Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 159 Percobaan Bunuh Diri


__ADS_3

"Selamat tinggal papah...selamat tinggal Aisyah putri mamah yang cantik semoga sepeninggal mamah nanti, suasana rumah akan membaik kembali."


"Jangan papah dan Ais yang pergi dari rumah ini kasihan eyang kakung, biarlah mamah yang mengalah untuk pergi dari hidup kalian semua."


Diraihnya pisau buah itu, Anggita sudah gelap mata. Di dalam pikirannya sudah tidak ada lagi akal sehat untuk melanjutkan hidupnya.


Dengan menggunakan pisau buah yang tajam itu dia mengiris urat nadi di tangannya sendiri.


Crass..


Darah muncrat dari urat nadi yang putus...darah membanjiri menggenang di lantai. Anggita ingin mengerang karena merasakan sakit yang luar biasa tapi suara tak kunjung keluar dari tenggorokannya.


Semakin lama pandangan matanya semakin buram lalu menghitam sama sekali.


Anggita tergeletak di lantai yang sudah digenangi darahnya sendiri.


Sementara itu...


"Kok tumben lampu di kamar ndoro putri belum menyala ya?" Bibi segera naik ke lantai dua untuk menghidupkan lampu di lantai atas sekalian mau menjenguk ndoro putrinya siapa tau ketiduran dan lupa menyalakan lampu kamar.


"Waduh kamar non Anggita kok gelap begini sih? Mana lantainya licin banget lagi." Bibi berusaha mencari saklar dalam gelap dan hampir terpeleset dengan sesuatu yang licin di lantai.


Saat saklar lampu ditemukan dan berhasil dinyalakan, bibi menjerit histeris. Dia melihat Anggita sudah terkapar di lantai bersimbah darah.


Mendengar teriakan bibi sontak Sofwan dan pak Irawan keluar dari kamar masing-masing.


Mereka lari bergegas naik ke lantai dua kearah teriakan bibi.


Aisyah menangis ketakutan sambil memeluk papahnya yang juga tertegun melihat posisi Anggita menelungkup di lantai bersimbah darah. Pak Irawan cepat menguasai keadaan.


"Sofwan, cepat telepon ambulan...kita tak ada waktu lagi." Dia bersimpuh di sisi putrinya yang terbujur di lantai.


Diraba nadi di leher Anggita masih ada walaupun sangat lemah denyutnya.


Tak lama ambulan datang dan segera membawa Anggita ke rumah sakit. Di dalam mobil ambulan kondisi Anggita sudah kritis dengan di pasang selang infus dan oksigen di hidungnya.


Anggita segera di tangani di ruangan IGD untuk segera menghentikan pendarahannya.


"Sebenarnya ada apa Sofwan? Mengapa Anggita berniat bunuh diri begini?" Tanya pak Irawan sambil menatap tajam pada Sofwan.


"Sofwan sendiri tidak tau yah, Sofwan sedang sibuk mengurus Aisyah di bawah juga sibuk mengurus cucian Aisyah di belakang.


"Anggita...kenapa kamu berpikiran pendek dan bodoh nak? Sampai nekat mau bunuh diri seperti ini?" Pak Irawan terisak sedih.

__ADS_1


"Keluarga ibu Anggita?" Tanya suster begitu keluar dari ruang IGD.


"Iya suster...saya suaminya dan ini ayahnya!!" Sofwan langsung maju mendekati perawat itu.


"Begini pak, kondisi pasien sangat kritis karena telah kehilangan banyak darahnya...kami butuh donor darah untuk golongan AB+."


"Sedangkan stok darah untuk golongan darah tersebut sudah habis."


"Aduh gimana ini yah? Sedangkan dulu aja pas Anggita koma yang mendonorkan darahnya itu istri almarhum pak Miko, sekarang ini gimana?" Sofwan tampak cemas sekali.


"Lintang...kalau tidak salah Lintang itu golongan darahnya AB+ karena dulu sewaktu kecil dia terluka dan memerlukan banyak darah, maka Anggitalah yang mendonorkan darahnya."


"Ayah segera hubungi saja dia yah, agar Anggita bisa cepat mendapatkan pertolongan."


Malam itu juga Lintang dihubungi dan segera datang ke rumah sakit untuk mendonorkan darahnya pada Anggita.


Anggita sudah melewati masa kritisnya dan segera di pindahkan ke ruangan ICU.


Malam itu aku mendekati Lintang untuk berbicara sebagai dua orang lelaki dewasa padanya.


"Lintang, saya tau kamu orang yang siang tadi ada di parkiran perusahaan yang sedang memeluk istri saya."


"Saya tau kalian berteman sudah lama, saya hanya mau bertanya...apakah kamu mencintai Anggita?" Kataku dengan wajah yang bersahabat.


"Aku memang sangat mencintai Anggita, bahkan sejak dulu!!" Jawab Lintang.


Aku menghela napas.


"Sebenarnya hubungan kami sudah sejak lama tak ada kecocokan, saya tau istri saya tertekan dengan pernikahan kami apalagi kekasihnya semasa kuliah dulu ikut meninggal dalam kecelakaan mobil menuju puncak sekitar dua tahun yang lalu."


"Saya sakit si duakan olehnya, tapi saya juga tak bisa memaksakan perasaan saya kepadanya."


"Bisakah saya meminta tolong kepadamu, Lintang Ardhito?" Aku menyebut nama asli laki-laki itu.


"Kalian telah lama bersama, kalian lebih tau tentang pribadi masing-masing...sedangkan saya hanya orang yang baru masuk dalam kehidupan Anggita."


"Saya ingin melihat istri saya bahagia walaupun kebahagiaannya bukan bersama saya." Sekali lagi aku menatapnya.


"Saya akan menceraikannya, untuk apa dipertahankan pernikahan ini jika akan menjadi beban batin bagi kami berdua."


"Saya mohon bahagiakan Anggita, cintai dia buatlah dia tersenyum lagi seperti dulu!!" Anda maukan mengabulkan permohonan saya.


"Baiklah Sofwan, saya janji begitu anda menceraikannya, saya akan melamar Anggita menjadi istri saya."

__ADS_1


*


*


Aku sedang menemani ayah mertuaku duduk di taman rumah sakit.


"Yah, ada sesuatu yang ingin Sofwan sampaikan pada ayah!!" Aku membuka suara.


"Ayah sudah tau Sofwan, kamu akan menceraikan Anggitakan? Pada akhirnya itu semua akan terjadi juga, kamu akhirnya tau semua tentang cerita ini."


"Maafkan ayah ya Sofwan, ayah terlalu egois mempertahankan suatu hubungan yang tak mungkin bisa diperbaiki lagi."


"Ayah hanya takut kehilangan menantu sebaik kamu juga takut kehilangan Aisyah cucu ayah."


"Tapi setelah ayah pikir ayah berdosa untuk terus menerus menutupi kebohongan dan dosa perselingkuhan yang telah dibuat oleh darah daging ayah sendiri."


"Jadi ayah mengetahui semua tentang perselingkuhan Anggita itu, yah?" Aku menatap wajah tua yang nampak lelah dengan semua beban yang dipikulnya.


"Ayah tau dan ayah sempat sangat kecewa pada Anggita, sementara kamu di Balikpapan berkutat mati-matian dengan pekerjaanmu, dan dia di sini malah berselingkuh dengan laki-laki lain."


"Tapi dia juga sudah diberikan ganjaran oleh Yang Maha Kuasa dengan cacatnya dia."


"Sekali lagi maafkan ayah Sofwan, kini ayah tak akan lagi melarangmu untuk membawa Aisyah pergi."


"Kembalilah ke Balikpapan, kelolalah perusahaan yang ada di sana...jangan menolak permintaan ayahmu ini karena ayah sudah menganggapmu sebagai anak ayah sendiri."


Pada akhirnya perceraian kamipun terjadi, walaupun Anggita awalnya tampak shock namun pada akhirnya dia menyadari semua ini terjadi karena kesalahannya.


"Mas...jaga putri kita baik-baik ya!!" Anggita sudah merubah panggilannya semenjak kami bercerai.


"Sesekali berkunjunglah ke Yogya. Walaupun kita sudah berpisah, tapi kita juga masih menjadi orang tua Aisyah kan?"


Itulah kata-kata Anggita saat dia dan Lintang serta ayah mertuaku mengantarkan kepergianku dan Aisyah ke bandara.


Miris memang...akhirnya aku bercerai untuk kedua kalinya. Aku memang laki-laki yang tidak bisa menjaga keutuhan rumah tanggaku sendiri.


*


*


***Bersambung...


Jangan lupa dukungannya ya guys...like, komen, vote, favorit dan rate nya...terima kasih😊😊🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2