
"Kok kamu jadi cemen gini sih? Di mana Sofwan yang dulu yang tak pernah kenal kata menyerah sewaktu mendekati adikku?" Della tersenyum mengejek Sofwan.
Sofwan terdiam. Terbayang kembali semua dalam ingatannya masa-masa indah bersama mantan istrinya yang hingga detik ini masih sangat dicintainya itu.
Bagaimana perjuangannya saat awal-awal mendekati Sania yang pada waktu itu tak ada ketertarikan sama sekali dengannya, selalu sebal dan marah-marah jika digoda olehnya.
Sofwan jadi tersenyum-senyum sendiri jika ingat masa bertahun-tahun yang lalu.
"Ayo katanya mau pulang...kok malah senyam-senyum ngga jelas di sini?" Ajak Della.
"Eh iya kak!!"
Lalu mobil Sofwan dan Della meluncur menuju rumah.
"Wah rumahmu bagus juga Sofwan, terletak di komplek perumahan elite lagi." Tak henti Della mengaguminya.
Tiga orang anak kecil lari mengintili Aisyah menyambut Sofwan.
"Lho...kalian? Kapan datang? Kok ibu kalian ngga ngabari om Sofwan?" Sofwan memeluk ketiga ponakannya dan Aisyah.
"Sudah dari dua jam lalu om..." Sahut Jelita anaknya kak Nuri.
"Eh Sofwan...sudah pulang dek?" Ketiga kakak-kakaknya menyongsong kedatangan mereka di muka pintu.
Mereka bertiga saling berpelukan. Lalu mata ketiganya beralih pada sosok Della yang sedikit dekil dan kumal.
"Siapa dia Sofwan? Pembantu barumu kah?" Kata Nuri melihat kearah Della.
Mata Della hampir melompat keluar mendengar perkataan Nuri, tapi saat dilihatnya Sofwan memberikan isyarat dengan kedipan mata akhirnya Della diam saja.
"Bukan untuk Sofwan kak, kan sudah ada babysitternya Aisyah sekaligus merangkap bersih-bersih rumah...mbak ini mau bekerja di tempat temannya Sofwan."
Nuri memandang Della dari atas sampai kebawah.
"Kak...Sofwan mau mengajak Aisyah sebentar keluar mengantar mbak ini kerumah teman Sofwan ya!! Kalian menginap di sini kan?" Mereka bertiga serempak mengangguk.
Lalu aku, Aisyah dan kak Della meluncur kerumah Sania.
"Ayah, tante ini siapa?" Aisyah langsung bertanya saat matanya melihat kearah Della.
"Oh, tante ini kakaknys bunda Sania!" Jawab Sofwan.
Lalu mereka berdiam diri selama di perjalanan.
"Ini rumahnya Sania kak, ayo kita turun!!" Sofwan menghentikan mobilnya di pinggir jalan, dia sengaja tidak mau memarkir mobilnya di halaman.
__ADS_1
"Sofwan, aku jadi tegang...aku takut Sania tidak mau memaafkan semua kesalahanku!!" Della dengan ragu-ragu turun dari mobil.
"Insya Allah tidak kak, Sania bukan tipe orang yang seperti itu!!" Sofwan terus meyakinkan Della.
Ting...tong...ting...tong
Dina muncul dari balik pintu dan melongo keluar.
"Bapak?? Aish...mari...mari masuk!!" Dina mencium tangan bapaknya dan mencium Aisyah.
"ini siapa pak?" Dina beralih menatap Della.
Belum sempat Sofwan menjawab muncul Sania dari dalam.
"Dina...ada tamu kok ngga di suruh masuk? Eh ada Aish...mas Sofwan!!" Sania saling bertatap mata dengan sang mantan terindah itu.
"Bunda, Aish kangen sama bunda!!" Aisyah lari dan memeluk Sania.
"Bunda juga kangen sama Aish...kok baru kesini lagi?" Sania menciumi kepala dan pipi Aisyah.
Itulah yang tetap dikagumi oleh Sofwan dari sifat Sania, walaupun Aisyah adalah putri Anggita tetapi dia tidak pernah mengungkit kesalahan masa lalu.
Tatapan Sania beralih pada sosok wanita yang berdiri di belakang Sofwan. Lama mereka saling menatap.
Dengan ragu Della maju mendekati adiknya itu.
"Kak Della!!!" Sania memeluk Della penuh kerinduan. Tak tampak sama sekali dendam di wajahnya atas perbuatan kakaknya itu di masa lalu.
"Sania...maafkan kakakmu ini ya dek!!" Delka memeluk adiknya erat sambil menangis.
"Kenapa kakak menangis? Kakak ngga suka bertemu dengan Nia?" Kedua saudara itu saling berpelukan.
"Kak Della takut, kamu tidak akan pernah memaafkan kesalahan kakakmu ini!!" Ujar Della.
"Lupakan saja kak...itu semua masa lalu...masa yang telah lewat itu tak mungkin bisa kembali lagi walau diungkit terus setiap detik." Sofwan termangu mendengar perkataan mantan istrinya itu. Hatinya mendadak perih mendengar perkataan Sania.
Benar kata Sania, dia selalu mengenang, mengharapkan masa lalu agar bisa kembali lagi walaupun itu tak mungkin.
"Siapa Nia?" Sebuah suara dari dalam.
Niko dan Jonathan muncul dari ruang tengah ikut keluar.
"ini kakakku Niko, ayah...kami sudah lama tidak bertemu."
"Dia kakak kandungmu?" Tekan Niko untuk meyakinkan.
__ADS_1
"Iya lah...Niko!!" Kataku.
"Mengapa berdiri saja di muka pintu, ayo masuk...ajak Jonathan.
"Dina, ajak adik Aisyah main di dalam ya!!" Aku menyuruh Dina membawa Aisyah.
"Sofwan...ada yang ingin saya bicarakan denganmu, bisakah kita bicara empat mata saja di taman belakang?" Tanya Niko.
Sofwan mengangguk lalu mengikuti Niko. Sementara aku, kak Della dan ayah Jonathan mengobrol di ruang tamu. Bibi datang membawakan minuman untuk kami.
Kalau kulihat-lihat, tampaknya ada saling ketertarikan antara kak Della dan ayah mertuaku itu. Terkadang mereka saling mencuri pandang dan sama-sama tersipu.
Sementara itu di taman belakang...
"Apa yang ingin kamu bicarakan dengan saya Niko?" Tanya Sofwan setelah mereka duduk.
"Sofwan, saya memang sedang mencari informasi tentang keluarga Sania terutama tentang kakak kandungnya...Sania juga Pernah bercerita bahwa dia masih mempunyai saudara kandung."
"Memamgnya kenapa dengan kakak kandungnya, Niko?" Tanya Sofwan penasaran.
"Sofwan...Sania itu sedang sskit...dia menderita kanker darah stadium 3, saya sangat berharap ada yang bisa transplantasi sum-sum tulang belakang untuk Sania, dan itu besar kemungkinan berhasil jika sum-sum itu milik saudara sekandung."
Sofwan sangat terkejut mendengar penuturan Niko. Pantas wajah Sania selalu pucat pasi.
"Apa anak kandung tidak bisa Niko?" Tanya Sofwan lagi!!
"Kemumgkinannya sangat kecil Sofwan...Alhamdulillah pertolongan untuknya segera datang!! Kamu tahu Sofwan, saya sangat mengkhawatirkannya...saya akan melakukan apapun agar Sania bisa sembuh dari sakitnya."
"Kamu mencintainya Niko?" Tanya Sofwan to the point.
"Iya, saya sangat mencintainya...saya mau melamarnya menjadi istri saya Sofwan...apakah kamu keberatan?" Niko menatap Sofwan intens.
Jujur jauh di dalam hati Sofwan sangat keberatan. Diapun sejujurnya masih sangat mencintai Sania dan mengharap bisa kembali menyatukan dua hati mereka lagi yang sudah sekian tahun terpisah!! Itulah mengapa setelah perceraiannya dengan Anggita maka Sofwan bersikeras untuk kembali kekota ini lagi, dia sangat berharap bisa meraih cinta Sania kembali.
Tetapi dia juga tidak mau egois. Belum tentu Sania masih memiliki perasaan yang sama dengannya. Sekarang yang terpenting Sania sembuh dan kedepannya nanti jika memang mereka tidak ditakdirkan untuk berjodoh, maka Sofwan sudah ikhlas. Dia hanya ingin melihat mantannya itu bahagia, walaupun kebahagiaan itu bukan bersama dengannya.
"Saya hanya berharap kamu menjaganya baik-baik Niko...terlalu banyak sudah penderitaan yang dialami olehnya selama ini...kalian berdua berhak bahagia." Sofwan tersenyum tulus walaupun jauh di dalam hatinya bagaikan sebuah silet menyayat melukainya.
*
*
***Bersambung...
Happy readingππππ jangan lupa jejaknya ya!! Komen, like, vote, favorit dan rate nya!!
__ADS_1