar lagi lantainya juga akan kering terkena AC."


"Sekali lagi terima kasih ya mas, maaf sekali lagi saya mengganggu."


"Ini buat mas nya dan ini buat pak Kasman, buat beli makan siang, dengan mas siapa namanya?"


"Dengan Sofwan bu, tidak usah repot-repot bu saya ikhlas kok mengerjakannya."


"Saya juga ikhlas kok mas Sofwan, tak ada salahnya saya berbagi rejeki selagi saya ada mas."

__ADS_1


"Sudah mas, ambil saja nanti beliau tersinggung jika pemberiannya ditolak, bisik pak Kasman di telingaku."


"Kalau begitu terima kasih banyak ya bu atas pemberiannya, semoga ibu rejekinya semakin bertambah."


"Amin...terima kasih mas Sofwan atas doanya."


Kami berdua undur pamit dari ruangan bu Kiki. Alhamdulillah...uang yang diberikan ibu Kiki ini akan kuberikan pada Nia untuk belanja 2 hari. "Terima kasih ya Allah atas rejeki yang Engkau berikan hari ini."


"Ibu Kiki itu staf tertinggi di sini, karena beliau memegang para karyawan outsourching di sini."


"Oh...jadi kita-kita ini bukan langsung karyawan dari rumah sakitnya ya pak, melainkan dari perusahaan jasa yang bernaung dalam rumah sakit."


"Benar mas, clening service, taman, sekuriti bahkan di bagian pendaftaran itu yang memegang adalah PT."


"Nah pimpinan tertingginya ya ibu Kiki tadi mas."


"Dulu sewaktu pak Hermawan masih hidup, beliaulah yang memegang jabatan ibu Kiki tadi, setelah Beliau meninggal maka istrinyalah yang melanjutkan."


"Hermawan...Hermawan...aku mengulang nama itu berkali-kali..."


"Nama panjangnya Hermawan Wicaksono, bukan pak?"


"Benar, namanya Hermawan Wicaksono, kok mas Sofwan tahu?"


Aku tak menghiraukannya. "Berarti nama ibu Kiki itu Ayu Riskyani ya pak."


"Tepat sekali mas, kok mas Sofwan bisa tahu lagi?"


"Mereka berdua itu teman saya dulu pak di universitas, cuma beda jurusan."


"Saya ambil fakultas teknik dan mereka berdua di fakultas ekonomi."


"Mas Sofwan ini sarjana tho...mengapa tidak mencari pekerjaan yang lebih baik mas?"


"Lhoh...memangnya pekerjaan cleaning service ini tidak baik ya pak?"


"Bukan begitu maksud saya mas, hanya saja dengan ijazah dan pendidikan sarjana, mas Sofwan bisa mendapatkan yang lebih mas."


"Beda dengan saya ini yang hanya tamatan SMP, mungkin kalau sekarang ijazah SMP sudah tidak laku lagi mencari pekerjaan mas."


"Pak, apapun jenis pekerjaan yang kita lakoni syukuri saja."


"Allah sudah menentukan rejeki manusia itu berbeda-beda, yang penting pekerjaan kita halal pak,"


"Apalagi dizaman sekarang ini, tidak mudah mencari pekerjaan, tanpa adanya bantuan dari siapapun."


"Yang sarjana saja masih banyak yang menganggur pak."


"Mas Sofwan benar, senang saya mengobrol dengan mas Sofwan ini."


"Hahaha...pak Kasman ini bisa saja, saya sama saja dengan mereka yang lain, pak."


"Ya sudah saya mau lanjut keliling lagi mas, silakan mas lanjutkan istirahatnya."


Tak lama Anto dan Bahar datang. "Aduh...maaf ya bro, kamu jadi harus bersihkan ruangan bu Kiki."


"Tidak apa-apa Bahar, cuma tumpahan air biasa kok."


"Wan...tadi kamu dicari bu Feby lho...hebat juga kamu ya."

__ADS_1


"Ibu Feby lho teman saya waktu SMK dulu To, wajarlah kami kenal."


"Awas lho...cinta lama belum kelar..."


"Apaan sih To, kami lho cuma berteman saja."


"Lagian saya sudah punya istri dan seorang anak."


"Apa? Serius kamu sudah berkeluarga? Kita-kita pikir kamu masih jomblo Wan."


"Ah yang ada-ada saja kalian ini, masa tidak bisa membedakan mana yang masih bujangan, mana yang sudah jadi bapak."


"Sumpah Wan, kami terkecoh...umur berapa kamu menikah sih?"


"Saya menikah umur 24 Bahar, sekarang sudah 26 tahun."


"Wah...kami yang sudah kepala 3 saja belum laku-laku Wan."


"Tapi benar kok...wajahmu itu mengingatkanku, dulu ada serial film yang judulnya pendekar Awan dan Angin versi televisi, wajahmu itu mirip sama Bu Jing Yin."


"Iya Bu Jing Yin kecebur got..." kataku.


"Serius Wan...makanya sewaktu tadi pagi ibu Feby memperkenalkanmu kepada kami, aku berpikir-pikir wajahmu ini mirip siapa ya?"


"Di sini banyak yang masih jomblo Wan, yang janda juga ada."


"Kenapa bukan kalian saja yang mencari jodoh di sini?"


"Wajah kami ini pasaran Wan, sedangkan wanita di sini seleranya tinggi semua."


"Coba nanti pas jam kita briefing siang, mereka kan belum pada tahu ada karyawan baru di sini, coba mereka yang kerjanya di bagian rawat inap tahu apa tidak heboh semua melihatmu."


"Ah...sudah ah...sudah jam satu, waktunya kerja lagi...yuk!"


"Bahar sama Anto ini seperti perempuan saja, pinter betul yang namanya bergosip." Aku menggeleng-gelengkan kepala.


Aku asyik mengambil sampah dari ruangan-ruangan dipoli-poli lantai 1, ketika ada seseorang menyapaku.


"Mas Sofwan...aku menoleh kearah sumber suara."


"Oh maaf...ibu Kiki memanggil saya? tanyaku sopan."


"Tidak usah memanggil ibu, saya sudah ingat kok...kamu temannya mas Hermawan almarhumkan? kamu anak fakultas teknk dulu."


"Kenapa tadi tidak mengingatkan saya, kalau kita pernah satu kampus, Wan?"


"Saya baru ingat setelah pak Kasman menyinggung soal pak Hermawan tadi."


"Saya sebenarnya pangling juga, karena dulu kan kamu tidak berhijab."


"Iya...setelah saya menikah, barulah saya berhijab."


"Ya sudah saya naik keruangan saya dulu ya...maukan kapan-kapan jika ada waktu kita ngopi bareng Wan...banyak kok teman seangkatan kita dulu juga bekerja diarea rumah sakit ini."


"Insya Allah...Ki."


Kami berpisah di lobby lantai satu dan aku meneruskan pekerjaanku kembali, dan tanpa ku sadari ada sepasang mata yang sedari tadi mengawasiku.


...***Bersambung......

__ADS_1


...Jangan lupa like dan komennya...Kalau berkenan berikan votenya...Terima kasih...🙏🙏***...


__ADS_2