Kutukan Cinta

Kutukan Cinta
Part 119 Menikahlah Denganku Sekali Lagi


__ADS_3

"Papah tau kan kalau mamah itu sangat mencintai papah, jika terbukti papah selingkuh lagi lebih baik mamah mati saja."


"Karena mamah itu sadar mamah tak sempurna lagi sebagai seorang istri..." Terdengar isakan dari sana menandakan Anggita sedang menangis.


"Papah usahakan untuk secepatnya pulang setelah urusan di sini selesai, mamah sabar dulu ya..."


Sofwan menarik napas dalam. "Perasaan sewaktu bersama Sania dulu, hidupku tak seruwet ini!!! Sekarang persis seperti benang kusut yang tak ketemu ujungnya."


"Mungkinkah ini hukuman dari Tuhan karena aku telah menyia-nyiakan keluargaku?"


Sofwan meraup wajahnya dengan kasar. "Rasanya aku ingin kembali pada kehidupanku yang dulu lagi, walaupun kami hidup serba kekurangan tapi kami selalu bahagia..."


"Ah...Sania sayangku..."


"Sekarang hidup kami sama-sama hancur, karena keegoisanku akhirnya hidup Sania dan Mikopun tak berjalan bahagia!! Betapa banyak kesalahan yang telah kuperbuat pada mantan istriku itu."


"Om..."


Aku menoleh pada bocah perempuan kecil anak dari kak Nuri dan almarhum mas Anton.


"Kenapa papah dan mamah ngga pulang-pulang juga? Nita kangen om..."


Aku memeluk bocah itu. "Sabar ya, mamah pasti pulang kok...kalau papah lagi ada urusan pergi ke tempat yang jauh...Nita banyak-banyak aja berdoa untuk mereka ya..."


Hatiku sedih melihat nasib keponakan kecilku ini.


Drrttt...drrttt...


"Dari Sania?"


"Assalamualaikum....ya halo dek?"


"Kak Nuri dan kak Anya masih di rawat di ruangan ICU dek, karena lukanya cukup parah."


"Dek, atas nama keluarga besar mas Sofwan, mas mohon maafkanlah kesalahan mereka ya!!"


"Mas sadar keluarga kita jadi tercerai berai begini karena kakak-kakak mas selalu ikut campur dalam urusan rumah tangga kita."


"Mungkin ini juga karma bagi mereka karena selalu menyakiti hati dan perasaan wanita sebaik dirimu."


"Sekarang mas juga merasakan akibatnya, dek!!"


Air mata Sofwan menetes. Dia benar-benar dalam keadaan mode galau tingkat dewa. Terlalu banyak masalah yang harus dia hadapi seorang diri.


*


*

__ADS_1


Sementara itu...


"Halo...kak Sania, bisakah bang Miko itu di suruh pulang sekarang? Betah amat dia bersama kak Sania? Kakak tidak menahan dia untuk pulangkan?


Aku menyodorkan ponselku pada Miko, aku malas melayani ocehan Alena dalam kondisi seperti sekarang ini.


"Alena...dengar ya...abang tuh mau di sini bersama Sania dan anak-anak abang...abang menemukan ketenangan di sini."


"Kalau abang tidak mau pulang ke rumah, Alena akan pergi ke bar untuk mabuk-mabukan lagi..." Ancamnya.


"Sekarang terserah kau saja Alena, apapun yang ingin kau lakukan maka lakukan saja."


"Abang capek, abang lelah dengan pernikahan kita ini."


"Abang ingin di sini...titik!!"


"Yah, kenapa tidak pulang saja? Bunda jadi ngga enak sama Alena, yah!!"


"Bun, kenapa mesti ngga enak? Bunda itu istri sah ayah, ayah sekarang sadar menikahi Alena adalah sebuah kesalahan besar yang telah ayah lakukan."


"Bun, kita ini kan pisah ranjang sudah setahun lebih, mau kah bunda jika ayah melamar bunda kembali untuk menikah dengan ayah lagi?"


"Mba Nia...maukah kau menerima cintaku dan menikah denganku?"


"Aku Jatmiko Sarendra ingin melamar Sania Marfiah dengan seperangkat alat sholat, dengan seluruh cinta dan kasih sayang yang tak akan ada batasnya, dengan segenap jiwa dan raga hingga kematianlah yang akan mengakhiri segalanya."


"Bersediakah kamu mba Nia, untuk menikah denganku kembali?"


Aku tak mampu menjawabnya, hanya air mataku yang turun semakin deras.


Diammu menandakan kamu menerima cintaku dan menerima lamaranku, mba Nia...besok kita akan menikah kembali...aku akan membawa penghulu kemari untuk menikahkan kita lagi.


Miko memelukku dan mencium pucuk kepalaku. Persis seperti dulu saat dia pertama kali memelukku. Bedanya sekarang adalah tubuh Miko yang semakin ringkih dan kurus.


"Ya sudah, mending sekarang ayah istirahat saja ya...bunda mau menengok si kembar dan anak-anak dulu."


"Bun, setelah itu bunda kemari lagi ya!! Ayah ingin selalu ada di samping bunda."


Aku keluar kamar meninggalkannya. Sepeninggalku Miko kembali menangis.


"Maafkan atas segala kesalahan yang pernah ayah lakukan ya, bun!!"


"Jika kelak ayah harus pergi meninggalkan bunda untuk selamanya, setidaknya ayah bisa pergi dengan tenang."


Flashback***


"Evan...akhir-akhir ini aku sering merasakan sakit yang luar biasa di kepalaku. Tangan dan kakiku sering mati rasa." Aku berkonsultasi dengan dokter Evan sahabatku.

__ADS_1


"Miko, aku hanya dokter umum tapi melihat gejala yang kamu alami, cobalah kamu berkonsultasi dengan dokter onkologi."


"Tapi untuk apa aku harus konsultasi ke dokter onkologi? Mungkin aku hanya masuk angin biasa akibat aku terlalu lelah dan kurang tidur."


"Kan kamu tahu masalah yang menimpa rumah tanggaku?"


"Kan tadi sudah ku bilang Miko, kita ngga ada salahnya untuk berkonsultasi...apalagi ini sudah kelima kalinya kamu pingsan dalam dua bulan ini."


Akhirnya aku mengalah dan memutuskan mengikuti saran Evan.


Dan tepat dugaan Evan, aku mengidap kanker otak stadium akhir. Kondisi fisikku semakin menurun. Mungkin aku terlambat menyadarinya sehingga sedikit demi sedikit kanker ini menggerogoti tubuhku.


Aku benar-benar shock. Di tengah ruwetnya masalah rumah tanggaku, aku divonis terkena kanker otak stadium 4, istri yang kucintai ingin bercerai dariku dan tak mau melihatku lagi. Rasanya bumi ini seakan mau runtuh di depan mataku.


Mungkin karena aku sering dipicu stres maka sel-sel kanker itu begitu cepat menyebar menggerogotiku.


Aku terus berdoa memohon kepada yang kuasa di setiap sujudku, di setiap doa malamku. Aku hanya mohon agar nyawaku jangan di ambil dulu sebelum aku bisa berkumpul bersama dengan istri dan anak-anak yang sangat kucintai.


Akhirnya doaku terkabul, hati Sania melunak dan mau mengijinkanku untuk dekat lagi dengannya.


"Ayah??? Kok belum tidur? Tidurlah, biar ayah cepat sembuh...katanya besok kita akan menikah!!"


"Tidurlah di samping ayah, bun!! Jangan tinggalin ayah sendirian."


Aku berbaring di samping Miko menunggunya sampai dia pulas tertidur. Dan setelah dia tertidur aku memindahkan tempat tidur si kembar ke dalam kamarku supaya aku gampang menjaganya.


*


*


Di rumahku yang sederhana ini sudah hadir beberapa tamu dan saksi untuk pernikahan ulang kami. Para sahabatku, ikut hadir kecuali Sultan dan mas Sofwan.


Sultan ikut pelatihan guru di luar kota, sementara Sofwan masih dalam suasana berkabung di rumah kakak-kakaknya.


"Bun, ayah masih deg-degan sama seperti saat kita menikah dulu."


"Ayah tenang aja, bunda selalu ada di samping ayah."


Toh pada akhirnya semua bisa berjalan sesuai rencana. Jadi inilah pernikahan ke dua kami, semoga kami bisa terus bersama.


Anggaplah semua yang telah terjadi kemarin adalah ujian dari perjalanan cinta kami berdua.


Miko kulihat begitu bahagia. Wajah pucatnya sedikit merona kemerahan. "I love you bundaku sayang....Miko mengecup keningku dan ke dua pipiku. Dia juga menciumi anak-anak persis seperti dulu.


"Selamat ya ayah...bunda...semoga tidak ada lagi yang bisa memisahkan kalian berdua..." Dina memelukku dan Miko.


****Bersambung...

__ADS_1


Dukungannya ya guys agar author receh ini tetap semangat berkarya. Like, komen, vote, favorit dan rate nya....Happy readingπŸ’—πŸ’—πŸ™πŸ™


__ADS_2